Berjuang Padamkan Api di Pagi Hari

“Ada kebakaran, Pak”teriak abah Alwi kemarin ketika saya memasuki halaman masjid untuk sholat subuh berjamaah. Saya lihat teman-teman kerja yang sudah duluan sampai mesjid berdiri di selasar dan memandang ke arah dapur bengkel.

Pada jarak sekitar 200 meter dan sebagian tertutup pepohonan, saya lihat ada api dan asap tebal yang membumbung tinggi. Listrik di masjid dan sekitarnya padam. Beberapa ibu dan anak-anaknya sambil membawa tas, buku, berjalan mendekati masjid. Mereka khawatir dengan api yang membesar dan mengungsi ke masjid, padahal jaraknya masih jauh.

Spontan abah Alwi mengingatkan kami agar sholat subuh dulu. Selesai sholat dan berdoa, kami berempatbergegas berjalan kaki ke arah bengkel lewat bagian belakang. Menyeberangi jembatan dan semakin jelas api terlihat sudah merambat sampai atap di atas ruang kepala bengkel.

Sampai di depan bengkel, beberapa unit kendaraan seperti truk trailler dan mobil transport dobel gardan sudah dipindahkan ke tempat yang aman. Unit yang sedang rusak didorong ramai-ramai oleh karyawan dan ditarik ke luar bengkel.

Saya lihat eksavator sibuk merobohkan tiang-tiang di depan ruang mesin bubut dan atapnya, untuk memutus api agar tidak merambat sampai ke ruang genset dan tangki-tangki BBM. Dalam kondisi pagi yang masih gelap, beberapa karyawan bergotong royong memadamkan api dengan menyemprot menggunakan selang dan tabung pemadam kebakaran.

Karyawan lainnya juga membawa ember dan secara estafet ember berisi air itu dituangkan ke dalam keranjang eksavator. Setelah terisi hampir penuh, airnya ditumpahkan ke api yang ada di permukaan tanah. Upaya memadamkan api juga dilakukan eksavator dengan menggali tanah dan menumpahkannya ke api yang membakar tumpukan kayu di permukaan tanah.

Namun api tidak mudah dipadamkan karena yang terbakar bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu,  juga beberapa ban yang berada di tempat penambalan ban.

Setelah berjuang keras sekitar dua jam, api akhirnya berhasil dipadamkan. Bangunan dapur bengkel, tempat penambalan ban dan ruang kerja kepala bengkel rata dengan tanah. Beruntung ruangan mesin bubut masih bisa diselamatkan.

Pagi itu, meski terjadi kebakaran, kami masih masuk kerja. Teman-teman di bengkel berusaha bekerja keras memperbaiki jaringan listrik yang terbakar. Setelah kabel-kabelnya yang terbakar diganti, akhirnya sekitar jam 3 sore listrik menyala kembali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s