Film Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi. Refleksi Kisah Nyata Kehidupan Keluarga Kita

Menonton film Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi seperti melihat kenyataan sehari-hari kehidupan keluarga kita.

Seorang geolog bernama Farid, suami Tika dan ayah dua anak yang bekerja sebagai konsultan yang harus menerima kenyataan menganggur.

Terpaksa berhenti dari pekerjaan  dan meninggalkan utang bagi karyawannya karena investor kembali ke negaramya.

Tika yang bekerja di perusahaan fashion di Jakarta dan menyambi jualan busana muslim anak-anak. Tiap hari kerja dia bolak Jakarta Bogor naik KRL.

Dua anak perempuan, Amanda yang punya bakat membuat disain baju muslimah dan Alda yang tertarik dengan ilmu pengetahuan alam.

“Tau nggak kenapa bunda nggak bisa sekolah ke luar negeri?”tanya Tika pada dua anaknya.

“Karena aki melarang bunda sekolah ke luar negeri”jawab Amanda.

“Dan itu tidak akan dialami anak-anak bunda”ungkap Tika sambil menunjuk gambar-gambar sekolah di luar negeri di ruang kerjanya.

Sebuah impian yang gagal diwujudkan Tika karena dilarang sang ayah dan kepada dua anaknya impian itu dia ceritakan.

Impian agar anak-anaknya bisa sekolah di luar negeri, menghadapi kenyataan sang suami menganggur akhirnya mereka berbagi tugas.

Tika fokus usaha baju muslim anak-anak dan suami yang lebih sering mengurus anak-anak.

Tika memulai usaha dengan memesan dua kodi pakaian ke penjahit.

Dia ajak tetangga-tetangganya yang semuanya ibu-ibu untuk menjualkan produk. Penolakan pemilik toko sering sering dialami.

Baju yang sudah terjual pun dikomplain pembeli. Jahitan kurang bagus mudah sobek. Alda, anaknya menunjukkan  baju yang sobek ketiaknya waktu dipakai.

Tika kecewa dengan hasil jahitan temannya. Lalu seorang ibu punya ide gimana kalau bikin baju sendiri, jahit sendiri.

Tika setuju, dia seperti menemukan hikmah produk bajunya sobek. Justru inilah kesempatan mengajak lebih banyak tetangganya bekerja dengannya. Sekaligus memberikan solusi ketika tetangganya di Bojong Gede yang banyak ibu-ibu minta pekerjaan.

Usaha yang makin berkembang, order yang meningkat membuat waktu Tika untuk keluarga semakin sedikit. Makin jarang bermain sama anak-anak. Belajar pun anak-anak didampingi ayahnya.

Ketika muncul masalah, emosi Tika pun meningkat. Suaminya yang belanja kain dan dua jenis kain terjatuh, produk baju Tika satu mobil box dilarikan resellernya, hasil raport anak-anak jeblok, kemarahan Tika pada suami dan anak-anaknya tak tertahankan lagi.

Farid saat di rumah menegur Tika agar nggak bikin malu keluarga waktu memarahi anak-anaknya di sekolah.

Tika nggak terima dan balik menyalahkan suaminya yang sering mengajari anak-anaknya belajar.

Emosi Farid mencapai titik puncak ketika Tika menyinggung status dirinya yang menganggur dan minta supaya bekerja seperti ibu-ibu lain yang suaminya bekerja.

Harga diri Farid jatuh.

Tawaran temannya untuk bekerja yang pernah dia tolak karena ingin mengurus keluarga akhirnya dia terima. Dia bekerja di tempat yang mengharuskan dia berpisah dengan keluarganya. Amanda dan Alda yang dekat dengan sosok ayahnya merasa kehilangan.

Saat berangkat sekolah naik KRL ditemani Tika, mereka kabur dan mencari ayahnya. Tika terpukul hatinya ketika menerima telpon dari Farid bahwa anak-anaknya sudah di tempat kerja suamimya dan nggak mau diajak pulang.

Tika pulang ke rumah dan ingin berhenti dari bisnisnya. Tapi ucapan Encus, sang pengasuh anak-anaknya membangkitkan lagi semangatnya.

“Kalau ibu berhenti, gimana ibu-ibu dan keluarganya di sini yang bekerja ikut ibu?”

Tika tersadar, ada harapan yang masih tergantung di pundaknya. Juga agenda Fashion show busana muslim anak-anak yang harus dia ikuti.

Farid pun mengajak anak-anaknya pulang ke rumah. Menemui sang bunda yang menangis di kolong ranjang. Memandang hasil karya Amanda yang mengungkapkan ekspresinya saat dimarahi sang bunda.

D kolong ranjang itulah Tika sambil berlinang air mata menyesal. Minta maaf sama anak-anak dan suaminya. Sebuah kata yang tak pernah terucap dari Tika sebelumnya.

Akhirnya, dari rumah bergegas mereka berempat  ke tempat fashion show naik KRL. Mendukung sepenuhmya kegiatan sang bunda.

Film ini hasil adaptasi novel Cinta 2 Kodi karya Asma Nadia. Saya terlebih dulu baca novelnya, baru nonton filmnya.

Memang nggak mudah mengadaptasikan sebuah cerita novel ke film. Adegan saat Tika berkenalan dengan Farid di kereta mewakili mereka merintis keluarga. Yang di novel diceritakan mereka sudah berkenalan sejak kuliah di Bandung.

Juga sosok ibunda dari Tika yang berperan besar membesarkan hati anaknya agar nggak iri dengan saudara laki-lakinya yang diberikan kesempatan ayah Tika sekolah ke luar negeri.

Namun, secara keseluruhan, isi film ini terasa mewakili suara hati seorang suami, anak-anak dan istri.

2 pemikiran pada “Film Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi. Refleksi Kisah Nyata Kehidupan Keluarga Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s