Perjuangan Mudik Naik Kapal Laut

Sudah dua minggu lebih lebaran Idul Fitri berlalu. Tapi rasanya kok kayak baru kemarin saja ya. Itu mungkin efek perasaan bahagia setelah berkumpul sama keluarga di Semarang dan Jogja. Saking bahagianya sampai lupa posting nih gimana cerita lebarannya. Yang jelas berangkat mudiknya penuh perjuangan dan doa lho.

Gimana enggak, kami sudah beli tiket kapal Dharma Kencana. Rutenya Pontianak –  Semarang. Harganya 412 ribu per orang. Tiket dewasa. Ditambah tuslah 8 ribu jadi total 420 ribu. Karena yang berangkat lima orang, perlu biaya 2,1 juta. Masih lebih murah sih dibandingkan naik pesawat Pontianak – Jogja atau Pontianak – Semarang. Yang waktu itu harga tiketnya sekitar 1,6 juta  per orang.

Memang sih harga tiket kapal seperempat tiket pesawat. Tapi waktu tempuhnya itu lho. Lumayan beda jauuh. Naik pesawat hanya 1 jam 30 menit. Tapi kalau pakai kapal sampai 45 jam. Hampir dua hari dua malam di tengah laut Jawa.

Sebelum berangkat tgl 31 Mei jam 2 pagi, dikasih tahu petugasnya supaya datang awal ke pelabuhan supaya dapat seat. Sekitar lima hari sebelum berangkat istri terima SMS yang isinya pemberitahuan kalau kapal berangkatnya dimajukan jadi jam 8 malam. Nah, pas di Pontianak, saya putuskan berangkat dari rumah jam 3 sore. Masih ada waktu 5 jam buat persiapan, check in dan nunggu kapal berangkat.

Sampai di pelabuhan, jadwal berangkat kapal berubah lagi. Di layar digital diumumkan kapal berangkat jam 10 malam. Ya Robbana. Makin lama kami berada di Pelabuhan Dwikora 🙂 . Untungnya sudah bawa banyak cemilan dan nasi buat buka puasa di pelabuhan. Dan kenyataannya kapal baru diberangkatkan pas jam 12 malam.

Nggak hanya itu ceritanya. Waktu saya self check in di mesin untuk cetak tiket ada kejutan berikutnya. Lima tiket yang terlihat di layar tidak tertulis nomor seatnya. Otomatis tiket yang dicetak tertulis no seat. Padahal saya sudah antri dan pajang antrian belum sampai 20 orang. Bisa jadi penumpang lain juga seperti itu. Ini artinya kami harus berebut masuk ke kapal supaya dapat seat.

Benar-benar perjuangan. Naik ke kapal  membawa tas traveling dan koper harus berebut dengan penumpang lain supaya dapat seat. Untungnya waktu keluar dari ruang tunggu dan waktu naik tangga ke kapal ada petugas pelabuhan yang mengatur. Dan memerintahkan penumpang agar tidak berebut keluar dari pintu ruang tunggu. Juga antri satu per satu naik ke kapal. Nah, waktu di dalam kapal itulah hampir semua ruangan penuh penumpang. Di ruang kafetaria, kamar tidur, ruang depan dan dek dipenuhi penumpang dan barang-barang bawaannya.

Akhirnya kami putuskan lesehan di dek luar sebelah kanan. Beli alas dari plastik yang harganya 10 ribu per buah. Hanya berjarak 1,5 meter dari pagar. Jadi setiap saat kami bisa memandang laut. Masih untung kami berada di dek itu karena saat itu angin laut berhembus dari timur ke barat. Bukan dari barat ke timur. Saya lihat penumpang yang lesehan di dek timur hampir setiap waktu terkena hembusan angin laut yang kencang. Dan mereka terlihat sibuk menata lagi alas plastik,  sarung atau pakaiannya.

2 pemikiran pada “Perjuangan Mudik Naik Kapal Laut

  1. Walau waktu tempuh agak lama, tapi masih bisa terjangkau harga tiketnya dibanding pesawat. Sesekali mudik dengan cara berbeda sebagai pengalaman yang tak terlupakan.

    Saya pernah naik kapal cepat dari Dwikora ke Pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta. Tahun 1999 silam. Saat itu penasaran saja rasanya gimana naik kapal cepat itu. Suatu pengalaman yang mengesankan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s