Narasumber Program Praktisi Mengajar

Alhamdulillah. Terima kasih buat bapak ibu dosen Prodi Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU). Yang sudah mengundang saya sebagai narasumber program Praktisi Mengajar.

Terima kasih juga terkhusus buat mbak dosen Kansih Sri Hartini. Dosen pengampu mata kuliah Silvikultur Hutan Alam Produksi yang sudah menjadi host zoom meeting kemarin.

Nggak nyangka ya, dulu waktu mbak dosen masih di Kalbar, kita nggak pernah kontak. Nggak pernah ketemu blass. Karena waktu itu teknologi komunikasi belum secanggih kayak sekarang.

Eh, setelah mba dosen hijrah ke Sumatera Utara, jadi dosen di sana malah beberapa kali kontak.

Tahun 2021 lalu waktu zoom meeting Finalisasi Kurikulum Prodi Kehutanan Fahutan USU, mba dosen yang sapa saya duluan di room chat.

Waktu itu saya ikut sebagai peserta, setelah ada undangan daring yang disampaikan mas dosen Alfan Gunawan Ahmad ke perusahaan.

Sebagai peserta saya menyimak pemaparan dari para akademisi. Waktu moderator buka forum tanya jawab, saya sampaikan pendapat.

Tahun 2022, datanglah surat undangan mengisi program Praktisi Mengajar. Saya konsultasikan dengan pimpinan dan beliau setuju. Setelah itu komunikasi intensif dengan mba dosen.

Saya diminta siapkan data riwayat hidup, data identitas pribadi, pernyataan kesediaan, foto buat flyer dan tentu saja materi presentasi.

Dan pas hari H, alhamdulilah, acaranya kemarin di sore hari lancar. Hampir dua jam, mulai jam 3 sampai jam 5. Dua jam nggak terasa lama. Karena terkadang kita serius, terkadang diselingi bercanda. Supaya mahasiswa-mahasiswinya terbawa ceria.

Sebuah pengalaman baru buat saya. Biasanya paling banter bantu ngajari anak-anak ngerjakan PR di rumah. Kadang-kadang soalnya yang dikirim via WA. PR matematika. Yang bentuknya soal cerita. Yang mereka nggak mudah paham maksud kalimatnya.

Sekali lagi terima kasih buat Prodi Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara.

#praktisimengajar

#fahutanusu

#silvikultur

#narasumber

Pasrah dan Ikhlas

Biasanya berada di daratan. Kali ini Allah takdirkan di atas lautan. Dalam perjalanan pulang Kalimantan.

Sempat rasakan mesin kapal dimatikan.dua jam. Di saat jam dua belas malam. Terdengar suara jangkar diturunkan. Kapal sandar di lautan.

Akan kandas jika dipaksakan tetap jalan. Kapal yang mengangkut orang dan kendaraan.ini masih perlu bantuan alam. Menunggu air pasang. agar bisa masuk ke muara sungai Kapuas.

Pasrah dan ikhlas.

La haula wala quwwata Illa billah.

Tiada daya dan kekuatan selain dari Allah.

Allahu Akbar..Allahu Akbar

Selamat Hari Raya Idul Adha 1443 H

Mohon maaf lahir dan batin.

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita.

Ke Kampus UNY di Wates

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Wates. Setelah silaturahmi ke bapak ibu di Semarang, lanjut perjalanan ke Jogja.

Sampai di Jogja Jumat malam, bertemu bapak ibunya istri. Juga bertemu Nadiia. Sabtu paginya lihat tempat kuliah Andra, anak ketiga, yang alhamdulilah diterima di DIV Akuntansi.

Dia ikut Seleki Mandiri. Jalur Computer Based Test (CBT). Jalur lainnya bisa lewat prestasi, UTBK atau kerjasama. Tesnya sebelum SBMPTN. Pertengahan April. Tempat tes bisa sesuai domisili peserta. Jadi nggak harus ke Jogja. Pengumumannya seminggu setelah tes.

Kami berangkat berlima ke Wates. Nadia yang jadi penunjuk jalannya. Sayangnya, Aysha nggak bisa ikut. Tanggal 24 Juni sudah berangkat ke lokasi KKN. Di desa Sarogan, Pesanggrahan, Banyuwangi.

Sampai di kampus, lihat asrama mahasiswamya. Ada dua gedung. Satu gedung asrama putra, satu gedung asrama putri. Satu kamar berisi tiga tempat tidur.

Setelah itu sholat Dhuhur di masjid dekat asrama. Di masjid bertemu orangtua calon mahasiswa dari Ponorogo.

Dari masjid kami lanjutkan lihat Gedung Layanan Akademik dan sekitarnya. Melewati depan kolam renang.

Selesai lihat kampus, perut terasa lapar.

“Nanti kita maksi mie ayam pakde Wonogiri, Pa”kata Nadia.

Wah, ramainya kuliner di situ. Sampai ngantri. Tapi mie-nya enak banget. Harganya pun terjangkau. Kami makan dan minum berlima, bayarnya nggak sampai seratus ribu.

Alhamdulillah.

Salam sehat penuh keberkahan.

Kampus Universitas Negeri Yogyakarta di Wates

Silaturahmi ke Orang Tua di Semarang

Alhamdulillah, dua hari lalu Allah takdirkan kami sampai di Semarang. Niatnya mau silaturahmi ke bapak ibu. Mengisi liburan anak sekolah.

Waktu lebaran Idul Fitri lalu belum bisa mudik. Insyaa Allah kali ini silaturahmi juga ke bapak ibu mertua dan nengok anak di Jogja.

Kami berangkat berempat naik kapal Dharma Kartika 7. Kapal Ro-Ro yang mengangkut penumpang dan kendaraan.

Banyak cerita yang saya dapatkan selama di kapal. Cerita kru kapal yang tugas di dapur sekali masak sediakan makanan untuk 700 -an orang. Selama perjalanan, penumpang dapat jatah makan empat kali. Menunya nasi, ayam goreng, sayur. Lain waktu nasi, ikan goreng, sayur. Setiap ambil makanan penumpang antri dan tunjukkan tiket kapalnya.

Sebelum berangkat, udah siapkan bekal tambahan. Bawa roti, buah, mie instan, air mineral. Juga nggak lupa TRIO IMUN : Propolis ASHIHA, Red Koffie, Susu Dailystrum. Ikhtiar menjaga kesehatan dan kebugaran.

Perjalanan Pontianak – Semarang sekitar 34 jam. Harga tiketnya untuk penumpang dewasa sepertiga harga tiket pesawat. Tiketnya beli online.

Di kapal, setiap waktu sholat, terdengar suara azan. Kru kapal umumkan yang mau sholat jamaah di musholla. Harus antri kalau datangnya belakangan. Pernah waktu mau sholat Maghrib, saya kebagian kloter ketiga antrian.😊

Sebelumnya tahun 2019 juga pernah naik kapal ke Semarang. Antar anak kedua, Aysha, yang mau kuliah di Jogja. Waktu anak pertama, Nadia, masih bayi pernah juga naik kapal ke Pontianak.

Selasa dini hari kami sampai di rumah bapak ibu. Alhamdulillah, Allah mudahkan perjalanan silaturahmi ini.

Salam sehat penuh keberkahan dari Semarang.

Tes Darah

Beberapa hari ini kepala saya terasa agak pusing. Berbeda rasanya dengan hari-hari sebelumnya. Akhirnya saya putuskan tes darah di klinik. Saya curiga kolesterol saya naik. Dua hari lalu, saya pun cek tekanan darah. Juga cek sampel darah untuk mengetahui kadar gula darah, kadar asam urat dan kadar kolesterol.

Setelah dicek, tekanan darah masih normal: 110/70 mmHg, asam urat 4,7mg/dL dan gula darah 122 mg/dL. Nah, yang di atas normal perkiraan saya betul, kolesterolnya tinggi sampai 321 mg/dL. Saya pun diberi obat yang diminum sehari sekali setelah makan malam.

Untuk mengurangi kolesterol yang tinggi, saya pun sementara pantang makan kuning telur, kurangi makanan yang digoreng. Sebagai penggantinya saya masak sayur bening sawi. Juga bikin jus wortel, minum kopi merah (Red Kofiie) sehari sekali. Sekali minum kopi merah takarannya setengah sachet diseduh dengan air hangat.

Setiap hari jalan kaki tetap saya jalankan. Juga olahraga badminton sepekan 2 kali.

”Sebulan lagi cek darah ya pak, untuk tahu kondisinya”kata perawat di klinik mengingatkan saya ketika selesai cek darah.

Eat better, Move more, Manage Stress

Sabtu lalu (9/10) saya hadir di webinar berjudul Deteksi Dini Penyakit Jantung Koroner. Diadakan oleh KAGAMA. Ada dua pembicara yaitu dr. Vita Yanti, Ph.D dan Dr. dr Emmy.

Dari webinar tersebut saya mendapatkan wawasan, bahwa penyakit jantung koroner tidak hanya karena pola makan yang tidak tepat dan perilaku sedentary alias malas gerak. Namun juga disebabkan ketidakmampuan seseorang mengelola stress yang dihadapi.

Hal lain yang penting diketahui adalah resiko penyakit jantung koroner tidak hanya terjadi pada orang dewasa yang berumur di atas 50 tahun. Namun sudah terjadi juga pada usia 30 tahunan.

Artinya, penyakit jantung koroner ini meskipun tidak menular namun perlu diwaspadai sejak usia muda. Oleh karena terkait dengan pola makan dan kebiasaan aktivitas fisik sehari hari.

Kalau Udah Rezeki Nggak Akan Tertukar

Tanggal 1 Oktober lalu saya antar tamu dari camp ke Nanga Pinoh. Berangkat dari camp jam setengah enam pagi. Cuaca waktu itu hujan. Ada lima tamu. Dua dari Jakarta dan tiga dari Pontianak. Dua orang dari camp ikut juga. Ada dua mobil yang digunakan dengan driver dari camp.

Hampir di sepanjang jalan cuaca hujan. Ketika mobil sampai di daerah Kebebu, mobil yang saya tumpangi pecah ban sebelah kanan belakang. Mobil pun berjalan pelan mencari lokasi yang datar untuk ganti ban. Akhirnya mobil berhenti tepat di depan rumah yang bagian depannya dijadikan lapak. Kami semua turun dari mobil dan berteduh di depan rumah.

Ada satu orang ibu dan anaknya yang waktu itu ada di situ. Dia mempersilahkan kami duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu. Ibu itu mengelap bagian bangku yang basah. Dua orang driver masih sibuk mengganti ban yang pecah. Cuaca masih hujan. Untung dari camp saya bawa payung dan dipakai salah satu driver.

Ketika menunggu itulah, kami ngobrol dengan ibu yang ternyata asalnya dari Karawang, Jawa Barat. Dia baru saja panen semangka dan ditaruh di atas lapak dan ditutupi terpal plastik. Musik dari flash disk khas sunda terdengar merdu. Teman dari Pontianak begitu tahu ada buah semangka langsung beli dan dihadiahkan buat dua driver. “Ini buat ongkos ganti ban”katanya. Dua karung beras berisi semangka pun berpindah ke bagasi mobil.

Semua terjadi sudah diatur Allah. Begitu kami ngobrol dalam perjalanan lanjutan ke Nanga Pinoh. Betul sekali. Menurut kita pecah ban itu kebetulan. Tapi semua sudah dalam rencana Allah untuk memberikan rezeki bagi ibu itu dan dua orang driver. Mengapa pecah bannya tidak waktu di logpond atau di Nanga Pinoh? Mengapa terjadi di daerah Kebebu dan dekat dengan rumah ibu itu? Itulah rahasia rezeki dari Allah SWT.

YNWA

YNWA

Waktu melijtas di depan pendopo gubernur, ada poster yang tulisannya bikin saya penasaran.YNWA. Sebelumnya, saya sama Dienna Eka janjian mau ketemu bu Nurhayati Naim yang bawakan pesanan 1 box Propolis Ashiha .Janjian ketemu di auditorum Untan.

Ingatan saya langsung ke klub sepak bola asal Inggris, Liverpool. Dalam hati saya bertanya, “Apa klub ini punya banyak penggemar ya di Kalbar? Kok ada tulisan YNWA”

Sebagai fans Liverpool FC, saya nggak asing dengan singkatan ini. YNWA..You’re Not Walking Alone. Judul lagu kebangsaan Liverpool FC Saya pun pelankan kendaraan.. Eh, ternyata NYWA itu singkatan dari You’re Nothing Without Allah.

Kalau direnungi betul juga isi poster itu. Kamu nggak ada apa-apanya tanpa Allah. Nggak ada daya dan upaya melainkan dari Allah. Meski kita pintar, punya ilmu, kemamouan dan relasi kalau Allah nggak ijinkan ya lewat deh. Jangan hanya mengandalkan kemampuan kita. Hadza Min Fadhil Robbi. Semua karunia dari Allah

Iuran Keluarga

Salah satu kegiatan rutin saya di awal bulan adalah bayar iuran keluarga. Nilainya 150 ribu per bulan. Kalau saya di rumah, uangnya saya serahkan ke istri. Kalau di luar kota saya transfer ke rekeningnya.

Kurang lebih tiga tahun ini dia diminta adik-adiknya simpan uang iuran keluarga. Sebelumnya adik di Kroya yang simpan dan catat pembukuannya.

Ide iuran keluarga ini muncul sekitar enam. tahun lalu. Biasanya kalau lebaran Idul Fitri, keluarga pihak istri, lima bersaudara, pulang ke rumah bapak ibu di Jogja.

Acara lebaran biasanya setelah sholat Ied dilanjutkan sungkeman, makan bersama dan jalan-jalan ke tempat wisata. Saat itulah terpikir adakan iuran keluarga. Awalnya iuran 100 ribu per bulan per keluarga ditambah eyangnya. Ada 6 keluarga. Berarti 600 ribu per bulan. 7,2 juta setahun. Lumayan juga ya jumlahnya. Bayarnya ada yang per bulan. Ada juga yang sekaligus bayar setahun.

Sejak tiga tahun ini iurannya dinaikkan jadi 150 ribu per keluarga. Nah, dari uang kas itu dipakai buat beli hidangan lebaran dan berwisata. Bagi keluarga yang nggak bisa mudik diberikan cash back. Sudah dua tahun ini sejak wabah covid19, kami belum bisa lebaran Idul Fitri lagi dan berkumpul bersama.

Terus gimana dengan saldo kas iuran keluarga? Digunakan buat apa? Sesuai kesepakatan, sebagian tetap digunakan untuk membeli hidangan lebaran. Buat yang berlebaran di Jogja. Sebagian lagi digunakan untuk bantuan pengobatan yang sakit dan angpau buat anak-anak.

Dalam kondisi seperti saat ini, begitu berarti punya iuran keluarga. Minimal kita bisa bantu anggota keluarga yang memerlukan.

Selamat pagi teman-teman. Semoga manfaat dan salam sehat penuh keberkahan.

Pengurangan Karyawan itu Akhirnya Terjadi Juga

Selama saya bekerja 25 tahun di perusahaan, tahun inilah mengalami apa yang disebut Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Teman-teman yang jumlahnya seratusan orang lebih harus menerima pilihan diberhentikan, karena kondisi perusahaan yang dua tahun berturut-turut mengalami kerugian. Da total karyawan delapan ratusan, sekitar 20 % terpaksa di-PHK.

Alhamdulillah, saya melihat karyawan menerima keputusan itu apalagi pesangon mereka langsung dibayarkan tak lama setelah mereka manandatangani surat keterangan berhenti. Perusahaan telah menyiapkan dana untuk membayar pesangon karyawan sesuai ketentuan pemerintah. Pesangon yang mereka terima kan lebih lebih besar apabila mereka ketika PHK memasuki usia pensiun 56 tahun sesuai yang ditetapkan perusahaan.

Semoga teman-teman yang telah bekerja belasan bahkan puluhan tahun lebih sukses lagi di tempat yang baru.