Dua Anak Tetap di Jogja

Dua anak cewek yang sedang kuliah di Jogja belum bisa pulang ke Pontianak saat wabah Covid-19 ini. Si sulung, Nadia, sedang sibuk menyusun skripsi.

Waktu saya  WA kemarin (26/4) tanya perkembangan skripsinya, bab tiga analisis statistik harus diperbaiki sesuai permintaan dosennya. Karena sibuknya, sampai tidak sempat baca apalagi komen postingan saya dan mamanya di grup WA keluarga. Dia memang fokus ke penyelesaian skripsi supaya bulan Mei nanti bisa ujian.

Anak kedua, Aysha, bulan Maret lalu hampir saja pulang ke Pontianak. Sudah cari tiket Jogja – Pontianak. Waktu mamanya tanya pendapat saya, keputusan pulang tidaknya saya serahkan ke Aysha. Setelah sering telepon mamanya, keputusannya berubah. Tetap tinggal di Jogja.

Dia juga mikir kalau pulang ke Jogja pasti buku-bukunya juga harus dibawa. Ini berarti tambahan bagasi di pesawat. Meski kuliahnya online, namun tugas-tugasnya cukup banyak dan perlu buku referensi.

Meski kami berjauhan. komunikasi tetap berjalan lewat WA. Pernah dia dapat tugas statistika. Tentang programasi linier. Dia kirim soalnya ke mamanya untuk cari cara pengerjaannya. Mamanya teruskan soal itu ke saya malam hari jam sepuluh dan bilang tugasnya dikumpulkan besok pagi. Mungkin mamanya sudah berusaha kerjakan dan ingin tahu gimana jawaban saya.

Waktu itu saya sudah tidur dan baru buka WA paginya. Sampai di kantor saya belum sempat kerjakan tugas Aysha itu. Baru sekitar jam 10 saya kerjakan, saya foto tulisan di kertas dan saya kirim ke mamanya Aysha.

Setelah itu ada jawaban, “Sayang tugasnya sudah dikumpulkan  ke dosennya”

 

Mudahnya Memperpanjang Masa Berlaku SIM A dan C

Tanggal 9 Maret 2020 lalu saya mengurus perpanjangn SIM A dan C di SATPAS  (Satuan Penyelenggara Administrasi SIM) Polresta Pontianak. Sebelum ke sana saya lengkapi dulu persyaratannya. Bawa Surat Keterangan Dokter (SKD), SIM asli dan foto copy KTP.

Ada dua SKD yang saya dapatkan karena saya memperpanjang dua SIM. Satu SKD untuk perpanjang SIM A dan satu SKD untuk perpanjang SIM C.

Setelah dapatkan SKD di Puskesmas Purnama, saya datang ke Polresta Pontianak. Saya kira proses perpanjangan SIM masih di Polresta.

Petugas di sana menjelaskan bahwa pembuatan dan perpanjangan SIM sudah sekitar dua bulan di SATPAS di jalan Martadinata, dekat SPBU. Bergegas saya menuju ke SATPAS. Sampai di lokasi saya baca pengumuman prosedur perpanjangan SIM.

Setelah itu saya ke loket pendaftaran. Menyerahkan berkas persyaratan dan oleh petugasnya diberikan formulir isian. Karena ada dua SIM yang harus diperpanjang, maka formulir isiannya juga dua. Di loket itu juga saya membayar biayanya. Untuk perpanjangan SIM A 80 ribu dan SIM C 75 ribu.

Kemudian saya diminta menyerahkan ke petugas di loket 1. Saya masuk ke dalam SATPAS. Menyerahkan berkas dan bukti pembayaran ke petugasnya. Setelah itu saya diberikan nomor antrian. Siang itu hanya ada 4 orang termasuk saya yang antri.

Setelah berkas persyaratan dicek oleh petugas, saya  diberi bukti pengecekan berkas dan diminta antri foto di loket 5. Letaknya di bagian belakang kantor. Di tempat itu ada 4 orang yang antri untuk foto. Saya serahkan  bukti pengecekan dan memilih menunggu di luar ruangan. Setelah nama saya dipanggil saya masuk ke ruang foto.

Selesai foto saya menunggu di luar ruangan di tempat yang sama karena tempat pengambilan SIM di depan ruang foto. Saya serahkan bukti sudah foto ke petugasnya. Nggak sampai 15 menit saya dipanggil. Petugasnya menyerahkan SIM A dan C yang baru.

Saya hitung-hitung, waktu mulai serahkan berkas sampai SIM perpanjangan selesai, hanya sekitar 20 menit. Mudah dan cepat. Bisa jadi karena saya datang siang hari dan pengantrinya nggak ramai. Juga karena petugasnya cekatan dan profesional dalam melayani.

Beli Produk Usaha Teman Sekolah

Jogja Donuts

Saya punya beberapa teman sekolah yang punya usaha kuliner. Di Jogja, ada dua teman yang punya usaha kue dan olahan coklat. Yang satu namanya Nunung Krisnayanto. Punya usaha kue dengan merk Jogja Donuts.

Saya pernah beberapa kali beli kuenya. Untuk dikirim ke mertua dan anak-anak yang kuliah di Jogja. Waktu adik saya yang di Jogja ulang tahun, saya juga kirim kue Jogja Donuts ke rumahnya.

Sebelumnya saya juga pernah beli langsung ke gerainya di SPBU Mlati Sleman. Nunung itu adik angkatan waktu kuliah di fakultas kehutanan. Saya angkatan 1989, dia 1991.

Teman kedua punya usaha produk coklat merk Makaryo. Namanya Sapardiyono. Dulu waktu kuliah dia kakak angkatan satu tingkat. Yang unik, label coklatnya bisa kita pesan dengan ucapan atau slogan sesuai keinginan kita.

Coklatnya juga pakai gula semut. Saya pernah pesan coklatnya untuk ibu bapak mertua dan anak-anak di Jogja. Pernah juga pesan untuk keluarga di Pontianak.

Ada juga teman SMA 1 Cirebon yang punya usaha bikin kue di Bogor. Spesialisasinya pie. Setelah puluhan tahun hilang kontak, waktu menjelang reuni 30 tahun akhirnya bertemu lagi di grup SMA dan grup kelas. Dulu waktu kelas satu dan dua kami sekelas. Namanya Widyasari. Biasa dipanggil Utun.

Waktu adik di Bogor ulang tahun bulan Pebruari lalu, saya pesan kue ke dia. Awalnya saya pesan kue tart. Ternyata dia tidak terbiasa bikin kue tart dan tawarkan kue lainnya: Maccaroni Pie alias Mac Pie.  Setelah lihat fotonya, saya tertarik dan setuju pesan kue itu.

Waktu hari H ultah, ternyata adik saya, Irma, sedang cuti. Rencana Utun ketemu dia di tempat kerjanya, Kuntum Nurseri, ditunda jadi hari Selasa.  Untuk bawakan kuenya sekalian kenalan. Padahal sebelumnya saya sudah minta supaya kuenya dikirim via ojol, tapi Utun menolak. Dia tawarkan dirinya antar kue ultah Irma.

Satu lagi teman SMA yang punya usaha kuliner, khususnya katering makanan tradisional dan modern, Ratengan. Teman ketika di SMA 2 Yogya. Namanya Sjamsiar Agustin, biasa dipanggil Titin.

Waktu saya ke Jogja bulan Nopember 2019 lalu sempat silaturahmi ke rumahnya. Di Argomulyo, Sedayu, Bantul. Janjian bertemu dengan teman-teman lainnya. Bertemu lagi setelah sekitar 3o tahun berpisah. Saya baru tahu dia punya usaha kuliner setelah bertemu di rumahnya.

Dijamu makan siang dengan berbagai hidangan. Ada juga cemilan. Waktu pulang dikasih oleh-oleh lagi. Tepung krispi, sayur dan lauk-pauk.

Seperti ketika beli produk makanan teman-teman lainnya, saya juga pesan dan beli produk kulinernya untuk bapak ibu dan anak-anak di Jogja. Pesan ikan tongkol suwir pedas dan ayam karipop. Masing-masing satu porsi. Yang bikin saya surprise, dikasih bonus babat gongso dan koro bacem. 🙂

Matur nuwun ya. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan berkah usahanya.

 

Bergabung dengan Komunitas Menulis

Semua berawal dari grup WA yang saya ikuti dengan istri. Tentang Parenting. Nama grupnya Smart Islamic Parenting (SIP). Yang diasuh oleh Sri Wahyu Indawati, M.Pd. Yang lebih akrab disapa bunda Iin.

Selain memberikan kuliah WA atau kulWA, di grup itu setiap Minggu ada tugas yang harus dikerjakan oleh para anggotanya. Tugas yang sudah dibuat difoto dan diunggah ke grup. Jika suami istri, tugas tidak harus dibuat per orang tetapi dua orang mengerjakan satu tugas. Hanya kami suami istri yang tergabung di grup tersebut. Yang lainnya ibu-ibu.

Kondisi kami yang berjauhan secara fisik karena saya tugas di Melawi dan istri di Pontianak menjadi tantangan tersendiri saat mengerjakan tugas. Kami harus mencari waktu untuk ngobrol membahas penyelesaian tugas tersebut. Di pagi sampai sore hari kami  sibuk dengan urusan masing-masing. Jadi tugas-tugas itu baru dapat dikerjakan malam hari. Kami berdiskusi untuk membuat visi  dan misi keluarga, program-program keluarga yang melibatkan anak-anak. Misalnya memberikan kultum setelah sholat Maghrib.

Alhamdulillah sampai dengan minggu keempat, setiap tugas yang diberikan kami dapat kerjakan sesuai tenggat waktunya. Kegiatan mengikuti grup SIP pun usai. Tapi kami masih bergabung di grup tersebut.

Sampai suatu saya menerima pesan WA dari seseorang yang mengajak untuk bergabung di grup “Ssst.. Jangan Ghibah”. Grup yang sebagian anggotanya berasal dari grup SIP. Yang unik ketika itu adminnya, mbak Lelly, mengira saya wanita karena di foto profil yang terlihat foto istri dan anak-anak saya. Foto saya di bagian paling kiri terpotong pada saat diunggah di WA.

Karena terlanjur dimasukkan ke grup yang berisi ibu-ibu dan menyanggupi syarat dan ketentuan yang ada, saya aktif di grup tersebut. Saya menganggap kekeliruan itu adalah kehendak Allah SWT. Bisa jadi ini adalah cara Allah SWT untuk mengenalkan dunia literasi kepada saya. Setelah beberapa waktu lalu saya dipertemukan dengan komunitas penggiat baca Tepian Kapuas, kita saya dikenalkan dengan komunitas menulis.

Di grup ini setiap anggotanya diminta membuat tulisan dengan syarat yang sudah ditentukan. Temanya Jangan Ghibah. Kumpulan tulisan 20 orang penulis pemula itu selanjutnya akan djadikan buku Antologi berjudul Jangan Ghibah. Ini pengalaman pertama saya menulis untuk buku Antologi. Dan alhamdulillah, sebelum tenggat waktu pengiriman naskah tanggal 5 Nopember, tulisan saya sudah selesai dan sudah dikirimkan ke mba Lelly.

 

Kue Bingke, Oleh-oleh Khas Pontianak

Buat saya dan istri, rasanya kok ada yang kurang kalau pulang ke Jogja atau Semarang nggak bawa oleh-oleh. Apalagi mau silaturahmi ke orangtua.

Ada tentengan baru yang saya bawa waktu ke Jogja awal Agustus lalu. Kue bingke Anggrek Hj. Nurmawati. Satu duz isinya 8 kotak. Sesuai ide istri. Oleh-oleh buat anak-anak yang kuliah dan saudara yang tinggal di sana. Biasanya sih bawa kerupuk udang atau ikan teri untuk oleh-oleh. Nah, kalau oleh-oleh ini ibu mertua yang suka 🙂

Ada beberapa rasa kue bingke. Rasa durian, ubi rambat, pandan, keju, nangka, coklat, labu juga jagung. Kue produk rumah tangga yang sering disajikan ketika berbuka puasa atau lebaran. Kue yang berbentuk segi enam dan biasanya dipotong jadi enam bagian. Rasanya yang legit dan manis. Cocok dinikmati sambil minum teh hangat.

Waktu ke Jogja, Nadia, anak pertama sengaja datang dari lokasi KKN di Magelang. Untuk bertemu saya dan mamanya. Beberapa kotak kue bingke pun dia bawa ke lokasi KKN. Supaya teman-temannya merasakan juga oleh-oleh khas dari Pontianak.

 

Bertemu Lagi Adik Kandung Setelah 16 Tahun

“Kapan ya kita ketemu terakhir kali?”tanya saya ke adik perempuan yang baru saja pindah ke Jogja.

“Tahun 2002 mas, waktu pernikahannya dek Irma”jawab Shinta.

“Berarti sudah 16 tahun kita nggak ketemu”kata saya

Sejak tahun 2002 itu kami belum pernah bertemu lagi. Shinta kerja di Batam. Dia dan keluarganya juga tinggal di Batam. Saya dan keluarga di Pontianak. Saya belum pernah berkunjung ke Batam. Dia juga belum pernah ke Pontianak.

Saat mudik lebaran ke Semarang, kami nggak pernah bertemu. Saya dan keluarga memang tidak setiap tahun mudik lebaran. Biasanya tiga tahun sekali baru pulang mudik. Ongkos pesawat enam orang  pergi pulang yang menjadi pertimbangan jika sekeluarga mudik ke Jawa.

Untuk mensiasatinya, biasanya kami pulang bergantian. Tidak saat suasana lebaran. Terkadang saya sendirian ke Semarang terus ke Jogja. Di lain waktu giliran istri yang pulang  ke Jawa sewaktu ada acara keluarga.

Demikian juga Shinta dengan keluarganya. Tidak setiap tahun pulang lebaran. Jika pulang untuk menengok anak pertamanya, Shindi, yang saat itu sekolah di Semarang.

Meski terpisah jauh, keinginan kami untuk bertemu tetap ada. Sering saya berdoa sehabis sholat. Minta sama Allah SWT supaya bisa dipertemukan dengan Shinta dan keluarganya

Sampai akhirnya ada berita kalau dia mau pindah ke Jogja. Karena anak kedua dan ketiganya ingin sekolah di Jogja. “Ikut kakak Shindi sekolah di Jogja”kata Cintya dan Bobby. Shindi meneruskan kuliah d Jogja setelah diterima di Fakultas Hukum UGM tahun 2018.  Karena ketiga anaknya sudah sekolah di Jogja, dia dan suaminya juga dua anaknya yang tinggal di Batam akhirnya pindah ke Jogja.

Setelah tahu dia dan keluarganya di Jogja, saya pun berusaha kontak dia untuk bertemu. Awalnya saya mau bertemu tanggal 4 Agustus jam 10 pagi. Hari Minggu. Dengan pertimbangan anak-anak libur sekolah. Ternyata pada tanggal itu dia ada acara keluar rumah. Dia tawarkan gimana kalau bertemunya tanggal 2 Agustus malam hari. Saya setuju. Akhirnya saya berdua dengan istri menemui Shinta.

Momen yang di luar dugaan saya bisa bertemu dengan mereka sekeluarga. Dan di Jogja. Hanya perlu 15 menit dari rumah mertua ke tempat tinggal mereka.

Lega rasanya setelah bertemu mereka. Apalagi setelah bertemu pertama kali dengan ponakan-ponakan. Cintya, Bobby, Almira dan Bintang.

Alhamdulillah, jalinan silaturahmi itu tersambung kembali. Setelah 16 tahun terputus.

Kuliner Soto Seger Kartosura dan Tahu Gimbal di Semarang

Waktu ke Semarang, maksud hati pengin nguliner ke Soto Pak Man yang kondang itu lho tapi nggak kesampaian. Akhirnya soto seger  Kartosuro pun jadilah. Sebagai obat penawar kangen makan soto di Semarang.

Ceritanya waktu itu ibu pengin beli kalender tahun 2019. Belinya di pasar Johar. Saya sama adik bungsu yang ikut. Pulangnya karena pas jam makan siang, munculah ide makan soto. Pas waktunya, makan siang yang seger-seger. Pilihan jatuh ke warung Soto Seger Kartosura yang di jalan Depok.

Pesan tiga mangkok kecil soto seger. Rasanya memang enak. Apalagi makannya pakai sate, gorengan sama kerupuk. Minumannya es jeruk sama teh manis. Nggak lupa juga pesan ayam goreng krispi buat yang di rumah. Dan waktu bayar ke kasir, saya kaget. Untuk semuanya cukup bayar 79 ribu.

Satu lagi kuliner yang saya nikmati waktu di Semarang. Tahu Gimbal. Ini belinya pas saya di rumah orangtua. Di jalan Arjuna. Dekat Udinus.

Waktu mau sholat Ashar di masjid ketemu sama penjual tahu gimbal di dekat jembatan. Balik lagi saya ke rumah. Pesan ke adik bungsu supaya beli tahu gimbal 2 porsi. Sebelum besoknya kembali ke Pontianak.

Masih banyak lagi kuliner khas Semarang yang belum saya Nikmati. Tahu Petis, Tahu Pong, Lumpia.

Insya Allah, lain waktu disempatkan lagi datang. Silaturahmi ke orangtua. Sekalian wisata kulinernya.

 

Canvas, Satu Aplikasi untuk Berbagai Kartu Ucapan dan Promosi

Jika kita bergabung di satu grup WhatsApp (WA) biasanya kita akan ucapkan berbagai ucapan selamat. Ada ucapan selamat ultah, selamat hari raya, selamat atas kelahiran anak, selamat wisuda atau selamat atas pernikahan. Ada juga ucapan duka cita dan doa-doa yang kita copas dan di posting di grup.

Terkadang, karena ingin mudah, beberapa anggota grup langsung copas ucapan-ucapan itu. Copas apa adanya tanpa ada perubahan. Memang praktis sih, hemat waktu, nggak perlu repot-repot ngetik.

Pola seperti itu awalnya juga saya ikuti. Tapi lama-lama ada hal yang nggak sreg karena kok saya nggak kreatif ya. Monoton. Akhirnya saya berpikir buat ucapan sendiri, merangkai kata-kata sendiri. Tapi gimana caranya supaya disainnya menarik?

Sampai satu saat saya lihat ada kata-kata motivasi yang dibuat dengan disain yang bagus. Tulisannya kontras dengan latar belakangnya. Ada gambarnya juga di sampingnya. Saya pikir bikinnya pakai corel draw atau photoshop. Dua aplikasi yang nggak saya kuasai. Bayangan saya setelah disain jadi terus di transfer ke handphone.

Ternyata saya keliru. Untuk membuat disain-disain ucapan, kata-kata motivasi, promosi yang bagus itu bisa pakai aplikasi Canvas di Playstore. Kita unduh aplikasinya dan pasang di handphone. Terus bisa kita pakai. Ada banyak pilihan template yang gratis atau berbayar.

Sekarang, kalau ada teman di grup yang ultah, saya pakai aplikasi Canvas untuk berikan ucapan. Hasilnya, kemarin teman SMP yang ultah langsung komentar,”Makasih ya ucapannya, bagus, kreatif, bikinnya pakai apa sih?”

Teman Akrab Istri Waktu SMP Ternyata satu SMA dengan Saya

“Dunia ini memang sempit”kata Erri, panggilan akrab teman SMP istri saya.

Teman cewek yang akrab banget dan duduk berdekatan waktu klas 1 SMP di Jambi. Kalimat yang terucap ketika istri silaturahmi ke Erri yang baru saja pindah ke Pontianak. Mengikuti tugas suaminya yang bertugas di salah satu bank BUMN.

Waktu ngobrol, istri bilang kalau suaminya (saya) dulu SMAnya di Cirebon juga. Sama seperti Erri.

“SMA berapa Eka?”

“SMA 1. Erri SMA berapa?”

“Lho, saya SMA 1 juga. Siapa namanya?” Erri mulai penasaran 🙂

Istri pun menyebutkan nama saya, angkatan 86, kelas bio 2.

Erri ini memang teman akrab istri waktu SMP. Kalau di sekolah sering kemana-mana berdua. Sayangnya keakraban itu hanya setahun. Naik kelas 2, Erri dan istri saya sama-sama pindah sekolah.

Erri pindah ke Cirebon, istri pindah ke Bandung. Setelah itu hilang kontak. Mereka berdua nggak pernah bertemu lagi. Pertemanan tersambung kembali lewat FB. Mereka saling menyapa dan komen di FB.

Sekali waktu istri ke Jakarta. Menghadiri pernikahan saudara sepupunya yang perempuan. Tapi waktu itu nggak sempat bertemu Erri yang juga tinggal di Jakarta.

Sampai suatu saat, Erri kabari istri kalau suaminya pindah tugas ke Pontianak. Janjian ketemuan pun dirancang. Disepakati bertemu di rumah dinas suaminya di jalan Johan Idrus. Akhirnya pertemuan dua sobat lama itu pun terjadi. Akrab.

Dan ketika bicara tentang keluarga, dia pun penasaran dengan saya. Teman ketika SMA. Cuma istri cerita lewat WA, kalau dia dari SMA 1 juga, saya masih belum ingat yang mana orangnya. Saya coba ingat-ingat, Erri ini gak pernah sekelas sama saya waktu klas 1 – 3. Kalau pernah sekelas, pasti saya inget. Ternyata benar.

Setelah saya tanya balik lewat istri, Erri cerita dulu kelas 1-1 dan sosial 2. Sementara saya 1-7 dan biologi 2.  Beda kelas ternyata, tapi beberapa teman saya di kelas 1 dan 2 dia kenal baik. Sama saya sendiri dia nggak terlalu kenal. Saya juga tahu wajahnya tapi nggak pernah ngobrol2…..wkwkwk…

Setelah itu ya saya kenalan dan ngobrol sama Erri lewat WA. Lucu yaaa ceritanya….

“Ternyata Eka, teman akrab waktu SMP suaminya satu SMA sama saya”kata Erry…

Wah, kalau kami bertiga ketemu lebih seruuu tuh ceritanya.

Inisiatif Aysha dan Teman-Temannya Adakan Les Tambahan di Rumah

Sudah sebulan ini Aysha dan lima temannya yang kelas XII IPS rutin terima les tambahan matematika di rumah. Jadwalnya  Senin dan Kamis mulai jam 16.00 sampai jam 17.30. Pengajarnya dari lembaga bimbingan belajar. Targetnya bisa lolos tes SBMPTN tahun 2019.

Pada awalnya Aysha dan temannya rencana ikut les tambahan reguler di bimbel. Tapi setelah dihitung biayanya cukup mahal untuk ukuran mereka. Akhirnya mereka putuskan lebih baik panggil pengajar dan lesnya di rumah. Hitungannya lebih murah. Setiap anak cukup membayar 200 ribu sebulan untuk delapan kali pertemuan.

Setelah diputuskan panggil pengajar ke rumah, yang perlu ditentukan selanjutnya tempatnya dimana. Karena pertimbangan lokasi di tengah kota dan dekat dengan sekolahnya, akhirnya les tambahan diadakan di rumah kami. Jadi mereka setelah belajar di sekolah, istirahat sekitar satu jam terus belajar lagi.

Mereka  duduk lesehan di ruang tamu yang sementara waktu diubah jadi tempat belajar mengajar.  Menggunakan white board kecil ukuran 60 x 90 cm yang sudah ada di rumah. Setelah berjalan beberapa minggu, mamanya Aysha melihat anak-anak kok sering mendekat ke white board itu. Rupanya karena ukurannya kecil, mereka tidak bisa melihat jelas kalau duduknya jauh.

Muncul usulan dari mamanya Aysha supaya belikan white board yang ukurannya lebih besar. Nggak pakai lama berpikir dan ingin mensupport anak-anak yang bersemangat belajar di rumah, saya pergi ke toko buku dan ATK untuk beli white board yang ukuran 80 x 120 cm. Kalau untuk urusan sekolah, belajar dan pendidikan anak-anak seperti itu memang saya dukung penuh. Menyediakan tempat dan perlengkapannya.

Jangan sampai anak-anak sudah punya inisiatif adakan les tambahan di rumah, mencari pengajarnya, tentukan waktunya kita sebagai orang tua malah nggak peduli.