Siapkan Sarapan dan Bekal Makan Siang buat Anak Sekolah

Setelah pemerintah menetapkan lima hari sekolah dari  Senin sampai Jumat, kami pun di rumah harus menyesuaikan  diri. 

Biasanya istri pagi-pagi masak buat sarapan saja  buat anak-anak yang mau berangkat  sekolah.  

Tapi setelah tiga anak sekolah dari pagi sampai sore,  ada tambahan tugas. Siapkan bekal buat makan siang mereka. 

Menunya kurang  lebih sama dengan menu sarapan. Ada nasi,  sayur dan ikan atau telur. Menu yang ada kandungan  karbohidrat, protein dan vitaminnya. 

Biasanya sih waktu anak-anak pulang sekolahnya siang dari Senin sampai Sabtu, makannya di rumah.  Jadi nggak perlu bawa bekal buat makan siang di sekolah. 

Waktu  awal-awal lima hari sekolah,  anak-anak dibekali uang buat makan siang. Setelah dihitung-hitung,  cukup besar juga biayanya untuk tiga anak. 

Pernah juga anak-anak makan siang  pakai catering di sekolah, tapi menunya kurang bervariasi. Akhirnya nggak diteruskan.  Yang sekarang dipilih malah bawa bekal  dari rumah. Apalagi anak-anak cocok dengan  masakan  ibunya. 

Seperti menu yang di foto itu. Nasi hangat, tumis kacang  panjang plus ikan asin. Memu  yang  nggak cuma anak-anak yang suka,  termasuk  saya juga 

Iklan

Suzuki Futura yang Masih Eksis dan Bermanfaat

Tak terasa 14 tahun sudah Suzuki Futura itu menemani saya dan keluarga saat bepergian. Saat ini mungkin agak susah menemukan mobil seperti itu di jalan. Mobil generasi 90-an yang saat itu banyak digunakan oleh keluarga maupun untuk angkutan kota. Keberadaannya sekarang sudah tergantikan dengan avanza dan xenia.

Berawal dari keinginan kami untuk punya mobil keluarga. Setelah survei dan cari mobil yang sesuai isi kocek, akhirnya pilihan jatuh ke Suzuki Futura tahun 1991. Kami beli saat itu dengan harga 34 juta.

Selama kami gunakan, mobil itu lancar-lancar saja. Jarang bahkan hampir nggak pernah mogok di jalan. Yang pernah kami alami bannya kempes atau bocor. Pernah juga terpikir menjual mobil itu. Sempat hubungi teman yang bisa bantu jualkan.

Setelah saya foto beberapa bagian, ada pembeli yang ingin lihat mobil itu. Tapi nggak cocok karena melihat bodinya yang saat itu di beberapa bagian retak. Jual mobil pun batal.

Akhirnya mobil saya bawa ke bengkel. Diketok dan cat ulang. Setelah lihat bodinya yang mulus, sayang kalau dijual. Sampai sekarang mobil itu tetap kami pakai. Memang dibanding avanza dan xenia, bodinya lebih panjang. Ruang di baris kedua juga lebih lebar, jadi kaki bisa selonjor. Suaranya pun masih halus.

Saya juga perhatikan jadwal penggantian oli di kartu perawatannya. Tanggal berapa harus ganti oli mesin, oli persneling, ilo gardan dan filter oli. Air radiator sebelum mesin dinyalakan juga saya cek. Kalau kurang saya tambah dan sering saya ganti baru kalau warnanya sudah keruh.

Saat mengendarai di jalan yang sepi, saya pernah coba persneling 5 dan masih oke. Cuma kalau pas jalan sama istri, dia sering khawatir kalau saya bawa mobil dan pakai gigi 5. “Hati-hati, mas, mobilnya sudah tua”katanya. Akhirnya saya turunkan kecepatan dan pindah ke gigi 4. 🙂

Ya, betul juga, harus ingat dengan kondisi mobil yang sudah  usianya 20 tahun lebih. Perlu hati-hati dan jangan emosi waktu mengendarai.

Sayang kalau Mobilnya Dijual

P_20170309_065912

“Sayang  kalau mobilnya dijual, Pak. Apalagi ini kan mobil keluarga”kata pak Bambang, mekanik yang perbaiki mobil saya.

Obrolan di pagi hari itu menyadarkan saya. Ada hikmah di setiap  masalah. Itu yang saya alami waktu mau jual mobil suzuki Futura yang saya beli  tahun 2003. Sudah 13 tahun lebih saya dan keluarga pakai mobil itu. Saya beli mobil bekas itu 34 juta. Rencananya sih kalau terjual, uangnya dipakai buat tukar tambah beli sepeda motor. Motor Supra yang tahun 2006 saya jual, terus beli motor baru cash. Uangnya untuk beli motor baru ya sebagian dari jual mobil futura itu. Saya dan istri sepakat beli cash saja, nggak pakai kredit atau cicilan-cicilan.

Sempat tawarkan mobil itu ke teman, minta tolong jualkan. Saya hubungi teman via BBM. Saya foto dari depan, samping kiri kanan, belakang dan atapnya. Juga interiornya.

Waktu dia tawarkan ke calon pembeli, teman itu yang bawa mobilnya. Saya sih mintanya 19 juta terima bersih. Ternyata setelah dilihat sama pembelinya, nggak jadi beli. Alasannya cat bodinya sudah mulai mengelupas. Lantai depannya juga ada yang keropos.

Memang saya akui waktu mau jual mobil itu kondisi bodinya nggak mulus. Meski mesinnya halus, pajaknya sudah terbayar alias masih hidup, tetap saja pembeli melihat sisi kurangnya.

Akhirnya mobil itu saya bawa ke bengkel ketok magic. Sesuai saran pak Kurnia, mekanik yang biasa perbaiki mobil, ada kawannya yang buka bengkel ketok dan cat mobil. Saya datangi bengkelnya. Sepakat untuk ongkos ketok mobil, cat dasar dan cat akhir 9,5 juta. pernah saya tanya-tanya ke bengkel lainnya. Biayanya  13-14 juta.

Saya serahkan mobil dan kuncinya ke pak Bambang, mekanik yang memoles mobil suzuki supaya mulus kembali bodinya. Di bengkel yang sederhana itu, hanya ada mobil saya saja yang diperbaiki. Ada bagusnya juga, karena dia bisa fokus dengan kerjaannya.

Setelah lima minggu, selesai  juga perbaikan mobilnya. Melihat kondisi bodinya yang mulus, jadi sayang deh mau dijual.

Pohon Mangga Depan Rumah yang Banyak Manfaatnya

“Bu, saya boleh minta buah mangganya?”kata seorang bapak ke istri saya

“Boleh pak, petik aja. Ngomong-ngomong buat apa mangganya, Pak?”istri balik bertanya

“Buat istri yang lagi hamil, Bu. Dia ngidam buah mangga”jawabnya

Saya yang mendengar cerita itu di telepon tertawa. Rupanya pohon mangga di depan rumah itu banyak juga manfaatnya. Awalnya menanam bibit mangga waktu kami beli rumah tahun 2000. Karena belum ada pohon, istri tukang yang waktu itu merenovasi rumah membawa biji mangga dan ditanam di halaman rumah.

Setiap tahun, biasanya bulan Nopember – Desember pohon mangga itu berbuah. Kalau buahnya jatuh ke halaman rumah, biasanya istri yang mengambil dan menyimpannya. Tetapi kalau jatuhnya di luar pagar rumah, diberikan kepada orang yang lewat di depan rumah.

Andra dan Nabil juga sering naik-naik ke pohon itu. Memetik buah mangganya. Tapi sekarang sudah jarang karena banyak semut api. Jadi kalau mau memetik buahnya nggak naik-naik pohon lagi tapi pakai galah.

Nggak cuma tetangga yang minta buah mangga. Pak Ustadz yang mengajar ngaji Andra dan Nabil juga pernah kami berikan oleh-oleh buah mangga tersebut. Teman istri yang profesinya penjahit juga pernah minta buah mangga itu untuk dibuat manisan. Ketika istri main ke rumahnya, dia diajari gimana membuat manisan mangga. Setelah dicicipi ternyata enak juga. Istri pun tertarik dan mengajak anak-anak di rumah membuat manisan mangga.

Di perumahan tempat kami tinggal, sudah jarang yang memiliki pohon mangga atau pohon buah yang sekaligus menjadi pohon peneduh. Dulu waktu awal-awal menempati rumah, masih banyak pohon buah yang ditanam tetangga. Setelah rumah lamanya dibongkar, pohon buahnya juga ikut ditebang.

Ada juga tetangga yang di depan rumahnya tumbuh pohon jambu air yang pada saat berbuah hingga berjatuhan di halaman. Setelah rumahnya dijual, bangunan lama rumahnya dibongkar dan dibangun model minimalis. Pohon jambu airnya pun ditebang dan tempat tumbuhnya sekarang dijadikan taman dan garasi.

Pernah suatu kali terpikir untuk menebang pohon mangga yang ada di depan rumah karena daun-daunnya yang gugur berserakan di halaman. Tapi ide itu batal kami kerjakan karena istri keberatan,”Nanti kamar tidur kita jadi panas, Mas, nggak ada lagi yang halangi sinar matahari”.

Namun karena tajuknya terus tumbuh ke atas dan ke samping cukup lebat, kami hanya memangkasnya karena mengganggu kawat listrik.

Tahun ini, pohon mangga depan rumah itu sudah enam belas tahun umurnya. Selama itu pula banyak manfaat yang telah diberikan bagi banyak orang dan lingkungan sekitarnya. Tak hanya jadi tempat bermain anak-anak, ikut merasakan buahnya. Juga peneduh rumah, penaung kendaraan tetangga atau tamu-tamu yang diparkir di depan halaman.

Berani Menikah Meski Belum Punya Rumah

“Liburan ini keluarga nggak naik ke camp?”tanya istri teman kerja kemarin sore.

“Nggak, mbak, lagi banyak kerjaan di Pontianak”jawab saya

“Lho, keluarganya di Pontianak? Bukan di Jawa?”komentar mbak yang lain yang istri teman kerja juga

“Anak yang pertama yang sekolah di Jawa, ibunya sama adik-adiknya masih di Ponti”kata saya

Bukan kali ini saja saya mendapat pertanyaan seperti itu. Ditanya di mana keluarganya dan yang nanya terkejut ketika mendengar keluarga tinggal di Pontianak

Sebagian besar teman atau keluarga teman di camp yang baru pertama ketemu sering mengira keluarga saya tinggal di Jawa. Padahal istri dan anak sudah tinggal di Pontianak 16 tahun lebih.

Mungkin mereka melihat karyawan lain dari Jawa terutama yang asalnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang jadi bujangan lokal. Maksudnya, suami atau ayahnya kerja dan tinggal di camp, tapi istri dan anak-anaknya di Jawa. Ada yang ketemunya tiga bulan sekali, ada yang enam bulan sekali. Jadi waktu di camp statusnya bujangan, tapi waktu di rumah berubah. 🙂

Ada juga yang baru menikah, istrinya diajak ke camp. Setelah istrinya hamil, dipulangkan ke kampung halaman. Setelah sang anak lahir ada juga yang beberapa tahun kemudian diajak lagi tinggal di camp.

Memang nggak mudah awalnya istri mutuskan ikut saya dan pindah ke Pontianak setelah menikah. Apalagi nggak ada keluarga atau saudara dan dia juga  bekerja di Jakarta. Tapi istri punya pertimbangan kalau dia di Jakarta, saya di camp nggak mudah ngatur pertemuannya bagi suami istri yang sama-sama bekerja. Belum lagi kalau anak-anak lahir. Kalau tinggal di Jawa, frekuensi pertemuan lebih jarang dibandingkan kalau dia ikut ke Pontianak.

Setelah dua tahun bekerja, kami menikah bulan Juli tahun 1997. Prosesnya cukup singkat. Kenalan lewat teman kuliah. Bulan Pebruari 1997, saya cuti pulang ke Jogja dan bertemu teman seangkatan yang sudah menikah. Istrinya yang kuliah di pertanian rupanya punya teman akrab. Waktu saya main ke rumahnya, saya dikenalkan dengan teman istrinya. Karena waktu itu lebaran, gantian kami bertiga yang berkunjung ke rumah  teman istrinya. Bertemu dengan bapak ibunya.

Setelah waktu cuti habis saya pulang ke camp. Komunikasi dengannya lewat surat, telegram dan telepon di wartel. Waktu itu belum ada handphone apalagi internet. Waktu saya tugas di Pontianak, saya langsung tanya dia apa bersedia menikah dengan saya. Dia jawab bersedia dan setelah itu saya bicara sama ibu di Jogja untuk membicarakan rencana selanjutnya. Pertemuan antara dua orangtua terjadi. Disepakati tunangan  dilaksanakan  Mei 1997 dan akad nikahnya bulan Juli 1997.

Setelah menikah karena waktu itu belum punya rumah, kami beberapa kali berpindah-pindah tempat tinggal. Kalau saya di camp, istri tinggal sama-sama di mess. Kalau ada tugas ke Pontianak, kami menginap di losmen. Sampai sekarang losmen itu masih ada dan berubah menjadi hotel.

Waktu istri hamil, pernah juga tinggal di salah satu keluarga yang kenal sama istri waktu naik pesawat dari Jogja ke Pontianak. Tiga bulan setelah nikah, istri diantar ibunya dan ibu saya ke Pontianak.

Karena kabut asap, akhirnya pesawat batal terbang ke Pontianak dan penumpang diinapkan di Jakarta. Saat itulah mereka berkenalan dengan bu AS Trisno, istri Kapolres Mempawah, yang kemudian menawarkan istri untuk tinggal di rumahnya di Pontianak. Saat itu istri menolak dengan halus karena ingin ikut saya ke camp

Nggak lama setelah di camp, ada tanda-tanda kalau istri hamil. Waktu ada tugas ke Pontianak, saya ajak istri dan kami naik bis ekonomi dari Nanga pinoh ke Pontianak. Waktu itu bus eksekutif rute tersebut belum ada.

Karena goncangan selama di perjalanan, istri sampai di Pontainak sempat alami pendarahan. Saya periksakan ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang terkenal di jalan Gadjah Mada. Diberi obat penguat kandungan dan disarankan dokter agar tidak melakukan perjalanan jauh.

Karena pertimbangan keselamatan janin yang dikandungnya, kami putuskan menerima tawaran tinggal di rumah bu Trisno sampai menjelang kelahiran. Usia kandungan delapan bulan, istri memutuskan kembali ke Jogja dan melahirkan Nadia di sana bulan  Juli 1998.

 

Menikmati Kerupuk Buatan Tetangga

Jpeg

Setiap kali naik ke camp, istri sering tanya saya mau dibawain apa? Dia tanya seperti itu karena tahu saya tergolong orang yang suka ngemil. Biasanya sih dia beli roti satu box. Kalau sudah seperti itu sebagian saya masukkan tas ransel untuk dimakan selama di perjalanan. Sebagian lagi untuk stok makanan di camp.

Waktu roti di camp habis, saya cari  di lemari apalagi cemilan yang masih ada. Ada mie instan, minuman sereal dan ini dia seplastik kerupuk. Di kulkas memang masih ada kerupuk basah. Di samping kompor gas juga ada buah pisang dan sirsak yang saya beli dari ibu-ibu datang jualan ke base camp.

Melihat kerupuk masih utuh, saya ambil dan letakkan di wadah plastik untuk diangin-angin sehari. Pagi ini sebelum ke kantor, sempatkan goreng dulu krupuknya. Setelah ditiriskan, karena penasaran, saya cicipi beberapa buah, selebihnya simpan di toples. Ternyata kerupuk yang digoreng agak lama sampai sebagian berwarna coklat lebih gurih daripada yang warnanya putih.

Kerupuk yang saya goreng itu dibeli istri bukan di toko atau mini market. Tapi dari tetangga. Asalnya dari Riau, suaminya kerja di perusahaan yang satu grup dengan saya. Dia bikin sendiri kerupuk itu dengan bahan campuran ikan tenggiri. Rasanya enak sekali, gurih, kriuk-kriuk, cuma kalau mau beli harus pesan dulu. Mungkin karena dia sendiri yang mengerjakan di sela-sela waktu luang.

Usahanya memang baru skala rumah tangga, tapi kalau ditekuni pasti bisa berkembang dan dan tambah pelanggan.

Menikmati Kerupuk Basah Titipan dari Istri

Jpeg

Kerupuk basah

Jpeg

Kerupuk basah dan kentang dikukus

Jpeg

Irisan kerupuk basah, kentang dan tomat

Jpeg

Dilumuri sabel kacang pedas dan siap disantap

Setiap kali mau pulang ke camp, istri selalu nanya saya mau dibawain makanan apa. Biasanya dia yang nawarkan, apa mau bawa kue, batagor atau kerupuk basah. Kali ini saya pilih yang ketiga. Ada temannya yang jualan kerupuk basah. Waktu pertama kali dengar namanya, saya kira makanan ini seperti kerupuk yang renyah dan kriuk-kriuk dan makannya dicocol ke sambel. Ternyata dugaan saya salah.

Makanan ini terbuat dari campuran tepung dan ikan tengiri. Bentuknya silinder dan enaknya dimakan waktu hangat. Pasangannya kuah sambel kacang pedas yang dituangkan ke potongan kerupuk basah.

Waktu di camp, kerupuk basah saya bikin variasi dengan potongan kentang dan tomat. Kerupuk basah dan kentang direbus, diangkat ke piring dan dipotong-potong. Nggak lupa ditambahi dengan irisan tomat. Setelah itu dituangkan kuah sambal kacangnya. Kalau ada telur rebus dan kol, tampilannya hampir mirip dengan siomay. Rasanya mantaap…

Setelah makan menu kerupuk basah campur kentang dan tomat ini rasa kenyangnya tahan lama. Jadi kalau siang makan dengan menu seperti itu, jam 6-7 malam perut masih terasa kenyang.