Cafe Kozzi, Cafe yang Cocok buat Keluarga

Kesempatan makan bareng keluarga itu datang ketika buka puasa bersama. Nadia yang kuliah di Jogja lagi liburan di Pontianak.. Dua bulan lamanya. Kembali ke kampus awal Agustus.

Nah, waktu itulah kami sempatkan buat acara buka puasa bersama di luar rumah. Pilihan jatuh ke cafe Kozzy yang  beralamat di jalan Reformasi. Jaraknya sekitar 1 km dari rumah. Sebelum bukber, saya dan istri reservasi dulu siangnya. Sekalian pesan menu untuk 6 orang.

Saat kami datang, hidangan sudah tersaji. Ada ta’jil yang lengkap. Setelah sholat maghrib baru kami makan malam. Cafe ini memang cocok buat keluarga. Segmen yang ingin diraih adalah orangtua yang datang bersama anak-anaknya.

Suasananya familiar banget, banyak dihiasi tanaman dan hiasan yang bertuliskan kata-kata motivasi. Juga penataan meja makannya spesial. Sedikit tapi berkelas. beda dengan cafe-cafe buat anak muda yang mejanya lebih banyak dan seragam.

Nggak hanya itu bedanya. Cafe-cafe lain biasanya menyediakan wifi. Di sini justru ada pemberitahuan, cafe ini nggak menyediakan wifi supaya masing-masing anggota keluarga bisa berinteraksi dan ngobrol2. Jadi masing-masing nggak sibuk dengan gawainya. Di cafe ini ada juga larangan merokok supaya tamu-tamu lain tetap dapat udara bersih dan segar. Ada juga tulisan yang mengingatkan kita supaya berdoa dulu sebelum makan. Bukan motret dulu ya 🙂

Menu yang kami pilih saat itu nasi goreng kampung dan sup tom yam. Harganya terjangkau. Total kami makan dan minum berenam 154 ribu. Hanya saja di cafe ini agak kesulitan mendapatkan tempat parkir, khususnya buat yang naik mobil. Belum disediakan halaman khusus untuk parkir sehingga kendaraan roda empat berhenti di tepi jalan di deretan ruko di sebelahnya.

So, bagi teman2  yang akan berkunjung ke Pontianak, cafe ini  bisa jadi salah satu alternatif  buat tempat kuliner.

 

Iklan

Kreativitas dalam Tugas Kelompok

Pesan lewat WA dari Nadia itu cukup menarik buat saya. Diawali dengan pendahuluan yang diteruskan sebuah pertanyaan,”Kesehatan mental, perlu nggak sih?”

Di bawahnya ada tautan video di youtube untuk mengetahui isinya. Terus ada catatan juga setelah melihat video itu supaya berikan komentar dan saran.

Setelah saya klik tautannya, isinya edukasi tentang apa itu kesehatan mental.

Ada beberapa orang dengan latar belakang mahasiswa/mahasiswi, tentara, turis yang diminta pendapatnya tentang kesehatan mental. Kemudian ada seorang coach sekaligus penulis yang menjelaskan apakah kesehatan mental itu.

Melihat video itu membuat saya tertarik. Ternyata sebuah tema edukasi jika disampaikan dalam bentuk visual (video) lebih menarik dan memicu terjadinya interaksi. Ada belasan orang yang berkomentar dan ratusan yang like. Padahal video itu baru diunggah sehari.

Setelah saya lihat video itu, saya chat dengan Nadia di WA. Ternyata dia dan teman-temannya di Psikologi UNY dapat tugas kelompok membuat materi edukasi kesehatan mental.

Di satu angkatan di bagi tiga kelompok. Ada dua kelompok yang membuat materi dalam bentuk video. Nadia termasuk anggota salah satu kelompok yang jumlahnya 13 orang.

Dia juga tampil di video berdurasi 8 menit itu. Yang saya salut dengan mereka itu ya kreativitasnya untuk membuat tugas kelompok dan mengunggahnya di https://youtu.be/FXwaFBR-5VM

Waktu saya tanya,”Gimana dosennya menilai tugas kelompok itu?”

“Dilihat seberapa dampaknya dan keberlanjutannya, Pa. Apakah sudah menjawab permasalahan. Ini nama programnya psikoedukasi hehe..”jawab Nadia

Kreativitas yang perlu dihargai karena menghadirkan program edukasi dengan memanfaatkan teknologi. Lebih mudah dipahami dan jangkauannya luas.

Driver Taksi Online itu Ternyata Tetangga

Setelah mobil Futura saya jual, kalau pergi ke kantor sekarang saya ini lebih sering pakai taksi online. Tarifnya sih kalau dari rumah ke kantor untuk jarak sekitar 6 km 20 ribu pakai gopay.

Pulangnya dari kantor ke rumah malah lebih murah. Cuma 14 ribu saja. Malah pernah waktu order nggak direspon sama drivernya karena posisi mobilnya di seberang sungai Kapuas. Akhir saya order lagi dan pilih gojek. Tarifnya lebih murah, cuma 8 ribu.

Karena saya lebih sering tugas di daerah, sebulan pakai taksi online ya waktu meeting di Pontianak. Hanya dua hari saja. Kalau mau belanja atau ke tempat selain kantor lebih sering pakai motor. Lebih praktis sih karena sekali jalan sering mampir ke beberapa tempat. Ke bank buat cetak buku, ambil tiket bis buat balik ke Pinoh, belanja ke supermarket, kirim dokumen pakai JNE. Nah kalau pakai taksi online kan bolak-balik order tuh dan waktunya kadan-kadang lama di jalan apalagi kalau kejebak macet.

Asyik juga pakai taksi online karena banyak dapat pengalaman tak terduga. Pernah dapat driver, pak Mul namanya, yang ternyata tetangga sekompleks yang baru saja pensiun dini.

Sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor ngobrol terus sampai nggak terasa sudah sampai di depan kantor. Sama juga waktu habis Maghrib saya order untuk antar dari rumah ke terminal, Eh, ternyata yang muncul di aplikasi nama pak Mul lagi. Padahal belum lama dia nawarin saya bonceng motornya sama-sama pergi ke masjid buat sholat Magrib.

Pernah waktu di mobilnya dia nanya, “Di rumah ada motor kok nggak dipakai, Pak?”

“Motor lebih sering dipakai istri, Pak. Kalau saya pakai ke kantor malah banyak parkirnya. Mendingan saya pergi pulang pakai gocar”jawab saya.

“Oo gitu, bagi-bagi rejeki ya, Pak”katanya sambil tertawa.

Pernah juga saya hari berikutnya order buat ke kantor juga dan yang nelpon balik cewek. Padahal di aplikasi profilnya foto cowok. Kaget saya nerimanya, terus dia bilang,”Bapak apa nggak keberatan kalau saya yang ngantar ke tujuan?”tanyanya sopan.

“Ya, gak apa-apa mbak. Daripada saya cancel, terus saya order lagi, waktunya udah mepet. Harus cepat ke kantor”kata saya.

Di dalam mobil, baru dia cerita kalau dia gantikan abangnya yang lagi ke Banjarmasin yang fotonya ada di aplikasi. Dia ternyata masih mahasiswa yang kuliah di Fakultas Hukum.

“Saya biasanya nanya dulu,  Pak, sama yang order. Apa mau diantar kalau drivernya cewek. Kalau dia nggak mau ya nggak apa”jelasnya

“Kalau saya sih gak masalah, mbak. Saya pernah juga kok diantar driver cewek. Yang penting bawanya nyaman dan aman sampai tujuan”

Mengasyikkan memang selama di perjalanan ngobrol sama driver taksi online  yang bermacam-macam latar belakang profesinya. Bisa tambah kenalan, wawasan, juga ngerasakan macam-macam kendaraan.

 

Selamat Tinggal Futuraku Sayang

‘Wah, sayang kita nggak sempat motret mobilnya ya mas sebelum dijual”komentar istri ketika suzuki futura kami dijual.

Kendaraan yang sejak 2003 kami gunakan untuk antar jemput anak ke sekolah, belanja ke mall atau pasar tradisional, silaturahmi ke rumah teman, ke bandara dan rutin saya bawa ke kantor sebulan sekali waktu tugas rapat.

Kendaraan yang cocok buat keluarga besar seperti kami yang berenam dan jarang mogok  di jalan akhirnya berpindah pemiliknya.

Kendaraan yang ukuran kabinnya lebih lebar dari mobil avanza atau xenia sehingga kaki penumpang yang duduk di depan dan baris kedua bisa leluasa selonjor.

Kendaraan second keluaran tahun 1991 yang saya beli setelah survei sama-sama istri sampai datang ke pemiliknya malam-malam waktu cuaca hujan.

Kendaraan yang rutin saya servis di bengkel langganan. Ganti oli mesin, oli transmisi, oli gardan ketika sudah waktunya diisi oli baru.

Ketika futura itu mau dijual, Nadia sempat  bertanya,”Nanti kalau mobilnya dijual, papa naik apa ke kantor?”

“Naik taksi online aja, mbak”jawab saya.

Sementara belum ada mobil pengganti futura, alhamdulillah masih ada dua sepeda motor yang bisa kami pakai. Kalau dua-duanya dipakai sama Aysha dan mamanya, saya ke kantor ya mengalah.

Pakai taksi online berangkat dan pulangnya. Itu pun nggak tiap hari. Hanya dua hari dalam sebulan, waktu hadir rapat bulanan. Jadi nggak terlalu merepotkan. Sekali pakai aplikasi taksi online dari rumah ke kantor ongkosnya 20 ribu. Termasuk waktu saya berangkat dari rumah ke terminal bis untuk kembali ke Nanga Pinoh.

Saat ini episodenya seperti itu disyukuri dulu, sambil tetap ikhtiar untuk mencari sang pengganti.

 

 

 

Film Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi. Refleksi Kisah Nyata Kehidupan Keluarga Kita

Menonton film Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi seperti melihat kenyataan sehari-hari kehidupan keluarga kita.

Seorang geolog bernama Farid, suami Tika dan ayah dua anak yang bekerja sebagai konsultan yang harus menerima kenyataan menganggur.

Terpaksa berhenti dari pekerjaan  dan meninggalkan utang bagi karyawannya karena investor kembali ke negaramya.

Tika yang bekerja di perusahaan fashion di Jakarta dan menyambi jualan busana muslim anak-anak. Tiap hari kerja dia bolak Jakarta Bogor naik KRL.

Dua anak perempuan, Amanda yang punya bakat membuat disain baju muslimah dan Alda yang tertarik dengan ilmu pengetahuan alam.

“Tau nggak kenapa bunda nggak bisa sekolah ke luar negeri?”tanya Tika pada dua anaknya.

“Karena aki melarang bunda sekolah ke luar negeri”jawab Amanda.

“Dan itu tidak akan dialami anak-anak bunda”ungkap Tika sambil menunjuk gambar-gambar sekolah di luar negeri di ruang kerjanya.

Sebuah impian yang gagal diwujudkan Tika karena dilarang sang ayah dan kepada dua anaknya impian itu dia ceritakan.

Impian agar anak-anaknya bisa sekolah di luar negeri, menghadapi kenyataan sang suami menganggur akhirnya mereka berbagi tugas.

Tika fokus usaha baju muslim anak-anak dan suami yang lebih sering mengurus anak-anak.

Tika memulai usaha dengan memesan dua kodi pakaian ke penjahit.

Dia ajak tetangga-tetangganya yang semuanya ibu-ibu untuk menjualkan produk. Penolakan pemilik toko sering sering dialami.

Baju yang sudah terjual pun dikomplain pembeli. Jahitan kurang bagus mudah sobek. Alda, anaknya menunjukkan  baju yang sobek ketiaknya waktu dipakai.

Tika kecewa dengan hasil jahitan temannya. Lalu seorang ibu punya ide gimana kalau bikin baju sendiri, jahit sendiri.

Tika setuju, dia seperti menemukan hikmah produk bajunya sobek. Justru inilah kesempatan mengajak lebih banyak tetangganya bekerja dengannya. Sekaligus memberikan solusi ketika tetangganya di Bojong Gede yang banyak ibu-ibu minta pekerjaan.

Usaha yang makin berkembang, order yang meningkat membuat waktu Tika untuk keluarga semakin sedikit. Makin jarang bermain sama anak-anak. Belajar pun anak-anak didampingi ayahnya.

Ketika muncul masalah, emosi Tika pun meningkat. Suaminya yang belanja kain dan dua jenis kain terjatuh, produk baju Tika satu mobil box dilarikan resellernya, hasil raport anak-anak jeblok, kemarahan Tika pada suami dan anak-anaknya tak tertahankan lagi.

Farid saat di rumah menegur Tika agar nggak bikin malu keluarga waktu memarahi anak-anaknya di sekolah.

Tika nggak terima dan balik menyalahkan suaminya yang sering mengajari anak-anaknya belajar.

Emosi Farid mencapai titik puncak ketika Tika menyinggung status dirinya yang menganggur dan minta supaya bekerja seperti ibu-ibu lain yang suaminya bekerja.

Harga diri Farid jatuh.

Tawaran temannya untuk bekerja yang pernah dia tolak karena ingin mengurus keluarga akhirnya dia terima. Dia bekerja di tempat yang mengharuskan dia berpisah dengan keluarganya. Amanda dan Alda yang dekat dengan sosok ayahnya merasa kehilangan.

Saat berangkat sekolah naik KRL ditemani Tika, mereka kabur dan mencari ayahnya. Tika terpukul hatinya ketika menerima telpon dari Farid bahwa anak-anaknya sudah di tempat kerja suamimya dan nggak mau diajak pulang.

Tika pulang ke rumah dan ingin berhenti dari bisnisnya. Tapi ucapan Encus, sang pengasuh anak-anaknya membangkitkan lagi semangatnya.

“Kalau ibu berhenti, gimana ibu-ibu dan keluarganya di sini yang bekerja ikut ibu?”

Tika tersadar, ada harapan yang masih tergantung di pundaknya. Juga agenda Fashion show busana muslim anak-anak yang harus dia ikuti.

Farid pun mengajak anak-anaknya pulang ke rumah. Menemui sang bunda yang menangis di kolong ranjang. Memandang hasil karya Amanda yang mengungkapkan ekspresinya saat dimarahi sang bunda.

D kolong ranjang itulah Tika sambil berlinang air mata menyesal. Minta maaf sama anak-anak dan suaminya. Sebuah kata yang tak pernah terucap dari Tika sebelumnya.

Akhirnya, dari rumah bergegas mereka berempat  ke tempat fashion show naik KRL. Mendukung sepenuhmya kegiatan sang bunda.

Film ini hasil adaptasi novel Cinta 2 Kodi karya Asma Nadia. Saya terlebih dulu baca novelnya, baru nonton filmnya.

Memang nggak mudah mengadaptasikan sebuah cerita novel ke film. Adegan saat Tika berkenalan dengan Farid di kereta mewakili mereka merintis keluarga. Yang di novel diceritakan mereka sudah berkenalan sejak kuliah di Bandung.

Juga sosok ibunda dari Tika yang berperan besar membesarkan hati anaknya agar nggak iri dengan saudara laki-lakinya yang diberikan kesempatan ayah Tika sekolah ke luar negeri.

Namun, secara keseluruhan, isi film ini terasa mewakili suara hati seorang suami, anak-anak dan istri.

Siapkan Sarapan dan Bekal Makan Siang buat Anak Sekolah

Setelah pemerintah menetapkan lima hari sekolah dari  Senin sampai Jumat, kami pun di rumah harus menyesuaikan  diri. 

Biasanya istri pagi-pagi masak buat sarapan saja  buat anak-anak yang mau berangkat  sekolah.  

Tapi setelah tiga anak sekolah dari pagi sampai sore,  ada tambahan tugas. Siapkan bekal buat makan siang mereka. 

Menunya kurang  lebih sama dengan menu sarapan. Ada nasi,  sayur dan ikan atau telur. Menu yang ada kandungan  karbohidrat, protein dan vitaminnya. 

Biasanya sih waktu anak-anak pulang sekolahnya siang dari Senin sampai Sabtu, makannya di rumah.  Jadi nggak perlu bawa bekal buat makan siang di sekolah. 

Waktu  awal-awal lima hari sekolah,  anak-anak dibekali uang buat makan siang. Setelah dihitung-hitung,  cukup besar juga biayanya untuk tiga anak. 

Pernah juga anak-anak makan siang  pakai catering di sekolah, tapi menunya kurang bervariasi. Akhirnya nggak diteruskan.  Yang sekarang dipilih malah bawa bekal  dari rumah. Apalagi anak-anak cocok dengan  masakan  ibunya. 

Seperti menu yang di foto itu. Nasi hangat, tumis kacang  panjang plus ikan asin. Memu  yang  nggak cuma anak-anak yang suka,  termasuk  saya juga 

Suzuki Futura yang Masih Eksis dan Bermanfaat

Tak terasa 14 tahun sudah Suzuki Futura itu menemani saya dan keluarga saat bepergian. Saat ini mungkin agak susah menemukan mobil seperti itu di jalan. Mobil generasi 90-an yang saat itu banyak digunakan oleh keluarga maupun untuk angkutan kota. Keberadaannya sekarang sudah tergantikan dengan avanza dan xenia.

Berawal dari keinginan kami untuk punya mobil keluarga. Setelah survei dan cari mobil yang sesuai isi kocek, akhirnya pilihan jatuh ke Suzuki Futura tahun 1991. Kami beli saat itu dengan harga 34 juta.

Selama kami gunakan, mobil itu lancar-lancar saja. Jarang bahkan hampir nggak pernah mogok di jalan. Yang pernah kami alami bannya kempes atau bocor. Pernah juga terpikir menjual mobil itu. Sempat hubungi teman yang bisa bantu jualkan.

Setelah saya foto beberapa bagian, ada pembeli yang ingin lihat mobil itu. Tapi nggak cocok karena melihat bodinya yang saat itu di beberapa bagian retak. Jual mobil pun batal.

Akhirnya mobil saya bawa ke bengkel. Diketok dan cat ulang. Setelah lihat bodinya yang mulus, sayang kalau dijual. Sampai sekarang mobil itu tetap kami pakai. Memang dibanding avanza dan xenia, bodinya lebih panjang. Ruang di baris kedua juga lebih lebar, jadi kaki bisa selonjor. Suaranya pun masih halus.

Saya juga perhatikan jadwal penggantian oli di kartu perawatannya. Tanggal berapa harus ganti oli mesin, oli persneling, ilo gardan dan filter oli. Air radiator sebelum mesin dinyalakan juga saya cek. Kalau kurang saya tambah dan sering saya ganti baru kalau warnanya sudah keruh.

Saat mengendarai di jalan yang sepi, saya pernah coba persneling 5 dan masih oke. Cuma kalau pas jalan sama istri, dia sering khawatir kalau saya bawa mobil dan pakai gigi 5. “Hati-hati, mas, mobilnya sudah tua”katanya. Akhirnya saya turunkan kecepatan dan pindah ke gigi 4. 🙂

Ya, betul juga, harus ingat dengan kondisi mobil yang sudah  usianya 20 tahun lebih. Perlu hati-hati dan jangan emosi waktu mengendarai.