3 Tips yang Harus Disiapkan Saat Presentasi Rapat

Setiap bulan saya ditugaskan  mempresentasikan bahan rapat di kantor cabang. Peserta yang hadir dari camp-camp lain, pimpinan bagian di kantor cabang dan utusan dari kantor pusat.

Supaya presentasi berjalan lancar, tentunya materinya harus disiapkan  sebaik-baiknya. Nah, di postingan kali ini, saya akan berbagi tips bagaimana menyiapkan materi presentasi bahan rapat. karena bisa jadi teman – teman juga pernah diminta presentasi. Ada 3 tips yang saya biasa lakukan;

  1. Mengumpulkan bahan rapat.                                                                              Bahan rapat saya terima dari beberapa bagian. Pada awal bulan sekitar tanggal 1 saya sudah mengumpulkan data progres kegiatan. Misalnya berapa produksi kayu bulan sebelumnya, berapa totalnya sampai bulan berjalan. Apa saja unit kendaraan yang rusak, berapa lama rusaknya dan sudah sejauh mana pemenuhan spare partnya. Data-data itu sudah dibuat oleh bagian-bagian terkait dan saya rangkum dalam power point. Jika ada yang mendekati deadline belum menyerahkan datanya, saya tanyakan.
  2. Menginput ke Power Point.                                                                                   Pada saat menggunakan power point, saya memilih latar belakang warna putih dengan tulisan warna gelap. Agar mudah dibaca oleh peserta rapat. Selain itu juga saya hindari menampilkan tulisan yang kecil-kecil dan rapat.
  3. Konsultasi dengan Pimpinan.                                                                              Nah, setelah materi power point selesai saya print out dan konsultasi ke pimpinan camp. Ada beberapa tambahan atau koreksi yang biasanya saya terima saat konsultasi. Jika ada yang belum lengkap, saya perbaiki lagi. Konsultasi ini penting karena kita akan mendapatkan pemikiran yang selaras saat menyampaikannya di ruang rapat.

Nah, itu 3 tips yang biasa saya lakukan sebelum hadir di rapat bulanan dan mempresentasikan bahan rapat. Gimana dengan teman-teman? Ada yang ingin menambahkan?

 

Iklan

Buka Puasa Bersama di Masjid Al Adh ha Base Camp 35

Tahun lalu, sewaktu buka puasa biasanya saya memilih di mess. Cukup dengan air putih dan cemilan kue. Setelah itu sholat Maghrib baru makan malam di ruang makan kantor. Selesai istirahat sebentar di rumah terus ke masjid untuk sholat Isya berjamaah dan tarawih.

Tahun ini, karena ingin merasakan buka puasa bareng teman-teman, saya pilih buka puasa bareng di masjid. 15 menit sebelum waktu Maghrib, saya berangkat dari mess. Kalau jalan kaki perlu waktu sekitar 8 menit menuruni tangga  dan jalan yang menurun.

Buka puasa bareng di masjid memang beda suasananya. Nggak cuma orangtua, anak-anak pun sebagian juga ikut. Lebih terasa persaudaraannya, hidangannya pun lebih bervariasi. Ada kue-kue, bakwan, kurma. Minumnya teh manis, air putih atau cendol. Yang menyediakan keluarga karyawan.

Selesai buka puasa bersama dilanjutkan sholat Maghrib berjamaah. Nah, ini yang nggak saya dapatkan kalau buka puasa di mess. Sholat Maghribnya sendirian. Kalo di masjid, habis sholat menunggu waktu Isya biasanya diisi baca Quran atau lihat-lihat update di WA dan FB.

Sekali buka puasa bareng di masjid, hari-hari berikutnya jadi pengin ke sana lagi.

 

Ramadhan di Base Camp

Alhamdulillah, tahun ini Allah SWT pertemukan lagi dengan bulan Ramadhan 1439 H. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di camp hari pertama Ramadhan diisi dengan buka puasa bersama di masjid Al Adh ha.

Karyawan dan keluarganya yang ada di camp 35 datang untuk buka puasa berasama, sholat Maghrib dan Isya berjamaah. Dananya dari karyawan yang tiap bulan jadi donatur kas masjid. Sebagian dana itu digunakan untuk menyiapkan menu buka puasa.

Ada es buah, makanan ringan dan lontong sayur. Stok makanan ringan juga banyak karena ada ibu-ibu yang bikin kue atau gorengan untuk buka puasa. Sampai ada teman yang bilang kalau ingin nikmati macam-macam kue atau cemilan lainnya selama bulan Ramadhan, datang saja ke Masjid.

Sampai selesai qiroah atau membaca Al Quran, ternyata kue-kue dan gorengan masih tersedia. Akhirnya cemilan itu dibagikan ke jamaah untuk dibawa pulang.

Selain itu, dana kas masjid juga untuk mendatangkan ustadz dari Pontianak. Ada dua orang ustadz yang diundang untuk menjadi imam sholat tarawih, sholat fardhu di camp 35 dan camp-camp lain secara bergiliran. Juga berbagi ilmu pada saat selepas sholat Isya dan sholat Subuh.

Semoga membawa keberkahan.

 

 

 

Hari Libur tapi Padat Kegiatan

Menjelang hari libur bukan berarti kegiatan berkurang. Pekerjaan rutin di kantor memang libur, tapi undangan dari teman-teman kerja nggak bisa dicuekin.

Seperti malam menjelang libur tanggal 1 Mei lalu. Selesai sholat maghrib pengurus masjid di tempat kerja mengadakan baca surat Yaasin 3x dan baca doa Nisfu Sya’ban karena dua minggu lagi umat Islam akan berpuasa Ramadhan.

Setelah itu ada undangan dari karyawan yang anaknya akan menempuh Ujian Nasional tanggal 3-5 Mei 2018. Di acara di rumahnya selesai sholat Isya itu juga dibacakan surat Yaasiin dan doa-doa bagi keluarganya oleh para jamaah masjid.

Selain dua acara itu, ada juga undangan dari pengurus Serikat Pekerja yang disampaikan lewat WA. Akan diadakan olahraga bulutangkis pas hari libur tanggal 1 Mei mulai jam 7 pagi. Biasanya kami olahraga setelah pulang kantor jam empat sore.

Karena tanggal 1 hari libur nasional, jadwal olahraganya dimajukan di pagi har. Ada sekitar 30-an orang yang ikut. Lumayan, bisa main sampai 3 kali. Sekali main 2 game. Benar-benar puas mainnya. Tapi ya itu, habis main 6 game, badan rasanya capai banget. 🙂

Ya gimana nggak capai. Biasanya kalau main sore hari paling banyak 3 set kalau pas rubber game. Setelah itu istirahat dan pulang. Ini karena hari libur, waktunya panjang ketagihan sampai 6 game.

Pulang ke mess, mandi, sholat, makan siang, telepon keluarga, setelah itu saya jam 2 siang tidur. Bangun-bangun sudah jam 5 sore. Lumayan, badan terasa agak segar. Nggak terasa tidur siang sampai 3 jam. Mungkin badan perlu pemulihan agak lama supaya segar kembali.

Memang jadi pengalaman sih, nggak bisa diforsir kalau berolahraga. Apalagi usia sudah kepala empat.

Undangan Ulang Tahun Pernikahan dari Rekan Kerja

“Habis Isya nanti ada undangan pak Fadly, pak”kata Zulkifli, salah satu jamaah masjid Al Ad ha ketika kami baru saja selesai sholat Maghrib.

Sambil menunggu datangnya waktu Isya, kami tetap berada di masjid. Mendampingi anak-anak yang belajar mengaji mulai tingkatan iqro sampai Al Quran.

Ketika akan  sholat Isya, Zulkifli yang akrab dipanggil Ikip dan bertugas jadi imam sholat mengumumkan ke jamaah undangan untuk baca surat Yaasiin tersebut.

Selesai sholat Isya, kami menuju ke mess Pak Fadly. Ada yang berjalan kaki, ada juga yang naik motor. Sesampainya di depan mess, pak Junaidi salah seorang jamaah menyampaikan pesan bahwa malam ini pak Fadly mengundang jamaah dan mohon didoakan di usia tiga tahun pernikahannya. Juga sekaligus mendoakan kakek-neneknya yang telah meninggal dunia.

Alhamdulillah, pembacaan surat Yaasiin dan pembacaan doa berjalan lancar. Tak lupa hidangan soto ayam juga disediakan tuan rumah untuk anak-anak dan bapak-bapak yang hadir.

Terima kasih ya pak Fadly dan nyonya. Semoga Allah SWT ijabah doa-doa kita dan harapan bapak sekeluarga.

Ketika di Base Camp Suasananya Terasa Seperti di Kota

Sekarang ini tinggal dan kerja di camp suasananya sudah seperti di kota. Apalagi setelah jalan dari Nanga Pinoh ke logpond Popai mulai diperbaik dan diaspal. Pedagang sayur pun seminggu 3-4 kali datang ke camp naik motor dari Nanga Pinoh sampai ke base camp. Dua jam perjalanannya

Biasanya pas istirahat kantor jam 11 siang mereka sudah sampai di depan mess. Menunggu karyawan atau keluarganya yang mau belanja. Setelah itu, mereka pindah  ke mess anak-anak sekolah. Sebelum pulang mereka singgah dulu di desa-desa yang berada di antara base camp dan logpond Popai.

Di perusahaan juga ada Koperasi Karyawan yang menyediakan sayur mayur dan kebutuhan lainnya untuk dapur camp. Juga ada ibu-ibu dari desa yang menjual hasil kebunnya ke karyawan atau keluarganya.

Keberadaan perusahaan menjadi magnet sekaligus pasar yang mengundang banyak pihak untuk berjualan. Pedagang sayur – mayur, pedagang bibit ikan, pedagang es krim semuanya mendapat manfaat.

Tak hanya itu, beberapa karyawan juga membuka usaha. Ada yang jualan sembako, mie ayam, empek-empek juga voucher pulsa hp.  Tukang cukur rambut pun ada.

Yang jualan empek-empek dan mie ayam promosinya lewat grup WA. Pembeli pesan dulu berapa porsi dan minta diantar di mess mana jam berapa. Yang jualan akan mengantar makanannya sesuai pesanan. Tapi kalau mau makan di tempat juga boleh.

Bisa jadi suatu saat nanti akan ada yang jualan sate ayam, bakso atau soto. Dan ini pertanda yang baik. Usaha-usaha kecil rumah tangga satu persatu akan bermunculan. Menyediakan keperluan buat karyawan dan keluarganya yang kangen dengan menu makanan di kota. Perputaran uang pun tak terelakkan. Ada penjual, ada pembeli dan terjadi transaksi. Dan sektor riil pun bergerak.

Berangkat Pagi dari Jogja, Malamnya Sampai di Camp

Beberapa hari yang lalu, saya melayani tamu-tamu yang datang dari Jogja. Seorang doktor kehutanan lulusan jepang, dua mahasiswi lulusan kehutanan UGM dan satu mahasiswi lulusan pasca sarjana UGM.

Yang dua mahasiswi datang untuk pengambilan data riset tanaman meranti. Dosennya sebagai supervisor dan mahasiswi yang satu lagi datang untuk melihat kondisi hutan alam di Kalimantan.

Berangkat dari rumah pagi subuh karena harus naik pesawat dari Jogja ke Pontianak sekitar jam 6 dan connect flight dari Pontianak ke Sintang. Pesawat dari Jogja ke Pontianak sesuai jadwal tapi penerbangan lanjutan ke Sintang tertunda. Seharusnya pesawat berangkat dari Pontianak jam 11.20 tapi delay satu jam.

Di bandara Susilo Sintang, tamu dijemput pak Agus Warjito, teman yang biasa melayani antar jemput tamu. Setelah itu melanjutkan perjalanan menggunakan mobilnya dari Sintang ke Nanga Pinoh sekitar dua jam.

Biasanya waktu tempuh normal sekitar 1,5 jam, tapi karena kondisi jalan di dekat kota Pinoh rusak parah, waktu tempuhnya lebih lama. Tiba di Pinoh istirahat dan makan siang. Selesai makan siang lanjutkan perjalanan dari Pinoh ke camp sekitar 1,5 jam. Tiba di Logpond sekitar jam 6 sore.

Setelah ganti kendaraan menggunakan mobil dari camp, perjalanan dilanjutkan ke base camp km 35. Akhirnya sekitar jam 19.30 mereka tiba di base camp. Saat tamu-tamu saya temani makan, saya sambil gurau bilang”Wah, tadi makan paginya di bandara, makan malamnya sekarang di hutan”.

Saat ini di Sintang sedang dibangun bandara baru di daerah Sei Tebelian. Tak seperti bandara Susilo yang hanya bisa didarati pesawat berbaling-baling kapasitas 60-72 penumpang, di bandara sei Tebelian  pesawat bermesin jet bisa mendarat. Infonya akan ada penerbangan langsung dari bandara tersebut ke kota-kota besar di Jawa sehingga tidak harus transit lagi di Pontianak.

Kalau seperti itu, nantinya makan paginya di bandara Jogja siangnya sudah bisa sampai di camp. Memangkas waktu dan jarak karena tidak harus lewat Pontianak dan Sintang lagi.