Terharu Ketika Menghadiri Pelepasan Siswa-siswi kelas 6 SDS Sari Lestari

Tiada kata terlambat untuk belajar”

Itulah tema yang dipilih ketika pelepasan siswa-siswi kelas 6 SDS Sari Lestari yang diadakan tanggal 20 Mei lalu dan bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional.

Setiap tahun acara tersebut diadakan pihak sekolah dengan mengundang para orangtua siswa kelas 6 dan beberapa perwakilan bagian. Saya termasuk salah satu yang diundang dan sekaligus diminta memberikan sambutan mewakili pimpinan peruahaan.

Pada tahun 2017, ada 15 siswa-siswi SDS Sari Lestari yang menamatkan pendidikan di sekolah yang telah berdiri sejak tahun 1999. Setelah itu, mereka akan melanjutkan sekolah ke Nanga Pinoh, Sintang atau kota-kota lainnya tempat asal orangtuanya.

Suasana pelepasan siswa juga diisi dengan penampilan murid-murid TK dan siswa-siswi kelas 1 s/d kelas 5. Ada yang menampilkan tarian dengan diiringi lagu-lagu daerah, tarian modern dengan iringan musik pop, vocal grup yang menyanyikan lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dan ucapan terima kasih dari perwakilan kelas 6 dan orangtua siswa.

Setelah acara gerak dan lagu selesai, anak-anak kelas 6 diminta berdiri di panggung di depan masing-masing orangtuanya. Saat itulah banyak siswa dan orangtuanya yang terisak-isak ketika satu per satu guru dan karyawan menyalami mereka. Raut muka sedih tampak ketika mereka harus berpisah dengan guru-guru yang telah mendidik mulai dari TK sampai SD.

Setelah orangtua dan siswa-siswa turun dari panggung, acara berikutnya adalah ramah tamah. Acara tersebut diisi oleh kepala sekolah, Bapak Heri Kiswanto, S.Pd yang menyanyikan lagu campursari. Suaranya merdu, selaras dengan musik yang mengiringinya.

Giliran berikutnya saya tampil menyanyikan lagu yang sebelumnya dipesan oleh salah satu orangtua murid.

“Nanti waktu perpisahaan, request lagu Kemesraan, Pak”kata seorang bapak orangtua murid di kantor sehari sebelum acara.

Suasana haru saat perpisahaan kian terasa ketika secara spontan saya menyanyikan lagu tersebut yang dipopulerkan oleh Iwan Fals dan beberapa penyanyi lainnya. Beberapa siswa kelas 6 yang kembali berada di panggung melambaikan tangannya ke arah hadirin dan menangis.

Sebuah acara yang sederhana, diadakan di halaman SD, namun begitu membawa kesan yang mendalam bagi semuanya.

 

 

Produk Tersedia Saat Ada yang Memerlukannya

Hari libur kemarin (1/5), saya mengandangkan dua ekor ayam kampung. Ada pesanan satu ekor dari teman kerja yang disampaikan lewat tetangga.  Saya tangkap dua ekor ayam betina generasi kedua, supaya bisa dipilih mana yang disukai.

Semuanya ada empat ekor ayam yang masuk generasi kedua ini. Tiga betina dan satu jantan. Tapi yang betina satunya lagi agak liar dan nggak mudah ditangkap. Satunya lagi yang ayam jago saya biarkan karena jumlahnya lebih sedikit daripada yang betina.

Setelah ditimbang, diketahui beratnya 1,6 kg. Harga ayam kampung utuh di camp 75 ribu per kg, jadi totalnya 120 ribu. Pagi tadi uang pembelian itu dititipkan tetangga ke saya. Alhamdulillah, terus saya terima dan saya serahkan lagi yang 20 ribu buat mas Mul, tetangga yang bantu menimbang ayam dan menyerahkannya ke pembeli.

Rasanya bahagia bisa membantu teman. Membantu menyediakan produk berupa ayam kampung yang dibutuhkan. Nggak perlu cari jauh-jauh ke camp lain, ke kampung atau pesan di Nanga Pinoh yang semuanya itu perlu waktu, biaya tambahan dan kendaraan.

Berjuang Padamkan Api di Pagi Hari

“Ada kebakaran, Pak”teriak abah Alwi kemarin ketika saya memasuki halaman masjid untuk sholat subuh berjamaah. Saya lihat teman-teman kerja yang sudah duluan sampai mesjid berdiri di selasar dan memandang ke arah dapur bengkel.

Pada jarak sekitar 200 meter dan sebagian tertutup pepohonan, saya lihat ada api dan asap tebal yang membumbung tinggi. Listrik di masjid dan sekitarnya padam. Beberapa ibu dan anak-anaknya sambil membawa tas, buku, berjalan mendekati masjid. Mereka khawatir dengan api yang membesar dan mengungsi ke masjid, padahal jaraknya masih jauh.

Spontan abah Alwi mengingatkan kami agar sholat subuh dulu. Selesai sholat dan berdoa, kami berempatbergegas berjalan kaki ke arah bengkel lewat bagian belakang. Menyeberangi jembatan dan semakin jelas api terlihat sudah merambat sampai atap di atas ruang kepala bengkel.

Sampai di depan bengkel, beberapa unit kendaraan seperti truk trailler dan mobil transport dobel gardan sudah dipindahkan ke tempat yang aman. Unit yang sedang rusak didorong ramai-ramai oleh karyawan dan ditarik ke luar bengkel.

Saya lihat eksavator sibuk merobohkan tiang-tiang di depan ruang mesin bubut dan atapnya, untuk memutus api agar tidak merambat sampai ke ruang genset dan tangki-tangki BBM. Dalam kondisi pagi yang masih gelap, beberapa karyawan bergotong royong memadamkan api dengan menyemprot menggunakan selang dan tabung pemadam kebakaran.

Karyawan lainnya juga membawa ember dan secara estafet ember berisi air itu dituangkan ke dalam keranjang eksavator. Setelah terisi hampir penuh, airnya ditumpahkan ke api yang ada di permukaan tanah. Upaya memadamkan api juga dilakukan eksavator dengan menggali tanah dan menumpahkannya ke api yang membakar tumpukan kayu di permukaan tanah.

Namun api tidak mudah dipadamkan karena yang terbakar bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu,  juga beberapa ban yang berada di tempat penambalan ban.

Setelah berjuang keras sekitar dua jam, api akhirnya berhasil dipadamkan. Bangunan dapur bengkel, tempat penambalan ban dan ruang kerja kepala bengkel rata dengan tanah. Beruntung ruangan mesin bubut masih bisa diselamatkan.

Pagi itu, meski terjadi kebakaran, kami masih masuk kerja. Teman-teman di bengkel berusaha bekerja keras memperbaiki jaringan listrik yang terbakar. Setelah kabel-kabelnya yang terbakar diganti, akhirnya sekitar jam 3 sore listrik menyala kembali.

Ilmu itu Dikejar, Bukan Ditunggu

“Yang namanya ilmu itu harus dicari, dikejar dan bukan ditunggu. Bapak  dan ibu yang hadir di majelis ini niatkan untuk mencari ilmu dan silaturahmi karena Allah SWT. Apalagi yang mengisi taushiyah nanti pak Ustadz Ahmad Naufal yang jauh-jauh datang dari Pontianak. Inshaa Allah membawa berkah.” Demikian kata wakil perusahaan saat memberikan sambutan peringatan Isra Mi’raj di camp Minggu malam (23/4) lalu.

Pak ustadz menjelaskan manfaat dan keutamaan sholat khususnya sholat berjamaah di masjid khususnya bagi bapak-bapak. Manfaat dari sisi fsik yang dapat menyehatkan badan, karena tiap hari rutin jalan kaki dari mess ke masjid pergi pulang. Menurut ilmu kesehatan, jalan kaki adalah jenis aktivitas yang baik bagi kesehatan bila dilakukan secara rutin.

Tak hanya itu, dari sisi spiritual setiap langkah kaki kanan kita dari rumah ke masjid bernilai pahala dan langkah kaki kiri kita akan menghapuskan dosa-dosa. Apalagi bila kita datang ke masjid di awal waktu, melaksanakan sholat tahiyatul masjid ditambah sholat sunah qobliyah.

Bagi karyawan yang karena kesibukannya sehingaa jarang bertemu, sholat berjamaah juga menjadi wadah untuk bersilaturahmi dan terbukanya pintu-pintu kebaikan. Jika selama jam kerja, karyawan berkomunikasi lebih sering menggunakan aiphone dan handphone, sholat berjamaah membuka peluang untuk bertemu, bertutur sapa, menanyakan kabar keluarga dan teman kerja.

Memang saat ini ada media online dan internet yang bisa membantu kita mencari ilmu yang kita perlukan. Kita bisa belajar setiap saat tanpa kendala jarak dan waktu, sepanjang di tempat tersebut ada sinyal internet. Namun demikian, datang dan tatap muka langsung juga penting karena nuansa dan rasanya berbeda.

Acara yang diadakan pengurus masjid Al Adh ha bekerjasama dengan ibu-ibu majelis taklim  dan guru-guru SDS Sari Lestari itu berjalan lancar dan dihadiri sekitar 150 jamaah. Karyawan dan keluarganya terlihat memenuhi bagian dan selasar masjid. Acara yang dirancang sekaligus dengan wisuda TPQ santriwan dan santriwati TK dan SD Sari Lestari.

Yang saya syukuri adalah adanya progres setelah acara tersebut. Dampak setelah menerima ilmu tentang keutamaan sholat berjamaah di masjid.

Setelah hadir di acara tersebut, besoknya terlihat anak-anak dan bapak-bapak yang sholat berjamaah meningkat. Khususnya saat Maghrib dan Isya. Untuk waktu subuh dan dhuhur masih belum sebanyak kedua waktu sholat yang lainnya, sementara saat ashar yang masih belum istiqomah.

Semoga Allah SWT menjaga langkah dan niat kita untuk senantiasa berada di jalanNya. Terutama niat dan langkah untuk sholat berjamaah di masjid. Aamiin

 

Jual Ayam Kampung buat Pulang Kampung

Teman-teman kerja di camp sebagian asalnya dari luar Kalimantan. Jadi kalau mau pulang kampung kebanyakan naik pesawat. Rutenya bisa dari camp ke Pontianak dulu, setelah itu terbang ke Jakarta, Surabaya, Jogja, Solo, Bengkulu atau Padang.

Ada juga yang pulang lewat Palangkaraya. Perjalanannya lebih menantang. Lewat darat, sungai dan udara. Dari camp naik kendaraan ke ibukota kecamatan Bukit Raya. Setelah itu naik perahu klotok ke ibukota Kecamatan Katingan Hulu di Senamang. Lanjut lagi naik klotok yang lebih besar sampai Tumbang Hiran. Nah, dari tempat ini ada mobil taksi  menuju Kasongan dan Palangkaraya. Biasa berangkat jam 5 pagi sampai Palangkaraya jam 7 malam. 14 jam perjalanan, padahal  perjalanan dari Tumbang Senamang sampai Palangkaraya masih dalam satu propinsi, lho

Untuk ongkos pulang kampung mereka biasanya nunggu gajian. Karena akhir-akhir ini gajian sering telat, sebagian berpikir alternatif. Daripada nunggu gajian yang belum pasti, mendingan jual aset yang dimiliki. Termasuk seorang kawan yang punya ayam kampung belasan. Dia jual sepasang ayam kampung. Induk dan jagonya dibeli kepala tukang seharga 500 ribu.

Nah, waktu dia ditanya temannya pulang naik apa, dia bilang naik ayam air”katanya sambil guyon.

Temannya heran,”Ayam air? Apa ada maskapai baru?”

“Nggak, kemarin tuh ayamnya saya jual buat beli tiket pesawat buat pulang kampung “jelasnya

🙂

Supir Taksi yang Cepat Bereaksi

Kalau pergi antar jemput ke bandara, saya dan keluarga punya langganan taksi. Nama supirnya pak Aban. Waktu Nadia pulang ke Pontianak untuk liburan setelah ujian akhir semester, pak Aban masih sempat antar istri dan Aysha menjemput Nadia di bandara Supadio. Tapi ketika Nadia balik ke Jogja pas Imlek, dia nggak bisa antar karena ada acara ke luar kota.

Mau nggak mau saya harus pakai taksi lain. Setelah googling, saya lihat website sebuah perusahaan taksi lengkap dengan tarifnya. Sekilas cukup profesional dan informatif. Saya coba hubungi nomor kontaknya. Saya pesan untuk tanggal 28 Januari, jemput ke rumah dan antar ke bandara jam 05.30.

Dia bilang supaya saya tunggu 1 jam kemudian untuk kepastiannya. Mungkin dia lagi atur kendaraan dan supirnya untuk antar kami sekeluarga. Cuma setelah sejam lebih dia nggak kasih kabar, tidak telpon atau kirim pesan via BBM. Saya pun nggak nanya lagi karena nampaknya dia tidak benar-benar menanggapi pesanan saya.

Setelah itu, saya googling lagi dan coba-coba klik Meniko Taxi. Namanya kelihatannya berbau Jawa, Meniko, yang artinya yang itu dalam bahasa Jawa halus. Kontak personnya namanya mas Eko. Saya hubungi via Black Berry Messenger, pesan taksi untuk tanggal 28 Januari dan langsung direspon saat itu juga. Bisa. Beda sekali dengan respon perusahaan taksi yang pertama.

Satu hari kemudian saya konfirmasi lagi dan pesan via WA kalau besok jadi ke bandara. Padahal waktu itu sudah hampir jam 11 malam. Saat itu juga langsung dibalas dan dia bilang sudah atur kendaraan untuk antar saya ke bandara. Waktu saya tanya berapa ongkosnya, dia bilang 100 ribu. Nah, kalau responnya cepat begini kan penumpang senang juga. Nggak disuruh nunggu dan berharap tanpa ada kepastian.

Besoknya saya kaget, karena jam 05.15, taksi avanza sudah ada di depan rumah. Rupanya mas Eko sudah minta ke temannya yang namanya mas Budi untuk layani kami ke bandara. Benar-benar serius melayani penumpang. Karena kalau kendaraan sudah datang, kami nggak perlu lama menunggu. Minimal sudah mengurangi kecemasan kami 🙂 . Kami juga nggak bertanya-tanya, kok belum datang ya mobilnya?

Setelah pesawat yang ditumpangi Nadia terbang, kami masih di bandara. Menunggu jamaah yang mau berangkat umroh. Sekalian saja tunggu di bandara daripada pulang terus balik lagi ke bandara. Sebelumnya saya sudah pesan mobil ke mas Eko dan dia siap untuk jemput kami di bandara dan antar lagi ke rumah.

Sekitar jam 10, setelah dua orang jamaah masuk ruang check in, kami pun pulang. Mas Eko jam 9 pagi sudah siap di parkiran bandara sesuai jam yang saya pesan. Saya pun WA dia dan sudah siap pulang. Langsung dia meluncur dari tempat parkir ke depan ruang keberangkatan.

Sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah, kami nggak ngobrol ngalor ngidul. Ternyata mas Eko orangnya masih muda, enerjik dan penampilannya rapi. Dia sebelumnya kerja di perusahaan HTI dan resign, kemudian mencoba berwirausaha melayani antar jemput penumpang menggunakan mobil dia dan mobil teman-temannya.

“Sebelum resign dan usaha taksi ini, saya sudah merintis jaringan dulu Pak”ungkapnya.

“Mobilnya yang ditaksikan punya berapa, Mas?”tanya saya

“Saya punya satu pak, yang ini”jawabnya.

“Lho, saya kira punya dua atau tiga mobil”kata saya dengan nada agak heran.

“Saya ajak teman-teman supir yang biasa mangkal di hotel dan mereka mau, Pak. Kalau dapat order dari saya ya tarifnya ikut saya, kalau ordernya dari hotel sesuai tarif hotel.

“Oo, begitu ngaturnya ya, Mas”

Boleh juga tuh kreatifitasnya dalam mengelola mobil yang ditaksikan. Sama-sama diuntungkan. Mas Eko untung, temannya untung dan penumpang termasuk saya juga puas dengan pelayanannya yang cepat, tepat waktu dan sopan.

 

Tugas Dadakan, Siang ke Lapangan Malam Bikin Laporan

Benar sih, yang namanya kerja itu harus pakai rencana. Apa yang mau dikerjakan, kapan mau dilaksanakan, semuanya ada rencananya. Tapi terkadang ada juga kerja dadakan. Seperti yang saya alami empat hari lalu.

Ceritanya, siang jam 10.10 saya dan teman kerja dipanggil bos ke ruangannya. Setelah dijelaskan, jam 13.00 langsung meluncur ke lapangan. Setelah koordinasi sama kepala logpond, liat-liat lokasi juga ambil fotonya. Jam 15.30 balik lagi dari logpond ke kantor. Sampai kantor sekitar jam 16.30 dan menghadap bos sampai jam 17.45. Bos pesan supaya malam itu juga dibikin laporan dan emailkan ke kantor Pontianak dan kantor Jakarta.

Istirahat sebentar, sholat maghrib dan makan malam, habis Isya lanjut buat laporannya. Untungnya saya terbiasa ngeblog, jadi nggak susah bikin laporan singkat hasil survei dilengkapi foto-fotonya… Setelah jadi, langsung emailkan dan alhamdulillah pesan terkirim. Untung diemailkan malam itu juga, karena besoknya laporan itu langsung dipelajari bos di Pontianak dan jadi informasi awal buat teman kerja di Pontianak yang mau ke camp…Ploong rasanya bisa selesaikan tugas dan laporkan hasil surveinya dengan lancar…