3 Jurus Agar Kita Konsisten

Konsisten adalah salah satu kunci meraih kesuksesan. Sukses dalam bekerja, berbisnis ataupun belajar. Seperti saya menulis di blog ini sejak tahun 2012 dan berusaha konsisten ngeblog sampai sekarang. Jangan sampai berhenti nggak menulis lagi.

Memanfaatkan waktu luang dengan berbagi cerita dan pengalaman yang bisa bermanfaat buat orang lain.

Tak hanya memanfaatkan waktu luang untuk ngeblog, terkadang saya juga belajar untuk meningkatkan kapasitas diri melalui youtube. Meski kerja di tengah hutan, bukan berarti tidak bisa mencari ilmu untuk pengembangan diri.

Apalagi waktu ikut Kopdar Saudagar Nusantara (KSN) di Bogor, saya dan peserta VIP lainnya dapat bonus video pembelajaran Sekolah Bisnis Dua Kodi Kartika (SBDKK). Woow…senangnya 🙂

Ada 99 episode pembelajaran  SBDKK  dari Rendy Saputra, CEO Keke Busana dan Presenter Semangat Langit di Transvision. Isinya tentang motivasi, inspirasi, manajemen, strategi finansial dan pengembangan diri yang benar-benar bermanfaat untuk pengembangan diri.

Dalam proses belajar menggunakan video itu, hal-hal yang penting juga saya catat dan coba praktekan dalam proses kerja dan kegiatan lainnya.

Salah satu ilmu yang diajarkan Kang Rendy adalah gimana caranya agar kita bisa konsisten. Apa saja itu?

1. Punya Keyakinan “Yakin Sampai”

Seperti halnya saat kita bepergian ke suatu kota. Mengapa kita mau melangkah, menggunakan kendaraan, membayar ongkosnya menuju tempat itu ?

Padahal kota yang akan kita tuju itu belum kelihatan dan baru dalam pikiran. Kenapa kita mau melakukan semua itu?

Karena kita punya keyakinan bahwa kita akan sampai di kota itu. KEYAKINAN YAKIN SAMPAI itulah yang membuat kita terus bergerak, tetap melangkah dan melanjutkan perjalanan.

2. Push Through (Melewati Hambatan)

Di saat sudah punya keyakinan, biasanya akan muncul hambatan saat kita melangkah. Seperti saat kita bepergian menggunakan kendaraan, bisa jadi saat di jalan kita akan menghadapi hambatan berupa jalan yang rusak parah, cuaca hujan lebat atau kendaraan rusak dan mogok di jalan.

Di sinilah mental kita diuji. Bila kita mampu melewati hambatan-hambatan itu, berarti kita sudah konsisten menuju tempat yang kita inginkan.

3.  Punya Knowledge

Kita akan mampu melewati hambatan jika kita punya pengetahuan atau ilmu bagaimana mengatasi hambatan itu. Seperti yang pernah saya alami ketika naik bis dari Pinoh ke Pontianak dan bisnya mogok di Sosok.

Dua orang driver tidak mencari mekanik di bengkel terdekat atau memanggil mekanik bengkel bis itu. Mereka langsung turun tangan, buka baju seragam dan mencari penyebab bis mogok.

Seandainya mereka tidak punya knowledge atau pengetahuan bagaimana mengatasi kerusakan, tentu mereka hanya akan menunggu bantuan. Akhirnya kerusakan penyebab bis tersebut diketahui, diperbaiki dan penumpang tetap bisa melanjutkan perjalanan.

So, supaya anda bisa konsisten dalam bekerja, berbisnis atau belajar, praktekan tiga jurus yang diajarkan kang Rendy Saputra ini:

Yakin Sampai, Push Through dan Punya Knowledge.

 

 

Iklan

Bila Sudah Punya Rencana, Jangan Ditunda

Dalam buku catatan saya, tiap hari saya menuliskan poin-poin yang harus saya kerjakan pada hari itu. Ada beberapa kegiatan yang harus saya selesaikan pada satu hari.

Kemarin, salah satu poin yang harus saya selesaikan adalah menemui pimpinan. Selain kegiatan lainnya seperti hadir di pertemuan dengan rekan-rekan kerja dari Jakarta dan Pontianak, belajar dari video e-learning Sekolah Bisnis Dua Kodi Kartika, sholat Dhuha, menulis di blog, update status di FB, Instagram dan  Tweeter.

Saat hadir di pertemuan, sampai jam 15.00 belum ada tanda-tanda akan selesai. Sempat terpikir, lebih baik saya menunda menemui pimpinan dan ikuti pertemuan sampai selesai. Besok kan masih ada kesempatan.

Tak lama setelah saya berpikir seperti itu, azan sholat ashar berkumandang. Saya ke luar ruang pertemuan dan ambil wudhu. Selesai sholat, muncul dorongan dalam hati supaya saya menemui pimpinan sore itu juga.

Jam 15.35 karena pertemuan masih berlangsung, saya minta ijin ke rekan dari Jakarta untuk ke kantor. 25 menit lagi kantor tutup karena jam kerja sampai jam 16.00. Setelah turun ke kantor dan menyampaikan ke bagian personalia, saya dipersilakan masuk ke ruang pimpinan. Saya sampaikan beberapa laporan kegiatan dan berkasnya.

Tak lama setelah  memberikan paraf di laporan, pimpinan bilang,”Besok pagi saya turun ke Pontianak, ada urusan keluarga yang nggak bisa diwakilkan”

Wah, untung saat itu juga saya putuskan menemui pimpinan, meski sebelumnya ada keinginan menunda. Kalau saya baru menghadap besok, belum tentu saya bisa ketemu, karena biasanya pimpinan berangkatnya pagi.

Sebuah pelajaran bagi saya, kalau sudah buat rencana harian dan menuliskan apa saja yang harus dikerjakan dalam satu hari itu, jangan ditunda. Kerjakan saat itu juga.

 

Pemandangan Alam yang tak Pernah Bosan Memandangnya

Bekerja di camp yang dikelilingi hutan, tidak hanya dapat merasakan udara segar dan air bersih. Juga dapat bonus  pemandangan alam yang indah. Rasanya saya tidak pernah bosan memandang dan memotret pemandangan alam dari ruang kerja.

Biasanya pagi hari sebelum bekerja, saya lihat panorama Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dari ruang kerja di lantai dua. Berada di ketinggian sekitar 350 di atas permukaan laut, saya begitu menikmati pemandangan dari balik jendela.

Terkadang spontan muncul keinginan memotret. Saya duduk di atas lemari arsip, handphone saya pegang dan letakkan di luar jendela dan pemandangan itu saya potret. Nggak mudah sih, karena saya hanya bisa menggunakan satu tangan untuk memegang handphone dan memotret. Bisa saja saya pegang handphone pakai dua tangan dan memotret dari dalam ruang kerja, tapi akan terhalang kaca jendela.

Dari lantai dua ruang kerja, tidak hanya melihat hutan, tapi juga bangunan mess karyawan, logistik dan karyawan yang sedang beraktivitas. Termasuk ibu-ibu yang sedang ngobrol di depan mess karyawan. Juga ibu-ibu dan karyawan yang menghampiri pedagang sayur yang menawarkan dagangannya di depan mess karyawan.

Apabila malam hari dan subuh turun hujan, terlihat kabut seperti kapas yang menyelimuti pepohonan. Ketika sang mentari mulai bersinar, perlahan-lahan kabut itu naik dan menghilang. Setelah itu pemandangan berganti dengan hamparan pepohonan yang sekilas seperti lukisan di studio. Diam, tenang dan kokoh.

Ketika sore hari dan turun hujan, kabut kembali datang dan menutupi hijaunya hutan. Jika setelah itu cuaca berubah panas dan cerah, sering muncul pelangi dalam waktu yang singkat. Sekitar 15 menit.

Itulah kelebihan bekerja di camp dan berada di ruang kerja di lantai dua. Pandangan lebih luas. Banyak hal dan aktivitass yang bisa dilihat dan dipotret.

Kudapan Siang di Kantor

Kemarin siang ada rejeki yang datang menghampiri. Saat kerja di depan laptop, office boy masuk ke ruangan sambil bawa sepiring kue donat. Nggak cuma untuk saya. Ada beberapa piring kue donat yang disajikan untuk teman-teman lainnya juga. Pas dengan kopi hangat yang sebelumnya saya buat. Cocok juga dengan cuaca yang beberapa hari ini hujan.

Sudah lama nggak ada kudapan seperti ini di kantor. Khususnya siang hari antara jam 2 – 3. Sejak ada pengetatan anggaran, kudapan yang dulu kami nikmati pasa jam kerja seperti singkong goreng, pisang goreng atau bubur kacang hijau sudah lama nggak ada.

Nah, kalau siang kemarin muncul kue donat, semoga ini menjadi awal yang baik. Tanda-tanda sudah ada perbaikan. Dan waktu pulang kerja jam empat, yang masih tersisa kue donatnya hanya yang di meja saya. Yang lainnya hanya tersisa piringnya saja. Kue donatnya? Ludes semua.. 🙂

Ketika Banjir Mendatangkan Rejeki Bagi Warga Masyarakat

Banjir tak selalu identik dengan hambatan. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Bagi para pengguna jalan termasuk saya dan dua teman yang ditugaskan ke Pontianak dan Sintang, banjir di jalan induk km 3 arah logpond benar-benar menjadi penghalang perjalanan.

Namun bagi masyarakat, banjir adalah rejeki yang diberikan Tuhan. Sekali membantu menyeberangkan motor mereka mendapatkan 50 ribu rupiah dan 20 ribu untuk penumpang.

Lolos dari genangan air di km 5 dengan menerobos banjir menggunakan Hilux, di depan ada lagi hambatan. Kami turun dari mobil dan melihat apakah memungkinkan menerobos.

Oleh warga yang siap-siap menyeberangkan sepeda motor, kami diingatkan bahwa makin ke tengah air makin dalam. Kami sejenak amati apa yang dibilang warga. Ternyata benar, semakin rakit didorong ke arah tengah oleh empat orang, badan mereka semakin masuk ke dalam air hingga setinggi pinggang.

Hampir saja kami menyeberang naik sampan atau rakit. Beruntung bantuan datang. Dari logpond ada berita sedang kirimkan speed untuk jemput kami. Saat itu kami memutuskan balik lagi ke km 5.

Akhirnya kami tiba di logpond. Lanjut perjalanan menggunakan mobil avanza sampai Pinoh. Sarapan dulu dan teruskan lagi naik bis Damri. Dua orang kawan ke Pontianak, saya melanjutkan ke Sintang.

 

 

Terharu Ketika Menghadiri Pelepasan Siswa-siswi kelas 6 SDS Sari Lestari

Tiada kata terlambat untuk belajar”

Itulah tema yang dipilih ketika pelepasan siswa-siswi kelas 6 SDS Sari Lestari yang diadakan tanggal 20 Mei lalu dan bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional.

Setiap tahun acara tersebut diadakan pihak sekolah dengan mengundang para orangtua siswa kelas 6 dan beberapa perwakilan bagian. Saya termasuk salah satu yang diundang dan sekaligus diminta memberikan sambutan mewakili pimpinan peruahaan.

Pada tahun 2017, ada 15 siswa-siswi SDS Sari Lestari yang menamatkan pendidikan di sekolah yang telah berdiri sejak tahun 1999. Setelah itu, mereka akan melanjutkan sekolah ke Nanga Pinoh, Sintang atau kota-kota lainnya tempat asal orangtuanya.

Suasana pelepasan siswa juga diisi dengan penampilan murid-murid TK dan siswa-siswi kelas 1 s/d kelas 5. Ada yang menampilkan tarian dengan diiringi lagu-lagu daerah, tarian modern dengan iringan musik pop, vocal grup yang menyanyikan lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dan ucapan terima kasih dari perwakilan kelas 6 dan orangtua siswa.

Setelah acara gerak dan lagu selesai, anak-anak kelas 6 diminta berdiri di panggung di depan masing-masing orangtuanya. Saat itulah banyak siswa dan orangtuanya yang terisak-isak ketika satu per satu guru dan karyawan menyalami mereka. Raut muka sedih tampak ketika mereka harus berpisah dengan guru-guru yang telah mendidik mulai dari TK sampai SD.

Setelah orangtua dan siswa-siswa turun dari panggung, acara berikutnya adalah ramah tamah. Acara tersebut diisi oleh kepala sekolah, Bapak Heri Kiswanto, S.Pd yang menyanyikan lagu campursari. Suaranya merdu, selaras dengan musik yang mengiringinya.

Giliran berikutnya saya tampil menyanyikan lagu yang sebelumnya dipesan oleh salah satu orangtua murid.

“Nanti waktu perpisahaan, request lagu Kemesraan, Pak”kata seorang bapak orangtua murid di kantor sehari sebelum acara.

Suasana haru saat perpisahaan kian terasa ketika secara spontan saya menyanyikan lagu tersebut yang dipopulerkan oleh Iwan Fals dan beberapa penyanyi lainnya. Beberapa siswa kelas 6 yang kembali berada di panggung melambaikan tangannya ke arah hadirin dan menangis.

Sebuah acara yang sederhana, diadakan di halaman SD, namun begitu membawa kesan yang mendalam bagi semuanya.

 

 

Produk Tersedia Saat Ada yang Memerlukannya

Hari libur kemarin (1/5), saya mengandangkan dua ekor ayam kampung. Ada pesanan satu ekor dari teman kerja yang disampaikan lewat tetangga.  Saya tangkap dua ekor ayam betina generasi kedua, supaya bisa dipilih mana yang disukai.

Semuanya ada empat ekor ayam yang masuk generasi kedua ini. Tiga betina dan satu jantan. Tapi yang betina satunya lagi agak liar dan nggak mudah ditangkap. Satunya lagi yang ayam jago saya biarkan karena jumlahnya lebih sedikit daripada yang betina.

Setelah ditimbang, diketahui beratnya 1,6 kg. Harga ayam kampung utuh di camp 75 ribu per kg, jadi totalnya 120 ribu. Pagi tadi uang pembelian itu dititipkan tetangga ke saya. Alhamdulillah, terus saya terima dan saya serahkan lagi yang 20 ribu buat mas Mul, tetangga yang bantu menimbang ayam dan menyerahkannya ke pembeli.

Rasanya bahagia bisa membantu teman. Membantu menyediakan produk berupa ayam kampung yang dibutuhkan. Nggak perlu cari jauh-jauh ke camp lain, ke kampung atau pesan di Nanga Pinoh yang semuanya itu perlu waktu, biaya tambahan dan kendaraan.