YNWA

YNWA

Waktu melijtas di depan pendopo gubernur, ada poster yang tulisannya bikin saya penasaran.YNWA. Sebelumnya, saya sama Dienna Eka janjian mau ketemu bu Nurhayati Naim yang bawakan pesanan 1 box Propolis Ashiha .Janjian ketemu di auditorum Untan.

Ingatan saya langsung ke klub sepak bola asal Inggris, Liverpool. Dalam hati saya bertanya, “Apa klub ini punya banyak penggemar ya di Kalbar? Kok ada tulisan YNWA”

Sebagai fans Liverpool FC, saya nggak asing dengan singkatan ini. YNWA..You’re Not Walking Alone. Judul lagu kebangsaan Liverpool FC Saya pun pelankan kendaraan.. Eh, ternyata NYWA itu singkatan dari You’re Nothing Without Allah.

Kalau direnungi betul juga isi poster itu. Kamu nggak ada apa-apanya tanpa Allah. Nggak ada daya dan upaya melainkan dari Allah. Meski kita pintar, punya ilmu, kemamouan dan relasi kalau Allah nggak ijinkan ya lewat deh. Jangan hanya mengandalkan kemampuan kita. Hadza Min Fadhil Robbi. Semua karunia dari Allah

Iuran Keluarga

Salah satu kegiatan rutin saya di awal bulan adalah bayar iuran keluarga. Nilainya 150 ribu per bulan. Kalau saya di rumah, uangnya saya serahkan ke istri. Kalau di luar kota saya transfer ke rekeningnya.

Kurang lebih tiga tahun ini dia diminta adik-adiknya simpan uang iuran keluarga. Sebelumnya adik di Kroya yang simpan dan catat pembukuannya.

Ide iuran keluarga ini muncul sekitar enam. tahun lalu. Biasanya kalau lebaran Idul Fitri, keluarga pihak istri, lima bersaudara, pulang ke rumah bapak ibu di Jogja.

Acara lebaran biasanya setelah sholat Ied dilanjutkan sungkeman, makan bersama dan jalan-jalan ke tempat wisata. Saat itulah terpikir adakan iuran keluarga. Awalnya iuran 100 ribu per bulan per keluarga ditambah eyangnya. Ada 6 keluarga. Berarti 600 ribu per bulan. 7,2 juta setahun. Lumayan juga ya jumlahnya. Bayarnya ada yang per bulan. Ada juga yang sekaligus bayar setahun.

Sejak tiga tahun ini iurannya dinaikkan jadi 150 ribu per keluarga. Nah, dari uang kas itu dipakai buat beli hidangan lebaran dan berwisata. Bagi keluarga yang nggak bisa mudik diberikan cash back. Sudah dua tahun ini sejak wabah covid19, kami belum bisa lebaran Idul Fitri lagi dan berkumpul bersama.

Terus gimana dengan saldo kas iuran keluarga? Digunakan buat apa? Sesuai kesepakatan, sebagian tetap digunakan untuk membeli hidangan lebaran. Buat yang berlebaran di Jogja. Sebagian lagi digunakan untuk bantuan pengobatan yang sakit dan angpau buat anak-anak.

Dalam kondisi seperti saat ini, begitu berarti punya iuran keluarga. Minimal kita bisa bantu anggota keluarga yang memerlukan.

Selamat pagi teman-teman. Semoga manfaat dan salam sehat penuh keberkahan.

Pengurangan Karyawan itu Akhirnya Terjadi Juga

Selama saya bekerja 25 tahun di perusahaan, tahun inilah mengalami apa yang disebut Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Teman-teman yang jumlahnya seratusan orang lebih harus menerima pilihan diberhentikan, karena kondisi perusahaan yang dua tahun berturut-turut mengalami kerugian. Da total karyawan delapan ratusan, sekitar 20 % terpaksa di-PHK.

Alhamdulillah, saya melihat karyawan menerima keputusan itu apalagi pesangon mereka langsung dibayarkan tak lama setelah mereka manandatangani surat keterangan berhenti. Perusahaan telah menyiapkan dana untuk membayar pesangon karyawan sesuai ketentuan pemerintah. Pesangon yang mereka terima kan lebih lebih besar apabila mereka ketika PHK memasuki usia pensiun 56 tahun sesuai yang ditetapkan perusahaan.

Semoga teman-teman yang telah bekerja belasan bahkan puluhan tahun lebih sukses lagi di tempat yang baru.

Hari ke-14 Ramadhan

Hari ini memasuki hari ke-14 puasa Ramadhan. Sudah separuh kita lewati bulan penuh berkah ini. Semoga kita masih tetap sehat dan lancar menjalankan aktivitas.

Ramadhan sampai dengan hari ke-14 ini saya masih di camp. Insyaa Allah ke Pontianak minggu depan. Seminggu sebelum lebaran idul fitri.

Waktu puasa Ramadhan di camp, berbuka puasanya saya kadang-kadang di rumah, lebih seringnya di masjid. Kalau di rumah kudapannya lebih sedikit, sendiri, juga waktunya mepet antara buka puasa dengan sholat maghrib. Sementara kalau di masjid, lebih variasi hidangannya. Macam-macam kue, gorengan, kurma. Minumannya air mineral, sirup campur susu. Sebagian disediakan oleh masjid, sebagian lagi dibikin emak-emak yang dapat jadwal sediakan takjil dan sebagian lagi dari donatur pribadi.

Buka puasa di masjid lebih ramai karena bertemu dengan teman-teman kerja juga anak-anak karyawan. Biasanya hidangannya berlebih. Sebagian dibagikan ke anak-anak, sebagian lagi disimpan untuk dinikmati selepas sholat maghrib dan sholat tarawih.

Alhamdulillah, nikmat rasanya buka puasa bareng di masjid.

Kerjasama Siapkan Kudapan Buka Puasa

Sejak hari pertama puasa Ramadhan, karyawan dan keluarganya di camp sudah mulai sibuk bikin kudapan buka puasa bersama. Emak-emaknya kebagian tugas bikin macam-macam kue dan gorengan. Bapak-bapaknya yang ngantar ke masjid dan menghidangkan.

Dananya ada yang dari kas masjid. Ada dari donatur pribadi bapak-bapak. Ada juga dari emak-emak yang kebagian jadwal bikin ta’jil.

Biasanya di masjid sore sekitar jam 5 jamaah sudah berdatangan. Termasuk anak-anak juga. Bapak-bapaknya mengatur hidangan makanan ringan dan minuman. Ada juga yang datang, berdoa memanfaatkan waktu menjelang maghrib.

Setelah buka puasa bersama, dilanjutkan sholat Maghrib berjamaah. Setelah itu, sebagian ada yang masih di masjid menunggu waktu Isya. Sebagian lagi pulang ke mess untuk makan malam. Saya kadang-kadang pulang, kadang-kadang juga tetap di masjid.

Ketika sholat Isya dan Tarawih, imamnya bergantian antar karyawan. Sudah terjadwal. Alhamdulillah. Ramadhan penuh berkah di hutan.

Satu Pintu Tertutup, Pintu Lain Terbuka

Imbas pandemi Covid-19 terjadi juga di tempat kerja saya. Meski kegiatan operasional tetap berjalan, namun selama setahun ini tidak ada lagi training, sosialisasi secara tatap muka. Bahkan rapat bulanan pun yang biasanya rutin diadakan di Pontianak ditiadakan.

Untungnya di camp ada sinyal internet. Hanya satu operator dan saat ini sudah diupgrade menjadi 4G. Akses internet 4G ini yang jadi penyelamat ketika rapat, training dan sosialisasi tatap muka tidak bisa dilakukan. Sejak pandemi, agenda tersebut secara daring yang diadakan Kementerian LHK, Asosiasi, Lembaga Sertifikasi justru makin sering.

Setiap ada peraturan baru dari Kementerian, sering diadakan sosialisasi menggunakan aplikasi zoom meeting. Frekuensinya bisa 2 kali sebulan. Dulu, untuk mengikuti sosialisasi harus terbang ke Palangkaraya atau perjalanan darat ke Pontianak. Perlu dana untuk akomodasi, tiket pesawat dan konsumsi. Pesertanya pun dibatasi. Sekarang cukup duduk di ruang meeting kantor dan menyimak presentasi dari nara sumber. Peserta bisa lebih banyak. Bahkan sertifikat mengikuti sosialisasi dikirimkan via email. Semua serba simpel.

Satu hal yang menjadi kunci. Kelancaran akses internet. Pernah kami mengikuti sosialisasi tidak sampai selesai karena gangguan sinyal internet. Jadwal acaranya dari jam 9 – 12 WIB. Jam 11 koneksi internet mengalami gangguan. Terputus dari zoom meeting dan belum bisa join lagi.

Staf HRD sudah berusaha mencoba beberapa kali supaya koneksi internet tersambung, namun belum berhasil. Akhirnya kami putuskan nggak mengikuti sampai selesai. Jika sinyal internet lancar, selain mengikuti di ruang rapat pakai laptop, beberapa teman juga mengikuti di tempat kerja masing-masing pakai ponsel. Lebih fleksibel.

Setiap kondisi yang terjadi pasti ada hikmahnya. Demikian juga pandemi covid-19 ini. Ketika pintu-pintu pertemuan tatap muka tertutup, di saat yang sama terbuka lebar pintu-pintu pertemuan secara remote atau daring.

Perjalanan Sebuah Paket

“Mau dikirim apa, mas?”tanya istri

“Kalau bisa frozen food sama buah-buahan”jawab saya

Istri pun belanja. Beli buah naga, nugget, hekeng, bawang goreng, saos kecap dll. Dikemas kemudian dikirimkan ke camp. Perjalanan paket makanan pun dimulai. Paket dibawa ke kantor DAMRI di jalan Pahlawan. Biaya pengiriman ke Nanga Pinoh 25 ribu. Sehari sampainya. Biasanya diangkut mobil box yang berangkat malam hari dari Pontianak. Sampai Pinoh pagi atau siang hari.

Setelah istri foto paket makanan dan resinya, dia WA kan ke saya. Biasanya saya minta tolong bang Nurdin, supir mobil rental Dua Putri. Rumah dan warungnya di logpond. Sewaktu saya telpon, dia ada di Pinoh. Alhamdulillah. Saya infokan nomor resinya.

Sore hari saya telpon dia, belum bisa tersambung. Nggak lama kemudian dia telpon balik dan bilang kalau paket sudah diambil dan dititipkan ke Tukiman, sopir Logging Trailler.

Pagi hari saya dapat telpon dari sekuriti di portal km 34 ada titipan paket buat saya. Saya baru tahu, paket tersebut dititipkan supir Logging Trailler malam hari. Setelah itu dia lanjutkan perjalanan ke tempat kerja.

Bergegas saya hubungi bagian HRD minta kendaraan dan supir kantor untuk ambil paket tersebut. Sampai di portal sekuriti dengan ramah menyerahkan paket ke saya.

Begitulah perjalanan pengiriman paket dari Pontianak ke camp. Ada beberapa rute yang dilalui. Ada beberapa orang yang membantu hingga paket itu sampai di tangan saya.

Semoga Allah membalas semua kebaikan dan memudahkan urusan para pembawa paket tersebut.

Bergerak Dulu

Apa yang datangnya dari arah yang tidak disangka-sangka bukan berarti tiba-tiba datang begitu saja meski kita sedang tidak melakukan apa-apa. Bergerak terlebih dahulu, kerjakan sesuatu dan kejarlah Target. Boleh jadi nanti di tengah perjalanan akan datang hal istimewa yang tidak disangka-sangka.

Seperti pagi ini ada teman kerja yang menemui saya dan menyerahkan Kartu Indonesia Sehat saya yang hilang.Untuk mencari kartu itu, saya tadi malam menyusuri jalan dari mess ke masjid. Tadi pagi habis subuh saya menyusuri lagi jalan dari masjid ke mess dengan rute yang berbeda. Lebih jauh karena jalanya memutar. Hasilnya? Kartu itu belum saya temukan juga. Saya pasrah.

Sampai akhirnya tadi pagi ketika saya di ruang kerja, ada teman yang mengetuk pintu. Saya buka pintu dan dia bilang, “Ini saya nyampaikan titipan Fauzi, dia nemukan kartu bapak yang jatuh di halaman masjid. Dia nunggu-nunggu bapak di logistik kok gak ketemu”

Alhamdulillah. Semoga Allah SWT membalas kebaikannya.

Rapat Online

Setiap bulan, saya biasanya ke Pontianak untuk ikut rapat. Biasanya minggu pertama di bulan tersebut. Dua hari rapatnya. Hari pertama membahas bidang Logistik dan Teknik. Hari kedua bidang Pengusahaan Hutan.

Peserta rapat dari masing-masing camp dan personil di Pontianak. Direktur yang bertugas di Pontianak sebagai pimpinan rapat. Ada juga satu orang perwakilan dari kantor Jakarta.

Saat rapat, masing-masing camp diminta presentasi. Menyajikan data realisasi kegiatan dan permasalahannya. Selanjutnya dibahas dan ditanggapi oleh pimpinan rapat.

Rapat dimulai jam 9 pagi dan biasanya selesai jam 4 sore. Terkadang lebih cepat selesai. Tergantung permasalahan yang ada.

Namun rapat pada bulan April ini berbeda. Tidak lagi peserta hadir ke Pontianak. Wabah COVIC-19 telah mengubah bentuk rapat. Dari yang hadir secara fisik dan bertemu di ruang rapat menjadi rapat online. Masing-masing tetap berada di lokasi kerja dan rapat menggunakan teknologi internet. Tele conference. Masing-masing menggunakan laptop.

Selain bentuknya yang berbeda, isinya juga lebih ringkas. Pimpinan rapat meminta supaya poin-poin dan masalah penting saja yang disampaikan. Tidak perlu ada presentasi masing-masing camp. Efisien.

Ini pengalaman pertama rapat online. “Canggih ya. Dari hutan bisa langsung lihat orang-orang di Pontianak” kata boss saya.

“Ya, pak. Yang penting sinyal internet lancar”jawab saya

 

Wisata Religi di Ponpes Al Bahjah Cirebon

Tahun 2018 ketika ngobrol dengan teman SMP, saya pernah bilang,”Nanti kalau ke Cirebon lagi saya mau kunjungi Ponpes Al Bahjah dan Sentra Batik Trusmi”

Setahun sebelumnya, di bulan Maret 2017, saya berkunjung ke Cirebon. Menghadiri reuni 30 tahun SMP 5 alumni tahun 1986. Pada waktu itu karena hanya semalam di Cirebon, tidak cukup waktu untuk berkunjung kedua tempat tadi. Sampai di Cirebon sore hari, diajak bertemu dengan teman-teman yang sedang futsal. Setelah itu kembali ke hotel. Malamnya diajak ke tempat reuni untuk melihat persiapannya. Setelah itu menikmati kuliner mie koclok di jalan Lawanggada.

Pagi harinya sudah dijemput teman untuk hadiri reuni mulai jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Selesai reuni diantar teman ke stasiun Kejaksaan. Pulang ke Semarang naik kereta.

Kesempatan ke ponpes Al Bahjah baru terlaksana waktu saya ke Cirebon tanggal 29 Nopember tahun lalu. Berangkat dari Semarang naik kereta Ciremai jam 17.40. Sampai di Cirebon sekitar jam 21.00. Dijemput teman SMP dan diajak ngobrol di salah satu cafe dekat pertigaan jalan Siliwangi dan jalan Slamet Riyadi. Pulang ke hotel sekitar jam 23.00. Setelah itu istirahat dan bangun jam 04.00. Saya sempatkan sholat subuh di masjid At Taqwa.

Sekitar jam 06.00 saya naik ojol ke ponpes Al Bahjah. Ongkosnya 25 ribu. Jaraknya sekitar 10 km dari masjid At Taqwa. Sampai di ponpes sekitar jam 06.30. Suasana  tempat kajian masih sepi. Saya manfaatkan waktu untuk melihat-lihat lingkungan ponpes Al Bahjah.

Di depan pintu masuk, saya berjalan ke arah mess santri yang berupa gedung bertingkat. Terlihat para santri bermain bola di lapangan yang juga berfungsi sebagai halaman parkir mobil. Setelah itu saya berwudhu dan masuk ke ruangan  acara kajian.

Saya dapat tempat di shaf kedua. Cukup jelas melihat tempat ustadz memberikan taushiyah. Waktu itu saya berharap bisa melihat langsung taushiyah Buya Yahya. Ternyata beliau berhalangan hadir pada hari itu. Jadwal taushiyahnya diganti oleh dua orang ustadz yang menyampaikan dua materi kajian.

Sekitar satu jam saya mengikuti kajian. Saat kajian tahap kedua berakhir, saya keluar dari ruangan karena waktu sudah menunjukkan jam 08.15. Saya harus siap-siap untuk mengikuti acara berikutnya. Hadiri reuni 30 tahun SMA 1 alumni 1989.

Sebelum pulang, saya sempatkan sarapan di warung di ponpes. Yang menarik yang melayani pembeli itu para santri. Banyak keluarga yang singgah ke warung ini untuk makan dan minum. Saya beli nasi kuning sebungkus. Harganya hanya 2 ribu rupiah. Murah banget. Selesai sarapan saja sempatkan lagi melihat-lihat lingkungan ponpes di dekat pintu keluar. Setelah itu pesan ojol untuk kembali ke hotel.

Perjalanan pulang ke hotel, driver menempuh rute yang berbeda dibandingkan waktu berangkat. Saat pergi, saya melewati rute jalan Kartini -jalan Dokter Cipto – jalan Kanggraksan – jalan Kalitanjung – jalan Pangeran Cakrabuana dan belok kanan ke ponpes Al Bahjah.

Pulangnya lewat jalan Pangeran Cakrabuana –  jalan Sultan Ageng Tirtayasa – jalan Pilang – jalan Slamet Riyadi – jalan Siliwangi.

Ketika di jalan kenalan dan ngobrol dengan driver ojol, tak disangka-sangka ternyata dia kakak kelas waktu SMP. Tiga tahun di atas angkatan saya. Obrolan pun berlanjut seputar masa sekolah dulu. Dia masih ingat guru bahasa Inggris, pak Ali Khusnan, yang ternyata juga mengajar saya dan teman-teman waktu kelas 2.

Tak terasa obrolan berakhir ketika kendaraan sampai di halaman hotel Cordova di depan stasiun Kejaksan.

Sebuah perjalanan yang sangat berkesan. Tidak hanya mendapat ilmu di pengajian, namun juga bertemu teman-teman lama yang tulus dalam menjalin persahabatan.