Pemandangan Alam yang tak Pernah Bosan Memandangnya

Bekerja di camp yang dikelilingi hutan, tidak hanya dapat merasakan udara segar dan air bersih. Juga dapat bonus  pemandangan alam yang indah. Rasanya saya tidak pernah bosan memandang dan memotret pemandangan alam dari ruang kerja.

Biasanya pagi hari sebelum bekerja, saya lihat panorama Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dari ruang kerja di lantai dua. Berada di ketinggian sekitar 350 di atas permukaan laut, saya begitu menikmati pemandangan dari balik jendela.

Terkadang spontan muncul keinginan memotret. Saya duduk di atas lemari arsip, handphone saya pegang dan letakkan di luar jendela dan pemandangan itu saya potret. Nggak mudah sih, karena saya hanya bisa menggunakan satu tangan untuk memegang handphone dan memotret. Bisa saja saya pegang handphone pakai dua tangan dan memotret dari dalam ruang kerja, tapi akan terhalang kaca jendela.

Dari lantai dua ruang kerja, tidak hanya melihat hutan, tapi juga bangunan mess karyawan, logistik dan karyawan yang sedang beraktivitas. Termasuk ibu-ibu yang sedang ngobrol di depan mess karyawan. Juga ibu-ibu dan karyawan yang menghampiri pedagang sayur yang menawarkan dagangannya di depan mess karyawan.

Apabila malam hari dan subuh turun hujan, terlihat kabut seperti kapas yang menyelimuti pepohonan. Ketika sang mentari mulai bersinar, perlahan-lahan kabut itu naik dan menghilang. Setelah itu pemandangan berganti dengan hamparan pepohonan yang sekilas seperti lukisan di studio. Diam, tenang dan kokoh.

Ketika sore hari dan turun hujan, kabut kembali datang dan menutupi hijaunya hutan. Jika setelah itu cuaca berubah panas dan cerah, sering muncul pelangi dalam waktu yang singkat. Sekitar 15 menit.

Itulah kelebihan bekerja di camp dan berada di ruang kerja di lantai dua. Pandangan lebih luas. Banyak hal dan aktivitass yang bisa dilihat dan dipotret.

Iklan

Kudapan Siang di Kantor

Kemarin siang ada rejeki yang datang menghampiri. Saat kerja di depan laptop, office boy masuk ke ruangan sambil bawa sepiring kue donat. Nggak cuma untuk saya. Ada beberapa piring kue donat yang disajikan untuk teman-teman lainnya juga. Pas dengan kopi hangat yang sebelumnya saya buat. Cocok juga dengan cuaca yang beberapa hari ini hujan.

Sudah lama nggak ada kudapan seperti ini di kantor. Khususnya siang hari antara jam 2 – 3. Sejak ada pengetatan anggaran, kudapan yang dulu kami nikmati pasa jam kerja seperti singkong goreng, pisang goreng atau bubur kacang hijau sudah lama nggak ada.

Nah, kalau siang kemarin muncul kue donat, semoga ini menjadi awal yang baik. Tanda-tanda sudah ada perbaikan. Dan waktu pulang kerja jam empat, yang masih tersisa kue donatnya hanya yang di meja saya. Yang lainnya hanya tersisa piringnya saja. Kue donatnya? Ludes semua.. 🙂

Ketika Banjir Mendatangkan Rejeki Bagi Warga Masyarakat

Banjir tak selalu identik dengan hambatan. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Bagi para pengguna jalan termasuk saya dan dua teman yang ditugaskan ke Pontianak dan Sintang, banjir di jalan induk km 3 arah logpond benar-benar menjadi penghalang perjalanan.

Namun bagi masyarakat, banjir adalah rejeki yang diberikan Tuhan. Sekali membantu menyeberangkan motor mereka mendapatkan 50 ribu rupiah dan 20 ribu untuk penumpang.

Lolos dari genangan air di km 5 dengan menerobos banjir menggunakan Hilux, di depan ada lagi hambatan. Kami turun dari mobil dan melihat apakah memungkinkan menerobos.

Oleh warga yang siap-siap menyeberangkan sepeda motor, kami diingatkan bahwa makin ke tengah air makin dalam. Kami sejenak amati apa yang dibilang warga. Ternyata benar, semakin rakit didorong ke arah tengah oleh empat orang, badan mereka semakin masuk ke dalam air hingga setinggi pinggang.

Hampir saja kami menyeberang naik sampan atau rakit. Beruntung bantuan datang. Dari logpond ada berita sedang kirimkan speed untuk jemput kami. Saat itu kami memutuskan balik lagi ke km 5.

Akhirnya kami tiba di logpond. Lanjut perjalanan menggunakan mobil avanza sampai Pinoh. Sarapan dulu dan teruskan lagi naik bis Damri. Dua orang kawan ke Pontianak, saya melanjutkan ke Sintang.

 

 

Terharu Ketika Menghadiri Pelepasan Siswa-siswi kelas 6 SDS Sari Lestari

Tiada kata terlambat untuk belajar”

Itulah tema yang dipilih ketika pelepasan siswa-siswi kelas 6 SDS Sari Lestari yang diadakan tanggal 20 Mei lalu dan bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional.

Setiap tahun acara tersebut diadakan pihak sekolah dengan mengundang para orangtua siswa kelas 6 dan beberapa perwakilan bagian. Saya termasuk salah satu yang diundang dan sekaligus diminta memberikan sambutan mewakili pimpinan peruahaan.

Pada tahun 2017, ada 15 siswa-siswi SDS Sari Lestari yang menamatkan pendidikan di sekolah yang telah berdiri sejak tahun 1999. Setelah itu, mereka akan melanjutkan sekolah ke Nanga Pinoh, Sintang atau kota-kota lainnya tempat asal orangtuanya.

Suasana pelepasan siswa juga diisi dengan penampilan murid-murid TK dan siswa-siswi kelas 1 s/d kelas 5. Ada yang menampilkan tarian dengan diiringi lagu-lagu daerah, tarian modern dengan iringan musik pop, vocal grup yang menyanyikan lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dan ucapan terima kasih dari perwakilan kelas 6 dan orangtua siswa.

Setelah acara gerak dan lagu selesai, anak-anak kelas 6 diminta berdiri di panggung di depan masing-masing orangtuanya. Saat itulah banyak siswa dan orangtuanya yang terisak-isak ketika satu per satu guru dan karyawan menyalami mereka. Raut muka sedih tampak ketika mereka harus berpisah dengan guru-guru yang telah mendidik mulai dari TK sampai SD.

Setelah orangtua dan siswa-siswa turun dari panggung, acara berikutnya adalah ramah tamah. Acara tersebut diisi oleh kepala sekolah, Bapak Heri Kiswanto, S.Pd yang menyanyikan lagu campursari. Suaranya merdu, selaras dengan musik yang mengiringinya.

Giliran berikutnya saya tampil menyanyikan lagu yang sebelumnya dipesan oleh salah satu orangtua murid.

“Nanti waktu perpisahaan, request lagu Kemesraan, Pak”kata seorang bapak orangtua murid di kantor sehari sebelum acara.

Suasana haru saat perpisahaan kian terasa ketika secara spontan saya menyanyikan lagu tersebut yang dipopulerkan oleh Iwan Fals dan beberapa penyanyi lainnya. Beberapa siswa kelas 6 yang kembali berada di panggung melambaikan tangannya ke arah hadirin dan menangis.

Sebuah acara yang sederhana, diadakan di halaman SD, namun begitu membawa kesan yang mendalam bagi semuanya.

 

 

Produk Tersedia Saat Ada yang Memerlukannya

Hari libur kemarin (1/5), saya mengandangkan dua ekor ayam kampung. Ada pesanan satu ekor dari teman kerja yang disampaikan lewat tetangga.  Saya tangkap dua ekor ayam betina generasi kedua, supaya bisa dipilih mana yang disukai.

Semuanya ada empat ekor ayam yang masuk generasi kedua ini. Tiga betina dan satu jantan. Tapi yang betina satunya lagi agak liar dan nggak mudah ditangkap. Satunya lagi yang ayam jago saya biarkan karena jumlahnya lebih sedikit daripada yang betina.

Setelah ditimbang, diketahui beratnya 1,6 kg. Harga ayam kampung utuh di camp 75 ribu per kg, jadi totalnya 120 ribu. Pagi tadi uang pembelian itu dititipkan tetangga ke saya. Alhamdulillah, terus saya terima dan saya serahkan lagi yang 20 ribu buat mas Mul, tetangga yang bantu menimbang ayam dan menyerahkannya ke pembeli.

Rasanya bahagia bisa membantu teman. Membantu menyediakan produk berupa ayam kampung yang dibutuhkan. Nggak perlu cari jauh-jauh ke camp lain, ke kampung atau pesan di Nanga Pinoh yang semuanya itu perlu waktu, biaya tambahan dan kendaraan.

Berjuang Padamkan Api di Pagi Hari

“Ada kebakaran, Pak”teriak abah Alwi kemarin ketika saya memasuki halaman masjid untuk sholat subuh berjamaah. Saya lihat teman-teman kerja yang sudah duluan sampai mesjid berdiri di selasar dan memandang ke arah dapur bengkel.

Pada jarak sekitar 200 meter dan sebagian tertutup pepohonan, saya lihat ada api dan asap tebal yang membumbung tinggi. Listrik di masjid dan sekitarnya padam. Beberapa ibu dan anak-anaknya sambil membawa tas, buku, berjalan mendekati masjid. Mereka khawatir dengan api yang membesar dan mengungsi ke masjid, padahal jaraknya masih jauh.

Spontan abah Alwi mengingatkan kami agar sholat subuh dulu. Selesai sholat dan berdoa, kami berempatbergegas berjalan kaki ke arah bengkel lewat bagian belakang. Menyeberangi jembatan dan semakin jelas api terlihat sudah merambat sampai atap di atas ruang kepala bengkel.

Sampai di depan bengkel, beberapa unit kendaraan seperti truk trailler dan mobil transport dobel gardan sudah dipindahkan ke tempat yang aman. Unit yang sedang rusak didorong ramai-ramai oleh karyawan dan ditarik ke luar bengkel.

Saya lihat eksavator sibuk merobohkan tiang-tiang di depan ruang mesin bubut dan atapnya, untuk memutus api agar tidak merambat sampai ke ruang genset dan tangki-tangki BBM. Dalam kondisi pagi yang masih gelap, beberapa karyawan bergotong royong memadamkan api dengan menyemprot menggunakan selang dan tabung pemadam kebakaran.

Karyawan lainnya juga membawa ember dan secara estafet ember berisi air itu dituangkan ke dalam keranjang eksavator. Setelah terisi hampir penuh, airnya ditumpahkan ke api yang ada di permukaan tanah. Upaya memadamkan api juga dilakukan eksavator dengan menggali tanah dan menumpahkannya ke api yang membakar tumpukan kayu di permukaan tanah.

Namun api tidak mudah dipadamkan karena yang terbakar bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu,  juga beberapa ban yang berada di tempat penambalan ban.

Setelah berjuang keras sekitar dua jam, api akhirnya berhasil dipadamkan. Bangunan dapur bengkel, tempat penambalan ban dan ruang kerja kepala bengkel rata dengan tanah. Beruntung ruangan mesin bubut masih bisa diselamatkan.

Pagi itu, meski terjadi kebakaran, kami masih masuk kerja. Teman-teman di bengkel berusaha bekerja keras memperbaiki jaringan listrik yang terbakar. Setelah kabel-kabelnya yang terbakar diganti, akhirnya sekitar jam 3 sore listrik menyala kembali.

Ilmu itu Dikejar, Bukan Ditunggu

“Yang namanya ilmu itu harus dicari, dikejar dan bukan ditunggu. Bapak  dan ibu yang hadir di majelis ini niatkan untuk mencari ilmu dan silaturahmi karena Allah SWT. Apalagi yang mengisi taushiyah nanti pak Ustadz Ahmad Naufal yang jauh-jauh datang dari Pontianak. Inshaa Allah membawa berkah.” Demikian kata wakil perusahaan saat memberikan sambutan peringatan Isra Mi’raj di camp Minggu malam (23/4) lalu.

Pak ustadz menjelaskan manfaat dan keutamaan sholat khususnya sholat berjamaah di masjid khususnya bagi bapak-bapak. Manfaat dari sisi fsik yang dapat menyehatkan badan, karena tiap hari rutin jalan kaki dari mess ke masjid pergi pulang. Menurut ilmu kesehatan, jalan kaki adalah jenis aktivitas yang baik bagi kesehatan bila dilakukan secara rutin.

Tak hanya itu, dari sisi spiritual setiap langkah kaki kanan kita dari rumah ke masjid bernilai pahala dan langkah kaki kiri kita akan menghapuskan dosa-dosa. Apalagi bila kita datang ke masjid di awal waktu, melaksanakan sholat tahiyatul masjid ditambah sholat sunah qobliyah.

Bagi karyawan yang karena kesibukannya sehingaa jarang bertemu, sholat berjamaah juga menjadi wadah untuk bersilaturahmi dan terbukanya pintu-pintu kebaikan. Jika selama jam kerja, karyawan berkomunikasi lebih sering menggunakan aiphone dan handphone, sholat berjamaah membuka peluang untuk bertemu, bertutur sapa, menanyakan kabar keluarga dan teman kerja.

Memang saat ini ada media online dan internet yang bisa membantu kita mencari ilmu yang kita perlukan. Kita bisa belajar setiap saat tanpa kendala jarak dan waktu, sepanjang di tempat tersebut ada sinyal internet. Namun demikian, datang dan tatap muka langsung juga penting karena nuansa dan rasanya berbeda.

Acara yang diadakan pengurus masjid Al Adh ha bekerjasama dengan ibu-ibu majelis taklim  dan guru-guru SDS Sari Lestari itu berjalan lancar dan dihadiri sekitar 150 jamaah. Karyawan dan keluarganya terlihat memenuhi bagian dan selasar masjid. Acara yang dirancang sekaligus dengan wisuda TPQ santriwan dan santriwati TK dan SD Sari Lestari.

Yang saya syukuri adalah adanya progres setelah acara tersebut. Dampak setelah menerima ilmu tentang keutamaan sholat berjamaah di masjid.

Setelah hadir di acara tersebut, besoknya terlihat anak-anak dan bapak-bapak yang sholat berjamaah meningkat. Khususnya saat Maghrib dan Isya. Untuk waktu subuh dan dhuhur masih belum sebanyak kedua waktu sholat yang lainnya, sementara saat ashar yang masih belum istiqomah.

Semoga Allah SWT menjaga langkah dan niat kita untuk senantiasa berada di jalanNya. Terutama niat dan langkah untuk sholat berjamaah di masjid. Aamiin