Rapat Online

Setiap bulan, saya biasanya ke Pontianak untuk ikut rapat. Biasanya minggu pertama di bulan tersebut. Dua hari rapatnya. Hari pertama membahas bidang Logistik dan Teknik. Hari kedua bidang Pengusahaan Hutan.

Peserta rapat dari masing-masing camp dan personil di Pontianak. Direktur yang bertugas di Pontianak sebagai pimpinan rapat. Ada juga satu orang perwakilan dari kantor Jakarta.

Saat rapat, masing-masing camp diminta presentasi. Menyajikan data realisasi kegiatan dan permasalahannya. Selanjutnya dibahas dan ditanggapi oleh pimpinan rapat.

Rapat dimulai jam 9 pagi dan biasanya selesai jam 4 sore. Terkadang lebih cepat selesai. Tergantung permasalahan yang ada.

Namun rapat pada bulan April ini berbeda. Tidak lagi peserta hadir ke Pontianak. Wabah COVIC-19 telah mengubah bentuk rapat. Dari yang hadir secara fisik dan bertemu di ruang rapat menjadi rapat online. Masing-masing tetap berada di lokasi kerja dan rapat menggunakan teknologi internet. Tele conference. Masing-masing menggunakan laptop.

Selain bentuknya yang berbeda, isinya juga lebih ringkas. Pimpinan rapat meminta supaya poin-poin dan masalah penting saja yang disampaikan. Tidak perlu ada presentasi masing-masing camp. Efisien.

Ini pengalaman pertama rapat online. “Canggih ya. Dari hutan bisa langsung lihat orang-orang di Pontianak” kata boss saya.

“Ya, pak. Yang penting sinyal internet lancar”jawab saya

 

Wisata Religi di Ponpes Al Bahjah Cirebon

Tahun 2018 ketika ngobrol dengan teman SMP, saya pernah bilang,”Nanti kalau ke Cirebon lagi saya mau kunjungi Ponpes Al Bahjah dan Sentra Batik Trusmi”

Setahun sebelumnya, di bulan Maret 2017, saya berkunjung ke Cirebon. Menghadiri reuni 30 tahun SMP 5 alumni tahun 1986. Pada waktu itu karena hanya semalam di Cirebon, tidak cukup waktu untuk berkunjung kedua tempat tadi. Sampai di Cirebon sore hari, diajak bertemu dengan teman-teman yang sedang futsal. Setelah itu kembali ke hotel. Malamnya diajak ke tempat reuni untuk melihat persiapannya. Setelah itu menikmati kuliner mie koclok di jalan Lawanggada.

Pagi harinya sudah dijemput teman untuk hadiri reuni mulai jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Selesai reuni diantar teman ke stasiun Kejaksaan. Pulang ke Semarang naik kereta.

Kesempatan ke ponpes Al Bahjah baru terlaksana waktu saya ke Cirebon tanggal 29 Nopember tahun lalu. Berangkat dari Semarang naik kereta Ciremai jam 17.40. Sampai di Cirebon sekitar jam 21.00. Dijemput teman SMP dan diajak ngobrol di salah satu cafe dekat pertigaan jalan Siliwangi dan jalan Slamet Riyadi. Pulang ke hotel sekitar jam 23.00. Setelah itu istirahat dan bangun jam 04.00. Saya sempatkan sholat subuh di masjid At Taqwa.

Sekitar jam 06.00 saya naik ojol ke ponpes Al Bahjah. Ongkosnya 25 ribu. Jaraknya sekitar 10 km dari masjid At Taqwa. Sampai di ponpes sekitar jam 06.30. Suasana  tempat kajian masih sepi. Saya manfaatkan waktu untuk melihat-lihat lingkungan ponpes Al Bahjah.

Di depan pintu masuk, saya berjalan ke arah mess santri yang berupa gedung bertingkat. Terlihat para santri bermain bola di lapangan yang juga berfungsi sebagai halaman parkir mobil. Setelah itu saya berwudhu dan masuk ke ruangan  acara kajian.

Saya dapat tempat di shaf kedua. Cukup jelas melihat tempat ustadz memberikan taushiyah. Waktu itu saya berharap bisa melihat langsung taushiyah Buya Yahya. Ternyata beliau berhalangan hadir pada hari itu. Jadwal taushiyahnya diganti oleh dua orang ustadz yang menyampaikan dua materi kajian.

Sekitar satu jam saya mengikuti kajian. Saat kajian tahap kedua berakhir, saya keluar dari ruangan karena waktu sudah menunjukkan jam 08.15. Saya harus siap-siap untuk mengikuti acara berikutnya. Hadiri reuni 30 tahun SMA 1 alumni 1989.

Sebelum pulang, saya sempatkan sarapan di warung di ponpes. Yang menarik yang melayani pembeli itu para santri. Banyak keluarga yang singgah ke warung ini untuk makan dan minum. Saya beli nasi kuning sebungkus. Harganya hanya 2 ribu rupiah. Murah banget. Selesai sarapan saja sempatkan lagi melihat-lihat lingkungan ponpes di dekat pintu keluar. Setelah itu pesan ojol untuk kembali ke hotel.

Perjalanan pulang ke hotel, driver menempuh rute yang berbeda dibandingkan waktu berangkat. Saat pergi, saya melewati rute jalan Kartini -jalan Dokter Cipto – jalan Kanggraksan – jalan Kalitanjung – jalan Pangeran Cakrabuana dan belok kanan ke ponpes Al Bahjah.

Pulangnya lewat jalan Pangeran Cakrabuana –  jalan Sultan Ageng Tirtayasa – jalan Pilang – jalan Slamet Riyadi – jalan Siliwangi.

Ketika di jalan kenalan dan ngobrol dengan driver ojol, tak disangka-sangka ternyata dia kakak kelas waktu SMP. Tiga tahun di atas angkatan saya. Obrolan pun berlanjut seputar masa sekolah dulu. Dia masih ingat guru bahasa Inggris, pak Ali Khusnan, yang ternyata juga mengajar saya dan teman-teman waktu kelas 2.

Tak terasa obrolan berakhir ketika kendaraan sampai di halaman hotel Cordova di depan stasiun Kejaksan.

Sebuah perjalanan yang sangat berkesan. Tidak hanya mendapat ilmu di pengajian, namun juga bertemu teman-teman lama yang tulus dalam menjalin persahabatan.

Pengalaman Pertama di Bandara YIA

Pulang ke Jogja dari Pontianak biasanya saya memilih terbang dari Bandara Supadio ke bandara Adisucipto. Naik pesawat NAM Air atau Express Air. Namun, tanggal 24 Nopember lalu saya mencoba memilih naik Lion Air. Salah satu maskapai yang mendarat di bandara YIA. Berangkat dari Supadio jam 10.00. Harga tiketnya lebih murah daripada tiket pesawat yang mendarat di bandara Adisucipto.

Selain harga tiket yang lebih murah. Rasa ingin tahu alias kepo yang membuat saya memilih penerbangan ini. Ingin tahu seperti apa suasana bandara baru di Kulonprogo ini. Ingin tahu bagaimana rasanya memilih maskapai yang bawaan bagasinya dibatasi. Ingin tahu bagaimana transportasi selanjutnya dari YIA ke Jogja. Semuanya hal baru yang ingin saya ketahui dan jalani.

Sebelumnya sudah bertanya ke teman yang pernah mendarat di bandara ini. Juga saya mencari informasinya di internet. Dari bandara ke kota Jogja naik kendaraan apa? Berapa ongkosnya? Turunnya di mana?

Bekal informasi selengkap-lengkapnya sudah saya kantongi. Langkah selanjutnya adalah menjalani.

Informasi yang saya dapatkan, ada armada DAMRI yang melayani rute dari bandara YIA  ke Jogja. Jika naik bis turunnya di kantor DAMRI di Janti.

Saat check in di bandara Supadio, petugas meminta tas traveling saya supaya ditimbang. Beratnya 6,8 kg. Masih di bawah batas maksimal 7 kg per orang. Petugas memberi tanda dengan kertas kuning bertuliskan cabin baggage. Bagasi yang diperbolehkan dibawa ke kabin.

Sesaat sebelum mendarat di bandara YIA, saya melihat pemandangan yang bagus. Ombak laut pantai selatan. Dari dalam pesawat juga terlihat landasan pacu. Seakan berdekatan dengan pantai selatan.

Saat mendarat di bandara YIA sekitar jam 12 siang, saya bergegas ke luar  pintu kedatangan dan mencari armada DAMRI. Sempat ditawari taksi online, tapi saya tolak dengan halus.

Saya berjalan lagi sampai di parkiran armada DAMRI. Setelah saya sebutkan tujuan perjalanan dan membayar ongkos 50 ribu rupiah, petugasnya mengarahkan saya ke mobil shuttle. Waktu menunggu di dalam mobil, petugasnya memberitahukan supaya saya dan penumpang lainnya pindah ke mobil lain yang berangkat lebih awal.

Mobilnya masih baru. Ada lima penumpang yang naik mobil itu. Tidak menunggu penumpang penuh, mobil berangkat ke Jogja. Di sini saya melihat lingkungan di sekitar bandara sampai dengan pintu keluar masih proses pembangunan.

Perjalanan dari bandara YIA sampai Jogja sekitar 1,5 jam. Saya dan dua orang penumpang turun di jalan Ahmad Dahlan dekat perempatan Malioboro. Penumpang sebelumnya turun di Gamping.

Satu orang turun di depan rumah sakit PKU Muhammadiyah. Dari tempat itu saya lanjut perjalanan ke rumah bapak ibu mertua menggunakan taksi online. Ongkosnya 30 ribu.

Ada yang masih bikin saya penasaran.  Perjalanan sebaliknya. Dari kota Jogjakarta ke bandara YIA. Ini yang saya harus cari informasi dan praktekkan lagi 🙂

Reuni Sambil Berwisata

Reuni 3o tahun dengan teman-teman kuliah angkatan 1989 Fakultas Kehutanan UGM itu akhirnya tidak bisa saya ikuti. Karena saya dan teman-teman di camp sedang mempersiapkan untuk kegiatan sertifikasi pengelolaan hutan pada akhir bulan Oktober.

Acara reuni diadakan di Jogja tanggal 19-20 Oktober yang lalu. Melihat foto-foto kegiatannya, ada rasa penyesalan muncul di hati. Kenapa saya tidak berada di sana bersama teman-teman?

Diawali dengan acara di fakultas. Sebagian teman-teman yang setelah lulus belum pernah bertemu, pada saat itu berkumpul kembali. Dari 126 orang teman seangkatan yang hadir reuni 60 orang. Berfoto di ruang dekan yang juga angkatan 1989, Doktor Budiadi, ahli Agroforestry lulusan Jepang. Malam sebelumnya, teman-teman yang sudah datang bertemu di acara ramah tamah di fakultas, bergabung dengan kakak dan adik angkatannya.

Pagi harinya dengan menggunakan kaos dan rompi yang seragam, mereka berfoto di depan fakultas yang papan plang penandanya sudah direnovasi. Diganti dengan latar belakang gelondongan kayu yang dipotong-potong dan di depannya bertuliskan Fakultas Kehutanan UGM. Setelah itu mereka berfoto di depan Gedung Pusat.

Acara dilanjutkan dengan perjalanan ke hutan pendidikan Wanagama. Proses napak tilas mengenang kembali masa-masa ketika kami pada tahun 1989 belajar bagaimana menghijaukan daerah yang awalnya gersang.

Setelah itu, lokasi berikutnya yang dikunjungi adalah tempat wisata Tebing Breksi. Panorama di sore hari menjelang senja cukup bagus dinikmati. Selesai dari Tebing Breksi, peserta reuni diajak menikmati makanan khas Jogja, gudeg Yu Jum, di sekitar lokasi Tebing Breksi.

Pengaturan acara reuni memang profesional. Teman-teman yang tinggal di Jogja membentuk panitia. Anggotanya Budiadi, Joko “Kempong” Sulistyo, Joko “Kepek” Supriyadi, Darul Falah, Liliek Harijanto, Setiaji Heri Saputro, Anik Sulistyawati dan Israr Ardiansyah. Saat rapat beberapa kali membahas persiapan reuni, pak dekan menyediakan ruang kerjanya.

Untuk akomodasi, ketua panitia yang juga kami biasa menyebutnya kepala suku angkatan ’89, Israr Ardiansyah, menyediakan rumahnya yang biasanya digunakan sebagai home stay untuk dijadikan menginap teman-teman dari luar Jogja. Gratis. Luar biasa semangatnya untuk membantu teman-teman. Semua peserta puas dengan jadwal acara dan pelayanannya.

Karena puas dan berkesan, bahkan teman-teman yang datang dari Pekanbaru, Medan, Sumba, Jambi, Lampung menginginkan agar reuni seperti ini bisa diadakan lagi. Bisa di tempat yang berbeda atau di tempat yang sama, sekaligus untuk menengok keluarga atau anak-anaknya yang kuliah di Jogja.

Bertemu Lagi Kawan Lama di Camp

Kemarin di tempat kerja, saya menerima tamu seorang wanita. Mahasiswa S2 dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pontianak. Namanya Siti Nurlaila. Sehari-hari bekerja sebagai guru negeri. Rencananya dia akan survei awal penelitian tentang konservasi.

Setelah menemui saya di ruang kerja, saya baru ingat ternyata dia dulu waktu penelitian S1-nya juga di tempat kerja saya. Tidak hanya menyelesaikan skripsinya, dia juga bertemu jodohnya di camp. Nama suaminya Slamet Imam Zarkasyi. Bekerja di bagian yang sama dengan saya pada waktu itu. Di Pembinaan dan Perlindungan Hutan. Di hutan mereka bertemu dan akhirnya memutuskan untuk menikah.

Setelah menikah dan memiliki anak, mas Imam, demikian saya biasa memanggilnya memutuskan berhenti kerja dan pindah ke Nanga Pinoh. Di kota itu dia diterima sebagai tenaga sekuriti di Telkom. Sejak itu sampai sekarang dia tinggal di Pinoh bersama keluarganya.

Yang tidak saya duga, ternyata waktu istrinya ke camp, mas Imam juga ikut mendampingi. Alhamdulilah, sempat bertemu di kantor dan bahkan bersama-sama sholat Asar dengan saya dan teman-teman kerja lainnya. Sebuah pertemuan yang menurut saya sudah diatur Allah SWT. Kenapa?

Karena sewaktu saya dari camp transit di Pinoh sebelum berangkat ke Pontianak, belum pernah singgah ke rumahnya. Pernah bertemu sewaktu di jalan atau di terminal bis Sidomulyo.

Demikian juga ketika saya dari Pontianak akan ke camp dan singgah di Pinoh, belum sekali pun datang ke rumahnya. Padahal dia menawarkan supaya saya singgah kalau di Pinoh.

Sebuah pertemuan yang tak terduga dan mengesankan. Sekaligus reuni dengan teman lama di camp.

Mas Slamet Imam Zarkasyi berdiri paling kiri

 

Hujan di Akhir September

Alhamdulillah.

Hujan yang ditunggu-tunggu pun akhirnya turun juga. Di akhir September. Hujan yang mampu menghilangkan kabut asap. Yang sebulan ini melanda wilayah Kalimantan. Tak terkecuali di camp. Sebagian karyawan bekerja menggunakan masker yang dibagikan pihak perusahaan. Termasuk ketika berangkat dan pulang kerja. Udara terasa pengap.

Bangunan camp masih terlihat jelas ketika terjadi kabut asap. Namun kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya tajuk pohonnya terlihat putih tertutup kabut asap.

Kini pemandangannya berbeda. Pohon-pohon yang terlihat putih terselubungi asap perlahan  menghijau lagi. Debu-debu tebal di jalanan yang beterbangan ketika kendaraan melintas tak ada lagi. Karyawan pun tak perlu lagi menyiram jalanan di depan mess supaya basah. Udara kering dan panas berubah menjadi sejuk dan segar.

Semoga ini menjadi akhir musim kemarau di tahun ini. Dan pertanda musim hujan telah tiba.

Sudah Ada Warung Bakso di Camp

Keinginan saya akhirnya terkabul. Bahwa suatu saat ada yang jualan bakso di camp. Meski harus menempuh perjalanan 45 menit dari km 35 ke logpond, rasanya puas bisa nikmatin enaknya makan bakso di warung bakso barokah.

Warung bakso yang menyediakan macam-macam bakso. Ada bakso biasa, bakso urat, bakso beranak, bakso lava dan juga mie ayam. Minumannya juga ada es kopyor dan es kelapa muda campur susu.

Biasanya kalau ada teman yang pergi ke arah logpond atau sebaliknya yang dari Pinoh atau Pontianak, singgah dulu di buat ngebakso. Ada juga yang bawakan oleh-oleh buat koleganya. Juga ada yang nitip ke driver dari teman-teman yang tugasnya di kantor.

Baksonya memang enak. Kalau kita ke warungnya bisa makan sambil lesehan. Yang jualan suami istri  warga desa di sekitar perusahaan. Menyediakan menu yang selama ini dirindukan karyawan perusahaan. Yang kalau ingin makan bakso harus pergi ke Nanga Pinoh, Sintang  atau Pontianak. 🙂

Tambahkan Nama Kelurahan dan Kode Pos Ketika Kirim Barang via JNE

Setiap bulan saya rutin mengirim dokumen dari Pontianak ke Jakarta via JNE. Biasanya saya datang langsung ke kantor JNE di jalan Merdeka. Meski jaraknya lebih jauh dari rumah, kantor tersebut buka lebih awal. Jam 6 pagi sudah buka. Sementara agen JNE yang dekat rumah buka jam 7 pagi.

Kesempatan datang ke JNE di jalan Merdeka biasanya setelah saya antar Nabil ke sekolah.  Ada sesuatu yang berbeda ketika saya akan mengirim dokumen ke Jakarta tangal 7 Agustus lalu. Setelah mengambil nomor antrian, saya menunggu giliran dipanggil. Ketika giliran saya, petugasnya bilang supaya alamatnya dilengkapi dengan nama kelurahan dan kode pos karena di sistem aplikasi dua informasi itu harus dimasukkan. Jika tidak, dokumen tidak bisa dikirim.

Petugasnya memberikan pilihan apakah saya mau cari informasi atau hubungi langsung ke personil yang tercantum di alamat tujuan. Saya jawab saya mau telepon dulu ke kantor di Jakarta untuk minta informasi. Oleh petugas saya dipersilakan kembali ke kursi antrian dan diberikan dispensasi kalau datanya sudah dapat supaya langsung kasih tahu dia.

Saya pun telpon ke rekan di kantor Jakarta meminta  datanya. Dan Alhamdulillah saat itu juga langsung datanya saya terima.

Satu lagi hal baru ketika saya mau bayar ongkirnya. JNE memberikan pilihan apa mau dibayar tunai atau via gopay. Saya pilih via gopay. Padahal ini baru pertama kali saya bayar ongkir JNE pakai e – money. Pengin coba praktekan fintech. Bayar pakai aplikasi di handphone. Apalagi ada cash backnya yang 5 ribu.

Nggak langsung lancar karena belum tahu langkah-langkahnya. Masih dua kali error. Akhirnya yang ketiga kalinya baru bisa. Ternyata gopay nggak hanya dipakai untuk pesan online motor, mobil dan makanan. Bayar ongkir JNE pun bisa.

Lupa Libur

Seperti hari-hari sebelumnya, kemarin hari Minggu tanggal 19 Mei saya ke kantor. Awalnya sudah curiga. Kok jendela dan korden di lantai dua masih tertutup? Dugaan saya, ini pasti office boy kesiangan.

Waktu di depan kantor, rasa curiga itu tambah kuat. Kok pintu kantor tertutup? Dan waktu saya buka dan masuk ke kantor, ternyata hanya ada satu karyawan yang masuk. Itu pun nggak pakai seragam kantor. Saya tambah penasaran.

“Lho, hari ini libur to mas?”tanya saya

“Ya, Pak. Ini kan hari Waisak. Libur Nasional”jawabnya sambil senyum-senyum  melihat saya.

“Saya kira pak Yudhi tadi mau dampingi tamu. Kok ke kantor pakai seragam”tambahnya lagi.

“Astaghfirullah al azhiim. Rupanya hari ini hari libur”saya baru ngeh  🙂

Tugas Dadakan

Beberapa kali saya dapat tugas dadakan yang berkaitan dengan public speaking. Berbicara di depan orang banyak. Pernah waktu malam Jumat, ada teman yang WA saya.

“Besok mohon bisa gantikan saya tugas jadi imam dan khotib sholat Jumat ya, Pak”.

Pesannya baru saya balas paginya. “Ya, Insyaa Allah saya siap”.  Dan pagi itu saya siapkan materi yang akan disampaikan saat khotbah Jumat.

Pernah juga waktu acara peringatan Maulid Nabi Muhammad, teman yang mewakili pimpinan perusahaan tidak bisa berikan sambutan. Karena saat yang sama ada kunjungan tamu dari kecamatan. Agendanya pertandingan bulutangkis persahabatan. Waktu kegiatan bersamaan dengan maulid nabi.

Akhirnya teman tersebut telpon saya minta tugasnya digantikan saya. Saya pun mengiyakan karena pas nggak ada acara dan juga akan hadir di acara Maulid. Yang terbaru, dua hari lalu. Saat acara peringatan Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional. Yang acaranya disatukan di hari yang sama. Karena sudah dekat dengan ujian.

Saya baru tahu dikasih tugas sebagai pembaca doa ketika acara berlangsung. Kalau pemberitahuannya mendadak gini, saya ambil sikap tenang. Maju ke panggung, memberikan uluk salam.

Kemudian mulai berdoa dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Sudah nggak sempat lagi nyiapkan konsep doa. Untungnya setiap habis sholat saya selalu berdoa. Yang kadang-kadang dengan suara pelan. Di lain waktu dengan suara agak keras waktu jadi imam.

Nggak semua permintaan tugas dadakan itu saya penuhi. Pernah juga saya tolak.  Karena saat yang sama saya sedang mendampingi tamu perusahaan.

Semua kegiatan memang seharusnya direncanakan. Tapi terkadang ada tugas dadakan yang kita harus siap mengerjakannnya.