Munzalan Ashabul Yamin, Ponpes Modern di Tengah Pemukiman Warga

Sewaktu di camp di awal Ramadhan dan ngobrol  santai di masjid dengan ustadz yang datang dari Pontianak, saya bercerita tentang ustadz Lukmanul Hakim, Pengasuh Ponpes Munzalan Ashabul Yamin, Kubu Raya.

Sebelumnya saya sudah baca buku karyanya yang berjudul Mustahil Miskin. Saya juga mendengar dari istri kalau ustadz Lukmanul Hakim sering mengisi pengajian Adh Dhuha di masjid Mujahidin Pontianak. Pengajian yang jamaahnya ibu-ibu semua.

Terbersit dalam hati ingin sekali datang dan silaturahmi ke Ponpesnya. Niat itu akhirnya kesampaian sewaktu saya ke Pontianak  sekitar dua minggu lalu. Setelah mengikuti rapat selama dua hari,  Sabtunya saya dan istri bersilaturahmi ke ponpes yang berada di tengah pemukiman tersebut. Istri berniat menyerahkan sumbangan uang untuk gerakan sedekah beras yang akan disalurkan bagi anak-anak panti asuhan.

Setelah bertemu dengan pengurus Baitul Maal Tamwil  (BMT) yang menerima sedekah tersebut, kami melihat-lihat suasana sekitar ponpes. Di masjid sedang ada kajian, jadi kami nggak masuk. Ada yang unik dari bangunan masjidnya. Bentuknya seperti kapal. Ada juga Radio Munzalan yang berada di sebelah BMT. Di seberang masjid.

Ponpes berada di tengah-tengah pemukiman warga. Membaur dengan warga sekitar. Bahkan ada terpal memanjang yang dipasang di sepanjang jalan di depan ponpes. Lingkungannya juga bersih, tertata rapi dan petugas yang melayani juga ramah-ramah. Rasanya betah ingin berlama-lama di situ.

Sayangnya waktu itu kami nggak bertemu dengan Ustadz Lukmanul Hakim. Ingin sih, kenalan dan ngobrol-ngobrol dengan ustadz lulusan Gontor tersebut.

Semoga di kesempatan selanjutnya bisa silaturahmi lagi ke ponpes modern itu.

Senangnya Bisa Beli Buah-buahan Langsung di Kebunnya

“Mas, hari libur kita ke kebuh buah-buahan yuk”kata mamanya Aysha.

“Dimana?”tanya saya

‘Di jalan Perjuangan, simpang Ampera terus ke barat”tambahnya

“Ya, boleh, hari libur kita ke sana”kata saya

Kami bertiga: saya, mamanya Aysha dan Nabil pun berangkat menuju tempat yang dimaksud.

Karena informasi tempatnya mengandalkan ingatan mamanya Aysha, saya coba manfaatkan google maps. Rupanya di peta digital itu belum ada penanda tempat yang dimaksud. Akhirnya, diputuskan bertanya langsung kepada orang-orang yang kami temui. Setelah berada di jalan Perjuangan, kami berhenti di dekat lapak penjual makanan. Mamanya Aysha bertanya dan diperoleh informasi, tempatnya masih lurus setelah itu ada gang dan belok kanan.

Sampai di gang yang dimaksud, saya tengok kiri kanan mencari papan nama lokasi kebun buah. Nggak ketemu juga. Terpaksa mama Aysha turun lagi dari mobil. Juga saya menanyakan ke orang- orang yang tinggal di daerah itu. Saya diberitahu bahwa lokasinya sudah terlewati.

“Itu, pak, sebelum masjid, sebelah kanan ada jalan masuk, tapi mobil nggak bisa masuk. Harus jalan kaki”kata seorang bapak sambil menunjuk ke kubah masjid yang terlihat dari depan rumahnya.

Mobil saya putar dan kembali menuju ujung jalan masuk dan parkir di halaman masjid. Kami bertiga jalan kaki ke kebun buah yang dimaksud. Setelah melewati pintu gerbang, saya lihat tidak ada tanaman buah. Yang ada bedengan-bedengan yang ditutup plastik dan ada lubang di atasnya yang tumbuh semai.

Kami pun mendekati seseorang yang sedang memperbaiki mesin potong rumput di rumah di belakang kebun buah.

Dari informasi yang kami peroleh, di kebun milik Tim Penggerak PKK Propinsi Kalbar ini memang setelah panen, baru disemaikan lagi. Jadi belum ada tanaman yang besar.

“Kalau bapak ingin lihat yang sudah besar, bisa lihat kebun yang di Kurnia, sebelum simpang Ampera sebelah kanan jalan”dia menjelaskan.

Setelah mendapat informasi itu, kami pun mencari tempat yang dimaksud. Mobil saya kemudikan perlahan-lahan mendekati simpang Ampera. Mata saya fokuskan melihat nama-nama jalan yang berada di sebelah kanan jalan Prof M. Yamin. Dan akhirnya mobil saya belokkan setelah melihat plang nama jalan Kurnia. Sekitar 100 meter dari jalan Prof Yamin, di sebelah kiri jalan tepat di samping Kantor Kelurahan Kotabaru, saya temukan lokasi kebun buah itu.

Di kebun buah yang dikelola Tim Penggerak PKK Kota Pontianak itu, pemandangannya bagus sekali. Stelah melewati pintu masuk, kita akan disambut dengan buah-buah prenggi, sejenis blewah yang bergelantungan di atas kepala kita. Oleh pengelolanya, tanaman itu dirambatkan ke atas membentuk atap. Pemandangan daun hijau terlihat indah dengan kombinasi buahnya berwarna oranye kemerahan yang bergelantungan.

Tak hanya itu, saat kita masuk dan belok ke sebelah kiri, tampak tanaman melon di kanan-kiri jalan yang buahnya siap dipanen, Juga tanaman labu yang buahnya bergelantungan di atas dan samping jalan.

Pengunjung bisa langsung membeli buah segar tersebut. Saya coba memetik dua buah melon langsung dari pohonnya. Harganya sekilo 20 ribu rupiah.

“Itu anak-anak muda yang memetik melon anak-anak SMK yang sedang praktek. Anak-anak sekolah juga sering datang ke sini sama guru-gurunya. Bagus supaya mereka tahu buah melon nggak cuma di toko saja”kata pak Bambang, pengelola kebun itu.

Betul, pak. Ini anak saya juga tadi nanya,”Pohon melonnya mana, Pa?”

“Ituu… yang merambat di tongkat kayu”jawab saya

Saya baru paham, rupanya Nabil mengira pohon Melon itu bentuknya tinggi dan besar seperti pohon mangga atau jambu 🙂

 

Bertemu Teman-Teman Lama di Palangkaraya

Jika berada di satu kota, saya berusaha bertemu dengan teman-teman yang tinggal atau bekerja di kota itu. Tak terkecuali ketika saya berada di Palangkaraya dalam rangka tugas. Mengikuti pembinaan tenaga teknis yang diadakan Balai Pengelolaan Hutan Produksi wilayah X Palangkaraya.

Saat berada di bandara tanggal 22 Mei menunggu terbang ke Palangkaraya, saya berusaha hubungi Nandang, teman kuliah, yang bekerja di BKSDA. Saya ngobrol via WA dan mengajak bertemu. Rupanya dia sudah pindah ke Jakarta sejak Pebruari lalu.

Saya coba hubungi teman lainnya yang bekerja di Dinas Kehutanan Propinsi. Namanya Rujito. Juga teman satu angkatan waktu kuliah di Jogja. Waktu itu belum ada jawaban. Alhamdulillah, sampai di Palangkaraya ada tanggapan dan dia menanyakan posisi saya. Setelah saya jelaskan saya sudah sampai di Palangkaraya, kami pun janjian bertemu tanggal 23 Mei malam. Dia juga berusaha hubungi Gunawan teman sekantornya. Selesai acara  di hotel Aquarius sekitar jam 2 siang, saya dihubungi lagi oleh Rujito. Malah dia bilang hotelnya itu dekat dengan tempat kerjanya. Hanya saja karena selesai acara diajak teman-teman dari perusahaan lain ngebakso di warung Arema, saya nggak sempat datang ke kantornya.

Sore hari menjelang maghrib Rujito telepon. Tapi karena handphone saya low batt, belum sempat saya jawab, sambungan telepon terputus. Saya harus isi dulu baterenya beberapa menit. Saya coba hubungi balik Rujito dengan handphone yang satunya. Disepakati, dia akan jemput saya di hotel dan setelah itu ke rumah Gunawan, baru ke kedai kopi.

Sekitar jam 19.30, Rujito menjemput saya di hotel dan kami berdua meluncur ke rumah Gunawan. Saat kami datang ke rumahnya, kondisi Gunawan sedang kurang fit karena batuk dan pilek. Setelah ngobrol di rumahnya, sekitar jam 21.00 kami pun pergi mencari kedai kopi.

Sampai di tempat, kami pesan kopi gayo dan robusta dengan cemilan roti bakar. Nikmatnya ngopi dan ngemil sambil bernostalgia dengan teman lama. Nggak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 22.20. Sudah lewat dari jadwal kedai kopi yang tutupnya pukul 22.00. Meski pintu sliding door kedai sudah tutup, namun saya lihat masih ada beberapa pengunjung yang berada di kedai itu.

“Besok siapa yang antar ke bandara?Kalau belum ada, nanti saya antar”tanya Rujito di dalam mobil sewaktu mengantar saya kembali ke hotel.

“Saya sudah pesan kawan, supaya jemput jam 5 pagi antar ke bandara”jawab saya.

“Kamu ke Palangka cuma sebentar, kalau agak lama, kita jalan-jalan lagi”kata Rujito.

“Makasih, Insyaa Allah kalau ke Palangka lagi saya hubungi. Saya ingin juga lihat tempat rehabilitasi orang utan”komentar saya

“Oo.. rehabilitasi orang utan nyaru menteng ya”kata Gunawan

Obrolan kami pun berakhir ketika mobil sampai di hotel. Setelah turun dari mobil, saya berkali-kali bilang terima kasih ke Rujito dan Gunawan. Semoga kita bisa bertemu lagi ya teman. Bersilaturahmi, bernostalgia dan menikmati sedapnya segelas kopi robusta dan lezatnya roti bakar di Palangkaraya.

 

 

 

Nikmati Durian di Sintang Sebelum Terbang ke Jogja

Jpeg

Yang namanya bertugas mendampingi tamu, saya sering mengalami permintaan mendadak dari sang tamu. Ada yang pernah pesan minta dicarikan pisang nipah atau pisang kepok. Sebelum tamu mendarat di Sintang, dia lewat pendampingnya di Pontianak sms saya supaya carikan buah itu untuk dibawa ke camp.

Ada juga yang ingin makan buah durian sebelum pulang. Seperti awal Desember lalu ketika mengantar tamu ke bandara Sintang. Tamu dari UGM dan Jepang tersebut pesan ke saya supaya cari buah durian dulu sebelum ke bandara. Dan permintaan itu mendadak ketika kami selesai ngopi dan sarapan di Nanga Pinoh.

Berangkat dari camp jam 6 pagi ke Sintang, perjalanan normal perlu waktu 4 jam. Pesawat Sintang-Pontianak rencana terbang jam 12.10. Saya bilang kita cari duriannya di Sintang saja ya, karena dari Nanga Pinoh ke Sintang masih 1,5 jam perjalanan.

Pada awal kedatangan tamu, di tepi jalan dekat bandara memang ada penjual durian. Tapi ketika masuk kota Sintang, teman yang bawa mobil di depan rupanya membawa kami ke pasar Sungai Durian.

Sampai di pasar, kami langsung menuju lapak seorang bapak yang jualan di emperan toko yang sedang tutup. Satu per satu tamu mencicipi buah durian, terasa nikmat makan buah durian langsung di tempat jualan. Saya sendiri cukup makan dua butir. Enak sih enak tapi ingat dengan kesehatan. Kalau makan durian agak banyak, kepala terasa pusing.

Jpeg

Puas menikmati durian di pasar, jam 10.30 kami bergegas menuju bandara karena khawatir ketinggalan pesawat. Setelah tamu check in dan masuk ruang boarding, ada pemberitahuan dari petugas bandara bahwa pesawat delay dan baru mendarat jam 14.20 WIB. Tiga tamu keluar ruang tunggu dan ketemu saya di mushola

“Lho, kok masih di sini, saya kira sudah balik ke Pinoh”kata seorang tamu

“Kami tunggu sampai pesawat yang membawa bapak terbang. Mari kita makan siang dulu, pak”jawab saya dan mengajak tamu berjalan ke warung di kompleks bandara

Sempatkan Belanja ke Pasar Flamboyan

Biasanya waktu di Pontianak dan sebelum kembali ke camp, saya sempatkan belanja ke pasar Flamboyan. Berdua sama istri, kadang-kadang juga sendiri. Beli jagung manis, wortel, tomat dan kentang. Juga cemilan kue semprong dan minuman instan seperti jahe wangi, kopi susu atau sereal. Karena belanja sendiri jadi tau harganya. Lebih murah daripada kalau beli di supermarket atau toko dekat rumah.

Proses jual beli juga saya sukai. Ada obrolan yang terkadang menyentuh hati. Seperti ketika saya beli jagung manis. Saya tanya berapa harga sebiji jagung manis, ibu yang jualan bilang dua ribu. Waktu saya beli sepuluh biji terus ditambahi sebiji.

Beli barang yang ditimbang juga saya nikmati. Seperti waktu beli kentang, wortel dan tomat. Setelah memilih barang, ditimbang oleh pedagang, ada kalanya timbangannya kurang, terus saya disuruh ambil lagi tomatnya. Baru saya bayar sesuai harganya perkilo.

Selain beli sayur dan buah, saya ke pasar juga sering beli cemilan. Biasanya saya dan istri beli makanan khas jawa seperti getuk. Beberapa hari lalu saya nggak ketemu bapak yang jual getuk. Waktu ada seorang ibu yang berdiri menawarkan kue semprong di dekat pintu masuk, saya tertarik untuk beli kuenya. Saya dekati dan tanya berapa harganya. Dua plastik harganya lima ribu rupiah. Saya beli enam plastik. Senang rasanya ketika saya mau beli, ada ibu lain datang dan juga beli satu pastik ukuran besar. Semoga jualannya laris ya, bu..

Kesibukan di pasar Flamboyan sama seperti pasar-pasar tradisional lain. Pagi-pagi sudah ramai oleh penjual dan pembeli. Kalau saya berangkat dari Pinoh jam 7 malam naik bis dan sampai Pontianak jam 4 pagi, saya sering melihat kesibukan di sekitar pasar Flamboyan. Sambil dibonceng naik ojek, saya lihat berbagai sayuran segar dan buah di lapak-lapak tepi jalan Pahlawan. Mobil dan motor juga terlihat memenuhi tepi jalan Gadjah Mada yang dijadikan tempat parkir sementara.

Pernah juga berpapasan dengan tetangga yang naik motor pulang dari kulakan sayur, bahan makanan  dan kue-kue.

Semuanya berkesan saat belanja di pasar tradisional, apalagi setelah pasar Flamboyan direnovasi. Luas tempatnya, bisa beli sayuran dan buah segar yang harganya lebih murah, juga dengar tegur sapa pedagangnya.

Jogging Dulu, Memotret Pemandangan Kemudian

Rasanya puas bisa memotret pemandangan di sekitar tempat kerja di pagi hari. Meski udara sejuk dan baru saja turun hujan, niat yang kuat untuk jogging dan memotret menggerakkan kaki ini untuk keluar kamar. Suasana pagi di hari libur itu masih sepi. Teman-teman kerja sebagian besar masih di kamar.

Biasanya ada dua orang yang rajin jogging di pagi hari. Satu orang teman kerja di bagian keuangan dan satu lagi mbak yang bertugas di dapur staf. Mereka biasa jalan mengelilingi lapangan bulu tangkis. Kalau turun hujan, jalan kaki di selasar mess

Pagi itu, setelah keluar kamar saya jalan pelan-pelan dulu. Setelah itu baru lari-lari di lingkungan kantor, kalau terasa letih istirahat sebentar dan sempatkan memotret pemandangan di sekitarnya

Dan ternyata pemandangan pagi hari itu sungguh indah.  Ini dia hasil jepretanya

Jpeg

Jpeg

 

Kembali ke Base Camp Lagi

Jpeg

Setelah sekitar dua minggu menjalani cuti, akhir bulan Agustus lalu saya kembali ke base camp. Kembali pada rutinitas kerja di tengah rimba.

Waktu memang terasa cepat berjalan. Setelah dari Jogja, saya sempatkan ke Semarang dulu menengok orangtua. Naik bis Joglosemar. Menginap semalam di rumah bapak ibu dan besoknya baru terbang ke Pontianak.

Dari Semarang biasanya saya pilih penerbangan langsung ke Pontianak naik Kalstar. Tapi waktu mau beli tiket online, jadwal terbangnya jam sekitar 7 malam. Cari alternatif lain dan akhirnya saya pilih naik Sriwijaya Air yang berangkatnya jam 12 siang meski transit di Jakarta dulu. Harga tiketnya kurang lebih sekitar 700 ribu. Nah, kalau pulangnya itu memang di luar rencana, beda dengan waktu berangkat dari Pontianak yang memang saya rencanakan lewat Jakarta.

Menginap semalam di rumah di Pontianak, besok malamnya sudah berangkat lagi ke Nanga Pinoh naik bis Damri. Sampai di Pinoh istirahat sekitar jam 4.30, istirahat terus jam 8.30 lanjut lagi berangkat ke camp naik oplet dan dilanjutkan dengan kendaraan perusahaan.

Banyak pengalaman selama di perjalanan. Merasakan suasana baru. Ketemu teman-teman, orangtua dan sanak saudara. Juga menikmati kuliner khas kotanya, mencoba hal-hal baru seperti beli tiket kereta api online dan naik taksi Grab.

Kalau sudah seperti itu, rasanya travelling itu jadi satu kebutuhan.