Sempatkan Belanja ke Pasar Flamboyan

Biasanya waktu di Pontianak dan sebelum kembali ke camp, saya sempatkan belanja ke pasar Flamboyan. Berdua sama istri, kadang-kadang juga sendiri. Beli jagung manis, wortel, tomat dan kentang. Juga cemilan kue semprong dan minuman instan seperti jahe wangi, kopi susu atau sereal. Karena belanja sendiri jadi tau harganya. Lebih murah daripada kalau beli di supermarket atau toko dekat rumah.

Proses jual beli juga saya sukai. Ada obrolan yang terkadang menyentuh hati. Seperti ketika saya beli jagung manis. Saya tanya berapa harga sebiji jagung manis, ibu yang jualan bilang dua ribu. Waktu saya beli sepuluh biji terus ditambahi sebiji.

Beli barang yang ditimbang juga saya nikmati. Seperti waktu beli kentang, wortel dan tomat. Setelah memilih barang, ditimbang oleh pedagang, ada kalanya timbangannya kurang, terus saya disuruh ambil lagi tomatnya. Baru saya bayar sesuai harganya perkilo.

Selain beli sayur dan buah, saya ke pasar juga sering beli cemilan. Biasanya saya dan istri beli makanan khas jawa seperti getuk. Beberapa hari lalu saya nggak ketemu bapak yang jual getuk. Waktu ada seorang ibu yang berdiri menawarkan kue semprong di dekat pintu masuk, saya tertarik untuk beli kuenya. Saya dekati dan tanya berapa harganya. Dua plastik harganya lima ribu rupiah. Saya beli enam plastik. Senang rasanya ketika saya mau beli, ada ibu lain datang dan juga beli satu pastik ukuran besar. Semoga jualannya laris ya, bu..

Kesibukan di pasar Flamboyan sama seperti pasar-pasar tradisional lain. Pagi-pagi sudah ramai oleh penjual dan pembeli. Kalau saya berangkat dari Pinoh jam 7 malam naik bis dan sampai Pontianak jam 4 pagi, saya sering melihat kesibukan di sekitar pasar Flamboyan. Sambil dibonceng naik ojek, saya lihat berbagai sayuran segar dan buah di lapak-lapak tepi jalan Pahlawan. Mobil dan motor juga terlihat memenuhi tepi jalan Gadjah Mada yang dijadikan tempat parkir sementara.

Pernah juga berpapasan dengan tetangga yang naik motor pulang dari kulakan sayur, bahan makanan  dan kue-kue.

Semuanya berkesan saat belanja di pasar tradisional, apalagi setelah pasar Flamboyan direnovasi. Luas tempatnya, bisa beli sayuran dan buah segar yang harganya lebih murah, juga dengar tegur sapa pedagangnya.

Jogging Dulu, Memotret Pemandangan Kemudian

Rasanya puas bisa memotret pemandangan di sekitar tempat kerja di pagi hari. Meski udara sejuk dan baru saja turun hujan, niat yang kuat untuk jogging dan memotret menggerakkan kaki ini untuk keluar kamar. Suasana pagi di hari libur itu masih sepi. Teman-teman kerja sebagian besar masih di kamar.

Biasanya ada dua orang yang rajin jogging di pagi hari. Satu orang teman kerja di bagian keuangan dan satu lagi mbak yang bertugas di dapur staf. Mereka biasa jalan mengelilingi lapangan bulu tangkis. Kalau turun hujan, jalan kaki di selasar mess

Pagi itu, setelah keluar kamar saya jalan pelan-pelan dulu. Setelah itu baru lari-lari di lingkungan kantor, kalau terasa letih istirahat sebentar dan sempatkan memotret pemandangan di sekitarnya

Dan ternyata pemandangan pagi hari itu sungguh indah.  Ini dia hasil jepretanya

Jpeg

Jpeg

 

Kembali ke Base Camp Lagi

Jpeg

Setelah sekitar dua minggu menjalani cuti, akhir bulan Agustus lalu saya kembali ke base camp. Kembali pada rutinitas kerja di tengah rimba.

Waktu memang terasa cepat berjalan. Setelah dari Jogja, saya sempatkan ke Semarang dulu menengok orangtua. Naik bis Joglosemar. Menginap semalam di rumah bapak ibu dan besoknya baru terbang ke Pontianak.

Dari Semarang biasanya saya pilih penerbangan langsung ke Pontianak naik Kalstar. Tapi waktu mau beli tiket online, jadwal terbangnya jam sekitar 7 malam. Cari alternatif lain dan akhirnya saya pilih naik Sriwijaya Air yang berangkatnya jam 12 siang meski transit di Jakarta dulu. Harga tiketnya kurang lebih sekitar 700 ribu. Nah, kalau pulangnya itu memang di luar rencana, beda dengan waktu berangkat dari Pontianak yang memang saya rencanakan lewat Jakarta.

Menginap semalam di rumah di Pontianak, besok malamnya sudah berangkat lagi ke Nanga Pinoh naik bis Damri. Sampai di Pinoh istirahat sekitar jam 4.30, istirahat terus jam 8.30 lanjut lagi berangkat ke camp naik oplet dan dilanjutkan dengan kendaraan perusahaan.

Banyak pengalaman selama di perjalanan. Merasakan suasana baru. Ketemu teman-teman, orangtua dan sanak saudara. Juga menikmati kuliner khas kotanya, mencoba hal-hal baru seperti beli tiket kereta api online dan naik taksi Grab.

Kalau sudah seperti itu, rasanya travelling itu jadi satu kebutuhan.

Nostalgia di Warung Makan SGPC Bu Wiryo

Jpeg

“Siang ini kita makan dimana?”tanya Budiadi, teman kuliah yang sekarang jadi dosen di fahutan UGM.

“SGPC, ya”kata teman saya lainnya, Gunawan, yang juga berprofesi sebagai dosen di kampus yang sama.

Saat ke Jogja, saya memang sempatkan untuk dolan ke kampus. Janjian ketemu dengan teman-teman kuliah dulu. Dua orang teman yang jadi dosen itu memang teman akrab saya. Dulu waktu kuliah satu angkatan, satu jurusan bahkan satu geng. Ada satu lagi sebenarnya yang masuk geng kami. Namanya Agung, sekarang dia kerja di perusahaan perkayuan di Riau. Punya istri yang juga seangkatan, juga sejurusan.

Jpeg

Setelah ngobrol di ruang kerja, kami bertiga makan siang di salah satu warung makan legendaris, warung makan SGPC bu Wiryo. Di sebelah utara kampus Fakultas Peternakan. Dulu waktu kami kuliah, warung makannya masih di dekat Fakultas Teknologi Pertanian.

Menu andalannya sego pecel alias nasi pecel dan sayur sop. Saya pesan nasi pecel, menu kesukaan  yang sudah lama nggak saya rasakan.

Selesai makan siang, kami kembali ke kampus. Sempat ditawari ke ruang rapat jurusan pas waktu coffee break. Lha, ketemu lagi dengan dosen-dosen senior. Setelah bersalaman, saya ikut gabung dan ngobrol dengan dosen yang dulu pernah mengajar kami bertiga, juga mendampingi waktu praktikum.

Selesai temu kangen dengan beberapa dosen, saya pamit. Sempat diminta juga untuk bawa pulang cemilan yang ada di ruang rapat. Karena saya agak sungkan, Gunawan sampai mengambilkan beberapa kue dan kantong plastik. Wah, kalau sudah begini susah nolaknya. Untuk menghargai mereka, saya bawa pulang cemilannya.

Jpeg

Yang saya surprise itu ketika saya pamit ke Budiadi dan Gunawan. Biasanya kita melepas kepergian tamu di depan kantor atau halaman. Tapi Gunawan mengantar saya sampai ke tempat parkir. Walah… nampaknya dia masih ingin ngobrol lama dengan saya. Cuma karena saya dititipi anak sulung, Nadia, untuk servis laptop, saya nggak bisa berlama-lama. Sekitar jam 2 siang, saya tinggalkan kampus yang penuh kenangan dan sambutan hangat teman-teman. Sampai ketemu lagi yaaaa.

Mudah dan Nikmatnya Naik Kereta Api

Jpeg

Biasanya kalau mau ke Jogja atau Semarang, saya pakai pesawat yang langsung dari Pontianak. Pakai Express Air rute Pontianak – Jogja atau Kalstar dari Pontianak ke Semarang.

Tapi kepergian kali ini untuk memenuhi undangan pimpinan UNY bagi para orangtua mahasiswa baru, agak berbeda rutenya.

Pas ultah hari Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2016, saya ambil rute yang beda dengan biasanya. Dari Pontianak ke Jakarta dulu naik Sriwijaya Air, setelah itu lanjut dari Jakarta ke Jogja naik kereta api Taksaka. Kok malah muter sih, kan lebih jauh dan lebih mahal juga lebih lama? Iya kalau dihitung dari sisi waktu dan biaya memang lebih lama dan lebih mahal. Satu hal yang jadi pertimbangan saya, ingin menikmati pengalaman naik kereta api yang informasinya saat ini sudah lebih baik.

Jpeg

Jpeg

Saya ingin mengalami sendiri bagaimana proses naik kereta mulai dari beli tiket online, cetak tiket di stasiun, menikmati perjalanan sampai tiba di Jogja. Dan proses itu saya ikuti. Tiket kereta saya beli via aplikasi padicity di handphone. Isian di aplikasi satu persatu saya lengkapi. Setelah itu transfer bank 360 ribu rupiah. Selanjutnya saya dapat pemberitahuan via email yg berisi e-tiket dan kode bookingnya.

Jpeg

Dari rumah teman di Karawaci Tangerang ke stasiun Gambir, saya coba pakai aplikasi Grab. Sampai stasiun Gambir, saya menuju mesin cetak tiket, masukkan kode bookingnya dan tekan enter, setelah itu tercetak tiketnya. Karena keretanya berangkat jam 08.50 dan saat itu baru jam 07.00, saya masih ada kesempatan untuk minum teh dulu di salah satu gerai di stasiun.

Jam 8.15, saya dibantu porter menuju petugas pemeriksa tiket. Setelah mencocokkan tiket dan KTP, saya bergegas mengikuti porter menuju ke lantai dua jalur 3 tempat kereta Taksaka. Sekilas saya amati kondisi stasiun Gambir sangat bersih, rapi juga tertib. Toiletnya juga gak kalah dengan toilet bandara. Bersih.

Setelah sampai di tempat tunggu di samping jalur 3, sekitar jam 8.30 kereta Taksaka tiba. Langsung porter mengajak saya untuk masuk ke gerbong Eks 6. Nikmat juga suasana gerbongnya. Ada televisi yang menyiarkan informasi tentang kereta api, AC-nya lumayan sejuk. Toiletnya yang di depan dan belakang gerbong bersih dan air kerannya lancar mengalir. Yang bikin saya salut, kereta berangkat tepat waktu. Jam 08.50.

Informasi yang saya baca di internet dan media lainnya bahwa saat ini kondisi kereta api sudah jauh lebih baik itu memang benar. Pemesanan tiketnya, ketertibannya, kebersihannya semuanya saya kasih jempol buat PT KAI. Puassss deh bisa naik kereta api. Dan kepuasan hati seperti itu jauh lebih berharga bagi saya, karena setelah itu saya ingin bepergian naik kereta api lagi sekalian mengajak keluarga saat liburan anak sekolah.

Berwisata Sekaligus Belajar di Dermaga Sei Kakap

P_20160709_111507[1].jpg

“Nah, ini yang namanya muara. Tempat bertemunya air sungai dengan air laut. Lihat warna airnya. Beda kan,”kata istri saya menjelaskan ke Nabil.

Kata istri, anak-anak seperti Nabil yang kelas 5 SD akan lebih mudah paham pelajaran di sekolah kalau melihat langsung  obyeknya. Di sekolah dia memang dijelaskan oleh gurunya apa itu sungai, pantai, muara sesuai buku pelajaran. Tapi belum tentu anaknya mengerti.

Kesempatan  wisata ke dermaga Sungai Kakap, Kab Kubu Raya, itulah saat yang tepat untuk menjelaskan segala hal tentang pantai kepada anak-anak. Mulai apa itu dermaga, muara, kapal penangkap ikan sampai tempat pelelangan ikan. Waktu tempuh ke tempat wisatanya sekitar 45 menit dari Pontianak ke arah barat. Kondisi jalan sampai batas kota Pontianak dan kabupaten Kubu Raya mulus. Namun selepas itu, beberapa tempat berlubang.

P_20160709_111632[1].jpg

“Ini gunanya untuk apa, Pa,?”tanya Nabil lagi sambil menunju  patok semen yang dibuat di sepanjang dermaga.

“Itu untuk menambat tali tambang kapal  supaya nggak hanyut kapalnya,”jawab saya.

Sayang sekali waktu kami datang ke dermaga itu, sudah agak siang. Sekitar jam 11.00, jadi nggak bisa melihat ramainya aktivitas pelelangan ikan. Kegiatannya sudah selesai dan hanya ada sekitar  3 orang yang sedang membersihkan ikan di keranjang.

Sebelum ke dermaga, kami menuju ke salah satu restoran yang berada di atas pantai. Dari lokasi parkir, kami berjalan melewati lorong jalan yang terbuat dari tiang dan papan kayu menuju beberapa gazebo.

P_20160709_111744[1].jpg

Waktu kami datang sekitar jam 10,  masih sepi. Belum ada pengunjung lainnya. Beberapa karyawannya bahkan baru datang,membersihkan meja dan yang lainnya membawa sayuran ke dapur. Akhirnya kami hanya pesan minuman. Jus buah dan es teh karena kelamaan kalau harus pesan makanan.

Cuma yang agak janggal, waktu saya pesan es kelapa muda. Pelayannya langsung menjawab nggak ada.

Dalam perjalanan pulang saya bilang ke istri dan anak-anak,”Restoran di tepi pantai yang di seberang tempat parkirnya banyak pohon kelapa milik warga, tapi saat itu nggak ada minuman kelapa mudanya. Aneh,”

 

 

 

Garuda Kini Melayani Pontianak-Sintang PP

Jpeg

Tak hanya satu maskapai yang kini melayani rute penerbangan Pontianak-Sintang PP. Kalau sebelumnya hanya Kalstar, kita Garuda juga melayani rute tersebut setiap hari. Jadi bagi teman-teman yang mau bepergian ke Sintang, Sekadau, Melawi dan sekitarnya, moda penerbangan ini bisa jadi alternatif.

Informasi itu saya tahu waktu menjemput dan mengantar tamu awal bulan April ini. Tamu dari Malaysia dan Singapura yang datang ke camp. Dari Pontianak-Sintang PP naik Garuda. Waktu tempuhnya hanya 40 menit saja.  Dengan harga tiket sekitar 650 ribu per orang. Waktu tempuh yng jauh beda dibandingkan naik bis sekitar 9 jam atau travel 8 jam dengan harga tiket 200 – 250 ribu per orang.

Jpeg

Waktu itu, empat orang tamu dan satu pendamping dari Pontianak  tiba di bandara Susilo Sintang 3 April jam 13.00 WIB. Terbang kembali ke Supadio Pontianak 6 April jam 13.35 WIB. Kalau mau lanjutkan dari Pontianak ke bandara lain juga bisa. Seperti yang saya lihat waktu check in ada penumpang pria yang meneruskan perjalanan ke Jakarta, juga menggunakan Garuda.

Kalau naik Kalstar, saya sudah pernah, baik dari Pontianak-Sintang maupun sebaliknya. Nah, setelah ada Garuda, satu saat ingin juga merasakan gimana suasana penerbangannya. Supaya saya juga bisa cerita di postingan selanjutnya.