Kembali ke Base Camp Lagi

Jpeg

Setelah sekitar dua minggu menjalani cuti, akhir bulan Agustus lalu saya kembali ke base camp. Kembali pada rutinitas kerja di tengah rimba.

Waktu memang terasa cepat berjalan. Setelah dari Jogja, saya sempatkan ke Semarang dulu menengok orangtua. Naik bis Joglosemar. Menginap semalam di rumah bapak ibu dan besoknya baru terbang ke Pontianak.

Dari Semarang biasanya saya pilih penerbangan langsung ke Pontianak naik Kalstar. Tapi waktu mau beli tiket online, jadwal terbangnya jam sekitar 7 malam. Cari alternatif lain dan akhirnya saya pilih naik Sriwijaya Air yang berangkatnya jam 12 siang meski transit di Jakarta dulu. Harga tiketnya kurang lebih sekitar 700 ribu. Nah, kalau pulangnya itu memang di luar rencana, beda dengan waktu berangkat dari Pontianak yang memang saya rencanakan lewat Jakarta.

Menginap semalam di rumah di Pontianak, besok malamnya sudah berangkat lagi ke Nanga Pinoh naik bis Damri. Sampai di Pinoh istirahat sekitar jam 4.30, istirahat terus jam 8.30 lanjut lagi berangkat ke camp naik oplet dan dilanjutkan dengan kendaraan perusahaan.

Banyak pengalaman selama di perjalanan. Merasakan suasana baru. Ketemu teman-teman, orangtua dan sanak saudara. Juga menikmati kuliner khas kotanya, mencoba hal-hal baru seperti beli tiket kereta api online dan naik taksi Grab.

Kalau sudah seperti itu, rasanya travelling itu jadi satu kebutuhan.

Nostalgia di Warung Makan SGPC Bu Wiryo

Jpeg

“Siang ini kita makan dimana?”tanya Budiadi, teman kuliah yang sekarang jadi dosen di fahutan UGM.

“SGPC, ya”kata teman saya lainnya, Gunawan, yang juga berprofesi sebagai dosen di kampus yang sama.

Saat ke Jogja, saya memang sempatkan untuk dolan ke kampus. Janjian ketemu dengan teman-teman kuliah dulu. Dua orang teman yang jadi dosen itu memang teman akrab saya. Dulu waktu kuliah satu angkatan, satu jurusan bahkan satu geng. Ada satu lagi sebenarnya yang masuk geng kami. Namanya Agung, sekarang dia kerja di perusahaan perkayuan di Riau. Punya istri yang juga seangkatan, juga sejurusan.

Jpeg

Setelah ngobrol di ruang kerja, kami bertiga makan siang di salah satu warung makan legendaris, warung makan SGPC bu Wiryo. Di sebelah utara kampus Fakultas Peternakan. Dulu waktu kami kuliah, warung makannya masih di dekat Fakultas Teknologi Pertanian.

Menu andalannya sego pecel alias nasi pecel dan sayur sop. Saya pesan nasi pecel, menu kesukaan  yang sudah lama nggak saya rasakan.

Selesai makan siang, kami kembali ke kampus. Sempat ditawari ke ruang rapat jurusan pas waktu coffee break. Lha, ketemu lagi dengan dosen-dosen senior. Setelah bersalaman, saya ikut gabung dan ngobrol dengan dosen yang dulu pernah mengajar kami bertiga, juga mendampingi waktu praktikum.

Selesai temu kangen dengan beberapa dosen, saya pamit. Sempat diminta juga untuk bawa pulang cemilan yang ada di ruang rapat. Karena saya agak sungkan, Gunawan sampai mengambilkan beberapa kue dan kantong plastik. Wah, kalau sudah begini susah nolaknya. Untuk menghargai mereka, saya bawa pulang cemilannya.

Jpeg

Yang saya surprise itu ketika saya pamit ke Budiadi dan Gunawan. Biasanya kita melepas kepergian tamu di depan kantor atau halaman. Tapi Gunawan mengantar saya sampai ke tempat parkir. Walah… nampaknya dia masih ingin ngobrol lama dengan saya. Cuma karena saya dititipi anak sulung, Nadia, untuk servis laptop, saya nggak bisa berlama-lama. Sekitar jam 2 siang, saya tinggalkan kampus yang penuh kenangan dan sambutan hangat teman-teman. Sampai ketemu lagi yaaaa.

Mudah dan Nikmatnya Naik Kereta Api

Jpeg

Biasanya kalau mau ke Jogja atau Semarang, saya pakai pesawat yang langsung dari Pontianak. Pakai Express Air rute Pontianak – Jogja atau Kalstar dari Pontianak ke Semarang.

Tapi kepergian kali ini untuk memenuhi undangan pimpinan UNY bagi para orangtua mahasiswa baru, agak berbeda rutenya.

Pas ultah hari Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2016, saya ambil rute yang beda dengan biasanya. Dari Pontianak ke Jakarta dulu naik Sriwijaya Air, setelah itu lanjut dari Jakarta ke Jogja naik kereta api Taksaka. Kok malah muter sih, kan lebih jauh dan lebih mahal juga lebih lama? Iya kalau dihitung dari sisi waktu dan biaya memang lebih lama dan lebih mahal. Satu hal yang jadi pertimbangan saya, ingin menikmati pengalaman naik kereta api yang informasinya saat ini sudah lebih baik.

Jpeg

Jpeg

Saya ingin mengalami sendiri bagaimana proses naik kereta mulai dari beli tiket online, cetak tiket di stasiun, menikmati perjalanan sampai tiba di Jogja. Dan proses itu saya ikuti. Tiket kereta saya beli via aplikasi padicity di handphone. Isian di aplikasi satu persatu saya lengkapi. Setelah itu transfer bank 360 ribu rupiah. Selanjutnya saya dapat pemberitahuan via email yg berisi e-tiket dan kode bookingnya.

Jpeg

Dari rumah teman di Karawaci Tangerang ke stasiun Gambir, saya coba pakai aplikasi Grab. Sampai stasiun Gambir, saya menuju mesin cetak tiket, masukkan kode bookingnya dan tekan enter, setelah itu tercetak tiketnya. Karena keretanya berangkat jam 08.50 dan saat itu baru jam 07.00, saya masih ada kesempatan untuk minum teh dulu di salah satu gerai di stasiun.

Jam 8.15, saya dibantu porter menuju petugas pemeriksa tiket. Setelah mencocokkan tiket dan KTP, saya bergegas mengikuti porter menuju ke lantai dua jalur 3 tempat kereta Taksaka. Sekilas saya amati kondisi stasiun Gambir sangat bersih, rapi juga tertib. Toiletnya juga gak kalah dengan toilet bandara. Bersih.

Setelah sampai di tempat tunggu di samping jalur 3, sekitar jam 8.30 kereta Taksaka tiba. Langsung porter mengajak saya untuk masuk ke gerbong Eks 6. Nikmat juga suasana gerbongnya. Ada televisi yang menyiarkan informasi tentang kereta api, AC-nya lumayan sejuk. Toiletnya yang di depan dan belakang gerbong bersih dan air kerannya lancar mengalir. Yang bikin saya salut, kereta berangkat tepat waktu. Jam 08.50.

Informasi yang saya baca di internet dan media lainnya bahwa saat ini kondisi kereta api sudah jauh lebih baik itu memang benar. Pemesanan tiketnya, ketertibannya, kebersihannya semuanya saya kasih jempol buat PT KAI. Puassss deh bisa naik kereta api. Dan kepuasan hati seperti itu jauh lebih berharga bagi saya, karena setelah itu saya ingin bepergian naik kereta api lagi sekalian mengajak keluarga saat liburan anak sekolah.

Berwisata Sekaligus Belajar di Dermaga Sei Kakap

P_20160709_111507[1].jpg

“Nah, ini yang namanya muara. Tempat bertemunya air sungai dengan air laut. Lihat warna airnya. Beda kan,”kata istri saya menjelaskan ke Nabil.

Kata istri, anak-anak seperti Nabil yang kelas 5 SD akan lebih mudah paham pelajaran di sekolah kalau melihat langsung  obyeknya. Di sekolah dia memang dijelaskan oleh gurunya apa itu sungai, pantai, muara sesuai buku pelajaran. Tapi belum tentu anaknya mengerti.

Kesempatan  wisata ke dermaga Sungai Kakap, Kab Kubu Raya, itulah saat yang tepat untuk menjelaskan segala hal tentang pantai kepada anak-anak. Mulai apa itu dermaga, muara, kapal penangkap ikan sampai tempat pelelangan ikan. Waktu tempuh ke tempat wisatanya sekitar 45 menit dari Pontianak ke arah barat. Kondisi jalan sampai batas kota Pontianak dan kabupaten Kubu Raya mulus. Namun selepas itu, beberapa tempat berlubang.

P_20160709_111632[1].jpg

“Ini gunanya untuk apa, Pa,?”tanya Nabil lagi sambil menunju  patok semen yang dibuat di sepanjang dermaga.

“Itu untuk menambat tali tambang kapal  supaya nggak hanyut kapalnya,”jawab saya.

Sayang sekali waktu kami datang ke dermaga itu, sudah agak siang. Sekitar jam 11.00, jadi nggak bisa melihat ramainya aktivitas pelelangan ikan. Kegiatannya sudah selesai dan hanya ada sekitar  3 orang yang sedang membersihkan ikan di keranjang.

Sebelum ke dermaga, kami menuju ke salah satu restoran yang berada di atas pantai. Dari lokasi parkir, kami berjalan melewati lorong jalan yang terbuat dari tiang dan papan kayu menuju beberapa gazebo.

P_20160709_111744[1].jpg

Waktu kami datang sekitar jam 10,  masih sepi. Belum ada pengunjung lainnya. Beberapa karyawannya bahkan baru datang,membersihkan meja dan yang lainnya membawa sayuran ke dapur. Akhirnya kami hanya pesan minuman. Jus buah dan es teh karena kelamaan kalau harus pesan makanan.

Cuma yang agak janggal, waktu saya pesan es kelapa muda. Pelayannya langsung menjawab nggak ada.

Dalam perjalanan pulang saya bilang ke istri dan anak-anak,”Restoran di tepi pantai yang di seberang tempat parkirnya banyak pohon kelapa milik warga, tapi saat itu nggak ada minuman kelapa mudanya. Aneh,”

 

 

 

Garuda Kini Melayani Pontianak-Sintang PP

Jpeg

Tak hanya satu maskapai yang kini melayani rute penerbangan Pontianak-Sintang PP. Kalau sebelumnya hanya Kalstar, kita Garuda juga melayani rute tersebut setiap hari. Jadi bagi teman-teman yang mau bepergian ke Sintang, Sekadau, Melawi dan sekitarnya, moda penerbangan ini bisa jadi alternatif.

Informasi itu saya tahu waktu menjemput dan mengantar tamu awal bulan April ini. Tamu dari Malaysia dan Singapura yang datang ke camp. Dari Pontianak-Sintang PP naik Garuda. Waktu tempuhnya hanya 40 menit saja.  Dengan harga tiket sekitar 650 ribu per orang. Waktu tempuh yng jauh beda dibandingkan naik bis sekitar 9 jam atau travel 8 jam dengan harga tiket 200 – 250 ribu per orang.

Jpeg

Waktu itu, empat orang tamu dan satu pendamping dari Pontianak  tiba di bandara Susilo Sintang 3 April jam 13.00 WIB. Terbang kembali ke Supadio Pontianak 6 April jam 13.35 WIB. Kalau mau lanjutkan dari Pontianak ke bandara lain juga bisa. Seperti yang saya lihat waktu check in ada penumpang pria yang meneruskan perjalanan ke Jakarta, juga menggunakan Garuda.

Kalau naik Kalstar, saya sudah pernah, baik dari Pontianak-Sintang maupun sebaliknya. Nah, setelah ada Garuda, satu saat ingin juga merasakan gimana suasana penerbangannya. Supaya saya juga bisa cerita di postingan selanjutnya.

 

Landmark Sebuah Bandara

Jpeg

Ada satu kegiatan yang saya sukai ketika berada di bandara. Memotret landmark sebuah bandara. Bentuk landmark itu bermacam-macam. Kalau di bandara Supadio Pontianak, calon penumpang dan pengantar bisa berfoto di depan pintu keberangkatan. Di situ pihak PT Angkasa Pura menyediakan sebuah papan setinggi sekitar 180 cm bertuliskan bandara Supadio Pontianak.

Ketika tiba di bandara Ahmad Yani Semarang,  saya berhenti sejenak melihat papan selamat datang. Ini adalah landmark bandara. Jumlahnya tidak hanya satu. Juga berada di sisi kiri dan kanan lorong masuk sebelum masuk ke ruang pengambilan bagasi.

Untuk apa memotret landmark atau penanda sebuah tempat? Untuk dibagikan ke whatsapp sebagai informasi bahwa saya sudah sampai di suatu kota. Bisa ke grup keluarga, teman waktu kuliah juga rekan seprofesi. Daripada saya memberitahu satu per satu lewat SMS atau telepon, saya pikir ini cara yang lebih mudah dan cepat.

Bagaimana dengan anda ketika datang di sebuah kota?

Tugas Mendadak ke Sintang

Alhamdulillah, kemarin sore jam 16.30 sudah sampai di Losmen Setia, Sintang.

Setelah naik minibus dari Terminal Pinoh yang baru berangkat setelah dapat tujuh penumpang.

Padahal kapasitasnya bisa sampai 15 orang, lho kendaraannya. Setelah masuk , baru saya tahu. Rupanya kursinya memang dimodifikasi buat tujuh penumpang. Dua orang di depan, lima orang di tengah duduk menghadap pintu samping dan belakang.

Setengah bagian belakang, dikosongkan. Nggak ada kursi. Ternyata dipakai buat bawa barang. Jadi separuh isi penumpang, separuh isi barang. Kreatif. Sekali jalan dari tujuh penumpang sudah dapat 350 ribu. Belum pemasukan tambahan dari angkut barang.

Sebenarnya nggak ada rencana pergi ke Sintang. Pagi kemarin masih ngobrol sama tamu dari Jakarta.

Karena ada teman kantor yang sakit, akhirnya jadi pemain pengganti.  Diberitahu mendadak setengah jam sebelum berangkat. Supaya ke Sintang untuk ikut pertemuan  ekspose potensi ekowisata yang diadakan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya dan WWF.

Segala sesuatu memang perlu direncanakan. Tapi terkadang ada hal mendadak di luar rencana yang harus cepat kita putuskan dan lakukan.