Belanja Emping Jagung di Pasar Nologaten Sleman

Salah satu hal yang saya lakukan waktu traveling itu mencari oleh-oleh. Sewaktu pulang ke Jogja biasanya saya bawakan kue bingke, kerupuk ikan dan ikan teri untuk bapak ibu mertua  dan anak-anak yang kuliah di Jogja. Demikian juga kalau pulangnya lewat Semarang.

Sebaliknya, waktu pulang ke Pontianak, saya juga usahakan bawa buah tangan buat keluarga di Pontianak. Kalau ke Jogja, oleh-oleh yang saya bawa biasanya bakpia. Kadang-kadang yangko atau geplak. Bapak ibu mertua juga sering titip oleh-oleh gudeg untuk anak dan cucu-cucunya.

Waktu ke Jogja bulan Nopember 2019, lalu saya bawakan oleh-oleh yang berbeda. Emping jagung. Cemilan yang disukai anak-anak dan istri. Pertama kali beli cemilan itu waktu ke Kroya. Ketika saya dan istri menemani ibu mertua yang ingin menengok putra bungsu dan keluarganya. Sewaktu wisata di pantai Ayah, Kebumen, ada banyak pedagang yang menawarkan makanan ringan. Termasuk emping jagung. Rasanya manis dan renyah.

Di Jogja, saya dapat informasi dari istri kalau mau beli emping jagung di pasar Nologaten, Gowok. Kalau ke Jogja saya jarang berbelanja ke pasar Nologaten. Meski jaraknya dekat dari rumah. Lebih sering berbelanja cemilan ke pasar Beringharjo atau toko-toko yang menjual oleh-oleh khas Jogja.

Di pasar Nologaten, saya tidak langsung bisa menemukan kios penjual emping jagung. Saya datangi lapak penjual buah-buahan. Beli pisang dan bertanya di mana yang jualan emping jagung. Penjualnya menunjukkan lokasinya,”Tiga gang dari sini ke arah keluar, Mas”

Ternyata kios penjual emping jagung tadi sudah saya lewati waktu saya masuk pasar. Sampai di tempat yang dituju, saya terkejut. Beraneka cemilan dijajakan di dalam kantong-kantong plastik.

Saya beli emping jagung  2 kg dan slondok 1 kg. Saya juga minta tiap kantong plastik isinya 0,5 kg. Jadi ada 6 bungkus. Untuk oleh-oleh keluarga di Pontianak dan teman-teman kerja di camp. Harganya 32 ribu per kg.

Karena saya pulangnya naik Lion Air dari Semarang, oleh-oleh itu saya kemas dalam kardus dan saya kirim via JNE di Seturan. Apalagi untuk maskapai itu ada pembatasan berat barang yang boleh dibawa di bagasi kabin maksimal 7 kg. Saya juga nggak perlu nenteng barang itu dari Jogja ke Semarang.

Saya kaget ketika diberitahu petugas berapa biaya pengiriman barangnya. Berat totalnya 3,5 kg dan dibulatkan jadi 5 kg. Per kilonya seingat saya 33 ribu. Ternyata biayanya lebih besar daripada harga oleh-olehnya. 🙂 Padahal saya sudah pilih pengiriman biasa yang sampainya 3 hari.

 

 

Naik Bis Maju Terus yang Baru

Saya biasa naik bis Maju Terus dari Pinoh ke Pontianak. Kadang-kadang waktu dari Pontianak – Pinoh juga. Tarifnya 175 ribu. Beli tiketnya belum bisa online. Harus pesan dulu ke petugas ticketing. Setelah sampai di Pinoh baru saya ambil tiket di agennya. Warung kopi Maju Terus. Hikmahnya, saya punya kenalan petugas bagian pemesanan tiket. Namanya Udin.

Waktu naik bis itu tanggal 7 Januari lalu saya dapat bis yang baru. Warna kursinya ngejreng. Ungu muda. Serasi dengan sarung kursinya yang biru. Kontras dengan selimutnya yang oranye. Harga tiketnya masih sama. Saya dapat info bis baru itu dari Udin sebulan sebelumnya.

Setiap penumpang dapat satu botol air mineral ukuran kecil. Di sandaran tangan kiri ada dua colokan untuk mengisi ulang batere hp. Untuk yang kursinya tunggal. Yang kursinya satu baris berdua colokannya juga di masing-masing sandaran tangan.

Saya biasa pilih yang kursinya tunggal. Selain bisnya baru, yang bikin saya terkesan itu penumpang di depan saya. Sopan sekali. Waktu mau mundurkan kursinya, dia minta ijin dulu. Saya pun ijinkan. Jarang ada penumpang seperti itu.

Pendingin udara di atas kepala juga bisa diatur. Ada dua buah. Biasanya saya tutup separuh karena nggak tahan dingin.

Bis baru itu mungkin untuk peremajaan. Mengganti bis yang lama. Bisa juga supaya nggak kalah bersaing dengan bis-bis DAMRI. Yang armadanya baru-baru dan tiketnya bisa dibeli online.

Menikmati Mie Ciplak di Pontianak

Ada beberapa makanan khas yang berbahan dasar mie di Pontianak. Seperti kwee tiau atau biasa disebut mie tiau. Ada juga mie kering Haji Aman. Asalnya dari Singkawang tetapi sudah buka cabang di jalan Karya Baru Pontianak. Satu lagi mie Ciplak.

Mie tiau dan mie kering Haji Aman saya dan istri sudah pernah menikmati hidangannya. Bahkan untuk mie tiau, istri di rumah juga biasa memasak sendiri. Istri saya sudah pernah beli mie Ciplak dan dimakan di rumah. Saya belum pernah.

Sewaktu di Pontianak, saya sempatkan berdua dengan istri ke warungnya.

Lokasinya di jalan Johar. Kalau dari arah SMPN 1 Pontianak sebelah kanan jalan.  Selain mie Ciplak, di warung itu kita juga bisa hidangan khas Jawa seperti nasi pecel, mie rebus, mie goreng, lontong sayur, gado-gado dan nasi rawon.

Satu porsi mie Ciplak harganya 20 ribu rupiah. Gado-gado 18 ribu rupiah. Istri saya pesan mie Ciplak dan saya pesan gado-gado. Yang khas di dalam mie Ciplak itu mie putih gepeng yang biasa juga untuk mie tiau. Campurannya potongan keripik paru, tahu, telur, sawi dan tauge.

Waktu kami ke sana sekitar jam 12 siang. Hampir semua kursi terisi karena waktunya jam makan.

Setelah merasakan enaknya makan gado-gado, di lain waktu ingin datang lagi untuk mencoba menu yang lainnya 🙂

Beli Tiket Bis DAMRI Sudah Bisa Online

Setiap bulan, saya rutin bepergian Nanga Pinoh – Pontianak  PP naik bis antar kota dalam propinsi. Biasanya kalau mau beli tiket harus telpon dulu ke agen bisnya. Atau ketik lewat nomor nara hubung di WhatsApp (WA).

Setelah itu, infokan tujuannya mau ke mana, kapan mau berangkat, untuk berapa orang dan pesan nomor kursinya. Dua atau tiga hari sebelum berangkat, saya harus datang ke kantor agennya untuk membayar sekaligus mengambil tiketnya. Agak repot.

Tapi kini urusan beli tiket jadi lebih mudah. Khusus kalau bepergian naik bis DAMRI. Sudah ada aplikasi DAMRI apps yang bisa diunduh di play store. Di aplikasi itu kita bisa beli tiket elektronik bis seperti beli tiket elektronik kereta api atau pesawat.

Dengan harga yang sama dengan kalau kita beli tiket tunai. Bahkan kita bisa pilih jenis bis dan nomor kursinya. Untuk jurusan Pontianak – Pinoh PP ada tiga jenis bis DAMRI. Eksekutif, Royal dan Limusin.

Semua rute bis DAMRI termasuk bis DAMRI bandara juga bisa kita beli tiketnya lewat aplikasi itu. Praktis. Menghemat waktu dan kertas. Tidak perlu datang ambil tiket di kantor atau agen dan tidak perlu lagi harus mencetak tiket.

Beli tiket elektronik bis DAMRI tidak hanya di DAMRI Apps. Di Traveloka juga bisa. Bedanya adalah kita harus bayar tambahan biaya administrasi.

 

Alternatif Transportasi Darat Semarang ke Jogja

Kalau di postingan sebelumnya saya berbagi  pengalaman ketika naik kereta Joglosemarkerto, kali ini saya ingin cerita transportasi darat  lain dari Semarang ke Jogja. Ada dua transportasi yang pernah saya gunakan.

Yang pertama naik travel Joglosemar. Dari rumah orangtua di jalan Arjuna dekat Udinus ke kantor Joglosemar di jalan Pemuda biasanya saya naik gocar. Ongkosnya sekitar 15 ribu. Biasanya saya beli tiketnya online. Lewat Traveloka. Praktis sih. Meski saya masih di Kalimantan sudah bisa beli tiketnya.

Cuma kalau pas kita pilih hari Jumat, Sabtu dan Minggu tiket yang sudah kita beli online gak bisa di-reschedule. Ini sayang pernah saya alami. Waktu saya beli tiket dari Jogja ke Semarang untuk keberangkatan tanggal 4 Agustus 2019. Hari Minggu. Karena hari itu mendadak saya, istri dan ibu mertua ke Kroya, tiket yang telanjur saya beli hangus karena saya nggak sempat lagi refund.

Dari Semarang ke Jogja atau sebaliknya waktu tempuhnya sekitar 4 jam kalau naik travel Joglosemar. Karena harus singgah di SPBU dekat Akpol, SPBU Srondol dan di Magelang. Ongkosnya 85 ribu. Kelebihannya kalau beli online, kalau pas ada promo bisa dapat diskon lho. Lumayan. Pernah saya beli dua tiket dapat diskon 30 ribu.

Alternatif kedua naik bis. Ini juga pernah saya coba. Naik bis Nusantara dari Semarang ke Jogja berenam sama keluarga. berangkat jam 7 pagi. Titik kumpulnya di jalan Setiabudi atau lebih dikenal dengan Sukun. Saya juga nggak tahu kenapa disebut Sukun. Mungkin dulu banyak pohon sukunnya 🙂

Kalau naik bis ongkosnya per orang lebih murah. 60 ribu. Saya belinya juga online lewat RedBuss. Cuma dari rumah ke Sukun lumayan juga ongkos taksi online-nya. 53 ribu.

Kelebihan naik bis ini waktu tempuh lebih cepat. Hanya 3 jam. Mungkin karena penumpangnya penuh. Jadi tidak mampir-mampir lagi selama perjalanan. Di Jogja pemberhentian akhirnya di Terminal Jombor. Dekat dengan kantor travel Joglosemar. Sama-sama di jalan Magelang.

 

Pengalaman Pertama Naik Kereta Joglosemarkerto

Dua anak lelaki saya, Andra dan Nabil belum pernah naik kereta api. Umurnya 14 tahun dan 12 tahun. Mereka lahir di Pontianak. Meski pernah diajak ke Yogyakarta dan Semarang, namun sekali pun belum pernah merasakan naik kereta.

Pernah ada kejadian lucu. Waktu di Semarang kami sekeluarga menginap di rumah opa dan opanya. Di jalan Sadewa Utara kelurahan Pendrikan. Hanya berjarak 100 meter dari rel kereta api. Saking inginnya lihat kereta api, setiap kali ada suara kereta api akan lewat, mereka buru-buru berlari ke luar rumah. Berdiri di depan pagar menunggu kereta datang. 🙂

Keinginan naik kereta itu akhirnya terpenuhi. Waktu habis lebaran bulan Juni lalu. Kami berempat dari Jogja naik kereta Joglosemarkerto ke Semarang. Karena tiket kereta yang berangkat pagi habis, saya beli tiket kereta yang berangkatnya malam. Jam delapan dari stasiun Tugu berangkatnya.

Sampai di stasiun Tugu waktunya mepet dengan jadwal kereta berangkat. Setelah print tiket dan diperiksa petugas, buru-buru kami naik kereta. Dan ternyata salah masuk gerbong. Yang seharusnya di gerbong eksekutif malah masuk ke gerbong ekonomi. Mau keluar gerbong takut keretanya sudah jalan. Akhirnyamenyusuri gerbong ekonomi. Sampai ketemu gerbong eksekutif.

Meski sudah merasakan naik kereta api, satu hal yang Andra dan Nabil masih penasaran. Ingin naik kereta yang berangkatnya pagi atau siang hari. Supaya bisa lihat pemandangan. 🙂

Pengalaman Pertama Naik Bis DAMRI Limusin Pontianak – Nanga Pinoh

Tertarik naik bis ini ketika lihat banner yang ada di Kantor DAMRI Pontianak di jalan Pahlawan. Cuma waktu itu, rute yang dilayani baru Pontianak – Sintang PP. Rute Pontianak – Nanga Pinoh PP belum ada.

Keinginan itu akhirnya terpenuhi juga. Tanggal 13 Juli 2019 saya naik bis ini dari Pontianak ke Nanga Pinoh. Berangkatnya dari Terminal Antar Negara Ambawang jam 19.30. Kalau bis DAMRI lainnya yang tipe Royal dan Legacy berangkat duluan. Jam 19.00.

Pesan tiketnya bisa lewat Whatsapp (WA). Setelah dapat nomor kursi, saya ambil print out tiketnya di kantor DAMRI. Rute Pontianak – Nanga Pinoh tarifnya 210 ribu per orang.

Fasilitasnya itu lho yang bikin saya penasaran. Ada WiFi, LCD Monitor di tiap kursi. Bisa buat dengerin musik atau nonton fim. Tapi harus pakai headset. Toilet.  Tempat pengisian batere HP.

Dikasih juga bantal leher dan selimut. Snack dan air mineral dalam kotak. Tambahan lain penumpang ditawari minum teh atau kopi hangat. Yang diambilkan pramugaranya. Saya pilih teh hangat saja. Isinya setengah cup. Kalau penuh khawatir tumpah kali ya kena bis yang bergoyang 🙂

Sebelum berangkat, driver yang berbaju putih lengan pendek pakai dasi menjelaskan fasilitas di bis. Juga waktu tempuh perjalanan, berapa jarak tempuh dan perkiraan jam berapa sampai di Nanga Pinoh. Termasuk singgah dan istirahat di rumah makan di Sosok. Waktunya 30 menit. Kalau penumpang minta tambahan waktu bisa menghubungi kru.

Waktu saya naik bis itu, dari kapasitas 21 kursi yang terisi 14 kursi. Saya pilih kursi tunggal. Nomor 7.

Waktu akan sampai di Nanga Pinoh, penumpang juga ditawari handuk dingin untuk membersihkan wajah. Ada yang ambil handuk itu ada juga yang tidak. Saya ambil handuk yang ditawarkan pramugara. Setelah selesai dipakai, pramugara mengambil lagi handuk-handuknya. Bis tiba di  Nanga Pinoh sekitar jam 4 pagi. Dan tak lama kemudian terdengar adzan subuh dari mushola di terminal.

Oya, AC di bis ini cukup dingin. Jadi yang mau naik siap-siap pakai sweater atau jaket yaa 🙂

Indahnya Wisata di Alamanda Jogja Flower Garden

Hari pertama lebaran di Jogja full untuk acara keluarga besar. Sholat Idul Fitri di Kampus UNY Karangmalang. Pulangnya sungkeman di rumah. Juga foto-foto.

Hari kedua lebaran buat wisata. Tujuan pertama ke wisata bunga dan taman. Berenam kami menuju Alamanda Jogja Flower Garden. Di kecamatan Turi. Lokasinya dekat dengan SMA Negeri 1 Turi. Dari rumah di daerah Pringwulung Mrican sekitar 3o menit.

Tiket masuknya 15 ribu per orang. Setelah itu kita bisa jalan-jalan sepuasnya. Menikmati taman yang terawat, bersih dan asri. Yang hobinya foto-foto dan suka posting di medsos, pasti senang datang ke tempat ini. Banyak spot yang bagus buat motret. Saya pun awalnya tertarik datang ke tempat ini ya setelah browsing di internet. Lihat gambarnya, amati rutenya dan baca postingannya. Setelah infonya lengkap, baru datangi tempatnya.

Yang kepingin  banget ke tempat ini ya Aysha. Anak kedua kami. Rencana awalnya ingin wisata taman yang ada di daerah Kaliurang. Karena dapat informasi dari adik ipar kalau lokasinya lebih jauh dan jalan menuju lokasi agak curam dan berbatu, akhirnya kami pilih wisata ke daerah Turi.

Puas banget lihat taman dan bunga di tempat ini. Toiletnya juga unik. Dihias. Dan lokasinya dekat dengan taman. Mushola dindingnya berbentuk segitiga seperti atap rumah. Ada kolam yang ditengahnya ada jembatan dan jalan. Beberapa kincir angin berada di tepi kolam ini. Juga pondok-pondok buat kita istirahat. Juga spot yang bagus buat motret.

Dengan tiket masuk yang tergolong murah, kita bisa dapat banyak view yang bagus di tempat ini. Nggak rugi deh.

 

Perjuangan Mudik Naik Kapal Laut

Sudah dua minggu lebih lebaran Idul Fitri berlalu. Tapi rasanya kok kayak baru kemarin saja ya. Itu mungkin efek perasaan bahagia setelah berkumpul sama keluarga di Semarang dan Jogja. Saking bahagianya sampai lupa posting nih gimana cerita lebarannya. Yang jelas berangkat mudiknya penuh perjuangan dan doa lho.

Gimana enggak, kami sudah beli tiket kapal Dharma Kencana. Rutenya Pontianak –  Semarang. Harganya 412 ribu per orang. Tiket dewasa. Ditambah tuslah 8 ribu jadi total 420 ribu. Karena yang berangkat lima orang, perlu biaya 2,1 juta. Masih lebih murah sih dibandingkan naik pesawat Pontianak – Jogja atau Pontianak – Semarang. Yang waktu itu harga tiketnya sekitar 1,6 juta  per orang.

Memang sih harga tiket kapal seperempat tiket pesawat. Tapi waktu tempuhnya itu lho. Lumayan beda jauuh. Naik pesawat hanya 1 jam 30 menit. Tapi kalau pakai kapal sampai 45 jam. Hampir dua hari dua malam di tengah laut Jawa.

Sebelum berangkat tgl 31 Mei jam 2 pagi, dikasih tahu petugasnya supaya datang awal ke pelabuhan supaya dapat seat. Sekitar lima hari sebelum berangkat istri terima SMS yang isinya pemberitahuan kalau kapal berangkatnya dimajukan jadi jam 8 malam. Nah, pas di Pontianak, saya putuskan berangkat dari rumah jam 3 sore. Masih ada waktu 5 jam buat persiapan, check in dan nunggu kapal berangkat.

Sampai di pelabuhan, jadwal berangkat kapal berubah lagi. Di layar digital diumumkan kapal berangkat jam 10 malam. Ya Robbana. Makin lama kami berada di Pelabuhan Dwikora 🙂 . Untungnya sudah bawa banyak cemilan dan nasi buat buka puasa di pelabuhan. Dan kenyataannya kapal baru diberangkatkan pas jam 12 malam.

Nggak hanya itu ceritanya. Waktu saya self check in di mesin untuk cetak tiket ada kejutan berikutnya. Lima tiket yang terlihat di layar tidak tertulis nomor seatnya. Otomatis tiket yang dicetak tertulis no seat. Padahal saya sudah antri dan pajang antrian belum sampai 20 orang. Bisa jadi penumpang lain juga seperti itu. Ini artinya kami harus berebut masuk ke kapal supaya dapat seat.

Benar-benar perjuangan. Naik ke kapal  membawa tas traveling dan koper harus berebut dengan penumpang lain supaya dapat seat. Untungnya waktu keluar dari ruang tunggu dan waktu naik tangga ke kapal ada petugas pelabuhan yang mengatur. Dan memerintahkan penumpang agar tidak berebut keluar dari pintu ruang tunggu. Juga antri satu per satu naik ke kapal. Nah, waktu di dalam kapal itulah hampir semua ruangan penuh penumpang. Di ruang kafetaria, kamar tidur, ruang depan dan dek dipenuhi penumpang dan barang-barang bawaannya.

Akhirnya kami putuskan lesehan di dek luar sebelah kanan. Beli alas dari plastik yang harganya 10 ribu per buah. Hanya berjarak 1,5 meter dari pagar. Jadi setiap saat kami bisa memandang laut. Masih untung kami berada di dek itu karena saat itu angin laut berhembus dari timur ke barat. Bukan dari barat ke timur. Saya lihat penumpang yang lesehan di dek timur hampir setiap waktu terkena hembusan angin laut yang kencang. Dan mereka terlihat sibuk menata lagi alas plastik,  sarung atau pakaiannya.

Kopdar Setelah Kenalan di Blog

Berawal dari seringnya saya membaca postingan di blog https://madeandi.com/.  Postingan dosen Fakultas Teknik Geodesi yang juga Kepala Kantor Urusan Internasional UGM.  I Made Andi Arsana, Ph.D.

Pernah juga saya komen di salah satu postingannya. Kemudian kenalan dan berharap satu saat bisa kopdar di Jogja. Ternyata, dibalas dengan antusias.

“Nanti kalau mau ke Jogja, kabari via email ya”katanya.

Bulan Desember tahun 2018 lalu alhamdulillah, saya ada kesempatan ke Jogja. Nengok anak sulung yang kuliah di sana. Sekalian silaturahmi ke bapak dan ibu mertua. Sebelum ke Jogja, saya ke Semarang dulu menemui orangtua.

Saya pun kirim email ke mas Andi. Memberitahukan mau ke Jogja dan bertanya kapan bisa menemuinya. Tanggalnya pun ditentukan.  28 Desember. Setelah  sampai Jogja, kami pun intensif berkomunikasi via whatsapp.

Rencana mau kopdar jam 9 pagi. Ternyata waktu itu mas Andi sedang rapat di Gedung Pusat. Kondisi saya pun nggak fit. Sampai mas Andi bilang, “Nggak usah dipaksakan Pak kalau sedang sakit”.

Tapi karena sudah janji, saya berusaha tetap datang dan menemui mas Andi setelah jam 10 siang.

Akhirnya kopdar pun terlaksana. Setelah ngobrol di Gedung Pusat, saya diajak ke kantornya di dekat masjid Kampus. Ditraktir makan siang juga. Gudeg Jogja. Enak sekali rasanya. Dalam perjalanan dari Gedung Pusat ke kantornya, dia pun tanya apa yang bikin saya tertarik kopdar.

Terus saya jelaskan awalnya saya nggak sengaja menemukan blog itu. Setelah saya baca kok tulisannya menarik. Mudah dipahami orang awam meskipun yang menulis seorang dosen. Bergelar Ph.D. Lulusan S2 dan S3 dari Australia. Nggak banyak dosen yang ngeblog. Apalagi dosen yang punya keahlian dalam ilmu batas maritim rajin menulis di blog dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Akhirnya, mas Andi pun buka rahasia. Sebenarnya saya bisa seperti itu karena sejak lama saya punya kebiasaan bercerita kepada kedua orangtua, terutama ibu. Saya harus bisa bercerita tentang istilah istilah teknis dengan bahasa yang mudah dipahami. Dan kebiasaan itu akhirnya terbawa ketika menulis.

Obrolan pun berakhir ketika terdengar suara adzan sholat Jumat. Saya pun pamit dan minta ijin foto di kantornya. Dan di luar dugaan, dia sendiri yang mengantar saya dengan mobilnya sampai masjid Kampus UGM.

Terima kasih mas Andi atas waktunya juga obrolannya yang berbobot dan mencerahkan saya.