Yudhi Hendro Berbagi Cerita

Karena setiap detik begitu berharga…


7 Komentar

Dari Hutan Meranti ke Hutan Pinus

Jpeg

Jpeg

“Jadi kita sepakat ya wisata ke hutan Pinus di daerah Imogiri”kata salah salah satu adik ipar yang tinggal di Jakarta.

Pertemuan keluarga dua hari setelah lebaran itu akhirnya memutuskan tujuan wisata yang disepakati adalah melihat hutan Pinus di daerah Imogiri, Bantul.

Saya yang ikut hadir sebenarnya ingin wisata lain seperti Banyu Mili atau Edu Park. Dua tempat wisata yang belum pernah saya, istri dan anak-anak datangi. Tapi rupanya adik-adik ipar hampir semuanya pernah ke situ. Harap maklum saja karena mereka tinggal di kota-kota di Jawa. Jadi mengunjungi tempat seperti itu sudah biasa.

Beda dengan saya dan keluarga yang tinggal di Pontianak. Saya yang sehari-hari kerja di hutan, ingin sekali wisata yang bukan melihat hutan lagi deh. Apalagi waktu akhir tahun yang lalu, keluarga juga sudah liburan ke camp.
Namun yang namanya keputusan ya harus diikuti. Saya kalah suara waktu diadakan pemungutan suara menentukan lokasi mana yang akan dikunjungi. Semuanya setuju mau jalan-jalan ke hutan Pinus. Padahal waktu itu saya sampaikan juga kalau selepas dari Jogja, jalan ke lokasi wisata itu menanjak. Jadi kendaraan harus benar-benar prima. Tapi mereka tetap ingin melancong melihat hutan.

Akhirnya, menggunakan tiga mobil rombongan keluarga meluncur Imogiri. Ada empat keluarga yang ikut. Total semuanya ada 16 orang. Eyang putri dan eyang kakung nggak bisa ikut karena masih ada acara lain. Waktu masih kuliah dulu, saya pernah juga ke lokasi itu. Karena sudah lama nggak keliling-keling jogja, rutenya agak lupa. Makanya waktu bawa mobil, saya nggak duluan tapi di posisi kedua. Mobil pertama dibawa adik ipar yang dari Jakarta, sedangkan mobil ketiga disupiri adik yang dari Kroya.

Dari Jogja ke lokasi hutan Pinus Imogiri waktu tempuhnya sekitar satu jam. Sampai di areal dituju, mobil langsung masuk ke tempat parkir. Perjalanan selama memasuki jalan tanjakan harus konsentrasi penuh. Selain menanjak, jalannya juga banyak tikungan dan kelokan yang kalau supir tidak gesit mengoper gigi, mobil bisa mati mesin.

Seperti yang saya alami, waktu jalan menanjak dan berkelok , saya pikir bisa pakai gigi dua, ternyata mobil nggak mampu. Saya gas lagi dan pindahkan ke gigi satu tapi terlambat, akhirnya mobil berhenti mendadak. Masih untung nggak ada mobil dalam jarak dekat di belakang. Nggak cuma mobil yang saya bawa yang mati mesin, ada dua mobil yang saya lihat berhenti di tepi jalan karena radiatornya panas. Selain kondisi mobil harus prima, sopir juga harus lihai mengemudi.

Wisata di tempat ini tergolong murah, karena kita nggak perlu beli tiket masuk. Waktu mau masuk ke hutan Pinus nggak perlu bayar lagi. Cukup keluarkan biaya buat parkir mobil atau motor.

“Bagus sekali pemandangannya”kata istri saya. Meski pernah jalan-jalan ke camp dan lihat hutan, dia terpesona dengan pemandangan pohon-pohon Pinus dan lokasi di sekitarnya. Nggak salah sih, hampir setiap pengunjung yang datang ke lokasi itu setelah melewati pintu masuk yang dilakukan adalah berfoto. Saya sendiri melihat pemandangan seperti itu juga nggak sabar ingin memotret.

Berbeda dengan hutan tropis di Kalimantan yang jenis pohonnya cukup banyak. Di areal itu memang hanya ada pohon Pinus yang tumbuh tinggi dan meneduhkan. Aktivitas pengunjung juga bermacam-macam. Ada yang membawa tempat tidur dari tali yang kedua ujungnya diikatkan ke dua pohon. Setelah itu dia berbaring dan bergoyang pelan mengikuti ayunan talinya. Waktu itu sebelum sampai ke lokasi wisata, saya heran kok ada ibu-ibu dan mbak-mbak yang jualan di pinggir jalan sambil memajang anyaman tali yang diikatkan di pohon untuk tidur-tiduran. Kok mereka jualan tali yang dianyam seperti itu? Pertanyaan saya terjawab ketika saya berada di dalam hutan pinus itu.

Ada juga pengunjung yang naik ke bangunan yang dibuat untuk melihat bentang alam di bawahnya. Beberapa pengunjung lainnya duduk-duduk di batang pohon yang difungsikan seperti kursi.

Selesai melihat-lihat pohon pinus dan berfoto, kami keluar dari areal hutan Pinus. Rupanya pintu masuk dan keluarnya hanya ada satu. Jadi kalau banyak pengunjung yang datang bersamaan, harus sabar antri.

Sebelum pulang, karena perut sudah agak lapar kami mampir dulu beli jajanan. Ada banyak penjuan yang berada di dekat tempat parker mobil. Ini bagus juga ya, karena para penjual makanan itu nggak masuk ke dalam hutan, tapi menunggu pembeli di pinggir jalan di seberang pintu masuk dan keluar.

wpid-p_20150719_121718.jpg

Selain penjual bakso pentol dan siomay, yang saya lihat ada juga yang jualannya unik. Penjual es krim pot. Baru kali ini saya lihat ada orang jualan es krim yang bentuknya seperti pot kecil. Jualannya pakai mobil dan diletakkan di bagasi. Jadi pembeli bisa langsung pesan dan melihat cara pembuatannya. Wadahnya untuk es krim seperti pot warna hitam, di dalamnya ada potongan roti tawar, coco crunch dan ditutup dengan es krim di atasnya. Setelah itu ditancapkan bunga di atas es krimnya. Bentuknya seperti pot bunga kecil. Memang kreatif juga penjualnya.

Selesai menikmati jajanan, kami pun meluncur pulang ke Jogja. Ternyata berwisata di hutan Pinus Mangunan, Imogiri, Bantul benar-benar mengasyikkan. Ya pemandangan alamnya, pohon-pohon pinusnya, juga jajanannya. Nggak salah deh pilihan adik-adik untuk melancong ke tempat itu.


6 Komentar

Menikmati Menu Murah di Sambel Layah

image

Sebenarnya tidak sengaja kami makan siang di rumah makan Sambel Layah.

Setelah berwisata di hutan pinus Mangunan, Imogiri, Bantul, acara selanjutnya adalah mencari hidangan santap siang.

Menggunakan tiga kendaraan, saya dan keluarga plus tiga keluarga dari adik istri meluncur kembali ke Jogja. Sasaran pertama rumah makan yang menghidangkan menu ingkung alias hidangan ayam utuh yang diungkep.

Ternyata setelah sampai di lokasi, rumah makannya tutup. Akhirnya kendaraan keluar lagi dari gang warung makan ingkung.
Setelah berjalan beberapa menit, adik istri yang bungsu mengarahkan mobilnya ke warung makan yang menu utamanya gurame.

Warung makannya buka, tapi tempat parkirnya penuh. Setelah putar-putar, memang nggak ada tempat yang kosong buat parkir kendaraan.

Sasaran makan siang dialihkan.
Tiba di Jogja, pas berhenti di traffic light jalan Pramuka, Giwangan, mobil berbelok ke kanan. Saya lihat di
papan namanya tertulis rumah makan Sambel Layah.

Meski suasananya ramai, syukur masih dapat tempat parkir dan meja buat makan buat 16 orang semuanya.
image

Sementara yang lain pesan makan, saya sempatkan sholat dzuhur dulu. Selesai sholat, hidangan sudah tersaji di atas meja. Seporsi nasi, ayam goreng kremes, irisan tempe, kol, sambel dan segelas es teh. Yang unik di hidangan tersebut adalah sambalnya ditaruh di layah atau cobek kecil. Gelas es tehnya juga ukuran jumbo.

Selama saya makan di luar rumah, baru kali ini saya lihat gelas segede itu.
Satu lagi yang bikin surprise. Satu porsi nasi plus ayam goreng hanya seharga Rp 9.500. Buat saya yang tinggal di Kalimantan, porsi makan dengan harga segitu cukup murah.

Nggak heran kalau orang-orang yang datang ke tempat itu nggak ada habisnya.

Makanannya juga cocok di lidah. Apalagi pakai ayam kampung yang rasanya lebih gurih daripada ayam putih. Dan sambelnya itu lho yang bikin nendang.

Nggak rugi deh bawa rombongan keluarga makan di tempat ini. Cuma kalau kita pesan buat rombongan, setelah menu dihidangkan harus dicek lagi apa pesanan yang belum datang. Perlu tanya ke pelayannya.

Waktu kami makan di situ ada pesan es buah. Setelah selesai makan, kok es buahnya nggak disajikan. Adik istri nanya ke pelayannya dan baru dijelaskan kalau es buahnya sudah habis. Coba kalau nggak nanya, dikiranya es buahnya masih dibuat dan kami terus saja menunggu.


2 Komentar

Dapat Undangan dari Pembaca Blog

Salah satu kebahagiaan seorang blogger adalah ketika ada pembaca yang tertarik membaca postingan dan kemudian mengundang untuk berkenalan.

Ini yang saya alami waktu membaca komentar Mas Ali Zaenal Abidin:

Salam kenal Mas Yudhi. kapan-kapan mampir lagi di Masjid Raya Cinere. sekarang sudah banyak peningkatan di Masjid kita, baik fasilitas dan layanan. Terimakasih atas postinganya pakk ( Ali guru TPA Masjid Raya Cinere)

Saya memang pernah menulis tentang Masjid Raya Cinere waktu mengikuti psikotes di Jakarta tiga tahun lalu. Semuanya terjadi secara kebetulan. Waktu itu nggak ada maksud secara khusus untuk meliput tempat itu.

Rupanya lokasi Masjid Raya Cinere itu nggak jauh dari biro psikologi tempat saya ikut psikotes. Jaraknya sekitar 100 meter dan berada di samping kantor Polsek. Kalau ingin menyimak ceritanya, silakan klik postingan ini.

Semoga suatu waktu saya bisa jalan-jalan ke Masjid Raya Cinere lagi dan kita bisa kopdar, ya Mas Ali. :-)


2 Komentar

Beli Tiket Pesawat via Internet sudah Termasuk PSC.

Internet memang mempermudah urusan. Termasuk dalam hal pembelian tiket pesawat.

Waktu ke Jakarta dua hari lalu, tiket pesawat Sriwijaya Pontianak – Jakarta sudah saya beli awal Maret pakai jasa penjualan tiket online: Traveloka.

Aplikasinya sudah saya pasang dari play store smartphone. Harga tiketnya Rp 641.000. Saya transfer uang dan konfirmasi pembayaran, beberapa menit dapat balasan email. Sekaligus lampiran tiketnya.

Yang bikin saya senang waktu check in di bandara. Setelah dapat boarding pass, langsung pemeriksaan barang yg dibawa di kabin. Tanpa sebelumnya harus si singgah di loket pembayaran Passanger Service Charge. Dan bayar 30 ribu rupiah.

Pembelian tiket pesawat online via internet memang efisien dan bisa lebih murah.


2 Komentar

Memotret di Atas Laju Speedboat

image

Yang namanya hobi memotret, momen seperti naik speedboat ini termasuk langka.

Kalau bukan karena jalan rusak, kayaknya nggak bakal bisa dapat kesempatan naik speedboat.

Foto di atas diambil waktu naik speedboat dari Logpond ke Nanga Pinoh. Lumayan perjalanannya, sekitar 1 jam kalau milir. Kalau mudik dengan rute yang sama bisa lebih lama karena melawan arus sungai.

Cukup seru juga motretnya. Karena speed sedang melaju di atas sungai Melawi, saya harus jaga keseimbangan badan. Apalagi motretnya harus balik badan supaya dapat gambar gelombangnya.

Pegang handphone juga harus kuat. Khawatir kalau kena hempasan gelombang, terus speed oleng, hilang keseimbangan dan handphone jatuh ke sungai.

Inilah seninya memotret ketika berada di atas benda yang sedang bergerak. Harus benar-benar fokus dengan obyek dan juga alatnya.


16 Komentar

Nuansa Budaya Lokal di Sebuah Bandara

IMG01956-20140910-1324

Bagi yang bepergian menggunakan pesawat, bandara adalah bangunan pertama yang dilihat ketika menginjakkan kaki di sebuah kota. Kesan pertama tentang kota tersebut seakan diwakili oleh keberadaan bandara. Dan saya terus terang mengagumi sebuah kota yang bangunannya mulai kantor pemerintahan, pusat bisnis, pasar, termasuk bandara punya ciri khas budaya dan keunikan daerah itu.

Bangunan khas dan unik yang bentuknya berbeda dengan daerah lain. Seperti kantor Gubernur Kalimantan Barat yang berbentuk seperti rumah betang atau rumah panjang. Atau disain bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya yang atapnya memiliki ciri khas rumah adat Kalteng.

Sudah seharusnya seperti itu disain dan arsitektur bangunan di negeri kita. Setiap kota minimal ibukota propinsi, pusat pemerintahan atau fasilitas publik punya ciri khas bangunan yang tidak harus sama dengan kota lainnya.

Bukan berarti anti bangunan modern. Namun unsur-unsur budaya lokal perlu ditampung dan ditampilkan dalam wujud sebuah bangunan. Ini akan menjadi penanda sebuah kota. Sekaligus melestarikan bangunan dengan ciri khas budaya lokal, agar tidak hilang di tengah gencarnya pembangunan mall, apartemen, super blok atau kondominium.

Tak hanya itu, gedung atau bangunan yang berciri khas budaya lokal itu juga punya potensi memikat wisatawan. Sepanjang dikemas dengan menarik oleh pemerintah daerah, hal itu dapat menjadi obyek wisata yang menarik kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara. Karena wisatawan biasanya mencari sesuatu yang khas dan unik di suatu daerah. Bisa berupa makanan, adat budaya hingga bangunannya.

Bersikap modern termasuk dalam membangun memang diperlukan, namun jangan sampai meminggirkan kekayaan budaya yang menjadi keunggulan negeri kita.


16 Komentar

Gimana Kalau Nama di Tiket nggak sama dengan KTP?

Waktu transit di bandara Soekarno-Hatta untuk kembali ke Pontianak, ada pemeriksaan tiket sebelum masuk ruang boarding. Iseng-iseng saya tanya ke petugas yang memeriksa tiket. Karena waktu itu dia minta saya dan penumpang lainnya supaya menunjukkan KTP.

Setelah selesai memeriksa boarding pass, saya iseng-iseng tanya,”Kalau nama di tiket nggak sama dengan di KTP, gimana, Mas?”.

“Nanti akan kita tanya lagi, Pak. Darimana dapat tiketnya, apakah beli dari agen atau beli dari orang lain”, jelasnya.

Waktu itu saya nggak bertanya lagi karena buru buru masuk ruang boarding dan penumpang lain di belakang sudah antri. Padahal waktu pertama kali check in di bandara Tjilik Riwut Palangkaraya sudah diminta menunjukkan KTP. Waktu tiba di bandara transit juga sudah lapor ke petugas. Lha, ini waktu mau masuk ruang boarding Soekarno-Hatta, kok harus diperiksa lagi KTPnya.

Kalau yang bertanya seperti itu adalah petugas di bagian check in di bandara Tjilik Riwut, saya bisa paham. Karena dia ingin memastikan bahwa penumpang yang berangkat namanya sama dengan identitas dirinya dalam KTP atau SIM. Hal ini sudah ada aturannya. Namun kalau sebelum masuk ruang boarding masih harus menunjukkan KTP lagi, apakah hal itu tidak berlebihan? Atau hal itu sudah menjadi bagian dari SOP pemeriksaan tiket penumpang? Memang kelihatannya sepele. Dan kalau memang namanya sama dengan di KTP, kenapa sih harus khawatir?

Bukan masalah khawatir nggak khawatir. Saya cuma berandai-andai saja. Apa kalau nama penumpang di tiket nggak sama dengan di KTP, terus jadwal keberangkatannya ditunda dan penumpang nggak bisa terbang saat itu? Mungkin teman-teman ada yang tahu jawabannya.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 307 pengikut lainnya.