Yudhi Hendro Berbagi Cerita

Karena setiap detik begitu berharga…


3 Komentar

Tugas Mendadak ke Sintang

Alhamdulillah, kemarin sore jam 16.30 sudah sampai di Losmen Setia, Sintang.

Setelah naik minibus dari Terminal Pinoh yang baru berangkat setelah dapat tujuh penumpang.

Padahal kapasitasnya bisa sampai 15 orang, lho kendaraannya. Setelah masuk , baru saya tahu. Rupanya kursinya memang dimodifikasi buat tujuh penumpang. Dua orang di depan, lima orang di tengah duduk menghadap pintu samping dan belakang.

Setengah bagian belakang, dikosongkan. Nggak ada kursi. Ternyata dipakai buat bawa barang. Jadi separuh isi penumpang, separuh isi barang. Kreatif. Sekali jalan dari tujuh penumpang sudah dapat 350 ribu. Belum pemasukan tambahan dari angkut barang.

Sebenarnya nggak ada rencana pergi ke Sintang. Pagi kemarin masih ngobrol sama tamu dari Jakarta.

Karena ada teman kantor yang sakit, akhirnya jadi pemain pengganti.  Diberitahu mendadak setengah jam sebelum berangkat. Supaya ke Sintang untuk ikut pertemuan  ekspose potensi ekowisata yang diadakan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya dan WWF.

Segala sesuatu memang perlu direncanakan. Tapi terkadang ada hal mendadak di luar rencana yang harus cepat kita putuskan dan lakukan.


2 Komentar

Bekal Makan Ketika di Perjalanan

Mungkin nggak banyak orang yang bawa bekal makanan saat dalam perjalanan. Apalagi bawa bekal nasi dan lauk untuk sarapan, makan siang atau makan malam di kendaraan umum.

Biasanya sebelum naik kendaraan, orang-orang yang bepergian akan makan dulu di rumah, di terminal, di stasiun atau di bandara. Kalau nggak, ya makannya waktu kendaraannya berhenti di rumah makan. Sekalian istirahat dan sholat.

Saya juga biasa makan dulu sebelum naik kendaraan umum dari Pinoh atau Pontianak. Perut diisi dulu sebelum naik bis malam atau bis pagi. Kalau nggak makan, kena AC yang dingin di bis bisa masuk angin.

Tapi hari Rabu lalu (12/1), karena waktu yang mepet, akhirnya saya minta tolong Aysha buat nyiapin bekal untuk makan malam di bis. Waktunya nggak cukup lagi buat makan malam di rumah.

Bisnya berangkat jam 19.00. Jam 18.00 adzan maghrib, sholat maghrib dan isya dijama’ perlu waktu sekitar 20 menit. Terus siap-siap berangkat ke agen bis. Normalnya perlu waktu 20 menit dari rumah kalau nggak macet. Jam 18.30 berangkat diantar istri dan anak-anak.

Sampai di agen bis, setelah letakkan barang-barang ke bagasi, saya cari tempat duduk sesuai tiket. Nomor 3 A. Kursi tunggal, formasi 1-2 bukan 2-2. Mumpung bisnya belum berangkat, saya buka bekal di dalam kotak plastik yang disiapkan Aysha. Ada nasi, sayur tumis sawi dan dua ekor ikan lele goreng. Langsung saya santap bekalnya.

Belum selesai makan, jam 19.00 bisa mulai perlahan bergerak. Saya teruskan makan sambil sekali-kali lihat pemandangan di luar. Sayang kalau bekal yang sudah disiapkan nggak dihabiskan. Nikmat sekali rasanya makan malam waktu perut lapar. Bis pun menambah kecepatan setelah meninggalkan kota Pontianak. Sampai di rumah makan tempat perhentian bis sekitar jam 22.30. Kalau penumpang lain banyak yang turun dan antri mengambil makanan, saya juga ikut turun tapi nggak ambil makanan karena masih kenyang. Turun buat isi ulang batere handphone.

Cuma saya belum tahu, kalau kita naik pesawat terbang boleh nggak ya bawa bekal makan dari rumah? :-) Karena nggak semua maskapai sediakan makan di dalam pesawat. Hanya berikan kotak snack berisi kue dan agua gelas.


6 Komentar

Meski Bisnya Telat, Akhirnya Tiba dengan Selamat

P_20151221_193804A

Baru kali ini saya naik bis antar kota kena delay sampai 2 jam. Biasanya kalau dari Pontianak ke Nanga Pinoh, jam 19.00 sudah start. Tepat waktu. Tapi kali ini jam 21.00 bisnya baru berangkat.

Dua jam waktu yang panjang kalau cuma menunggu. Sambil jalan-jalan, saya nggak sengaja ketemu anaknya teman di camp yang mau pulkam ke Nanga Pinoh. Dia kuliah di Politeknik Negeri Pontianak dan lagi liburan. Dia duluan yang menegur, rupanya senasib. Sama-sama nunggu bis nomor 9. Ngobrol lama sampai perut terasa lapar lagi. Untungnya pihak pengelola bis kasih kompensasi gara-gara bisnya telat. Tiap penumpang dapat satu kotak snack yang isinya roti dan agua gelas. Waktu bisnya datang dan penumpang masuk, dapat lagi tuh snack.

Sambil ngisi waktu bisnya datang, saya motret juga bis antar negara yang baru datang yang tujuannya ke Serawak Malaysia dan Brunei Darussalam. Mungkin cuma di Pontianak saja ada bis yang nggak hanya melayani penumpang yang bepergian antar kota, tapi juga antar negara.

Sebenarnya untuk pulang saya sudah booking bis Pontianak – Nanga Pinoh yang super eksekutif, tapi berubah pikiran waktu ambil tiket di kantor. Nggak jadi ambil tiket super eksekutif, malah ganti beli tiket eksekutif. Bukan karena nggak dapat tempat duduk, tapi terpengaruh enaknya naik bis eksekutif yang masih baru waktu perjalanan  Nanga Pinoh – Pontianak.  Jadi ingin ngrasain lagi tuh enaknya naik bis baru. Saya pikir kalau balik lagi ke Nanga Pinoh dan beli tiket yang eksekutif lagi tanggal 21 Desember 2015, dapat bis baru lagi.

Ternyata perkiraan saya meleset saudara-saudara. Bis yang datang bukan yang saya harapkan. Bukan bis yang baru buka bungkus, interiornya mengkilap dan ada CCTV-nya. Baru kali ini saya naik bis ada CCTV-nya. Tapi bis yang lama. Maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Maksud hati ingin merasakan nyamannya naik bis baru, apa daya dapat bis yang lama ditambah dua jam menanti.

Tapi rapopo, meski bisnya jalan agak slow, perjalanan lancar dan tiba dengan selamat di Nanga Pinoh jam 7 pagi.


9 Komentar

Liburan Nadia ke Jogjakarta dan Malang

Nyekar ke makam BK

“Saya cuma antar Nadia ke bandara, Mas. Setelah dia masuk ruang check in, saya pulang. Nanti di Jogja eyang kakung yang jemput di bandara”kata istri ketika sudah sampai di rumah.

Tiket Pontianak – Jogja pergi pulang sudah saya belikan untuk liburan Nadia. Inilah pengalaman pertama dia bepergian naik pesawat sendirian. Saya dan mamanya percaya, dia sudah bisa liburan ke Jogja tanpa harus diantar. Sudah kelas XII.

Sebelumnya dia selalu bersama keluarga kalau pulang ke Jogja. Tapi inilah saatnya dia harus mandiri. Antri check in, masuk ruang boarding, tunggu panggilan naik pesawat, mendarat di Jogja dan antri ambil bagasi semuanya harus dia lakukan sendiri. Nggak harus didampingi orangtuanya lagi.

Adik eyang putrinya yang tinggal di Jogja saja sampai kaget,”Berani ya dia pergi sendirian”. Saya masih ingat ketika pertama kali pergi sendirian antar kota ya  kelas 3 SMA. Tapi jaraknya nggak jauh, cuma dari Jogja ke Semarang naik travel.

Sebenarnya tujuan Nadia ke Jogja nggak cuma untuk liburan, tapi juga mewakili pertemuan keluarga besar dari pihak istri di Malang tanggal 26-27 Desember. Nadia mewakili keluarga dari Pontianak. Dari Jogja yang berangkat eyang putri, eyang kakung, oom, tante yang tinggal di Jogja juga ponakan-ponakan. Kakaknya eyang putri yang tinggal di Bandung juga ikut berangkat sama-sama dan singgah di Jogja dulu.

Ke Malang nggak cuma untuk hadir di acara pertemuan keluarga besar, dia juga ingin lihat kampus Universitas Brawijaya (UB). Ceritanyanya sih waktu SNMPTN nanti dia mau milih UB. Ambil jurusan Akuntansi dan Sastra Cina. Lihat kampusnya dulu untuk meyakinkan hati dan pilihan.

“Kok milih UB? Peluang diterimanya lewat SNMPTN lebih besar”kata Nadia. Tahun lalu ada tiga kakak kelasnya yang diterima lewat jalur undangan di UB. Kampus akan melihat track record SMA dan peserta SNMPTN yang diterima dan daftar ulang pada tahun-tahun sebelumnya.

Lihat foto-fotonya waktu diunggah oom dan tantenya di WA, bikin saya ingin ke Malang. Singgah di makam bung Karno di Blitar, ketemu dengan keluarga-keluarga lain, foto bareng. Apalagi waktu makan di bakso President Malang, walah antriannya sampai panjaaang.

Tiga hari lalu, ketika sore saya telepon dia, rombongan keluarga sedang dalam perjalanan pulang ke Jogja. Waktu itu baru sampai Blitar. Rupanya keluarga besar pulang lewat jalur selatan. Malang – Blitar – Trenggalek – Ponorogo – Gunungkidul – Jogja. Berbeda dengan rute perginya yang lewat Solo – Madiun – Kediri – Malang.

Wah, benar-benar liburan seru dan lengkap. Menikmati wisata sejarah, wisata kuliner, ketemu keluarga besar sambil lihat-lihat kampus yang diidam-idamkan.


2 Komentar

Rumah Radank, Rumah Panjang Khas Kalimantan Barat

P_20151218_145618A

Masih satu paket kunjungan wisata saat menemani keluarga dari Jogja, satu obyek wisata yang kami kunjungi adalah rumah Radank. Rumah adat Dayak yang biasa juga disebut rumah betang atau rumah panjang. Lokasinya di daerah Kotabaru, di dalam kota Pontianak. Tepatnya di sisi kanan bundaran Kotabaru dari arah Jalan Ahmad Yani. Di sampingnya juga terdapat rumah Adat Melayu.

Rumah adat Dayak sebelumnya berlokasi di Jalan Sutoyo dekat dengan rumah dinas Gubernur Kalbar. Namun berukuran lebih kecil dibandingkan yang di Kotabaru.

P_20151218_145430A

Untuk masuk ke lokasi Rumah Radank nggak perlu bayar tiket masuk, cukup bayar ongkos parkir saja. Halaman di depannya cukup luas dan ideal untuk mengambil gambar dari berbagai sisi. Kalau ingin naik ke atas dan melihat-lihat kamarnya disediakan tangga yang cukup lebar berada di bawah bangunanan. Bangunan memanjang yang terdiri atas beberapa kamar itu cocok jadi tempat pemotretan pre wedding. Beberapa fotografer menjadikan hiasan khas di dinding kamar sebagai latar belakang untuk pemotretan.

Ada juga dua buah tangga tradisional yang terletak di bagian depan. Terbuat dari kayu belian atau ulin yang dibuat lubang setengah lingkaran untuk pijakan kaki. Bagi yang nggak terbiasa menaiki tangga ulin ini,  disarankan tidak mencobanya karena sempit dan posisinya tegak lurus.

Jpeg

Mungkin karena membahayakan keselamatan pengunjung karena resiko terjatuh jika memanjat, di bagian sepertiga tangga dipasang penghalang dari kayu.

Di bagian depan rumah Radank juga didirikan enam tiang yang ujungnya dihiasi dengan burung khas Kalimantan, Enggang atau Rangkong.

Pada saat Presiden Jokowi meresmikan Karnaval Khatulistiwa beberapa bulan lalu, rumah Radank dijadikan tempat permulaan konvoi kendaraan hingga berakhir di Keraton Kadriyah.

Di tempat ini pula anak sulung saya, Nadia, pernah menyajikan tarian tradisional bersama teman-temannya. Ketika itu, serombongan turis dari Malaysia merekam tarian mereka dan tanpa diduga memberikan tips untuk mereka.

Nah, kalau berwisata ke kota Pontianak, jangan lupa ya sempatkan untuk melihat rumah Radank, juga rumah Adat Melayu yang lokasinya berdekatan.


8 Komentar

Berwisata Sejarah ke Keraton Kadriyah

P_20151219_094627A

Hari Sabtu pekan lalu (19/12), saya berkesempatan menemani salah seorang keluarga dari Jogja berwisata keliling kota Pontianak. Sebelum mengisi seminar umroh yang waktunya siang hari, pagi harinya kami ajak dia jalan-jalan.

Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Keraton Kadriyah. Maklum, keluarga yang adik ipar istri ini memang hobi mengunjungi tempat-tempat bersejarah seperti keraton, istana atau makam raja-raja dan para pahlawan nasional. Di setiap tempat atau kota yang punya wisata sejarah, dia usahakan untuk mengunjungi tempatnya di sela-sela kesibukannya sebagai pembicara seminar umroh.

Lokasinya nggak jauh dari kota. Dari pusat kota Pontianak, kami menyeberangi jembatan Kapuas, terus belok ke kiri melewati gapura penanda keraton. Jalan masuk keraton agak sempit untuk kendaraan roda empat. Jadi kalau berpapasan dengan kendaraan lain, salah satu kendaraan harus menepi.

Setelah memarkir kendaraan, kami berjalan sekitar 100 meter ke sebelah kiri tempat parkir. Kiri-kanan jalan menuju keraton padat dengan rumah-rumah warga.

P_20151219_094929A

Untuk masuk ke Keraton Kadriyah nggak perlu bayar tiket masuk. Gratis. Sampai di dalam keraton, kita akan disambut oleh pemandu wisata yang masih keturunan sultan. Dia menjelaskan kalau sultan sedang berbincang-bincang dengan rombongan tamu lain di teras di sisi kiri keraton. Wah, sayang sekali nggak bisa ketemu dan ngobrol dengan sultan.

Akhirnya, waktu yang ada kami gunakan untuk melihat-lihat ruangan di dalam keraton yang didominasi warna kuning. Berbagai barang peninggalan sejarah masih tersusun dengan rapi. Sepasang kursi singgasana dan latar belakangnya menjadi obyek menarik untuk berfoto ria.

P_20151219_095810A

Juga gambar-gambar keluarga sultan dan foto disain burung garuda juga terpasang rapi di dinding. Rupanya, lambang negara kita, burung garuda itu konsepnya yang membuat Sultan Hamid II.

Puas menikmati keraton Kadriyah yang didirikan tahun 1771, kami meneruskan perjalanan menuju Masjid Jami. Cukup berjalan kaki sekitar 200 meter, sudah sampai di masjid yang letaknya di samping sungai Kapuas.

P_20151219_101106A

Namun sayang beribu sayang, kami nggak sempat masuk. Hanya melihat dari luar bangunan masjid yang atapnya terbuat dari sirap kayu belian atau ulin.

Di pondok tepi sungai Kapuas, banyak pemandangan menarik yang bisa dilihat selain bangunan masjid Jami. Jembatan Kapuas yang terlihat kokoh, kapal wisata yang sedang menurunkan penumpang dan warga yang menggunakan sampan bermesin untuk menyeberang sungai.

Buat teman-teman yang akan berwisata ke Pontianak, jangan lupa ya agendakan juga untuk berkunjung ke tempat ini.


10 Komentar

Hasil Jalan Kaki di Pagi Hari

Kemarin pagi habis sholat subuh, waktu jalan kaki mendaki pulang dari masjid ke rumah, sempat berhenti di tangga. Ada pemandangan yang bagus. Awan tipis seperti kapas bergerak perlahan di sela pepohonan di hutan. Luar Biasa. Cuma waktu itu lagi nggak bawa handphone kamera.

Sampai rumah ambil handphone dan setelah agak terang…. langsung jepret dan di bawah ini hasilnya. Sayang, awannya sudah perlahan menghilang, tersisa sedikit di bagian tengah hutan. Jalan kaki ternyata nggak hanya bagus buat kesehatan, tapi juga dapat bonus bisa motret pemandangan yang cantik.

Jpeg

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya