Mantap Jujur Tertib Usaha

Ada banyak nama bis yang melayani Pontianak – Nanga Pinoh PP. Ada DAMRI, Tanjung Niaga, TSM, Borneo Trans dan Maju Terus. Tiap nama bis itu punya makna khusus. DAMRI singkatan dari Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia. Ditulis pakai ejaan lama ya 🙂 .

Saya maklum dan tersenyum ketika ada teman yang lebih muda umurnya pernah tanya DAMRI itu artinya apa sih? Saya bisa langsung jelaskan artinya karena waktu  SD di tahun 1980-an, saya sudah kenal  nama bis milik pemerintah ini.

TSM singkatan dari Tri Star Melawi. Ceritanya ada tiga tokoh dari kabupaten Melawi yang berkongsi atau bekerja sama menjalankan perusahaan otobis ini. Ini yang melatarbelakangi kenapa bis ini dinamakan Tri Star Melawi.

Selanjutnya nama bis Tanjung Niaga diambil dari nama salah satu desa di kota Nanga Pinoh. Pemiliknya memberi nama ini karena dia dan keluarganya tinggal di desa Tanjung Niaga.

Borneo Trans termasuk pemain baru di jalur Pontianak – Nanga Pinoh menggantikan trayek bis Allegra yang ijin trayeknya dicabut pemerintah. Nama Borneo Trans bisa menggambarkan bis yang melayani transportasi antar kota di pulau Kalimantan, khususnya Kalbar.

Nah, waktu pertama kali lihat nama bis Maju Terus, saya kira nama  itu semacam slogan atau semboyan. Semacam kata-kata penyemangat supaya dalam menjalankan usahanya tidak mudah putus asa atau pantang menyerah menghadapi berbagai macam hambatan.

Ternyata perkiraan saya nggak sepenuhnya benar. Sampai ketika saya naik bis ini dan nggak sengaja lihat di dinding samping sopir, saya baru ngeh ternyata Maju Terus itu bukan slogan atau semboyan tapi akronim. Maju Terus itu singkatan dari Mantap, Jujur, Tertib, Usaha. 🙂

Nggak semua bisnya sih dinding dekat sopirnya ditulis empat kata itu. Pernah juga saya naik bis Maju Terus lainnya akronim itu nggak ada. Memang Shakespeare bilang apalah artinya sebuah nama. Namun, pemilik bis Maju Terus membuktikan bahwa nama itu sangat berarti untuk keberlangsungan usahanya.

Saya masih ingat waktu tahun 1995 – 2000 naik bis ini yang masih kategorinya mini bis seukuran elf. Berangkat jam 11 siang dari Pinoh. Tempat duduknya sempit dan gak bisa digeser maju mundur. Sampai Pontianak sekitar jam 9 malam. 10 jam di perjalanan di dalam bis seperti itu.

Dimulai menjalankan bis kecil untuk melayani penumpang Pontianak – Pinoh PP, sekarang Maju Terus berkembang memiliki armada bis super eksekutif yang melayani Pontianak – Pinoh PP dan Pontianak – Sintang PP.

Mantap, Jujur, Tertib, Usaha. Untaian kata-kata yang nggak cuma sekadar nama, tapi menjadi pedoman yang sungguh-sungguh dipraktekkan sehingga berhasil dalam menjalankan usaha .

 

Iklan

Naik Bis Malam Pontianak – Nanga Pinoh, Waktu Tempuh Sekarang 8 jam

Setelah ruas jalan Tayan – Sosok diperbaiki, waktu tempuh dari Pontianak – Nanga Pinoh makin berkurang. Dulu bisa sampai 9,5 jam, sekarang hanya 8 jam. Ini yang saya alami waktu naik bis antar kota dalam propinsi tiga hari lalu.

Berangkat dari terminal Sudarso jam 7 malam. Oya, sekarang semua perusahaan otobis keberangkatannya sudah dipusatkan di terminal Sudarso.

Dengan kecepatan sedang, jam 10 bis sudah sampai rumah makan di Sosok. Saya nggak nyangka karena biasanya jam setengah dua belas malam bis baru sampai di tempat itu. Setelah istirahat sekitar setengah jam lanjut perjalanan lagi dari Sosok – Nanga Pinoh.

Dengan tiba awal di Nanga Pinoh atau Pontianak, ini menguntungkan buat saya. Karena tidak khawatir lagi tertinggal sholat subuh berjamaah di masjid. Saat bis tiba jam 3 pagi, masih ada waktu yang cukup buat istirahat, mandi terus jalan kaki ke masjid.

Bagi perusahaan otobis pun, waktu tempuh yang lebih pendek akan menguntungkan karena dapat menghemat pemakaian BBM. Lumayan lho, kalau bisa menghemat waktu satu setengah jam perjalanan.

Pelayanan Sepenuh Hati dari Kru Bis Antar Kota Dalam Propinsi

“Assalamu alaikum. Pesan tiket untuk 1 orang ke Ponti tanggal 6 Mei ya, bang. Nomor kursinya 3A atau 4A”kata saya lewat WA ke bang Udin, agen tiket bis antar awal bulan ini.

“Iya, pak, entar saya lihat, saya lagi di rumah”jawabnya

“Yang single habis, pak, yang ada nomor 5B”sambungnya tiga jam kemudian.

“Yang nomor 3B atau 4B apa ada”tanya saya lagi

“3B, 4B gak ada lagi, pak, yang ada 5B. Full penumpangnya”bang Udin menjelaskan

“Ok 5B gak apa-apa kalau memang penumpangnya full”kata saya dengan nada pasrah.

Saya nggak minta dia usahakan atau mendesak supaya dapat nomor kursi sesuai pesan saya.

Saya tahu diri kalau saya yang salah. Kenapa mepet waktu booking tiketnya. Tiga hari mau berangkat ke Ponti baru cari tiket. Berangkatnya hari Minggu lagi.  Kenapa nggak seminggu sebelumnya, kan tanggal berangkatnya sudah direncanakan. Ya wajar kalau dapat kursinya agak di belakang. Bukan kursi  depan yang tunggal.

Saya baru ingat kalau penumpang full karena tanggal 8 Mei ada SBMPTN. Pasti  lulusan SMU dari Melawi yang mau ikut seleksi di Pontianak banyak yang naik bis malam.

Dan sehari sebelum berangkat, tanggal 5 Mei sewatu saya di kantor ada pesan WA dari bang Udin

“Pak, tiketnya  nomor 3A ya”

“Oya?ok bang. Buat besok tanggal 6 Mei, ya” jawab saya.

Pesan WA pagi itu benar-benar mengejutkan saya. Saya nggak pernah membayangkan akan dapat tiket sesuai nomor kursi favorit saya, 3A. Saya pun gak bertanya ke bang Udin kok dia masih berusaha carikan kursi sesuai keinginan saya. Atau mungkin ada penumpang yang batal berangkat dan kursinya diberikan ke saya.

Yang jelas ingatan dan ikhtiarnya memenuhi kebutuhan penumpang patut diacungi jempol.

“Makasih ya bang, sudah usahakan dapat kursi tunggal buat saya”kata saya ketika bis bergerak keluar dari terminal Sidomulyo di Nanga Pinoh.

 

Jika Tarif Bisnya Sama, Maka Saya Pilih yang Servisnya Lebih Baik

Setiap bulan saya biasa naik bis super eksektutif Pontianak – Nanga Pinoh pergi pulang (PP). Ada satu bis milik BUMN dan empat perusahaan swasta  yang melayani trayek tersebut. Tarifnya pun sekarang sama. 170 ribu rupiah sekali jalan.

Nah, kalau perusahaan-perusahaan itu menawarkan tarif yang sama, pilihan saya jatuh pada perusahaan yang layanan ke penumpangnya bagus.

Saya lebih memilih bis yang agen bagian ticketingnya benar-benar melayani penumpang, sejak pesan tiket sampai saya ambil tiket di kantor agennya. Apalagi  petugasnya sampai hapal nama penumpangnya dan disambut dengan senyum ramah waktu saya mau ambil tiketnya.

Pernah sekali saya dapat kejutan. Waktu pesan tiket saya dapat kursi nomor 3 B yang bersebelahan dengan kursi 3 C. Pas saya datang ke agennya untuk ambil tiket, petugasnya bilang, bapak saya kasih kursi tunggal nomor 3 A. Tempat duduk di bis super eksekutif formasinya 1-2. Satu lajur kursi tunggal yang terpisah dengan dua lajur kursi berikutnya yang berhimpit. Bisa jadi saya dikasih nomor kursi tunggal karena saya sering naik bis itu dan duduk di kursi tunggal.

Wah, benar-benar di luar ekspetasi saya. Berarti dia tahu selera penumpangnya. Dia perhatian dengan karakter pelanggannya. Pelayanan seperti itu bagi saya lebih baik daripada saya dijanjikan kursi tunggal, ternyata kenyataannya diberi kursi ganda.

Nggak cuma itu, pernah juga waktu datang ke terminal di Pinoh, saya terlambat lapor ke bagian ticketing karena sholat Maghrib dan makan malam dulu. Karena bis berangkat jam 7, saya buru-buru masukkan tas ke bagasi dan serahkan tiket ke petugasnya di dalam bis. Melihat saya belum lapor ulang, spontan dia bilang,”Mana tiketnya, Pak. Saya bantuin lapor”

Dia bawa tiket itu terus diserahkan ke petugas lainnya di dalam terminal untuk dituliskan plat nomor bisnya. Setelah itu tiket diserahkan lagi ke saya.

Saya salut dengan sikap melayaninya sungguh-sungguh. Dia bukannya menyuruh saya yang lapor, tapi dia sendiri yang ambil keputusan membantu penumpang.

Kru di dalam bisnya juga ramah dan siap membantu penumpang. Ketika toilet di dalam bis rusak dan nggak bisa digunakan, sopir memutuskan berhenti di SPBU dan menawarkan ke penumpang yang ingin buang air. Saya lihat dua kali bis berhenti di SPBU, selain di rumah makan. Selain untuk melayani penumpang yang ingin buang air juga sekalian mengisi tangki BBM.

Nah, kalau pelayanannya di luar ekspetasi dan cepat tanggap seperti itu, bisa memberi solusi bagi penumpang di saat ada masalah,  ada semacam perasaan dalam hati saya nggak ingin pindah ke lain bis.

Dahsyatnya Kekuatan Niat

Dua hari lalu, ketika makan pagi di kantor, saya bilang ke teman-teman,”Wah, foto jembatan gantung yang diupload di FB sama Sokan, bagus”

“Kita ke sana yuuk, pak”kata abah Alwi.

“Kapan?”tanya saya

“Nanti sore, jam setengah lima habis pulang kerja. Moga-moga cuaca cerah”

Sore hari, selesai memberi makan ayam di belakang kamar, saya bergegas siapkan sepatu dan tas pinggang untuk menyimpan HP. 

Sampai di depan pos pengamanan saya bertemu Mas Mul, teman kerja yang berdiri di samping sepeda motornya.

“Mau ke jurusan mana, Pak? Ke GOR atau ke atas”tanya Mas Mul

“Ke 37, Mas, mau lihat jembatan gantung” jawab saya.

“Ayo, saya antar” dia menawarkan diri mengantar saya ke lokasi yang jaraknya dua kilometer  itu.

Sampai di sana, saya bertemu Abah Alwi yang berangkat duluan. Juga diantar pakai motor sama teman lainnya.

Subhanallah, memang bagus banget pemandangannya. Sungai yang airnya jernih. Saking jernih sampai beberapa tempat terlihat dasarnya.

Juga pemandangan lebatnya pepohonan. Lokasi yang kami datangi itu areal Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

Ada bangunan baru berupa jembatan gantung yang melintasi sungai Ella. Waktu kami berjalan menyusuri jembatan, badan terayun-ayun seperti waktu naik speed boat. Makin cepat jalannya, makin kuat ayunannya. 

Beberapa kali kami berhenti di jembatan untuk mengambil gambar. Memotret sumgai, foto selfi dan posisi lantai jembatan.  Puaass rasanya.

Pulangnya kami jalan kaki. Sesekali berhenti memotret pemandangan alam. Tanpa disangka saat kami jalan, terdengar suara kendaraan dari kejauhan.

“Kayaknya itu trailler, bi”saya coba menebak dari suara mesinnya.

Kami tetap berjalan dan saya lihat abi bajunya basah dengan keringat. Suara kendaraan itu makin lama makin terdengar kuat. 

Ternyata dugaan saya benar. Terlihat truck trailler yang mengangkut log mendekati kami.

Buru-buru kami menepi sambil bersiap memotret momen yang nggak direncanakan ini.

Wow…..tercapai juga keinginan saya. Sebelumnya, saya dalam hati pernah berniat ingin sekali memotret truck trailler secara spontan pada saat saya jalan-jalan.

Hal yang tak terduga lainnya, saat kami berdua berjalan pulang, terdengar lagi suara mobil dari arah belakang. 

Wah, bisa menumpang nih sampai ke camp. Ketika mobil itu mendekat, saya bilang, “Apa bisa numpang?”
“Penuh, Pak”kata supirnya. Saya lihat nggak ada lagi kursi kosong di dalammya. 

“Nggak apa-apa, kami duduk di  belakang”jawab saya.

Saya dan abah Alwi pun duduk di bak terbuka di belakang. Lumayan dapat tumpangan. 

Waaa, hembusan anginnya kuat, apalagi saat mobil menambah kecepatan saat menyalip traiiller atau melaju kencang di jalan tanjakan. Cepat-cepat kami mencari tempat berpegangan.

Alhamdulillah, sampai juga kami di camp 35 dengan selamat. Lega rasanya bisa mewujudkan niat lihat jembatan gantung.

Dapat pengalaman baru tak diduga-duga berangkatnya diantar pulangmya numpang, suasana baru di alam terbuka. Dapat ilmu baru tentang pentingnya kita punya niat dan jangan sampai ditunda-tunda actionnya, juga energi dan semangat baru setelah berjalan-jalan bersama. 

Kalau boleh diibaratkan, seperti hp yang low battere terus dicharge lagi sampai full.

Punya niat yang kuat dan bersungguh mewujudkannya akan menyehatkan pikiran dan membuka jalan mendapatkan sesuatu yang baru.

Tetaplah Bergerak

Selama 20-an tahun lebih tinggal di Pontianak, belum pernah saya memgalami banjir seperti hari Minggu lalu.

Hampir setiap ruas jalan yang saya lewati digenangi air. 

Di jalan perdana, jalan Sutoyo apalagi daerah Purnama, saya harus hati-hati ketika mengemudikan kendaraan. Jangan sampai mogok di tengah jalan. Demikian juga pengendara mobil dan motor lainnya. Mereka juga pelan-pelan membawa kendaraannya.

Sebenarnya, kalau boleh memilih, dalam kondisi banjir dan cuaca masih mendung, lebih enak tinggal di rumah. Minum teh hangat sambil menikmati pisang goreng.

Namun saya dan istri tetap putuskan pergi karena banyak yang harus dikerjakan. Ke Puskesmas, kantor polisi, supermarket dan silaturahmi ke rumah temannya istri.

Banjir memang nggak bisa dihindari, namun bukan berarti membuat langkah kami terhemti. 

Sepanjang kita mengemudikan kendaraan dengan hati-hati, sering pakai gigi dua, genangan air di jalan pun bisa dilewati 

3 Hari yang Berkesan di Masjid Azzikra, Bogor

Perjalanan saya ke Bogor 27 Oktober lalu hadir di acara Kopdar Saudagar  Nusantara (KSN) meninggalkan  banyak cerita. 

Salah satunya ketika berada di masjid Azzikra. Bayangan saya tempat  itu hanya berupa masjid yang  biasa digunakan acara Dzikir Akbar Ustadz  Arifin  Ilham. Ternyata yang saya lihat lebih dari  itu

Sampai di Botani  Square sekitar  jam 1 siang setelah naik bus Damri  dari  bandara Soetta,  perjalanan  saya  lanjutkan naik  taksi online ke masjid Azzikra. 

Rupanya driver  yang antar  saya baru  pertama kali juga ke Azzikra. Jadi waktu itu saya bingung waktu ditanya masuknya dari  sebelah mana. Akhirnya kami putuskan berhenti di samping pos ronda dan tanya seseorang. 

Ternyata  tempat  yang saya cari sudah terlewat. Driver pun memutar lagi.

Panitia KSN memamg  menyediakan alternatif tempat tinggal gratis bagi cowok di Aula Khadijah. Sementara buat yg cewek  di masjid  Andalusia. 

Aula Khadijah ini berada di lantai pertama, sedangkan  masjid Azzikra di kantor dua.

Di kompleks Azzikra ini juga ada santri-santri yang biasa bersorban. Malam hari pertama saya dikejutkan  dengan suara adzan. Saya kira sudah masuk  subuh. 

Ternyata saya  lihat  jam,  baru jam 3 pagi.  Saya bangun dan bergegas ke toilet. Sudah ada beberapa orang peserta  KSN dan santri yang berwudhu. Baru saya tahu ternyata suara adzan tadi untuk membangunkan jamaah  agar  sholat  tahajjud. 

Sebelum menginap di  aula Azzikra, sorenya saya sempatkan ke SICC naik ojek online untuk daftar ulang peserta dan ambil souvenir.  

Hanya  lima menit saja ke SICC lewat belakang Azzikra, melintas  terowongan di bawah jalan  tol Jagorawi. 

Setelah sholat subuh  berjamaah, dilanjutkan dzikir dan doa. Nah, yang unik itu justru santri yang memimpin  doa dan pakai bahasa Indonesia. Imam  dan jamaah lainnya mengaminkan.

Dua sholat  subuh di Azzikra saya  belum  melihat ustadz Arifin Ilham hadir. Waktu itu saya berharap semoga selama  di Azzikra saya bisa bertemu langsung  beliau.

Harapan  itu muncul saat sholat subuh di hari ketiga, tanggal  30 Oktober, saya  lihat  beliau  duduk di shaf pertama. Selesai  sholat ada tausyiah,  tapi saya gak sempat  lagi ikut  karena  harus kemas-kemas barang.

Keluar  dari aula Khadijah sambil menenteng koper, saya lihat ustadz Arifin Ilham berjalan menyapa jamaah dan peseta KSN di depan aula. Alhamdulillah, Allah SWT kabulkan  doa  saya. 

Nggak  saya  lewatkan kesempatan itu untuk bergabung. Menyapa ustadz dan  nggak lupa  foto bareng.