3 Hari yang Berkesan di Masjid Azzikra, Bogor

Perjalanan saya ke Bogor 27 Oktober lalu hadir di acara Kopdar Saudagar  Nusantara (KSN) meninggalkan  banyak cerita. 

Salah satunya ketika berada di masjid Azzikra. Bayangan saya tempat  itu hanya berupa masjid yang  biasa digunakan acara Dzikir Akbar Ustadz  Arifin  Ilham. Ternyata yang saya lihat lebih dari  itu

Sampai di Botani  Square sekitar  jam 1 siang setelah naik bus Damri  dari  bandara Soetta,  perjalanan  saya  lanjutkan naik  taksi online ke masjid Azzikra. 

Rupanya driver  yang antar  saya baru  pertama kali juga ke Azzikra. Jadi waktu itu saya bingung waktu ditanya masuknya dari  sebelah mana. Akhirnya kami putuskan berhenti di samping pos ronda dan tanya seseorang. 

Ternyata  tempat  yang saya cari sudah terlewat. Driver pun memutar lagi.

Panitia KSN memamg  menyediakan alternatif tempat tinggal gratis bagi cowok di Aula Khadijah. Sementara buat yg cewek  di masjid  Andalusia. 

Aula Khadijah ini berada di lantai pertama, sedangkan  masjid Azzikra di kantor dua.

Di kompleks Azzikra ini juga ada santri-santri yang biasa bersorban. Malam hari pertama saya dikejutkan  dengan suara adzan. Saya kira sudah masuk  subuh. 

Ternyata saya  lihat  jam,  baru jam 3 pagi.  Saya bangun dan bergegas ke toilet. Sudah ada beberapa orang peserta  KSN dan santri yang berwudhu. Baru saya tahu ternyata suara adzan tadi untuk membangunkan jamaah  agar  sholat  tahajjud. 

Sebelum menginap di  aula Azzikra, sorenya saya sempatkan ke SICC naik ojek online untuk daftar ulang peserta dan ambil souvenir.  

Hanya  lima menit saja ke SICC lewat belakang Azzikra, melintas  terowongan di bawah jalan  tol Jagorawi. 

Setelah sholat subuh  berjamaah, dilanjutkan dzikir dan doa. Nah, yang unik itu justru santri yang memimpin  doa dan pakai bahasa Indonesia. Imam  dan jamaah lainnya mengaminkan.

Dua sholat  subuh di Azzikra saya  belum  melihat ustadz Arifin Ilham hadir. Waktu itu saya berharap semoga selama  di Azzikra saya bisa bertemu langsung  beliau.

Harapan  itu muncul saat sholat subuh di hari ketiga, tanggal  30 Oktober, saya  lihat  beliau  duduk di shaf pertama. Selesai  sholat ada tausyiah,  tapi saya gak sempat  lagi ikut  karena  harus kemas-kemas barang.

Keluar  dari aula Khadijah sambil menenteng koper, saya lihat ustadz Arifin Ilham berjalan menyapa jamaah dan peseta KSN di depan aula. Alhamdulillah, Allah SWT kabulkan  doa  saya. 

Nggak  saya  lewatkan kesempatan itu untuk bergabung. Menyapa ustadz dan  nggak lupa  foto bareng.

Iklan

Berwisata ke Tugu Khatulistiwa, Ikon Kota Pontianak yang Terkenal

Setelah jalan-jalan ke pantai Kijing di Mempawah, pulangnya kami sempatkan singgah di Tugu Khatulistiwa, ikon kota Pontianak yang berada di daerah Siantan.

Bukan hanya kali ini saya berkunjung ke tempat wisata ini. Ada pembenahan yang sedang dilakukan pemkot. Tempat parkir dibuatkan khusus di luar areal Tugu Khatulistiwa. Pengunjung tidak dipungut bayaran, hanya dikenai tarif parkir kendaraan.

Hal baru lainnya adalah jalan di dalam area wisata yang mengarah ke sungai Kapuas sudah terlihat rindang dengan pepohonan di kanan kirinya. Di sebelah kanan dari arah sungai Kapuas, ada beberapa ruangan yang rencananya difungsikan untuk rumah makan.

Kalau kita jalan terus akan menuju ke dermaga tempat kapal wisata bersandar. Dari tempat ini kita bisa melihat suasana sungai Kapuas dan pemandangan kota Pontianak . Di dalam Tugu Khatulistiwa, selain foto-goto dan replika tugu di ruangannya, yang khas adalah  permainan menegakkan telur.

Petugas menyediakan beberapa telur ayam dan para pengunjung dipersilakan mencobanya. Ada seorang pengunjung yang berhasil membuat sebutir telur berdiri tegak di lantai. Saya yang mencobanya berkai-kali belum bisa juga. Penasaran juga, satu saat saya akan datang lagi.

Kalau anda berkunjung ke Pontianak, sempatkan ya datang ke tugu Khatulistiwa… 🙂

Pemandangan Indah di Pantai Kijing Mempawah

Meski sudah pernah berlibur ke pantai Pasir Panjang dan Sinka Island di Singkawang yang jarak tempuhnya lebih jauh, ke pantai Kijing di Mempawah yang lebih dekat malah belum pernah.

Sampai ketika libur lebaran Idul Fitri lalu, saya dan keluarga memutuskan berlibur di pantai yang waktu tempuhnya sekitar 2 jam dari Pontianak itu.

Menyewa Avanza Veloz yang tarifnya 500 ribu per 12 jam tanpa sopir, kami berenam berangkat pagi di hari kedua lebaran Idul Fitri. Beruntung juga meski acaranya dadakan, tapi kami masih dapat mobil sewaan. Bekal untuk makan siang juga sudah disiapkan mamanya Nadia.

Sampai di daerah Sungai Pinyuh, kami berhenti dulu karena ada barang-barang yang perlu dibeli. Perjalanan waktu itu lancar dan udara cukup cerah.

Sampai di pantai Kijing sekitar jam 9 pagi. Setelah membayar tiket masuk  30 ribu per orang termasuk kendaraan, kami menuju pantai.

Kendaraan roda empat boleh masuk ke tepi pantai. Para pedagang kaki lima yang jualan mainan anak-anak, makanan, dan minuman juga diperbolehkan berjualan di dalam areal wisata.

Setelah menikmati pemandangan pantai dan foto-foto di sekitarnya, kami duduk di pondok dan memesan kelapa muda. Sebutir kelapa muda seharga 15 ribu.

Sayangnya, keindahan pantainya terganggu sampah-sampah yang berserakan. Tidak nanpak petugas yang memunguti sampah-sampah yang berserakan itu selama kami di sana. Tempat sampah juga kurang sekali.

Selesai melihat pemandangan, kami berpindah ke lokasi yang agak sepi di sebelah utaranya. Rupanya mamanya Nadia waktu jalan-jalan sama Aisha menyusuri pantai melihat ada tempat yang lebih bagus. Akhirnya kami pindah tempat.

Mobil perlahan-lahan menelusuri jalan yang di kanan kirinya ditempati para pedagang. Juga melewati panggung hiburan yang hari itu digunakan untuk live show musik dangdut.

Sampai di tempat yang agak sepi, di bawah pohon kelapa, kami menggelar tikar dan makan siang di situ. Menyantap bekal sambil menikmati pemandangan pantai. Di bagian utara ini tempatnya lebih bersih daripada sebelumnya. Pemandangannya juga lebih bagus. Hanya ada dua mobil pengunjung termasuk kami yang parkir di sini.

Sebelum makan, saya sempatkan memotret beberapa obyek sekita pantai. Saya membayangkan alangkah bagusnya kalau pantai ini dikelola lebih profesional. Ada papan penunjuk, pedagang kaki lima ditempatkan di satu lokasi, ada tempat sampah yang mencukupi dan para petugas yang rajin berkeliling membersihkan sampah.

Jika ditangani dengan sungguh-sungguh, ditata lagi agar rapi dan bersih, daya tarik pantai Kijing tidak akan kalah dengan pantai-pantai lainnya di wilayah nusantara.

 

Penempatan bahasa Indonesia yang Tepat di Papan Informasi Bandara

Ada yang menarik ketika saya tiba di ruang kedatangan di bandara Supadio, Pontianak. Ada dua papan informasi yang tergantung di ruang itu. Satu papan menunjukkan lokasi pengambilan bagasi. Papan lainnya menunjukkan lokasi pindah pesawat dan toilet.

Yang bikin saya terpaku adalah penggunaan bahasanya. Selain bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, ada bahasa lainnya untuk menerjemahkannya :  bahasa Arab, bahasa Mandarin dan satu lagi kalo nggak salah bahasa Jepang.

Jarang saya melihat bandara internasional di negara kita papan informasinya menggunakan lebih dari dua bahasa. Biasanya yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Tata letak penggunaan bahasa Indonesia di papan informasi itu juga sudah tepat. Ukuran tulisannya lebih besar dan ditempatkan di posisi atas. Saya yakin perancang papan informasi ini mengerti betul bagaimana seharusnya menggunakan bahasa Indonesia di tempat-tempat umum. Penempatan posisi seperti itu selain menghargai bahasa nasional juga karena lokasi bandara itu di wilayah nusantara.

Sudah seharusnya papan informasi di tempat-tempat pelayanan publik mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia, setelah itu di bawah atau di sampingnya terjemahannya dalam bahasa asing.

Bukankah mengutamakan penggunaan bahasa persatuan, bahasa Indonesia, adalah salah satu bentuk kecintaan kita pada NKRI?

 

Nostalgia Makan Angkringan di Jogja

Waktu menjalani cuti bulan Juli yang lalu, saya sempatkan ke Jogja. Mengunjungi ibu bapak mertua, adik ipar dan keponakan-keponakan. Waktu ke rumah keluarga adik istri, malamnya saya diajak suaminya ke Bong Supit di Bogem Kalasan. Mendaftarkan dua anaknya yang akan dikhitan. Sekeluarga berangkat semua.

Ternyata  sampai di tempat tersebut, pendaftarannya sudah tutup. Karena waktu berangkat belum makan malam, kami mencari tempat makan yang searah pulang ke rumah di  Kadipolo, Berbah, Sleman.

Ada beberapa pilhan yang ditawarkan mas Ndoko, suami adik ipar saat ngobrol di mobil. Mau bakmi jowo, soto ayam atau angkringan. Pilihan jatuh ke angkringan yang lokasinya berada di jalan Solo-Jogja km 14.

Baru pertama kali saya ke tempat ini. Ternyata berbeda dengan bayangan saya waktu jaman kuliah dulu. Waktu itu namanya angkringan ya tempat makan mahasiswa yang murah meriah. Sebuah angkringan yang menyediakan menu khas sego kucing dan tempatnya disinari lampu teplok yang remang-remang.

Tapi angkringan yang saya temui malam itu berbeda sekali. Beberapa mobil parkir berjejer di depan empat angkringan yang terang disinari lampu neon. Setelah mengambil menu khas angkringan, pengunjung bisa memilih duduk di bangku panjang atau lesehan.

Kami berlima memilih duduk lesehan, sementara yang lainnya lebih memilih duduk di kursi panjang. Nikmat sekali rasanya bisa makan menu khas angkringan: sego kucing, tempe, sayur tumis, sate ayam dan krupuk.

Ya, meski berbeda suasananya, namun menu khasnya itu lho yang bikin kangen…sego kucing.

 

Munzalan Ashabul Yamin, Ponpes Modern di Tengah Pemukiman Warga

Sewaktu di camp di awal Ramadhan dan ngobrol  santai di masjid dengan ustadz yang datang dari Pontianak, saya bercerita tentang ustadz Lukmanul Hakim, Pengasuh Ponpes Munzalan Ashabul Yamin, Kubu Raya.

Sebelumnya saya sudah baca buku karyanya yang berjudul Mustahil Miskin. Saya juga mendengar dari istri kalau ustadz Lukmanul Hakim sering mengisi pengajian Adh Dhuha di masjid Mujahidin Pontianak. Pengajian yang jamaahnya ibu-ibu semua.

Terbersit dalam hati ingin sekali datang dan silaturahmi ke Ponpesnya. Niat itu akhirnya kesampaian sewaktu saya ke Pontianak  sekitar dua minggu lalu. Setelah mengikuti rapat selama dua hari,  Sabtunya saya dan istri bersilaturahmi ke ponpes yang berada di tengah pemukiman tersebut. Istri berniat menyerahkan sumbangan uang untuk gerakan sedekah beras yang akan disalurkan bagi anak-anak panti asuhan.

Setelah bertemu dengan pengurus Baitul Maal Tamwil  (BMT) yang menerima sedekah tersebut, kami melihat-lihat suasana sekitar ponpes. Di masjid sedang ada kajian, jadi kami nggak masuk. Ada yang unik dari bangunan masjidnya. Bentuknya seperti kapal. Ada juga Radio Munzalan yang berada di sebelah BMT. Di seberang masjid.

Ponpes berada di tengah-tengah pemukiman warga. Membaur dengan warga sekitar. Bahkan ada terpal memanjang yang dipasang di sepanjang jalan di depan ponpes. Lingkungannya juga bersih, tertata rapi dan petugas yang melayani juga ramah-ramah. Rasanya betah ingin berlama-lama di situ.

Sayangnya waktu itu kami nggak bertemu dengan Ustadz Lukmanul Hakim. Ingin sih, kenalan dan ngobrol-ngobrol dengan ustadz lulusan Gontor tersebut.

Semoga di kesempatan selanjutnya bisa silaturahmi lagi ke ponpes modern itu.

Senangnya Bisa Beli Buah-buahan Langsung di Kebunnya

“Mas, hari libur kita ke kebuh buah-buahan yuk”kata mamanya Aysha.

“Dimana?”tanya saya

‘Di jalan Perjuangan, simpang Ampera terus ke barat”tambahnya

“Ya, boleh, hari libur kita ke sana”kata saya

Kami bertiga: saya, mamanya Aysha dan Nabil pun berangkat menuju tempat yang dimaksud.

Karena informasi tempatnya mengandalkan ingatan mamanya Aysha, saya coba manfaatkan google maps. Rupanya di peta digital itu belum ada penanda tempat yang dimaksud. Akhirnya, diputuskan bertanya langsung kepada orang-orang yang kami temui. Setelah berada di jalan Perjuangan, kami berhenti di dekat lapak penjual makanan. Mamanya Aysha bertanya dan diperoleh informasi, tempatnya masih lurus setelah itu ada gang dan belok kanan.

Sampai di gang yang dimaksud, saya tengok kiri kanan mencari papan nama lokasi kebun buah. Nggak ketemu juga. Terpaksa mama Aysha turun lagi dari mobil. Juga saya menanyakan ke orang- orang yang tinggal di daerah itu. Saya diberitahu bahwa lokasinya sudah terlewati.

“Itu, pak, sebelum masjid, sebelah kanan ada jalan masuk, tapi mobil nggak bisa masuk. Harus jalan kaki”kata seorang bapak sambil menunjuk ke kubah masjid yang terlihat dari depan rumahnya.

Mobil saya putar dan kembali menuju ujung jalan masuk dan parkir di halaman masjid. Kami bertiga jalan kaki ke kebun buah yang dimaksud. Setelah melewati pintu gerbang, saya lihat tidak ada tanaman buah. Yang ada bedengan-bedengan yang ditutup plastik dan ada lubang di atasnya yang tumbuh semai.

Kami pun mendekati seseorang yang sedang memperbaiki mesin potong rumput di rumah di belakang kebun buah.

Dari informasi yang kami peroleh, di kebun milik Tim Penggerak PKK Propinsi Kalbar ini memang setelah panen, baru disemaikan lagi. Jadi belum ada tanaman yang besar.

“Kalau bapak ingin lihat yang sudah besar, bisa lihat kebun yang di Kurnia, sebelum simpang Ampera sebelah kanan jalan”dia menjelaskan.

Setelah mendapat informasi itu, kami pun mencari tempat yang dimaksud. Mobil saya kemudikan perlahan-lahan mendekati simpang Ampera. Mata saya fokuskan melihat nama-nama jalan yang berada di sebelah kanan jalan Prof M. Yamin. Dan akhirnya mobil saya belokkan setelah melihat plang nama jalan Kurnia. Sekitar 100 meter dari jalan Prof Yamin, di sebelah kiri jalan tepat di samping Kantor Kelurahan Kotabaru, saya temukan lokasi kebun buah itu.

Di kebun buah yang dikelola Tim Penggerak PKK Kota Pontianak itu, pemandangannya bagus sekali. Stelah melewati pintu masuk, kita akan disambut dengan buah-buah prenggi, sejenis blewah yang bergelantungan di atas kepala kita. Oleh pengelolanya, tanaman itu dirambatkan ke atas membentuk atap. Pemandangan daun hijau terlihat indah dengan kombinasi buahnya berwarna oranye kemerahan yang bergelantungan.

Tak hanya itu, saat kita masuk dan belok ke sebelah kiri, tampak tanaman melon di kanan-kiri jalan yang buahnya siap dipanen, Juga tanaman labu yang buahnya bergelantungan di atas dan samping jalan.

Pengunjung bisa langsung membeli buah segar tersebut. Saya coba memetik dua buah melon langsung dari pohonnya. Harganya sekilo 20 ribu rupiah.

“Itu anak-anak muda yang memetik melon anak-anak SMK yang sedang praktek. Anak-anak sekolah juga sering datang ke sini sama guru-gurunya. Bagus supaya mereka tahu buah melon nggak cuma di toko saja”kata pak Bambang, pengelola kebun itu.

Betul, pak. Ini anak saya juga tadi nanya,”Pohon melonnya mana, Pa?”

“Ituu… yang merambat di tongkat kayu”jawab saya

Saya baru paham, rupanya Nabil mengira pohon Melon itu bentuknya tinggi dan besar seperti pohon mangga atau jambu 🙂