Lokasi Wisata di km 37 Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

 

Kunjungan tamu ke lokasi wisata km 37 Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TN BBBR) semakin ramai seiring dengan peningkatan fasilitas wisata. Juga peran beberapa pengunjung yang mengunggah foto-foto kunjungannya ke medsos.

Hari libur tanggal 20 Agustus 2020 yang bertepatan dengan 1 Muharram 1442 Hijriyah ada dua mobil dari Menukung  ke lokasi tersebut. Waktu tempuhnya sekitar 1,5 jam. Ada juga pengunjung yang datang naik sepeda motor. Beberapa karyawan perusahaan juga ke lokasi tersebut mengisi hari libur. Bahkan ada guru-guru yang camping. Merasakan suasana hutan alam tropis.

Lokasi wisata yang berjarak hanya 2 km dari fasilitas menara Base Tranceiver Station (BTS) di base camp km 35 memungkinkan pengunjung berkomunikasi melalui internet.

Biasanya selain berkunjung ke km 37, beberapa tamu juga singgah ke base camp perusahaan km 35 untuk berfoto di taman dan kolam ikan di depan kantor. Bahkan pernah juga saya lihat dua orang berfoto di samping BTS dengan latar belakang TNBBBR.

Pemandangannya cukup bagus. Saya yang karyawan perusahaan saja beberapa kali memotret nggak pernah merasa bosan. Apalagi tamu-tamu dari luar yang baru pertama kali datang.

Maka nggak heran ketika saya unggah foto-foto di FB, ada teman kuliah yang komentar,”Itu tempat kerja atau tempat wisata?” 🙂

 

Lebih Sering Bukber di Masjid

Kalo di Pontianak, saya lebih sering bukber di rumah bersama keluarga. Beda ketika di camp. Hampir tiap hari bukber di masjid. Bertemu dengan jamaah lain. Teman kerja dan anak-anak.  Suasananya akrab.

Setelah bukber terus sholat maghrib berjamaah. Sambil menunggu waktu Isya saya gunakan waktu untuk baca Quran. Setelah itu lanjut lagi dengan sholat Tarawih dan Witir. Juga berjamaah. 11 rakaat. Setelah itu baru pulang. Sekitar jam 20.15.

Berbeda dengan pola sebelumnya. Pernah saya coba bukber di masjid, setelah itu pulang ke rumah dan makan malam. Selesai makan, berangkat lagi ke mesjid untuk sholat Isya, Tarawih dan Witir. Selanjutnya ngaji.

Ternyata ketika menjalani pola yang kedua ini, saat tarawih terasa mengantuk. Hal yang nggak saya alami sewaktu makan malamnya selesai tarawih. Badan pun terasa lebih ringan untuk sholat.

Bisa jadi karena tubuh terisi makanan seperlunya saja waktu itu. Memang waktu bukber di masjid banyak cemilan. Kurma, gorengan, kue basah. Minumannya air mineral, sirup, kopi, terkadang ada cendol atau kolak.

Saya memilih minum air putih, makan kurma dan kue basah waktu bukber. Setelah sholat maghrib dan ngaji, ngemil kue lagi secukupnya. Nggak sampai kenyang.

Ternyata pola seperti itu yang menyehatkan badan dan menyegarkan mata. Ibadah di malam hari pun bisa lebih fokus dan nggak terganggu karena mengantuk.

 

Tertarik Tulisan Dahlan Iskan

Hampir tiap hari saya baca tulisannya pak Dahlan Iskan (DI). Di blog https://www.disway.id/. Tulisannya bagus, detil dan jarang ditulis di media main stream. Kisah perjalanannya setelah tidak lagi jadi menteri. Keliling dunia. Berbagi cerita di setiap tempat yang dikunjunginya. Bahkan satu tempat bisa lebih dari satu cerita.

Seperti ketika dia ke Thailand. Menulis tentang Raja Thailand yang baru. Prince Vajiralongkorn yang bergelar Rama X yang baru naik tahta. Ada sisi lain yang ditulis pak DI. Tentang kisah pernikahannya yang sampai keempat kalinya. Tentang istrinya yang keempat yang mantan ajudannya. Yang umurnya 40 tahun. Seumur dengan putri dari istri pertamanya.

Juga ketika mengulas tentang perang dagang Cina dan Amerika . Yang pemimpin negaranya diibaratkan DI seperti petinju Muhammad Ali dan Mike Tyson. Yang satu gayanya menari seperti kupu-kupu ketika di atas ring. Yang satu bergaya seperti buldozer yang ingin mengalahkan lawan secepatnya.

Jika satu atau dua hari saya nggak sempat baca tulisannya, hari berikutnya saya targetkan sehari baca minimal dua tulisan. Supaya nggak penasaran 🙂

Keterbatasan yang Memicu Kreativitas

Tidak sengaja saya bertemu dua orang guru SMA di masjid Al Adh ha. Kebetulan selesai sholat dhuhur, selesai menutup pintu masjid satu orang tersenyum ke saya.

“Mau ke mana, Pak?”,tanya saya

“Di sini saja, Pak, kami dari Kejamei. Mau pakai internet”,kata salah satunya sambil menyebut nama desa yang waktu tempuhnya dua jam dari base camp 35.

Desa Tumbang Kejame berada di wilayah Kalteng. Kabupaten Katingan. Kecamatan Bukit Raya.

Sementara main camp km 35 di Kalbar. Kabupaten Melawi. Kecamatan Menukung

Naik motor dua jam dari desa Tumbang Kejame ke main camp 35 masih lebih hemat waktu dan biaya daripada ke ibukota kecamatan. Apalagi ibukota kabupaten. Harus lewat sungai untuk mengakses internet.

Yang saya puji dari mereka adalah semangat dan inisiatipnya untuk mencari informasi. Saat hari libur Imlek, mereka gunakan waktu untuk mendapatkan  materi untuk anak-anak didiknya.

Bisa saja mereka gunakan waktu libur untuk keperluan pribadi. Tapi, tanggung jawab sebagai pendidik yang memanggil mereka untuk menempuh perjalanan 4 jam pergi pulang. Untuk mendapatkan akses internet.

Sementara di sisi lain, rekan-rekan guru  mereka yang tinggal di kota-kota, bisa begitu mudahnya mengakses internet. Dari rumah mereka. Sambil berlibur bersama keluarga. Tanpa harus menempuh perjalanan berjam-jam.

Namun keterbatasan di daerah itulah yang justru menjadikan mereka kreatif. Terus berpikir dan mencari agar tidak ketinggalan informasi. Dan berusaha meningkatkan kompetensi diri.

Yang membahagiakan saya, ketika bapak guru tadi bilang,”Anak-anak didik kami ada juga yang diterima di PTN lewat program Bidikmisi, Pak”.

Selamat ya, Pak. Ternyata keterbatasan akses justru membuat bapak-bapak dan anak didik lebih semangat. Semangat belajar, semangat mencari informasi dan semangat berbagi.

 

 

 

Novel Canting: Kisah Gadis Pembatik Membangun Rumah Tangga bersama Anak Majikannya

Untuk memiliki novel Canting hasil karya Fissilmi Hamida ini saya harus pre order sebulan. Bersabar menikmati kisah Sekar, anak rewang di keluarga Sri Sundari yang bikin jatuh hati anak lelaki semata wayangnya, Hadi.

Sekar  yang sejak kecil ikut simboknya bekerja sebagai rewang tidak pernah menduga Hadi yang sepuluh tahun lebih tua, lulusan S2 dari Inggris akhirnya memilih dirinya sebagai istri.

Memilih gadis yang piawai membatik yang baru berumur 18 tahun dan lulusan SMA daripada Ajeng, adik almamaternya yang berprofesi sebagai dokter dan telah memendam rasa cinta padanya sejak kuliah.

Novel ini bercerita tentang dua insan yang berusaha membangun rumah tangga dengan berbagai ujian yang benar-benar menguji kesabaran keduanya. Sekar yang difitnah sudah pernah ditiduri Hadi  hingga akhirnya dia menikahi. Ajeng yang terus menghubungi Hadi dengan berbagai cara saat keduanya sudah berumah tangga. Kecelakaan yang menimpa keduanya yang menyebabkan beberapa bulan Hadi tidak dapat memberi nafkah batin bagi istrinya. Dan puncaknya ketika Ajeng dengan nekat meminta ijin Sekar menjadi madunya.

Suasana budaya Jawa khususnya kota Jogja dan sekitarnya terasa kental di novel ini. Juga nilai-nilai filosofi Jawa dan spiritualitas Islam dalam mengatasi problem kehidupan termasuk berumah tangga disajikan dengan cara yang bijaksana. Seperti yang tertera di bawah judul Canting, Gusti paring pitedah, bisa liwat bungah bisa liwat susah.

Novel ini seperti kisah Cinderellla di jaman old yang terjadi kembali di jaman now. Meski belum selesai saya membacanya, namun setiap selesai membaca satu episode ingin meneruskan membaca episode berikutnya.

 

 

 

Tersemangati 400 Follower Blog Via Email

Sudah lama saya nggak lihat tampilan blog yudhihendros.wordpress.com. Yang sering saya lihat malah Whatsapp, Twitter, IG sama FB. Frekuensi posting blog pun menurun  seiring lebih seringnya saya chat di Whatsapp, ngetwit, posting di IG dan update status di FB.

Tadi pagi waktu lihat lagi tampilan halaman depan blog dan widget follower yang subscribe via email, saya kaget. Terakhir seingat saya jumlahnya sekitar 300-an.

Sekarang sudah sampai 400 follower. Ini sekaligus mengobati rasa sedih karena setelah jarang ngeblog baik posting atau blog walking, pengunjung ke blog menurun. Biasanya sih rata-rata 200-an. Sekarang  80-an saja.

Pilihannya aktif di medsos WA, Twitter, IG, FB atau ngeblog? Kalau selama ini saya cenderung memilih salah satu, sekarang saya coba pilih keduanya. Aktif di medsos dan rutin ngeblog.

Dengan subscriber lebih dari seribu, rasanya kok sayang sekali blog ini jarang diperbaharui. Artinya, semakin banyak yang merasakan manfaat dengan hadirnya blog ini.

Dengan sendirinya para subscriber juga berharap saya rajin posting di blog. Ok. Untuk tahap awal, minimal seminggu saya targetkan rutin tiga kali posting di blog.

Setelah saya pancang target seperti itu, semoga saya bisa konsisten dan disiplin ngeblog lagi.

3 Manfaat Kenapa kita Harus Bergerak saat Hadapi Masalah

Ada pelajaran menarik yang saya dapat ketika menyimak videonya Rendy Saputra, CEO Keke Busana dan Produser film Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi.

Pelajaran dan manfaat kenapa kita harus tetap bergerak ketika ditimpa masalah.
Meski terkadang saat kita bergerak tidak ada hubungannya dengan pemecahan masalah, itu lebih baik daripada diam.

Sama seperti kita waktu tidur terus bermimpi buruk atau istilah bahasa Jawanya tindihan.

Saat itu kita seperti tertindih benda yang besar yang bikin badan sesak napas. Kalau kita diam dan nggak menggerakkan badan, makin sulit bernapas. Tapi kalau kita menggeliat, beban yang menghimpit badan itu terasa hilang dan bisa bernapas lega.

Kejadiannya sama kalau kita lagi banyak masalah. Kalau kita diam, masalah itu terasa makin mencengkeram diri kita. Masalah makin membelit pikiran kita.

Akhirnya, masalah rasanya makin besar dan membuat kita nggak berdaya.

Ada 3 manfaat saat kita bergerak jika menghadapi masalah?

A. Menyehatkan pikiran

Saat kita bergerak, maka konsentrasi pikiran kita lebih terfokus pada gerakan atau kegiatan yang kita lakukan dan bukan pada masalahnya. Masalah makin membesar karena pikiran kita fokus pada masalahnya jika kita diam.

B. Terbuka jalan

Saat kita bergerak dan melangkah, maka pintu-pintu jalan keluar itu mulai terbuka. Saat kita datang ke rumah teman dan bersilturahmi, kita bisa curhat. Teman kita dengarkan curhat saja itu sudah meringankan beban dalam diri. Plong rasanya.

C. Mengundang pertolongan Allah

Saat bergerak dengan apa yang kita punyai, sebenarnya kita mensyukuri apa-apa yang telah Allah berikan. Kita diberi anggota tubuh yang lengkap dan Allah ingin melihat apa  yang kita lakukan. Ibaratnya kita dikasih modal 10 juta, apa yang mau kita kerjakan dengan uang itu. Terkadang kita diberi 10 juta komplain, merasa kurang, nggak berbuat apa-apa dan malah minta yang lebih banyak lagi. Kalau menggunakan yang sudah ada saja nggak mau, gimana mau dikasih lebih.

Lebih baik bergerak dan melangkah jika punya masalah.

Bersekolah di Dua SD, Satu SMP dan Dua SMA

Selama bersekolah dari SD sampai SMA, saya pernah mengalaminya di lima sekolah yang berbeda.

Waktu SD, kelas 1 – 3 di SD Citarum Semarang. Naik kelas 4 pindah ke Tulungagung mengikuti tugas orangtua. Pindah sekolah ke SD Kampung Dalem 3 sampai kelas 6.

Waktu kenaikan kelas 6 ada berita  bapak dipindahtugaskan ke  Cirebon. Sebenarnya waktu itu sudah mendaftar ke SMP 1 Tulungagung, tapi karena bertepatan dengan kepindahan ke Cirebon, proses pendaftaran di SMP 1 Tulungagung tidak saya teruskan.

Di Cirebon, karena rumah dinasnya masih ditempati, kami sekeluarga sempat menginap di hotel Cordova selama dua minggu. Awal-awal bersekolah di SMPN 5 Cirebon, saya dan adik-adik masih pergi pulang dari hotel ke sekolah. Memasuki awal minggu ketiga akhirnya kami bisa pindah ke rumah dinas.

Di Cirebon sampai kelas 2 di SMA 1. Waktu naik kelas 3 semester 1 bapak dipindatugaskan lagi ke Jogja. Waktu itu saya bimbang apakah ikut ke Jogja atau tetap meneruskan sekolah di Cirebon sampai kelas 3. Karena ingin lolos PMDK dimana nilai raport semester 1 sampai 5 sangat dipertimbangkan, akhirnya saya putuskan tetap tinggal dan sekolah di Cirebon. Itulah awal saya berpisah dengan orangtua. Saya tinggal di rumah teman bapak di jalan Pilang. Hampir setiap pagi berangkat dan pulang sekolah naik elf.

Mungkin karena kecapaian, setelah 3 bulan di kelas 3 saya sakit dan harus opname di klinik. Terkena typus. Bapak dan Ibu sampai datang ke Cirebon untuk menjenguk. Untuk perawatan lebih lanjut, diputuskan saya pindah sekolah ke Jogja.

Di Jogja, saya diterima di SMA 2 Babarsari. Nilai-nilai saya di semester 5 jatuh. Biasanya di SMA 1 Cirebon saya masuk 5 besar, di SMA 2 Jogja peringkat saya jatuh di luar 20 besar. Cita-cita lolos PMDK dengan pilihan ke IPB pun kandas.

Untuk lolos PTN, satu-satunya jalan waktu itu adalah lewat jalur SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dengan mengikuti tes tertulis.

Saya sadar bahwa pelajaran saya tertinggal,  mau nggak mau saya harus ikut les atau bimbingan belajar. Mendekati SIPENMARU, di sekolah juga diberikan pelajaran tambahan. Saya ikuti juga, cuma kalau jadwalnya bentrok dengan jadwal bimbingan belajar, saya nggak ikut yang di sekolah. Saat ada try out pun saya ikuti.

Waktu pendaftaran SIPENMARU, karena waktu SMA berasal dari jurusan A2 saya pilih Fakultas Kehutanan UGM sebagai pilihan pertama dan pilihan keduanya di Fakultas Perikanan Undip. Alhamdulillah, Allah SWT mengijabah doa dan ikhtiar saya.  Saya diterima di pilihan pertama.

Ada hikmah yang saya petik dari sakit typus waktu awal kelas 3 itu. Rencana saya kuliah di Bogor sudah saya niatkan sejak kelas 1 SMA. Saya pun belajar keras dan meraih peringkat 5 besar di semestar 1 sampai 4 dengan nilai yang stabil. Hanya perlu 1 semester lagi untuk memenuhi persayaratan PMDK.

Namun rencana saya tidak seperti yang diharapkan ketika kelas 3. Sakit typus, opname dan setelah sembuh pindah ke Jogja. Ternyata kejadian sakit itu menjadi jalan bagi saya untuk bisa diterima kuliah di Universitas Gadjah Mada.

Dapat Informasi dan Segera Ditanggapi

“Mas, mobil kita mesinnya nyala tapi nggak mau digerakkan”kata istri lewat whatsapp kemarin pagi.

Dapat berita seperti itu, saya langsung telpon pak Udin, mekanik yang biasa memperbaiki mobil kami kalau ada kerusakan. Saya jelaskan masalahnya dan dia pagi itu juga akan ke rumah untuk cek mobilnya. Setelah dicek rupanya oli persnelingnya yang hampir habis. Untung pagi itu cepat diketahui penyebabnya dan ditangani pak Udin. Kalau terlambat dikerjakan bisa jadi bermasalah ketika mobil sedang dipakai.

Apalagi ketika dua hari sebelumnya pak Triyanto, tetangga belakang rumah bilang mau sewa mobil kami untuk bawa barang-barang yang akan dikirim pakai kargo di bandara. Nggak heran waktu istrinya pak Triyanto ke rumah terkejut, kok nggak ada mobil yang biasa diparkir di garasi.

“Maaf bu, mobilnya lagi dibawa mekanik. Oli persnelingnya hampir habis dan harus diisi.”kata istri saya. Setelah mobil diantar kembali pak Udin ke rumah, nggak lama kemudian pak Triyanto dan istrinya datang. Setelah sepakat nilai sewanya, kunci mobil diserahkan istri.

Beruntung, waktu dipakai pergi pulang pak Triyanto dan istrinya dari rumah ke bandara, nggak ada masalah. Beruntung waktu saya dapat informasi mobilnya bermasalah, saya cepat-cepat telepon pak Udin supaya segera ditangani.

“Saya senang mas, bisa bantu tetangga yang lagi perlu mobil”kata istri.

Ya, semoga mobil kita bisa banyak bermanfaat buat bantu orang yang memerlukan.

Dapat Bis Pengganti yang Lebih Nyaman Setelah Penundaan Keberangkatan

Terkadang suatu kejadian yang awalnya nggak mengenakkan bagi diri kita, ada satu hikmah yang terasa indah di bagian akhirnya.

Seperti halnya yang saya alami ketika bepergian dari Pontianak ke Nanga Pinoh selesai menjalani cuti tahunan. Ketika menelepon perwakilan bis A yang biasa saya tumpangi, tiba-tiba ada hambatan.

Yang pertama,  waktu saya telepon nadanya sibuk. Saya coba lagi telepon, masih terdengar nada sibuk. Nomor yang saya hubungi adalah nomor kantor perwakilan bis tersebut. Pasti ada orang lain yang menghubungi terlebih dahulu.

Beberapa jam kemudian saya telepon lagi, Terdengar nada sambung, tapi nggak ada yang mengangkat dan menjawab. Saya tutup telepon. Mungkin petugasnya sedang tidak ada di ruangan. Saya hubungi lagi dan masih sama, belum ada respon.

Akhirnya saya terpikir untuk menghubungi nomor telepon agen bis lainnya. Saya hubungi agen bis B. Sekali telepon, langsung terdengar nada sambung dan dijawab. Saya pesan dulu tiketnya. Sehari sebelum berangkat saya datang  ke agennya dan ambil tiketnya. Sudah beres urusan beli tiket bis dari Pontianak ke Pinoh.

Sesuai tanggal keberangkatan, saya sudah datang di agen 15 menit sebelum bis berangkat. Dijadwalkan jam 19.00 bis berangkat. Sudah banyak penumpang menunggu.

Ketika saya menanyakan ke mbaknya di bagian pemesanan tiket, saya dikasih tahu kalau saya ikut bis yang kedua. Rupanya malam itu ada dua bis jurusan Pinoh yang berangkat. Beberapa menit kemudian ada informasi yang tidak menggembirakan. Mbaknya memberitahukan ke penumpang bis yang kedua, kalau bisnya mengalami kerusakan. Walah…

Satu jam berlalu, belum ada kepastian apakah bisnya sudah selesai diperbaiki atau belum. Sampai hampir jam 9 malam akhirnya ada berita. Untuk mengurangi resiko kecelakaan dan mengutamakan keselamatan penumpang akhirnya bis yang kedua ini nggak jadi diberangkatkan. Penumpang jengkel dan minta kepastian keberangkatan. Dijawab oleh mbaknya sedang diusahakan cari bis lain untuk menggantikan bis yang rusak itu. Karena bis pengganti belum datang, snack yang biasanya dibagikan di dalam bis pun dibagikan ke penumpang di ruang tunggu.

Dan alhamdulillah ada jawaban bis pengganti itu ada. Mbaknya bilang kalau perusahaan harus carter bis C  dari perusahaan lain untuk memberangkatkan penunpang. Bersyukur pihak perusahaan masih tanggung jawab dan nggak membiarkan penumpang menunggu lebih lama lagi.

Akhirnya jam 9 malam bis pengganti pun berangkat. Saya merasakan interior bis pengganti itu lebih baik. Kursinya lebih lebar dan jarak antar kursi lebih luas. Kelihatannya bisnya lebih baru daripada bis yang biasa saya naiki sebelumnya. Supirnya juga mengemudikan bis dengan tenang, nggak ngebut dan dan tarifnya pun lebih murah 35 ribu.

Merasakan pengalaman naik bis pengganti yang nyaman dan banyak nilai plusnya itulah saya sekarang memilih bis itu untuk perjalanan Pontianak – Pinoh PP.

Berawal dari peristiwa nggak mudahnya menghubungi perwakilan bis langganan sampai penundaan keberangkatan bis, ada pelajaran yang saya dapat. Yang awalnya hal itu saya anggap sebagai kesulitan dan hambatan, kalau kita berikhtiar dan sabar akhirnya justru membawa manfaat dan keberuntungan.