Tersemangati 400 Follower Blog Via Email

Sudah lama saya nggak lihat tampilan blog yudhihendros.wordpress.com. Yang sering saya lihat malah Whatsapp, Twitter, IG sama FB. Frekuensi posting blog pun menurun  seiring lebih seringnya saya chat di Whatsapp, ngetwit, posting di IG dan update status di FB.

Tadi pagi waktu lihat lagi tampilan halaman depan blog dan widget follower yang subscribe via email, saya kaget. Terakhir seingat saya jumlahnya sekitar 300-an.

Sekarang sudah sampai 400 follower. Ini sekaligus mengobati rasa sedih karena setelah jarang ngeblog baik posting atau blog walking, pengunjung ke blog menurun. Biasanya sih rata-rata 200-an. Sekarang  80-an saja.

Pilihannya aktif di medsos WA, Twitter, IG, FB atau ngeblog? Kalau selama ini saya cenderung memilih salah satu, sekarang saya coba pilih keduanya. Aktif di medsos dan rutin ngeblog.

Dengan subscriber lebih dari seribu, rasanya kok sayang sekali blog ini jarang diperbaharui. Artinya, semakin banyak yang merasakan manfaat dengan hadirnya blog ini.

Dengan sendirinya para subscriber juga berharap saya rajin posting di blog. Ok. Untuk tahap awal, minimal seminggu saya targetkan rutin tiga kali posting di blog.

Setelah saya pancang target seperti itu, semoga saya bisa konsisten dan disiplin ngeblog lagi.

Iklan

3 Manfaat Kenapa kita Harus Bergerak saat Hadapi Masalah

Ada pelajaran menarik yang saya dapat ketika menyimak videonya Rendy Saputra, CEO Keke Busana dan Produser film Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi.

Pelajaran dan manfaat kenapa kita harus tetap bergerak ketika ditimpa masalah.
Meski terkadang saat kita bergerak tidak ada hubungannya dengan pemecahan masalah, itu lebih baik daripada diam.

Sama seperti kita waktu tidur terus bermimpi buruk atau istilah bahasa Jawanya tindihan.

Saat itu kita seperti tertindih benda yang besar yang bikin badan sesak napas. Kalau kita diam dan nggak menggerakkan badan, makin sulit bernapas. Tapi kalau kita menggeliat, beban yang menghimpit badan itu terasa hilang dan bisa bernapas lega.

Kejadiannya sama kalau kita lagi banyak masalah. Kalau kita diam, masalah itu terasa makin mencengkeram diri kita. Masalah makin membelit pikiran kita.

Akhirnya, masalah rasanya makin besar dan membuat kita nggak berdaya.

Ada 3 manfaat saat kita bergerak jika menghadapi masalah?

A. Menyehatkan pikiran

Saat kita bergerak, maka konsentrasi pikiran kita lebih terfokus pada gerakan atau kegiatan yang kita lakukan dan bukan pada masalahnya. Masalah makin membesar karena pikiran kita fokus pada masalahnya jika kita diam.

B. Terbuka jalan

Saat kita bergerak dan melangkah, maka pintu-pintu jalan keluar itu mulai terbuka. Saat kita datang ke rumah teman dan bersilturahmi, kita bisa curhat. Teman kita dengarkan curhat saja itu sudah meringankan beban dalam diri. Plong rasanya.

C. Mengundang pertolongan Allah

Saat bergerak dengan apa yang kita punyai, sebenarnya kita mensyukuri apa-apa yang telah Allah berikan. Kita diberi anggota tubuh yang lengkap dan Allah ingin melihat apa  yang kita lakukan. Ibaratnya kita dikasih modal 10 juta, apa yang mau kita kerjakan dengan uang itu. Terkadang kita diberi 10 juta komplain, merasa kurang, nggak berbuat apa-apa dan malah minta yang lebih banyak lagi. Kalau menggunakan yang sudah ada saja nggak mau, gimana mau dikasih lebih.

Lebih baik bergerak dan melangkah jika punya masalah.

Bersekolah di Dua SD, Satu SMP dan Dua SMA

Selama bersekolah dari SD sampai SMA, saya pernah mengalaminya di lima sekolah yang berbeda.

Waktu SD, kelas 1 – 3 di SD Citarum Semarang. Naik kelas 4 pindah ke Tulungagung mengikuti tugas orangtua. Pindah sekolah ke SD Kampung Dalem 3 sampai kelas 6.

Waktu kenaikan kelas 6 ada berita  bapak dipindahtugaskan ke  Cirebon. Sebenarnya waktu itu sudah mendaftar ke SMP 1 Tulungagung, tapi karena bertepatan dengan kepindahan ke Cirebon, proses pendaftaran di SMP 1 Tulungagung tidak saya teruskan.

Di Cirebon, karena rumah dinasnya masih ditempati, kami sekeluarga sempat menginap di hotel Cordova selama dua minggu. Awal-awal bersekolah di SMPN 5 Cirebon, saya dan adik-adik masih pergi pulang dari hotel ke sekolah. Memasuki awal minggu ketiga akhirnya kami bisa pindah ke rumah dinas.

Di Cirebon sampai kelas 2 di SMA 1. Waktu naik kelas 3 semester 1 bapak dipindatugaskan lagi ke Jogja. Waktu itu saya bimbang apakah ikut ke Jogja atau tetap meneruskan sekolah di Cirebon sampai kelas 3. Karena ingin lolos PMDK dimana nilai raport semester 1 sampai 5 sangat dipertimbangkan, akhirnya saya putuskan tetap tinggal dan sekolah di Cirebon. Itulah awal saya berpisah dengan orangtua. Saya tinggal di rumah teman bapak di jalan Pilang. Hampir setiap pagi berangkat dan pulang sekolah naik elf.

Mungkin karena kecapaian, setelah 3 bulan di kelas 3 saya sakit dan harus opname di klinik. Terkena typus. Bapak dan Ibu sampai datang ke Cirebon untuk menjenguk. Untuk perawatan lebih lanjut, diputuskan saya pindah sekolah ke Jogja.

Di Jogja, saya diterima di SMA 2 Babarsari. Nilai-nilai saya di semester 5 jatuh. Biasanya di SMA 1 Cirebon saya masuk 5 besar, di SMA 2 Jogja peringkat saya jatuh di luar 20 besar. Cita-cita lolos PMDK dengan pilihan ke IPB pun kandas.

Untuk lolos PTN, satu-satunya jalan waktu itu adalah lewat jalur SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dengan mengikuti tes tertulis.

Saya sadar bahwa pelajaran saya tertinggal,  mau nggak mau saya harus ikut les atau bimbingan belajar. Mendekati SIPENMARU, di sekolah juga diberikan pelajaran tambahan. Saya ikuti juga, cuma kalau jadwalnya bentrok dengan jadwal bimbingan belajar, saya nggak ikut yang di sekolah. Saat ada try out pun saya ikuti.

Waktu pendaftaran SIPENMARU, karena waktu SMA berasal dari jurusan A2 saya pilih Fakultas Kehutanan UGM sebagai pilihan pertama dan pilihan keduanya di Fakultas Perikanan Undip. Alhamdulillah, Allah SWT mengijabah doa dan ikhtiar saya.  Saya diterima di pilihan pertama.

Ada hikmah yang saya petik dari sakit typus waktu awal kelas 3 itu. Rencana saya kuliah di Bogor sudah saya niatkan sejak kelas 1 SMA. Saya pun belajar keras dan meraih peringkat 5 besar di semestar 1 sampai 4 dengan nilai yang stabil. Hanya perlu 1 semester lagi untuk memenuhi persayaratan PMDK.

Namun rencana saya tidak seperti yang diharapkan ketika kelas 3. Sakit typus, opname dan setelah sembuh pindah ke Jogja. Ternyata kejadian sakit itu menjadi jalan bagi saya untuk bisa diterima kuliah di Universitas Gadjah Mada.

Dapat Informasi dan Segera Ditanggapi

“Mas, mobil kita mesinnya nyala tapi nggak mau digerakkan”kata istri lewat whatsapp kemarin pagi.

Dapat berita seperti itu, saya langsung telpon pak Udin, mekanik yang biasa memperbaiki mobil kami kalau ada kerusakan. Saya jelaskan masalahnya dan dia pagi itu juga akan ke rumah untuk cek mobilnya. Setelah dicek rupanya oli persnelingnya yang hampir habis. Untung pagi itu cepat diketahui penyebabnya dan ditangani pak Udin. Kalau terlambat dikerjakan bisa jadi bermasalah ketika mobil sedang dipakai.

Apalagi ketika dua hari sebelumnya pak Triyanto, tetangga belakang rumah bilang mau sewa mobil kami untuk bawa barang-barang yang akan dikirim pakai kargo di bandara. Nggak heran waktu istrinya pak Triyanto ke rumah terkejut, kok nggak ada mobil yang biasa diparkir di garasi.

“Maaf bu, mobilnya lagi dibawa mekanik. Oli persnelingnya hampir habis dan harus diisi.”kata istri saya. Setelah mobil diantar kembali pak Udin ke rumah, nggak lama kemudian pak Triyanto dan istrinya datang. Setelah sepakat nilai sewanya, kunci mobil diserahkan istri.

Beruntung, waktu dipakai pergi pulang pak Triyanto dan istrinya dari rumah ke bandara, nggak ada masalah. Beruntung waktu saya dapat informasi mobilnya bermasalah, saya cepat-cepat telepon pak Udin supaya segera ditangani.

“Saya senang mas, bisa bantu tetangga yang lagi perlu mobil”kata istri.

Ya, semoga mobil kita bisa banyak bermanfaat buat bantu orang yang memerlukan.

Dapat Bis Pengganti yang Lebih Nyaman Setelah Penundaan Keberangkatan

Terkadang suatu kejadian yang awalnya nggak mengenakkan bagi diri kita, ada satu hikmah yang terasa indah di bagian akhirnya.

Seperti halnya yang saya alami ketika bepergian dari Pontianak ke Nanga Pinoh selesai menjalani cuti tahunan. Ketika menelepon perwakilan bis A yang biasa saya tumpangi, tiba-tiba ada hambatan.

Yang pertama,  waktu saya telepon nadanya sibuk. Saya coba lagi telepon, masih terdengar nada sibuk. Nomor yang saya hubungi adalah nomor kantor perwakilan bis tersebut. Pasti ada orang lain yang menghubungi terlebih dahulu.

Beberapa jam kemudian saya telepon lagi, Terdengar nada sambung, tapi nggak ada yang mengangkat dan menjawab. Saya tutup telepon. Mungkin petugasnya sedang tidak ada di ruangan. Saya hubungi lagi dan masih sama, belum ada respon.

Akhirnya saya terpikir untuk menghubungi nomor telepon agen bis lainnya. Saya hubungi agen bis B. Sekali telepon, langsung terdengar nada sambung dan dijawab. Saya pesan dulu tiketnya. Sehari sebelum berangkat saya datang  ke agennya dan ambil tiketnya. Sudah beres urusan beli tiket bis dari Pontianak ke Pinoh.

Sesuai tanggal keberangkatan, saya sudah datang di agen 15 menit sebelum bis berangkat. Dijadwalkan jam 19.00 bis berangkat. Sudah banyak penumpang menunggu.

Ketika saya menanyakan ke mbaknya di bagian pemesanan tiket, saya dikasih tahu kalau saya ikut bis yang kedua. Rupanya malam itu ada dua bis jurusan Pinoh yang berangkat. Beberapa menit kemudian ada informasi yang tidak menggembirakan. Mbaknya memberitahukan ke penumpang bis yang kedua, kalau bisnya mengalami kerusakan. Walah…

Satu jam berlalu, belum ada kepastian apakah bisnya sudah selesai diperbaiki atau belum. Sampai hampir jam 9 malam akhirnya ada berita. Untuk mengurangi resiko kecelakaan dan mengutamakan keselamatan penumpang akhirnya bis yang kedua ini nggak jadi diberangkatkan. Penumpang jengkel dan minta kepastian keberangkatan. Dijawab oleh mbaknya sedang diusahakan cari bis lain untuk menggantikan bis yang rusak itu. Karena bis pengganti belum datang, snack yang biasanya dibagikan di dalam bis pun dibagikan ke penumpang di ruang tunggu.

Dan alhamdulillah ada jawaban bis pengganti itu ada. Mbaknya bilang kalau perusahaan harus carter bis C  dari perusahaan lain untuk memberangkatkan penunpang. Bersyukur pihak perusahaan masih tanggung jawab dan nggak membiarkan penumpang menunggu lebih lama lagi.

Akhirnya jam 9 malam bis pengganti pun berangkat. Saya merasakan interior bis pengganti itu lebih baik. Kursinya lebih lebar dan jarak antar kursi lebih luas. Kelihatannya bisnya lebih baru daripada bis yang biasa saya naiki sebelumnya. Supirnya juga mengemudikan bis dengan tenang, nggak ngebut dan dan tarifnya pun lebih murah 35 ribu.

Merasakan pengalaman naik bis pengganti yang nyaman dan banyak nilai plusnya itulah saya sekarang memilih bis itu untuk perjalanan Pontianak – Pinoh PP.

Berawal dari peristiwa nggak mudahnya menghubungi perwakilan bis langganan sampai penundaan keberangkatan bis, ada pelajaran yang saya dapat. Yang awalnya hal itu saya anggap sebagai kesulitan dan hambatan, kalau kita berikhtiar dan sabar akhirnya justru membawa manfaat dan keberuntungan.

Mengejar pak Jamil Azzaini dan Ilmunya


Di susunan acara Milad ke-27 travel umroh, PT Arminareka Perdana, 16 Juli 2017 di Plenary Hall Balai Sidang Senayan Jakarta, tidak tercantum nama Jamil Azzaini, motivator, yang saya kagumi.

Namun, saya kaget ketika mendapat informasi lisan bahwa Jamil Azzaini akan tampil berbagi ilmu dan pengalaman di hadapan 4.000-an undangan, mulai jajaran direksi hingga leader-leader yang datang dari berbagai daerah.

Ini adalah kesempatan emas untuk bisa bertemu dengannya.

Dan benar, selama dua jam mulai pukul 13.30 WIB saya bisa melihat langsung, menyerap ilmu dan energinya bahkan foto bersama motivator yang tulisan-tulisannya sering saya baca di blog http://www.jamilazzaini.com/

Sebelumnya, pernah juga saya lihat penampilannya di acara I’m Possible Metro TV bersama Merry Riana.

Satu hal yang saya kagumi dari sosok motivator itu adalah ekspresinya dalam presentasi. Begitu menjiwai seperti seorang aktor.

Dia bisa bersedih hingga meneteskan air mata dan berhenti sejenak menghapus air matanya dengan sapu tangan ketika bercerita kesalahannya pada sang ayah.

Di saat lain, dia begitu bersemangat mengajak hadirin menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Senyum dan tawa hadirin juga muncul ketika dia menceritakan kisah-kisah yang lucu yang dialaminya bersama anak-anaknya.

Ketika pak Jamil turun dari panggung, saya sudah berniat untuk mencegat dan minta foto bersama. Saya dan istri yang duduk di tribun di sebelah kiri panggung, harus bersiap-siap keluar ruangan. Saya bilang sama istri mau foto bareng pak Jamil. Istri mengiyakan dan menunggu saya di tribun.

Turun dari kursi, saya bergerak ke pintu keluar berlomba dengan pak Jamil yang mulai melangkah meninggalkan ruang VIP. Dalam hati saya berdoa,”Bantu aku, ya Allah bisa bertemu pak Jamil Azzaini. Ini momen yang langka”.

Alhamdulillah, ketika keluar dari ruangan, saya lihat ada beberapa orang yang mendekati pak Jamil. Otomatis langkah pak Jamil berhenti sejenak, melayani para penggemarnya yang minta foto bersama.

Setelah selesai, gantian saya yang menyapa,”Perkenalkan saya Yudhi dari Pontianak, pak, saya sering baca tulisan bapak di blog. Boleh saya foto bareng bapak?”

‘Boleh, kita foto selfi ya”jawab pak Jamil dengan senyum ramah.

Dan jadilah foto berdua dengan pak Jamil Azzaini seperti yang terlihat di atas.

 

 

Mencoba Beternak Ayam Kampung

Awalnya dari seekor induk ayam yang saya barter dengan baju lengan pendek seharga 100 ribu. Beberapa bulan kemudian induk itu bertelur tapi nggak ada satu pun yang menetas, telurnya busuk akibat sarangnya lembab. Generasi keduanya, dari 6 butir menetas jadi 4 ekor. Sekarang sudah sekitar setahun umurnya, 3 betina dan 1 jantan.

Generasi kedua dari 8 butir, semuanya menetas. Dalam perjalanan hidupnya, kedelapan ekor  umur 1 bulan saya lepaskan dari kandangnya. Sayangnya waktu saya tengok sore harinya tinggal 5 ekor. Saya langsung cari dan ketemu 2 ekor, satu ekor tertinggal di kandang sebelah dan satu ekor lagi kedinginan di bawah kandang. Satu ekor hilang entah kemana.

Umur tiga bulanan satu ekor lagi mati terapung di ember berisi  air. Mungkin anak ayam itu mau minum di ember dan tercebur nggak bisa keluar. Masih ada 6 ekor yang bertahan. Waktu saya ke pulang dari Jawa, saya hitung tinggal 5 ekor.. Berarti satu ekor lagi berkurang. Sampai sekarang kelimanya masih hidup dan semoga tumbuh sampai besar.

Memang perlu kesabaran beternak ayam kampung. Nggak seperti ayam pedaging atau ayam potong yang umur 40 hari sudah panen. Tapi tiap hari di kandang dan harus dikasih makan. Kandangnya dikasih lampu supaya hangat.

Kalau beternak ayam kampung, sesekali saja saya masukkan ke kandang. Lebih sering saya lepas dan ayamnya cari makan sendiri. Kadang-kadang juga saya cari sisa-sisa nasi dan sayuran di dapur buat umpannya. Lumayan daripada sisa makanan itu terbuang percuma.

Yang lucu kalau ada induk ayam lain yang datang, biasanya mereka berebut makanan setelah saya taburkan di dekat kandangnya. Karena saya kasih makan, ayam-ayam itu lama-kelamaan jinak. Setiap kali saya datang dan bilang kuuur…kuuur, mereka mendekat dan mengikuti langkah saya. Ada juga ayam-ayam punya tetangga yang ikut berebut dan mematuk makanan setiap kali saya tebarkan sisa makanan di halaman belakang.

Yang bikin saya takjub ketika saya berikan makanan ke induknya dan anak-anak ayamnya mendekat, sang induk mengalah dan membiarkan makanan itu dipatuk anak-anaknya. Berulang kali seperti itu, sampai semua anaknya kebagian makanan.

Beberapa waktu kemudian, keadaan berubah 180 derajat. Ketika sang induk akan bertelur dia langsung nggak mau menjaga anak-anaknya lagi. Dibiarkan anak-anaknya cari makan dan dia pun memisahkan diri. Bahkan ketika saya kasih sisa-sisa makanan, sang induk berebut makanan bahkan sampai mematuk anak-anaknya. Bisa jadi itu adalah hukum alam atau sunnatullah dalam perjalanan hidup anak-anak ayam agar mandiri sebelum menjadi dewasa.