Mencoba Beternak Ayam Kampung

Awalnya dari seekor induk ayam yang saya barter dengan baju lengan pendek seharga 100 ribu. Beberapa bulan kemudian induk itu bertelur tapi nggak ada satu pun yang menetas, telurnya busuk akibat sarangnya lembab. Generasi keduanya, dari 6 butir menetas jadi 4 ekor. Sekarang sudah sekitar setahun umurnya, 3 betina dan 1 jantan.

Generasi kedua dari 8 butir, semuanya menetas. Dalam perjalanan hidupnya, kedelapan ekor  umur 1 bulan saya lepaskan dari kandangnya. Sayangnya waktu saya tengok sore harinya tinggal 5 ekor. Saya langsung cari dan ketemu 2 ekor, satu ekor tertinggal di kandang sebelah dan satu ekor lagi kedinginan di bawah kandang. Satu ekor hilang entah kemana.

Umur tiga bulanan satu ekor lagi mati terapung di ember berisi  air. Mungkin anak ayam itu mau minum di ember dan tercebur nggak bisa keluar. Masih ada 6 ekor yang bertahan. Waktu saya ke pulang dari Jawa, saya hitung tinggal 5 ekor.. Berarti satu ekor lagi berkurang. Sampai sekarang kelimanya masih hidup dan semoga tumbuh sampai besar.

Memang perlu kesabaran beternak ayam kampung. Nggak seperti ayam pedaging atau ayam potong yang umur 40 hari sudah panen. Tapi tiap hari di kandang dan harus dikasih makan. Kandangnya dikasih lampu supaya hangat.

Kalau beternak ayam kampung, sesekali saja saya masukkan ke kandang. Lebih sering saya lepas dan ayamnya cari makan sendiri. Kadang-kadang juga saya cari sisa-sisa nasi dan sayuran di dapur buat umpannya. Lumayan daripada sisa makanan itu terbuang percuma.

Yang lucu kalau ada induk ayam lain yang datang, biasanya mereka berebut makanan setelah saya taburkan di dekat kandangnya. Karena saya kasih makan, ayam-ayam itu lama-kelamaan jinak. Setiap kali saya datang dan bilang kuuur…kuuur, mereka mendekat dan mengikuti langkah saya. Ada juga ayam-ayam punya tetangga yang ikut berebut dan mematuk makanan setiap kali saya tebarkan sisa makanan di halaman belakang.

Yang bikin saya takjub ketika saya berikan makanan ke induknya dan anak-anak ayamnya mendekat, sang induk mengalah dan membiarkan makanan itu dipatuk anak-anaknya. Berulang kali seperti itu, sampai semua anaknya kebagian makanan.

Beberapa waktu kemudian, keadaan berubah 180 derajat. Ketika sang induk akan bertelur dia langsung nggak mau menjaga anak-anaknya lagi. Dibiarkan anak-anaknya cari makan dan dia pun memisahkan diri. Bahkan ketika saya kasih sisa-sisa makanan, sang induk berebut makanan bahkan sampai mematuk anak-anaknya. Bisa jadi itu adalah hukum alam atau sunnatullah dalam perjalanan hidup anak-anak ayam agar mandiri sebelum menjadi dewasa.

Reuni SMPN5 Cirebon Angkatan 86

Sing Penting Teka

Seperti itu slogan yang terpilih untuk acara reuni teman-teman SMP.

Awalnya obrolan di grup WA dengan teman-teman SMP 5 Cirebon angkatan 86. Angka 86 ini merujuk pada tahun kelulusan. Jadi masuknya tahun 83/84. Setelah itu ada yang punya ide untuk adakan reuni, karena sudah 30 tahun lebih nggak bertemu.

Disepakati tanggalnya 26 Maret 2017 dari jam 09.00-14.00. Tanggapan teman-teman pun hampir semuanya setuju. Tidak terasa sudah lama berpisah, akhirnya dipertemukan lagi lewat WA.

Satu persatu teman gabung di WA, teman yang jadi Admin menambahkan nomor HP  teman lain yang baru ditemuinya. Ada juga tim blusukan yang domisilinya di Cirebon rajin mencari teman-teman yang hilang kontak. Ada yang datang ke rumahnya sesuai alamat yang tercantum di buku raport. Nah, pas datang ke rumahnya nggak langsung ketemu, karena teman yang dicari sudah pindah. Akhirnya tim blusukan tanya ke tetangga atau pak RT. Juga hubungi saudaranya.

Ada juga berita sedih karena beberapa teman sudah meninggal, ada yang sedang dirawat di rumah sakit menjalani terapi.

Teman-teman pun berdebat dalam hal penyelenggaraan reuni. Beberapa orang berpendapat bikin saja panitia. Ada ketua, sekretaris, bendahara dan nanti panitia ini yang mengadakan acara reuni.

Yang lainnya punya ide serahkan saja reuni ke Event Organizer (EO), biar panitia nggak repot mengatur persiapan acaranya. Mulai sewa tempat, isi acara, konsumsi, dokumentasi dan lain-lainnya. Akhirnya voting dan banyak yang setuju acara diserahkan ke EO. Nggak hanya itu penentuan tempat reuni juga dilakukan pemungutan suara. Ada dua hotel yang diusulkan panitia. Anggota WA pada hari dan jam yang ditentukan diminta memberikan suaranya di grup. Keputusan lokasi reuni pun tuntas sudah.

Nah, buat anggota grup juga diminta iurannya. Minimal 200 ribu per orang. Bagi yang ingin menjadi donatur alias menyumbang diluar iuran itu juga dibuka kesempatan seluas-luasnya. Terutama bagi yang secara finansial berkecukupan. Para donatur diharapkan mensubsidi teman-teman lainnya yang belum mampu.

Acara reuni kurang lengkap tanpa kehadiran guru-guru yang saat itu mengajar kami. Panitia berinisiatif  blusukan lagi silaturahmi ke rumah guru-guru. Alhamdulillah, sebagian besar masih bisa ditemui langsung di rumahnya. Ada sekitar 10 orang yang masih sehat dan semoga hadir di acara reuni.

Ada pak Andi guru matematika yang sangat disiplin, bu Tati guru bahasa Indonesia yang jadi favorit saya ketika di kelas 3. Pak Effendy yang cara mengajarnya membuat saya suka pelajaran bahasa Inggris dan beliau pun ingat betul dengan saya saat itu hingga kata teman nama saya pun dimasukkan dalam soal cerita ulangan 🙂

Menyimak kegiatan teman-teman di WA untuk menyiapkan reuni akbar ini membuat saya terharu. Ternyata 30 tahun lebih berpisah, tak menyurutkan niat dan langkah untuk bertemu. Mengingat kenangan dan persahabatan ketika masih memakai seragam putih biru.

Semoga Allah SWT memudahkan teman-teman angkatan 86 SMP 5 Cirebon bertemu kembali di acara reuni.

Saya yang kerja di hutan pun berusaha hadir, bertemu dengan teman-teman dan para guru. Karena bagaimana pun kondisi kita, selawase tetep sedulur..

Selamat Atas Postingan ke-500

Congratulations on writing 500 posts on Yudhi Hendro Berbagi Cerita!

Seperti itu ucapan selamat dari wordpress buat saya. Suprise, karena selama hampir 5 tahun ngeblog, sudah 500 postingan yang saya buat. Sejak ngeblog tahun 2012 sampai sekarang, alhamdulillah masih konsisten buat nulis… Memang yang namanya istiqomah itu berat, kalau ringan namanya istirahat 🙂

Minggu awal Januari tahun 2017 ini saja sempat nggak sempat buat postingan. Pekerjaan offline yang sering menyita waktu. Waktu lihat statistik per bulan di wordpress, baru tahu kalau sampai minggu kedua Januari belum ada tulisan.

Ada perasaan bersalah kalau sampai satu bulan nggak menulis. Rasanya gimana gitu kalau ide-ide yang ada di kepala nggak tersalurkan dalam postingan. Ada yang kurang dan bikin hati belum plong kalau satu hari mau menulis, tapi nggak jadi. Akhirnya jadi hutang yang harus dikerjakan besoknya.

Makasih ya buat adminnya wordpress yang sudah kasih ucapan. Minimal sudah menyemangati saya buat menulis lagi dan lagi. Juga buat teman-teman blogger yang sudah berkunjung ke blog ini, kasih komentar dan juga like. Syukur-syukur setelah baca tulisannya, dapat tambahan informasi dan pengetahuan.

Kejujuran Pedagang Sayur Keliling

Pagi itu istri saya belanja sayur dan ikan dari pak Iyan, pedagang keliling yang naik motor dan membawa sayur-mayur, ikan dan bumbu dapur. Waktu masuk rumah, istri kasih tahu saya kalau ada pak Iyan. Selesai menelepon kawan, saya bergegas ke luar rumah.

Saya lihat dia lagi sibuk memotong-motong ikan pesanan istri saya. Setelah agak senggang,  saya ajak dia ngobrol. Baru kali ini saya ketemu dan ngobrol sama pak Iyan. Biasanya sih cuma lihat dia singgah di depan rumah tetangga sambil melayani ibu-ibu yang belanja.

‘Lho, itu ikannya kenapa dipisahkan, Pak. Apa sudah ada yang pesan?”tanya saya.

“Ini ikan kemarin, Pak. Saya bedakan plastiknya sama ikan yang baru saya ambil hari ini”jawabnya

Saya lihat ada dua kantong plastik ikan gembung yang diletakkan di kotak penyimpanan ikan di atas motor. Rupanya dia memisahkan ikan yang baru dengan ikan yang kemarin belum terjual.

Sikap jujurnya yang tidak mencampur ikan lama dengan ikan baru begitu berkesan di hati saya. Apalagi ketika dia berkata,”Kalau nggak saya pisahkan, Pak, hari ini pembeli nggak tahu, tapi besok-besok kalau tahu nggak percaya lagi”.

Ya, jualan atau bisnis adalah masalah kepercayaan. Seperti  yang dibilang pak Iyan, hari ini bisa saja pembeli nggak tahu sedang dibohongi dengan cara mencampur ikan yang kemarin dengan ikan hari ini, tapi lama-lama pembeli akan tahu. Dan kalau itu terjadi, kepercayaan itu akan luntur bahkan hilang.

Pagi itu saya mendapat sebuah pelajaran dari seorang pedagang sayur keliling yang sederhana. Bahwa menjaga kepercayaan orang lain itu penting. Memang dalam berdagang, meraih keuntungan materi adalah tujuan. Namun, menjaga nama baik penjual dan kepercayaaan dari pembeli tak kalah pentingnya, karena hal itu adalah keuntungan yang akan dinikmati dalam jangka panjang.

Berubah Sikap Setelah ke Tanah Suci

Jpeg

Ada sikap yang berbeda yang saya amati dari salah seorang teman kerja. Sejak pulang dari tanah suci dia sering sholat berjamaah di masjid. Datang di awal waktu dengan berjalan kaki saat shubuh dan isya, menghidupkan lampu di dalam masjid, mengumandangkan azan dan sholat sunnah terlebih dulu.

Terkadang dia juga menjadi imam sholat. Biasanya saat ke Pinoh atau tugas ke lapangan dia tidak hadir di mesjid. Padahal sebelumnya jarang sekali dia sholat berjamaah selain sholat Jumat dan sholat Hari Raya. Apa yang menyebabkan dia berubah?

Bisa jadi kepergiannya ke tanah suci bulan Agustus lalu telah mengubah dirinya. Hidayah dari Allah telah memperbaharui sikap dan tindakannya. Ibadah haji selama empat puluh hari telah membentuk kebiasaannya untuk berusaha sholat berjamaah di masjid. Spirit itu ternyata juga berimbas kepada teman-teman kerja lainnya. Yang sebelumnya jarang sholat berjamaah di masjid, sekarang saat maghrib, isya atau subuh mulai terlihat. Meski untuk menuju masjid mereka harus turun naik tangga.

Benar bahwa teman pergaulan sangat berpengaruh terhadap diri kita. Seperti yang dikatakan kanjeng Nabi Muhammad SAW,

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Sumber: http://muslim.or.id/8879-pengaruh-teman-bergaul.html

Sebuah Lagu yang Membangkitkan Jiwa Kebangsaan

Lagu ini sering saya dengarkan karena isinya membikin saya bangga dengan Indonesia. Lagu Tanah Airku ciptaan ibu Sud yang sudah saya nyanyikan sejak SD dan sampai sekarang masih populer. Meski lagu lama, tapi iramanya juga masih enak didengarkan.

Sewaktu saya lihat lagu ini di YouTube, saya bayangkan betapa saudara-saudara kita yang berada di manca negara begitu rindu dengan nusantara. Kangen dengan kampung halamannya, budayanya, kulinernya, pemandangannya dan suasana keakraban khas negeri tercinta. Begitu rindunya saudara-saudara kita di Hamburg, Jerman, sampai-sampai mereka menyanyikan lagu ini dengan iringan angklung, mengenakan baju batik dan latar belakang tarian daerah.

Saya pernah punya gagasan, alangkah indah dan menyentuh hati jika lagu ini diputar di dalam pesawat Garuda Indonesia saat menjalani rute dari luar negeri ke Indonesia. Saat terbang dari negara eropa ke Jakarta atau dari Australia ke Denpasar.

Saat ini maskapai milik pemerintah itu sudah menyajikan pelayanan yang khas nusantara, mulai dari seragam pramugarinya, menu makanannya dan senyum keramahannya. Ditambah dengan memutar lagu Tanah Airku, lengkap sudah suasana Indonesia  di dalam pesawatnya.

Tanpa sadar, rasa kebangsaan dan kebanggaan saya akan nusantara muncul kembali setelah mendengar lagu ini.

Mencari Anak Keriang untuk Umpan Anak Ayam

Dua hari ini, ada kegiatan baru di pagi hari yang saya kerjakan. Mencari anak keriang untuk makanan anak ayam. Setelah sholat subuh berjamaah di masjid, saya sempatkan mencari keriang-keriang muda yang hinggap di kasa ventilasi masjid. Keriang, tonggeret atau garengpung. Sejenis serangga yang biasanya mendekati lampu yang menyala dan memiliki suara melengking saat menjelang senja.

Tadi pagi empat anak keriang berhasil saya tangkap. Beda ketika kemarin beberapa kali gagal menangkap dan baru dapat setelah dibantu kawan yang sering jadi imam masjid. Caranya pakai sapu yang didekatkan ke serangga itu, dapat tiga ekor dan seekor belalang daun. Setelah itu saya masukkan kantong plastik dan saya bawa pulang ke mess.

Istirahat sebentar di kamar dan minum air putih hangat, setelah itu saya turun ke kandang ayam. Induk dan anak-anaknya mendekat begitu saya panggil dengan suara kur…kurrr….kurr… Sepertinya mereka tahu akan dapat makanan lezat di pagi itu.

Satu persatu anak keriang saya keluarkan dan sodorkan ke induk ayam…. Haaap, langsung disambar induk ayam yang jinak… Kemudian dia letakkan di tanah dan di patuk-patuk. Belum sampai dia memakan, datanglah satu per satu anaknya dan satu hal yang bikin saya terdiam. Ketika satu anaknya merebut anak keriang yang sudah nggak berdaya itu, induknya mengalah.

Demikian juga ketika anak keriang kedua, ketiga sampai keempat saya sodorkan ke induknya. Disambar terus dipatuk-patuk di tanah dan ketika anaknya yang lain datang, direlakannya anak keriang itu dilarikan anak-anaknya. Saya kira dia akan memakan anak keriang berikutnya bulat-bulat. Ternyata tidak, dia hanya makan sisa-sisa anggota badan anak keriang. Setelah anak-anaknya lebih dulu memakan serangga itu.

Luar biasa. Naluri seekor induk ayam untuk mengalah dan memberikan makanan bagi anak-anaknya…