Pasrah dan Ikhlas

Biasanya berada di daratan. Kali ini Allah takdirkan di atas lautan. Dalam perjalanan pulang Kalimantan.

Sempat rasakan mesin kapal dimatikan.dua jam. Di saat jam dua belas malam. Terdengar suara jangkar diturunkan. Kapal sandar di lautan.

Akan kandas jika dipaksakan tetap jalan. Kapal yang mengangkut orang dan kendaraan.ini masih perlu bantuan alam. Menunggu air pasang. agar bisa masuk ke muara sungai Kapuas.

Pasrah dan ikhlas.

La haula wala quwwata Illa billah.

Tiada daya dan kekuatan selain dari Allah.

Allahu Akbar..Allahu Akbar

Selamat Hari Raya Idul Adha 1443 H

Mohon maaf lahir dan batin.

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita.

Kalau Udah Rezeki Nggak Akan Tertukar

Tanggal 1 Oktober lalu saya antar tamu dari camp ke Nanga Pinoh. Berangkat dari camp jam setengah enam pagi. Cuaca waktu itu hujan. Ada lima tamu. Dua dari Jakarta dan tiga dari Pontianak. Dua orang dari camp ikut juga. Ada dua mobil yang digunakan dengan driver dari camp.

Hampir di sepanjang jalan cuaca hujan. Ketika mobil sampai di daerah Kebebu, mobil yang saya tumpangi pecah ban sebelah kanan belakang. Mobil pun berjalan pelan mencari lokasi yang datar untuk ganti ban. Akhirnya mobil berhenti tepat di depan rumah yang bagian depannya dijadikan lapak. Kami semua turun dari mobil dan berteduh di depan rumah.

Ada satu orang ibu dan anaknya yang waktu itu ada di situ. Dia mempersilahkan kami duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu. Ibu itu mengelap bagian bangku yang basah. Dua orang driver masih sibuk mengganti ban yang pecah. Cuaca masih hujan. Untung dari camp saya bawa payung dan dipakai salah satu driver.

Ketika menunggu itulah, kami ngobrol dengan ibu yang ternyata asalnya dari Karawang, Jawa Barat. Dia baru saja panen semangka dan ditaruh di atas lapak dan ditutupi terpal plastik. Musik dari flash disk khas sunda terdengar merdu. Teman dari Pontianak begitu tahu ada buah semangka langsung beli dan dihadiahkan buat dua driver. “Ini buat ongkos ganti ban”katanya. Dua karung beras berisi semangka pun berpindah ke bagasi mobil.

Semua terjadi sudah diatur Allah. Begitu kami ngobrol dalam perjalanan lanjutan ke Nanga Pinoh. Betul sekali. Menurut kita pecah ban itu kebetulan. Tapi semua sudah dalam rencana Allah untuk memberikan rezeki bagi ibu itu dan dua orang driver. Mengapa pecah bannya tidak waktu di logpond atau di Nanga Pinoh? Mengapa terjadi di daerah Kebebu dan dekat dengan rumah ibu itu? Itulah rahasia rezeki dari Allah SWT.

Bergaul dengan Penjual Minyak Wangi atau Pandai Besi?

Sejak membaca artikel tentang motivasi dan pengembangan diri, saya rasakan ada yang berubah dari diri ini. Apalagi setelah saya juga ikuti training High Class Response Kang Harri Firmansyah yang ditujukan buat leader-leader dan mitra-mitra ARMINA DAILY. Rasanya suasana hati lebih tenang, pikiran juga lebih fokus, tidak terganggu dengan macam-macam kondisi lingkungan.
Apa rahasianya? Saya praktekkan ilmunya, salah satunya adalah memilih bacaan-bacaan dan informasi di internet. Saya pilih bacaan dan informasi yang tidak membikin hati panas, gelisah atau cemas.
Dulu, hampir setiap berita online saya baca, tayangan berita di televisi saya lihat. Karena ingin update dengan kondisi terbaru, supaya tetap bisa menyambung kalau diajak ngobrol.
Tapi saat ini saya batasi lihat televisi. Saya utamakan lihat acara olahraga yang live. Namun, selama covid belum ada lagi siaran langsung olahraga.
Bacaan di internet juga saya benar-benar pilih. Hanya yang berpengaruh menambah skill dan pengembangan diri yang saya baca. Juga postingan-postingan di medsos. Saya selektif baca postingan di FB, IG, Twitter dan WA.
Alhamdulillah, yang awalnya saya melahap semua jenis informasi, sekarang lebih selektif. Saya lebih fokus mengoptimalkan menu-menu yang ada di FB, IG maupun WA. Yang selama ini saya abaikan karena waktunya tersita membaca beragam informasi.
Saya jadi ingat pesan Nabi Muhammad SAW, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Teman di hadits di atas kalau boleh saya artikan tidak hanya teman atau kawan kita secara fisik atau virtual, namun juga berupa derasnya informasi yang kita terima setiap hari.
Kalau kita sering membaca informasi-informasi yang banyak kandungan hoaknya, maka kita juga akan mendapatkan percikan api yang bisa menyulut pertentangan dengan pihak lain. Apalagi sebelum cross check kita langsung share informasi tersebut ke orang lain atau grup.
Pengaruhnya tak hanya itu, di hadits di atas disebutkan dua hal akibat kita bergaul dengan pandai besi: terkena percikan apinya atau mencium bau asapnya.
Kita tahu bagaimana rasanya menghirup bau asap dari besi-besi yang sedang ditempa dan dipanaskan. Napas terasa sesak, pengap dan terkadang bikin mata pedih.
Demikian juga saat kita terima informasi yang bersifat hoak, kekerasan, kriminal. Saya merasa dada saya jadi sesak, hati cemas, pikiran tambah stress dan susah berkonsentrasi.
Sebaliknya, saat saya melihat tayangan yang berkualitas, inspiratif dan memotivasi, hati berubah menjadi lebih optimis, semangat dan bahagia.
Benar sekali apa yang disabdakan kanjeng nabi, dan beliau juga bijaksana. Memberikan perumpamaan dalam memilih teman.
Beliau menawarkan dua pilihan beserta resikonya. Beliau tidak memaksakan kehendak, namun menyerahkan kepada kita untuk memilih. Beserta konsekuensi dari pilihan tersebut.
Semoga bisa konsisten nulis seperti ini

Semua Berawal dari Pikiran

Dalam surat Ar Rad ayat 11 disebutkan bahwa sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Petikan ayat di atas memberikan pemahaman bahwa yang bisa mengubah nasib kita adalah diri kita sendiri. Allah hanya mengikuti apa yang sudah kita lakukan untuk mengubah nasib itu. Jadi kendalinya ada di dalam diri kita.

Jika kita ingin nasib kita ubah, yang pertama kali harus hijrah atau berubah adalah pikiran kita terlebih dahulu. Karena pikiran kita akan menentukan perbuatan atau tindakan kita.

Misalnya saya rencana hari ini akan menulis di blog ini. Itu adalah hasil dari pikiran saya bahwa saya hari ini punya rencana menulis.

Setelah punya pemikiran menulis, tindakan saya adalah buka laptop atau ponsel dan mengetikkan kata demi kata hingga terangkai menjadi sebuah kalimat, paragrap dan cerita.

Kalau saya tidak punya pikiran mau menulis, tangan tidak akan bergerak merangkai kata dan mengungkapkan gagasan. Bisa jadi saya malah gunakan tangan untuk keperluan yang lainnya.

Jika saya menulis beberapa kali atau bahkan rutin misalkan minimal seminggu sekali, maka menulis bisa menjadi kebiasaan. Dan membangun kebiasaan ini nggak mudah. Karena dipengaruhi faktor dalam diri kita dan faktor luar.

Misalkan saya belum menemukan ide menulis atau faktor luar karena sinyal internet mengalami gangguan. Seperti yang terjadi beberapa hari lalu ketika 19 jam koneksi internet terputus.

Untuk mengatasi tantangan faktor internal, saya harus rajin mencari ide apa yang mau ditulis. Sumbernya bisa dari mana saja, dari apa yang saya lihat, saya baca, saya rasakan, bahkan komentar teman di postingan pun bisa jadi ide tulisan.

Kebiasaan yang dilakukan secara rutin itu akan membentuk karakter diri kita. Dari yang sebelumnya kurang produktif gunakan waktu menjadi berusaha mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat. Setelah punya kebiasaan menulis, waktu yang ada lebih sering digunakan hal yang produktif misalkan mencari ide menulis, membaca tulisan-tulisan orang lain yang menginspirasi, dan mengikuti komunitas yang memotivasi.

Seperti yang saya lakukan saat bergabung menjadi mitra Armina Daily. Di komunitas tersebut selain saya bertemu dengan mentor yang sudah terbukti sukses dan memotivasi diri saya untuk sukses.

Saya juga mendapatkan training-training pengembangan diri seperti training High Class Response, training Magnet Rezeki. Saya juga bertemu dengan mitra-mitra lain yang punya semangat bersilaturahmi.

Jika karakter kita sudah terbentuk dan kita mendapatkan lingkungan atau situasi yang mendukung maka potensi diri kita akan berkembang.

Keunggulan diri kita akan melejit. Kelebihan diri kita akan menemukan jalannya. Di titik ini peran diri kita akan meluas dan lebih bermanfaat bagi orang lain. Dan ketika orang lain merasa terbantu dengan kehadiran kita, merasa kita bisa menjadi problem solver maka nasib kita sudah berubah.

Kita yang sebelumnya hanya berpikir untuk diri sendiri, untuk kepentingan pribadi maka dengan meluaskan niat kita menolong orang lain, nasib kita pun akan berubah

 

Hari Pertama Ramadhan Diiringi Hujan

Hari ini 24 April 2020 bertepatan dengan tanggal 1 Ramadhan 1441 H. Di camp, hari pertama bulan Ramadhan Allah SWT turunkan hujan sejak jam 5 pagi.

Udara bertambah segar dan sejuk. Bisa jadi inilah berkah bulan Ramadhan. Meski sudah memasuki bulan April yang biasanya musim kemarau, namun masih ada hujan.

Bahkan sampai dengan jam 7 pagi ketika masuk kerja, hujan masih turun.  Bisa jadi nanti siang jam 11 cuaca berubah cerah dan hangat. Kondisi cuaca saat ini memang tidak mudah diprediksi dan cepat berubah.

Selamat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 1441 H. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita.

 

 

1 Bulan Minimal Baca 1 Buku

Di awal tahun 2020 ini sudah dua buku yang saya baca. Bulan Januari lalu saya baca buku yang judulnya Nadiem Makarim. Kisah kehidupan penemu aplikasi Gocar yang fenomenal itu.

Ternyata ide munculnya aplikasi itu ketika dia sering ngobrol dengan para pengemudi ojek pangkalan yang sering lama menunggu penumpang.

Di sisi lain, Nadiem yang ketika itu bekerja di lembaga konsultan sering naik ojek supaya cepat sampai ke kantornya. Namun, dia kesulitan mencari ojek dan harus jalan kaki ke pangkalan ojek.

Buku kedua yang saya baca Bangkit dari Titik Minus tulisan Saptuari Sugiarto. Kisah jatuh bangun orang-orang yang terjerat utang dan akhirnya bisa melunasi utang-utangnya. Kalau buku yang pertama tadi saya beli di Gramedia, buku kedua ini saya beli online.

Alhamdulillah, bukunya sudah selesai saya baca di bulan Pebruari. Target sementara ini tercapai. Dua bulan baca dua buku. Well done. .. Semangat.

Buku-buku berikutnya yang saya baca ada tiga. Temanya tentang self development atau pengembangan pribadi dan keuangan. Tulisan Yodhia Antariksa. Buku-buku itu saya beli online.

Kebetulan lagi promosi. Harganya hanya 145 ribu untuk satu paket isi tiga buku. Satu buku isinya sekitar 200 halaman. Free ongkir lho.

Bukunya sudah datang. Alhamdulillah buku yang judulnya Change Your Habits, Change Your Life mulai saya baca. Isinya bagus banget.

Intinya kalau kita mau ubah kebiasaan itu mulaj dari target yang kecil dan mudah dulu. Small and tiny step. Jangan punya target yang muluk-muluk untuk mulai kebiasaan baru.

Misalnya kita ingin punya kebiasaan baca buku. Mulai baca 1 halaman saja sehari. Sehari sehalaman tapi rutin. Tetapkan waktunya kapan.

Misal jam 19.30 setelah makan malam atau setelah sarapan. Lakukan rutin 1 hari 1 halaman saja. Nggak perlu sekali baca satu bab atau 10 halaman. Bagi yang belum biasa memang awalnya bisa dipaksakan, tapi apakah bisa berjalan rutin di hari-hari berikutnya?

Masih banyak contoh lain di buku ini tentang gimana cara membangun kebiasaan baru yang positip. Tentang kebiasaan menjaga kesehatan, menulis, olahraga sampai membaca buku. Disertai cara-caranya dengan rinci dan semuanya sudah dipraktekkan penulisnya.

Sedekah Buku

Alhamdulillah, sebagian buku-buku di rumah akhirnya bisa disumbangkan. Awalnya saya diprotes istri karena koleksi buku-buku di rumah bertumpuk. Rak-rak buku di rumah sudah tidak bisa memuat lagi untuk diisi buku bacaan. Bahkan beberapa buku terpaksa disimpan di kotak kardus. Diletakkan di kamar tidur saya.

Sempat terpikir ingin membuka taman bacaan atau perpustakaan pribadi tapi belum ada kesempatan untuk memilah buku sesuai kategorinya. Juga mencari lokasinya.

Akhirnya ide itu datang juga ketika saya membaca postingan di grup WhatsApp Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Kalimantan Barat (KAGAMA KALBAR). Salah satu postingan berisi foto Komunitas Baca Tepi Kapuas. Yang juga tercantum nomor telepon nara hubungnya.

Sebuah komunitas yang digagas untuk menyediakan buku-buku yang dibaca gratis di lokasi tepi sungai Kapuas. Jadwal baca buku gratis seminggu sekali. Setiap Ahad sore. Personilnya para sukarelawan yang tertarik dengan dunia literasi. Salah satunya Agus Kusmawanto yang juga adik angkatan kuliah di Fakultas Kehutanan UGM. Angkatan 2010. Berasal dari Cilacap. Bekerja di Badan Restorasi Gambut (BRG).

Saya hubungi dia dan mengajak bertemu di rumah. Sekalian berkenalan dan saya sampaikan maksud untuk menyumbangkan buku-buku. Untuk komunitas tepian Kapuas. Mumpung saya sedang di Pontianak.

Tanggal 10 Oktober pukul 17.00 kami sepakat bertemu. Dia datang ke rumah bersama temannya, Ibo. Mengendarai dua motor. Setelah sampai rumah, kami pun berkenalan. Saya bawakan koleksi buku-buku yang akan disumbangkan. Sebagian besar berupa novel karangan S. Mara. Gd. Novel yang sudah saya koleksi sejak SMA. Buku lainnya berupa buku manajemen, buku agama dan komik untuk anak-anak.

Saat terdengar suara azan, Agus dan Ibo berpamitan. Juga tidak lupa menawarkan ke saya untuk datang ke lapak baca gratisnya.

Saya salut dengan mereka. Di usia muda sudah punya komitmen mulia. Menjadi sukarelawan. Mengumpulkan buku-buku dan membuka lapak baca gratis untuk warga masyarakat.

Rencana Tiga Reunian di Akhir 2019

Akhir tahun ini teman-teman sekolah mengajak reuni. Jadwalnya berurutan tiga bulan terakhir tahun 2019.

Reuni dengan teman-teman kuliah rencananya tanggal 19-20 Oktober di Jogjakarta. Tanggal 30 Nopember 2019 jadwal reuni dengan teman-teman SMA di Cirebon. Dan bulan Desember teman-teman SD juga ingin  mengadakan reuni di Tulung Agung. Kalau reuni SMP sudah dilakukan tahun 2017 lalu di Cirebon.

Saya masih belum putuskan mau hadir di reuni yang mana. Apakah reuni dengan teman-teman kuliah, teman-teman SMA atau teman-teman SD. Setelah lulus, dengan teman kuliah pernah bertemu di kampus waktu saya ke Jogja. Pernah juga bertemu waktu  acara seminar. Ada juga teman yang bertemu saat berkunjung ke tempat kerja saya.

Kalau SMA, saya punya dua almamater. SMA 1 Cirebon dan SMA 2 Yogyakarta. Kelas 1 dan 2 di Cirebon. Kelas 3 pindah ke Jogja. Dengan teman SMA 1, saya pernah bertemu waktu dia kuliah di Semarang. Waktu saya kuliah di Jogja dan pulang menengok ortu, saya sempatkan bertemu. Sekarang dia sudah lulus jadi dokter dan bekerja di Banjarmasin.

Ada juga bertemu teman yang diterima kuliah di  Jogja. Untuk sementara tinggal di rumah ortu sebelum dia pindah ke tempat kostnya.

Namun masih banyak yang belum bertemu lagi setelah saya pindah ke Jogja. Waktu reuni perak tahun 2014 di Cirebon saya juga nggak bisa hadir. Nah, tahun ini  mau adakan reuni mutiara, 30 tahun, 1989 – 2019. Rencananya di Cirebon. Sudah dibuat kepanitiannya. Juga jadwal kegiatannya. Sampai beberapa teman sudah bikin foto jaman dulu dan foto sekarang. 🙂

Dengan teman-teman SMA 2, saya juga belum pernah hadir di acara reuninya. Setelah lulus, saya kehilangan kontak dengan mereka. Namun, kemarin waktu lebaran ada satu orang yang datang ke rumah mertua di Jogja. Janjian bertemu sebelum dia pulang ke Jakarta dan akhirnya terlaksana juga.

Awalnya bertemu di FB. Waktu saya update status, dia komentar. Ngobrol ngalor ngidul. Ujung-ujungnya ingin bertemu. Waktu sama-sama pulang ke Jogja.

Bertemu teman-teman lama bagi saya memang mengesankan. Seperti ada semangat dan suasana baru yang hadir.

Rasanya malah seperti mimpi bisa bertemu lagi. Rasanya baru kemarin sama-sama sekolah. Sama-sama kerjakan tugas di rumah. Sama-sama latihan vocal grup, pramuka dan olahraga.  Sampai ada yang masih ingat kalau dia pernah minjam gitar saya berbulan-bulan gak dikembalikan. Saya sendiri malah sudah lupa 🙂 Padahal itu sudah 30 tahun berlalu. Namun semua kenangan itu menguat kembali saat bercerita tentang satu kata: REUNI.

Dulu Mencatat Isi Ceramah, Sekarang Merekamnya

Ada pemandangan menarik di masjid Al Adh ha ketika selesai sholat Isya. Anak-anak cewek yang duduk di shaf belakang bergegas ke serambi masjid membawa HP. Satu per satu menyodorkan HPnya lewat jendela ke shaf pertama. Dibantu bapak-bapak meletakkan HPnya ke dekat ustadz. Terlihat HPnya sudah distel untuk rekam suara ustadz yang mengisi tausiyah.

Perubahan telah terjadi. Bulan Ramadhan sebelumnya, ketika mendengarkan tausiyah anak-anak itu mencatat di buku. Ada tugas dari sekolah selama bulan Ramadhan. Mencatat siapa penceramah malam itu, apa isi ceramahnya. Setelah tarawih, anak-anak itu maju dan dekati ustadz untuk minta tanda tangan.

“Siapa yang menyuruh kalian merekam ceramah ustadz?”tanya saya ketika bertemu mereka menjelang sholat subuh.

“Bu Hanny, pak”

Kreatif apa yang dilakukan anak-anak itu, Juga ide yang bagus dari gurunya. Artinya, selama bulan Ramadhan mereka punya rekaman tausiyah ustadz yang lengkap materinya. Yang suatu saat bisa dibawa-bawa dan didengarkan lagi. Di rumah, di sekolah atau di kendaraan. Yang durasinya 10-15 menit.

Merekam juga memudahkan mereka fokus mendengarkan tausiyah. Beda kalau mencatat. Konsentrasi terbagi dua. Antara memahami isi tausiyah dan mencatat poin penting ceramahnya.

Saya tersentak dan merenung, kok malah bapak-bapaknya nggak ada yang merekam tausiyahnya ya?

Puasa Internet

Selama tiga hari pelatihan Dendrologi di camp Litbang dan Lingkungan km 54, dua hari saya puasa akses internet. Benar-benar stop browsing, chatting dan update status. Fokus belajar dan praktek ilmu pengenalan jenis tumbuhan dan pohon.

Meski hanya berjarak 19 km dari base camp, akses internet belum sampai ke sana. Yang bisa hanya akses SMS dan telepon di tempat tertentu. Itu pun harus menggunakan hp jadul. Bukan hp smartphone.

Hari pertama terasa berat. Masih adaptasi. Tiap pagi biasa buka wa dan liat informasi terbaru. Jawab atau komen di whatsapp. Karena nggak ada akses internet, nggak bisa lagi merespon. Tapi malah ada hikmahnya. Saya punya kesempatan baca-baca info dan chat di whatsapp yang selama ini nggak  tersentuh.

Hari kedua dan ketiga sudah mulai terbiasa nggak buka hp. Jadi waktu yang ada ya buat training. Dengerin tentor di ruangan dan ke lapangan. Pulangnya istirahat. Atau nonton tivi. Juga ngobrol. Bertatap muka. Bukan ngobrol yang dikit-dikit liat notifikasi. Benar-benar bebas suara hp.

Setelah ikut training dan puasa akses internet, ada efeknya. Waktu pulang ke base camp, saya lebih bisa mengendalikan diri untuk nggak cepat-cepat respon atau liat notifikasi. Lebih rileks, nggak buru-buru pengin jawab atau komen lagi. Ada jeda waktu. Yang bisa saya gunakan lebih banyak buat kegiatan offline. Dan yang saya rasakan, hati jadi lebih tenang. Ayem.

Saya berpikir, sesekali kita perlu rehat sejenak dari akses internet. Sehari puasa dari scroll-scroll dan klik-klik. Apalagi membaca sampai rinci isi chat yang panjang. Dan pengin banget komen.  Atau unggah foto kegiatan yang sedang dilakukan.

Sebagai gantinya, waktu bisa digunakan fokus buat kegiatan yang bukan online.