Selawase Tetep Sedulur

Reuni memang indah. Ketemu teman-teman lama memang asyik. Ketulusan dalam melayani. Keikhlasan dalam berbagi. Seperti itulah kesan yang saya alami ketika hadir di reuni angkatan 86 SMPN5 Cirebon. Bertemu dengan teman-teman dan guru-guru setelah 30 tahun lebih berpisah.

Baru sampai di Jakarta, teman yang tinggal di Cikarang sudah menelpon,”Sudah dapat tiket kereta belum Yud?”. Saya bilang,”Makasih bro, saya sudah beli tiket keretanya online”.

Belum lagi sampai di Cirebon, waktu kereta berhenti di stasiun Arjawinangun, May, teman cewek juga nelpon dan tanya sudah sampai mana. Dia bilang kalau sampai stasiun Cirebon tunggu ya, nanti dijemput.. Dan benar, saya dijemput 4 orang teman yang cewek semua. Mereka kaget, sebelum masuk mobil satu persatu saya masih kenali dan sebut namanya. May, Lely, Lina dan Hamidah….

“Nginap dimana Yud?”tanya May

“Di hotel Langensari dekat SMP 1″jawab saya. Mobil pun meluncur ke hotel.

“Habis check in hotel, ikut ke tempat futsal ya, Teman-teman lagi kumpul di sana”jelasnya lagi.

Sehari sebelum reuni tanggal 26 Maret, teman-teman adakan pertandingan futsal. Di tempat itulah saya lihat mereka lagi setelah lama berpisah. Sebagian besar wajahnya dan namanya masih saya kenal, tapi ada juga yang sudah lupa sama sekali.

Setelah futsal, malamnya diajak lagi mampir ke tempat reuni di hotel Bentany, lihat persiapannya. Setelah itu lanjut kuliner mie koclok di jalan Lawanggada. Makan lesehan  di emperan jalan sambil menikmati wedang ronde. Nggak selesai sampai di situ, selesai makan malam ada teman yang ngajak karaokean bareng. Benar-benar padat acaranya.

Pagi hari tanggal 26 Maret, sebelum acara reuni jam 10, saya sempatkan jalan kaki ke Masjid At Taqwa, sholat subuh berjamaah. Setelah itu melihat-lihat alun-alun Kejaksan. Jalan Siliwangi sudah mulai ramai dengan para pedagang dan orang-orang yang berolahraga saat Car Free Day (CFD).

Saat check out dari hotel, karena jalan tertutup untuk kendaraan bermotor saat, saya harus jalan kaki menenteng koper sampai ke tempat teman yang jemput di pertigaan jalan Kapten Damsur dekat SD Kebon Baru. Setelah itu baru sama-sama meluncur ke hotel.

Sampai di hotel, dapat suvenir dari panitia : kaos dan mug yang ada tulisan reuninya. Tiap peserta diberi tag nama yang ditempel di dada. Sesuai arahan dari ketua panitia yang malam sebelumnya disampaikan, saya kebagian tugas jadi penerima tamu di lobby hotel. Tugasnya menerima guru-guru yang datang. Wah, kebetulan sekali, bisa bertemu dan menyapa guru-guru secara khusus. Panitia juga sudah mengatur ada teman-teman lainnya yang bertugas menjemput guru di rumahnya dan mengantar ke hotel. Juga mengantar kembali pulang ke rumahnya.

Yang bikin saya salut, sebelum acara reuni, ada teman-teman yang tergabung dalam tim blusukan yang tugasnya mencari teman-teman yang hilang kontak. Datangi rumahnya, kalau sudah pindah tanya keluarganya atau tanya pak RTnya. Ada juga yang ke kantornya atau sekolah tempatnya mengajar. Setelah bertemu, fotonya diunggah ke grup WA. Nomor HPnya ditambahkan juga. Makasih banya buat Sri Sulastri, Sri Jepang, Encang Udin, Rahadi dan teman-teman lainnya yang penuh semangat dan ikhlas mencari teman yang “hilang”

Beberapa perwakilan teman berkunjung ke rumah guru, silaturahmi menyampaikan undangan reuni dan memberikan bingkisan. Nggak hanya itu, Ida Farida dan Nining Nursahita mewakili teman-teman juga menyerahkan bantuan ke almamater berupa Al Quran dan tenda yang diserahkan  saat upacara bendera hari Senin di halaman SMP5 Cirebon.

Waktu acara reuni, 105 teman hadir dari total angkatan 86 yang berjumlah 200-an. Guru-guru yang diundang, yang bisa hadir tujuh orang. Peserta reuni duduk melingkar di beberapa meja. Saya berpindah-pindah. Setiap ketemu teman yang saya kenali saya sapa dulu.

Meriah sekali acaranya, apalagi ketika pihak event organizer membuat games yang menarik dan mengakrabkan peserta reuni. Seperti setiap meja anggotanya yang bawa uang logam disuruh menghitung. Yang paling banyak nilainya dalam rupiah kelompok itulah yang menang.

Ada juga diminta menghitung jumlah anak perempuan dalam kelompok tersebut. Yang paling banyak jumlahnya kelompok itu yang menang. Dan game inilah yang dimenangkan oleh kelompok kami, karena pesertanya punya total anak perempuan 26 orang.

Yang bikin kejutan ketika seorang guru, Bu Tati, setelah menyanyi diminta menyebut angka yang ada di daftar hadir untuk diberikan door prize. Beliau menyebut angka 68, dan ketika panitia melihat di daftar hadir reuni nomor 68 itu adalah nama saya… alhamdulillah saya dapat door prize blender. “Rejeki buat yang datang dari jauh, Yud”komentar seorang teman

Acara diakhiri sekitar jam 2 siang. Setelah menyanyikan lagu kemesraan, para peserta saling bersalam-salaman. Ada beberapa teman yang menangis terharu, karena belum tahu kapan bisa reuni lagi.

Selesai acara, saya pun pamit dan ada teman dari Cikarang, Makhmud yang mengantar sampai ke stasiun Kejaksan. Sampai disana sekitar jam 4 sore. Waktu menunggu di stasiun, bertemu dengan Hamidah dan Nunung yang rupanya mengantar teman juga. Ditanya sama Hamidah, “Sudah makan belum Yud?”. Setelah saya jawan belum, ditanya lagi mau makan dimana. Saya bilang kuliner empal gentong ya yang dekat sini.

Pilihan jatuh ke empal gentong di Krucuk. Keinginan menikmati kulier khas Cirebon, empal gentong dan tahu gejrot akhirnya terpenuhi. Makasih ya friend…Selesai makan diantar lagi ke stasiun dan di sana waktu maghrib bertemu lagi dengan Saptono yang datang bersama istri dan anaknya. Rupanya mereka sengaja datang untuk bertemu sebelum saya pulang.

Ah, betapa indahnya persahabatan. Meski baru bertemu lagi dan waktunya singkat, rasanya akrab sekali. Apalagi ketika salah satu teman bilang,”Nanti liburan ke Cirebon lagi Yud, ajak keluarga ke sini. Ditunggu lho”… Rasanya pengin lagi deh ke Cirebon…

 

Pucuk Dicinta Ulam pun Tiba

Jpeg

Saat ini sedang musim liburan akhir tahun. Sebagian teman-teman kerja ijin atau menjalani cuti untuk bisa berkumpul dan berlibur bersama keluarga. Sebaliknya, ada juga keluarga teman-teman yang naik ke camp.

Berlibur di tengah hutan di tempat kerja ayahnya. Anak-anak terlihat sedang bertemu dengan kawan barunya. Baru pertama ketemu, kenalan dan terus langsung bermain sama-sama. Naik sepeda di lapangan badminton, masak-masakan, juga mandi di sungai sama orang tuanya.

Beberapa teman lain termasuk saya keluarganya nggak berlibur di camp. Istri saya sama anak-anak bilang punya rencana bersih-bersih rumah dan halaman sekitarnya. Memangkas tanaman, memotong rumput dan membersihkan sampah-sampahnya.

Karena keluarga nggak naik dan liburan ke camp, pernah satu ketika saya terpikir untuk sehari ijin dan liburan ke Pinoh. Menikmati wisata kuliner. Syukur-syukur ada teman yang mau diajak. Ingin silaturahmi ke teman-teman yang tinggal di Pinoh sekalian belanja buat keperluan di camp.

Nggak sampai seminggu punya keinginan seperti itu, tiba-tiba saya dapat undangan pernikahan. Seperti peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba. Ada teman kerja yang tinggal di Pinoh adik iparnya menikah. Resepsinya hari ini tanggal 28 Desember 2017 jam 16.00 sampai jam 20.00. Setelah ngobrol dengan teman-teman kerja, rencananya kami delapan orang yang mewakili beberapa bagian hadir di acara tersebut.

Setelah terima undangan itu saya merenung, belum lama punya niat mau pergi ingin ketemu teman dan sahabat, ternyata Allah sudah menunjukkan jalannya supaya saya bisa ke sana.

Suasana KEAKRABAN Saat Menengok Teman

Jpeg

“Mobilnya yang mau antar ke logpond sudah siap, pak?kata staf bagian HRD kemarin sore.

“Ya, nanti berangkatnya habis jam empat”jawab saya. Selesai jam kerja, kami bertujuh bergegas pulang ke mess. Mandi dan ganti baju, terus siap-siap ke kampung Nuak. Menengok teman yang sakit. Dua mobil mengantar sampai logpond, setelah itu naik dua speed boat sekitar 15 menit.

Sekitar jam 17.30, pas terdengar azan maghrib kami sampai di tepi kampung. Sebelum ke rumahnya, kami sempatkan dulu sholat magharib berjamaah di masjid yang letaknya di depan rumah teman tersebut

Bukan pertama kali kami datang ke kampung tersebut. Saya pernah sholat Jumat di masjid itu sekitar tahun 2000-an. Beberapa teman juga beberapa kali datang saat liburan atau ada undangan. Jadi nggak heran ketika beberapa jamaah masjid ada yang kenal dan gak kaget melihat kami datang malam-malam.

Jpeg

Sesampainya di rumah, kami melihat teman yang sakit tersebut duduk di atas kasur yang diletakkan di ruang keluarga. Nampaknya dia dan anggota keluarganya sudah menyiapkan saat kami berkunjung. Sebelumnya salah satu teman memang memberitahukan mau datang, supaya nanti saat datang bisa ketemu. Kalau tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan, khawatirnya tuan rumah tidak ada di tempat karena sedang berobat.

Ternyata saat kami berkunjung, tidak hanya makanan kecil yang disiapkan. Hidangan makan malam disajikan pihak keluarga. Nasi hangat, sayur ikan patin asam pedas, rendang dan kerupuk kami nikmati. Suasana kekeluargaan yang khas di kampung begitu terasa.

Menurut informasi dari keluarganya, setelah dirawat di rumah sakit di Pontianak sekitar dua bulan, teman tersebut akhirnya memutuskan kembali ke rumah. Menurut dokter, hasil cek laboratorium, belum diketahui apa penyakitnya. Yang kami lihat lengan kanannya digips dan diperban. Saat kami datang, dia membuka balutan perbannya dan telapak tangannya nampak dipasang pen. Bagian jempol kakinya juga terlihat bengkak.

Teman yang sakit tersebut bekerja di bengkel Trailler Truck dan dia bilang mungkin dia nggak bisa lagi kerja seperti dulu. Salah seorang teman yang duduk mengingatkan agar nggak usah mikir pekerjaan. Yang penting berobat sampai sembuh dulu. Ada teman kerja yang lainnya yang bisa mengerjakan tugasnya. Kami mengiyakan dan memberi semangat supaya dia sembuh dari sakitnya. “Nggak ada penyakit yang nggak ada obatnya. Berdoa dan minta sama Allah agar disembuhkan”kata teman lainnya.

Saat kami asyik ngobrol, azan Isya terdengar. Satu persatu bersiap menuju tempat wudhu untuk sholat Isya berjamaah. Selesai sholat, kami pun berpamitan. Doa sebelum pulang untuk kesembuhan dan perlindungan dilantunkan salah seorang teman yang menjadi ketua pengurus masjid di camp.

Semoga Allah SWT memberikan kesembuhan dan mengangkat penyakit pak Mahyudin. Aamiin yaa Robbal Aalamiin

Filosofi Ketupat

Dalam filosofi Jawa, kupat adalah simbol. Makanan yang biasa kita nikmati saat lebaran ini adalah simbol pengakuan atas kesalahan yang dilakukan.

Kupat, ngaku lepat. Mengaku salah.

Sebuah sikap terpuji yang  mengikis rasa egoisme dalam  diri kita.

Rasa egois yang  menyebabkan  diri seseorang  merasa paling benar. Merasa pintar tapi tidak pintar merasa.

Dan dalam suasana Idul Fitri ini, saya mohon maaf atas salah dan kekhilafan.

Menghindari Berutang dan Segera Membayar Tunai

“Beli tahunya sepuluh biji, Mak”kata saya ke mak Nisa.

Dia istri karyawan yang rajin jualan tahu dan tempe. Hampir setiap hari dia datang ke mess karyawan, dapur dan tempat kerja. Ditemani  kerabatnya  yang masih muda yang membawakan dagangan dan melayani pembeli.

Sebiji tahu dijual seribu rupiah dan tempe dua ribu rupiah per buah. Biasanya saya beli sepuluh biji tahu. Untuk lauk makan malam atau sahur di dapur kantor. Terkadang juga saya bawa ke rumah. Digoreng buat cemilan buka puasa.

Setiap jualan, dagangannya sering laris. Tahu dan tempe buatannya sendiri memang beda dibandingkan produk sejenis yang dijual di pasar. Ukuran tahunya lebih tebal.

Kalau pas saya beli tahunya dan nggak bawa uang, mak Nisa sering bilang,”Bayarnya nanti saja. Bisa besok-besok”. Wah, saya sendiri yang jadi rikuh. Sudah ambil barang kok belum bayar. Rasanya ada beban kalau punya utang. Bergegas saya pulang ke kamar dan mengambil uang untuk segera membayar. Karena saya pikir dia perlu uang untuk diputar lagi buat jualan.

Apalagi ketika mak Nisa pernah mengatakan uang hasil jualannya itu sebagian untuk biaya anaknya sekolah. Rasanya nggak tega kalau saya belanja dengan berhutang kepadanya.

“Mak Nisa”teriak saya ketika dia menuruni tangga hendak pulang. Dia berhenti dan membalikkan badan.

“Ini uangnya untuk beli tahu”kata saya sambil menyerahkan selembar sepuluh ribuan.

Dia menjawab,”Ya. Bisa besok-besok bayarnya nggak apa-apa”.

Ah, mak, saya ingin bayar sekarang. Karena saya menghargai jerih payahmu setelah membuat tahu dan menjualnya dengan berjalan kaki naik turun tangga.

Menabung dan Investasi Tetap lebih Baik

PINJAMAN [KTA] Rp. 3.188.234/bln untk 101jt. Pinjaman Rp 10jt-300jt, proses cepat & menerima jaminan BPKB MOBIL,hub 082xxxxxxx tq.

Wah, baru buka internet pakai modem sudah ada yang nawarin pinjaman KTA alias Kredit Tanpa Agunan. Kalau lihat pinjamannya lumayan, 101 juta. Tapi cicilannya itu lho, 3 juta lebih per bulan.

Memang sih, bulan-bulan Mei sampai Juli ini lagi banyak keperluan. Juga butuh biaya ekstra. Buat daftar anak pertama yang mau kuliah, anak kedua yang mau cari SMU setelah lulus SMP, terus anak ketiga yang hari ini ikut UN dan siap-siap masuk SMP. Belum lagi kebutuhan untuk persiapan Lebaran yang tanggalnya pas musim libur anak sekolah.

Terus, diterima nggak tawaran pinjaman tadi. Memang sih banyak keperluan dan butuh uang, tapi kalau harus utang sih, entar dulu. Waktu terima uangnya memang nyaman, nggak pakai agunan lagi. Tapi bayarnya itu yang bisa bikin kelimpungan. Karena biasanya pinjaman berbentuk KTA ini bunganya lebih tinggi daripada kredit yang lain seperti KPR. Bisa sampai 3-4% per bulan. Jadi setahun bisa 36%-48%. Sementara KPR sekitar 14 % per tahun.

Untung sudah pernah belajar dan tahu ilmunya gimana cari solusi masalah kebutuhan biaya anak sekolah. Caranya? Minta kepada Allah dan berikhtiar dengan menabung dan investasi logam mulia.

Di Sana Unjuk Rasa, Di Sini Kerja Nyata

P_20160501_085905A

Hari Buruh 1 Mei identik dengan demo alias unjuk rasa. Kita bisa lihat di televisi, di hari libur nasional itu para buruh turun ke jalan-jalan protokol di ibukota negara. Berjalan kaki meneriakkan tuntutan sambil membawa spanduk dan berorasi di atas kendaraan. Meminta agar pemerintah memperhatikan hak dan kesejahteraan mereka.

P_20160501_090017A

Nun jauh di tengah hutan, sekelompok pekerja justru melakukan aksi nyata. Berkumpul bersama untuk membersihkan masjid. Merapikan tamannya, mengganti lampu yang padam, menguras bak air tempat wudhu dan menimbun halaman depan masjid yang licin.

Memang tidak salah turun ke jalan untuk memperjuangkan haknya, meminta pemerintah memperhatikan nasibnya. Namun, sayangnya setelah kegiatan itu sampah bertebaran di mana-mana, terkadang malah memacetkan lalu lintas di jalan raya.

Alangkah lebih bermakna jika aksi turun ke jalan para buruh itu diarahkan pada aksi nyata. Seperti membersihkan sungai-sungai di ibukota, membuat mural di dinding jembatan layang, mengecat halte bus kota atau membagikan nasi bungkus bagi para pemulung dan para tuna wisma.

Bukankah masih banyak saudara mereka yang hidupnya lebih susah?

Daripada menuntut pihak lain untuk memperhatikan kesejahteraan mereka, tidakkah lebih mulia membantu sesama yang hidupnya lebih menderita?