Suvenir MUG Cantik Bagi Peserta Terjauh

Jpeg

Saat mengikuti acara pengembangan kemitraan oleh travel penyelenggara umroh, pembicara meminta para peserta praktek presentasi di depan. Hampir semua peserta yang berjumlah sekitar dua puluh orang diminta tampil di panggung.

Setiap tahap ada tiga orang yang diminta praktek bicara di depan peserta yang lain. Tahap pertama tiga orang diminta praktek sebagai pembawa acara atau MC. Masing-masing hanya diberi waktu tiga menit.

Tahap kedua memperkenalkan profil perusahaan. Tiga orang juga tampil di depan. Tahap yang terakhir menyampaikan program solusi yang ditawarkan bagi calon jamaah umroh yang terkendala masalah dana

Saya memberanikan diri maju dan berdiri di panggung untuk praktek presentasi profil perusahaan. Pembicara yang dari Jakarta menunjuk satu orang untuk memulai dan saya giliran yang ketiga.

Meski sudah beberapa kali bicara di depan publik, kali ini rasa grogi justru muncul dari dalam diri. Aneh memang, saat dminta tampil memberi sambutan atau presentasi di depan tamu, saya bisa lancar dan rileks, tapi ketika diminta praktek atau simulasi malah grogi dan nggak  tenang.

Saat presentasi saya nggak sesuai slide, pembicara sempat memberikan kode agar saya melihat tampilan slide. Biasanya sih saya saat presentasi sudah otomatis melihat wajah peserta yang hadir dan sesekali melihat slide di layar lebar.

Saya grogi apa karena dilihat pembicara yang jam terbang presentasinya sudah di atas saya? Atau karena menganggap remeh dan nggak ada persiapan sebelumnya?

Yang jelas, dalam hati saya menyesal dan berjanji untuk selanjutnya harus lebih rileks dan tidak grogi lagi. Juga persiapan pelajari slidenya dulu sebelum tampil.

Meski pembicara mengoreksi presentasi saya, ada satu apresiasi yang membuat saya surprise.

“Saya punya suvenir yang saya bawa dari Jakarta. Mug yang ada foto saya. Salah satu akan saya berikan buat peserta yang datang paling jauh dari Melawi”jelasnya

Dan saya diminta tampil lagi menerima suvenir mug cantik dari pembicara utama. Kenang-kenangan yang sampai sekarang masih saya ingat. Meski hanya sebuah mug, tapi perhatian yang diberikan di luar dugaan saya dan juga peserta lainnya.

“Mugnya disimpan saja ya, mas, jangan dipakai buat tempat minum”kata istri saya.

Iklan

Saatnya Beli Logam Mulia ketika Harganya Turun

“Ini surat keterangan pembeliannya, pak. Jangan sampai hilang”kata mbak petugas di Pegadaian dengan senyum manis.

“Makasih. Nanti kalau saya jual, kena harga yang sekarang atau nanti, mbak?”tanya saya

“Harga jualnya sesuai tanggal penjualan LM nanti, pak”jawabnya

Surat keterangan pembelian LM itu saya terima sesaat setelah sekeping Logam Mulia saya beli lima hari lalu. Ya, itung-itung buat investasi jangka panjang. Setelah baca tulisannya mas Dani tentang investasi reksadana, saya pengin juga nulis salah satu jenis investasi : emas, khususnya yang berbentuk batangan atau LM.

Kalau terima rejeki lebih, biasanya saya sisihkan buat beli LM. Kalau lagi banyak kebutuhan, saya tetap sisihkan minimal buat beli yang 1 gram. Lumayan. Apalagi mumpung harganya saat ini lagi turun. Saya pegang ilmu dalam investasi, beli saat harga turun dan jual saat harga naik.

Tapi kalau lagi ada keperluan mendadak dan harga lagi turun, apa kudu dijual. Atau sebaliknya, kalau lagi nggak ada keperluan mendesak, harga melonjak, apa harus dijual LM-nya? Jawabannya dikembalikan ke tujuan investasi semula. Apa untuk biaya pendidikan anak-anak, buat umroh/naik haji, atau wisata.

Kalau dipikir agak kuno ya. Pegawai kantoran kayak saya di jaman modern ini kok mau-maunya invest beli LM. Bukannya beli properti, saham, reksadana, deposito atau tanah. Saya mikirnya simpel aja. Ada uang tunai, bawa ke Pegadaian, terus bilang sama mas atau mbaknya mau beli LM yang sekian gram. Serahkan KTP, nunggu sekitar 15 menit, siapkan uangnya, barang langsung diserahkan dan transaksi selesai.

Setelah itu simpan di Save Deposit Box (SDB) di bank. Biayanya nggak mahal, sekitar 300 ribuan per tahun. Hitung-hitung nitip ke bank dengan ongkos nitip sekitar 25 ribu per bulan. SDB Juga bisa dipakai buat simpan surat-surat penting. Tiap tahun tinggal diperpanjang dengan potong tabungan di bank itu.

Ada hal menarik sewaktu di Pegadaian. Saya lihat, yang ngantri kebanyakan ibu-ibu. Ada enam orang, saya sendiri yang laki-laki. Sebelah kanan saya duduk seorang ibu berpakaian rapi dan wangi. Rupanya dia yang tadi barusan parkir Honda Jazznya di sebelah mobil saya.

Kalau lihat dari penampilan, saya kira dia mau beli LM juga, e…nggak tahunya bawa 12 macam perhiasan: kalung, cincin, gelang yang diserahkan ke petugas mau digadaikan. Walah, ternyata saya terjebak menilai orang hanya dari tampilannya saja.

Satu orang duduk di samping kiri saya, mau gadaikan perhiasan juga. Ada juga dua orang ibu-ibu yang duluan datang sudah berdiri di depan loket. Mereka juga lagi bicara sama petugas yang mengembalikan perhiasan yang sudah ditebus.. Nah, satu orang ibu lagi berpakaian seragam kantor yang tujuannya sama dengan saya, beli LM.
Kalau nggak ada mas petugas dan sekuriti, jadi cowok sendirian deh di situ. 🙂

Awali Bicara di Depan Publik dengan Cerita

Pernah diminta berbicara di depan orang banyak dalam sebuah acara? Saya yakin setiap diri kita pernah diminta untuk berbicara di depan umum. Apakah sebagai ketua organisasi, karyawan, mahasiswa, pemilik bisnis atau juara dalam sebuah lomba.

Apa yang teman-teman blogger katakan ketika diminta berbicara di depan publik? Salah satu yang sering saya lakukan adalah dengan bercerita. Saya tidak terbiasa berbicara di depan orang banyak dengan membaca teks. Semuanya spontan. Apa yang ada dalam pikiran ya saat itu saya ceritakan.

Seperti beberapa hari lalu ketika training penggunaan pelumas yang diadakan Pertamina. Ketika penyaji dari Pertamina selesai presentasi company profile, saya cerita kalau perusahaan milik negara ini diibaratkan klub sepakbola Indonesia, dia sudah bisa bersaing dengan klub-klub asing. Sebagai perusahaan BUMN, Pertamina bahkan pernah masuk jajaran 500 perusahaan kelas dunia menurut Global Fortune. Perusahaan yang mampu bersaing dengan perusahaan sejenis dari luar negeri.

Kenapa saya cerita dan ibaratkan dengan sepakbola? Karena saya melihat audiens adalah karyawan yang rata-rata hobi bola. Nah, kita sebagai bangsa harusnya bangga ya. Apalagi khusus untuk pelumas, perusahaan kita full pakai produk Pertamina. Berarti secara nggak langsung kan menghargai produk-produk dalam negeri. Kok tahu? Ya iya, saya sempatkan tanya kawan yang duduk di samping beberapa menit sebelumnya  🙂

Semua itu saya ceritakan secara spontan dan nggak pernah ada persiapan. Saya baru diberitahu teman kerja satu hari sebelumnya dan diminta bicara mewakili perusahaan.

Memang untuk berbicara di depan umum, terkadang kita perlu persiapan. Namun kita terkadang juga nggak bisa mengelak ketika ada permintaan mendadak. Kalau sudah seperti ini, nggak sempat lagi bikin konsep pidato atau teks sambutan. Apalagi kalau kerjaan lagi padat.

Bicara spontan di depan orang banyak, sebenarnya modalnya nggak susah kok. Kalau ada pembicara sebelum kita, kita bisa memberikan tambahan informasi yang saat itu belum disampaikan.

Apa yang pernah kita alami bisa jadi bahan omongan. Apa yang pernah kita baca, lihat dan lakukan juga bisa jadi cerita menarik. Kuncinya adalah telaten mengamati sesuatu yang terjadi, banyak baca dan rajin mengikuti informasi. Itulah sebenarnya persiapan yang diperlukan ketika kita bicara di depan orang banyak.

Mudahnya Mencari Lokasi dengan Google Maps

Setelah tertunda beberapa hari, kemarin akhirnya jadi juga mencari alamat pakai bantuan Google Maps. Dengan berbekal kartu nama di tangan, saya masukkan di kolom isian Google Maps alamat yang ingin saya datangi: Villa Ilhami. Langsung muncul beberapa kalimat dengan huruf depan Villa. Saya pilih Villa Ilhami, Kelapa Dua, Tangerang.

Google Maps langsung menyorot lokasi yang saya cari, lengkap dengan alamat-alamat jalannya. Kenapa sih kok cari alamat pakai Google Maps? Karena baru pertama kali saya mau datang ke lokasi itu. Ceritanya hari Sabtu, 28 Maret, rencananya mau ke Jakarta. Lebih tepatnya ke Tangerang, karena lokasi yang saya cari di Google Maps rupanya masuk propinsi Banten.

Sebelum berangkat, cari informasi dulu lokasinya di sebelah mana? Terus kalau dari bandara Soetta lewat jalan mana saja. Saya perhatikan benar nama jalan yang dilewati dari bandara, mulai jln Husein Sastranegara, jln Daan Mogot, jln M. Thamrin, melintas jln Tol Jakarta-Merak dan terus ke arah barat. Sekitar 300 meter lewat dari sungai Cisadane terus belok kiri, sampailah ke perumahan Villa Ilhami. Setelah konfirmasi ke keluarga, rupanya lokasi perumahan itu masuk daerah Karawaci.

Nggak cuma itu, setelah tahu alamatnya di peta saya juga bisa lihat foto lokasi rumahnya. Secara visual bangunannya kelihatan cukup jelas, juga rumah-rumah tetangganya. Jenis kendaraaan yang diparkir pun nampak.

Kalau cari alamat dan lihat di peta sih kelihatannya sederhana. Gampang carinya. Yang belum tahu nanti waktu menjalaninya. Gimana kondisi terbaru di jalan, daerah mana saja yang lalu lintasnya sering macet baru ketahuan setelah mengalami sendiri. Semuanya baru tahu setelah naik kendaraan dari bandara menuju lokasi. Sebenarnya bisa juga tanya kondisi terbaru di jalan sama keluarga, atau teman-teman blogger .

Tapi dengan melihat Google Maps dulu, minimal saya nggak buta sama sekali dengan lokasi yang akan dituju. Kalau sudah pernah lihat rutenya di peta digital, minimal waktu naik taksi sudah dapat informasi awal dari internet. Sudah ada persiapan dulu sebelum berangkat. Dan sekarang saya lagi cari informasi, rumah makan mana saja yang dekat dengan perumahan itu :-). Juga dengan bantuan Google Maps.

Mengapa Panggilan Telepon Nggak Langsung DIJAWAB?

Pernah kan waktu menelepon teman, kolega atau keluarga kemudian nggak langsung dijawab? Gimana perasaan kita saat nada dering telepon berbunyi terus, tapi nggak ada tanda-tanda direspon? Yang saya rasakan sih agak jengkel. Terkadang kesal sudah telepon yang kedua kali masih juga nggak dijawab. Tapi setelah beberapa kejadian saya alami, saya berkesimpulan jangan berpikir negatip dulu si penerima nggak mau menjawab panggilan kita

Dalam pikiran kita, dengan handphone di tangan tentunya akan lebih mudah menghubungi seseorang. Mudah ditelepon di mana pun dia berada. Kalau ada yang menelepon, bisa langsung terima dan jawab panggilan.

Namun pada kondisi-kondisi tertentu, bisa saja kita nggak segera membalas telepon itu. Bukan berarti nggak mau segera merespon, tapi situasinya yang nggak memungkinkan. Apa saja kondisi yang nggak memungkinkan kita langsung menjawab panggilan telepon?

1. Saat Berkendara di Jalan
Gara-gara menerima panggilan telepon saat berkendara, saya pernah berurusan dengan polisi. Kejadiannya waktu itu pagi hari setelah mengantar anak-anak ke sekolah. Pulangnya melewati pertigaan yang lagi ramai dengan anak-anak sekolah dan karyawan yang akan bekerja.

Cuaca saat itu sejak pagi hujan. Saya dengan istri naik mobil dan saya yang menyetir. Di pertigaan itu memang belum ada lampu lalu lintas. Jadi setiap hari ada beberapa petugas polisi yang mengatur lalu-lintas.

Saat itu saya dapat giliran berhenti paling depan karena arus lalu lintas dari arah depan diberikan kesempatan belok kanan. Saat itu handphone di sisi kursi berdering. Refleks saya angkat dan jawab panggilan dari staf yang ada di camp. Belum selesai bicara seorang polisi mendekati jendela dan menyuruh saya menepikan mobil. Setelah itu dia minta saya menunjukkan STNK dan SIM. Semua yang diminta saya tunjukkan.

Setelah itu saya disuruh ke polsek dan SIM saya ditahan. Alasannya karena menelepon saat berkendara. Sejak saat itu, kalau ada panggilan telepon masuk pas lagi menyetir, saya biarkan dulu sambil cari tempat untuk menepi. Setelah itu baru telepon balik. Nggak mau lagi langsung buru-buru angkat telepon dan bicara. Pernah juga dapat cerita dari bos, gara-gara menerima telepon dan bicara saat berkendara, mobilnya sampai menabrak pengendara motor.

2. Saat Handphone nggak Pas di Sisi Kita
Kalau poin dua ini ada sedikit unsur ketidakberuntungan. Kadang-kadang pas handphone kita bawa nggak ada panggilan masuk. Tapi saat handphone diletakkan di meja atau nggak kita bawa, tiba-tiba ada telepon masuk.

Nah, kalau seperti ini biasanya saya cek dulu telepon dari siapa. Kalau dari nomor nggak atau belum dikenal nggak langsung saya telepon balik. Tapi kalau dari nomor yang dikenal apalagi dari keluarga, teman kerja atau boss ya segera telepon balik.

3. Saat berada di Ruang Rapat dan di Tempat Ibadah.
Ada beberapa perusahaan atau instansi yang melarang peserta rapat untuk mengaktifkan handphone. Bahkan yang super ketat, handphone dilarang keras dibawa saat rapat dan harus disimpan di satu tempat. Tujuannya sih supaya hal-hal yang tergolong top secret saat rapat tidak sampai terekam dan terdokumentasi.

Saat menjalankan ibadah, baik di masjid, gereja, vihara sebaiknya handphone juga kita matikan atau minimal statusnya silent. Lucu dan bikin heboh kan kalau lagi melaksanakan ibadah, karena lupa menonaktifkan handphone terus ada panggilan masuk yang nada deringnya “Sakitnya tuh disini”  :-).

4. Di SPBU
Pernah waktu mengisi premium di SPBU, ada panggilan masuk tetap saya biarkan. Waktu itu saya ingat kalau handphone agar  dimatikan saat mengisi BBM di SPBU. Saya lupa matikan handphone dan khawatir kalau langsung saya angkat dan jawab, terus ada percikan api dan menimbulkan ledakan di SPBU. Lebih baik sabar, menunggu keluar dari SPBU baru saya lihat dan telepon balik jika penting?

Gimana pengalaman teman-teman saat menelepon? Apakah sering juga nggak langsung dijawab?

Mudahnya Membuat PASPOR Secara ONLINE

Awalnya saya punya gambaran membuat paspor itu rumit karena banyak prosedurnya. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Ini yang saya alami sendiri bulan Oktober lalu ketika mengurus pembuatan paspor secara online.

Saya tertarik membuat paspor online setelah baca blognya mas Ryan. Bikin paspor secara online itu maksudnya kita mendaftar lewat websitenya Ditjen Imigrasi. Caranya seperti ini:

Pertama, buka dulu websitenya. Setelah itu kita pilih menu layanan publik, pilih layanan paspor online dan klik pra permohonan personal. Semua data mulai nama, alamat, tempat tanggal lahir, pekerjaan, jenis paspor yang dibuat, paspor berapa halaman semua diisi dengan teliti. Waktu mengisi data secara online ini saya lakukan di camp, karena jaringan internet di lokasi kerja sudah 3G jadi prosesnya lancar.

Setelah data diisi, via email kita akan mendapatkan bukti pengantar ke bank untuk melakukan pembayaran. Total biayanya Rp355.000.

Kedua, setelah transfer dana, dari pihak BNI akan memberikan slip bukti pembayaran. Di dalam slip itu ada kode jurnal bank yang harus kita isikan di aplikasi onlinenya. Untuk urusan transfer ini saya minta tolong istri di Pontianak untuk transfer ke BNI.

Sebenarnya bisa saja transfer pakai SMS atau mobile banking lari lokasi kerja di camp. Tapi slip bukti pembayarannya gimana? Setelah itu istri SMSkan kode jurnal bank yang ada di slip pembayaran tadi. Kode jurnal ini penting karena akan digunakan untuk proses selanjutnya secara online.

Ketiga, setelah konfirmasi pembayaran secara online, kita menentukan tanggal berapa akan mendatangi Kantor Imigrasi (KANIM). Kita juga diminta memilih lokasi KANIMnya. Karena domisili saya di Pontianak, saya pilih KANIM Pontianak. Via email kita akan menerima tanda terima permohonan yang akan digunakan saat verifikasi data di KANIM.

Keempat, datang ke KANIM sesuai tanggal yang tercantum dalam tanda terima permohonan. Pada waktu datang ke KANIM jangan lupa bawa semua dokumen asli dan foto copy KTP, KK, Akte Kelahiran atau Surat Nikah.

Kelima, di KANIM silakan minta formulir dan map ke loket. Setelah itu antri untuk pemeriksaan dokumen sekaligus mendapatkan nomor untuk masuk ke ruangan verifikasi. Di antrian ini rupanya dibedakan antara pemohon yang mendaftar paspor online dengan pemohon paspor langsung/offline.

Keenam, setelah mendapatkan nomor antrian verifikasi, selanjutnya kita menunggu lagi untuk dipanggil. Pada saat masuk ke ruangan verifikasi, ada dua orang petugas yang memeriksa. Petugas pertama memeriksa kecocokan nama dan data lain di KTP, KK dan akte kelahiran/surat nikah. Saya lihat nama dan tempat tanggal lahir di fotocopy KK distabilo. Dia juga menanyakan apakah sebelumnya sudah pernah buat paspor.

Ketujuh, selesai verifikasi data tahap selanjutnya adalah wawancara, pengambilan sidik jari dan foto yang dilakukan oleh petugas yang berbeda. Untuk pengambilan sidik jari dan foto harus beberapa kali diulang. Karena waktu ditampilkan di layar monitor, gambar sidik jarinya nggak muncul. Di tahap ini saya juga ditanya petugasnya untuk apa membuat paspor. Selesai di tahap ini, petugas akan memberikan surat pengantar untuk pengambilan paspor tiga hari beriutnya.

Kedelapan, sesuai dengan yang tertera di surat pengantar, tanggal 24 Oktober saya ke KANIM lagi. Setelah menyerahkan surat ke loket pengambilan paspor, sekitar 15 menit kemudian saya dipanggil dan diminta tanda tangan di kotak bagian dalam paspor dan juga di buku tanda terima pengambilan paspor.

Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga punya paspor. Senangnya tuh bukan hanya karena sudah punya paspor, tapi juga bisa mengurus sendiri mulai proses online sampai saat menerima paspor dari petugas KANIM. Kalau mengurus sendiri seperti ini ‘kan bisa tahu jalan ceritanya, beda kalau minta tolong orang lain atau lewat biro jasa.

Semoga setelah ini, buku paspornya sudah ada isinya, juga ada capnya :-). Maksudnya kalau ada yang mengajak untuk melancong ke luar negeri atau keperluan lainnya, dokumennya sudah disiapkan dulu.

Tangkaplah Ide itu dan Simpanlah

Menyimpan ide? Kelihatannya memang tidak ada hubungan dengan ngeblog. Tapi justru inilah jurus yang saya lakukan untuk bisa tetap ngeblog. Jurus untuk menyiasati waktu-waktu sibuk, agar sewaktu di depan laptop sudah memiliki ide dan dituangkan dalam bentuk tulisan.

Dimana saya menyimpan ide? Di smartphone. Di blackberry yang sering saya bawa waktu bepergian. Tuntutan tugas yang mengharuskan saya sering bepergian bukanlah halangan untuk tetap bisa ngeblog. Justru banyak ide dan tulisan saya yang lahir ketika menikmati perjalanan. Ide yang tiba-tiba muncul ketika melihat minibus yang saya tumpangi terperosok jalan tanah yang rusak, berada di dalam pesawat yang tidak ada nomor kursinya adalah beberapa postingan yang terlahir ketika dalam perjalanan.

Selain mendapatkan ide menulis, dalam perjalanan saya juga sering memotret peristiwa atau obyek untuk menguatkan jalan cerita postingan. Dan untuk mendapatkan jepretan ini memang nggak mudah, terkadang harus sembunyi-sembunyi. Ini yang saya lalukan waktu mengambil gambar kabin pesawat garuda waktu di bandara Soekarno-Hatta.

Pengambilan gambar di kabin ini memang perlu kiat khusus. Jangan sampai ditegur atau ketahuan oleh pramugari atau awak kabin. Malunya itu loh kalau sampai ditegur dan dilihat penumpang lain. Padahal, kalau minta ijin mungkin diperbolehkan ya sama pramugari garuda yang anggun? Apalagi postingan itu kan menceritakan kebanggaan saya terhadap maskapai nasional itu.

Akhirnya, jurus sembunyi-sembunyi saya lakukan. Di saat awak kabin sibuk membantu penumpang lainnya menyusun barang-barang di dalam kabin dan membantu penumpang mencari nomor kursi, saya keluarkan blackberry. Setelah tengok kiri kanan, belakang dan situasinya tepat, saya langsung jepret suasana kabin. Dan akhirnya dapatlah gambar yang saya inginkan. Silakan dibaca di postingan ini.

Saat-saat menunggu boarding di bandara juga waktu yang nyaman untuk membuat catatan di smartphone. Kalau penumpang lainnya ngomel-ngomel jika pesawat delay 2-3 jam. Saya justru berharap makin lama delaynya makin baik. Kok berharap gitu sih? Ya, karena inilah waktu yang tepat untuk meneruskan catatan untuk postingan.

Tak hanya itu, ini juga kesempatan untuk mengeksplorasi suasana bandara untuk judul postingan lainnya. Karena pesawat delay ini saya pernah dapat berita menarik. Di sini saya bisa mengamati para penjual yang penampilannya rapi seperti penumpang. Ceritanya begini. Menunggu pesawat lepas landas, saya dan teman menuju salah satu restoran di bandara. Sudah ada beberapa orang yang juga makan dan minum ditempat itu.

Nggak lama kemudian, ada satu orang yang berpenampilan rapi membawa tas. Saya pikir dia penumpang. Woow, ternyata bukan. Dia mendekati meja kami dan setelah menyapa dengan sopan, dia mengeluarkan dari dalam tasnya berbagai macam parfum. Ternyata saya salah menduga. Dikiranya sama-sama penumpang, ternyata penjual yang berpenampilan rapi seperti penumpang. Penyamaran yang sukses. Bahkan waktu saya posting di blog Kompasiana, tulisan ini diberikan predikat Headline oleh adminnya.

Postingan lain yang idenya saya dapatkan ketika di kendaraan, adalah ketika naik bis yang tiba-tiba mesinnya mogok dan penumpang di dalamnya kepanasan. Karena AC-nya padam, sebagian penumpang turun dan sebagain lainnya masih duduk dalam bis. Di saat penumpang lain di dalam bis sibuk cari bahan untuk kipas, saya sodorkan koran cetak yang saya bawa. Nah waktu mereka kipas-kipas pakai koran cetak itu, terus saya jepret pakai smartphone. Jadilah ide sebuah tulisan lagi plus fotonya. Ini hasilnya. Lho, memangnya saya juga nggak kepanasan di dalam bis? Iya juga sih, tapi demi sebuah ide postingan dan gambar yang menarik, rasa panas itu ditahan-tahan dulu meski badan bermandi keringat. Gemrobyos bahasa jawanya.

Ada juga kisah menarik lainnya waktu di perjalanan. Waktu sampai di Pontianak pagi hari setelah perjalanan dari Nanga Pinoh, saya dijemput keluarga di agen bis. Ketika melewati bangunan rumah adat dayak, tiba-tiba tercetus ide. Wah, bisa jadi bahan postingan nih.
Kendaraan saya tepikan dan istri di samping saya kaget.”Lho, kok berhenti, ada apa, Mas?” Anak-anak yang duduk di belakang juga heran. “Nggak ada apa-apa, cuma mau ambil foto bangunan di seberang jalan itu?”jawab saya. Setelah lalu lintas sepi, saya pun setengah berlari menuju rumah adat dayak di seberang jalan. Setelah masuk ke halaman, saya potret dari berbagai sisi. Bangunannya secara utuh, tangganya juga saya potret close up.

“Memang sudah kayak wartawan saja, papa kalian ini?”, komentar istri ketika saya kembali ke kendaraan. Kenapa sih harus saat itu juga diambil fotonya? Kenapa tidak lain waktu atau besok, toh bangunannya tidak akan pindah tempat? Benar juga sih kalau ada yang berpikir seperti itu. Namun saya punya pendapat lain. Ide atau gagasan yang tiba-tiba muncul harus saat itu juga dieksekusi. Perlu saat itu juga dicatat dan disimpan dalam memori kita. Jangan ditunda-tunda mengambilnya.

Nah, memori itu jaman sekarang sudah macam-macam jenisnya. Ada smartphone, laptop dan yang terbaru tablet. Dengan alasan kepraktisan, saya lebih sering membawa blackberry untuk menangkap dan menyimpan ide postingan itu ke dalam memori. Coretan-coretan kertas juga bisa digunakan kalau tiba-tiba ide muncul dan blackberry tidak dalam genggaman saya.

Setelah sampai di rumah atau kantor, jika ada waktu luang alias pekerjaan penting sudah beres, saya kembangkan lagi ide postingan itu. Bukan berarti nggak ada gangguan selama menulis postingan di laptop. Gangguan datang ketika aiphone berbunyi. Terkadang ada telepon yang masuk ke call center dan ada yang ingin bicara dengan saya.

Otomatis konsentrasi menulis pun terpecah. Bisa juga ada tamu yang ingin bertemu, atau ada panggilan dari bos dan diminta menghadap saat itu juga di ruang kerjanya. Namun, setelah urusan-urusan mendadak itu beres, jalan cerita bahan postingan sering terlupa. Akhirnya saya baca ulang lagi dari paragraf awal hingga kalimat terakhir yang terhenti tadi. Supaya waktu menulis kelanjutannya masih menyambung dan nggak ada cerita yang terputus.

Memang kalau dipikir dan ditimbang dari sisi materi. Kok mau-maunya sih melakukan seperti itu, padahal kan nggak dibayar, nggak ada yang memberikan imbalan. Meminjam istilah istri saya, serius benar cari ide tulisan sampai kayak wartawan.

Benar juga sih kalau pertimbangannya dari sisi itu. Hanya saja, bagi saya bisa mendapatkan ide postingan, menuliskannya dan bermanfaaat bagi pembaca adalah sebuah kepuasan. Plong rasanya bisa menyajikan postingan dari hasil jerih payah dan keringat sendiri. Dan mungkin itulah sebentuk kebahagiaan yang saya rasakan dalam hati.

“Cerita ini diikutsertakan dalam 2nd Give Away Ikakoentjoro’s Blog”