Binatang atau Biji Tumbuhan?

IMG01867-20140529-0544

Hayo tebak, gambar apa yang ada dalam foto di atas? Bentuknya bulat seperti kelereng. Warnanya loreng. Sepintas gambar tersebut seperti biji tumbuhan atau buah yang jatuh dari pohon.

Tapi perhatikan gambar berikutnya di bawah ini.

IMG01862-20140529-0542

IMG01861-20140529-0541

IMG01857-20140529-0540

Ternyata “biji” atau “buah” itu secara perlahan membuka dirinya dan wow, berubah bentuk menjadi binatang. Saya belum tahu apa nama jenis binatang yang pandai berkamuflase itu. Mungkin teman blogger ada yang tahu?

Saya dapatkan binatang itu ketika lari pagi di lapangan badminton depan kamar. Sebelumnya saya juga pernah melihat binatang itu ketika jalan-jalan ke hutan. Tapi waktu itu nggak empat memotret. Pagi ini, nggak tahu kok tiba-tiba binatang ini ikut jalan-jalan di lapangan badminton.

Melihat binatang itu berjalan, saya berhenti berlari dan buru-buru ambil BB di kamar. Terus saya jepret dan sentuh punggungnya. Spontan binatang itu langsung menggulung badannya seperti bola. Dengan sabar, saya tunggu beberapa menit sampai dia pelan-pelan membuka lagi badannya.

Pernah ada kejadian lucu ketika mendampingi tamu pria jalan-jalan di hutan. Saat itu dia menemukan sebuah benda di lantai hutan lalu dimasukkan ke saku bajunya. Benda itu dikira biji yang jatuh dari pohon dan dibawa untuk koleksi.

Sambil berjalan, nggak lama kemudian dia merasa ada benda yang bergerak-gerak di dadanya. Alangkah kaget ketika dia melihat sakunya. Ternyata “biji” yang tadi dipungut itu sudah berubah menjadi hewan. Spontan dengan mimik muka agak takut dan geli, “biji” itu diambil dan dibuang jauh-jauh. 🙂 🙂

Mungkin kalau ketemu produser film Transformer, “biji” itu bisa dijadikan salah satu ide untuk membuat jenis robot yang baru.

Iklan

Ngengat dan Kumbang Bertanduk

Sering saya lihat berbagai macam serangga berdatangan di sekitar rumah dan tempat kerja. Ada kupu-kupu, ngengat, keriang (kalau di jawa namanya garengpo), lebah, kumbang bertanduk, sampai laron. Semuanya seperti bergiliran berkunjung. Serangga-serangga tersebut bahkan sampai masuk ke dalam kamar tidur dan terbang berputar-putar mengelilingi pijar lampu hemat energy di atas ranjang.

Itu belum seberapa, yang terparah waktu serangga tersebut sampai hinggap dan bersembunyi di dalam sweater yang saya taruh di atas kasur. Ceritanya habis makan malam dan sebelum tidur, sweater itu saya pakai karena kalau sudah di atas jam 12 malam biasanya udara terasa dingin.

Kok, tiba-tiba ada benda bergerak dan merayap di punggung saya. Pasti ada binatang yang masuk ke sweater yang saya pakai. Secara reflek, langsung saya ke depan cermin dan melihat bagian punggung.

Ternyata benar, seekor ngengat berwarna coklat muda langsung terbang begitu sweater cepat-cepat saya buka. Masih ada bekas-bekas serbuk halus dari tubuh ngengat yang menempel di sweater dan kaos. Rupanya waktu di dalam sweater tadi, ngengat tersebut juga merasa pengap dan ingin cepat-cepat keluar. 😀

Masih untung, cuma ngengat yang masuk ke dalam sweater. Nggak bisa dibayangkan deh, kalau yang ngumpet di dalam sweater tadi si kumbang bertanduk seperti gambar di atas. Bisa bentol-bentol badan saya kena gigitan atau tandukan si kumbang. 🙂

Tapi saya paling suka lihat si kumbang bertanduk ini kalau lagi telentang dan kesulitan untuk membalikkan badannya. Kaki-kakinya yang posisinya di atas, bergerak-gerak dan sepertinya nggak pernah diam untuk minta pertolongan.

Setiap ada benda yang mendekat, dia coba untuk meraih dan mencengkeram untuk membalikkan badannya. Karena kasihan, biasanya saya balikkan langsung badannya pakai pulpen atau kertas.

Serangga – serangga tersebut kalau dilihat secara seksama, memang bagus juga warna dan bentuknya. Bagi tamu-tamu yang datang, biasanya mereka senang melihat serangga-serangga tersebut menempel di dinding bangunan atau merayap di lantai. Sesekali mereka memotret. Ada juga yang dikoleksi dan dibawa pulang. Nggak tahu untuk apa.

Yang jelas, saya pernah lihat di bandara Supadio, banyak hiasan gantungan kunci berupa kupu-kupu, ngengat, kumbang bertanduk berukuran kecil yang sudah diawetkan dan dijual di ruang boarding pesawat.

Pohon Ulin, Kayunya Sekeras Besi

Pohon ulin atau belian (Eusideroxylon zwageri) adalah salah satu pohon berkayu yang tumbuh secara alami di hutan tropis di Sumatera dan Kalimantan. Ulin umumnya tumbuh pada ketinggian 5 – 400 m di atas permukaan laut dengan medan datar sampai miring, tumbuh terpencar atau mengelompok dalam hutan campuran.

Pohon ulin memiliki ciri yang khas, yaitu sifat fisik kayunya yang keras dan juga tahan terhadap perubahan suhu, kelembaban, dan pengaruh air laut, sehingga sering disebut juga dengan nama kayu besi.

Dalam penelitian kelas keawetan 200 jenis kayu Indonesia terhadap penggerek di laut yang dilakukan oleh Mohammad Muslich & Ginuk Sumarni, kelas keawetan kayu ulin ini termasuk kelas awet I dengan berat jenis 1,04, lebih tinggi daripada kayu jati yang tergolong kelas awet II dengan berat jenis 0,65.

Oleh karena  keawetannya tersebut, jenis kayu ini sering digunakan untuk bahan bangunan, seperti konstruksi rumah, jembatan, tiang listrik, dan perkapalan.

Dalam pembuatan rumah khususnya di Kalimantan, masyarakat memanfaatkan kayu ulin sebagai bagian utama dari tiang, lantai rumah, dinding, patok-patok tanah dan atap sirap.

Sifat fisik pohon ulin yang keras tersebut ternyata tidak hanya pada bagian kayunya, namun juga bijinya.

Proses perkecambahan biji ulin membutuhkan waktu cukup lama, yaitu  sekitar 6 – 12 bulan.

Pada saat ini, penggunaan kayu ulin yang semakin meningkat ditambah lagi dengan pembudidayaannya yang cukup lama dan  persentase keberhasilan relatif rendah, menyebabkan jenis ini dimasukkan kategori jenis langka (vulnerable) dalam IUCN Red List of Threatened Species.

Sumber bacaan :

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/CITES#Appendix_I
  2. http://muherda.blogspot.com/search?q=ulin&submit=Search
  3. http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/31316/0

 

 

Akar Banir, Penopang Kekokohan Sebatang Pohon

Selama ini, di benak kita sering terbayang kalau yang namanya akar pasti letaknya di dalam tanah. Memang nggak salah sih, karena  bagian pohon atau tanaman yang biasanya tumbuh di atas tanah adalah batang, cabang dan ranting.

Tidak demikian halnya dengan pohon-pohon yang hidup di hutan tropis yang didominasi oleh suku meranti-merantian (Dipterocarpaceae). Dengan ukuran diameter batang yang cukup besar, yaitu lebih dari 50 cm, bahkan hingga 1 meter, dan tingginya bisa mencapai 30 meter, pohon di hutan cenderung beradaptasi dengan lingkungannya dengan membentuk akar yang tumbuh di atas permukaan tanah. Akar tersebut tumbuh dari bagian pangkal batang pohon, berbentuk  segitiga, pipih dan jumlahnya antara 2-5 buah.

Akar yang tumbuh di atas permukaan tanah itu disebut akar banir atau akar papan, karena bentuknya yang pipih seperti papan.  Semakin dekat letaknya dengan permukaan tanah, akan semakin lebar. Bila ditarik garis lurus dengan permukaan tanah dan batang pohon, berbentuk bangunan seperti segitiga. Kalau anda berkesempatan jalan-jalan di hutan atau kebun raya, akar tersebut bisa digunakan untuk tempat bersembunyi.

Terbentuknya akar banir atau akar papan tersebut mengikuti proses pertumbuhan pohon. Semakin besar pohon, bentuk dan ukuran akar banir juga akan semakin lebar dan tinggi.

Akar banir yang terbentuk tersebut berfungsi mempertahankan kekokohan pohon, karena menopang batang pohon yang berukuran besar dan tajuknya yang lebar, sehingga tidak mudah tumbang karena hempasan angin. Jika dijumpai pohon berbanir tumbang, biasanya disebabkan oleh akarnya di dalam tanah yang rapuh dan bukan karena akar banirnya.

Benar-benar suatu proses alam yang luar biasa dan menarik yang terjadi pada sebatang pohon untuk beradaptasi dengan lingkungan tempat hidupnya.

Bila anda pernah menonton film Jurassic Park,  benarlah apa yang dikatakan Dr. Ian Malcolm yang diperankan dengan bagus oleh Jeff Goldblum , “Alam sekitar akan mencari jalannya sendiri untuk menemukan kehidupannya”

Penyamaran sang Belalang

Jika dilihat sepintas, serangga berupa belalang pada foto di atas memang sulit dikenali. Dia telah melakukan penyamaran atau kamuflase yang sempurna dengan menjadi bagian dari lumut hijau yang hidup di batang pohon mahabai.

Untuk tetap survive dari ancaman pemangsa atau predator, beberapa hewan memiliki naluri berupa kemampuan berlari dengan cepat, kemampuan terbang  atau memiliki tenaga yang kuat untuk bertarung dengan pemangsanya.

Bagi hewan lain termasuk serangga yang tidak memiliki kekuatan dan kecepatan fisik, penyamaran  merupakan kekuatan yang dimiliki   untuk mengelabuhi dan menghindarkan dirinya dari ancaman pemangsa atau predator.

Seperti foto di atas yang diambil secara langsung di dalam kawasan hutan, pada saat ada pemangsa yang mendekat, belalang tersebut akan diam seperti patung. Kepala, badan dan kaki belalang tersebut langsung beradaptasi secara harmonis menyerupai posisi dan warna lumut yang hidup  di batang pohon. Setelah pemangsanya menjauh dan ancaman berkurang, dia akan bergerak lagi.

Sungguh, suatu kemampuan luar biasa dari seekor serangga untuk tetap bertahan hidup dari sergapan pemangsanya. Seperti teori yang dikemukakan oleh Charles Darwin : Survival is the Fittest, makhluk hidup yang dapat bertahan hidup adalah dia yang paling kuat kemampuannya. Paling kuat kemampuannya tidak hanya berarti kuat fisiknya, kuat tenaganya, atau kuat larinya, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan sekitarnya.

Ketika Bunga Bangkai Mekar

“Berjalan-jalan menikmati hutan hujan tropis serta melihat bunga bangkai adalah momen yang paling istimewa dan kesempatan yang jarang didapat”, ungkap  Dr. Sadanandan Nambiar (paling kiri) dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO)  Australia pada saat mengunjungi areal salah satu perusahaan pemegang Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu – Hutan Alam (IUPHHK-HA) di Kalimantan Tengah.

Dalam kunjungan bersama  Dr. Eko Bhakti Hardiyanto (paling kanan) dari Universitas Gadjah Mada (UGM), selain berkesempatan melihat bunga bangkai yang sedang mekar, keduanya juga melihat pengelolaan hutan alam  dengan sistem Tebang Pilih dan Tanam Jalur (TPTJ) dan kegiatan Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH)  oleh  perusahaan yang  berlokasi di kabupaten Katingan dan Kabupaten Seruyan tersebut.

Bunga bangkai yang tumbuh  di areal tersebut  tersebar dalam radius 10 – 20 m, mulai yang berbentuk umbi hingga batang yang sudah mekar. Jenis ini tidak tumbuh sepanjang tahun  dan termasuk dalam kategori jenis yang terancam sehingga perlu dilestarikan keberadaannya. Di areal tersebut, bunga bangkai terakhir tumbuh pada tahun 2010, namun pada tahun 2011 jenis tersebut tidak tumbuh.

Menurut wikipedia Indonesia, bunga bangkai atau suweg raksasa atau batang krebuit  (nama lokal untuk fase vegetatif), Amorphophallus titanum Becc., merupakan tumbuhan dari suku talas-talasan (Araceae) endemik dari SumateraIndonesia, yang dikenal sebagai tumbuhan dengan bunga (majemuk) terbesar di dunia, meskipun catatan menyebutkan bahwa kerabatnya, A. gigas (juga endemik dari Sumatera) dapat menghasilkan bunga setinggi 5 m.

Nama bunga bangkai berasal dari bunganya yang mengeluarkan bau seperti bangkai tikus yang membusuk. Bau  tersebut sebenarnya dimaksudkan untuk mengundang kumbang dan lalat penyerbuk bagi bunganya dalam proses penyerbukan.

Banyak orang sering salah mengira  dan menganggap  bahwa bunga bangkai adalah “Rafflesia arnoldii“, mungkin karena orang sudah mengenal Rafflesia sebagai bunga terbesar dan kemudian menjadi bias dengan ukuran bunga bangkai yang juga besar.