Memotret Langit

Sewaktu mendampingi tamu yang berprofesi sebagai fotografer, saya pernah dikasih ilmu tentang memotret langit. Dia bilang,”Kalau ingin memotret langit dan ingin hasilnya bagus, waktunya pagi atau sore hari”

Saat itu di pagi hari saya ikuti dia yang sedang mengamati langit untuk obyek pemotretannya. Lokasinya di depan kantor base camp.

Beberapa hari lalu, saat pulang kerja saya lihat ke langit saat cuaca cerah, warnanya bagus sekali. Biru merata dan tidak tertutup awan. Saya coba praktekkan ilmu dari tamu tersebut. Spontan saya keluarkan smartphone dan saya potret dari depan kantor. Betul yang dikatakan tamu itu, hasilnya memang lumayan.

 

Produk Tersedia Saat Ada yang Memerlukannya

Hari libur kemarin (1/5), saya mengandangkan dua ekor ayam kampung. Ada pesanan satu ekor dari teman kerja yang disampaikan lewat tetangga.  Saya tangkap dua ekor ayam betina generasi kedua, supaya bisa dipilih mana yang disukai.

Semuanya ada empat ekor ayam yang masuk generasi kedua ini. Tiga betina dan satu jantan. Tapi yang betina satunya lagi agak liar dan nggak mudah ditangkap. Satunya lagi yang ayam jago saya biarkan karena jumlahnya lebih sedikit daripada yang betina.

Setelah ditimbang, diketahui beratnya 1,6 kg. Harga ayam kampung utuh di camp 75 ribu per kg, jadi totalnya 120 ribu. Pagi tadi uang pembelian itu dititipkan tetangga ke saya. Alhamdulillah, terus saya terima dan saya serahkan lagi yang 20 ribu buat mas Mul, tetangga yang bantu menimbang ayam dan menyerahkannya ke pembeli.

Rasanya bahagia bisa membantu teman. Membantu menyediakan produk berupa ayam kampung yang dibutuhkan. Nggak perlu cari jauh-jauh ke camp lain, ke kampung atau pesan di Nanga Pinoh yang semuanya itu perlu waktu, biaya tambahan dan kendaraan.

Berjuang Padamkan Api di Pagi Hari

“Ada kebakaran, Pak”teriak abah Alwi kemarin ketika saya memasuki halaman masjid untuk sholat subuh berjamaah. Saya lihat teman-teman kerja yang sudah duluan sampai mesjid berdiri di selasar dan memandang ke arah dapur bengkel.

Pada jarak sekitar 200 meter dan sebagian tertutup pepohonan, saya lihat ada api dan asap tebal yang membumbung tinggi. Listrik di masjid dan sekitarnya padam. Beberapa ibu dan anak-anaknya sambil membawa tas, buku, berjalan mendekati masjid. Mereka khawatir dengan api yang membesar dan mengungsi ke masjid, padahal jaraknya masih jauh.

Spontan abah Alwi mengingatkan kami agar sholat subuh dulu. Selesai sholat dan berdoa, kami berempatbergegas berjalan kaki ke arah bengkel lewat bagian belakang. Menyeberangi jembatan dan semakin jelas api terlihat sudah merambat sampai atap di atas ruang kepala bengkel.

Sampai di depan bengkel, beberapa unit kendaraan seperti truk trailler dan mobil transport dobel gardan sudah dipindahkan ke tempat yang aman. Unit yang sedang rusak didorong ramai-ramai oleh karyawan dan ditarik ke luar bengkel.

Saya lihat eksavator sibuk merobohkan tiang-tiang di depan ruang mesin bubut dan atapnya, untuk memutus api agar tidak merambat sampai ke ruang genset dan tangki-tangki BBM. Dalam kondisi pagi yang masih gelap, beberapa karyawan bergotong royong memadamkan api dengan menyemprot menggunakan selang dan tabung pemadam kebakaran.

Karyawan lainnya juga membawa ember dan secara estafet ember berisi air itu dituangkan ke dalam keranjang eksavator. Setelah terisi hampir penuh, airnya ditumpahkan ke api yang ada di permukaan tanah. Upaya memadamkan api juga dilakukan eksavator dengan menggali tanah dan menumpahkannya ke api yang membakar tumpukan kayu di permukaan tanah.

Namun api tidak mudah dipadamkan karena yang terbakar bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu,  juga beberapa ban yang berada di tempat penambalan ban.

Setelah berjuang keras sekitar dua jam, api akhirnya berhasil dipadamkan. Bangunan dapur bengkel, tempat penambalan ban dan ruang kerja kepala bengkel rata dengan tanah. Beruntung ruangan mesin bubut masih bisa diselamatkan.

Pagi itu, meski terjadi kebakaran, kami masih masuk kerja. Teman-teman di bengkel berusaha bekerja keras memperbaiki jaringan listrik yang terbakar. Setelah kabel-kabelnya yang terbakar diganti, akhirnya sekitar jam 3 sore listrik menyala kembali.

Ilmu itu Dikejar, Bukan Ditunggu

“Yang namanya ilmu itu harus dicari, dikejar dan bukan ditunggu. Bapak  dan ibu yang hadir di majelis ini niatkan untuk mencari ilmu dan silaturahmi karena Allah SWT. Apalagi yang mengisi taushiyah nanti pak Ustadz Ahmad Naufal yang jauh-jauh datang dari Pontianak. Inshaa Allah membawa berkah.” Demikian kata wakil perusahaan saat memberikan sambutan peringatan Isra Mi’raj di camp Minggu malam (23/4) lalu.

Pak ustadz menjelaskan manfaat dan keutamaan sholat khususnya sholat berjamaah di masjid khususnya bagi bapak-bapak. Manfaat dari sisi fsik yang dapat menyehatkan badan, karena tiap hari rutin jalan kaki dari mess ke masjid pergi pulang. Menurut ilmu kesehatan, jalan kaki adalah jenis aktivitas yang baik bagi kesehatan bila dilakukan secara rutin.

Tak hanya itu, dari sisi spiritual setiap langkah kaki kanan kita dari rumah ke masjid bernilai pahala dan langkah kaki kiri kita akan menghapuskan dosa-dosa. Apalagi bila kita datang ke masjid di awal waktu, melaksanakan sholat tahiyatul masjid ditambah sholat sunah qobliyah.

Bagi karyawan yang karena kesibukannya sehingaa jarang bertemu, sholat berjamaah juga menjadi wadah untuk bersilaturahmi dan terbukanya pintu-pintu kebaikan. Jika selama jam kerja, karyawan berkomunikasi lebih sering menggunakan aiphone dan handphone, sholat berjamaah membuka peluang untuk bertemu, bertutur sapa, menanyakan kabar keluarga dan teman kerja.

Memang saat ini ada media online dan internet yang bisa membantu kita mencari ilmu yang kita perlukan. Kita bisa belajar setiap saat tanpa kendala jarak dan waktu, sepanjang di tempat tersebut ada sinyal internet. Namun demikian, datang dan tatap muka langsung juga penting karena nuansa dan rasanya berbeda.

Acara yang diadakan pengurus masjid Al Adh ha bekerjasama dengan ibu-ibu majelis taklim  dan guru-guru SDS Sari Lestari itu berjalan lancar dan dihadiri sekitar 150 jamaah. Karyawan dan keluarganya terlihat memenuhi bagian dan selasar masjid. Acara yang dirancang sekaligus dengan wisuda TPQ santriwan dan santriwati TK dan SD Sari Lestari.

Yang saya syukuri adalah adanya progres setelah acara tersebut. Dampak setelah menerima ilmu tentang keutamaan sholat berjamaah di masjid.

Setelah hadir di acara tersebut, besoknya terlihat anak-anak dan bapak-bapak yang sholat berjamaah meningkat. Khususnya saat Maghrib dan Isya. Untuk waktu subuh dan dhuhur masih belum sebanyak kedua waktu sholat yang lainnya, sementara saat ashar yang masih belum istiqomah.

Semoga Allah SWT menjaga langkah dan niat kita untuk senantiasa berada di jalanNya. Terutama niat dan langkah untuk sholat berjamaah di masjid. Aamiin

 

Mencoba Beternak Ayam Kampung

Awalnya dari seekor induk ayam yang saya barter dengan baju lengan pendek seharga 100 ribu. Beberapa bulan kemudian induk itu bertelur tapi nggak ada satu pun yang menetas, telurnya busuk akibat sarangnya lembab. Generasi keduanya, dari 6 butir menetas jadi 4 ekor. Sekarang sudah sekitar setahun umurnya, 3 betina dan 1 jantan.

Generasi kedua dari 8 butir, semuanya menetas. Dalam perjalanan hidupnya, kedelapan ekor  umur 1 bulan saya lepaskan dari kandangnya. Sayangnya waktu saya tengok sore harinya tinggal 5 ekor. Saya langsung cari dan ketemu 2 ekor, satu ekor tertinggal di kandang sebelah dan satu ekor lagi kedinginan di bawah kandang. Satu ekor hilang entah kemana.

Umur tiga bulanan satu ekor lagi mati terapung di ember berisi  air. Mungkin anak ayam itu mau minum di ember dan tercebur nggak bisa keluar. Masih ada 6 ekor yang bertahan. Waktu saya ke pulang dari Jawa, saya hitung tinggal 5 ekor.. Berarti satu ekor lagi berkurang. Sampai sekarang kelimanya masih hidup dan semoga tumbuh sampai besar.

Memang perlu kesabaran beternak ayam kampung. Nggak seperti ayam pedaging atau ayam potong yang umur 40 hari sudah panen. Tapi tiap hari di kandang dan harus dikasih makan. Kandangnya dikasih lampu supaya hangat.

Kalau beternak ayam kampung, sesekali saja saya masukkan ke kandang. Lebih sering saya lepas dan ayamnya cari makan sendiri. Kadang-kadang juga saya cari sisa-sisa nasi dan sayuran di dapur buat umpannya. Lumayan daripada sisa makanan itu terbuang percuma.

Yang lucu kalau ada induk ayam lain yang datang, biasanya mereka berebut makanan setelah saya taburkan di dekat kandangnya. Karena saya kasih makan, ayam-ayam itu lama-kelamaan jinak. Setiap kali saya datang dan bilang kuuur…kuuur, mereka mendekat dan mengikuti langkah saya. Ada juga ayam-ayam punya tetangga yang ikut berebut dan mematuk makanan setiap kali saya tebarkan sisa makanan di halaman belakang.

Yang bikin saya takjub ketika saya berikan makanan ke induknya dan anak-anak ayamnya mendekat, sang induk mengalah dan membiarkan makanan itu dipatuk anak-anaknya. Berulang kali seperti itu, sampai semua anaknya kebagian makanan.

Beberapa waktu kemudian, keadaan berubah 180 derajat. Ketika sang induk akan bertelur dia langsung nggak mau menjaga anak-anaknya lagi. Dibiarkan anak-anaknya cari makan dan dia pun memisahkan diri. Bahkan ketika saya kasih sisa-sisa makanan, sang induk berebut makanan bahkan sampai mematuk anak-anaknya. Bisa jadi itu adalah hukum alam atau sunnatullah dalam perjalanan hidup anak-anak ayam agar mandiri sebelum menjadi dewasa.

Selawase Tetep Sedulur

Reuni memang indah. Ketemu teman-teman lama memang asyik. Ketulusan dalam melayani. Keikhlasan dalam berbagi. Seperti itulah kesan yang saya alami ketika hadir di reuni angkatan 86 SMPN5 Cirebon. Bertemu dengan teman-teman dan guru-guru setelah 30 tahun lebih berpisah.

Baru sampai di Jakarta, teman yang tinggal di Cikarang sudah menelpon,”Sudah dapat tiket kereta belum Yud?”. Saya bilang,”Makasih bro, saya sudah beli tiket keretanya online”.

Belum lagi sampai di Cirebon, waktu kereta berhenti di stasiun Arjawinangun, May, teman cewek juga nelpon dan tanya sudah sampai mana. Dia bilang kalau sampai stasiun Cirebon tunggu ya, nanti dijemput.. Dan benar, saya dijemput 4 orang teman yang cewek semua. Mereka kaget, sebelum masuk mobil satu persatu saya masih kenali dan sebut namanya. May, Lely, Lina dan Hamidah….

“Nginap dimana Yud?”tanya May

“Di hotel Langensari dekat SMP 1″jawab saya. Mobil pun meluncur ke hotel.

“Habis check in hotel, ikut ke tempat futsal ya, Teman-teman lagi kumpul di sana”jelasnya lagi.

Sehari sebelum reuni tanggal 26 Maret, teman-teman adakan pertandingan futsal. Di tempat itulah saya lihat mereka lagi setelah lama berpisah. Sebagian besar wajahnya dan namanya masih saya kenal, tapi ada juga yang sudah lupa sama sekali.

Setelah futsal, malamnya diajak lagi mampir ke tempat reuni di hotel Bentany, lihat persiapannya. Setelah itu lanjut kuliner mie koclok di jalan Lawanggada. Makan lesehan  di emperan jalan sambil menikmati wedang ronde. Nggak selesai sampai di situ, selesai makan malam ada teman yang ngajak karaokean bareng. Benar-benar padat acaranya.

Pagi hari tanggal 26 Maret, sebelum acara reuni jam 10, saya sempatkan jalan kaki ke Masjid At Taqwa, sholat subuh berjamaah. Setelah itu melihat-lihat alun-alun Kejaksan. Jalan Siliwangi sudah mulai ramai dengan para pedagang dan orang-orang yang berolahraga saat Car Free Day (CFD).

Saat check out dari hotel, karena jalan tertutup untuk kendaraan bermotor saat, saya harus jalan kaki menenteng koper sampai ke tempat teman yang jemput di pertigaan jalan Kapten Damsur dekat SD Kebon Baru. Setelah itu baru sama-sama meluncur ke hotel.

Sampai di hotel, dapat suvenir dari panitia : kaos dan mug yang ada tulisan reuninya. Tiap peserta diberi tag nama yang ditempel di dada. Sesuai arahan dari ketua panitia yang malam sebelumnya disampaikan, saya kebagian tugas jadi penerima tamu di lobby hotel. Tugasnya menerima guru-guru yang datang. Wah, kebetulan sekali, bisa bertemu dan menyapa guru-guru secara khusus. Panitia juga sudah mengatur ada teman-teman lainnya yang bertugas menjemput guru di rumahnya dan mengantar ke hotel. Juga mengantar kembali pulang ke rumahnya.

Yang bikin saya salut, sebelum acara reuni, ada teman-teman yang tergabung dalam tim blusukan yang tugasnya mencari teman-teman yang hilang kontak. Datangi rumahnya, kalau sudah pindah tanya keluarganya atau tanya pak RTnya. Ada juga yang ke kantornya atau sekolah tempatnya mengajar. Setelah bertemu, fotonya diunggah ke grup WA. Nomor HPnya ditambahkan juga. Makasih banya buat Sri Sulastri, Sri Jepang, Encang Udin, Rahadi dan teman-teman lainnya yang penuh semangat dan ikhlas mencari teman yang “hilang”

Beberapa perwakilan teman berkunjung ke rumah guru, silaturahmi menyampaikan undangan reuni dan memberikan bingkisan. Nggak hanya itu, Ida Farida dan Nining Nursahita mewakili teman-teman juga menyerahkan bantuan ke almamater berupa Al Quran dan tenda yang diserahkan  saat upacara bendera hari Senin di halaman SMP5 Cirebon.

Waktu acara reuni, 105 teman hadir dari total angkatan 86 yang berjumlah 200-an. Guru-guru yang diundang, yang bisa hadir tujuh orang. Peserta reuni duduk melingkar di beberapa meja. Saya berpindah-pindah. Setiap ketemu teman yang saya kenali saya sapa dulu.

Meriah sekali acaranya, apalagi ketika pihak event organizer membuat games yang menarik dan mengakrabkan peserta reuni. Seperti setiap meja anggotanya yang bawa uang logam disuruh menghitung. Yang paling banyak nilainya dalam rupiah kelompok itulah yang menang.

Ada juga diminta menghitung jumlah anak perempuan dalam kelompok tersebut. Yang paling banyak jumlahnya kelompok itu yang menang. Dan game inilah yang dimenangkan oleh kelompok kami, karena pesertanya punya total anak perempuan 26 orang.

Yang bikin kejutan ketika seorang guru, Bu Tati, setelah menyanyi diminta menyebut angka yang ada di daftar hadir untuk diberikan door prize. Beliau menyebut angka 68, dan ketika panitia melihat di daftar hadir reuni nomor 68 itu adalah nama saya… alhamdulillah saya dapat door prize blender. “Rejeki buat yang datang dari jauh, Yud”komentar seorang teman

Acara diakhiri sekitar jam 2 siang. Setelah menyanyikan lagu kemesraan, para peserta saling bersalam-salaman. Ada beberapa teman yang menangis terharu, karena belum tahu kapan bisa reuni lagi.

Selesai acara, saya pun pamit dan ada teman dari Cikarang, Makhmud yang mengantar sampai ke stasiun Kejaksan. Sampai disana sekitar jam 4 sore. Waktu menunggu di stasiun, bertemu dengan Hamidah dan Nunung yang rupanya mengantar teman juga. Ditanya sama Hamidah, “Sudah makan belum Yud?”. Setelah saya jawan belum, ditanya lagi mau makan dimana. Saya bilang kuliner empal gentong ya yang dekat sini.

Pilihan jatuh ke empal gentong di Krucuk. Keinginan menikmati kulier khas Cirebon, empal gentong dan tahu gejrot akhirnya terpenuhi. Makasih ya friend…Selesai makan diantar lagi ke stasiun dan di sana waktu maghrib bertemu lagi dengan Saptono yang datang bersama istri dan anaknya. Rupanya mereka sengaja datang untuk bertemu sebelum saya pulang.

Ah, betapa indahnya persahabatan. Meski baru bertemu lagi dan waktunya singkat, rasanya akrab sekali. Apalagi ketika salah satu teman bilang,”Nanti liburan ke Cirebon lagi Yud, ajak keluarga ke sini. Ditunggu lho”… Rasanya pengin lagi deh ke Cirebon…

 

Reuni SMPN5 Cirebon Angkatan 86

Sing Penting Teka

Seperti itu slogan yang terpilih untuk acara reuni teman-teman SMP.

Awalnya obrolan di grup WA dengan teman-teman SMP 5 Cirebon angkatan 86. Angka 86 ini merujuk pada tahun kelulusan. Jadi masuknya tahun 83/84. Setelah itu ada yang punya ide untuk adakan reuni, karena sudah 30 tahun lebih nggak bertemu.

Disepakati tanggalnya 26 Maret 2017 dari jam 09.00-14.00. Tanggapan teman-teman pun hampir semuanya setuju. Tidak terasa sudah lama berpisah, akhirnya dipertemukan lagi lewat WA.

Satu persatu teman gabung di WA, teman yang jadi Admin menambahkan nomor HP  teman lain yang baru ditemuinya. Ada juga tim blusukan yang domisilinya di Cirebon rajin mencari teman-teman yang hilang kontak. Ada yang datang ke rumahnya sesuai alamat yang tercantum di buku raport. Nah, pas datang ke rumahnya nggak langsung ketemu, karena teman yang dicari sudah pindah. Akhirnya tim blusukan tanya ke tetangga atau pak RT. Juga hubungi saudaranya.

Ada juga berita sedih karena beberapa teman sudah meninggal, ada yang sedang dirawat di rumah sakit menjalani terapi.

Teman-teman pun berdebat dalam hal penyelenggaraan reuni. Beberapa orang berpendapat bikin saja panitia. Ada ketua, sekretaris, bendahara dan nanti panitia ini yang mengadakan acara reuni.

Yang lainnya punya ide serahkan saja reuni ke Event Organizer (EO), biar panitia nggak repot mengatur persiapan acaranya. Mulai sewa tempat, isi acara, konsumsi, dokumentasi dan lain-lainnya. Akhirnya voting dan banyak yang setuju acara diserahkan ke EO. Nggak hanya itu penentuan tempat reuni juga dilakukan pemungutan suara. Ada dua hotel yang diusulkan panitia. Anggota WA pada hari dan jam yang ditentukan diminta memberikan suaranya di grup. Keputusan lokasi reuni pun tuntas sudah.

Nah, buat anggota grup juga diminta iurannya. Minimal 200 ribu per orang. Bagi yang ingin menjadi donatur alias menyumbang diluar iuran itu juga dibuka kesempatan seluas-luasnya. Terutama bagi yang secara finansial berkecukupan. Para donatur diharapkan mensubsidi teman-teman lainnya yang belum mampu.

Acara reuni kurang lengkap tanpa kehadiran guru-guru yang saat itu mengajar kami. Panitia berinisiatif  blusukan lagi silaturahmi ke rumah guru-guru. Alhamdulillah, sebagian besar masih bisa ditemui langsung di rumahnya. Ada sekitar 10 orang yang masih sehat dan semoga hadir di acara reuni.

Ada pak Andi guru matematika yang sangat disiplin, bu Tati guru bahasa Indonesia yang jadi favorit saya ketika di kelas 3. Pak Effendy yang cara mengajarnya membuat saya suka pelajaran bahasa Inggris dan beliau pun ingat betul dengan saya saat itu hingga kata teman nama saya pun dimasukkan dalam soal cerita ulangan 🙂

Menyimak kegiatan teman-teman di WA untuk menyiapkan reuni akbar ini membuat saya terharu. Ternyata 30 tahun lebih berpisah, tak menyurutkan niat dan langkah untuk bertemu. Mengingat kenangan dan persahabatan ketika masih memakai seragam putih biru.

Semoga Allah SWT memudahkan teman-teman angkatan 86 SMP 5 Cirebon bertemu kembali di acara reuni.

Saya yang kerja di hutan pun berusaha hadir, bertemu dengan teman-teman dan para guru. Karena bagaimana pun kondisi kita, selawase tetep sedulur..