Driver Taksi Online itu Ternyata Tetangga

Setelah mobil Futura saya jual, kalau pergi ke kantor sekarang saya ini lebih sering pakai taksi online. Tarifnya sih kalau dari rumah ke kantor untuk jarak sekitar 6 km 20 ribu pakai gopay.

Pulangnya dari kantor ke rumah malah lebih murah. Cuma 14 ribu saja. Malah pernah waktu order nggak direspon sama drivernya karena posisi mobilnya di seberang sungai Kapuas. Akhir saya order lagi dan pilih gojek. Tarifnya lebih murah, cuma 8 ribu.

Karena saya lebih sering tugas di daerah, sebulan pakai taksi online ya waktu meeting di Pontianak. Hanya dua hari saja. Kalau mau belanja atau ke tempat selain kantor lebih sering pakai motor. Lebih praktis sih karena sekali jalan sering mampir ke beberapa tempat. Ke bank buat cetak buku, ambil tiket bis buat balik ke Pinoh, belanja ke supermarket, kirim dokumen pakai JNE. Nah kalau pakai taksi online kan bolak-balik order tuh dan waktunya kadan-kadang lama di jalan apalagi kalau kejebak macet.

Asyik juga pakai taksi online karena banyak dapat pengalaman tak terduga. Pernah dapat driver, pak Mul namanya, yang ternyata tetangga sekompleks yang baru saja pensiun dini.

Sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor ngobrol terus sampai nggak terasa sudah sampai di depan kantor. Sama juga waktu habis Maghrib saya order untuk antar dari rumah ke terminal, Eh, ternyata yang muncul di aplikasi nama pak Mul lagi. Padahal belum lama dia nawarin saya bonceng motornya sama-sama pergi ke masjid buat sholat Magrib.

Pernah waktu di mobilnya dia nanya, “Di rumah ada motor kok nggak dipakai, Pak?”

“Motor lebih sering dipakai istri, Pak. Kalau saya pakai ke kantor malah banyak parkirnya. Mendingan saya pergi pulang pakai gocar”jawab saya.

“Oo gitu, bagi-bagi rejeki ya, Pak”katanya sambil tertawa.

Pernah juga saya hari berikutnya order buat ke kantor juga dan yang nelpon balik cewek. Padahal di aplikasi profilnya foto cowok. Kaget saya nerimanya, terus dia bilang,”Bapak apa nggak keberatan kalau saya yang ngantar ke tujuan?”tanyanya sopan.

“Ya, gak apa-apa mbak. Daripada saya cancel, terus saya order lagi, waktunya udah mepet. Harus cepat ke kantor”kata saya.

Di dalam mobil, baru dia cerita kalau dia gantikan abangnya yang lagi ke Banjarmasin yang fotonya ada di aplikasi. Dia ternyata masih mahasiswa yang kuliah di Fakultas Hukum.

“Saya biasanya nanya dulu,  Pak, sama yang order. Apa mau diantar kalau drivernya cewek. Kalau dia nggak mau ya nggak apa”jelasnya

“Kalau saya sih gak masalah, mbak. Saya pernah juga kok diantar driver cewek. Yang penting bawanya nyaman dan aman sampai tujuan”

Mengasyikkan memang selama di perjalanan ngobrol sama driver taksi online  yang bermacam-macam latar belakang profesinya. Bisa tambah kenalan, wawasan, juga ngerasakan macam-macam kendaraan.

 

Iklan

Naik Bis Malam Pontianak – Nanga Pinoh, Waktu Tempuh Sekarang 8 jam

Setelah ruas jalan Tayan – Sosok diperbaiki, waktu tempuh dari Pontianak – Nanga Pinoh makin berkurang. Dulu bisa sampai 9,5 jam, sekarang hanya 8 jam. Ini yang saya alami waktu naik bis antar kota dalam propinsi tiga hari lalu.

Berangkat dari terminal Sudarso jam 7 malam. Oya, sekarang semua perusahaan otobis keberangkatannya sudah dipusatkan di terminal Sudarso.

Dengan kecepatan sedang, jam 10 bis sudah sampai rumah makan di Sosok. Saya nggak nyangka karena biasanya jam setengah dua belas malam bis baru sampai di tempat itu. Setelah istirahat sekitar setengah jam lanjut perjalanan lagi dari Sosok – Nanga Pinoh.

Dengan tiba awal di Nanga Pinoh atau Pontianak, ini menguntungkan buat saya. Karena tidak khawatir lagi tertinggal sholat subuh berjamaah di masjid. Saat bis tiba jam 3 pagi, masih ada waktu yang cukup buat istirahat, mandi terus jalan kaki ke masjid.

Bagi perusahaan otobis pun, waktu tempuh yang lebih pendek akan menguntungkan karena dapat menghemat pemakaian BBM. Lumayan lho, kalau bisa menghemat waktu satu setengah jam perjalanan.

Pelayanan Sepenuh Hati dari Kru Bis Antar Kota Dalam Propinsi

“Assalamu alaikum. Pesan tiket untuk 1 orang ke Ponti tanggal 6 Mei ya, bang. Nomor kursinya 3A atau 4A”kata saya lewat WA ke bang Udin, agen tiket bis antar awal bulan ini.

“Iya, pak, entar saya lihat, saya lagi di rumah”jawabnya

“Yang single habis, pak, yang ada nomor 5B”sambungnya tiga jam kemudian.

“Yang nomor 3B atau 4B apa ada”tanya saya lagi

“3B, 4B gak ada lagi, pak, yang ada 5B. Full penumpangnya”bang Udin menjelaskan

“Ok 5B gak apa-apa kalau memang penumpangnya full”kata saya dengan nada pasrah.

Saya nggak minta dia usahakan atau mendesak supaya dapat nomor kursi sesuai pesan saya.

Saya tahu diri kalau saya yang salah. Kenapa mepet waktu booking tiketnya. Tiga hari mau berangkat ke Ponti baru cari tiket. Berangkatnya hari Minggu lagi.  Kenapa nggak seminggu sebelumnya, kan tanggal berangkatnya sudah direncanakan. Ya wajar kalau dapat kursinya agak di belakang. Bukan kursi  depan yang tunggal.

Saya baru ingat kalau penumpang full karena tanggal 8 Mei ada SBMPTN. Pasti  lulusan SMU dari Melawi yang mau ikut seleksi di Pontianak banyak yang naik bis malam.

Dan sehari sebelum berangkat, tanggal 5 Mei sewatu saya di kantor ada pesan WA dari bang Udin

“Pak, tiketnya  nomor 3A ya”

“Oya?ok bang. Buat besok tanggal 6 Mei, ya” jawab saya.

Pesan WA pagi itu benar-benar mengejutkan saya. Saya nggak pernah membayangkan akan dapat tiket sesuai nomor kursi favorit saya, 3A. Saya pun gak bertanya ke bang Udin kok dia masih berusaha carikan kursi sesuai keinginan saya. Atau mungkin ada penumpang yang batal berangkat dan kursinya diberikan ke saya.

Yang jelas ingatan dan ikhtiarnya memenuhi kebutuhan penumpang patut diacungi jempol.

“Makasih ya bang, sudah usahakan dapat kursi tunggal buat saya”kata saya ketika bis bergerak keluar dari terminal Sidomulyo di Nanga Pinoh.

 

Hari Libur tapi Padat Kegiatan

Menjelang hari libur bukan berarti kegiatan berkurang. Pekerjaan rutin di kantor memang libur, tapi undangan dari teman-teman kerja nggak bisa dicuekin.

Seperti malam menjelang libur tanggal 1 Mei lalu. Selesai sholat maghrib pengurus masjid di tempat kerja mengadakan baca surat Yaasin 3x dan baca doa Nisfu Sya’ban karena dua minggu lagi umat Islam akan berpuasa Ramadhan.

Setelah itu ada undangan dari karyawan yang anaknya akan menempuh Ujian Nasional tanggal 3-5 Mei 2018. Di acara di rumahnya selesai sholat Isya itu juga dibacakan surat Yaasiin dan doa-doa bagi keluarganya oleh para jamaah masjid.

Selain dua acara itu, ada juga undangan dari pengurus Serikat Pekerja yang disampaikan lewat WA. Akan diadakan olahraga bulutangkis pas hari libur tanggal 1 Mei mulai jam 7 pagi. Biasanya kami olahraga setelah pulang kantor jam empat sore.

Karena tanggal 1 hari libur nasional, jadwal olahraganya dimajukan di pagi har. Ada sekitar 30-an orang yang ikut. Lumayan, bisa main sampai 3 kali. Sekali main 2 game. Benar-benar puas mainnya. Tapi ya itu, habis main 6 game, badan rasanya capai banget. 🙂

Ya gimana nggak capai. Biasanya kalau main sore hari paling banyak 3 set kalau pas rubber game. Setelah itu istirahat dan pulang. Ini karena hari libur, waktunya panjang ketagihan sampai 6 game.

Pulang ke mess, mandi, sholat, makan siang, telepon keluarga, setelah itu saya jam 2 siang tidur. Bangun-bangun sudah jam 5 sore. Lumayan, badan terasa agak segar. Nggak terasa tidur siang sampai 3 jam. Mungkin badan perlu pemulihan agak lama supaya segar kembali.

Memang jadi pengalaman sih, nggak bisa diforsir kalau berolahraga. Apalagi usia sudah kepala empat.

Undangan Ulang Tahun Pernikahan dari Rekan Kerja

“Habis Isya nanti ada undangan pak Fadly, pak”kata Zulkifli, salah satu jamaah masjid Al Ad ha ketika kami baru saja selesai sholat Maghrib.

Sambil menunggu datangnya waktu Isya, kami tetap berada di masjid. Mendampingi anak-anak yang belajar mengaji mulai tingkatan iqro sampai Al Quran.

Ketika akan  sholat Isya, Zulkifli yang akrab dipanggil Ikip dan bertugas jadi imam sholat mengumumkan ke jamaah undangan untuk baca surat Yaasiin tersebut.

Selesai sholat Isya, kami menuju ke mess Pak Fadly. Ada yang berjalan kaki, ada juga yang naik motor. Sesampainya di depan mess, pak Junaidi salah seorang jamaah menyampaikan pesan bahwa malam ini pak Fadly mengundang jamaah dan mohon didoakan di usia tiga tahun pernikahannya. Juga sekaligus mendoakan kakek-neneknya yang telah meninggal dunia.

Alhamdulillah, pembacaan surat Yaasiin dan pembacaan doa berjalan lancar. Tak lupa hidangan soto ayam juga disediakan tuan rumah untuk anak-anak dan bapak-bapak yang hadir.

Terima kasih ya pak Fadly dan nyonya. Semoga Allah SWT ijabah doa-doa kita dan harapan bapak sekeluarga.

Ketika di Base Camp Suasananya Terasa Seperti di Kota

Sekarang ini tinggal dan kerja di camp suasananya sudah seperti di kota. Apalagi setelah jalan dari Nanga Pinoh ke logpond Popai mulai diperbaik dan diaspal. Pedagang sayur pun seminggu 3-4 kali datang ke camp naik motor dari Nanga Pinoh sampai ke base camp. Dua jam perjalanannya

Biasanya pas istirahat kantor jam 11 siang mereka sudah sampai di depan mess. Menunggu karyawan atau keluarganya yang mau belanja. Setelah itu, mereka pindah  ke mess anak-anak sekolah. Sebelum pulang mereka singgah dulu di desa-desa yang berada di antara base camp dan logpond Popai.

Di perusahaan juga ada Koperasi Karyawan yang menyediakan sayur mayur dan kebutuhan lainnya untuk dapur camp. Juga ada ibu-ibu dari desa yang menjual hasil kebunnya ke karyawan atau keluarganya.

Keberadaan perusahaan menjadi magnet sekaligus pasar yang mengundang banyak pihak untuk berjualan. Pedagang sayur – mayur, pedagang bibit ikan, pedagang es krim semuanya mendapat manfaat.

Tak hanya itu, beberapa karyawan juga membuka usaha. Ada yang jualan sembako, mie ayam, empek-empek juga voucher pulsa hp.  Tukang cukur rambut pun ada.

Yang jualan empek-empek dan mie ayam promosinya lewat grup WA. Pembeli pesan dulu berapa porsi dan minta diantar di mess mana jam berapa. Yang jualan akan mengantar makanannya sesuai pesanan. Tapi kalau mau makan di tempat juga boleh.

Bisa jadi suatu saat nanti akan ada yang jualan sate ayam, bakso atau soto. Dan ini pertanda yang baik. Usaha-usaha kecil rumah tangga satu persatu akan bermunculan. Menyediakan keperluan buat karyawan dan keluarganya yang kangen dengan menu makanan di kota. Perputaran uang pun tak terelakkan. Ada penjual, ada pembeli dan terjadi transaksi. Dan sektor riil pun bergerak.

Jika Tarif Bisnya Sama, Maka Saya Pilih yang Servisnya Lebih Baik

Setiap bulan saya biasa naik bis super eksektutif Pontianak – Nanga Pinoh pergi pulang (PP). Ada satu bis milik BUMN dan empat perusahaan swasta  yang melayani trayek tersebut. Tarifnya pun sekarang sama. 170 ribu rupiah sekali jalan.

Nah, kalau perusahaan-perusahaan itu menawarkan tarif yang sama, pilihan saya jatuh pada perusahaan yang layanan ke penumpangnya bagus.

Saya lebih memilih bis yang agen bagian ticketingnya benar-benar melayani penumpang, sejak pesan tiket sampai saya ambil tiket di kantor agennya. Apalagi  petugasnya sampai hapal nama penumpangnya dan disambut dengan senyum ramah waktu saya mau ambil tiketnya.

Pernah sekali saya dapat kejutan. Waktu pesan tiket saya dapat kursi nomor 3 B yang bersebelahan dengan kursi 3 C. Pas saya datang ke agennya untuk ambil tiket, petugasnya bilang, bapak saya kasih kursi tunggal nomor 3 A. Tempat duduk di bis super eksekutif formasinya 1-2. Satu lajur kursi tunggal yang terpisah dengan dua lajur kursi berikutnya yang berhimpit. Bisa jadi saya dikasih nomor kursi tunggal karena saya sering naik bis itu dan duduk di kursi tunggal.

Wah, benar-benar di luar ekspetasi saya. Berarti dia tahu selera penumpangnya. Dia perhatian dengan karakter pelanggannya. Pelayanan seperti itu bagi saya lebih baik daripada saya dijanjikan kursi tunggal, ternyata kenyataannya diberi kursi ganda.

Nggak cuma itu, pernah juga waktu datang ke terminal di Pinoh, saya terlambat lapor ke bagian ticketing karena sholat Maghrib dan makan malam dulu. Karena bis berangkat jam 7, saya buru-buru masukkan tas ke bagasi dan serahkan tiket ke petugasnya di dalam bis. Melihat saya belum lapor ulang, spontan dia bilang,”Mana tiketnya, Pak. Saya bantuin lapor”

Dia bawa tiket itu terus diserahkan ke petugas lainnya di dalam terminal untuk dituliskan plat nomor bisnya. Setelah itu tiket diserahkan lagi ke saya.

Saya salut dengan sikap melayaninya sungguh-sungguh. Dia bukannya menyuruh saya yang lapor, tapi dia sendiri yang ambil keputusan membantu penumpang.

Kru di dalam bisnya juga ramah dan siap membantu penumpang. Ketika toilet di dalam bis rusak dan nggak bisa digunakan, sopir memutuskan berhenti di SPBU dan menawarkan ke penumpang yang ingin buang air. Saya lihat dua kali bis berhenti di SPBU, selain di rumah makan. Selain untuk melayani penumpang yang ingin buang air juga sekalian mengisi tangki BBM.

Nah, kalau pelayanannya di luar ekspetasi dan cepat tanggap seperti itu, bisa memberi solusi bagi penumpang di saat ada masalah,  ada semacam perasaan dalam hati saya nggak ingin pindah ke lain bis.