Ilmu itu Dikejar, Bukan Ditunggu

“Yang namanya ilmu itu harus dicari, dikejar dan bukan ditunggu. Bapak  dan ibu yang hadir di majelis ini niatkan untuk mencari ilmu dan silaturahmi karena Allah SWT. Apalagi yang mengisi taushiyah nanti pak Ustadz Ahmad Naufal yang jauh-jauh datang dari Pontianak. Inshaa Allah membawa berkah.” Demikian kata wakil perusahaan saat memberikan sambutan peringatan Isra Mi’raj di camp Minggu malam (23/4) lalu.

Pak ustadz menjelaskan manfaat dan keutamaan sholat khususnya sholat berjamaah di masjid khususnya bagi bapak-bapak. Manfaat dari sisi fsik yang dapat menyehatkan badan, karena tiap hari rutin jalan kaki dari mess ke masjid pergi pulang. Menurut ilmu kesehatan, jalan kaki adalah jenis aktivitas yang baik bagi kesehatan bila dilakukan secara rutin.

Tak hanya itu, dari sisi spiritual setiap langkah kaki kanan kita dari rumah ke masjid bernilai pahala dan langkah kaki kiri kita akan menghapuskan dosa-dosa. Apalagi bila kita datang ke masjid di awal waktu, melaksanakan sholat tahiyatul masjid ditambah sholat sunah qobliyah.

Bagi karyawan yang karena kesibukannya sehingaa jarang bertemu, sholat berjamaah juga menjadi wadah untuk bersilaturahmi dan terbukanya pintu-pintu kebaikan. Jika selama jam kerja, karyawan berkomunikasi lebih sering menggunakan aiphone dan handphone, sholat berjamaah membuka peluang untuk bertemu, bertutur sapa, menanyakan kabar keluarga dan teman kerja.

Memang saat ini ada media online dan internet yang bisa membantu kita mencari ilmu yang kita perlukan. Kita bisa belajar setiap saat tanpa kendala jarak dan waktu, sepanjang di tempat tersebut ada sinyal internet. Namun demikian, datang dan tatap muka langsung juga penting karena nuansa dan rasanya berbeda.

Acara yang diadakan pengurus masjid Al Adh ha bekerjasama dengan ibu-ibu majelis taklim  dan guru-guru SDS Sari Lestari itu berjalan lancar dan dihadiri sekitar 150 jamaah. Karyawan dan keluarganya terlihat memenuhi bagian dan selasar masjid. Acara yang dirancang sekaligus dengan wisuda TPQ santriwan dan santriwati TK dan SD Sari Lestari.

Yang saya syukuri adalah adanya progres setelah acara tersebut. Dampak setelah menerima ilmu tentang keutamaan sholat berjamaah di masjid.

Setelah hadir di acara tersebut, besoknya terlihat anak-anak dan bapak-bapak yang sholat berjamaah meningkat. Khususnya saat Maghrib dan Isya. Untuk waktu subuh dan dhuhur masih belum sebanyak kedua waktu sholat yang lainnya, sementara saat ashar yang masih belum istiqomah.

Semoga Allah SWT menjaga langkah dan niat kita untuk senantiasa berada di jalanNya. Terutama niat dan langkah untuk sholat berjamaah di masjid. Aamiin

 

Mencoba Beternak Ayam Kampung

Awalnya dari seekor induk ayam yang saya barter dengan baju lengan pendek seharga 100 ribu. Beberapa bulan kemudian induk itu bertelur tapi nggak ada satu pun yang menetas, telurnya busuk akibat sarangnya lembab. Generasi keduanya, dari 6 butir menetas jadi 4 ekor. Sekarang sudah sekitar setahun umurnya, 3 betina dan 1 jantan.

Generasi kedua dari 8 butir, semuanya menetas. Dalam perjalanan hidupnya, kedelapan ekor  umur 1 bulan saya lepaskan dari kandangnya. Sayangnya waktu saya tengok sore harinya tinggal 5 ekor. Saya langsung cari dan ketemu 2 ekor, satu ekor tertinggal di kandang sebelah dan satu ekor lagi kedinginan di bawah kandang. Satu ekor hilang entah kemana.

Umur tiga bulanan satu ekor lagi mati terapung di ember berisi  air. Mungkin anak ayam itu mau minum di ember dan tercebur nggak bisa keluar. Masih ada 6 ekor yang bertahan. Waktu saya ke pulang dari Jawa, saya hitung tinggal 5 ekor.. Berarti satu ekor lagi berkurang. Sampai sekarang kelimanya masih hidup dan semoga tumbuh sampai besar.

Memang perlu kesabaran beternak ayam kampung. Nggak seperti ayam pedaging atau ayam potong yang umur 40 hari sudah panen. Tapi tiap hari di kandang dan harus dikasih makan. Kandangnya dikasih lampu supaya hangat.

Kalau beternak ayam kampung, sesekali saja saya masukkan ke kandang. Lebih sering saya lepas dan ayamnya cari makan sendiri. Kadang-kadang juga saya cari sisa-sisa nasi dan sayuran di dapur buat umpannya. Lumayan daripada sisa makanan itu terbuang percuma.

Yang lucu kalau ada induk ayam lain yang datang, biasanya mereka berebut makanan setelah saya taburkan di dekat kandangnya. Karena saya kasih makan, ayam-ayam itu lama-kelamaan jinak. Setiap kali saya datang dan bilang kuuur…kuuur, mereka mendekat dan mengikuti langkah saya. Ada juga ayam-ayam punya tetangga yang ikut berebut dan mematuk makanan setiap kali saya tebarkan sisa makanan di halaman belakang.

Yang bikin saya takjub ketika saya berikan makanan ke induknya dan anak-anak ayamnya mendekat, sang induk mengalah dan membiarkan makanan itu dipatuk anak-anaknya. Berulang kali seperti itu, sampai semua anaknya kebagian makanan.

Beberapa waktu kemudian, keadaan berubah 180 derajat. Ketika sang induk akan bertelur dia langsung nggak mau menjaga anak-anaknya lagi. Dibiarkan anak-anaknya cari makan dan dia pun memisahkan diri. Bahkan ketika saya kasih sisa-sisa makanan, sang induk berebut makanan bahkan sampai mematuk anak-anaknya. Bisa jadi itu adalah hukum alam atau sunnatullah dalam perjalanan hidup anak-anak ayam agar mandiri sebelum menjadi dewasa.

Selawase Tetep Sedulur

Reuni memang indah. Ketemu teman-teman lama memang asyik. Ketulusan dalam melayani. Keikhlasan dalam berbagi. Seperti itulah kesan yang saya alami ketika hadir di reuni angkatan 86 SMPN5 Cirebon. Bertemu dengan teman-teman dan guru-guru setelah 30 tahun lebih berpisah.

Baru sampai di Jakarta, teman yang tinggal di Cikarang sudah menelpon,”Sudah dapat tiket kereta belum Yud?”. Saya bilang,”Makasih bro, saya sudah beli tiket keretanya online”.

Belum lagi sampai di Cirebon, waktu kereta berhenti di stasiun Arjawinangun, May, teman cewek juga nelpon dan tanya sudah sampai mana. Dia bilang kalau sampai stasiun Cirebon tunggu ya, nanti dijemput.. Dan benar, saya dijemput 4 orang teman yang cewek semua. Mereka kaget, sebelum masuk mobil satu persatu saya masih kenali dan sebut namanya. May, Lely, Lina dan Hamidah….

“Nginap dimana Yud?”tanya May

“Di hotel Langensari dekat SMP 1″jawab saya. Mobil pun meluncur ke hotel.

“Habis check in hotel, ikut ke tempat futsal ya, Teman-teman lagi kumpul di sana”jelasnya lagi.

Sehari sebelum reuni tanggal 26 Maret, teman-teman adakan pertandingan futsal. Di tempat itulah saya lihat mereka lagi setelah lama berpisah. Sebagian besar wajahnya dan namanya masih saya kenal, tapi ada juga yang sudah lupa sama sekali.

Setelah futsal, malamnya diajak lagi mampir ke tempat reuni di hotel Bentany, lihat persiapannya. Setelah itu lanjut kuliner mie koclok di jalan Lawanggada. Makan lesehan  di emperan jalan sambil menikmati wedang ronde. Nggak selesai sampai di situ, selesai makan malam ada teman yang ngajak karaokean bareng. Benar-benar padat acaranya.

Pagi hari tanggal 26 Maret, sebelum acara reuni jam 10, saya sempatkan jalan kaki ke Masjid At Taqwa, sholat subuh berjamaah. Setelah itu melihat-lihat alun-alun Kejaksan. Jalan Siliwangi sudah mulai ramai dengan para pedagang dan orang-orang yang berolahraga saat Car Free Day (CFD).

Saat check out dari hotel, karena jalan tertutup untuk kendaraan bermotor saat, saya harus jalan kaki menenteng koper sampai ke tempat teman yang jemput di pertigaan jalan Kapten Damsur dekat SD Kebon Baru. Setelah itu baru sama-sama meluncur ke hotel.

Sampai di hotel, dapat suvenir dari panitia : kaos dan mug yang ada tulisan reuninya. Tiap peserta diberi tag nama yang ditempel di dada. Sesuai arahan dari ketua panitia yang malam sebelumnya disampaikan, saya kebagian tugas jadi penerima tamu di lobby hotel. Tugasnya menerima guru-guru yang datang. Wah, kebetulan sekali, bisa bertemu dan menyapa guru-guru secara khusus. Panitia juga sudah mengatur ada teman-teman lainnya yang bertugas menjemput guru di rumahnya dan mengantar ke hotel. Juga mengantar kembali pulang ke rumahnya.

Yang bikin saya salut, sebelum acara reuni, ada teman-teman yang tergabung dalam tim blusukan yang tugasnya mencari teman-teman yang hilang kontak. Datangi rumahnya, kalau sudah pindah tanya keluarganya atau tanya pak RTnya. Ada juga yang ke kantornya atau sekolah tempatnya mengajar. Setelah bertemu, fotonya diunggah ke grup WA. Nomor HPnya ditambahkan juga. Makasih banya buat Sri Sulastri, Sri Jepang, Encang Udin, Rahadi dan teman-teman lainnya yang penuh semangat dan ikhlas mencari teman yang “hilang”

Beberapa perwakilan teman berkunjung ke rumah guru, silaturahmi menyampaikan undangan reuni dan memberikan bingkisan. Nggak hanya itu, Ida Farida dan Nining Nursahita mewakili teman-teman juga menyerahkan bantuan ke almamater berupa Al Quran dan tenda yang diserahkan  saat upacara bendera hari Senin di halaman SMP5 Cirebon.

Waktu acara reuni, 105 teman hadir dari total angkatan 86 yang berjumlah 200-an. Guru-guru yang diundang, yang bisa hadir tujuh orang. Peserta reuni duduk melingkar di beberapa meja. Saya berpindah-pindah. Setiap ketemu teman yang saya kenali saya sapa dulu.

Meriah sekali acaranya, apalagi ketika pihak event organizer membuat games yang menarik dan mengakrabkan peserta reuni. Seperti setiap meja anggotanya yang bawa uang logam disuruh menghitung. Yang paling banyak nilainya dalam rupiah kelompok itulah yang menang.

Ada juga diminta menghitung jumlah anak perempuan dalam kelompok tersebut. Yang paling banyak jumlahnya kelompok itu yang menang. Dan game inilah yang dimenangkan oleh kelompok kami, karena pesertanya punya total anak perempuan 26 orang.

Yang bikin kejutan ketika seorang guru, Bu Tati, setelah menyanyi diminta menyebut angka yang ada di daftar hadir untuk diberikan door prize. Beliau menyebut angka 68, dan ketika panitia melihat di daftar hadir reuni nomor 68 itu adalah nama saya… alhamdulillah saya dapat door prize blender. “Rejeki buat yang datang dari jauh, Yud”komentar seorang teman

Acara diakhiri sekitar jam 2 siang. Setelah menyanyikan lagu kemesraan, para peserta saling bersalam-salaman. Ada beberapa teman yang menangis terharu, karena belum tahu kapan bisa reuni lagi.

Selesai acara, saya pun pamit dan ada teman dari Cikarang, Makhmud yang mengantar sampai ke stasiun Kejaksan. Sampai disana sekitar jam 4 sore. Waktu menunggu di stasiun, bertemu dengan Hamidah dan Nunung yang rupanya mengantar teman juga. Ditanya sama Hamidah, “Sudah makan belum Yud?”. Setelah saya jawan belum, ditanya lagi mau makan dimana. Saya bilang kuliner empal gentong ya yang dekat sini.

Pilihan jatuh ke empal gentong di Krucuk. Keinginan menikmati kulier khas Cirebon, empal gentong dan tahu gejrot akhirnya terpenuhi. Makasih ya friend…Selesai makan diantar lagi ke stasiun dan di sana waktu maghrib bertemu lagi dengan Saptono yang datang bersama istri dan anaknya. Rupanya mereka sengaja datang untuk bertemu sebelum saya pulang.

Ah, betapa indahnya persahabatan. Meski baru bertemu lagi dan waktunya singkat, rasanya akrab sekali. Apalagi ketika salah satu teman bilang,”Nanti liburan ke Cirebon lagi Yud, ajak keluarga ke sini. Ditunggu lho”… Rasanya pengin lagi deh ke Cirebon…

 

Reuni SMPN5 Cirebon Angkatan 86

Sing Penting Teka

Seperti itu slogan yang terpilih untuk acara reuni teman-teman SMP.

Awalnya obrolan di grup WA dengan teman-teman SMP 5 Cirebon angkatan 86. Angka 86 ini merujuk pada tahun kelulusan. Jadi masuknya tahun 83/84. Setelah itu ada yang punya ide untuk adakan reuni, karena sudah 30 tahun lebih nggak bertemu.

Disepakati tanggalnya 26 Maret 2017 dari jam 09.00-14.00. Tanggapan teman-teman pun hampir semuanya setuju. Tidak terasa sudah lama berpisah, akhirnya dipertemukan lagi lewat WA.

Satu persatu teman gabung di WA, teman yang jadi Admin menambahkan nomor HP  teman lain yang baru ditemuinya. Ada juga tim blusukan yang domisilinya di Cirebon rajin mencari teman-teman yang hilang kontak. Ada yang datang ke rumahnya sesuai alamat yang tercantum di buku raport. Nah, pas datang ke rumahnya nggak langsung ketemu, karena teman yang dicari sudah pindah. Akhirnya tim blusukan tanya ke tetangga atau pak RT. Juga hubungi saudaranya.

Ada juga berita sedih karena beberapa teman sudah meninggal, ada yang sedang dirawat di rumah sakit menjalani terapi.

Teman-teman pun berdebat dalam hal penyelenggaraan reuni. Beberapa orang berpendapat bikin saja panitia. Ada ketua, sekretaris, bendahara dan nanti panitia ini yang mengadakan acara reuni.

Yang lainnya punya ide serahkan saja reuni ke Event Organizer (EO), biar panitia nggak repot mengatur persiapan acaranya. Mulai sewa tempat, isi acara, konsumsi, dokumentasi dan lain-lainnya. Akhirnya voting dan banyak yang setuju acara diserahkan ke EO. Nggak hanya itu penentuan tempat reuni juga dilakukan pemungutan suara. Ada dua hotel yang diusulkan panitia. Anggota WA pada hari dan jam yang ditentukan diminta memberikan suaranya di grup. Keputusan lokasi reuni pun tuntas sudah.

Nah, buat anggota grup juga diminta iurannya. Minimal 200 ribu per orang. Bagi yang ingin menjadi donatur alias menyumbang diluar iuran itu juga dibuka kesempatan seluas-luasnya. Terutama bagi yang secara finansial berkecukupan. Para donatur diharapkan mensubsidi teman-teman lainnya yang belum mampu.

Acara reuni kurang lengkap tanpa kehadiran guru-guru yang saat itu mengajar kami. Panitia berinisiatif  blusukan lagi silaturahmi ke rumah guru-guru. Alhamdulillah, sebagian besar masih bisa ditemui langsung di rumahnya. Ada sekitar 10 orang yang masih sehat dan semoga hadir di acara reuni.

Ada pak Andi guru matematika yang sangat disiplin, bu Tati guru bahasa Indonesia yang jadi favorit saya ketika di kelas 3. Pak Effendy yang cara mengajarnya membuat saya suka pelajaran bahasa Inggris dan beliau pun ingat betul dengan saya saat itu hingga kata teman nama saya pun dimasukkan dalam soal cerita ulangan 🙂

Menyimak kegiatan teman-teman di WA untuk menyiapkan reuni akbar ini membuat saya terharu. Ternyata 30 tahun lebih berpisah, tak menyurutkan niat dan langkah untuk bertemu. Mengingat kenangan dan persahabatan ketika masih memakai seragam putih biru.

Semoga Allah SWT memudahkan teman-teman angkatan 86 SMP 5 Cirebon bertemu kembali di acara reuni.

Saya yang kerja di hutan pun berusaha hadir, bertemu dengan teman-teman dan para guru. Karena bagaimana pun kondisi kita, selawase tetep sedulur..

Sayang kalau Mobilnya Dijual

P_20170309_065912

“Sayang  kalau mobilnya dijual, Pak. Apalagi ini kan mobil keluarga”kata pak Bambang, mekanik yang perbaiki mobil saya.

Obrolan di pagi hari itu menyadarkan saya. Ada hikmah di setiap  masalah. Itu yang saya alami waktu mau jual mobil suzuki Futura yang saya beli  tahun 2003. Sudah 13 tahun lebih saya dan keluarga pakai mobil itu. Saya beli mobil bekas itu 34 juta. Rencananya sih kalau terjual, uangnya dipakai buat tukar tambah beli sepeda motor. Motor Supra yang tahun 2006 saya jual, terus beli motor baru cash. Uangnya untuk beli motor baru ya sebagian dari jual mobil futura itu. Saya dan istri sepakat beli cash saja, nggak pakai kredit atau cicilan-cicilan.

Sempat tawarkan mobil itu ke teman, minta tolong jualkan. Saya hubungi teman via BBM. Saya foto dari depan, samping kiri kanan, belakang dan atapnya. Juga interiornya.

Waktu dia tawarkan ke calon pembeli, teman itu yang bawa mobilnya. Saya sih mintanya 19 juta terima bersih. Ternyata setelah dilihat sama pembelinya, nggak jadi beli. Alasannya cat bodinya sudah mulai mengelupas. Lantai depannya juga ada yang keropos.

Memang saya akui waktu mau jual mobil itu kondisi bodinya nggak mulus. Meski mesinnya halus, pajaknya sudah terbayar alias masih hidup, tetap saja pembeli melihat sisi kurangnya.

Akhirnya mobil itu saya bawa ke bengkel ketok magic. Sesuai saran pak Kurnia, mekanik yang biasa perbaiki mobil, ada kawannya yang buka bengkel ketok dan cat mobil. Saya datangi bengkelnya. Sepakat untuk ongkos ketok mobil, cat dasar dan cat akhir 9,5 juta. pernah saya tanya-tanya ke bengkel lainnya. Biayanya  13-14 juta.

Saya serahkan mobil dan kuncinya ke pak Bambang, mekanik yang memoles mobil suzuki supaya mulus kembali bodinya. Di bengkel yang sederhana itu, hanya ada mobil saya saja yang diperbaiki. Ada bagusnya juga, karena dia bisa fokus dengan kerjaannya.

Setelah lima minggu, selesai  juga perbaikan mobilnya. Melihat kondisi bodinya yang mulus, jadi sayang deh mau dijual.

Jual Ayam Kampung buat Pulang Kampung

Teman-teman kerja di camp sebagian asalnya dari luar Kalimantan. Jadi kalau mau pulang kampung kebanyakan naik pesawat. Rutenya bisa dari camp ke Pontianak dulu, setelah itu terbang ke Jakarta, Surabaya, Jogja, Solo, Bengkulu atau Padang.

Ada juga yang pulang lewat Palangkaraya. Perjalanannya lebih menantang. Lewat darat, sungai dan udara. Dari camp naik kendaraan ke ibukota kecamatan Bukit Raya. Setelah itu naik perahu klotok ke ibukota Kecamatan Katingan Hulu di Senamang. Lanjut lagi naik klotok yang lebih besar sampai Tumbang Hiran. Nah, dari tempat ini ada mobil taksi  menuju Kasongan dan Palangkaraya. Biasa berangkat jam 5 pagi sampai Palangkaraya jam 7 malam. 14 jam perjalanan, padahal  perjalanan dari Tumbang Senamang sampai Palangkaraya masih dalam satu propinsi, lho

Untuk ongkos pulang kampung mereka biasanya nunggu gajian. Karena akhir-akhir ini gajian sering telat, sebagian berpikir alternatif. Daripada nunggu gajian yang belum pasti, mendingan jual aset yang dimiliki. Termasuk seorang kawan yang punya ayam kampung belasan. Dia jual sepasang ayam kampung. Induk dan jagonya dibeli kepala tukang seharga 500 ribu.

Nah, waktu dia ditanya temannya pulang naik apa, dia bilang naik ayam air”katanya sambil guyon.

Temannya heran,”Ayam air? Apa ada maskapai baru?”

“Nggak, kemarin tuh ayamnya saya jual buat beli tiket pesawat buat pulang kampung “jelasnya

🙂

Supir Taksi yang Cepat Bereaksi

Kalau pergi antar jemput ke bandara, saya dan keluarga punya langganan taksi. Nama supirnya pak Aban. Waktu Nadia pulang ke Pontianak untuk liburan setelah ujian akhir semester, pak Aban masih sempat antar istri dan Aysha menjemput Nadia di bandara Supadio. Tapi ketika Nadia balik ke Jogja pas Imlek, dia nggak bisa antar karena ada acara ke luar kota.

Mau nggak mau saya harus pakai taksi lain. Setelah googling, saya lihat website sebuah perusahaan taksi lengkap dengan tarifnya. Sekilas cukup profesional dan informatif. Saya coba hubungi nomor kontaknya. Saya pesan untuk tanggal 28 Januari, jemput ke rumah dan antar ke bandara jam 05.30.

Dia bilang supaya saya tunggu 1 jam kemudian untuk kepastiannya. Mungkin dia lagi atur kendaraan dan supirnya untuk antar kami sekeluarga. Cuma setelah sejam lebih dia nggak kasih kabar, tidak telpon atau kirim pesan via BBM. Saya pun nggak nanya lagi karena nampaknya dia tidak benar-benar menanggapi pesanan saya.

Setelah itu, saya googling lagi dan coba-coba klik Meniko Taxi. Namanya kelihatannya berbau Jawa, Meniko, yang artinya yang itu dalam bahasa Jawa halus. Kontak personnya namanya mas Eko. Saya hubungi via Black Berry Messenger, pesan taksi untuk tanggal 28 Januari dan langsung direspon saat itu juga. Bisa. Beda sekali dengan respon perusahaan taksi yang pertama.

Satu hari kemudian saya konfirmasi lagi dan pesan via WA kalau besok jadi ke bandara. Padahal waktu itu sudah hampir jam 11 malam. Saat itu juga langsung dibalas dan dia bilang sudah atur kendaraan untuk antar saya ke bandara. Waktu saya tanya berapa ongkosnya, dia bilang 100 ribu. Nah, kalau responnya cepat begini kan penumpang senang juga. Nggak disuruh nunggu dan berharap tanpa ada kepastian.

Besoknya saya kaget, karena jam 05.15, taksi avanza sudah ada di depan rumah. Rupanya mas Eko sudah minta ke temannya yang namanya mas Budi untuk layani kami ke bandara. Benar-benar serius melayani penumpang. Karena kalau kendaraan sudah datang, kami nggak perlu lama menunggu. Minimal sudah mengurangi kecemasan kami 🙂 . Kami juga nggak bertanya-tanya, kok belum datang ya mobilnya?

Setelah pesawat yang ditumpangi Nadia terbang, kami masih di bandara. Menunggu jamaah yang mau berangkat umroh. Sekalian saja tunggu di bandara daripada pulang terus balik lagi ke bandara. Sebelumnya saya sudah pesan mobil ke mas Eko dan dia siap untuk jemput kami di bandara dan antar lagi ke rumah.

Sekitar jam 10, setelah dua orang jamaah masuk ruang check in, kami pun pulang. Mas Eko jam 9 pagi sudah siap di parkiran bandara sesuai jam yang saya pesan. Saya pun WA dia dan sudah siap pulang. Langsung dia meluncur dari tempat parkir ke depan ruang keberangkatan.

Sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah, kami nggak ngobrol ngalor ngidul. Ternyata mas Eko orangnya masih muda, enerjik dan penampilannya rapi. Dia sebelumnya kerja di perusahaan HTI dan resign, kemudian mencoba berwirausaha melayani antar jemput penumpang menggunakan mobil dia dan mobil teman-temannya.

“Sebelum resign dan usaha taksi ini, saya sudah merintis jaringan dulu Pak”ungkapnya.

“Mobilnya yang ditaksikan punya berapa, Mas?”tanya saya

“Saya punya satu pak, yang ini”jawabnya.

“Lho, saya kira punya dua atau tiga mobil”kata saya dengan nada agak heran.

“Saya ajak teman-teman supir yang biasa mangkal di hotel dan mereka mau, Pak. Kalau dapat order dari saya ya tarifnya ikut saya, kalau ordernya dari hotel sesuai tarif hotel.

“Oo, begitu ngaturnya ya, Mas”

Boleh juga tuh kreatifitasnya dalam mengelola mobil yang ditaksikan. Sama-sama diuntungkan. Mas Eko untung, temannya untung dan penumpang termasuk saya juga puas dengan pelayanannya yang cepat, tepat waktu dan sopan.