Berwisata ke Tugu Khatulistiwa, Ikon Kota Pontianak yang Terkenal

Setelah jalan-jalan ke pantai Kijing di Mempawah, pulangnya kami sempatkan singgah di Tugu Khatulistiwa, ikon kota Pontianak yang berada di daerah Siantan.

Bukan hanya kali ini saya berkunjung ke tempat wisata ini. Ada pembenahan yang sedang dilakukan pemkot. Tempat parkir dibuatkan khusus di luar areal Tugu Khatulistiwa. Pengunjung tidak dipungut bayaran, hanya dikenai tarif parkir kendaraan.

Hal baru lainnya adalah jalan di dalam area wisata yang mengarah ke sungai Kapuas sudah terlihat rindang dengan pepohonan di kanan kirinya. Di sebelah kanan dari arah sungai Kapuas, ada beberapa ruangan yang rencananya difungsikan untuk rumah makan.

Kalau kita jalan terus akan menuju ke dermaga tempat kapal wisata bersandar. Dari tempat ini kita bisa melihat suasana sungai Kapuas dan pemandangan kota Pontianak . Di dalam Tugu Khatulistiwa, selain foto-goto dan replika tugu di ruangannya, yang khas adalah  permainan menegakkan telur.

Petugas menyediakan beberapa telur ayam dan para pengunjung dipersilakan mencobanya. Ada seorang pengunjung yang berhasil membuat sebutir telur berdiri tegak di lantai. Saya yang mencobanya berkai-kali belum bisa juga. Penasaran juga, satu saat saya akan datang lagi.

Kalau anda berkunjung ke Pontianak, sempatkan ya datang ke tugu Khatulistiwa… 🙂

Iklan

Pemandangan Indah di Pantai Kijing Mempawah

Meski sudah pernah berlibur ke pantai Pasir Panjang dan Sinka Island di Singkawang yang jarak tempuhnya lebih jauh, ke pantai Kijing di Mempawah yang lebih dekat malah belum pernah.

Sampai ketika libur lebaran Idul Fitri lalu, saya dan keluarga memutuskan berlibur di pantai yang waktu tempuhnya sekitar 2 jam dari Pontianak itu.

Menyewa Avanza Veloz yang tarifnya 500 ribu per 12 jam tanpa sopir, kami berenam berangkat pagi di hari kedua lebaran Idul Fitri. Beruntung juga meski acaranya dadakan, tapi kami masih dapat mobil sewaan. Bekal untuk makan siang juga sudah disiapkan mamanya Nadia.

Sampai di daerah Sungai Pinyuh, kami berhenti dulu karena ada barang-barang yang perlu dibeli. Perjalanan waktu itu lancar dan udara cukup cerah.

Sampai di pantai Kijing sekitar jam 9 pagi. Setelah membayar tiket masuk  30 ribu per orang termasuk kendaraan, kami menuju pantai.

Kendaraan roda empat boleh masuk ke tepi pantai. Para pedagang kaki lima yang jualan mainan anak-anak, makanan, dan minuman juga diperbolehkan berjualan di dalam areal wisata.

Setelah menikmati pemandangan pantai dan foto-foto di sekitarnya, kami duduk di pondok dan memesan kelapa muda. Sebutir kelapa muda seharga 15 ribu.

Sayangnya, keindahan pantainya terganggu sampah-sampah yang berserakan. Tidak nanpak petugas yang memunguti sampah-sampah yang berserakan itu selama kami di sana. Tempat sampah juga kurang sekali.

Selesai melihat pemandangan, kami berpindah ke lokasi yang agak sepi di sebelah utaranya. Rupanya mamanya Nadia waktu jalan-jalan sama Aisha menyusuri pantai melihat ada tempat yang lebih bagus. Akhirnya kami pindah tempat.

Mobil perlahan-lahan menelusuri jalan yang di kanan kirinya ditempati para pedagang. Juga melewati panggung hiburan yang hari itu digunakan untuk live show musik dangdut.

Sampai di tempat yang agak sepi, di bawah pohon kelapa, kami menggelar tikar dan makan siang di situ. Menyantap bekal sambil menikmati pemandangan pantai. Di bagian utara ini tempatnya lebih bersih daripada sebelumnya. Pemandangannya juga lebih bagus. Hanya ada dua mobil pengunjung termasuk kami yang parkir di sini.

Sebelum makan, saya sempatkan memotret beberapa obyek sekita pantai. Saya membayangkan alangkah bagusnya kalau pantai ini dikelola lebih profesional. Ada papan penunjuk, pedagang kaki lima ditempatkan di satu lokasi, ada tempat sampah yang mencukupi dan para petugas yang rajin berkeliling membersihkan sampah.

Jika ditangani dengan sungguh-sungguh, ditata lagi agar rapi dan bersih, daya tarik pantai Kijing tidak akan kalah dengan pantai-pantai lainnya di wilayah nusantara.

 

Dapat Bis Pengganti yang Lebih Nyaman Setelah Penundaan Keberangkatan

Terkadang suatu kejadian yang awalnya nggak mengenakkan bagi diri kita, ada satu hikmah yang terasa indah di bagian akhirnya.

Seperti halnya yang saya alami ketika bepergian dari Pontianak ke Nanga Pinoh selesai menjalani cuti tahunan. Ketika menelepon perwakilan bis A yang biasa saya tumpangi, tiba-tiba ada hambatan.

Yang pertama,  waktu saya telepon nadanya sibuk. Saya coba lagi telepon, masih terdengar nada sibuk. Nomor yang saya hubungi adalah nomor kantor perwakilan bis tersebut. Pasti ada orang lain yang menghubungi terlebih dahulu.

Beberapa jam kemudian saya telepon lagi, Terdengar nada sambung, tapi nggak ada yang mengangkat dan menjawab. Saya tutup telepon. Mungkin petugasnya sedang tidak ada di ruangan. Saya hubungi lagi dan masih sama, belum ada respon.

Akhirnya saya terpikir untuk menghubungi nomor telepon agen bis lainnya. Saya hubungi agen bis B. Sekali telepon, langsung terdengar nada sambung dan dijawab. Saya pesan dulu tiketnya. Sehari sebelum berangkat saya datang  ke agennya dan ambil tiketnya. Sudah beres urusan beli tiket bis dari Pontianak ke Pinoh.

Sesuai tanggal keberangkatan, saya sudah datang di agen 15 menit sebelum bis berangkat. Dijadwalkan jam 19.00 bis berangkat. Sudah banyak penumpang menunggu.

Ketika saya menanyakan ke mbaknya di bagian pemesanan tiket, saya dikasih tahu kalau saya ikut bis yang kedua. Rupanya malam itu ada dua bis jurusan Pinoh yang berangkat. Beberapa menit kemudian ada informasi yang tidak menggembirakan. Mbaknya memberitahukan ke penumpang bis yang kedua, kalau bisnya mengalami kerusakan. Walah…

Satu jam berlalu, belum ada kepastian apakah bisnya sudah selesai diperbaiki atau belum. Sampai hampir jam 9 malam akhirnya ada berita. Untuk mengurangi resiko kecelakaan dan mengutamakan keselamatan penumpang akhirnya bis yang kedua ini nggak jadi diberangkatkan. Penumpang jengkel dan minta kepastian keberangkatan. Dijawab oleh mbaknya sedang diusahakan cari bis lain untuk menggantikan bis yang rusak itu. Karena bis pengganti belum datang, snack yang biasanya dibagikan di dalam bis pun dibagikan ke penumpang di ruang tunggu.

Dan alhamdulillah ada jawaban bis pengganti itu ada. Mbaknya bilang kalau perusahaan harus carter bis C  dari perusahaan lain untuk memberangkatkan penunpang. Bersyukur pihak perusahaan masih tanggung jawab dan nggak membiarkan penumpang menunggu lebih lama lagi.

Akhirnya jam 9 malam bis pengganti pun berangkat. Saya merasakan interior bis pengganti itu lebih baik. Kursinya lebih lebar dan jarak antar kursi lebih luas. Kelihatannya bisnya lebih baru daripada bis yang biasa saya naiki sebelumnya. Supirnya juga mengemudikan bis dengan tenang, nggak ngebut dan dan tarifnya pun lebih murah 35 ribu.

Merasakan pengalaman naik bis pengganti yang nyaman dan banyak nilai plusnya itulah saya sekarang memilih bis itu untuk perjalanan Pontianak – Pinoh PP.

Berawal dari peristiwa nggak mudahnya menghubungi perwakilan bis langganan sampai penundaan keberangkatan bis, ada pelajaran yang saya dapat. Yang awalnya hal itu saya anggap sebagai kesulitan dan hambatan, kalau kita berikhtiar dan sabar akhirnya justru membawa manfaat dan keberuntungan.

Menyerap Semangat dan Daya Juang dengan Hadir di Upacara HUT RI ke-72

Terkadang ada teman kerja  yang berkomentar, “Untuk apa sih ikut upacara 17 Agustus?”

Sebuah pertanyaan yang bagi saya cukup penting, karena kalau kita tahu tujuan mengikuti suatu kegiatan, pasti dengan senang hati akan kita lakukan. Mungkin teman itu belum tahu tujuan dan manfaat hadir di upacara yang dilaksanakan setahun sekali itu.

Bagi saya, mengikuti upacara Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI  tidak hanya sekadar hadir secara fisik di lapangan. Namun ada jalinan rasa kebersamaan sebagai bangsa yang hadir di momen itu. Ada semangat dan rasa syukur ketika sang Merah Putih dikibarkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan.

Saya memahami mengapa Susi Susanti, peraih medali emas bulutangkis tunggal putri olimpiade Barcelona tahun 1992, sampai menitikkan air mata ketika berdiri di podium menyaksikan bendera Merah Putih dinaikkan dan berkumandang lagu Indonesia Raya. Sebuah perjuangan yang tidak mudah untuk mengibarkan sang Merah Putih.

Tak hanya lagu Indonesia Raya. Ketika siswa-siswi SDS Sari Lestari menyanyikan lagu Tanah Air, suasana hening dan peserta hanyut dalam rasa haru. Saya yang berdiri di barisan belakang karyawan mendengar beberapa teman spontan ikut menyanyikan lagu tersebut. Saya pun ikut bernyanyi mengikuti irama lagu dengan suara tercekat.

Menyerap semangat dan daya juang para pahlawan yang ikhlas berjuang itulah yang mendasari saya usahakan hadir dalam upacara tersebut. Menghargai para pejuang bangsa yang tak pernah hitung-hitungan mengorbankan harta, jiwa dan raganya demi kemerdekaan Indonesia. Mengikuti upacara hari Kemerdekaan bagi saya bermanfaat untuk memotivasi diri agar lebih bersemangat dan berdaya juang dalam beraktivitas.

 

Penempatan bahasa Indonesia yang Tepat di Papan Informasi Bandara

Ada yang menarik ketika saya tiba di ruang kedatangan di bandara Supadio, Pontianak. Ada dua papan informasi yang tergantung di ruang itu. Satu papan menunjukkan lokasi pengambilan bagasi. Papan lainnya menunjukkan lokasi pindah pesawat dan toilet.

Yang bikin saya terpaku adalah penggunaan bahasanya. Selain bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, ada bahasa lainnya untuk menerjemahkannya :  bahasa Arab, bahasa Mandarin dan satu lagi kalo nggak salah bahasa Jepang.

Jarang saya melihat bandara internasional di negara kita papan informasinya menggunakan lebih dari dua bahasa. Biasanya yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Tata letak penggunaan bahasa Indonesia di papan informasi itu juga sudah tepat. Ukuran tulisannya lebih besar dan ditempatkan di posisi atas. Saya yakin perancang papan informasi ini mengerti betul bagaimana seharusnya menggunakan bahasa Indonesia di tempat-tempat umum. Penempatan posisi seperti itu selain menghargai bahasa nasional juga karena lokasi bandara itu di wilayah nusantara.

Sudah seharusnya papan informasi di tempat-tempat pelayanan publik mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia, setelah itu di bawah atau di sampingnya terjemahannya dalam bahasa asing.

Bukankah mengutamakan penggunaan bahasa persatuan, bahasa Indonesia, adalah salah satu bentuk kecintaan kita pada NKRI?

 

Nostalgia Makan Angkringan di Jogja

Waktu menjalani cuti bulan Juli yang lalu, saya sempatkan ke Jogja. Mengunjungi ibu bapak mertua, adik ipar dan keponakan-keponakan. Waktu ke rumah keluarga adik istri, malamnya saya diajak suaminya ke Bong Supit di Bogem Kalasan. Mendaftarkan dua anaknya yang akan dikhitan. Sekeluarga berangkat semua.

Ternyata  sampai di tempat tersebut, pendaftarannya sudah tutup. Karena waktu berangkat belum makan malam, kami mencari tempat makan yang searah pulang ke rumah di  Kadipolo, Berbah, Sleman.

Ada beberapa pilhan yang ditawarkan mas Ndoko, suami adik ipar saat ngobrol di mobil. Mau bakmi jowo, soto ayam atau angkringan. Pilihan jatuh ke angkringan yang lokasinya berada di jalan Solo-Jogja km 14.

Baru pertama kali saya ke tempat ini. Ternyata berbeda dengan bayangan saya waktu jaman kuliah dulu. Waktu itu namanya angkringan ya tempat makan mahasiswa yang murah meriah. Sebuah angkringan yang menyediakan menu khas sego kucing dan tempatnya disinari lampu teplok yang remang-remang.

Tapi angkringan yang saya temui malam itu berbeda sekali. Beberapa mobil parkir berjejer di depan empat angkringan yang terang disinari lampu neon. Setelah mengambil menu khas angkringan, pengunjung bisa memilih duduk di bangku panjang atau lesehan.

Kami berlima memilih duduk lesehan, sementara yang lainnya lebih memilih duduk di kursi panjang. Nikmat sekali rasanya bisa makan menu khas angkringan: sego kucing, tempe, sayur tumis, sate ayam dan krupuk.

Ya, meski berbeda suasananya, namun menu khasnya itu lho yang bikin kangen…sego kucing.

 

Mengejar pak Jamil Azzaini dan Ilmunya


Di susunan acara Milad ke-27 travel umroh, PT Arminareka Perdana, 16 Juli 2017 di Plenary Hall Balai Sidang Senayan Jakarta, tidak tercantum nama Jamil Azzaini, motivator, yang saya kagumi.

Namun, saya kaget ketika mendapat informasi lisan bahwa Jamil Azzaini akan tampil berbagi ilmu dan pengalaman di hadapan 4.000-an undangan, mulai jajaran direksi hingga leader-leader yang datang dari berbagai daerah.

Ini adalah kesempatan emas untuk bisa bertemu dengannya.

Dan benar, selama dua jam mulai pukul 13.30 WIB saya bisa melihat langsung, menyerap ilmu dan energinya bahkan foto bersama motivator yang tulisan-tulisannya sering saya baca di blog http://www.jamilazzaini.com/

Sebelumnya, pernah juga saya lihat penampilannya di acara I’m Possible Metro TV bersama Merry Riana.

Satu hal yang saya kagumi dari sosok motivator itu adalah ekspresinya dalam presentasi. Begitu menjiwai seperti seorang aktor.

Dia bisa bersedih hingga meneteskan air mata dan berhenti sejenak menghapus air matanya dengan sapu tangan ketika bercerita kesalahannya pada sang ayah.

Di saat lain, dia begitu bersemangat mengajak hadirin menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Senyum dan tawa hadirin juga muncul ketika dia menceritakan kisah-kisah yang lucu yang dialaminya bersama anak-anaknya.

Ketika pak Jamil turun dari panggung, saya sudah berniat untuk mencegat dan minta foto bersama. Saya dan istri yang duduk di tribun di sebelah kiri panggung, harus bersiap-siap keluar ruangan. Saya bilang sama istri mau foto bareng pak Jamil. Istri mengiyakan dan menunggu saya di tribun.

Turun dari kursi, saya bergerak ke pintu keluar berlomba dengan pak Jamil yang mulai melangkah meninggalkan ruang VIP. Dalam hati saya berdoa,”Bantu aku, ya Allah bisa bertemu pak Jamil Azzaini. Ini momen yang langka”.

Alhamdulillah, ketika keluar dari ruangan, saya lihat ada beberapa orang yang mendekati pak Jamil. Otomatis langkah pak Jamil berhenti sejenak, melayani para penggemarnya yang minta foto bersama.

Setelah selesai, gantian saya yang menyapa,”Perkenalkan saya Yudhi dari Pontianak, pak, saya sering baca tulisan bapak di blog. Boleh saya foto bareng bapak?”

‘Boleh, kita foto selfi ya”jawab pak Jamil dengan senyum ramah.

Dan jadilah foto berdua dengan pak Jamil Azzaini seperti yang terlihat di atas.