Mengisi Kamis Malam dengan Yasinan

P_20160804_180902[1].jpg

Setiap Kamis malam, pengurus masjid di camp biasa mengadakan acara yasinan. Membaca surat Yasin bersama-sama jamaah. Pada saat memasuki hari Jumat dimana dalam perhitungan tahun Hijriyah pergantian hari dimulai ketika memasuki waktu Maghrib memang disunahkan membaca empat surat. Surat Al Mulk,  Al Waqiah, Yasin dan Al Kahfi.

Namun untuk acara di masjid, surat yang dibaca adalah Yasin. Waktunya setelah sholat maghrib berjamaah. Mungkin pembaca bertanya-tanya, kenapa jamaahnya banyak anak-anak? Kemana bapak-bapak atau orangtuanya?

Anak-anak yang bersekolah di base camp biasanya tinggal bersama ibunya atau kerabatnya. Sementara bapaknya bertugas di camp berbeda. Mereka tinggal di mess  base camp yang dekat dengan sekolah. Sebagian besar anak-anak itu murid SD dan lainnya murid TK.

Hanya pada saat hari libur ayahnya turun ke base camp. Biasanya pada saat peringatan hari besar Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj atau hari raya Idul Adha mereka datang dan bermalam di base camp. Setelah itu, saat hari kerja pagi-pagi waktu subuh mereka sudah kembali lagi ke lokasi kerjanya.

Saat liburan panjang misalkan akhir tahun atau pertengahan tahun, gantian anak-anak dan ibunya yang pulang ke tempat asalnya. Di camp tempat tinggal bapaknya yang waktu tempuhnya sekitar 1-1,5 jam.

Ada sebab lain kenapa anak-anak itu begitu semangat ikut acara yasinan meski sebagian mereka belum lancar membaca Al Qur’an. Saking semangatnya, mereka bahkan sering datang duluan di masjid dibandingkan bapak-bapaknya. Apa penyebab mereka begitu semangat?

Hidangan berupa snack yang dibagikan setelah yasinan. Pengurus masjid biasanya memesan kue-kue basah seperti bakwan, nagasari, tahu isi dan donat dari ibu-ibu yang dihidangkan setelah yasinan selesai.

Namun tidak hanya waktu Kamis malam saja mereka ke masjid. Hari-hari lainnya mereka juga datang dan rajin sholat maghrib berjamaah. Membaca sholawat pakai pengeras suara bergantian. Juga minta diajari ngaji selesai sholat.

Bersyukur anak-anak itu dengan senang hati datang ke masjid tanpa disuruh-suruh. Meski kadang juga membuat repot pengurus masjid karena suka teriak-teriak dan berlarian sebelum sholat dimulai. Namun tak mengapa, kesukaan anak-anak ke masjid itu semoga membekas di hati anak-anak dan berlanjut hingga dewasa kelak.

 

 

Iklan

Kebiasaan Mencium Tangan

Ada satu kebiasaan menarik setiap selesai sholat maghrib berjaamah di masjid camp. Setelah membaca doa, tanpa dikomando, anak-anak laki perempuan yang masih TK dan SD langsung berebut ke depan. Satu per satu antri dan menunggu bersalaman dan mencium tangan orang-orang yang lebih tua.

Bahkan, terkadang ketika jamaah bapak-bapak masih duduk, mereka sudah menyerbu ingin duluan salaman dan cium tangan. Akhirnya, ada kawan yang mengingatkan anak-anak berbaris supaya nggak berebut.

Melihat anak-anak di masjid berebut mencium tangan orang yang lebih tua, saya jadi ingat  keluarga. Biasanya sebelum anak-anak berangkat sekolah, mereka mencium tangan saya dan ibunya. Setelah itu, saya balas dengan mencium kepala mereka sambil bilang hati-hati di jalan, nggak usah terburu-buru. Pun demikian ketika saya hendak pergi keluar kota.

Kenapa sih kok anak-anak itu sampai mencium tangan orang yang lebih tua? Apa nggak cukup dengan bersalaman saja? Pertanyaan seperti itu pernah terlontar dari salah seorang pimpinan, karena dia juga pernah mengalami hal serupa. Bertemu dengan yang lebih muda kemudian mencium tangannya.

Ditanya seperti itu, saya jawab,”Itu salah satu tanda mereka menghormati orang yang lebih tua. Apalagi kalau beda usianya banyak. Nggak ada maksud lainnya”.

Kebiasaan mencium tangan orang yang usianya jauh lebih tua, bisa jadi salah warisan orang-orangtua kita yang sekarang sudah jarang dilakukan generasi berikutnya.

Kalau memang hal itu baik sebagai bentuk penghormatan kepada orang lain, kenapa tidak kita biasakan?

EF#15 Weekly Challenge : More Outdoor Activities When I was a Child

There were no online games, play station or handphone when I was a child. At that time, I used to play some outdoor games with my friends, like playing gobak sodor, playing marbles, playing kites and playing firecrackers and fireworks when fasting month.

I think some outdoor games have more benefits for us because they combine physical activities and some interpersonal skill. For example when I played gobak sodor, I had to have a good cooperation with my friends to restrict our opponent break through our team. Playing marbles required our foot to move and our hand to take aim the marbles that I wanted to. Besides that requirements, playing marbles also need our accuracy and precision skill to gain more marbles. Are the children still playing marbles now? I rarely see.

What about playing kites? What do you like most in this game? There were two stages I like most from this game. First, when my kites flew in the air and met another one. I couldn’t avoid it and had to fight. I had to decide at the right time whether I had to pull out the thread or extend it to win the game. I think it was the real game of playing kites. This game also gives us a philosophy value, decision making. Whatever our role, as an employee, an entrepreneur, a father, a mother, a manager or a blogger we are all the decision maker.

Second,  I was so impressed in this game when I had to compete with another boys to gain kite broke. At the first step, we looked at the kites that loss and tried to follow wherever it flew. We usually also carried pole to help get the kite. Our sight often to the sky and didn’t give enough attention in the road. So, sometimes we almost hit by passing vehicles on the road. Then driver angry and cursing us  🙂 .

I think this game, playing kite, now still played by the children. Especially when they live in rural, sub urban area or near the beach. It is difficult to find this game in the big city because there are no enough open area.

Janji yang Harus Ditepati

Jpeg

Yang namanya janji itu sekuat tenaga kudu ditepati. Termasuk juga janji sama anak-anak. Waktu keluarga liburan di camp, si bungsu Nabil, pengin banget main ke sungai. Karena baru datang di camp tanggal 24 Desember siang hari dan sibuk bongkar barang-barang bawaan,  rencana main ke sungai masih belum bisa dipenuhi.

Besoknya hari libur 25 Desember, setelah sarapan anak-anak saya ajak jalan-jalan dulu ke sekitar kantor. Lihat taman, ngasih makan ikan di kolam, terus mampir ke contoh rumah adat. Lokasinya memang nggak jauh dari mess karyawan, cukup jalan kaki 3-5 menit sudah sampai. Yang paling senang  waktu lihat anak-anak ngasih makan ikan di kolam depan kantor. Asyik banget mereka, sampai lupa waktu kalau nggak diingatkan. Sebelum ngasih makan ikan, mereka sudah bawa umpan ikan dari rumah. Kadang-kadang mereka juga cari serangga yang sembunyi di rumput, bunga-bunga sampai pohon, terus diambil dan dicemplungkan ke kolam.

Jpeg

Ikan-ikan itu tahu kalau ada orang yang mendekat mau kasih makan. Waktu saya ambil fotonya dari tempat yang agak tinggi, kelihatan mereka serius banget ngasih makan ikan. Habis dari kolam terus jalan ke atas, lihat contoh rumah adat dayak. Rumah adat ini dindingnya dari kulit kayu, bukan dari papan apalagi batu bata. Kemudian atapnya dari sirap pohon ulin. Posisinya ada di atas kolam ikan. Bentuknya rumah panggung. Jadi kalau mau naik  harus meniti anak tangga yang dibuat dari batang pohon ulin, terus untuk pijakannya dibikin cekungan-cekungan di batangnya. Bentuk tangga ini sekilas mirip badan manusia, di ujungnya dipahat berbentuk kepala manusia.

Sebenarnya rumah adat ini dibuat perusahaan sebagai contoh kalau ada tamu- tamu yang ingin lihat seperti apa sih rumah adat orang dayak itu. Karena di desa-desa, saat ini rumah seperti itu sudah jarang dibangun warga. Mereka  memilih membuat rumah berdinding semen dan beratap seng.

Nggak terasa hari sudah siang, saatnya untuk makan dan istirahat. Waktu itu saya janji sama anak-anak main ke sungainya sore hari saja. Namun apa hendak dikata, sekitar jam 3 sore tiba-tiba cuaca berubah. Yang awalnya pagi sampai siang cerah terus mendung dan hujan. Akhirnya acara main di sungai sore itu batal. Saya bilang ke Nabil, diganti hari lain saja ya Nak, karena biasanya kalau habis hujan arus sungainya deras.

Tanggal 26-31 Desember saya masih kerja seperti hari-hari biasa, kemungkinan ngajak main ke sungai bisanya setelah jam 4 sore. Selain waktunya pendek, itupun masih tergantung kondisi cuaca juga. Akhirnya janji main di sungai bisa dipenuhi waktu libur  1 Januari 2015. Dua hari sebelum mereka pulang ke Pontianak. Alhamdulillah, pagi itu cuaca cerah, sinar matahari terasa begitu hangat. Saya, istri dan anak-anak semuanya sudah bersiap-siap jalan kaki ke sungai. Jaraknya sih nggak jauh, sekitar 300 meter dari kamar dengan menyusuri jalanan yang menurun dan melewati beberapa anak tangga.

Baru saja keluar dari kamar sekitar jam 9, sudah ada anak tetangga yang mau ikut juga mandi di sungai.

Saya bilang,”Sudah minta ijin sama ayah belum?”.

“Sudah”, kata Farhat, teman main Nabil dan Andra selama di camp.

Rupanya bukan cuma dia saja yang ikut, Sulthon, kakaknya yang kelas 3 SD seperti Nabil juga ikut. Jadilah kami berdelapan pagi itu menuju sungai. Bekal makanan ringan dan minuman nggak lupa dibawa. Kalau urusan perbekalan ini tugasnya Aysha. Dia bawa ransel yang isinya kue-kue kering, aqua dan juga baju ganti untuk Nabil dan Andra. Nadia yang kebagian tugas jadi juru potret. Sebelum mandi di sungai, singgah  di gazebo, tarik napas dulu setelah letih jalan kaki. Makan kue dan minum sambil lihat anak-anak main di taman sekolah.

Jpeg

Puas main di taman, Nabil dan teman-temannya sudah nggak sabaran ingin ke sungai. Rupanya di sungai sudah ada karyawan lain dan keluarganya yang duluan mandi. Ada juga yang duduk-duduk di tepi sungai menyiapkan bekal makanan. Kalau main ke sungai memang sebaiknya bawa bekal makanan, karena habis mandi terasa dingin terus lapar. Jadi harus istirahat sebentar sambil ngemil. Coba saja lihat di foto, kelihatan kalau kalau Farhat yang habis mandi di sungai terus kedinginan dan menggigil hahaha… untung waktu itu bawa makanan.

Jpeg

Kadang-kadang teman-teman karyawan nggak cuma bawa bekal kue, mereka malah bawa ikan atau ayam yang sudah dibumbui dan dibakar di tepi sungai. Jadi setelah mandi atau berenang, perut terasa lapar langsung menyantap ikan atau ayam bakar….. sedap benar rasanya. Sensasinya itu, lho. Makan ikan bakar buatan sendiri di sungai sama keluarga. Sebuah momen yang jarang didapatkan kalau kita di tinggal kota.

Inilah acara liburan yang disenangi anak-anak. Pergi ke camp dan mandi di sungai. Rasanya memang lain dibandingkan kalau mandi dan berenang di kolam renang. Meski ada juga yang bilang, kok liburan bukan ke tempat keramaian, tapi menyepi ke hutan. Kepuasan batin juga kebahagiaan merasakan air sungai yang jernih dan segar, bermain di taman yang luas, menikmati pemandangan alam yang asri itulah yang menjadi kenangan manis bagi anak-anak dan istri.

Beda Usia, Beda Pula Kegiatannya

Agak susah juga mengatur waktu liburan buat keluarga yang punya anak SD, SMP dan SMA. Contohnya ya seperti saya ini. Anak-anak cowok yang masih SD, Andra dan Nabil maunya liburan akhir tahun ini bisa main ke camp. Bagi mereka ke camp itu menyenangkan karena bisa main sepuas hati. Ngasih makan ikan, mencari ikan atau kepiting di parit, berennang di sungai, meluncur di taman pakai triplek sampai berlari-lari mengusir ayam yang ada di halaman.

Tapi bagi kakaknya yang sulung, Nadia, liburan ini dia dan teman-temannya yang anggota Paskib punya agenda sendiri. Mengikuti Kemah Wisata. Kalau kakaknya yang kedua Aysha yang saya dengar dari ibunya sih belum ada rencana. Mungkin akan ikut juga liburan di camp.

Dulu waktu masih anak-anak, Nadia memang sering juga ke camp waktu liburan. Untuk liburan akhir Desember ini, saya bilang nanti ke campnya menyusul saja setelah acara Kemah Wisata selesai. Cuma saya belum tahu gimana tanggapannya. Apakah ikut juga ke camp atau nggak. Saya nggak bisa lagi memaksakan kehendak dan bilang, “Kamu harus ikut ke camp”.

Memasuki masa remaja seperti Nadia, kegiatan bersama teman-teman Paskibnya kayaknya lebih diprioritaskan daripada berlibur bersama keluarga. Kalau adik-adiknya sih senang diajak jalan-jalan.

Nggak hanya itu, di Pontianak saja kalau saya ajak ke mall atau toko buku, dia lebih sering memilih tinggal di rumah. Mengerjakan tugas sekolah. Kadang-kadang saya merasa kasihan juga melihat kegiatannya. Nggak kalah dengan orang kerja. Pagi jam setengah tujuh sudah berangkat. Siang setelah pulang sekolah masih latihan Paskib. Malamnya masih mengerjakan tugas sampai jam 11 malam.

Mungkin dia sudah merasa letih waktu pulang ke rumah, jadi nggak mau lagi diajak keluar rumah. Sebagai orangtua, saya dan istri lah yang harus bisa tahu kondisinya. Memahami dirinya yang sudah remaja, dunianya, kesibukan dan seabrek kegiatannya. Bukannya dia yang malah diminta untuk menuruti semua keinginan orangtua.

Tahun ini Nggak Mudik

Tahun ini, saya dan keluarga tidak mudik ke tempat orangtua di Jogja dan Semarang. Sesuai hasil kesepakatan dengan istri dan anak-anak, rencana merayakan lebaran diputuskan di Pontianak. Sudah cukup lama tidak bersilaturahmi dengan tetangga dan teman-teman kerja. Dingat-ingat, sudah cukup lama juga tidak berlebaran di Pontianak. Terakhir 5 tahun yang lalu.

Tahun lalu? Sama saja. Saya malah lebaran di camp. Kalau yang bekerja di kota, biasanya sang ayah atau suami yang pulang ke rumah dan sudah ditunggu anak-anak dan istri tercinta.

Karena saya kerja di hutan dan tinggal di camp, malah sebaliknya. Keluarga yang datang ke tempat kerja. Istri dan empat orang anak berangkat dari Pontianak menumpang bis malam sekitar 10 jam. Saya yang datang menjemput mereka di Nanga Pinoh.

Tiba di Nanga Pinoh dilanjutkan menggunakan kendaraan kijang carteran ke logpond, tempat pengumpulan kayu bulat yang berada di tepi sungai Melawi. Waktu tempuhnya sekitar 1 jam 15 menit. Dari sini dilanjutkan lagi menggunakan kendaraan perusahaan ke lokasi base camp sekitar 45 menit. Jadi total perjalanan Pontianak – Nanga Pinoh – Base Camp sekitar 12 jam.

Ada yang disenangi anak-anak saya kalau berlebaran di camp. Apa itu? Berlebaran sambil berwisata. Untuk yang nomor tiga dan empat, Nabil dan Andra, cowok-cowok yang umurnya 5 dan 6 tahun, lebaran di camp berarti bermain sepuasnya. Memberi makan ikan di kolam depan kantor dan bermain di sungai Ella Hulu yang airnya jernih. Segala macam permainan di taman sekolah juga dicoba.  Jungkat-jungkit, papan luncuran, ayunan hingga memanjat dinding dari tali.

Bagi dua orang kakaknya yang cewek, liburan di camp berarti bisa menyalurkan hobi. Nadia, sulung yang punya kegemaran memotret senang bisa mendapatkan obyek-obyek baru yang tidak ada di kota. Lingkungan base camp yang berbukit-bukit, taman di sekitar kantor, mess karyawan yang rapi sampai kondisi hutan yang masih asri. Hasil jepretannya lumayan juga. Bagi siapa saja yang punya hobi fotografi, pasti senang melihat begitu banyak obyek bagus yang bisa diabadikan di camp.

Untuk anak kedua, Aysha, liburan di camp berarti bisa bermain-main dengan teman-teman sebaya yang cuma setahun sekali bertemu. Kapan? Kalau tidak waktu libur tahun ajaran baru ya pas lebaran.

Tidak hanya itu, ada satu momen khas yang sering diingat anak-anak waktu lebaran di camp. Apa itu? Berbalas kunjungan. Selesai sholat ied, bisanya ada kunjungan teman-teman kerja ke rumah. Sebagai tuan rumah, menghidangkan berbagai jenis kue dan minuman sudah merupakan tradisi yang tidak pernah ketinggalan.

Setelah bersalaman dan ngobrol-ngobrol sebentar, mereka akan pamit dan berkunjung ke rumah keluarga lainnya. Setelah tamu pulang semua, Giliran saya dan keluarga yang berkunjung ke teman-teman kerja yang lainnya, terutama yang sudah bekeluarga. Waktunya bisa siang atau sore harinya. Dan kunjungan balasan ini afdolnya bisa dilakukan bersama-sama dengan keluarga lainnya yang sudah dikunjungi.

Anak-anak, terutama yang kecil-kecil senang kalau ikut kunjungan balasan. Saya juga heran. Biasanya kalau di Pontianak diajak ke tetangga atau teman istri saya, mereka jarang ada yang mau. Tetapi waktu di camp, diajak berkeliling ke rumah-rumah, mereka justru bersemangat. Setelah diselidiki, ternyata waktu berkunjung keliling ke rumah-rumah, mereka senang melihat dan mencoba berbagai kue yang dihidangkan tuan rumah. Bermacam-macam kue basah, kue kering, manisan, permen baik buatan toko atau buatan sendiri, secara khusus disajikan di atas meja plus minumannya. Minumannya pun beraneka ragam : aqua, minuman kaleng, sirup.

Pengalaman seperti itu yang tidak mereka jumpai ketika berlebaran di tempat kakek neneknya. Peristiwa silaturahmi bergantian atau saling berbalas kunjungan yang tidak dialami ketika anak-anak mudik. Beda tempat memang beda budaya.

Di Jogja atau Semarang, kalau kita ketemu teman dan keluarganya dilapangan selesai sholat Ied, kemudian bersalaman sudah diartikan bersilaturahmi. Bertemu dengan tetangga di depan pagar rumah dan bersalaman sudah dianggap bersilaturahmi.

Namun di Pontianak atau di base camp lain lagi. Namanya bersilaturahmi yang mesti berkunjung ke rumah dan mencicipi hidangan yang disajikan. Tidak hanya itu, ada kunjungan balasan bagi tuan rumah ke tempat tinggal tamunya. Terutma bagi mereka yang sudah bekeluarga. Mirip dengan blogwalking kalau di dunia blogging. Datang dan meninggalkan jejak dengan berkomentar.