Dikira sudah Kuliah

Jpeg

Ini cerita istri waktu nemenin anak kedua, Aysha, belanja gadget di Jogjatronik. Waktu itu kami sudah dapat laptop yang dinginkan. Sambil nunggu laptop diinstall dan disetting, kami bertiga: saya, istri dan Aysha jalan-jalan untuk cari tab.

Sampailah di satu gerai handphone dan dilayani oleh pria yang umurnya sekitar 20 tahunan. Lihat-lihat brosur dan contoh barangnya. Ada juga barangnya yang nggak ada di etalase, masnya bilang mau ambil dulu di tempat lain. Sambil nunggu masnya datang, saya dan istri bilang ke Aysha mau ambil laptop dulu dan pesan supaya Aysha tunggu saja di sini.

Selesai ambil laptop, saya dan istri kembali ke gerai handphone. Di situ saya lihat masnya lagi ngobrol sama Aysha. Melihat kami datang, obrolan mereka terhenti. Setelah mendapatkan barang yang dinginkan dan membayar lunas, kami pun pulang.

Sampai di rumah Aysha cerita sama mamanya.

“Tadi saya ditanya sama mas yang jual handphone di Jogjatronik”kata Aysha

“Ditanya apa?”kata mamanya.

“Kuliah dimana, mbak?”

“Nggak kuliah”

“SMA kelas berapa?”tanya penjaganya mengira Aysha anak SMA

“Nggak SMA”jawab Aysha.

Penjualnya penasaran dan tanya lagi”Masih sekolah?”

“Masih, SMP kelas 3″jawab Aysha pendek.

“Oooo, masih SMP”penjualnya kaget.

Anak-anak sekarang rata-rata pertumbuhan fisiknya cepat, termasuk Aysha. Jadi nggak heran kalau secara fisik masnya mengira Aysha sudah kuliah, padahal baru SMP. Kalau anak-anak SMP atau SMA  pakai pakaian biasa terus pergi ke kampus dan ikut kuliah, mungkin banyak yang mengira mereka sudah mahasiswa atau mahasiswi ya 🙂

Iklan

Belajar Transfer File di Gawai dari Anak

Memang betul kalau anak-anak sekarang lebih akrab dengan perangkat gawai dibandingkan orangtua. Termasuk dalam hal mengoperasikan fitur-fitur di dalamnya. Contohnya ketika saya kesulitan mentransfer foto dari smartphone android ke BlackBerry (BB). Yang saya tahu bluetooth keduanya harus diaktifkan. Sudah saya coba seperti itu tapi file foto dari android nggak terkirim ke BB.

Satu-persatu teman kantor yang terbiasa mengoperasikan gawai saya tanya. Jawabannya bermacam-macam. Ada yang bilang, “Wah kalau BB seri 6 memang agak susah kalau transfer data dengan android. Beda kalau seri 10.

Ada juga yang bilang,”Memori BB-nya penuh, Pak. Jadi sebagian fotonya harus dihapus dulu”. Kalau saran yang pertama tidak saya praktekkan karena berarti saya harus ganti gawai dulu baru bisa transfer foto. Saran yang kedua saya coba dan ternyata juga belum bisa mentransfer file.

Setelah sampai di rumah, saya tanya sama si sulung, Dea, yang saat ini kelas XI,”Gimana sih, kalau pindahkan foto dari android ke BB. Papa sudah coba pakai bluetooth tapi nggak bisa”

“Bluetoothnya udah diaktifin?”

“Sudah. Nih, coba lihat”sambil saya serahkan kedua gadget itu kepadanya.

Saat keluar dari kamar saya tanya,“Sudah bisa?”

“Sudah, Pa”. Terus dia menunjukkan langkah-langkahnya. Terakhir adalah sending using bluetooth yang ada di BB.

Ooo, rupanya perintah ini yang nggak saya pakai. Pantas kalau file nggak terkirim-kirim. Untuk urusan gawai dan pengoperasiannya, terkadang kita memang harus belajar dari anak-anak kita.

Berjumpa dengan Ibunda

image

Biasanya kami sekeluarga yang pulang ke Semarang dan berkunjung ke rumah orangtua.
Namun tahun ini agak berbeda. Justru ibunda yang terbang dari Semarang ke Pontianak via Jakarta ingin ketemu dengan saya, istri dan anak-anak.

Terakhir kali kami bertemu waktu bulan Agustus 2013. Itupun waktunya cukup singkat. Hanya satu hari menginap di Semarang besoknya sudah kembali ke Pontianak via Jogja.

Makanya, ketika dengar ibunda mau ke Pontianak, senang sekitar rasanya. Apalagi beliau rencananya mau seminggu di rumah.

Rencana seminggu di Pontianak pun batal saat ayahanda mengabarkan bahwa salah satu cucunya yang tinggal serumah dengan beliau demam dan muntah-muntah.

Ayahanda minta tolong saya supaya jadwal tiket pulangnya diajukan jadi hari Sabtu atau Minggu.

Akhirnya dalam kondisi cuaca hujan lebat, saya dan istri ke sore-sore ke kantor perwakilan maskapai untuk menjadwal ulang tiket pulang ibunda. Masih dapat memajukan jadwal meski harus biaya administrasi dan selisih harga tiket. Saya baru tahu kalau bepergian naik pesawat hari Sabtu atau Minggu itu harga tiketnya lebih mahal.

Tapi karena sudah dititipi pesan supaya cari tiket untuk kepulangan hari Sabtu atau Minggu, ya tetap diusahakan.

Kapankah Anakku Pulang?

Ya, itulah sebuah pertanyaan yang senantiasa muncul di benak orangtua yang anaknya pergi merantau.

Jauh di lubuk hati ayah dan ibu kita, tak dipungkiri ada sebersit keinginan. Bahwa diantara anak-anaknya yang merantau, orangtua tetap berharap satu di antara mereka akan pulang. Dan biasanya yang diharap adalah anak perempuannya.

Beberapa kali bertemu dengan teman perantau, topik pulang dan menetap di kampung halaman sering jadi obrolan.

Terbaru, ada salah seorang teman yg sudah pindah kerja jadi PNS. Istrinya juga berprofesi yang sama, tapi beda instansi.

Orangtua sang istri minta supaya mereka bisa pindah tugas sekaligus tinggal satu kota dgn orangtuanya. Sang istri yang anak bungsu dan memiliki dua saudara itu yang diharapkan pulang.

Padahal orangtua, sang anak serta menantunya itu masih tinggal dalam satu pulau, cuma beda kota.

“Terus gimana rumah yg sudah dibangun dan ditempati?”kata teman yang lain

“Ya dijual”jawabnya

Dalam kasus lain, ada juga teman yang merantau memutuskan memulangkan istri dan anak-anaknya ke Jawa. Bukan karena orangtuanya yang meminta, tapi karena sang istri yg nggak berani tinggal di Pontianak atau Nanga Pinoh, tanpa ada keluarga atau saudara.

Ada juga kasus lainnya, orangtua yang khawatir anak-anaknya yang sekolah di luar negeri nggak pulang ke Indonesia.

Karena sang anak setelah lulus, nggak kembali ke Indonesia. Tapi bekerja di negara dimana dia tinggal. Ditambah lagi, sang anak juga sudah mendapat permanen resident dari pemerintah setempat.

Memang pilihan yang  serba dilematis. Sebagai anak, kita juga ingin berbakti buat orangtua. Bisa tinggal berdekatan dan membantu di saat beliau menjalani hari-harinya di usia lanjut.

Namun di sisi lain, sebagai suami atau istri, bekerja mencari nafkah bagi dirinya dan keluarganya juga suatu hal yang tak bisa dihindari.

Perlu keputusan yg bijaksana menyikapi hal tersebut. Apakah memenuhi permintaan orangtua agar pulang atau tetap bertahan di tempat mencari nafkah dan tinggal berjauhan dari orangtua?

Menurut saya, tiap keluarga punya pilihan yang berbeda untuk menjalaninya.

Bagaimana sahabat blogger jika menghadapi kondisi seperti itu?