Produk Tersedia Saat Ada yang Memerlukannya

Hari libur kemarin (1/5), saya mengandangkan dua ekor ayam kampung. Ada pesanan satu ekor dari teman kerja yang disampaikan lewat tetangga.  Saya tangkap dua ekor ayam betina generasi kedua, supaya bisa dipilih mana yang disukai.

Semuanya ada empat ekor ayam yang masuk generasi kedua ini. Tiga betina dan satu jantan. Tapi yang betina satunya lagi agak liar dan nggak mudah ditangkap. Satunya lagi yang ayam jago saya biarkan karena jumlahnya lebih sedikit daripada yang betina.

Setelah ditimbang, diketahui beratnya 1,6 kg. Harga ayam kampung utuh di camp 75 ribu per kg, jadi totalnya 120 ribu. Pagi tadi uang pembelian itu dititipkan tetangga ke saya. Alhamdulillah, terus saya terima dan saya serahkan lagi yang 20 ribu buat mas Mul, tetangga yang bantu menimbang ayam dan menyerahkannya ke pembeli.

Rasanya bahagia bisa membantu teman. Membantu menyediakan produk berupa ayam kampung yang dibutuhkan. Nggak perlu cari jauh-jauh ke camp lain, ke kampung atau pesan di Nanga Pinoh yang semuanya itu perlu waktu, biaya tambahan dan kendaraan.

Iklan

Mencoba Beternak Ayam Kampung

Awalnya dari seekor induk ayam yang saya barter dengan baju lengan pendek seharga 100 ribu. Beberapa bulan kemudian induk itu bertelur tapi nggak ada satu pun yang menetas, telurnya busuk akibat sarangnya lembab. Generasi keduanya, dari 6 butir menetas jadi 4 ekor. Sekarang sudah sekitar setahun umurnya, 3 betina dan 1 jantan.

Generasi kedua dari 8 butir, semuanya menetas. Dalam perjalanan hidupnya, kedelapan ekor  umur 1 bulan saya lepaskan dari kandangnya. Sayangnya waktu saya tengok sore harinya tinggal 5 ekor. Saya langsung cari dan ketemu 2 ekor, satu ekor tertinggal di kandang sebelah dan satu ekor lagi kedinginan di bawah kandang. Satu ekor hilang entah kemana.

Umur tiga bulanan satu ekor lagi mati terapung di ember berisi  air. Mungkin anak ayam itu mau minum di ember dan tercebur nggak bisa keluar. Masih ada 6 ekor yang bertahan. Waktu saya ke pulang dari Jawa, saya hitung tinggal 5 ekor.. Berarti satu ekor lagi berkurang. Sampai sekarang kelimanya masih hidup dan semoga tumbuh sampai besar.

Memang perlu kesabaran beternak ayam kampung. Nggak seperti ayam pedaging atau ayam potong yang umur 40 hari sudah panen. Tapi tiap hari di kandang dan harus dikasih makan. Kandangnya dikasih lampu supaya hangat.

Kalau beternak ayam kampung, sesekali saja saya masukkan ke kandang. Lebih sering saya lepas dan ayamnya cari makan sendiri. Kadang-kadang juga saya cari sisa-sisa nasi dan sayuran di dapur buat umpannya. Lumayan daripada sisa makanan itu terbuang percuma.

Yang lucu kalau ada induk ayam lain yang datang, biasanya mereka berebut makanan setelah saya taburkan di dekat kandangnya. Karena saya kasih makan, ayam-ayam itu lama-kelamaan jinak. Setiap kali saya datang dan bilang kuuur…kuuur, mereka mendekat dan mengikuti langkah saya. Ada juga ayam-ayam punya tetangga yang ikut berebut dan mematuk makanan setiap kali saya tebarkan sisa makanan di halaman belakang.

Yang bikin saya takjub ketika saya berikan makanan ke induknya dan anak-anak ayamnya mendekat, sang induk mengalah dan membiarkan makanan itu dipatuk anak-anaknya. Berulang kali seperti itu, sampai semua anaknya kebagian makanan.

Beberapa waktu kemudian, keadaan berubah 180 derajat. Ketika sang induk akan bertelur dia langsung nggak mau menjaga anak-anaknya lagi. Dibiarkan anak-anaknya cari makan dan dia pun memisahkan diri. Bahkan ketika saya kasih sisa-sisa makanan, sang induk berebut makanan bahkan sampai mematuk anak-anaknya. Bisa jadi itu adalah hukum alam atau sunnatullah dalam perjalanan hidup anak-anak ayam agar mandiri sebelum menjadi dewasa.

Jual Ayam Kampung buat Pulang Kampung

Teman-teman kerja di camp sebagian asalnya dari luar Kalimantan. Jadi kalau mau pulang kampung kebanyakan naik pesawat. Rutenya bisa dari camp ke Pontianak dulu, setelah itu terbang ke Jakarta, Surabaya, Jogja, Solo, Bengkulu atau Padang.

Ada juga yang pulang lewat Palangkaraya. Perjalanannya lebih menantang. Lewat darat, sungai dan udara. Dari camp naik kendaraan ke ibukota kecamatan Bukit Raya. Setelah itu naik perahu klotok ke ibukota Kecamatan Katingan Hulu di Senamang. Lanjut lagi naik klotok yang lebih besar sampai Tumbang Hiran. Nah, dari tempat ini ada mobil taksi  menuju Kasongan dan Palangkaraya. Biasa berangkat jam 5 pagi sampai Palangkaraya jam 7 malam. 14 jam perjalanan, padahal  perjalanan dari Tumbang Senamang sampai Palangkaraya masih dalam satu propinsi, lho

Untuk ongkos pulang kampung mereka biasanya nunggu gajian. Karena akhir-akhir ini gajian sering telat, sebagian berpikir alternatif. Daripada nunggu gajian yang belum pasti, mendingan jual aset yang dimiliki. Termasuk seorang kawan yang punya ayam kampung belasan. Dia jual sepasang ayam kampung. Induk dan jagonya dibeli kepala tukang seharga 500 ribu.

Nah, waktu dia ditanya temannya pulang naik apa, dia bilang naik ayam air”katanya sambil guyon.

Temannya heran,”Ayam air? Apa ada maskapai baru?”

“Nggak, kemarin tuh ayamnya saya jual buat beli tiket pesawat buat pulang kampung “jelasnya

🙂

Belajar Bersabar dengan Berternak Hewan Piaraan

Jpeg

Dibandingkan beberapa teman kerja di camp, saya termasuk lambat dalam urusan berternak hewan piaraan. Ada yang punya piaraan ikan lele dan ayam kampung. Ada juga yang punya kolam ikan nila. Bahkan ada yang piara ayam, bebek dan ikan lele sekaligus, tapi setelah istri dan anak-anaknya pindah ke Jawa, bebek-bebeknya dijual.

Sejak April lalu saya beli satu induk ayam kampung. Tepatnya barter karena satu ekor ayam kampung itu saya tukar dengan sebuah baju. Ya, saya dan teman yang tinggalnya dekat kamar saya itu sepakat tukar menukar barang seperti jaman dahulu kala :-). Dia memang sejak kecil berternak ayam. Jadi untuk urusan bikin kandang, bikin sarang buat induk-induk ayam yang bertelur sampai menetas, ngasih makan sudah lebih terampil daripada saya.

Jpeg

Setelah sekitar tiga bulan, ayam hasil barter yang berbulu kuning keemasan dan hitam itu bertelur. Tapi sayang, dia berebut sarang dengan induk ayam yang lain. Jadi satu tempat dua induk. Alhasil, tak ada satu pun telur yang menetas. Faktor lain karena sarangnya dari tumbuhan-tumbuhan kering, jadi lembab dan mengundang kutu-kutu kecil atau gurem mengerumuni telurnya.

Belajar dari kejadian tersebut, untuk sarang diganti dengan bekas plastik karung beras. Saya lihat waktu yang keduanya kalinya bertelur ada enam butir, tapi nggak sempat lihat waktu menetas karena ada tugas ke Pontianak. Cuma saya titip ke mas Mul, supaya kalau sudah menetas induk dan anak-anak ayamnya dipindah.

Waktu saya kembali ke camp, alhamdulillah, saya dapat kabar empat butir menetas dan semua anaknya berbulu hitam. Nggak ada satupun yang bulunya mirip induknya. Senang sekali lihat anak-anak ayam itu. Setiap hari, dua sampai tiga kali saya tengok ke kandangnya dan kasih makan. Belum berani saya lepas karena banyak pemangsa anak-ayam. Kucing, burung hantu dan ular siap menyambar jika ada anak ayam yang terpisah dari induknya.

Dari berternak hewan piaraan itu, saya memetik pelajaran pentingnya bersabar untuk mendapatkan hasil. Beda dengan ayam putih atau ayam ras yang cepat besar badannya karena dikasih makanan terus di kandang tiap hari sampai waktunya mau dipotong.

Ayam kampung perlu waktu lebih lama untuk mencapai ukuran berat yang sama. Karena dia cari makan sendiri dengan mengais dan mematuk-matuk tanah. Tapi kelebihannya dia tahan dengan perubahan cuaca. Nggak mudah stres kalau kena hujan atau ada petir. Berteduh sebentar, setelah hujan reda dia cari makan lagi.

Mengasyikkan memang berternak ayam kampung. Semoga anak-anaknya terus hidup sampai besar, berkambang dan menghasilkan telur juga. Selain mengisi waktu luang, juga memenuhi kebutuhan teman-teman di camp yang ingin mengonsumsi daging dan telur ayam kampung. Lumayan.