Gabung di Blog English Club

Rupanya sesama blogger juga punya komunitas, lho. Nggak cuma komunitas seputar dunia blogging, tapi lebih dari itu, ada komunitas Blog English Club (BEC) alias perkumpulan para blogger untuk melatih percakapan bahasa Inggris. Ijin dulu nih sama mas Ryan kalau BEC-nya saja jadikan postingan.

Awalnya sih nggak sengaja. Waktu blogwalking di blognya mas Ryan, terus baca beberapa komen di postingannya. Nggak tahunya waktu itu ada komentar mas Dani yang nanyakan jadi nggak Blog English Clubnya? Waktu baca itu langsung saya komen, kalau sudah launching ikutan ya. Lumayan sudah lama nggak praktek bahasa Inggris meski sebatas obrolan yang ringan-ringan di medsos.

Gayung pun bersambut, mas Ryan yang super aktif. Langsung kirim email minta nomor telepon saya karena akan add di whatsapp. Setelah saya kasih nomor telepon, yang tampaknya akan berjalan lancar ternyata nggak semulus yang diduga. Nama saya nggak muncul di whatsapp. Bahkan mas Ryan sampai tanya via SMS apa nomor telepon yang dikasihkan itu nomor telepon aktif.

Setelah beberapa kali kami berdua otak-atik di Whatsapp, akhirnya ada kabar gembira juga, nama saya muncul. Terus saya diminta memperkenalkan diri di situ. Yang waktu itu lagi online selain mas Ryan, mas Dani, Nita juga Asmi alias Aaraminoe (ini artinya apa ya?)

Malam itu kami ngobrol mulai komen isi postingan sampai cerita empek-empek kapal selam :-). Ini karena ada anggota baru di BEC yang juga waktu itu memperkenalkan diri. Namanya kalau nggak salah Grant Gloria, asal dari Palembang. Hayoo tebak dia ini cewek apa cowok?

Besok siangnya obrolan di BEC dilanjut lagi, kali ini cerita masalah kerjaan. Waktu saya cerita saya sudah 20 tahun kerja di tempat yg sama, banyak yang pada heran. Kok, bisa ya kerja selama itu nggak pernah pindah-pindah. Saya terus terang waktu itu juga heran, rupanya banyak teman-teman di BEC yang mungkin semuanya lebih muda dari saya rata-rata sudah beberapa kali pindah kerja. Apa generasi sekarang memang mudah sekali pindah kerja ya?

Sebenarnya nggak apa-apa sih kalau memang di tempat kerja lama udah nggak ada chemistry dengan teman kerja atau pimpinan. Atau ada tawaran di tempat lain yang kariernya cetar membahana. Atau mungkin ada yang mau ngasih take home pay plus lain-lainnya yang lebih tinggi daripada tempat kerja lama. It’s ok. Every decision always carries its own risk, including when no decision is made.

Setelah itu, sorry ya friends, beberapa hari terakhir ini saya nggak aktif ngobrol di BEC karena sibuk dengan pekerjaan offline. Tapi saya senang bisa bergabung di BEC, ya minimal bisa dapat wadah dan teman untuk ngobrol dan nulis bahasa Inggris. Yang namanya belajar bahasa itu ‘kan yang saya tahu memang harus dipraktekkan. Harus dibiasakan ngomong atau nulis langsung, nggak cuma menghapal grammar atau vocabulary. Buat teman-teman blogger lainnya, gabung yuuuk di Blog English Club….

Mengajari Anak bahasa Inggris

Baru saja menemani anak-anak belajar.  Jadi ngeblognya setelah anak-anak selesai mengerjakan tugas dan tidur semua. Malam ini kok kebetulan ketiganya belajar matematika. Mulai Nadia yang kelas 10, Aysha kelas 7, sampai Andra yang baru kelas 3 SD.

Biasanya anak-anak kalau ada tugas disuruh mengerjakan dulu, kalau sudah ada soal-soal yang sulit baru ibunya yang mengajari. Nah, malam ini ada tugas untuk Andra yang mengharuskan saya juga turun tangan. Padahal waktu itu saya sedang diajak main catur sama si bungsu, Nabil.

Untuk anak seumur dia, tugasnya menurut saya memang nggak mudah. Pelajaran matematika yang soalnya dibuat dalam bahasa Inggris dan harus diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Seperti ini soalnya:

Ying ying earns $8 an hour for giving tuition. The time table on the right shows the number of hours she spends tutoring a week:

a) How many hours does she teach a week?

b) How much does she earn a week?

Di sebelah kanan soal ada tabel yang berisi nama hari dan berapa jam dia mengajar. Monday-5 hours, Tuesday-4 hours, Wednesday-6 hours, Thursday-no work, Friday-5 hours, Saturday-3 hours.

Andra yang baru kelas 3 mengerjakan soal seperti itu karena dia masuk dalam kelas non reguler. Istilahnya adalah kelas akselerasi. Mulai kelas 3,4,5 dan 6, untuk masing-masing tingkatan ada satu kelas akselerasi yang muridnya 20 anak per kelas. Jadi materi pelajarannya juga agak beda dengan yang kelas reguler dan dipadatkan.

Di sini peran anak dan orangtua sangat penting. Karena guru hanya memberikan pelajaran sekilas saja. Anak-anak lebih banyak diberikan tugas-tugas di rumah dan harus segera dikerjakan. Orangtua pun harus aktif. Ibaratnya sebagai guru kedua di rumah.

Seperti itulah yang dilakukan istri dan ketika saya di rumah.  Satu per satu kata dalam soal cerita itu diterjemahkan dulu dalam bahasa Indonesia.  Supaya paham apa maksud soal itu. Setelah itu baru pertanyaannya dijawab.

Bagi Andra, soal itu adalah hitungan matematika dasar dan nggak susah menjawabnya. Karena intinya adalah pelajaran hitungan berupa penambahan dan perkalian. Yang agak susah adalah mengajari dia supaya paham terjemahannya.

Untuk soal-soal seperti itu, sebagai orangtua, mau tidak mau saya harus turun tangan. Mengajarinya sampai mengerti. Dan saya sangat menikmati proses mengajari anak bisa mengerti bahasa Inggris. Kenapa? karena bahasa Inggris adalah pelajaran favorit ketika jaman SMP dan SMA.

Kebahagiaan Orangtua

Kemarin (31/5), saya terima SMS dari istri. Isinya mengabarkan kalau Aysha, anak kedua yang duduk di bangku kelas 5 SD, dapat nilai 100 untuk dua mata pelajaran : bahasa Inggris dan Kemuhammadiyahan. Nilai pelajaran lainnya pun rata-rata di atas 80.

Sebagai orangtua, rasa letih setelah bekerja langsung terasa hilang, begitu tahu nilai ulangan Caca, demikian dia biasa dipanggil, termasuk bagus. Beberapa hari sebelumnya, sang adik yang baru kelas 1 dan bersekolah di tempat yang sama juga mendapat nilai ulangan yang bagus.

Berbagai masalah dalam urusan pekerjaan pun jadi terasa ringan, begitu tahu prestasi belajar anak-anak termasuk lumayan.

Perasaan itu sama seperti yang saya alami dua tahun lalu, ketika mendapat kabar dari istri kalau nama anak pertama, Nadia, tercantum dalam papan pengumuman penerimaan siswa baru SMP. Walaupun diliputi ketidakpastian, karena setiap hari harus mengamati pergerakan peringkat nilai di papan pengumuman, sama seperti orang memelototi pergerakan saham di bursa efek, akhirnya pada hari terakhir, diumumkan bahwa dia diterima di sekolah yang diinginkan. Rasanya plong, begitu membaca namanya tercantum di papan pengumuman penerimaan siswa baru.

Saya bisa membayangkan, betapa bahagianya orangtua yang mengetahui anaknya lulus SMU atau Perguruan Tinggi dan mendapat predikat lulusan terbaik atau nilai tertinggi.

Saya bisa merasakan betapa bangganya orangtua Triawati Octavia, siswi SMUN 2 Kuningan yang meraih nilai tertinggi dalam Ujian Nasional (UN) tahun ini. Betapa terkejutnya guru-guru dan teman-temannya di sekolah, karena selama duduk di bangku SMU, dia tidak pernah juara kelas atau masuk dalam 3 besar.

Triawati pun tidak pernah menduga  namanya bakal mendadak terkenal, karena nilai UN-nya tertinggi se Indonesia : 58,6 atau rata-ratanya 9,77.  Rata-rata nilai UN yang mendekati sempurna : 10. Bahkan untuk mata pelajaran kimia, dia mendapat nilai 10.

Sebagai orangtua, salah satu kebahagiaan yang saya rasakan di dalam hati, adalah ketika mendengar dan mengetahui kalau anak-anak bisa terus belajar, melanjutkan sekolah di tempat yang dia inginkan dan juga berprestasi….

Terima kasih anakku…