Landmark Sebuah Bandara

Jpeg

Ada satu kegiatan yang saya sukai ketika berada di bandara. Memotret landmark sebuah bandara. Bentuk landmark itu bermacam-macam. Kalau di bandara Supadio Pontianak, calon penumpang dan pengantar bisa berfoto di depan pintu keberangkatan. Di situ pihak PT Angkasa Pura menyediakan sebuah papan setinggi sekitar 180 cm bertuliskan bandara Supadio Pontianak.

Ketika tiba di bandara Ahmad Yani Semarang,  saya berhenti sejenak melihat papan selamat datang. Ini adalah landmark bandara. Jumlahnya tidak hanya satu. Juga berada di sisi kiri dan kanan lorong masuk sebelum masuk ke ruang pengambilan bagasi.

Untuk apa memotret landmark atau penanda sebuah tempat? Untuk dibagikan ke whatsapp sebagai informasi bahwa saya sudah sampai di suatu kota. Bisa ke grup keluarga, teman waktu kuliah juga rekan seprofesi. Daripada saya memberitahu satu per satu lewat SMS atau telepon, saya pikir ini cara yang lebih mudah dan cepat.

Bagaimana dengan anda ketika datang di sebuah kota?

Iklan

Terbang dengan ATR 72-600

IMG01122-20130717-0944

“Saya beberapa kali dikomplain dan ditanya oleh masyarakat mengapa kalau dari Pontianak ke Palangkaraya atau Banjarmasin harus ke Jakarta dulu. Padahal, ini kan, sama sama di Pulau Kalimantan,” ujar Gubernur Kalbar, Cornelis, saat peresmian penggunaaan pesawat ATR 72 – 600 oleh maskapai Kalstar di Bandara Supadio, seperti dikutip dari harian Kompas cetak 6 Juli 2013.

Tepat enam hari setelah peresmian penggunaan pesawat ATR 72-600 itu, saya diberikan kesempatan merasakan terbang dengan pesawat yang digunakan oleh maskapai Kalstar itu.

Pesawat berbaling-baling tersebut melayani rute penerbangan Pontianak – Putussibau, Sintang dan Ketapang. Nggak hanya rute itu, pesawat juga melayani rute Pontianak – Semarang melalui Ketapang.

Ini benar-benar diluar dugaan saya.

Rezeki memang sudah ada yang mengatur, demikian orang bilang. Setelah selesai mengikuti rapat dua hari di Pontianak, tanggal 10-11 Juli, saya diminta oleh pimpinan untuk pulang ke camp keesokan harinya bersama 5 orang tamu.

Misinya, kembali ke tempat tugas sekalian mendampingi tamu yang akan berkunjung ke lapangan. Karena tergolong tamu VIP, mereka menumpang pesawat Kalstar dari Pontianak ke Sintang. Kalau nggak mendampingi tamu sih, biasanya saya pulang ke tempat kerja naik bis malam.

Bukan pertama kali ini saja saya naik Kalstar. Sebelumnya juga sudah pernah. Cuma yang bikin saya heran, kok di tiket tertulis keberangkatan pesawat jam 07.00? Biasanya, seperti bulan lalu, pesawat berangkat jam 15.30. Kok jam terbangnya berubah? Sudahlah, ikuti saja jadwalnya sesuai tiket. Besoknya, tanggal 12 Juli jam 5.30 saya sudah meluncur ke bandara.

Sebagai pendamping tamu, lebih baik datang duluan. Lucu kan kalau saya sampai di bandara, justru tamunya sudah menunggu duluan. Di bandara juga sudah ada  teman dari kantor yang ikut mengantar keberangkatan kami.

Agak khawatir juga sampai jam 06.00. tamu belum muncul di bandara. Padahal sudah check in tiket. PSC juga sudah dibayar. Cuma belum bisa boarding karena menunggu barang-barang bawaan tamu yang harus masuk bagasi.

Kontak via telepon pun berulang-ulang dilakukan untuk memastikan di mana posisi terakhir. Waktu pertama dihubungi masih sarapan di hotel, telepon kedua posisi sudah di perjalanan. Terbayang kalau sampai terlambat datang di bandara dan ketinggalan pesawat.

Lega juga akhirnya, jam 06.20, tamu dengan menggunakan dua kendaraan tiba di bandara. Buru-buru saya ajak tamu ke ruang pemeriksaan dan masuk ke ruang boarding.

Setelah berada di ruang boarding, ada pengumuman, ternyata pesawat delay saudara-saudara. Menurut informasi petugas bandara, ada masalah cuaca di sekitar bandara Susilo, Sintang. Setelah menunggu 20 menit, akhirnya sekitar jam 07.20 kami boarding dan naik bis menuju pesawat.

Dibandingkan pesawat sebelumnya, pesawat ini kapasitas kursinya lebih banyak. Saya hitung ada 72 tempat duduk. Empat baris ke samping dengan susunan dua-dua dan delapan baris ke belakang. Saya baru tahu arti ATR 72 – 600, angka 72 itu mungkin menunjukkan kapasitas tempat duduk atau penumpangnya. Kalau 600 artinya apa ya? Ada reman blogger yang bisa menjelaskan?

Suasana di kabin agak lengang. Jumah penumpang hanya separuh dari jumlah kursi yang ada. Selain jumlah penumpang, perbedaan dengan generasi pesawat sebelumnya adalah ketinggian terbang.

Kalau ATR yang kapasitasnya 40 orang yang pernah saya posting di sini, ketinggian terbangnya 9.000 feet. Nah, ATR 72 – 600 ini terbang hingga ketinggian 12.000 feet atau 4.000 meter di atas permukaan laut. Waktu tempuhnya lebih cepat 2 menit dibanding pesawat generasi sebelumnya, Pontianak – Sintang  hanya 33 menit. Bandingkan kalau naik bus, perlu waktu sampai 10 jam. Capai deh 🙂

Karena menggunakan baling-baling dan terbang tidak terlalu tinggi dibandingkan pesawat bermesin jet, pemandangan di bawah pesawat masih nampak. Ini dia kesempatan untuk memotret beberapa gambar : gugusan awan, permukaan lahan berbukit,  dan suasana di dalam kabin pesawat.

IMG01115-20130712-0737

IMG01112-20130712-0735

IMG01110-20130712-0735

Meski memiliki kapasitas penumpang lebih banyak, ada satu hal yang nggak berbeda dengan seri sebelumnya. Apa itu? Di dalam pesawat, nggak pakai nomor kursi. Meski di tiket sudah tertera nomor kursi, di kabin pesawat ternyata nggak tercantum.

“Silakan bebas memilih kursi”kata salah satu pramugari kepada penumpang yang kebingungan mencari tempat duduknya sesuai tiket yang dipegang. Nah, lho. Kok bisa begitu ya?

Terbang di Ketinggian 9.000 Feet

naik pesawat

“Ketinggian pesawat ini berapa feet, mbak”tanya saya pada pramugari.

“Sembilan ribu feet, Pak”jawabnya sambil memberikan air minum dan sebungkus wafer.

Terbang dengan pesawat berbaling-baling memang beda dengan pesawat bermesin jet. Ini yang saya alami ketika naik Kalstar dari Sintang ke Pontianak (16/6).

Bukan pertama kali saya naik pesawat berbaling-baling, karena sebelumnya pernah dari Semarang ke Pontianak via Pangkalan Bun menggunakan Deraya. Sekitar tahun 2007, usai mudik lebaran.

Kali ini kesempatan itu datang lagi, sewaktu mengantar dua orang tamu pulang ke Pontianak. Tamu perusahaan yang harus transit di Bandara Supadio selama tiga jam, sebelum  terbang ke Jakarta dan selanjutnya ke Singapore.

Rasanya seperti mimpi, terbang sekitar 35 menit menggunakan Kalstar. Di postingan tahun lalu saya pernah menulis tentang pesawat yang melayani rute ini dengan judul Hanya 35 menit dari Pontianak ke Sintang.

Postingan yang menceritakan sewaktu menjemput tamu yang naik pesawat dari Pontianak ke Sintang. Nggak sampai setahun, yang awalnya diberi tugas menjemput, sekarang malah diminta ikut naik pesawat, mendampingi tamu pulang sampai ke Pontianak. Termasuk waktu berangkat dari Pontianak juga ikut naik pesawat ini.

Sewaktu ditugaskan menjemput tamu tahun lalu, dalam hati saya ada keinginan, kapan ya bisa naik pesawat itu. Sebersit keinginan yang akhirnya menjadi kenyataan. Benar-benar pengalaman yang nggak terlupakan.

Alhamdulillah, memang kita nggak boleh berhenti berkeinginan, bermimpi dan berharap, karena suatu saat hal itu dapat menjadi nyata dan kita alami.

Pukul 16.00 WIB pesawat Kalstar dari Pontianak mendarat di bandara Susilo Sintang. Balik lagi ke Pontianak pukul 16.25 WIB.

Antri naik pesawat

Saya baru tahu, ternyata pintu masuk ke pesawat hanya satu, di bagian belakang. Pintu ini sekaligus pintu keluar bagi penumpang yang hendak turun dari pesawat. Sementara pintu bagian depan digunakan menyimpan bagasi penumpang.

Setelah berada di dalam pesawat, ada yang berbeda dibandingkan naik pesawat bermesin jet. Ternyata penumpang bebas memilih kursi. Bebas? Ya, meskipun di tiket tercantum nomor kursi, ternyata di dalam kabin kenyataannya bisa lain.

Saya yang waktu berangkat dari Pontianak dapat kursi 6 B, setelah masuk pesawat harus cari tempat duduk lain karena kursi sudah diisi penumpang. Pramugari hanya membantu menunjukkan tempat duduk yang masih kosong untuk penumpang yang belum kebagian kursi, tanpa melihat nomornya. 

Karena paling belakang masuk ke pesawat, saya kebagian kursi baris kedua dari depan. Tepat di samping baling-baling sebelah kanan. Total jumlah kursi penumpang 48 buah. Satu baris berisi 4 kursi.  Formasi dua-dua dalam 12 baris.

Setelah duduk dan mengencangkan ikat pinggang, sering saya melihat baling-baling, mulai lepas landas sampai mendarat. Bukan tertarik, malah khawatir kalau baling-balingnya sampai lepas atau tiba-tiba berhenti pas pesawat di udara :-).

Namun ada satu hal yang menyenangkan terbang dengan pesawat berbaling-baling. Karena ketinggiannya 9.000 feet atau sekitar 3.000 meter, pemandangan di bawah terlihat jelas.

Beda kalau naik pesawat jet yang terbang di atas ketinggian 30.000 feet. Sejauh mata memandang, yang nampak hanya awan  bergulung-gulung. Terkecuali jika pesawat baru saja lepas landas atau akan mendarat.

Di dalam pesawat Kalstar, pemandangan di bawah beberapa kali saya jepret pakai Blackberry. Nggak bosan rasanya memandang alur Sungai Kapuas yang berkelok-kelok, jalan, rumah penduduk atau lahan yang baru dibuka untuk perkebunan.

Sungai Kapuas

9.000 feet

Belum puas memotret, terdengar pengumuman pramugari bahwa dalam beberapa menit, pesawat akan mendarat di Bandara Supadio dan para penumpang diminta mengenakan sabuk pengaman kembali. Buru-buru saya matikan smartphone dan kembali duduk manis.

Wow, benar-benar perjalanan yang singkat, nggak sampai satu jam. Jauh benar selisih waktunya dibandingkan kalau naik bis.

“Too long”kata salah seorang tamu ketika saya jelaskan perlu waktu 10 jam kalau naik bis dari Pontianak – Sintang atau sebaliknya.

 

Terbang bersama Garuda

Sebelumnya saya pernah cerita tentang perahu klotok dan bis. Kali ini saya mau cerita waktu terbang bersama Garuda Indonesia. Cerita ini lanjutan dari kisah tugas saya ke Jakarta seminggu yang lalu. Setelah tiga hari di Jakarta, akhirnya hari Kamis (19/7) saya pulang ke Pontianak.

Sebelum pulang, sehari sebelumnya saya sempatkan ke kantor untuk mengambil tiket pesawat. Setelah e-ticket saya terima dan baca, tercantum kode flight : GA 502. Berarti, pulang naik Garuda. Benar-benar kejutan dan tidak disangka. Semua terjadi di luar dugaan saya. Karena waktu berangkat pakai Sriwijaya, ternyata pulangnya naik Garuda.

Kalau lihat harga tiket Garuda, untuk ukuran kocek saya memang mahal? Sekitar 1,2 juta. Itu harga kelas ekonomi, lho. Tapi karena sudah disediakan perusahaan, masa saya tolak?

Untuk orang seperti saya, namanya naik pesawat bisa dihitung dengan jari. Terakhir kali tahun 2010, sewaktu pulang lebaran ke Jogja. Itupun pakai Batavia, langsung dari Pontianak.

Walaupun lama nggak naik pesawat, tapi saya tetap mengikuti perkembangan dunia penerbangan. Mulai jatuhnya Sukhoi Super Jet 100 di Gunung Salak, padatnya lalu lintas penerbangan di bandara Soekarno – Hatta, sampai produk pesawat CN 235 buatan PT DI yang justru banyak dipakai negara-negara lain : Korea Selatan, Thailand, Malaysia, dan Pakistan.

Khusus Garuda Indonesia, perkembangan flag carrier tersebut juga saya ikuti. Mungkin karena tertarik dengan berbagai inovasi jajaran direksi yang dipimpin oleh Dirutnya sekarang, Emirsyah Satar. Direksi yang sedang berada di puncak kinerja, antusias dan gairah kerja.

Saat ini, berbagai inovasi brand Garuda lebih bersuasana Indonesia. Menyediakan menu makanan khas Indonesia seperti soto, nasi pecel, nasi uduk. Penggantian seragam air crew yang lebih menonjolkan ciri khas Indonesia : baju lengan tiga perempat berwarna biru dan oranye dengan kebaya motif batik. Kelihatan anggun sekali. Hingga memperdengarkan lagu-lagu tanah air. Dengan demikian, setiap penumpang khususnya orang-orang asing yang naik Garuda, seperti sudah merasa berada di Indonesia.

Berbagai inovasi tersebut membuat Garuda makin terbang tinggi. Penambahan armada pesawat juga terus dilakukan. Value Garuda saat ini mencapai 18 trilyun. Bahkan mengungguli Malaysia Airlines, Thai Airways dan Air France. Di Asia Tenggara, Garuda cuma kalah dengan Singapore Airlines.

Tidak hanya itu, Garuda juga mengembangkan sayapnya berpromosi di video display di stadion Anfield, markas klub Liverpool. Musim kompetisi mendatang yang dimulai 19 Agustus 2012, setiap kali The Reds tampil di Anfield, iklan Garuda akan muncul di sisi stadion. Di Liga Primer Inggris, Garuda akan bersaing dengan maskapai Etihad dan Malaysia Airlines.

Sebagai warga negara, dengan prestasi seperti itu membuat saya bangga. Ternyata maskapai penerbangan kita nggak kalah dengan maskapai negara lain.

Waktu membaca perkembangan Garuda saat ini, saya sudah senang. Apalagi diberikan kesempatan terbang menggunakan Boeing 737 – 400. Tidak ketinggalan saya ambil beberapa gambar untuk kenang-kenangan. Mulai saat menunggu pesawat di pintu F7 Bandara Soekarno Hatta yang toiletnya sangat bersih, di kabin sampai mendarat di bandara Supadio.

Waktu berada di ruang boarding, jadwal keberangkatan pesawat GA 502 ternyata ditunda 20 menit dari jadwal semula, jam 10.25 WIB. Saya gunakan waktu untuk ke mushola, sholat dhuha dan melihat toilet di bagian bawah.

Cerita tentang toilet bandara, toilet di Soekarno Hatta termasuk tiga besar toilet terbersih dari seluruh bandara di Indonesia. Saya lihat ada dua orang petugas yang berjaga di toilet. Setiap ada bekas jejak kaki penumpang, langsung dibersihkan. Toiletnya bersih, mengkilap dan harum.

Di dalam pesawat, saya dapat kursi 12 B, di tengah-tengah. Tapi waktu mau menaruh tas dan dokumen, ternyata kabin di atas kursi sudah penuh. Saya lihat mbak-mbak pramugari juga lagi sibuk mengatur penumpang lainnya dan barang-barangnya. Mau ditaruh dimana tas dan dokumen yang saya bawa?

Saya coba atur lagi barang-barang penumpang lain yang ada di kabin, ternyata masih ada tempat. Cuma ada satu dokumen yang nggak muat dimasukkan ke dalam kabin. Akhirnya diletakkan di bawah dan jelas mengganggu posisi kaki untuk bersandar.

Setelah duduk dan mengencangkan sabuk pengaman, mbak pramugari pun membagikan permen. Sebelum lepas landas, saya tanya, “ Penumpang di 12 A mana, kok masih kosong Mbak? ” Sudah closed, Pak”. Wah, berarti kesempatan duduk dekat jendela dan saya langsung pindah posisi. Dokumen pun pindah juga, ada di bawah kursi 12 B tempat saya semula.

Detik-detik saat lepas landas adalah yang paling mendebarkan diri saya. Sejak pilot mengatakan “cabin crew, take off position”, saya tak henti-hentinya berdoa. Bacaan Basmalah, Subhanallah dan Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah terus saya ucapkan.

Alhamdulillan, akhirnya pesawat berhasil lepas landas dan mengangkasa di ketinggian 34.000 kaki atau sekitar 11.000 meter. Karena duduk dekat jendela, saya keluarkkan BB dan memotret pemandangan di bagian kiri pesawat. Inilah hasilnya.

Selesai memotret, sekitar jam 11.30 WIB, pramugari menghidangkan kotak makanan yang berisi burger mini dan roti isi daging, plus jelly kelapa. Pikiran saya, mungkin karena belum saatnya jam makan siang, jadi hidangan yang muncul roti. Lumayan untuk pengganjal perut, padahal saya berharap yang disajikan adalah nasi he….he….he….he…..
Sekitar jam 11.45 WIB, diumumkan oleh pramugari bahwa pesawat akan mendarat di bandara Supadio Pontianak 20 menit lagi.

Tepat pukul 12.05 WIB, syukur alhamdulillah, pesawat mendarat dengan selamat di bandara. Dua bis pun bersiap – siap menjemput penumpang untuk diantar ke ruang kedatangan. Pengalaman terbang bersama GA 502 pun berakhir di sini.
Mengutip kata-kata pramugari, “ Terima kasih telah terbang bersama Garuda. Sampai jumpa pada penerbangan Garuda selanjutnya “.

Referensi Bacaan :