Tetaplah Bergerak

Selama 20-an tahun lebih tinggal di Pontianak, belum pernah saya memgalami banjir seperti hari Minggu lalu.

Hampir setiap ruas jalan yang saya lewati digenangi air. 

Di jalan perdana, jalan Sutoyo apalagi daerah Purnama, saya harus hati-hati ketika mengemudikan kendaraan. Jangan sampai mogok di tengah jalan. Demikian juga pengendara mobil dan motor lainnya. Mereka juga pelan-pelan membawa kendaraannya.

Sebenarnya, kalau boleh memilih, dalam kondisi banjir dan cuaca masih mendung, lebih enak tinggal di rumah. Minum teh hangat sambil menikmati pisang goreng.

Namun saya dan istri tetap putuskan pergi karena banyak yang harus dikerjakan. Ke Puskesmas, kantor polisi, supermarket dan silaturahmi ke rumah temannya istri.

Banjir memang nggak bisa dihindari, namun bukan berarti membuat langkah kami terhemti. 

Sepanjang kita mengemudikan kendaraan dengan hati-hati, sering pakai gigi dua, genangan air di jalan pun bisa dilewati 

Ketika Banjir Mendatangkan Rejeki Bagi Warga Masyarakat

Banjir tak selalu identik dengan hambatan. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Bagi para pengguna jalan termasuk saya dan dua teman yang ditugaskan ke Pontianak dan Sintang, banjir di jalan induk km 3 arah logpond benar-benar menjadi penghalang perjalanan.

Namun bagi masyarakat, banjir adalah rejeki yang diberikan Tuhan. Sekali membantu menyeberangkan motor mereka mendapatkan 50 ribu rupiah dan 20 ribu untuk penumpang.

Lolos dari genangan air di km 5 dengan menerobos banjir menggunakan Hilux, di depan ada lagi hambatan. Kami turun dari mobil dan melihat apakah memungkinkan menerobos.

Oleh warga yang siap-siap menyeberangkan sepeda motor, kami diingatkan bahwa makin ke tengah air makin dalam. Kami sejenak amati apa yang dibilang warga. Ternyata benar, semakin rakit didorong ke arah tengah oleh empat orang, badan mereka semakin masuk ke dalam air hingga setinggi pinggang.

Hampir saja kami menyeberang naik sampan atau rakit. Beruntung bantuan datang. Dari logpond ada berita sedang kirimkan speed untuk jemput kami. Saat itu kami memutuskan balik lagi ke km 5.

Akhirnya kami tiba di logpond. Lanjut perjalanan menggunakan mobil avanza sampai Pinoh. Sarapan dulu dan teruskan lagi naik bis Damri. Dua orang kawan ke Pontianak, saya melanjutkan ke Sintang.

 

 

Meniti Jembatan

IMG00761-20121112-0906

Meski sudah belasan tahun di Kalimantan, mata serasa berkunang-kunang kalau harus berjalan meniti jembatan kayu bulat. Kalau jembatannya dari papan dan balok masih mendingan dan berani lewat. Tapi kalau sudah jembatan kayu bulat yang lebar lantainya  cuma seukuran tapak kaki, nanti dulu ah.

Ini seperti yang saya alami ketika satu jembatan runtuh akibat banjir di bulan Nopember 2012 lalu. Hujan deras sejak sore hari hingga malam menyebabkan sungai meluap dan merobohkan jembatan. Ruas jalan utama pun terputus.

Jika masih tetap ingin melanjutkan perjalanan, pilihannya cuma ada dua. Pertama, meniti batang kayu bulat sepanjang 10 meter di atas sungai. Kedua, menyeberang menggunakan rakit.

Alternatif pertama saya coba. Setapak demi setapak, coba berjalan di pangkal batang kayu bulat. Makin ke tengah, gerakan kaki terasa makin berat dan melambat. Akhirnya… ups terhenti juga jejak kaki. Masyarakat yang melihat saya berdiri mematung, berteriak menyemangati, ”Jangan lihat bawah, Pak. Terus saja jalan lihat ke depan”.

Teriakan masyarakat nggak mampu mendongkrak nyali untuk melanjutkan langkah hingga ke seberang. Belum sampai separuhnya, keringat dingin mulai mengalir, mata pun berkunang-kunang. Waktu meniti jembatan, pikiran nggak bisa fokus dan udah bayangkan yang nggak-nggak. Daripada jatuh ke sungai, akhirnya  balik lagi ketempat semula.

Pilihan kedua juga yang akhirnya diambil. Meski harus turun ke sungai dan membayar ongkos jasa rakit 10 ribu rupiah. Itu lebih baik, daripada saya harus berkeringat dingin dan mata berkunang-kunang meniti jembatan.

Bagi warga sekitar, meniti batang kayu bulat sudah seperti berjalan di permukaan tanah. Tanpa ragu dan khawatir terjatuh, mereka melenggang sambil membawa barang-barang. Melihat mereka berjalan, seperti pemain sirkus yang meniti tali tambang di arena pertunjukan.

Robohnya jembatan dan terputusnya jalan, di satu sisi menjadi sumber rezeki tersendiri bagi mereka. Warga begitu jeli dan kreatif melihat peluang usaha. Ada yang menawarkan jasa membawa barang melewati titian jembatan,  ada juga yang menyiapkan rakit dan siap mengantar penumpang ke seberang.

Kalau dipikir-pikir, selalu ada hikmah di balik sebuah kejadian. Hikmah yang dapat berbuah menjadi sumber rezeki yang tak terduga-duga. Menolong orang lain sambil berusaha menjemput rezekinya. Terbukti, tak ada  peristiwa yang terjadi dengan sia-sia dan tanpa makna. Semua memang tergantung bagaimana kita memaknai dan menyikapinya.