Dzikir Menyambut Tahun Baru 1438 HIJRIYAH

Jpeg

Pergantian tahun baru Hijriyah di camp ditandai dengan dzikir dan doa bersama selepas sholat maghrib berjamaah.

Jamaah yang diberitahu lewat facebook, pengumuman tertulis dan himbauan selepas sholat Jumat, datang ke masjid Al Adha di base camp. Orangtua, remaja dan anak-anak yang selama ini tinggal di camp lain, malam itu saling bertemu dan dilanjutkan dengan sholat maghrib berjamaah.

Jpeg

Setelah sholat maghrib,  dipimpin oleh karyawan perusahaan yang juga ketua masjid, bapak M Junaedi, dzikir dilantunkan. Dilanjutkan dengan membaca surat Yasin dan doa.

Jpeg

Meski beberapa anak belum bisa baca surat Yasin dan sibuk bermain, namun keinginannya untuk datang ke masjid perlu dihargai. Karena godaan yang dapat menarik mereka untuk tidak ke masjid saat maghrib adalah tayangan televisi. Tapi mereka lebih memilih tidak tinggal di rumah dan asyik nonton televisi atau main game.

Ketika waktu Isya datang, acara selesai dan dilanjutkan dengan sholat Isya berjamaah. Terasa sekali begitu tenteram dalam hati setelah berdzikir. Semua ganjalan dan uneg-uneg dalam hati pupus ketika doa-doa kepada Allah SWT dilantunkan.

Memang  hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang.

Selamat Tahun Baru 1438 H

Iklan

Kembali ke Base Camp Lagi

Jpeg

Setelah sekitar dua minggu menjalani cuti, akhir bulan Agustus lalu saya kembali ke base camp. Kembali pada rutinitas kerja di tengah rimba.

Waktu memang terasa cepat berjalan. Setelah dari Jogja, saya sempatkan ke Semarang dulu menengok orangtua. Naik bis Joglosemar. Menginap semalam di rumah bapak ibu dan besoknya baru terbang ke Pontianak.

Dari Semarang biasanya saya pilih penerbangan langsung ke Pontianak naik Kalstar. Tapi waktu mau beli tiket online, jadwal terbangnya jam sekitar 7 malam. Cari alternatif lain dan akhirnya saya pilih naik Sriwijaya Air yang berangkatnya jam 12 siang meski transit di Jakarta dulu. Harga tiketnya kurang lebih sekitar 700 ribu. Nah, kalau pulangnya itu memang di luar rencana, beda dengan waktu berangkat dari Pontianak yang memang saya rencanakan lewat Jakarta.

Menginap semalam di rumah di Pontianak, besok malamnya sudah berangkat lagi ke Nanga Pinoh naik bis Damri. Sampai di Pinoh istirahat sekitar jam 4.30, istirahat terus jam 8.30 lanjut lagi berangkat ke camp naik oplet dan dilanjutkan dengan kendaraan perusahaan.

Banyak pengalaman selama di perjalanan. Merasakan suasana baru. Ketemu teman-teman, orangtua dan sanak saudara. Juga menikmati kuliner khas kotanya, mencoba hal-hal baru seperti beli tiket kereta api online dan naik taksi Grab.

Kalau sudah seperti itu, rasanya travelling itu jadi satu kebutuhan.

Mengisi Kamis Malam dengan Yasinan

P_20160804_180902[1].jpg

Setiap Kamis malam, pengurus masjid di camp biasa mengadakan acara yasinan. Membaca surat Yasin bersama-sama jamaah. Pada saat memasuki hari Jumat dimana dalam perhitungan tahun Hijriyah pergantian hari dimulai ketika memasuki waktu Maghrib memang disunahkan membaca empat surat. Surat Al Mulk,  Al Waqiah, Yasin dan Al Kahfi.

Namun untuk acara di masjid, surat yang dibaca adalah Yasin. Waktunya setelah sholat maghrib berjamaah. Mungkin pembaca bertanya-tanya, kenapa jamaahnya banyak anak-anak? Kemana bapak-bapak atau orangtuanya?

Anak-anak yang bersekolah di base camp biasanya tinggal bersama ibunya atau kerabatnya. Sementara bapaknya bertugas di camp berbeda. Mereka tinggal di mess  base camp yang dekat dengan sekolah. Sebagian besar anak-anak itu murid SD dan lainnya murid TK.

Hanya pada saat hari libur ayahnya turun ke base camp. Biasanya pada saat peringatan hari besar Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj atau hari raya Idul Adha mereka datang dan bermalam di base camp. Setelah itu, saat hari kerja pagi-pagi waktu subuh mereka sudah kembali lagi ke lokasi kerjanya.

Saat liburan panjang misalkan akhir tahun atau pertengahan tahun, gantian anak-anak dan ibunya yang pulang ke tempat asalnya. Di camp tempat tinggal bapaknya yang waktu tempuhnya sekitar 1-1,5 jam.

Ada sebab lain kenapa anak-anak itu begitu semangat ikut acara yasinan meski sebagian mereka belum lancar membaca Al Qur’an. Saking semangatnya, mereka bahkan sering datang duluan di masjid dibandingkan bapak-bapaknya. Apa penyebab mereka begitu semangat?

Hidangan berupa snack yang dibagikan setelah yasinan. Pengurus masjid biasanya memesan kue-kue basah seperti bakwan, nagasari, tahu isi dan donat dari ibu-ibu yang dihidangkan setelah yasinan selesai.

Namun tidak hanya waktu Kamis malam saja mereka ke masjid. Hari-hari lainnya mereka juga datang dan rajin sholat maghrib berjamaah. Membaca sholawat pakai pengeras suara bergantian. Juga minta diajari ngaji selesai sholat.

Bersyukur anak-anak itu dengan senang hati datang ke masjid tanpa disuruh-suruh. Meski kadang juga membuat repot pengurus masjid karena suka teriak-teriak dan berlarian sebelum sholat dimulai. Namun tak mengapa, kesukaan anak-anak ke masjid itu semoga membekas di hati anak-anak dan berlanjut hingga dewasa kelak.

 

 

Di Tengah Hutan Kalimantan

IMG_4961

Pemandangan di sekitar tempat kerja yang sehari-hari terkesan biasa, bila sedikit kita perhatikan akan terasa luar biasa. Mungkin karena kita tiap hari melihat obyek-obyek yang sama, jadi tidak ada yang terlihat istimewa.

Hal seperti itu juga sering saya alami. Setiap hari melihat pemandangan hutan dengan pepohonan yang hijau-hijau, lama-kelamaan indahnya warna hijau tak lagi menjadi sesuatu yang istimewa.

IMG_4963

Namun berbeda dengan kesan dari tamu. Mereka yang baru pertama datang sering bilang kalau pemandangan di sekitar base camp memang bagus. Kantor, taman, kolam, kondisi hutan di sekitar base camp suasananya terlihat alami, asri, bersih dan tertata. Mendengar komentar mereka, saya baru tersadar. Rupanya pemandangan yang selama ini saya anggap biasa-biasa saja, bagi mereka justru sesuatu yang berharga.

Oleh karena itu tidak heran, jika ada waktu luang atau menjelang pulang, biasanya mereka tak lupa memotret obyek-obyek tersebut. Apalagi yang hobi fotografi. Melihat pemandangan tersebut seperti menemukan harta karun yang tak ternilai.

Terkadang ada juga rekan-rekan kerja dari camp lainnya yang singgah. Sambil menunggu selesai mengurus surat keterangan bepergian di kantor, mereka memanfaatkan waktu untuk berpose di taman. Temannya yang mengarahkan dan memotret menggunakan kamera telepon seluler.

Melihat gaya mereka ketika dipotret, saya sering senyum-senyum. Ada yang duduk di atas batu di tengah kolam, berdiri di samping tanaman atau  berdiri dengan latar belakang hutan yang terlihat seperti lukisan alam.

IMG_4967

Bagi tamu-tamu yang hampir setiap hari bekerja dan tinggal di kota besar, pemandangan indah seperti itu mungkin hanya bisa dinikmati ketika mereka liburan ke luar kota dan mengunjungi tempat-tempat wisata alam. Menikmati suasana alam terbuka, merasakan segarnya udara pegunungan dan sejenak melupakan rutinitas pekerjaan. Juga kemacetan lalu lintas dan polusi udara yang semakin tinggi.

Melihat apa yang dilakukan oleh tamu-tamu, akhirnya saya berpikir bahwa semua pemandangan yang indah itu adalah anugerah yang harus disyukuri. Tanpa harus membayar dan bersusah payah mendapatkannya, saya bisa menikmatinya di sepanjang waktu.

Dan sebagai salah satu bentuk rasa syukur itu, beberapa hasil jepretan saya tampilkan di postingan ini.

Tahun ini Nggak Mudik

Tahun ini, saya dan keluarga tidak mudik ke tempat orangtua di Jogja dan Semarang. Sesuai hasil kesepakatan dengan istri dan anak-anak, rencana merayakan lebaran diputuskan di Pontianak. Sudah cukup lama tidak bersilaturahmi dengan tetangga dan teman-teman kerja. Dingat-ingat, sudah cukup lama juga tidak berlebaran di Pontianak. Terakhir 5 tahun yang lalu.

Tahun lalu? Sama saja. Saya malah lebaran di camp. Kalau yang bekerja di kota, biasanya sang ayah atau suami yang pulang ke rumah dan sudah ditunggu anak-anak dan istri tercinta.

Karena saya kerja di hutan dan tinggal di camp, malah sebaliknya. Keluarga yang datang ke tempat kerja. Istri dan empat orang anak berangkat dari Pontianak menumpang bis malam sekitar 10 jam. Saya yang datang menjemput mereka di Nanga Pinoh.

Tiba di Nanga Pinoh dilanjutkan menggunakan kendaraan kijang carteran ke logpond, tempat pengumpulan kayu bulat yang berada di tepi sungai Melawi. Waktu tempuhnya sekitar 1 jam 15 menit. Dari sini dilanjutkan lagi menggunakan kendaraan perusahaan ke lokasi base camp sekitar 45 menit. Jadi total perjalanan Pontianak – Nanga Pinoh – Base Camp sekitar 12 jam.

Ada yang disenangi anak-anak saya kalau berlebaran di camp. Apa itu? Berlebaran sambil berwisata. Untuk yang nomor tiga dan empat, Nabil dan Andra, cowok-cowok yang umurnya 5 dan 6 tahun, lebaran di camp berarti bermain sepuasnya. Memberi makan ikan di kolam depan kantor dan bermain di sungai Ella Hulu yang airnya jernih. Segala macam permainan di taman sekolah juga dicoba.  Jungkat-jungkit, papan luncuran, ayunan hingga memanjat dinding dari tali.

Bagi dua orang kakaknya yang cewek, liburan di camp berarti bisa menyalurkan hobi. Nadia, sulung yang punya kegemaran memotret senang bisa mendapatkan obyek-obyek baru yang tidak ada di kota. Lingkungan base camp yang berbukit-bukit, taman di sekitar kantor, mess karyawan yang rapi sampai kondisi hutan yang masih asri. Hasil jepretannya lumayan juga. Bagi siapa saja yang punya hobi fotografi, pasti senang melihat begitu banyak obyek bagus yang bisa diabadikan di camp.

Untuk anak kedua, Aysha, liburan di camp berarti bisa bermain-main dengan teman-teman sebaya yang cuma setahun sekali bertemu. Kapan? Kalau tidak waktu libur tahun ajaran baru ya pas lebaran.

Tidak hanya itu, ada satu momen khas yang sering diingat anak-anak waktu lebaran di camp. Apa itu? Berbalas kunjungan. Selesai sholat ied, bisanya ada kunjungan teman-teman kerja ke rumah. Sebagai tuan rumah, menghidangkan berbagai jenis kue dan minuman sudah merupakan tradisi yang tidak pernah ketinggalan.

Setelah bersalaman dan ngobrol-ngobrol sebentar, mereka akan pamit dan berkunjung ke rumah keluarga lainnya. Setelah tamu pulang semua, Giliran saya dan keluarga yang berkunjung ke teman-teman kerja yang lainnya, terutama yang sudah bekeluarga. Waktunya bisa siang atau sore harinya. Dan kunjungan balasan ini afdolnya bisa dilakukan bersama-sama dengan keluarga lainnya yang sudah dikunjungi.

Anak-anak, terutama yang kecil-kecil senang kalau ikut kunjungan balasan. Saya juga heran. Biasanya kalau di Pontianak diajak ke tetangga atau teman istri saya, mereka jarang ada yang mau. Tetapi waktu di camp, diajak berkeliling ke rumah-rumah, mereka justru bersemangat. Setelah diselidiki, ternyata waktu berkunjung keliling ke rumah-rumah, mereka senang melihat dan mencoba berbagai kue yang dihidangkan tuan rumah. Bermacam-macam kue basah, kue kering, manisan, permen baik buatan toko atau buatan sendiri, secara khusus disajikan di atas meja plus minumannya. Minumannya pun beraneka ragam : aqua, minuman kaleng, sirup.

Pengalaman seperti itu yang tidak mereka jumpai ketika berlebaran di tempat kakek neneknya. Peristiwa silaturahmi bergantian atau saling berbalas kunjungan yang tidak dialami ketika anak-anak mudik. Beda tempat memang beda budaya.

Di Jogja atau Semarang, kalau kita ketemu teman dan keluarganya dilapangan selesai sholat Ied, kemudian bersalaman sudah diartikan bersilaturahmi. Bertemu dengan tetangga di depan pagar rumah dan bersalaman sudah dianggap bersilaturahmi.

Namun di Pontianak atau di base camp lain lagi. Namanya bersilaturahmi yang mesti berkunjung ke rumah dan mencicipi hidangan yang disajikan. Tidak hanya itu, ada kunjungan balasan bagi tuan rumah ke tempat tinggal tamunya. Terutma bagi mereka yang sudah bekeluarga. Mirip dengan blogwalking kalau di dunia blogging. Datang dan meninggalkan jejak dengan berkomentar.

Sinyal HSDPA di Tengah Rimba

Saat ini, saya tak perlu lagi menempuh perjalanan sampai puluhan kilometer untuk sekadar mendapatkan sinyal GPRS. Tak perlu lagi di malam hari, beramai-ramai sampai belasan orang menumpang kendaraan, sekadar kirim kabar pada keluarga atau orang-orang tercinta lewat telepon.

Sebelum tahun 2010, ketika belum ada jaringan telekomunikasi seluler di tempat kerja, kalau ingin sekadar menelepon, benar-benar perlu perjuangan untuk mendapatkan sinyal telepon seluler (HP).

Perjuangan biasanya dimulai ketika selesai makan malam. Orang-orang yang mau cari sinyal, istilah kami para pemburu sinyal, langsung siap-siap dan menunggu di gazebo. Selain HP, pulsa secukupnya, headset dan batere charger juga tidak lupa dibawa.

Perjalanan pun dimulai sekitar jam 7 malam, menggunakan kendaraan yang bisa memuat 12 orang. Personil yang datang terlambat jangan harap bisa ikut, pasti ditinggal dan tunggu giliran esok hari. Ya Robbana, mau menelepon saja harus pakai masa tunggu sehari. Ada juga yang datang terlambat dan belum makan malam, tapi dia nekat berangkat karena kendaraan masih bisa muat penumpang.

Sampai di lokasi sekitar jam 8, kemudian paling lambat jam 11 harus sudah pulang ke base camp. Ini berlaku untuk hari-hari kerja. Lumayan, ada waktu tiga jam untuk menelepon atau berselancar di dunia maya.

Bagi yang tinggal di kota, mungkin agak mengherankan, masa untuk menelepon sampai berjam-jam? Bagaimana tidak? Bagi rekan – rekan yang tinggal di kota, kegiatan menelepon, menerima panggilan masuk atau buka internet bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Di rumah, di sekolah, di kantor, atau di jalan. 24 jam sehari sinyal tersedia, bahkan dari beberapa operator seluler.

Tetapi bagi yang tinggal dan bekerja di tengah rimba belantara, kegiatan berburu sinyal dan menelepon adalah kesempatan langka yang harus digunakan sebaik-baiknya. Apalagi hanya terdapat satu operator seluler.

Pada saat berburu sinyal, sebenarnya ada beberapa lokasi yang bisa menerima sinyal HP, tidak hanya di satu titik. Ada di km 0, km 10, km 14 dan km 22, meskipun hanya ada satu menara BTS (Base Transmission Station) yang berada di ibukota kecamatan. Waktu tempuhnya sekitar 15 menit naik motor dari km 0. Kami sendiri sehari-hari berada di km 35. Kalau pas lagi sial,  sudah disempatkan pergi, tiba di lokasi, ternyata nggak ada sinyal.

Lokasi yang paling banyak peminatnya memang di km 0, karena di tempat itu tersedia warung yang menyediakan makanan, minuman dan voucher pulsa. Selesai menelepon, bisa ngopi, ngeteh atau ngemi dulu. Lokasinya pun luas dan para pemburu sinyal bisa leluasa memilih. Apakah mau di warung, di kantor, di masjid atau di bawah pohon karet (asal tahan kena angin malam saja).

Kalau besoknya hari libur, beberapa orang pemburu sinyal tidak ikut pulang ke base camp, tetapi menginap dan pulang esok harinya. Tidurnya dimana? Di tempat kawannya atau di masjid.

Kalau ingat kejadian waktu itu, saya sering tersenyum geli. Namun sejak tahun 2010, kegiatan berburu sinyal mulai hilang, setelah salah satu operator seluler yaitu Telkomsel mendirikan minitower. Pemasangan  jaringan telekomunikasi seluler di base camp benar-benar memberikan kemudahan bagi saya, rekan-rekan kerja dan keluarganya untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Tidak tanggung-tanggung, jaringan yang didirikan bukan hanya berkualitas 2G, tetapi 3G atau HSDPA.

Saya baru tahu, rupanya menara yang didirikan dan cara pemasangannya berbeda dengan menara yang biasa didirikan di kota-kota. Istilahnya minitower combat. Menara yang dipasang di base camp tersebut dibawa menggunakan truk khusus dari Jakarta. Melihat bentuk  truknya, memang kendaraan tersebut khusus dibuat  menggendong peralatan jaringan telekomunikasi seluler, seperti yang terlihat pada gambar.

Ada tiga perlengkapan utama pemasangan menara yang berada pada truk : menara, sumber energi atau batere dan kaki penumpu. Bentuk menaranya bukan disambung, tetapi seperti antene radio yang terdiri dari beberapa ruas dan bisa ditarik keluar sehingga utuh.

Ukuran menara ini lebih pendek daripada menara yang biasa dipasang di kota-kota. Selain itu,  pemasangannya juga berada di tempat yang agak tinggi, agar bisa menerima sinyal  menara induk  di kecamatan.

Tinggi lokasi untuk pemasangan menara sekitar 340 m di atas permukaan laut. Petugas dari Telkomsel sebelumnya telah melakukan survey di beberapa tempat menggunakan GPS, untuk menentukan lokasi yang tepat (tidak terhalang bukit, pepohonan atau bangunan). Radius sinyal HSDPA yang diterima memang agak pendek, sekitar 5 km.

Bukan berarti setelah menara didirikan, tidak ada masalah. Kalau batere terlambat diisi,  sinyal  tiba-tiba hilang dan tidak ada layanan. Padahal lagi asyik-asyiknya menelepon, chatting, ngeblog atau upload data. Tetapi untuk ukuran kami yang berada di daerah pedalaman, fasilitas sinyal HSDPA atau 3G tersebut lebih dari cukup dan lumayan bagus. Minimal daripada tidak ada sinyal sama sekali.

Banyak tamu yang datang tidak menyangka, ternyata di tengah rimba ada jaringan HSDPA. Sekali waktu, pernah saya bicara dengan seorang teman dari Jakarta lewat telepon. Dia bertanya,” Ini posisi dimana? Di Pontianak atau di camp? Suaranya kok jelas sekali ”.  Awalnya dia nggak percaya, kalau waktu itu posisi saya berada di base camp, di tengah rimba. Setelah saya jelaskan, baru dia percaya.