Bekerja sebagai KARYAWAN, Berpikir dan Bertindak seperti ENTREPRENEUR

Meski sebagian dari kita bekerja sebagai karyawan, bukan berarti pola pikir, sikap serta tindakan kita tidak bisa mengadopsi sikap dan perilaku entrepreneur. Jangan diartikan entrepreneur itu cuma terkait dengan urusan dagang, lho, alias wiraswasta atau pebisnis.

Ini pelajaran yang saya dapatkan ketika mengikuti penyegaran karyawan teknis yang disampaikan oleh instruktur dari salah satu lembaga pemerintah. Apa ciri-ciri seseorang yang berpola pikir dan bersikap entrepreneur?

1. Bekerja tidak dibatasi Jam dan Hari Kerja
Yang namanya pegawai, kerjanya memang dibatasi jam dan juga hari kerja. Masuk kerja jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore. Tiap hari dari Senin sampai Jumat seperti itu. Bagi karyawan pelaju atau yang bekerja di luar kota, biasanya mereka juga karyawan PJKA alias Pulang Jumat Kembali Ahad. Pesan tiket kendaraan umum untuk pulang ke rumah pada Jumat sore dan balik ke tempat kerja pada hari Minggu.

Aturan standarnya memang seperti itu, tapi terkadang ada juga urusan yang mengharuskan karyawan bekerja sebelum jam 8 pagi atau pulang setelah jam 4 sore. Kok bisa seperti itu? Bisa saja, contohnya teman saya yang harus bersiap-siap menemui kepala dinas sebuah instansi pada jam 6 pagi di kantornya untuk minta tanda tangan SK. Harus pagi-pagi ke kantornya karena setelah itu sang pimpinan harus ke bandara untuk terbang ke Jakarta.

Yang pulang setelah jam 4 sore bukan berarti bisa bersantai-santai dengan keluarga di rumah. Kalau pas ada tamu yang datang, malamnya dia harus jemput tamu di hotel, menemani makan malam dan jalan-jalan. Karyawan yang berpola pikir dan bersikap seperti entrepreneur nggak akan sering mengeluh kalau dapat tugas seperti itu.

2. Tidak Terlena Berada di Zona Nyaman
Zona nyaman itu maksudnya mudah merasa puas pada satu kondisi pekerjaan. Tidak ingin mengubah dirinya agar bekerja lebih produktif, lebih efisien atau bagaimana agar kinerja di tempat kerjanya meningkat. Karyawan yang terlena berada di zona nyaman cenderung agak sensitif dengan perubahan yang mengarah pada perbaikan kinerja. Dia bisa saja berprinsip dari dulu sudah jalan seperti ini, kenapa harus diubah lagi?

3. Selalu Berkeinginan untuk Belajar
Belajarlah sejak dari buaian hingga ke liang lahat. Sebuah perumpamaan yang sangat bagus, termasuk bagi seorang karyawan. Belajar bukan lagi sebuah kewajban apalagi keterpaksaan bagi karyawan yang bermental entrepreneur. Tanpa diminta atau disuruh oleh pihak lain, dia memotivasi dirinya agar senantiasa mengikuti perkembangan dan belajar ha-hal baru. Tidak hanya belajar bidang yang terkait dengan pekerjaannya, namun juga keterampilan lain yang dapat mengembangkan potensi dirinya.

Belajar tak hanya dapat dilakukan dengan mengikuti diklat, workshop, seminar atau training. Dengan bantuan internet, karyawan bisa saja belajar kapan pun waktunya secara otodidak. Belajar seperti ini yang tidak akan cepat hilang atau lupa, karena dasarnya adalah kecintaan terhadap apa yang dipelajari.

4. Berorientasi pada Pelayanan terhadap Orang Lain.
Salah satu pola pikir dan sikap seorang entrepreneur adalah berusaha melayani orang lain dengan sebaik-baiknya. Orang lain itu bisa pelanggan, klien, pembeli, konsumen atau masyarakat. Tidak hanya bekerja untuk mengejar jabatan, kedudukan dan kekayaan, seorang yang bermental entrepreneur akan mengutamakan kepuasan orang lain sebagai kriteria keberhasilannya.

Jiwa melayani orang lain dengan sepenuh hati dan bukan melayani sepenuh gaji akan menjadikan karyawan sebagai sosok yang selalu dinantikan kehadirannya.

Bekerja tak Hanya Sekadar Mencari Uang

Sebenarnya saya termasuk orang yang jarang menonton televisi. Informasi dan berita justru lebih banyak saya dapat dari internet atau koran. Mungkin karena setelah lihat tayangan di televisi yang kadang-kadang bikin hati nggak tentram. Pernah karena nggak tahan lihat tayangan kriminal akhirnya belum selesai berita ditayangkan, televisi langsung saya matikan.

Sampai akhirnya saya menonton acara wawancara yang cukup bagus dan menyentuh hati di Kompas TV hari Senin (20/4) malam lalu. Pewawancaranya bernama Aiman. Waktu itu selesai makan malam sekitar jam 19.30, saya menonton dia sedang mewawancarai seorang ibu yang kerjaannya mengurus orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan.

Ibu Jamilah, wanita yang dalam tayangan itu bisa disebut sebagai pahlawan karena mau mengorbankan waktu dan tenaganya merawat sekitar 30-an orang-orang yang telantar dan mengalami gangguan kejiwaan.

Jawaban-jawaban ibu Jamilah yang membuat saya tertegun. Di jaman seperti sekarang ini ternyata masih ada seseorang dengan penuh kasih sayang bekerja dan melayani orang lain yang terganggu jiwanya. Mulai memasak nasi, menyuapi dan bahkan memandikan mereka. Dalam tayangan terlihat ketika waktu makan, mereka satu per satu antri mengambil nasi dan lauk. Ada juga yang makannya disuapi oleh bu Jamilah.

“Sampai memandikan mereka?”Aiman terkejut.

“Ya, saya pakai selang kalau memandikan mereka. Mereka nurut dan nggak macam-macam”kata bu Jamilah.

Ketika ditanya bagaimana suka dukanya bekerja di tempat seperti itu, melayani orang-orang yang belum tentu keluarganya mau mengurus, dia merasa senang ketika orang-orang itu mulai sembuh. Meski pernah trauma dan punya pengalaman pahit dikejar-kejar dan dipukul mukanya oleh salah seorang diantaranya, namun dia tidak menyimpan dendam. Dia tetap berusaha melayani mereka. Benar-benar mulia hati ibu Jamilah.

“Apa tandanya kalau mereka itu mulai sembuh, Bu”kata Aiman.

“Kalau tatapan mata mereka nggak kosong, pandangannya tegak itu tanda-tanda mereka sudah mulai sembuh”kata bu Jamilah.

“Biasanya kalau sudah mulai sembuh, mereka saya minta bantu saya. Masak air atau nasi”ungkap bu Jamilah sambil menunjuk salah seorang yang sudah mulai sembuh.

“Pernah juga ada yang sudah sembuh, terus kerja di kantoran dan dia datang ke sini”tambah bu Jamillah.

“Datang ke sini?”tanya Aiman.

“Ya, dia datang ke sini sambil bawa sembako. Bahkan dia sekarang sering ngasih bantuan untuk tempat ini“ungkap bu Jamilah. Rupanya setelah sembuh dia tidak lupa.

Saya yang melihat percakapan itu jadi terharu dan berkaca-kaca. Ternyata seseorang yang pernah mengalami gangguan kejiwaan, dengan perlakuan yang tulus dan penuh kesabaran dapat sembuh dan kembali normal. Tayangan seperti inilah yang seharusnya sering saya lihat. Menyentuh jiwa dan saya tersadar kalau yang saya lakukan saat ini belum ada apa-apanya dengan yang sudah dilakukan bu Jamilah.

Tak banyak orang seperti bu Jamilah, yang bekerja tidak hanya untuk mendapatkan imbalan materi. Namun meletakkan kepuasan hati dan kebahagiaan ketika melihat orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan itu sembuh dan kembali menjalani hidup dengan normal.

Mencari Karyawan itu Mudah, yang nggak Mudah Mempertahankannya

Pernah punya pengalaman membimbing karyawan magang atau calon karyawan? Kalau teman-teman pada posisi pembimbing calon karyawan, hal-hal apa yang disukai dari tugas itu?

Saya paling suka kalau ada calon karyawan yang aktif dan nggak tunggu instruksi untuk mengerjakan sesuatu. Kalau pun dia nggak ada kerjaan, dia nggak diam saja. Tanda-tanda calon karyawan yang aktif itu mau bertanya. Minimal dia tanya sama pembimbingnya, “Ada yang bisa dibantu, Pak”.

Seperti beberapa hari lalu ada satu calon karyawan, tepatnya karyawati yang lagi magang di tempat kerja. Magang kerja di tengah hutan yang mayoritas pekerjanya cowok, kecuali guru dan mbak-mbak di kabinet dapur 🙂

Meski cewek, dia nggak canggung bergaul dan berinteraksi dengan pekerja-pekerja lainnnya. Yang bikin saya salut, dia juga nggak pilih-pilih kerjaan, lho. Maksudnya begini, waktu itu pernah saya kasih tugas untuk terjemahkan abstrak hasil peneliti dari Jepang yang pernah riset di perusahaan.

Tanpa banyak komentar, dia langsung coba terjemahkan. Awalnya dia mau tulis di print out laporan riset, tapi saya bilang tulis di tempat lainnya saja. Supaya laporannya nggak ada coretan. Ada juga teman kantor yang bilang langsung diketik saja di komputer, nggak dua kali kerja. Dia mau dengar saran saya tapi dia juga tetap pada pendiriannya, tetap ditulis tangan dulu di kertas kosong dan setelah itu baru diketik di komputer.

Saat proses menerjemahkan pun dia mau tanya kalau nggak tahu artinya atau maksud kalimatnya. Setelah diprint out dia masih minta dikoreksi lagi sebelum jadi laporan akhir. Pas acara  sertifikasi dia juga ikut aktif. Nggak cuma bantuan ngeprint laporan, cari arsip laporan, menyerahkan laporan ke asesor, tapi juga mau dimintai tolong untuk pekerjaan-pekerjaan informal seperti mengoreng kerupuk, bikin minuman sampai bantuan masak mie goreng.

Padahal dia lulusan S1, lho. Tapi nggak ada sama sekali merasa gengsi melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti itu. Jangan-jangan bukan dikasih kerjaan tapi dikerjain sama pembimbingnya hahaha… Tapi dia tetap saja ceria dan kalau kerjaannya beres, dia tanya lagi, “Ada lagi yang bisa dibantu, Pak”. Beda lho penampakan orang yang ikhlas dikasih kerjaan sama yang ogah-ogahan.

Waktu kerja lembur sampai malam menemani asoseor, dia juga ikut bahkan baru pulang jam 12 malam. Dan yang tambah bikin salut lagi, dia bukan tidur di mess yang sudah disediakan buat tamu. Tapi tidur bergabung dengan mbak-mbak dan ibu juru masak di kamarnya. Lho, tempat tidurnya ‘kan nggak cukup? “Saya tidur di lantai, Pak”katanya enteng. Benar-benar enjoy dan no problemo. “Malah saya sering jadi tempat curhat mbak-mbak, Pak”.

Walah…walah, kalau ketemu calon karyawan yang model begini terus sampai dia nggak betah dan resign ya jangan salahkan dia. Tapi coba tanya sama pimpinannya atau supervisornya. Selain urusan gaji, apa kerjanya didukung? Terus ide-idenya didengar dan dipakai? Juga alat-alat kerjanya dilengkapi.  Kalau semua itu nggak dipenuhi, ya jangan menyesal kalau perusahaan lain siap menyambar.

Mencari karyawan itu mudah, cari satu yang melamar bisa belasan bahkan puluhan orang. Yang nggak mudah  mempertahankan dia tetap bertahan dan idealnya berkembang di tempat kerjanya sesuai potensinya. Mungkin nggak banyak calon karyawan yang seperti itu. Dalam hati saya bilang,“Sayang sekali penempatan kamu di anak perusahaan yang lain”.

Berlibur dan Berwisata di Tempat Kerja, Kenapa Tidak?

P1010124a

Berbahagialah para orangtua yang di akhir tahun ini dapat berlibur dan berwisata dengan keluarga dan buah hati tercinta. Akhir tahun biasanya memang bertepatan dengan liburan anak sekolah. Bagi orang tua yang bekerja, akhir tahun juga merupakan saat yang tepat untuk mengambil cuti atau ijin untuk sejenak keluar dari rutinitas pekerjaan. Refreshing, menikmati suasana baru bersama keluarga adalah momen berharga dan penting sebelum kembali bekerja.

Namun bagaimana dengan orangtua yang tidak bisa cuti atau ijin, sementara anak-anak menginginkan bisa berwisata selama liburan? Haruskah keinginan anak-anak untuk berlibur dan menyegarkan pikiran setelah disibukan dengan belajar, les dan ekstrakurikuler batal gara-gara orangtua tidak bisa ikut? Adakah cara lain agar anak-anak tetap dapat berwisata sementara orangtuanya tidak meninggalkan tempat tugas?

Sebenarnya dua kepentingan antara orangtua yang bekerja dan keinginan anak-anak berwisata selama musim liburan bisa saja berjalan bersama. Kita lihat tak sedikit orangtua yang bekerja di beberapa obyek wisata atau tempat yang memiliki potensi wisata. Kenapa tidak memanfaatkan tempat kerja orangtua tersebut untuk kegiatan anak-anak selama liburan?

Berlibur dan Berwisata  di Tempat Kerja Orangtua

Saat ini telah berkembang bermacam jenis wisata di tanah air mulai dari wisata alam, wisata kuliner, wisata sejarah, wisata budaya, wisata belanja sampai wisata religi.

Bagi yang orangtuanya bekerja di tempat-tempat wisata bernuansa alam seperti taman margasatwa, kebun binatang, taman nasional, atau taman hutan raya, tak ada salahnya anak-anak memanfaatkan waktu liburan untuk berkunjung ke lokasi tersebut. Anak-anak dapat menikmati suasana alam pegunungan, hutan, flora-fauna dan pemandangan yang selama ini mungkin hanya didapat dari buku bacaan atau internet. Anak-anak yang aktif di organisasi pecinta alam dan punya hobi berpetualang tentu akan senang berwisata di tempat-tempat seperti ini.

Tak hanya itu, orangtua yang bekerja di situs-situs budaya seperti seperti museum dan bangunan peninggalan sejarah, liburan sekolah adalah saat yang tepat untuk memperkenalkan anak-anak akan riwayat sebuah situs budaya. Tak hanya itu, anak-anak yang orangtuanya berkarier sebagai dosen atau akademisi, bisa saja mengenalkan kampus sebagai tempat wisata pendidikan bagi anak-anaknya. Berjalan-jalan ke fakultas tempatnya mengajar, melihat ruang perpustakaan, mengamati berbagai percobaan atau riset di laboratorium adalah pengalaman berharga untuk mengenalkan dunia pendidikan tinggi kepada anak-anak.

Berwisata kuliner di dengan belajar membuat masakan khas juga bisa dilakukan anak-anak saat mengisi liburan sekolah. Orangtua yang bekerja di perusahaan katering, rumah makan, restoran bisa saja mengajak buah hatinya untuk mempelajari seluk beluk bagaimana suatu masakan di buat. Mulai dari pemilihan bahan, proses memasak hingga menghidangkan. Dengan demikian tak hanya para mahasiswa saja yang diberikan kesempatan oleh perusahaan untuk praktek atau magang. Karyawan yang telah bekerja belasan hingga puluhan tahun sudah selayaknya anak-anaknya juga diberikan kesempatan.

Penghargaan bagi Karyawan

Kesempatan liburan bagi anak-anak di tempat kerja orangtuanya tersebut bisa dijadikan sebagai salah satu bentuk penghargaan kepada karyawan. Bila selama ini perusahaan memberikan reward bagi karyawan berprestasi dalam bentuk uang, voucher belanja atau tiket pesawat, tak ada salahnya pada kesempatan berikutnya mengundang anak-anak untuk menikmati berlibur di tempat sang ayah bekerja. Penghargaan semacam ini tentu akan bermanfaat bagi perusahaan, karyawan dan keluarganya.

Bagi karyawan, penghargaan perusahaan dengan memberikan fasilitas agar anak-anaknya dapat bertemu dengannya adalah sebuah kebahagiaan yang tiada terkira. Pernah kan lihat iklan teh celup di televisi yang menceritakan seorang ibu yang bekerja di sebuah restoran di negeri jiran? Setelah bekerja dia teringat dengan anak-anaknya di rumah saat menonton televisi. Rasa rindu dengan anak-anaknya membuatnya merenung di tempat kerja. Hingga akhirnya tanpa diduga dari balik pintu munculah anaknya didampingi kakek neneknya. Rasa haru pun dirasakan oleh sang ibu. Sambil meneteskan air matanya, ibu itu memeluk anaknya erat-erat. Bila melihat iklan itu, saya terkadang ikut juga terharu.

Bagi perusahaan yang bergerak di dunia pariwisata, kepuasan wisatawan adalah nomor satu. Biasanya para wisatawan ini akan berjunjung ke suatu tempat setelah dia mencari informasi dan membaca testimoni wisatawan lain yang pernah berkunjung ke tempat tersebut.

Pengalaman dan kesan orang lain tersebut menjadi referensi utama wisatawan sebelum berkunjung ke sebuah obyek wisata. Mungkin ini juga yang kita lakukan sebelum kita bepergian ke suatu tempat. Mencari informasi di internet tentang situs wisata yang akan kita kunjungi. Juga membaca testimoni atau review suatu tempat wisata oleh wisatawan lain yang ditulis dalam blog.

Faktanya, testimoni atau review pengunjung lainnya tersebut yang justru lebih kita jadikan referensi dalam mengambil keputusan. Bukankan ini sebuah promosi yang ampuh bagi perusahaan pengelola obyek wisata? Tanpa diminta oleh pihak pengelola wisata, pengunjung akan menuliskan kesan-kesannya di blog dan dibaca oleh para follower atau yang telah subscribe di blog tersebut. Belum lagi pengunjung lainnya yang mendapatkan informasi dari mesin pencari. Ini akan memberikan keuntungan bagi pengelola wisata, karena promosi melalui internet akan lebih efektif dan memangkas biaya pemasaran bila dibandingkan dengan promosi secara offline.

Manfaat bagi Anak

Bagi anak-anak, berlibur di tempat kerja orangtua juga akan mendekatkan hubungan batin dan psikologis dengan ayah atau ibunya. Apalagi bila sang ayah atau ibu tak setiap hari dapat bertemu dengan buah hatinya. Terkadang hanya bisa seminggu atau sebulan sekali bertemu. Berlibur di tempat orangtua bekerja juga secara tidak langsung akan mengenalkan budaya bekerja kepada anak.

Tak hanya itu, manfaat lainnya bagi anak adalah bertambahnya wawasan dan pengetahuan anak. Untuk hal ini pernah anak saya yang masih SD diminta oleh gurunya bercerita selama liburan. Karena dia pernah berlibur di tempat kerja saya di tengah hutan, apa yang dia alami selama di camp itulah yang dia ungkapkan. Mulai bermain di sungai, menangkap ikan-ikan kecil dan dipelihara di toples, hingga memberi makan ikan di kolam semuanya dia tuliskan. Membaca tulisan anak saya yang menarik, gurunya memberikan apresiasi dengan memasang tulisannya di dinding kelasnya.

Saat ini kegiatan berwisata dan berlibur sudah menjadi kebutuhan bagi keluarga. Namun bila orangtua tak dapat menemani anak-anaknya mengisi waktu liburan, tak ada salahnya juga memberikan kesempatan anak-anak berlibur di tempat kerja orangtuanya.

Karena Sibuk Kerja Sampai Lupa Ini Hari Apa

“Pagi ini cuacanya cerah“kata saya membuka obrolan sarapan pagi dengan dua teman kerja.

“Nggak terasa ya udah akhir tahun” sahut teman kerja bidang pemrograman

“Nggak terasa karena banyak kerjaan, Pak. Coba kalau nggak ada kerjaan, satu hari terasa lama”komentar saya.

Memang begitu kalau sedang banyak kerjaan, waktu terasa kurang. Bahkan ada teman lain yang bilang,”Yang kerja di hutan kayak kita ini kadang nggak ingat sekarang hari apa. Ingatnya ya hari Jumat karena ada Jum’atan”

Lupa sekarang hari apa, tanggal berapa bisa saja dialami oleh orang yang sibuk kerja. Mungkin bukan maksudnya untuk sengaja melupakan hari dan tanggal. Tapi karena kesibukanlah yang menyebabkan pergantian hari dan tanggal itu terlewatkan tanpa terasa.

Beda dengan orang yang nggak ada kesibukan adan pekerjaan. Menunggu pergantian hari terasa lama. Sehari terasa seminggu. Seminggu terasa sebulan. Sebulan terasa setahun. Mungkin seperti itu rasanya.

Akhirnya saya berpikir, karena aktivitas atau kegiatan lah yang membuat waktu terasa cepat atau lambat. Secara hitungan waktu tetap sama, sehari 24 jam. Sejam 60 menit. Tapi ada tidaknya kegiatan yang membuat kita merasa waktu itu kurang atau sebaliknya waktu begitu lama berlalu.

Itulah sebabnya tiap hari saya selalu membuat catatan apa saja yang harus dikerjakan hari ini. Siang harinya saya cek apa saja yang sudah dikerjakan dan apa saja yang belum. Supaya dalam pergantian waktu itu ada yang harus dikerjakan. Supaya tahu poin-poin yang harus diselesaikan dalam satu hari.

Misalkan dari 8 poin, sudah dikerjakan 5 poin. Nah, yang 3 poin diusahakan diselesaikan hari itu. Kalau nggak selesai ya dimasukkan lagi dalam catatan untuk dikerjakan besoknya. Ditambah lagi poin-poin yang dikerjakan pada besok pagi.

Benar kalau ada yang bilang bahwa pekerjaan yang nggak selesai hari ini dan dikerjakan besok maka beban pekerjaan pada hari esok akan bertambah. Karena esok hari sudah ada jatah pekerjaan lain yang menunggu untuk diselesaikan.

Jadi kalau sudah seperti itu, hari minggu atau hari libur pun akhirnya digunakan untuk bekerja. Apalagi untuk pekerjaan yang punya deadline.

Bagi yang bekerja di hari minggu atau hari libur, selamat menikmati hari minggu pagi yang cerah. Sambil menikmati segelas teh hangat atau secangkir kopi yang nikmat sebelum beraktivitas.

Ibu yang Merapikan Sandal di Masjid

IMG01929-20140813-1257

Di masjid Mujahidin Pontianak, ada seorang ibu yang kerjaannya merapikan sandal dan sepatu orang-orang yang sedang shalat.

Setiap ada orang yang melepas sepatu/sandal dan meletakkannya sembarangan, ibu itu langsung mengambil dan menyusunnya berjejer rapi. Posisinya menghadap ke belakang. Jadi sehabis sholat dan keluar masjid, orang-orang nggak harus mencari-cari sandal/sepatunya yang berserakan. Tapi sudah tersusun apik dan bisa cepat tahu miliknya, terus dipakai tanpa harus memutar badan.

Masih di masjid yang sama, sekitar 50 m dari tempat ibu yang merapikan sandal tadi ada juga seorang ibu yang duduk berpayung. Dia kerjaannya meminta-minta. Menunggu belas kasihan orang-orang yang lewat di depannya.

Saya perhatikan, ternyata banyak orang-orang yang selesai sholat justru tergerak memberikan tips untuk ibu yang merapikan sandal/sepatu. Hampir nggak ada jamaah yang berhenti sejenak di depan ibu pengemis dan memberikan uang.

Dan setelah menerima tips, ibu itu mengucap syukur dan menempelkan lembaran rupiah ke dahinya.

Ternyata, usaha ibu itu lebih dihargai oleh hampir setipa orang yang selesai sholat di masjid. Tanpa ibu itu meminta ongkos menata dan merapikan sandal/sepatu, jamaah terlihat ikhlas merogoh kocek dan menyerahkannya ke ibu atau anak yang dibawanya.

Satu pelajaran saya dapatkan. Sebuah kejadian yang membuat saya berpikir. Bahwa bekerja untuk merapikan sandal adalah jalan terbukanya rejeki untuk si ibu itu. Dan berusaha memudahkan urusan orang lain ternyata lebih menarik simpati jamaah untuk memberikan lembaran rupiah daripada hanya bekerja meminta-minta.

Dua Pekerjaan, Dua Harapan

IMG01794-20140202-1148

Bila ada yang mengatakan bahwa salah satu sumber ide dalam menulis adalah ketika blogwalking, itu benar. Ide tulisan ini tiba-tiba muncul ketika blogwalking dan membaca postingan tentang hujan di blognya Chrismanabee.

Ini cerita tentang pengalaman di tempat kerja. Terutama teman-teman yang bertugas outdoor di bagian yang berbeda dan pekerjaannya sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca.

Teman-teman di bagian produksi, khususnya para operator chainsaw yang tugasnya menebang pohon berharap supaya saat bekerja cuaca cerah. Harapan yang sama juga dimiliki oleh operator buldoser atau skidder yang tugasnya menarik kayu dari tempat penebangan ke tempat pengumpulan kayu bulat. Mereka tidak akan dapat bekerja apabila kondisi cuaca hujan karena akan membahayakan keselamatan jiwanya.

Lain lagi dengan teman-teman yang bekerja di bagian penanaman dan pengiriman kayu melalui sungai. Pada saat yang sama, mereka  berharap agar turun hujan dan jangan sampai terjadi kemarau panjang hingga berbulan-bulan.

Bagi yang tugasnya menanam bibit pohon di hutan, kemarau atau musim panas yang panjang adalah pertanda mereka harus bekerja ekstra. Menyiram tanaman yang baru ditanam yang berusia beberapa bulan di lapangan. Kalau bibit yang baru ditanam itu tidak disiram pada saat kemarau panjang, persen kematian tanaman di lapangan akan meningkat. Usaha mereka mulai mengangkut bibit dari persemaian, membuat jalur penanaman, menggali lubang tanaman, mengisi dengan humus hingga menanam akan sia-sia.

Hujan juga diharapkan oleh mereka yang bertugas di logpond atau tempat kerja yang berada di tepi sungai. Hujan yang tiada turun dalam beberapa minggu menyebabkan air surut dan pekerjaan membuat rakit kayu terhambat. Tak hanya itu, kegiatan pengiriman kayu bulat ke industri juga macet. Karena saat ini, sungai adalah satu-satunya transportasi untuk mengangkut kayu bulat ke pabrik.

Setiap hari mereka harus memonitor tinggi air sungai, karena rakit yang berisi kayu terapung dan sebagian kayu tenggelam hanya bisa dimilirkan pada saat air sungai memiliki kedalaman 1,5 – 2 m. Dimilirkan artinya ditarik dari bagian hulu ke hilir. Jika tinggi air sungai kurang dari itu, rakit tidak akan dapat ditarik oleh kapal tarik karena kandas tersangkut batu-batuan yang berada di dasar sungai

Sementara itu, untuk kayu-kayu yang tergolong jenis sinker atau kayu tenggelam yang diangkut ponton/tongkang, tinggi air sungai harus lebih dari 3 m. Jika ketinggian air sungai tidak mencapai seperti itu, ponton tidak dapat diberangkatkan karena juga akan kandas. Karena pekerjaan memilirkan kayu sangat tergantung dengan turunnya hujan, jam kerjanya pun tidak bisa disamakan dengan jam kerja karyawan di kantor yaitu mulai pagi sampai sore. Ketika dini hari turun hujan dan air sungai pasang, pagi subuh mereka harus menyingsingkan baju dan terjun ke lapangan. Untuk apa? Sesegera mungkin mempersiapkan pemiliran kayu. Momen seperti ini tidak boleh terlewatkan karena terlambat sekian jam, air sungai surut lagi. Akibatnya, rakit dan ponton tidak akan bisa milir.

Kalau kita bicara tentang pekerjaan yang kelancarannya ditentukan oleh hujan, ada satu anekdot atau lelucon dari teman-teman di lapangan. Jika karyawan di bagian penanaman dan pemiliran kayu berdoa minta hujan, operator di bagian penebangan dan penyaradan justru berdoa supaya jangan turun hujan.  🙂