Baru Belajar jadi Admin di Grup WA

Saya baru sadar rupanya anggota baru di grup WhatsApp (WA) itu namanya belum masuk. Baru saja teman di grup WA bilang nama ibu yang kemarin itu namanya belum bergabung di grup jamaah dan leader umroh.

Oleh leader yang ada di Jogja, saya diberikan tugas menjadi admin grup tersebut. Padahal saya memang belum pernah  jadi admin grup. Gimana caranya ya supaya bisa? Bertanyalah saya dengan teman kerja di kantor gimana caranya masukkan anggota baru di grup WA.

“Nomor telepon anggota baru harus disimpan dulu, Pak. Nanti otomatis namanya ada di kontak WA”kata teman

“Ooo pantas, tadi saya cari di daftar kontak WA kok nggak ada. Lha, namanya belum disimpan”. Piye to ?

Saya ketikkan nomor hpnya dan saya simpan. Setelah itu saya coba cari lagi di menu grup WA. Akhirnya ketemu. Klik di pojok kanan atas. Setelah itu pilih info grup dan akan muncul menu dimana kita bisa add atau tambahkan anggota yang akan dimasukkan ke dalam grup.

Akhirnya lega saya waktu baca kalimat di grup, “Anda menambahkan ibu I”. Dan tak lama di layar atas terleihat nama ibu itu sedang mengetikkan kalimat. Beruntung masih ada yang mengingatkan saya ketika belum paham saat belajar.

 

Iklan

Dari blok Masela Sampai Arti Netizen

“Netizen itu artinya apa sih? Saya baca di koran sama internet kok ada kata itu”tanya bos lewat aiphone tadi pagi

“Ooo, itu singkatan, Pak. Kepanjangannya internet citizen. Artinya warga negara atau penduduk yang sering pakai internet. Orang-orang yang suka cari informasi terbaru di internet”saya jelaskan

“Oh, ya. Saya nggak ngerti makanya perlu tanya”kata bos lagi

“Ya, Pak”jawab saya pendek

Setelah saya renungkan ada dua hikmah yang saya dapat dari pertanyaan bos tadi.

Pertama, perlunya kita ikuti perkembangan informasi dan teknologi. Nggak nyangka juga saya ditanya seperti itu sama bos yang usianya sudah kepala enam. Pertanyaan yang pasti ragu-ragu menjawabnya kalau saya nggak ikuti perkembangan jaman.

Pengalaman juga sih dulu pernah ditanya,”Itu kok sekarang lagi ribut berita Masela. Masalah apa sih Masela itu?”

“Masela? Wah, saya baru dengar itu, Pak”kata saya. Pikiran saya waktu menebak apa Masela itu nama artis ya.

Nah, kalau pertanyaan itu saya nggak bisa langsung jawab. Terus saya tanya teman-teman kerja, tapi nggak ada yang paham juga. Malah gantian teman yang tanya,”Itu kalimat lengkapnya gimana. Kok cuma Masela”.

Daripada penasaran dan nggak dapat jawaban yang jelas, akhirnya saya cari di internet. Apa itu Masela. Rupanya berita tentang cadangan gas terbesar di dunia yang ada di daerah Masela, Maluku. Ada dua pihak yang berbeda pendapat mengenai pembangunan kilang gas dan diekspos media massa.

Menteri ESDM menginginkan kilangnya dibangun di lepas pantai (offshore), sementara Menko Kemaritiman meminta kilang gas dibangun di darat (onshore). Waktu itu belum ada titik temu. Pas hangat-hangatnya berita itu, saya memang nggak ngikutin berita di televisi atau internet. Jadi wajar kalau nggak ngeh.

Pelajaran kedua yang saya dapatkan, kalau nggak tahu sebaiknya bertanya. Bos nggak merasa gengsi bertanya kepada stafnya. Ya, seperti arti netizen atau tentang Masela tadi. Lha, kalau gengsi bertanya malah tambah banyak istilah baru yang nggak ngeh.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu secara nggak langsung juga memaksa saya terus belajar. Mengikuti perkembangan dan informasi yang terjadi. Nggak hanya yang terkait dengan bidang kerja saja. Supaya kalau ditanya, bisa jawab meski hanya garis besarnya.

 

 

 

Jangan Remehkan Ibu Rumah Tangga

Saya masih ingat ucapan kolega di kantor yang mempertanyakan kenapa istri tidak bekerja dan memilih menjadi ibu rumah tangga. Kolega yang menjadi sekretaris pimpinan itu bilang,”Sudah sekolah dan lulus S1, sayang kalau istrimu nggak kerja”.

Sebenarnya waktu sebelum menikah, istri sempat kerja di salah satu lembaga komputer di Jakarta. Setelah menikah, dia memutuskan ikut saya dan menetap di Pontianak. Secara hitung-hitungan materi apa yang dikatakan kolega di kantor itu benar. Sekolah sampai perguruan tinggi, setelah lulus dan menikah kok jadi ibu rumah tangga. Dalam benaknya, yang namanya lulusan S1 itu seharusnya bekerja seperti dirinya dan punya penghasilan sendiri.

Setelah menjalani kehidupan berumah tangga selama 17 tahun dan dikarunia empat orang anak, barulah saya menyadari betapa pentingnya peran seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya meski dia seorang ibu rumah tangga. Ada banyak hal yang saya amati, cerita yang saya dapat dari anak-anak dan istri yang mungkin itu adalah suatu keberkahan bagi keluarga kami.

Seperti halnya wanita-wanita yang bekerja yang harus bangun pagi supaya tidak terlambat sampai ke kantor, demikian juga dengan istri saya. Kesibukan sudah dimulai sejak jam 4 pagi untuk menyiapkan sarapan dan sesekali mengawasi anak yang lagi belajar.

Setelah mengantar dua anak ke sekolah dan kembali ke rumah, terus memasak lagi untuk makan siang di rumah dan menyiapkan bekal makan siang di sekolah, karena ada dua anak yang pulang sekolahnya jam 3. Mengenai bekal makan siang ini ada cerita menarik dari Dea, anak sulung yang saat ini kelas 11.

Pada hari tertentu, dia membawa bekal makan siang karena setelah selesai belajar di sekolah biasanya dilanjutkan latihan paskibra. Bekal yang dimasak dan disiapkan oleh istri dari rumah dan bukan bekal makanan yang dibeli dari warung atau pesan catering. Saat makan siang tiba, teman-temannya ikut mencicipi dan langsung berkomentar,

”Siapa yang masak ini?’

“Mamaku yang masak”jawab Dea

“Mamamu? Enak masakannya”kata temannya

Mereka heran kalau mamanya Dea masih sempat membuatkan bekal untuk makan siang selain menyiapkan sarapan. Bagi mereka, menikmati bekal makan siang yang dimasak ibunya adalah suatu hal yang jarang dialami karena kesibukan ibunya bekerja.

Tak hanya itu, ketika mengantar Dea ke sekolah, ada juga temannya yang menanyakan,”

“Itu yang mengantar siapa? Kakak kau, kah?”

‘Bukan, itu mamaku”kata Dea.

Kenapa teman Dea menduga seperti itu? Bisa jadi dia melihat wajah istri yang kelihatan awet muda meski umurnya sudah kepala empat.

Kesibukan ibu rumah tangga tidak hanya urusan menyiapkan makanan untuk anak-anak, tapi juga ketika menemani anak-anak belajar. Sering saya lihat istri di rumah menjelaskan lagi pelajaran buat Dea, Caca, Andra dan Nabil sambil menuliskannya di papan tulis kecil. Kalau ada PR yang soal-soalnya nggak bisa dijawab biasanya baru diserahkan ke saya. Seperti ketika Caca yang kelas 8 mengerjakan PR aljabar. Ada beberapa soal yang nggak dimengerti. Akhirnya saya yang turun tangan dan menjelaskan tahap demi tahap jawabannya.

Orangtua sekarang tampaknya memang nggak bisa lepas tanggungjawab kalau anak-anaknya mengalami kesulitan mengerjakan PR. Bukannya memanjakan anak, tapi yang lebih penting adalah perhatian orangtua  saat anaknya kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah. Lebih penting lagi adalah ketika orangtua mengajari anaknya, yang diutamakan adalah proses dan tahap-tahapnya. Cara seperti itu akan memberikan pemahaman yang akan diingat oleh anak-anak.

Satu hal lagi peran ibu rumah tangga yang tidak bisa dianggap sepele adalah menjadi tempat curhat bagi anak-anaknya. Kesediaan meluangkan waktu untuk mendengar keluh-kesah anak-anak. Terkadang untuk hal yang satu ini,  istri lebih memposisikan diri sebagai temannya anak-anak. Seperti yang pernah dikeluhkan Caca ketika waktu ujian ada temannya yang mencontek. Istri langsung bilang,”Nggak usah ikut-ikutan temannya. Nanti dia sendiri yang rugi”.

Yang agak repot bagi istri justru kalau anak-anak cenderung diam dan nggak mau cerita. Seperti anak ketiga, Andra, yang nggak mau banyak cerita. Setelah tahu anaknya punya sifat seperti itu, akhirnya istri yang berinisiatip bertanya. Itupun ditanyakan berulang-ulang, baru anaknya mau menjawab. Tiap anak memang punya sifat yang berbeda-beda dan perlu cara tersendiri untuk menanganinya.

Melihat apa yang dilakukan oleh istri di rumah, kalau ada sebagian orang berpendapat bahwa istri yang tidak bekerja itu tidak produktif, hanya menghabiskan waktunya untuk bergosip dan kegiatan yang tidak bermanfaat tampaknya tidak sepenuhnya benar.

Kenapa nggak dari Dulu Belajar bahasa Mandarin?

Bahasa internasional apa yang perlu dikuasai selain bahasa Inggris? Mungkin jawabannya bahasa Jerman, Perancis, Jepang atau Arab. Nggak salah. Namun untuk saat ini dan masa yang akan datang, bahasa Mandarin yang diperlukan. Bukan berarti bahasa-bahasa yang saya sebutkan tadi tidak penting lho.

Waktu masih jadi pemimpin Jawa Pos, Dahlan Iskan sampai mengundang orang khusus ke kantornya tiap hari untuk kursus privat bahasa Mandarin. Padahal umurnya sudah nggak muda lagi.

Tiap hari orang itu disuruh ngomong bahasa Mandarin. Dahlan Iskan mendengarkan dan setelah itu gantian dia yang ngomong. Nggak heran kalau sekarang Dahlan Iskan cukup fasih bicara Mandarin. Nggak percaya? Bisa dilihat di You Tube ketika jadi Dirut PLN dia diwawancarai menggunakan bahasa Mandarin oleh Metro TV.

Demikian salah satu poin yang diceritakan bos kemarin. Bos yang keturunan etnis Tionghoa itu sedikit menguasai bahasa Mandarin. Kalau berbicara dengan sesama etnis yang bisa Mandarin, biasanya dia menggunakan bahasa Mandarin.

Namun bukan berarti semua etnis Tionghoa bisa bahasa Mandarin, lho. Buktinya, anak bos sendiri yang lulusan Bachelor of Art dari Amerika malah dianjurkan supaya pergi ke Tiongkok selama 1 tahun. Khusus untuk belajar ngomong bahasa Mandarin. Kalau cuma enam bulan disana nggak cukup. Minimal harus satu tahun, supaya bicaranya lancar.

Kalau disamakan dengan kita orang Indonesia, bahasa Mandarin itu bahasa nasional. Sama seperti bahasa Indonesia. Dan nggak semua orang Indonesia lancar bicara bahasa Indonesia. Ada yang karena orangtuanya tinggal di luar negeri, anak-anaknya lebih lancar bicara bahasa nasional negara itu dibandingkan bicara bahasa Indonesia. Ada juga yang tinggal di Indonesia, karena tiap hari sejak kecil dibiasakan pakai bahasa daerah, akhirnya penguasaan kosa kata bahasa Indonesianya terbatas.

Nggak salah memang apa yang dikatakan bos. Kanjeng Nabi Muhammad saja pernah menyampaikan supaya kita menuntut ilmu sampai ke negeri Cina-sekarang Tiongkok. Kalimat yang diucapkan nabi itu mengandung dua makna. Arti kiasan dan arti sebenarnya.

Arti kiasannya adalah anjuran untuk menuntut ilmu hingga ke tempat atau negara lain. Belajarlah kemana pun meski harus pergi jauh dari tempat tinggalmu. Merantaulah. Arti sebenarnya bisa ditafsirkan bahwa Nabi Muhammad mengetahui dan mengakui bahwa saat itu teknologi, budaya, perdagangan dan peradaban di Tiongkok sudah lebih maju dibandingkan di Arab. Oleh karena itu dianjurkan supaya umatnya belajar ilmu apa saja yang menjadi keunggulan bangsa Tiongkok.

Nah, kalau kita disuruh menuntut ilmu hingga ke negeri Tiongkok, berarti mau nggak mau, suka nggak suka secara tersirat juga disuruh mempelajari bahasanya. Sama halnya kalau kita mau pergi ke Mekkah untuk berdagang, dianjurkan ya sedikit-sedikit bisa bahasa Arab. Mau pergi ke Tokyo untuk melancong, ya paling tidak bisa bilang arigato kalau ada orang di sana menolong kita. Karena nggak semua orang Arab dan orang Jepang bisa bahasa Inggris.

Apalagi dengan kemajuan negeri Tiongkok sekarang yang sudah bersiap-siap untuk menyalip negeri paman Sam. Dari sisi pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa, kemajuan teknologi, olahraga, dan produk-produk dalam negerinya, Tiongkok sudah merajai semuanya.

“Anak pak Yudi sekarang yang besar umur berapa?”tanya bos

“Enam belas tahun, Pak”

“Sudah terlambat. Kalau adiknya?”

“Tiga belas tahun, Pak”

“Nah, kasih tahu dia sama adik-adiknya. Selain bahasa Inggris, belajar juga bahasa Mandarin. Nggak ada ruginya kok untuk mereka”

“Oh, begitu ya, Pak”

“Jangan seperti anak saya, sudah dikasih tahu sejak TK supaya belajar Mandarin, tapi nggak diperhatikan”

Sambil mengangguk-angguk, dalam hati saya berkata,”Seandainya saya sejak lama tahu pentingnya bisa bahasa Mandarin”

Xiexie nin

Akhirnya, Bisa Juga Pasang Emoticon

Rasa penasaran itu akhirnya terjawab sudah. Sudah tujuh bulan ngeblog, tapi selama itu saya belum bisa yang namanya pasang emoticon :sad:. Kelihatannya aneh dan sulit dipercaya. Lebih susah pasang emoticon daripada bikin tulisan. Tapi memang benar, coba lihat semua tulisan saya sebelumnya. Semuanya tanpa emoticon. Bukannya saya nggak mau pasang, tapi memang nggak tahu cara pasangnya.

Tulisan saya kata seorang kawan memang sudah renyah, bahasanya mudah dipahami. Tapi kalau saya nilai dan evaluasi, sebenarnya masih ada yang kurang.

Apa itu? Tidak ada emoticon. Simbol ekspresi berbentuk bulat yang dipasang untuk menjelaskan, menguatkan sekaligus menghibur 🙂 dalam tulisan atau komentar yang dibuat.

Sering saya merasa iri kalau ada narablog yang bisa pasang emoticon senyum atau ketawa  di tulisannya atau waktu kasih komentar di tulisan saya. Kelihatan lebih hidup dan segar.

Jadi, kalau ada yang komentar plus ada emoticonnya, sebenarnya saya dua kali mikir :-(. Nggak cuma mikir jawabannya, tapi sekaligus mikir gimana saya bisa pasang emoticon seperti itu.

Urusan pasang emoticon mungkin tampak sepele bagi narablog lain, tapi nggak bagi saya. Untuk yang kesekian kalinya, hari ini saya coba browsing lagi dan cari tahu gimana pasang emoticon.

Akhirnya, saya dapat juga jawabannya. Rupanya masing-masing ekspresi itu ada kode atau simbolnya. Pantas, saya pernah baca tulisan sobat terus ada kata mr green. Waktu itu saya mikir, apa itu artinya mr green? Apa hubungannya dengan tulisan itu, kok sampai ada mr green. Kenapa nggak pilih mr black atau mr brown saja. Bingung saya waktu itu.

Setelah dapat artikel tentang emoticon, baru tahu jawabannya. Rupanya mr green itu kode ekspresi orang ketawa, bergambar wajah orang berwarna hijau sambil tertawa ngakak :mrgreen:.

Kalau cuma tahu emoticon saja belum cukup, harus dipraktekkan dan coba dipasang. Nah, di tulisan kali ini, saya pasang emoticon perdananya ya….. Memang kalau belajar itu harus sabar….

Aku Belajar kepada Akar

Aku belajar ikhlas kepada akar,

ketika indahnya dedaunan mendapat pujian

Aku belajar bersabar kepada akar,

ketika kokohnya batang menerima sanjungan

Aku belajar rendah hati kepada akar,

ketika mekarnya bunga elok dipandang mata

Aku belajar tegar kepada akar,

ketika ranumnya buah menawan hati untuk meraih

Aku belajar tidak mengeluh kepada akar,

walau berada di dasar kesunyian dan kegelapan

Dan aku belajar kehidupan kepada akar,

Yang telah berupaya menegakkan batang,

menumbuhkan dedaunan

mengharumkan bunga

dan melezatkan buah

Walau keberadaannya,

tiada dilihat dan juga dipandang.

Sumber  foto :
- pic2fly.com
Sumber tulisan :
- www.kompasiana.yudhihendros.com

Belajar-Mengajar Tak Hanya di Ruang Kelas

Selama ini kita sering berpendapat, pendidikan identik dengan proses belajar mengajar di sekolah dan ruang kelas. Mulai jenjang SD, SMP, SMU hingga Perguruan Tinggi, kegiatan belajar lebih banyak dilakukan dengan metode “guru menyampaikan  materi dan murid duduk manis mendengarkan”.

Ketika saat mengajar tiba, guru berdiri di depan kelas, siswa mendengarkan dan menyimak berbagai pelajaran yang disampaikan.

Berbagai mata pelajaran yang disusun sesuai kurikulum pun disiapkan. Bersumber pada buku-buku pelajaran yang ditentukan, guru pun menyampaikan materi pelajaran Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia agar dihafal dan dipahami siswa. Cara pemahaman materi yang lebih mengutamakan proses learning by listening oleh siswa.

Dalam kegiatan tersebut, proses pemahaman materi akan sangat ditentukan oleh cara guru menyampaikan dan ketersediaan materi pelajaran.

Sebenarnya, proses belajar mengajar tersebut tidah hanya dapat dilakukan di ruang kelas. Di luar ruang kelas, alam sekitar adalah sumber pengetahuan yang tiada terbatas untuk dipelajari. Banyak contoh yang bisa dilihat langsung oleh siswa-siswa pada saat belajar dari alam sekitarnya, mulai dari berbagai jenis tanaman maupun hewan.

Bisa jadi, selama ini mereka tahu tanaman padi karena mendapat penjelasan dari gurunya atau melihat gambar yang ada dalam buku pelajaran. Namun, dia tidak pernah melihat langsung tanaman tersebut, bagaimana cara menanamnya, di mana tempat hidupnya maupun berapa lama tanaman tersebut bisa menghasilkan beras.

Demikian juga dengan para tenaga pengajar atau guru-guru yang akan menyampaikan materi pelajaran.

Pengenalan alam sekitar akan memperkaya khazanah dan wawasan berpikir mereka. Pengetahuan yang diperoleh pun tidak hanya bersumber dari buku-buku pelajaran. Tapi dari apa yang dia lihat dan amati.

Pelajaran bagaimana pohon tumbuh lebih mudah dipahami bila guru-guru pernah melihat proses yang sebenarnya. Mulai pengadaan bibit, menanam sebatang pohon, hingga pohon tersebut tumbuh besar berumur beberapa tahun.

Jika guru mengajarkan apa itu pupuk ? Mengapa tanaman harus dipupuk ? Bagaimana cara membuatnya ? Semua bisa dilihat dan dipelajari di lokasi pembibitan.

Proses pengenalan terhadap alam sekitar dan lingkungan, dapat dilakukan apabila ada kerjasama antara sekolah atau perguruan tinggi dengan perusahaan milik pemerintah ataupun swasta.

Bagi perusahaan, program pengenalan lingkungan tersebut dapat diagendakan sebagai salah satu perwujudan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility).

Sosialisasi kegiatan pengelolaan lingkungan, selayaknya tidak hanya dilakukan terhadap para birokrat, lembaga swadaya masyarakat dan media massa. Para pengajar dan siswa – siswa juga perlu diikutsertakan dalam program tersebut. Terutama yang tinggal dan belajar di lingkungan sekitar perusahaan, industri milik pemerintah maupun swasta.

Hal tersebut juga sekaligus memperkaya pengetahuan para pengajar dan siswa-siswa dengan melihat dan belajar langsung di alam terbuka.

Proses belajar yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas ataupun gedung sekolah dalam suasana formal. Proses pemahaman materi yang dilakukan sambil bermain dan bercanda ria. Proses belajar yang dilakukan dalam suasana keakraban, rileks, gembira, dan dinikmati oleh siswa-siswa dan guru-guru.