Di Balik Cerita Sukarelawan yang Tulisannya Direview di Menit-Menit Akhir

Terima kasih buat Bro Ryan yang sudah menunjuk saya jadi sukarelawan tantangan English Friday ke-8. Awalnya saya nggak menyangka akan mengantikan posisi teman lainnya yang belum siap. Ibarat pemain bola yang selama ini duduk di bangku cadangan, terus diminta pelatih untuk tampil di menit-menit terakhir pertandingan.

Demikian juga saat bro Ryan sebagai salah satu punggawa dan penggagas BEC memberi tahu kalau tulisan saya akan direview. Pemberitahuan yang cukup mendadak dan informal.

Dua hari sebelum review postingan EF#8, bro Ryan komen di postingan yang bikin saya agak kaget “Tulisannya hari Senin mau direview, Mas. Menggantikan teman yang belum siap”katanya.”Terus tugas saya detilnya apa saja, ya?”tanya saya. “Nanti mentor yang akan mereview tulisannya, Mas”jelasnya lagi.

Inilah resiko kalau rutin posting di English Friday hahaha…. Minimal masuk nominasi admin untuk jadi pemain cadangan kalau suatu waktu ada teman lain yang sudah diminta tapi berhalangan.

Dari kejadian ibarat pemain pengganti itulah ada poin penting yang mau saya ceritakan. Terutama bagaimana saya harus berjibaku memanage waktu untuk bisa hadir dan standby saat jam-jam tulisan direview.

Mungkin saya lebih tepat kalau cerita apa yang terjadi di balik review postingan hari Senin lalu antara pukul 8 pagi sampai jam 2 siang. Kalau dalam film di bioskop mungkin ceritanya semacam behind the scene gitulah. Di balik keberhasilan sebuah film, ada banyak kejadian di belakang layar yang mungkin nggak pernah terpikirkan oleh penontonnya.

Dibalik kesuksesan seorang aktor atau aktris tampil di layar kaca atau layar bioskop, ada banyak peristiwa di balik layar yang mungkin membuat kita terkejut setelah tahu jalan ceritanya. Seperti bagaimana seorang aktris harus shooting dari pagi sampai dini hari dan baru pulang ke rumah saat subuh. Di saat orang lain mulai bangun pagi, justru saat itulah waktu bagi dia untuk beristirahat.

Ada juga yang karena saking inginnya menjiwai perannya sebagai mahasiswa demonstran, dia juga ikut aksi-aksi demo di jalan. Ada juga aktor lainnya yang jadi tukang ojek beneran untuk menyelami kehiduan seorang tukang ojek. Mangkal di pangkalan ojek, menunggu penumpang, dapat penumpang dan tawar menawar sampai mengantar ke tempat yang dituju. Semua dilakukan agar sang aktor atau aktris dapat berperan sealami mungkin saat tampil dalam setiap adegan film seuai tuntutan skenario. Lha, kok malah ngelantur sih ceritanya. Kembali ke cerita review postingan EF#8 tadi ya.

Setelah hari itu datang, Senin 2 Maret 2015, saya sudah rencanakan akan mulai gabung jam 9 pagi, karena pagi masuk kerja dulu bereskan kerjaan-kerjaan yang sudah saya catat dan harus dikerjakan saat itu. Pas jam 9 pagi saya keluar kantor dan pulang ke mess dulu. Kenapa harus pulang? Ya, karena di kantor ada aturan nggak boleh bawa handphone saat jam kerja.

Mungkin teman-teman agak heran, nggak boleh bawa handphone tapi kok bisa posting dan kadang-kadang balas komen? Ya, karena diperbolehkan bawa modem ke kantor untuk cek email, balas email, download aturan-aturan baru, sesekali lihat website dan perusahaan. Nah, saat kesempatan inilah setelah kerjaan tadi selesai sempatkan untuk ngeblog dulu. Yang penting kerjaan pokok beres.

Nah waktu keluar sebentar dari kantor dan di kamar, saya baca-baca review di whatsapp ternyata masih membahas postingan pertama dan kedua. Hari itu ada 4 postingan yang dijatah untuk direview dan alamak saya giliran direview yang terakhir, ini kata mbak Mikan. Dibela-belain buru-buru pulang akhirnya dapat giliran terakhir. Tapi, yo ora opo-opo, jam 9.30 saya balik lagi ke kantor, karena kalau kelamaan di rumah malah bikin orang lain curiga, ini orang ngapain aja kok jam kerja berlama-lama di rumah?

Waktu yang tepat itu akhirnya datang juga, pas jam istirahat kantor, mulai jam 11.00 sampai jam 12.30. Biasanya kalau waktu istirahat, setelah pulang makan siang dulu di kantor sama-sama teman lainnya. Makanannya sudah disiapkan sama mbak-mbak di dapur. Tinggal dipindahkan saja ke mulut :-). Jadi nggak perlu masak sendiri atau ke luar kantor dan pergi cari warung makan, restoran atau jalan-jalan ke mall untuk makan siang. Ini kerja di hutan, bro dan sis :-).

Setelah makan siang, barulah meneruskan lihat review lagi di rumah. Dan ternyata masih giliran antrian yang ketiga yang lagi direview, belum saatnya giliran saya. Sabar..sabar namanya juga urutan yang keempat jadi harus sabar tunggu giliran. Waktu terus berlalu, jam pun sudah menunjukkan waktu 11.45 WIB. Karena sudah masuk waktu dhuhur, aktivitas memantau di layar handphone sementara istirahat dulu.

Selesai sholat dhuhur, kembali ke layar handphone. Rupanya ada pergantian mentor, dari mbak Riemikan ke mbak Eva si ransel biru, the gilrs with the blue suitcase. Pas saat inilah saya jadi pasiennya mbak Eva. Dah….. mbak Mikan 🙂 Langsung direview? Belum juga karena mbak Eva belum dapat linknya, padahal waktu sudah menunjukkan hampir jam 12.30 WIB, saat harus masuk kantor lagi 5 menit lagi.

Menit-menit terakhir inilah baru ada review dari mbak Eva, tepat sirene di camp berbunyi, tanda karyawan harus masuk kantor lagi. Saat itulah serasa berada di simpang jalan. Langsung berangkat ke kantor atau baca dulu reviewnya? Kalau langsung ke kantor nanti dikira mbak Eva, reviewnya saya cuekin kok sampai nggak ada komen atau another question. Langsung ditanggapi, resikonya terlambat masuk kantor.

Keputusan harus diambil dengan cepat, saya pilih yang kedua saya baca dulu reviewnya, kasih tanggapan dan setelah itu berangkat ke kantor. Untungnya dari mess ke kantor nggak jauh. Cukup jalan kaki 3 menit sampai. Jadi nggak pakai macet :-). Tapi tetap terlambat 7 menit sampai ke kantor.

Jam 13.30 saya sempatkan keluar kantor lagi sebentar dan menengok gimana progres obrolannya. Rupanya jam-jam segitu lalu lintas obrolan di BEC learning sudah agak sepi. Tarik napas lega dulu dalam-dalam. Kesimpulannya bisa dilihat di BEC learning. Poin pentingnya sih mbak Eva kasih saran supaya konsisten dalam penggunaan bentuk tense waktu lampau. Terutama kalau sekarang ini cerita tentang kejadian yang dulu seharusnya dilakukan tapi nggak dikerjakan. Harus pakai should have + V3.

Btw, ada satu hal yang bikin saya kaget plus senang waktu mbak Eva bilang “Overall, a fantastic theme” di akhir kesimpulannya. Cuma numpang tanya ya, mbak, yang fantastic itu apanya ya? Theme yang ada di kepala blog atau atau theme cerita postingan EF#8. Rada gagal paham, nih 🙂

EF#5 Learn from Young People

One of my pupose to join with BEC is most of the members are young people 🙂 . I mean, most of them are younger than me. Not only the admins, but also the mentors.

Young people usually have more anthusiasm and spirit to do something new. President Soekarno ever said,”Give me ten young people and I would change the world”. In this club, might be the quote is “Give me four young people and mentors and I would change how to learn English.

So, my desirability to learn English arise when I join in this group. Although I try to fulfill English Friday challenge regularly, but I can’t keep in touch with English learning program in Wednesday. I can’t bring the handphone or another gadget in the office during working hours.

Before joining BEC, I have no plan to write in English in my blog. But, now I have to allocate my time to fulfill the challenge. I have a self-confidence to post in English. I have to find an idea to write, open the dictionary to translate and to post it.

I look like a student who accept an assignment from the teacher. But the difference is there is no punishment in BEC when I don’t do the challenge

    .

    Although there is no punishment, but I have a guilty feeling if I can’t finish my assignment.
    Is this the power of BEC?

EF2# My Wildest Dream: Gathering Members of BEC

At first, I was confused about what to write about this topic “The wildest dream” which is determined by Blog English Club (BEC). After a short break from work in the office, Asr prayer, i can continue this idea to write in English Friday BEC.

I have a dream that one day we can meet or gathering. Time of day? Well, this is what needs to be discussed by  Mas Ryan, Mas Dani, Ms. Nita and also BEC other friends. Could be a year, two years or three years this dream can be realized.

Maybe a little hard to get-togethers with friends in BEC. Moreover, to meet and chat with qualified mentors mastery of English and are currently living abroad.

If BEC has 50 members and can meet somewhere, make meals agenda, there is an event fun games, social service to orphanages or nursing home, how beautiful. A moment will surely be memorable for all. What do you think?

Gabung di Blog English Club

Rupanya sesama blogger juga punya komunitas, lho. Nggak cuma komunitas seputar dunia blogging, tapi lebih dari itu, ada komunitas Blog English Club (BEC) alias perkumpulan para blogger untuk melatih percakapan bahasa Inggris. Ijin dulu nih sama mas Ryan kalau BEC-nya saja jadikan postingan.

Awalnya sih nggak sengaja. Waktu blogwalking di blognya mas Ryan, terus baca beberapa komen di postingannya. Nggak tahunya waktu itu ada komentar mas Dani yang nanyakan jadi nggak Blog English Clubnya? Waktu baca itu langsung saya komen, kalau sudah launching ikutan ya. Lumayan sudah lama nggak praktek bahasa Inggris meski sebatas obrolan yang ringan-ringan di medsos.

Gayung pun bersambut, mas Ryan yang super aktif. Langsung kirim email minta nomor telepon saya karena akan add di whatsapp. Setelah saya kasih nomor telepon, yang tampaknya akan berjalan lancar ternyata nggak semulus yang diduga. Nama saya nggak muncul di whatsapp. Bahkan mas Ryan sampai tanya via SMS apa nomor telepon yang dikasihkan itu nomor telepon aktif.

Setelah beberapa kali kami berdua otak-atik di Whatsapp, akhirnya ada kabar gembira juga, nama saya muncul. Terus saya diminta memperkenalkan diri di situ. Yang waktu itu lagi online selain mas Ryan, mas Dani, Nita juga Asmi alias Aaraminoe (ini artinya apa ya?)

Malam itu kami ngobrol mulai komen isi postingan sampai cerita empek-empek kapal selam :-). Ini karena ada anggota baru di BEC yang juga waktu itu memperkenalkan diri. Namanya kalau nggak salah Grant Gloria, asal dari Palembang. Hayoo tebak dia ini cewek apa cowok?

Besok siangnya obrolan di BEC dilanjut lagi, kali ini cerita masalah kerjaan. Waktu saya cerita saya sudah 20 tahun kerja di tempat yg sama, banyak yang pada heran. Kok, bisa ya kerja selama itu nggak pernah pindah-pindah. Saya terus terang waktu itu juga heran, rupanya banyak teman-teman di BEC yang mungkin semuanya lebih muda dari saya rata-rata sudah beberapa kali pindah kerja. Apa generasi sekarang memang mudah sekali pindah kerja ya?

Sebenarnya nggak apa-apa sih kalau memang di tempat kerja lama udah nggak ada chemistry dengan teman kerja atau pimpinan. Atau ada tawaran di tempat lain yang kariernya cetar membahana. Atau mungkin ada yang mau ngasih take home pay plus lain-lainnya yang lebih tinggi daripada tempat kerja lama. It’s ok. Every decision always carries its own risk, including when no decision is made.

Setelah itu, sorry ya friends, beberapa hari terakhir ini saya nggak aktif ngobrol di BEC karena sibuk dengan pekerjaan offline. Tapi saya senang bisa bergabung di BEC, ya minimal bisa dapat wadah dan teman untuk ngobrol dan nulis bahasa Inggris. Yang namanya belajar bahasa itu ‘kan yang saya tahu memang harus dipraktekkan. Harus dibiasakan ngomong atau nulis langsung, nggak cuma menghapal grammar atau vocabulary. Buat teman-teman blogger lainnya, gabung yuuuk di Blog English Club….