Tulisan Pertama di Majalah Hutan Indonesia

Jpeg

Rasanya memang beda kalau tulisan kita dimuat di blog dibandingkan di majalah. Waktu redaksi majalah Hutan Indonesia mengirim SMS, bahwa tulisan saya akan dimuat di edisi April 2016, rasanya hati ini sudah berbunga-bunga. Padahal lihat majalahnya saja belum :-).

Sebuah majalah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI). Membahas seputar kebijakan dan perkembangan di dunia kehutanan.

Dua hari lalu, sampai juga kiriman majalah itu ke camp. Lima eksemplar saya terima dalam amplop warna coklat. Saya baru selesai membaca tuntas sore ini. Padahal nggak tebal-tebal amat isinya. Hanya 62 halaman saja, tapi saya begitu menikmati membacanya.

Jpeg

Ucapan terima kasih lewat email tak lupa saya sampaikan ke mas Herry Prayitno, staf redaksi, yang Nopember tahun lalu ke camp. Juga yang memberikan masukan sebelum tulisan naik cetak.

Sebuah tulisan yang berawal dari ngobrol-ngobrol di ruang tamu dengan bapak Nana Suparna, Kabid Bidang HTI di APHI. Waktu itu dia tanya bagaimana kegiatan Pembalakan Ramah Lingkungan (Reduced Impact Logging) dilaksanakan. Terus saya jawab dalam bentuk cerita mulai  kegiatan pendataan pohon, penebangan sampai evaluasi.

Tanpa saya duga, pak Nana minta supaya cerita saya itu dibuat dalam bentuk tulisan. Akhirnya, pagi hingga sore waktu pak Nana dan tim APHI melihat-lihat hutan didampingi rekan-rekan di camp, saya kembali ke ruang kerja dan mencoba menulis.

Malamnya waktu pertemuan, konsep tulisan sudah jadi dan saya serahkan. Saat itu juga pak Nana minta supaya konsep tulisan saya diemailkan ke alamat emailnya.

Setelah dibaca, pak Nana juga minta agar konsep tulisan itu diemailkan ke mas Herry dan minta  bisa dimasukkan ke majalah Hutan Indonesia.

Sebuah proses penulisan yang cepat, karena mungkin saya terbiasa menulis di blog. Kalau nggak terbiasa ngeblog, mungkin setengah hari belum selesai untuk buat konsepnya.

Itulah gunanya menulis di blog. Di saat mendadak diperlukan, kita bisa langsung action. Tanpa harus banyak bertanya lagi ke yang meminta. Setelah selesai, baru kita tunjukkan hasilnya.

Ngeblog itu ternyata banyak manfaatnya.

Menempuh Jarak 57 km untuk Bisa Akses Internet dan Kopdar

Seorang pria menyapa saat saya melewati gazebo di samping kantor. “Pak Hendro, ya”. Dengan agak ragu saya menjawab ya sambil berusaha mengingat-ingat siapa gerangan orang ini.

Sebelum saya bertanya lebih jauh, dia bercerita kalau dia guru yang bertugas di SMA negeri di salah satu kecamatan di sekitar perusahaan.

“Saya yang pernah kirim email setelah membaca blog bapak. Karena tulisan bapak itulah saya tahu kondisi di kecamatan tempat saya kerja dan gimana cara menuju lokasi itu”ungkapnya

Saya baru ingat, rupanya dia guru yang berasal dari Jawa Tengah yang baru pertama kali merantau ke luar Jawa. Setelah diterima sebagai PNS, dia ditempatkan di kecamatan Bukit Raya kabupaten Katingan. Lokasi yang dekat dengan tempat kerja saya.

Terus dia cerita lagi, setelah browsing di internet, informasi yang detil tentang lokasi kerja dia dapatkan dari tulisan saya di blog.

Setelah itu, dia intensif bertanya via email. Mulai dari kondisi kecamatan, kehidupan masyarakatnya, transportasi menuju kecamatan dari ibukota propinsi sampai minta saran gimana supaya bisa beradaptasi dengan warga di lokasi tersebut.

Nampaknya dia benar-benar ingin tahu situasi tempat dia akan tinggal dan bekerja. Saya pun berusaha menjawab semua pertanyaannya.

Termasuk salah satu yang dia tanyakan apakah ada pantangan saat bergaul dengan masyarakat. Saya bilang kalau bergaul dengan masyarakat jangan menjanjikan sesuatu. Kalau memang nggak bisa terus terang saja bilang nggak bisa.

Setelah puas mendapat jawaban, dia berharap suatu saat bisa bertemu dengan saya.

Dan haraoan itu terpenuhi hari ini. Bersama seorang temannya yang juga guru dan dua siswanya, dia datang ke main camp km 35. Dengan naik sepeda motor, mereka menempuh jarak 57 km untuk mendapatkan akses internet sekalian ingin kopdar dengan saya. Jarak sejauh itu kurang lebih sama dengan Jakarta – Bogor.

“Di kecamatan belum ada sinyal telepon dan internet, Pak. Di camp terdekat di km 83 juga sinyalnya baru 2G. Lambat buat internetan”katanya waktu ngobrol di Gazebo. Saya lihat dua muridnya lagi asyik buka internet di laptop.

Karena saya siang itu ada rencana ke Pontianak, obrolan pun nggak berlangsung lama. Setelah kurang lebih setenagh jam, saya pamit karena kendaraan sudah menunggu.

Sebuah pertemuan yang terjadi di luar rencana. Tak pernah sekali pun janjian sebelumnya. Sebuah pertemuan yang terjadi atas ijin Tuhan. Bukan cuma harapan dia yang terpenuhi, mimpi yang saya posting di English Friday edisi 9 juga menjadi kenyataan. Dan hanya dalam tempo sehari semalam.

Saat menulis postingan ini di bis malam dalam perjalanan ke Pontianak, saya masih belum percaya bahwa mimpi itu terjadi. Ya, mimpi itu ternyata benar-benar terjadi.

Give Away – Yudhi Hendro Berbagi Cerita

Hari ini, 23 Maret, tepat satu tahun blog ini berumur. Tak terasa waktu setahun berjalan begitu cepat. Rasanya seperti baru kemarin belajar ngeblog. Mulai daftar, pilih theme, mengisi widget, bikin postingan pertama, sampai belajar istilah dalam ngeblog seperti blogwalking, page rank, SEO.

Di ulang tahun yang pertama ini, coba-coba ikut Give Away  (GA) yang diadakan blok Tomkuu. Info ini saya dapat dari hasil jalan-jalan ke blognya beberapa teman. Ini GA ketiga yang aku ikuti. Dibandingkan dua GA sebelumnya, GA kali ini berbeda. Kalau dua GA sebelumnya  diminta untuk bikin postingan yang temanya ditentukan oleh yang punya blog.

GA Tomku ini, kita hanya diminta mencantumkan link postingan yang isinya mereview topik-topik yang beraneka ragam, seputar makanan dan minuman, produk kecantikan, buku, kesehatan, teknologi informasi, atau tempat wisata. Bisa pilih salah satu tema yang kita inginkan. Jadi nggak perlu lagi bikin postingan baru.

Kebetulan ada salah satu tema menarik, mereview tempat wisata. Nah, waktu lebaran tahun 2012 lalu, saya dan keluarga travelling ke obyek wisata di  Singkawang. Semua pengalaman, mulai dari persiapan, terus  perjalanan dari Pontianak dan kunjungan ke obyek wisata, saya tuangkan dalam postingan. Agak panjang juga ceritanya.

Ingin menyimak? Ini dia judulnya :

 https://yudhihendros.wordpress.com/2012/08/24/berlibur-ke-sinka-island-zoo-paduan-wisata-pantai-dan-kebun-binatang/

Hitung-hitung sekalian berbagi cerita dan merealisasikan resolusi tahun 2013. Apa itu? Ikut lomba ngeblog. Cuma itu? Nggak juga sih, sekalian membantu memasarkan potensi wisata di daerah. Terus, siapa tahu panitia GA tertarik dan memberikan balasan yang setimpal  :-).

Postingan ke-100

one-hundred

Dua minggu lagi, tepatnya 23 Desember 2012, sembilan bulan sudah usia blog ini. Kalau melihat data statistik  di dashboard, sampai dengan hari ini, tanggal 12 bulan 12 tahun 2012, sudah 99 tulisan yang saya posting di blog berbagi cerita. Dan di pengujung hari ini, dilengkapi dengan postingan yang ke-100. Kok kebetulan bisa ketemu angka cantik dan kembar ya, 12 dan 99

Di usia yang belum genap setahun ini, di postingan yang ke-100, saya tidak bisa menilai apakah jumlah postingan itu termasuk sedikit atau banyak. Saya juga nggak bisa mengukur isi postingan yang ada, apakah bermanfaat atau tidak. Semuanya saya serahkan kembali kepada para pembaca dan teman-teman blogger setia.

Karena wordpress juga tidak pernah mematok standar bahwa blogger yang baik harus menulis setiap hari, seminggu sekali atau sekali sebulan. WordPress juga nggak pernah menetapkan kriteria isi postingan yang bermanfaat itu seperti apa. Semuanya dikembalikan ke diri masing-masing. Yang jelas kalau seseorang menulis, pasti ada manfaatnya, minimal untuk dirinya sendiri.

Apa saja manfaatnya?

Mengungkapkan ekspresi yang ada di dalam hati dan pikiran. Bagi saya, kalau gagasan, ide atau uneg-uneg di dalam pikiran dan di dalam hati tersalurkan dengan menulis, langsung terasa plong.

Secara psikis terasa ada kenikmatan dan kepuasan batin. Kalau sampai uneg-uneg atau gagasan itu tidak tersalurkan, terasa ada dorongan yang kuat yang entah muncul darimana yang mengarahkan saya untuk menulis.

Kalau teman-teman blogger setelah membaca ada manfaatnya, saya bersyukur. Kalau setelah searching dengan menulis kata kunci untuk mencari artikel yang diinginkan, kemudian diberikan petunjuk mbah Google masuk ke blog ini, saya juga sangat berterima kasih.

Minimal apa yang telah saya tulis, tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, tapi juga diperlukan oleh orang lain.

Nah, di usia yang kesembilan bulan ini, silakan jika ada yang ingin memberikan tanggapan atau komentar terhadap beberapa postingan yang saya buat.

Ya, itung-itung evaluasi akhir tahun. Bukan cuma urusan belajar di sekolah atau pekerjaan saja yang perlu dievaluasi. Blog pun tidak ada salahnya sesekali perlu dievaluasi. Supaya yang membuat postingan juga bisa introspeksi diri.

– Sumber Gambar :

  sihijau.wordpress.com

Tulisannya Renyah, Bahasanya Mudah Dipahami

Sampai hari ini (25/10), sudah 22 narablog yang menjadi follower dan 364 orang yang mengikuti tulisan saya via email. Terima kasih sekali pembaca. Karena tanpa anda, blog ini tak berarti apa-apa. Sebagai tanda terima kasih untuk pembaca, saya hadiahkan hasil jepretan saya, foto anggrek tanah.

Blog ini umurnya masih muda banget, baru tujuh bulan. Belum genap setahun. Meski masih muda, tetap saya usahakan memberikan yang terbaik untuk pembaca. Sebab pembaca ibarat raja yang perlu dilayani sebaik-baiknya. Bentuk pelayanan yang seperti apa? Menyajikan tulisan yang menarik, ringan dan bermanfaat.

Tak hanya itu, 2 – 3 orang teman di tempat kerja juga membaca tulisan saya di blog. Teman-teman yang salah satu kesibukannya adalah update status di FB. Setiap tulisan yang saya buat,  saya tautkan ke FB. Jadi selain terbit di blog, juga otomatis menjadi update status di FB.

Judul tulisan, foto, alamat domain dan sebaris kalimat di paragraf awal langsung muncul di beranda FB, sewaktu postingan di blog saya terbitkan.

Saya pernah bilang dengan teman yang rajin buat status di FB,” Saya sekarang jarang update status di FB. Sesekali saja kasih komen atau konfirmasi teman yang minta add”. Pernyataan yang saya lontarkan sekadar untuk memancing tanggapannya.

Terus, apa jawabnya,”Update status memang jarang, tapi postingan di blog makin lancar”. Rupanya jeli juga dia mengamati .

Awal-awal dulu, saya memang aktif di FB. Update status, beri komentar, kasih cap jempol sampai buka-buka wall teman lainnya. Saya bahkan jadi anggota grup yang isinya teman-teman SMA, teman kuliah, jamaah masjid, teman kerja. Semuanya sering saya datangi dan komentari. Bahkan terkadang saya juga buat tulisan di grup.

Setelah kenal dengan dunia blogging, secara perlahan lokasi berselancar saya mulai bergeser. Dari FB ke blog, dari membuat sebaris tulisan menjadi sebaris cerita. Ada lebih banyak tantangan yang saya rasakan ketika mulai ngeblog.

Tantangan yang nggak saya dapatkan di FB. Mulai memilih disain blog, mengisi side bar, menjaring ide untuk menulis, sampai blogwalking. Ada suasana lain ketika memasuki dunia blogging. Saya ibaratkan seperti orang yang membangun rumah.

Lahan atau domainnya sudah ada, setelah itu saya pilih template atau rumah yang ada bagian-bagiannya. Ada ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, dapur, kamar mandi dan ruang makan,

Setelah itu, masing-masing ruang tadi harus diisi. Ada meja kursi di ruang tamu. Televisi dan sofa di ruang keluarga. Ranjang dan lemari pakaian di kamar tidur. Suasana kreatif dan daya imajinasi itu yang saya sukai di dunia blogging dan tidak saya temukan di FB. Dan kita diberi keleluasan untuk merancang seperti apa rumah yang saya inginkan. Keleluasaan untuk menulis dan mengalirkan ide-ide ke setiap ruangan yang telah dibuat.

Cuma bedanya, memang jarang yang kasih komentar setelah saya tautkan postingan di FB. Komentar dan tanggapan tidak sebanyak di blog.  Wajar juga sih, pengguna FB ‘kan terbiasa membaca status yang kalimatnya pendek-pendek. Setelah itu, beri komentar atau cuma like. Hanya orang-orang tertentu yang betah membaca cerita postingan, setelah itu berkomentar.

Sementara kalau kita masuk di blog, secara nggak langsung kita sedikit dipaksa untuk membaca tulisan yg menurut kita menarik. Nah, tulisan yang membuat pembaca tertarik itu seperti apa, sih?

Waktu saya tanya salah satu teman yang sering baca postingan saya, dia bilang,” Saya suka baca tulisan Bapak, karena bahasanya mudah dipahami”. Teman lainnya berkomentar,”Tulisannya renyah, Pak”.

Renyah? Memangnya tulisan saya ini seperti rempeyek yang enak dimakan.

Salam

Evaluasi Itu Perlu

Tak terasa, sudah enam bulan blog ini berumur. Sebuah umur yang masih teramat muda dibandingkan blog sobat-sobat lainnya. Meski baru setengah tahun umurnya, nggak ada salahnya kalau saya coba evaluasi apa yang terjadi selama satu semester ini.

Pengin tahu saja, sudah berapa postingan sampai saat ini? Postingan apa saja yang masuk Top Post and Page. Berapa rata-rata kunjungan per hari. Nah, kalau sudah dievaluasi, minimal saya tahu, untuk enam bulan selanjutnya saya harus ngapain dengan blog ini. Mau diterusin, hiatus atau ditutup .

Sebagai informasi, blog ini dibuat 23 Maret yang lalu. Awalnya sekadar untuk mengisi waktu luang dan berbagi informasi.

Untuk mengevaluasi, saya coba catat data-data dari blog stat yang ada di menu dashboar wordpress. Ada tiga poin yang sudah saya catat dan hasilnya seperti ini :

1. Postingan.
Selama enam bulan ini, rupanya saya sudah buat 73 postingan. Berarti rata-rata 12 postingan per bulan atau setiap tiga hari sekali ada 1 postingan. Inginnya sih satu hari satu postingan. Bisa nggak ya? Kalau mau pasti bisa.

2. Top Post and Page
Masih terkait dengan postingan, setelah saya baca statistik wordpress, ada tiga besar postingan yang sering dicari dan diklik pengunjung. Ini dia yang masuk peringkat tiga besar :

a. Pohon Ulin, Kayunya Sekeras Besi
b. Bis Yang Melintasi Tiga Negara
c.Perahu Klotok, Transportasi Utama Di Pedalaman Kalteng

Kenapa tiga postingan tersebut yang banyak dicari?. Blog memang menjadi salah satu cara untuk mendapatkan informasi. Tiga postingan tadi memperkuat pendapat tersebut. Sifat tiga postingan tadi adalah hasil liputan yang saya rangkum dari lapangan dan berbagai sumber. Ya, cara liputannya mirip wartawan. Datang ke lapangan, memotret dan sekali-kali bertanya ke narasumber.

Untuk mendapatkan foto biji ulin, pohonnya dan rangka rumah yang terbuat kayu ulin, saya potret sewaktu jalan-jalan ke hutan dan ke desa. Liputan tentang bis yang melintasi tiga negara, saya sampai datang ke kantor Damri untuk wawancara dengan petugasnya. Wawancara secara halus, maksudnya sambil beli tiket bis, sekalian saya ajak ngobrol dan tanya rute bis yang lainnya.

Jadi sang narasumber tidak merasa kalau lagi diwawancarai. Mungkin dia sendiri heran, ngapain penumpang yang satu ini? kok selesai beli tiket nggak langsung pulang, malah banyak tanya yang lain-lain.

Kalau saya cermati, liputan ketiganya punya keunikan berita atau informasi. Mungkin hal itu yang membuat pengunjung tertarik membaca.

3. Rata-rata kunjungan per hari
Waktu awal bikin blog dan postingan di bulan Maret 2012, rata-rata pengunjungnya hanya 5 orang per hari. Sampai dengan bulan September 2012, wow rata-rata per hari sudah melonjak menjadi 61 orang. Naiknya 12 kali lipat selama enam bulan. Ini berarti blog yang saya buat memang ada gunanya untuk pengunjung.

Ada manfaat yang didapat, minimal setelah BW terus tinggalkan jejak sebentar. Syukur kalau ada yang pas lagi dapat tugas sekolah atau kuliah, terus browsing cari artikel yang diinginkan dan mesin pencarinya mbah Google langsung mengarahkan ke blog saya. Artinya, saya harus mikir-mikir lagi kalau blog ini mau distop.

Jadi, seperti itu hasil evaluasi semester ini keberadaan blog Yudhi Hendro Berbagi Cerita. So, What? Ya melihat trend pengunjung yang makin meningkat, susah dan berat rasanya untuk tidak meneruskan postingan di blog ini.

Sumber gambar :

–  fajars.wordpress.com

Apapun Masalahnya, Coba Atasi dengan Komunikasi

“ Mas keluar dari grup keluarga ya”, demikian pesan Black Berry Messsenger (BBM) tadi malam (25/4) dari adik ipar yang tinggal di seberang pulau. Berita tersebut cukup mengejutkan dan membuat saya penasaran.

Siapa pun anggota grup yang membaca berita tersebut, akan memiliki persepsi kalau saya tidak mau gabung lagi dengan grup keluarga. Setelah saya cek, ternyata informasi tersebut tidak benar karena saya tidak pernah gabung di grup keluarga. Saya balas pesan tersebut  kalau selama ini saya tidak pernah masuk grup keluarga. Barulah, dia menjelaskan ada dua grup keluarga dalam BBM tersebut,  A dan  B, dan nama saya tidak ada di dua grup itu. Saya baru tahu, rupanya di pihak keluarga besar  ada dua grup untuk berkomunikasi dengan anggotanya. Saya pun baru sadar dan menyadari kekeliruan, rupanya selama ini saya jarang berkomunikasi sehingga tidak tahu informasi dan perkembangan keluarga besar.

Berkaca dari pengalaman di atas, kalau kita perhatikan, sebagian besar permasalahan yang terjadi di dalam rumah tangga maupun tempat kerja berawal dari kurangnya komunikasi. Salah paham, salah persepsi, salah informasi sebenarnya dapat dikurangi bila dua pihak bersedia meluangkan waktu untuk berkomunikasi secara rutin.

Seseorang yang taat berkomunikasi dengan sang penciptaNya akan diberikan kemudahan dan jalan keluar dari permasalahannya. Suami istri yang sering berkomunikasi, akan tahu perkembangan yang terjadi di dalam rumah tangganya walaupun tinggal berjauhan. Orang tua yang rajin berkomunikasi dengan anaknya, akan memahami masalah yang dihadapi anak-anaknya baik di rumah maupun di sekolah. Atasan yang tidak alergi berkomunikasi dapat mengurangi kesalahan persepsi dan pemahaman dari bawahannya. Nggak heran, kalau pada saat ini di beberapa perusahaan, media sosial (facebook, twitter, blog, SMS) sering dijadikan sarana untuk menjalin komunikasi antar karyawan dan menyampaikan informasi terbaru. Karena selain keakuratan, kecepatan penyampaian informasi juga sangat penting dalam pengambilan keputusan.

Memang tidak mudah berkomunikasi secara intensif.  Kemauan mendengarkan adalah modal penting agar komunikasi berjalan lancar. Tidak hanya mendengar (to hear), tetapi mendengarkan (to listen). Sekilas nampak sama antara pengertian mendengar dan mendengarkan, padahal substansinya berbeda.

Mendengar dapat dilakukan sambil mengerjakan kegiatan lain seperti baca koran, mendengar musik, melihat televisi, menatap layar komputer atau mengetik pesan SMS/BBM. Lain halnya dengan mendengarkan, dimana lawan bicara anda akan menghentikan sejenak aktivitasnya dan dengan seksama menyimak isi pembicaraan anda, menanggapi dan bahkan memberi alternatif solusi. Jelas berbeda, bukan.

Kemampuan berkomunikasi sangat penting bagi kita, terutama dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Apapun masalah yang terjadi, akan dapat diatasi bila kita rajin berkomunikasi. Dan komunikasi akan berjalan dengan baik,  bila kita tidak hanya mau didengarkan, tapi juga mau mendengarkan.

Sumber foto : lintas zona baca.blogspot.com