Kopdar Terunik dan Tersingkat

Kopi darat tanpa ngopi. Seperti itu status yang tertulis di BBM salah satu blogger setelah ketemu saya dalam waktu yang singkat.

Ide untuk ketemu alias kopi darat dengan kang Zainal mungkin cukup unik. Biasanya kalau kopdar, kita ketemu di café, rumah makan atau tempat-tempat nongkrong lainnya. Tapi waktu saya kopdar sama dia, ketemunya di depan warung makan. Bukan di dalam warung makan sambil menikmati segelas kopi panas kental manis atau secangkir teh hangat. Waktunya juga cukup singkat, sekitar tiga menit saja.

Kopdar di depan warung makan? Benar. Ini true story. Kok, ketemunya di depan warung makan. Kenapa nggak sekalian di warung makannya? Mungkin seperti itu pertanyaan teman-teman blogger. Ingin tahu ceritanya?

Sebenarnya sudah lama saya ingin kopdar sama kang Zainal. Demikian juga sebaliknya. dia sering tanya kapan ya kita bisa kopi darat. Karena udah lama kenal dan belum pernah kopdar, akhirnya muncul ide unik untuk kopdar.

Waktu itu di BBM, kang Zainal bilang kalau mau mengajukan proposal sumbangan untuk membangun asrama santri di dekat tempat tinggalnya. Saya bilang ok dan nanti kalau ketemu, proposalnya saya bawa dan edarkan ke teman-teman di camp.

Cuma yang nggak mudah itu menentukan kapan ketemunya. Sampai akhirnya tercetus gagasan untuk menjemput proposal. Menjemput proposal? Ya, bukan proposalnya yang diserahkan kepada saya. Tapi saya yang menghampiri kang Zainal untuk mengambil proposalnya.

Lewat BBM, komunikasi pun berjalan intensif. Minggu pagi 7 Juni saya kirim pesan buat dia.

“Saya hari ini mau ke Pontianak. Naik bis Damri yg berangkat jam sembilan pagi. Kira-kira jam 10 sampai Pandan.

Proposalnya disiapkan ya”kata saya

“Ya, Mas. Saya ambil dulu proposalnya di pondok”jawabnya

“Nanti kita ketemu di depan masjid ya. Nanti saya bilang sama sopir bisnya supaya berhenti sebentar”pesan saya lagi.

“Kalau bisa, bisnya berhenti di depan warung makan bu Karti, Mas. Saya tunggu di situ”jawabnya.

“Ok, kalau sudah lewat depan Brimob akan saya beritahu”balas saya.

Waktu itu itu saya belum paham kenapa kang Zainal kok maunya nunggu di depan warung makan Bu Karti dan bukan di depan Masjid.

Sampai di simpang Pandan, bis pun berjalan pelan. Saya yang duduk di kursi 4A bersiap-siap turun dari bis.

“Berhenti sebentar di depan warung bu Karti, mas”pinta saya ke sopir bis.

Bis pun menepi, saya berjalan melewati beberapa penunpang yang duduk di antara supir dan pintu bis. Setelah sopir kedua membukakan pintu, saya bergegas turun

“Alhamdulillah, akhirnya kita bisa juga ketemu”kata saya. Rupanya kang Zainal sudah berdiri di depan pintu. Begitu saya keluar dari bis langsung disambut dengan senyumannya hangat.

“Wah, nggak nyangka bisa ketemu ya. Ini proposalnya, Mas” katanya sambil menyodorkan satu map berisi proposal sumbangan.

Setelah membaca sekilas, saya bilang,”Proposalnya saya bawa ke camp, ya”. Saya pun pamit. Masuk lagi ke dalam bis dan melanjutkan perjalanan ke Pontianak. Benar-benar proses kopdar yang cukup singkat dan unik.

Bis pun perlahan bergerak lagi dan ketika melewati ujung warung makan bu Karti, saya baru paham mengapa Kang Zainal ingin kopdar di tempat itu. Rupanya dia juga nggak ingin jauh-jauh dari tempat jualannya yang berada di samping rumah makan bu Karti.

Di dalam bis, saya tulis pesan lagi,”Wah, kalo tahu jualan es buah, tadi saya pesan jus melon atau tomat. Saya suka minum jus, Kang”

Dia pun menjawab,”Kalau tadi pesan, saya siapkan seporsi, Mas, untuk di perjalanan”

Melayani Pembaca Blog

“Kalau sewa Royal, apa bisa, Pak?”

Demikian pertanyaan salah seorang pembaca blog dua hari lalu via email. Menerima pertanyaan seperti itu saya pun langsung menjawab,”Mengenai sewa bis Royal, sebaiknya langsung ditanyakan ke Damri, Mbak”. Saya sebutkan juga nomor telepon kantor bis tersebut. Saya sarankan seperti itu karena saya sendiri belum punya informasi yang lengkap bagaimana menyewa bis tersebut. Selain itu, agar dia juga bisa mendapat informasi dan berkomunikasi langsung dengan agen bisnya.

Melayani pembaca blog ternyata tidak hanya menjawab komentar blogger lain di postingan. Bagi saya, setiap pertanyaan yang masuk via email meski bukan dari blogger juga selayaknya ditanggapi. Bagaimana pun juga, dia sudah meluangkan waktu untuk membaca postingan dan menjelajah isi blog kita.

Jika dia selanjutnya tertarik karena ada informasi yang cocok dengan yang dicari, berarti postingan kita minimal telah memberikan jalan untuk memperoleh jawaban. Bukankah tulisan dalam blog adalah satu referensi yang sering digunakan oleh pembaca untuk mendapatkan informasi?

Tak hanya sekali saya menerima pertanyaan seperti itu. Sebelumnya ada juga seseorang yang tinggal di Jakarta dan akan bepergian ke Kuching, Malaysia dan bertanya via email. Bisa jadi setelah membaca blog saya yang membahas bis yang rutenya dari Pontianak ke Kuching, dia tertarik dan ingin tahu lebih banyak. Akhirnya komunikasi aktif pun terjalin via email.

Yang lebih seru adalah yang pernah saya ceritakan tentang seorang guru dari Jawa yang akan ditempatkan di salah satu kecamatan yang termasuk paling hulu di kabupaten Katingan. Dia banyak mendapat informasi tentang kondisi kecamatan tersebut, kehidupan masyarakatnya dan bagaimana menuju ke ibukota kecamatan, setelah membaca blog dan berkomunikasi intensif via email. Ibukota kecamatan di mana dia akan mengajar itu memang pernah saya posting di blog.

Melayani pembaca blog adalah salah satu kebahagiaan yang saya rasakan sebagai blogger.

200 followers, Makasih buat Teman Blogger

followed-blog-200-1x

Kaget juga waktu lihat notifikasi. Diam-diam, WP rupanya mencatat sudah ada 200 teman blogger yang follow blog ini. Blog yang isinya berbagi cerita-cerita ringan yang sehari-hari saya alami, lihat dan rasakan. Selama 2,5 tahun ngeblog dan diikuti oleh 200 followers adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya.

Nggak ada kata selain ucapan makasih banyak ya buat semuanya. Buat yang sudah follow, baca postingan, kasih komen dan juga klik like.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”,Minke – Rumah Kaca, 352”

Pramoedya Ananta Toer

 

 

 

 

 

Satu Lagi Manfaat NGEBLOG

Menulis di blog adalah salah satu cara untuk membagikan pengalaman dan pengetahuan bagi orang lain. Aktivitas ini juga membuka peluang bagi kita untuk mendapatkan pengalaman dan teman baru. Menjalin pertemanan dan saling berbagi pengalaman. Itulah salah satu manfaat yang saya dapatkan dari ngeblog.

Tak lama setelah mendapat ucapan selamat ultah dari WordPress, siang harinya saya terima email dari seseorang yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Email pertama yang saya terima dari Shiori Kunigawa, seseorang yang aktif di komunitas jalan-jalan Indonesia.
Sebuah email yang berisi ucapan terima kasih karena telah mendapatkan banyak informasi yang bermanfaat dari blog ini. Membaca email Shiori membuat hati saya berbunga-bunga. Perasaan bahagia tiba-tiba menjalar dalam diri saya. Inilah sejatinya kebahagiaan seorang blogger, yaitu ketika pembaca mendapat manfaat setelah membaca postingannya.

Ini sebagian isi email Shiori yang saya kutip kembali :

Setelah baca2 website/blog anda, saya mendapatkan banyak info yg sangat bermanfaat. terima kasih ya 🙂

Kebetulan saya jg active di komunitas jalan2 indonesia, www.jalan2.com , yg bertujuan untuk memudahkan pertukaran info jalan2 sesama orang indonesia yg ingin berwisata domestik ataupun ke luar negeri.

dengan banyaknya org yg bertanya & sharing info jalan2 mereka, maka di harapkan memudahkan travellers untuk bepergian kemana2

Bagi teman-teman yang hobi jalan-jalan atau ingin merencanakan untuk berwisata, website yang disarankan Shiori di atas bisa dijadikan sebagai salah satu rujukan. Segera setelah saya terima emailnya, saya pun langsung meluncur ke website itu. Informasi tentang kota-kota di nusantara maupun manca negara yang menjadi tujuan wisata cukup lengkap. Ulasan tentang obyek-obyek wisata yang berada di kota tersebut juga disajikan cukup detil.

Saya ambil contoh, ketika klik kota Pontianak untuk mencari informasi obyek wisata Museum di Pontianak. Ini adalah salah satu obyek wisata yang belum pernah saya datangi. Sebelum ke sana, saya ingin tahu berapa harga tiket masuknya, hari apa saja bukanya, jam berapa untuk waktu kunjungan tamu dan apa saja isi museum tersebut. Setelah saya baca, ternyata penjelasannya sangat lengkap dan semua informasi yang saya cari tersebut tersedia.

Nah, bagi teman-teman, silakan kalau mau berselancar dulu di website tersebut sebelum datang langsung ke lokasinya. Bukankah lebih baik kita pernah mendapatkan informasi tentang suatu tempat yang akan kita datangi daripada tidak sama sekali?

Kopdar Ternyata nggak Mudah

Sebelumnya, saya membayangkan kalau kopdar sesama blogger di dunia nyata itu mudah. Apalagi setelah membaca postingan dari teman-teman tentang serunya kopdar. Ditambah lagi foto-fotonya yang menggambarkan kalau kopdar adalah kegiatan yang sangat berkesan dan meninggalkan sejuta cerita.

Janjian ketemu di suatu tempat, tentukan tanggalnya dan sesuai kesepakatan langsung meluncur ke lokasi. Jadilah kopdar. Yang biasa berakrab ria di dunia maya, akhirnya kesampaian bertemu di dunia nyata

Namun dibalik keberhasilan kopdar tersebut, mungkin tidak banyak yang bercerita bagaimana lika-liku dan proses yang dijalani sehingga pertemuan tersebut bisa terjadi. Saya baru mengalami, ternyata untuk kopdar memang nggak mudah.

Mungkin si A bisa datang pada tanggal dan tempat yang ditentukan, tapi bagi si B nggak bisa karena kesibukan pekerjaan. Atau bagi si B pada saat ini ada di rumah dan tidak bepergian, namun si A tidak dapat datang ke kota tersebut karena tidak diijinkan pimpinannya. Cara mensiasatinya, akhirnya dengan menjadikan kopi darat bukan sebagai satu-satunya tujuan pada saat kita bepergian di suatu tempat. Itu pun belum menjamin kopdar bisa terlaksana. Seperti yang saya alami beberapa hari lalu.

Setiap blogger termasuk saya dalam hati kecil pasti ingin ketemu dengan teman-teman blogger secara langsung. Dengan mas Zainal, proses penjajagan untuk kopi darat sudah dilakukan. Mulai dari saling tukar nomor HP, SMS-an, juga bicara lewat telepon.
Dalam komentar postingan, dia pun pernah menanyakan kapan ada waktu ke Sintang. Nah, kesempatan itu datang juga. Akhir Pebruari lalu, dalam waktu seminggu saya tiga hari bolak-balik camp-Sintang.

Pertama, tanggal 24 Pebruari untuk jemput dua orang tamu di bandara. Kedua tanggal 27 Pebruari untuk antar kembali ke bandara 1 orang tamu dari Jerman yang pulang duluan. Ketiga, tanggal 1 Maret kemarin untuk antar satu tamu lagi yang pulang. Waktu antar tamu yang pulang tanggal 27 Pebruari, sempat terlintas dalam pikiran untuk merancang kopi darat dengan Mas Zainal yang domisilinya di Pandan, Kecamatan Sungai Tebelian. Daerah ini selalu dilalui kendaraan yang melintas dari Nanga Pinoh ke Sintang PP. Waktu tempuh kedua tempat itu sekitar 1,5 jam.

Setelah tiba di camp, sore hari saya SMS mas Zainal. Isinya tawaran kopi darat di warung Bakso mas Bejo di pertigaan jalan Pinoh-Sintang tanggal 1 Maret. Rencananya setelah mengantar tamu, pulangnya bisa makan bakso sekalian kopdar dengan Mas Zainal.

SMS terkirim dan saya menunggu balasannya dengan harap-harap cemas, semoga rencana kopi darat dapat dilaksanakan. Balasan SMS saya terima malam hari ketika menemani tamu makan malam. Namun Allah SWT menentukan lain. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Mas Zainal ternyata belum bisa memenuhi permintaan untuk kopi darat tanggal 1 Maret, karena kesibukan pekerjaan. Semoga lain waktu bisa ketemu ya, Mas. Juga dengan teman blogger-blogger lainnya.

Dapat Hadiah Buku tanpa Lomba

Lho, kok bisa dapat hadiah tanpa ikut lomba? Mungkin itu pertanyaan yang muncul saat baca judul di atas. Bisa saja, karena minggu lalu saya dapat kiriman buku dari Surabaya. Kiriman buku dari sesama blogger. Karena masih tugas ke lapangan, paket buku itu istri saya yang terima di Pontianak. Jadi maaf kalau gambar atau foto bukunya belum saya posting.

Adalah mbak Indri Hapsari, blogger super produktif dalam menulis yang berbaik hati sudah bela-belain kirim buku tanpa syarat. Ya, tanpa syarat. Tanpa saya harus bikin postingan atau syarat lain seperti yang biasanya diminta pemberi hadiah.

Terus, kenapa kok sampai dia mau kasih hadiah buku? Dugaan saya, diam-diam si mbak yang juga dosen ini mengamati blogger lain yang sering berkunjung ke blognya. Inilah yang namanya bekerja dalam diam. Diam-diam memperhatikan  siapa saja yang rajin membaca dan berkomentar. Dan dalam diamnya itulah penilaian dilakukan. Saya nggak menyangka, rupanya kebiasaan blogwalking di blognya membawa berkah.

Dan dari hasil pengamatannya itulah, katanya sih saya termasuk salah satu diantara 10 orang yang mendapat hadiah buku. Hadiah sebagai tanda ucapan terima kasih sudah sering membaca dan berkomentar di postingannya. Judul bukunya pun boleh dipilih.

Wow, baru tahu rupanya, bukan hanya yang menang lomba atau ngontes saja yang dapat hadiah. Blogger yang rajin membaca dan berkomentar pun dapat penghargaan, dihadiahi buku. Inilah salah satu bukti indahnya jalinan pertemanan di dunia blogging. Makasih banyak lho, mbak.

1/2 Kopdar

1/2 kopdar? Istilah apa lagi ini? Saya belum temukan istilah yang tepat untuk dua orang blogger yang sudah saling kenal dan kontak tapi belum pernah ketemu langsung. Hubungan keduanya sudah terjalin lewat telpon-telponan tapi belum sampai kopi darat alias ketemu langsung.

1/2 kopdar ini tingkatannya mungkin sudah lebih tinggi ketimbang saling membaca dan komen di postingan. Karena sudah melibatkan komunikasi langsung. Sudah saling tukar nomor hp segala untuk ngobrol. Sudah saling mendengar suaranya, gaya bicaranya atau mungkin sekilas bisa menebak sifat orangnya. Pendiam, ramah, ceplas-ceplos atau malu-malu.

Cerita 1/2 kopdar ini yang saya alami waktu ngobrol sama Mas Zainal, blogger pemilik akun kandangbubrah.wordpress.com yg domisilinya di daerah Sintang dan sekarang lagi mencari sesuap nasi di Tayan, Sanggau. Berawal dari saling komen di postingan, akhirnya dia minta nomor hp saya. Saya kirim via email. Ngobrol lewat telepon pun terjadilah. Cerita keluarga, kerjaan sampai gimana supaya dapat ide untuk ngeblog.

Pertama 1/2 kopdar sama mas Zainal, ada yg bikin saya nggak enak hati. Sering dia ngomong pakai boso jowo kromo madyo, bahasa jawa halus tingkat menengah. Padahal saya sudah bela-belain pakai bahasa Indonesia. Supaya pembicaraannya setara dan nggak perlu ada tingkatan seperti dalam bahasa Jawa.

Apa karena saya yang lebih tua? Padahal di rumahnya, Mas Zainal ini membiasakan bicara dengan istri dan anak-anaknya pakai bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Karena istrinya orang Sunda, sementara anak-anaknya lahir dan besar di Kalimantan.

Obrolan kedua waktu saya di Pontianak. Lama juga waktu itu ngobrolnya, hampir satu jam. Mulai jam 5 sore sampai menjelang maghrib. Rupanya, Mas Zainal ini untuk bisa nelpon harus berjuang. Maksudnya berjuang mendapatkan tempat yang bisa menerima sinyal ponsel.

Biasanya dia manfaatkan waktu pas turun gunung, main atau jalan-jalan ke kota terdekat. Pantas, kalau saya hubungi agak susah, rupanya dia kerja dan tinggal di tempat yang susah untuk terima sinyal. Kadang-kadang obrolan terhenti karena sinyal putus atau gangguan.

Yang saya salut dengan mas Zainal ini semangat belajarnya untuk ngeblog. Setiap turun ke kota, selain telepon dia juga menyempatkan untuk buka internet. Waktu dia tanya gimana supaya dapat ide untuk postingan, saya bilang wah pengalaman dan cerita waktu susahnya mencari sinyal, perjalanan ke tempat kerja atau pisah dengan keluarga bisa jadi bahan postingan yang menarik itu.

Sayang, karena sudah masuk waktu maghrib, obrolan pun berakhir. Terima kasih banyak lho Mas Zainal sudah mau telepon dan ngobrol ngalor ngidul. Meski  kita belum pernah ketemu langsung, tapi sekali ngobrol langsung bisa menyambung dan seolah-olah sudah kenal lama. Padahal kita belum pernah bertemu muka.  Semoga suatu saat bisa full kopdar ya..

Memecah Kebuntuan Saat Kopdar

Selama aktif di sosia media, tak sekali pun saya pernah ikut kopdar alias kopi darat. Sebuah ajang pertemuan antara pegiat di dunia maya yang akhirnya sepakat bertemu langsung di kehidupan nyata. Jangankan ikut kopi darat.
Pertemuan atau reuni dengan teman SMP, SMA atau kuliah pun belum pernah ikut.

Pernah membayangkan dengan betapa asyiknya bertemu teman-teman waktu kopdar. Bedanya, kalau reuni kita sudah pernah kenal dan ketemu langsung secara fisik. Yang membedakan mungkin, kalau dulu waktu masih SMA atau kuliah badannya masih kurus, sekarang setelah bekerja dan berumah tangga, lingkar pinggangnya sudah melar dan perut membuncit.

Kalau kopi darat dengan teman-teman di dunia maya lain lagi. Sebagian besar belum pernah lihat langsung secara fisik. Maksimal hanya sebatas lihat foto profilnya, itu pun kalau gambar atau foto dirinya yang muncul di profil picture.

Karena terkadang ada juga teman di dunia maya yang foto profilnya gambar pemandangan, gambar mobil balap, tokoh kartun atau gambar anaknya. Nah kalau yang ini memang ada perasaan penasaran, gimana sih orangnya, tampangnya.Yang memasang foto profil pun terkadang juga bisa bikin teman kopdarnya salah duga. Lho, di foto profil wajahnya putih kok waktu ketemu jadi sawo matang. Waktu di foto orangnya terlihat murah senyum, tapi waktu ketemu malah sering cemberut.

Begitu pula dengan pembawaannya dan sifat-sifatnya. Selagi di media sosial kalau ngobrol ramai banget dan kesannya orangnya itu enak diajak chatting. Tapi pas ketemu head to head tiba-tiba jadi kalem. Bicara empat mata yang muncul malah ngrogi. Ngobrol face to face terlihat salah tingkah.

Begitu banyak kejadian-kejadian lucu dan tak mudah dilupakan waktu pertama kali dengar cerita teman-teman yang kopdar. Ini bisa terjadi karena kesan yang tertanam di dalam pikiran kita tentang teman kopdar adalah hasil interaksi kita dengannya di dunia maya. Jadi kita hanya bisa menilai dirinya dari tulisannya, komentarnya dan juga sedikit dari fotonya.

Sebenarnya, awal ketemu kemudian agak grogi itu biasa. Orang pertama kali berjumpa, kalau langsung akrab malah bikin heran. Ada momen dimana harus ada pihak yang berinisiatif untuk mencairakan suasana. Ada salah satu yang harus jadi ice breaker. Pemecah kebuntuan dan kekakuan dalam memulai pembicaraan.

Memang saya belum pernah ikut kopdar. Namun sehari-hari saya sering ketemu orang-orang baru yang sebelumnya belum pernah saya kenal. Tugas saya sebagai karyawan yang kerap mendampingi tamu mengharuskan saya untuk juga berfungsi sebagai ice breaker tadi. Kalau bertemu dengan tamu yang orangnya suka cerita, saya malah senang. Karena cukup jadi pendengar setia dan sesekali mengomentari ceritanya.

Namun tak semua tamu punya sifat seperti itu, suka cerita dan ngobrol ngalor ngidul. Adakalanya ketemu orang yang sifatnya pendiam. Jika menemukan orang-orang model seperti itu, saya langsung tanya dengan pertanyaan yang dimulai dengan kata “bagaimana” atau “gimana”. Bukan pertanyaan yang diawali dengan kata “apa” yang hanya memberikan kepastian jawabannya hanya iya atau tidak.

Pertanyaan yang dimulai dengan kata bagaimana atau gimana akan sedikit memaksa tamu tersebut untuk bercerita dan memulai obrolan. Gimana pak perjalanannya? Gimana pak rasanya pertama datang ke hutan. Gimana bu setelah menempuh perjalanan darat naik bis?

Pertanyaan itu bisa juga dijadikan sebagai pemecah kebuntuan pada saat kopi darat. Kalau dua orang atau lebih punya minat, hobi dan kesukaan yang sama, nggak masalah. Obrolan yang sudah berlangsung di media sosial cukup dikembangkan saat bertemu di dunia nyata.

Kopi darat sesama peminat travelling akan banyak bertukar cerita tentang pengalamannya jalan-jalan ke obyek wisata yang menarik, kuliner khas yang perlu dicicipi dan souvenir yang perlu dibeli. Demikian juga dengan blogger yang punya hobi otomotif, obrolan tentang motogp atau formula 1 pasti jadi cerita yang nggak akan habis untuk dibicarakan.

Obrolan yang sifatnya umum dapat diawali dengan pertanyaan tentang sekolah anak-anak, pekerjaan yang saat ini sedang dilakukan, atau berita-berita terhangat yang sedang ramai dibicarakan mulai Timnas U-19, Jokowi-Ahok, Akil Mochtar, sampai Bunda Putri.

Ajang kopi darat dan bertemu langsung adalah satu momen yang ditunggu pegiat dunia maya. Karena dari ajang inilah, jalinan pertemanan di dunia maya dapat dikembangkan lagi untuk mempererat persahabatan di dunia nyata.Tak hanya itu, kesempatan untuk menambah keterampilan diri juga terbuka. Peluang untuk memperluas usaha dan bisnis bisa saja tercipta.

Kebahagiaan Seorang Blogger

Sebagai blogger apakah anda merasa bahagia? Kalau jawabannya ya, apa yang membuat anda bahagia? Memenangkan lomba ngeblog? Bisa bikin buku? Punya banyak teman dan bisa kopdar? Atau karena tulisan anda bermanfaat bagi orang lain?

Pertanyaan ini muncul ketika ada pemberitahuan yang masuk ke dashboard dari seorang siswa kelas 3 SMP. Sebuah pertanyaan yang muncul setelah membaca postingan Siswa Kelas 1 Ikut Bimbingan Belajar, Apakah Perlu?

Ini pertanyaannya yang membuat saya agak tersanjung :

saya siswi kelas 3 smp untuk menghadapi un saya ingin belajar sendiri dan selalu berdo’a supaya saya bisa masuk sma negeri tetapi saya tidak mau ikut bimbel karena saya ingin berusaha sendiri untuk menghadapi un. apakah menurut bapak saya mampu untuk menghadapi un dan nilai saya bisa baik?

Setelah ditanya seperti itu, saya merasa jadi orang yang paling berbahagia. Apa sebab? Pertama, saya diposisikan sebagai seseorang yang bisa memberikan jalan keluar atas sebuah masalah. Siswi itu, sebut saja Eka memiliki harapan yang besar agar lulus UN dengan nilai bagus dan diterima di SMA yang diinginkannya.

Membaca kalimat-kalimatnya dengan seksama, saya menduga dia memerlukan seseorang yang mampu meyakinkan bahwa dirinya bisa memperoleh apa yang dicita-citakan. Dan seseorang itu dipercayakan kepada diri saya.

Di siniah letak kebahagiaan itu. Sebagai orangtua yang punya anak remaja yang baru saja memasuki bangku SMA, kegamangan pus kegalauan siswa menghadapi UN dan memilih SMA yang diinginkan anak pernah saya rasakan.

Kedua, kesungguhan seorang anak untuk belajar mandiri. Tekad untuk percaya pada kemampuan diri. Juga keyakinan bahwa tanpa ikut les atau bimbingan belajar dia juga bisa mendapat nilai bagus dan diterima di SMA yang diinginkan, seperti teman-temannya yang mengikuti les atau bimbel.

Sebuah usaha yang mungkin terdengar idealis di jaman sekarang ini, dimana les dan bimbingan belajar sudah menjadi semacam kewajiban yang perlu diikuti oleh siswa-siswa sekolah. Les dengan gurunya di sekolah, les privat dengan mendatangkan mahasiswa-mahasiswi ke rumah atau mengikuti bimbel dengan biaya yang tidak murah.

Sambil tersenyum, saya pun menjawab pertanyaan itu bahwa kalau dia rajin belajar dan berusaha dan tidak lupa berdoa, Insya Allah akan mendapat nilai bagus dan diterima di SMA yang diinginkan. Sebuah jawaban yang sebenarnya menegaskan kembali pertanyaannya. Di sinilah kebahagian itu kembali saya rasakan. Rasa bahagia yang muncul karena telah memberikan optimisme dan keyakinan bahwa dia bisa mendapatkan apa yang diinginkan.

Apa sih yang Menarik dari Blog Ini?

Kalau pas nggak ada ide untuk posting, biasanya saya iseng-iseng menjelajah dashboard. Lebih khusus lagi lihat-lihat halaman stats. Di halaman ini saya bisa berlama-lama mengamati beragam data statistik, seperti melihat jumlah pengunjung, pageview, top post and page, search engine term sampai click.

Setelah itu baru pindah ke reader. Di menu ini, satu persatu saya baca postingan teman-teman blogger dan sesekali kasih komentar.

Nah, di bagian bawah menu stats ini ada satu kotak submenu dengan tulisan : totals, followers and share. Ini fasilitas dari wordpress untuk menampilkan blogger yang jadi follower blog kita. Waktu lihat follower blog ini, saya nggak menyangka, meski baru berumur 1 tahun 4 bulan, ternyata blog ini sudah ada 91 blogger yang follow.

Hampir seratus follower, Brother and Sister. Ini penghormatan untuk saya sebagai blogger pemula. Sekaligus memacu semangat untuk semakin rajin posting, rajin berbagi cerita dan pengalaman.

Penasaran benar dengan teman-teman blogger yang sudah follow blog ini. Kalau boleh tahu nih, sebenarnya apa sih yang bikin teman-teman blogger tertarik untuk follow blog ini. Nggak mungkin kan teman-teman blogger ujug-ujug follow tanpa sebab. Apa karena isi postingannya, disainnya, gaya tulisannya, orangnya atau sebab-sebab lainnya? Maaf ya, rada kepo. 🙂

Pertanyaan ini nggak cuma buat blogger yang juga follower lho. Teman-teman blogger lainnya yang nggak follower juga boleh kok kalau mau kasih tanggapan.