Kena Kolesterol Tinggi

Meski saya punya badan kurus, tinggal di tengah hutan dan sering olahraga, nggak jaminan nggak kena kolestrol tinggi.

Saya pikir orang yang punya kolesterol tinggi hanyalah orang yang gemuk. Ternyata tidak seperti itu. Gemuk atau kurus, tetap punya kemungkinan koleterolnya tinggi

Niat periksa darah berawal dari pusing dan kepala yang terasa berat. Sebelumnya jarang saya kena sakit kepala. Biasanya hanya masuk angin atau flu.

Karena sakit kepala ini agak aneh besoknya langsung periksa darah ke lab. Dan bukan beli obat penghilang rasa sakit.

Rencananya setelah antar anak ke sekolah, jam 7 langsung periksake lab. Rupanya tempat itu jam 6 pagi sudah buka. Saya bilang ke petugasnya kalau mau cek gula darah, kolesterol totalk, LDL, HDL, trigliserida dan asam urat.

Setelah membayar kemudian disuruh tuggu panggilan. Nggak lama proses oengambilan darah pun dimulai. Petugas menyuntikkan jarum di lengan kiri dan ditaruh dalam tabung. Terus dia bilang kalau hasilnya jam 1 sudah bias diambil.

Waktu enam jam menunggu hasil periksa darah terasa lama. Penasaran sekali kalau-kalau rasa pusing itu gara-gara kolestrolnya tinggi. Ini seperti yang dialami istri.

Dua tahun lalu dia juga mengalami gejala yang sama. Kepala pusing dan terasa berat. Setelah cek darah ternyata kadar kolesterol totalnya 244. Ini termasuk tinggi, karena nilai rujukannya adalah jika dibawah 200.

Terus gimana dengan hasil periksa darah saya? Buru-buru pengin lihat hasilnya, amplop warna putih dan kuning yang saya terima dari petugas lab langsung saya buka.

Ternyata benar. Kolesterol total saya juga tinggi, 241. LDLnya atau istilah umumnya lemak jahat juga diatas standar. Sementara kadar gula darah,HDL, trigliserida dan asam urat masih normal.

Setelah tahu kalau kadar kolesterol tinggi, ada rasa khawatir kena stroke atau serangan jantung. Saat itu yang terlintas dalam pikiran adalah gimana caranya angka kolesterol nggak makin bertambah. Harus bisa turun dan nggak bikin sakit kepala lagi.

Caranya? Silakan disimak di postingan berikutnya.

Iklan

Cuti Mendadak (3-Habis)

Pagi hari 1 Mei, setelah mengantar Andra dan Aysha ke sekolah, saya ke rumah sakit lagi.

Tanggal 30 April dan 1 Mei, Nadia yang minta supaya bisa jaga di rumah sakit, karena waktunya agak longgar setelah UN SMP.

Hari ketiga tanggal 2 Mei, giliran Aysha yang bertugas. Kalau mereka di rumah sakit, saya yang kebagian di rumah dan tugas antar jemput Andra ke sekolah.

Tanggal 3 Mei, semuanya tidur di rumah karena capai. Tanggal 4 Mei, giliran saya yang jaga di rumah sakit. Jadi kami bertiga yang bergantian tugas jaga di rumah sakit. Ini terpaksa dilakukan karena kami di Pontianak adalah perantau dan tidak ada keluarga atau sanak saudara.

Keluarga di Jawa, baik orangtua saya maupun bapak ibu mertua dan saudara nggak bisa ke Pontianak. Apalagi di rumah, kami juga nggak ada asisten rumah tangga. Terbayang ‘kan? Gimana repotnya mendampingi dua orang yang sakit di rumah sakit.

Nadia, sulung kelas 9 yang seminggu sebelumnya ikut UN. Aysha, anak kedua yang baru kelas 6 dan tanggal 6-8 Mei juga mengikuti UN  terpaksa dilibatkan dalam tugas jaga ini. Sementara itu, kesempatan Andra menengok adik dan ibunya setelah pulang sekolah. Saya yang harus bolak-balik rumah – rumah sakit – sekolah.

Pernah ada peristiwa yang mengharukan. Waktu Andra menengok ibu dan adiknya hingga malam, dia tertidur di rumah sakit. Waktu dia dibangunkan karena harus pulang, dia nggak mau dan meronta-ronta ingin tetap tidur di rumah sakit.

Saya bujuk dia, “Besok pagi Andra harus sekolah. Jadi sekarang pulang dulu, besok kita nengok mama dan Nabil lagi”. Agak lama saya, Aysha dan Nadia membujuk dia agar mau pulang dan tidur di rumah.

Cerita lainnya waktu istri dan anak masuk rumah sakit dan cari kamar, ada juga kejadian menarik. Hampir saja mereka dapat kamar yang berbeda. Terus istri bilang ke perawat, minta supaya dia dan Nabil bisa satu kamar.

Rupanya ada aturan di rumah sakit. Kalau di kelas I, sebut saja ruang Melati, hanya khusus untuk pasien orang dewasa. Sementara anak-anak di kelas II dan III, sebut saja ruang bogenvil dan teratai atau sekalian di VIP Kids.

Istri saya coba minta kebijakan ke pihak rumah sakit supaya dia dan Nabil kamarnya nggak terpisah. Karena kalau sampai Nabil di kamar atau kelas lain, susah untuk menjaganya. Nggak hanya itu, yang nungguin juga harus dua orang.

Pihak rumah sakit akhirnya membolehkan istri dan Nabil dirawat di kamar yang sama.

Pantas, waktu saya minta surat keterangan dari dokter untuk fogging, ada perawat yang heran dan bertanya :

“Anaknya umur berapa tahun?”

“Tujuh tahun”, jawab saya

Staf lain di ruang perawat ada yang nyeletuk,”Anak-anak kok dirawat di ruang Melati?”

Agak kesal saya jawab,”Yang sakit nggak cuma anaknya, tapi juga ibunya”.

“Ooo, jadi ibunya juga sakit dan dirawat di satu kamar”,katanya.

“Ini surat keterangan untuk fogging, nanti minta capnya di kasir”,kata staf lainnya di ruang perawat sambil menyerahkan dua lembar surat ke saya.

Bisa dibayangkan, dalam kondisi fisik yang lemas dan trombosit yang semakin drop, istri masih harus sedikit berdebat agar bisa dirawat di ruang yang sama dengan Nabil.

Kata istri waktu berangsur sembuh,”Penanganan pasien DBD seperti berpacu dengan waktu. Seperti berlomba dengan virus yang menyebabkan trombosit merosot drastis”.

Benar apa yang dikatakan istri. Karena penurunan trombosit itu tak hanya dalam hitungan hari, tapi jam.
Pernah saya hitung, dalam waktu satu jam, penurunannya bisa antara 4 – 5 ribu poin.

Trombosit istri

Data ini saya dapatkan waktu istri pertama cek darah. Masih sekitar 138 ribu pada tanggal 30 sekitar jam 12 siang. Besoknya, 24 jam kemudian sudah turun jadi 40 ribu. Jauh di bawah standar atau nilai rujukannya yaitu 125 – 400 ribu. Ini yang terkadang kurang disadari oleh keluarga pasien DBD, dan yang membedakan demam DBD dengan demam biasa atau demam typhoid/ typus.

Gejala DBD jangan dianggap seperti demam biasa dan disepelekan. Pengalaman istri dan anak, bila sudah dua hari demam dan minum obat dari dokter ternyata tak ada perubahan, sebaiknya langsung cek darah untuk memastikan jumlah trombositnya. Biayanya sekitar 40 – 60 ribu (cek jumlah trombosit, leukosit, eritrosit, Hb).

Dari hasil cek darah, kita tahu berapa kondisi terakhir trombositnya. Bila jumlahnya di bawah 125 ribu, trombosit akan cenderung terus menurun dan berarti kemungkinan terserang DBD.

Seperti waktu istri sudah minum obat dari dokter, tapi suhu badannya nggak turun, bahkan waktu dibawa ke IGD mencapai 40ᴼC. Sama dengan suhu badannya Nabil.

Demam DBD juga terkadang mengecoh kita. Bisa saja setelah minum obat dan suhu badannya turun, tapi secara fisik terlihat lebih lemah dan bukan kelihatan segar. Ini juga perlu diwaspadai, karena kemungkinan serangan DBD.

Seperti yang dialami ketika Aysha terserang DBD. Demamnya turun setelah malamnya minum obat dari dokter. Tapi anehnya, fisiknya terlihat masih lemas. Duduk pun terasa nggak mampu. Logikanya, kalau sudah minum obat, demam turun, badannya terlihat lebih segar.

Setelah cek darah di lab, terbukti kalau demamnya memang turun, tapi trombositnya juga merosot drastis.

Sebagai orangtua, kita memang harus jeli melihat perubahan fisik anak atau anggota keluarga kita yang terkena demam. Perhatikan dengan seksama perubahan fisik yang terjadi setelah minum obat dan jangan dianggap sepele. Jangan menunggu kondisi penderita bertambah parah, baru dibawa ke rumah sakit.

Keterlambatan penanganan penderita DBD bisa berakibat fatal. Menurut cerita teman kerja yang pernah kena DBD waktu SMA, bila kondisi penderita sudah parah : demam tinggi dan keluar darah dari hidung, transfusi darah sangat diperlukan. Seperti yang dia alami yang sampai dirawat inap selama 8 hari dan menghabiskan 7 kantong darah.

Masih untung, waktu itu Nabil dan ibunya segera setelah hasil cek darah menunjukkan penurunan trombosit, siangnya mereka langsung diantar tetangga ke IGD dan dirawat inap. Supaya cepat ditangani dan tidak menunggu hingga kondisinya parah.

Waktu ngobrol dengan tetangga yang bekerja di dinas kesehatan pada saat fogging, dia pernah membawa keponakannya yang terkena DBD ke rumah sakit dan kondisinya sudah parah. Namun pada saat dalam perjalanan, nyawanya tidak tertolong.

Hal yang juga perlu diperhatikan oleh penderita DBD adalah asupan makanan dan minuman tambahan pada saat dirawat inap di rumah sakit. Nabil dan ibunya memang sudah diinfus, diberikan suntikan antibiotik dan minum obat.

Waktu ada tetangga yang menjenguk, dia menyarankan agar minum juga sari kurma untuk menaikkan trombosit. Waktu itu saya beli harganya 25 ribu untuk botol kecil. Tak hanya itu, minuman kotak sari buah jambu biji, jus jambu biji yang buahnya warna merah, pocary sweat dan spirulina juga saya belikan untuk mendongkrak trombositnya.

bersiap pulang

Alhamdulillah, hari demi hari ternyata kondisinya membaik. Setelah lima hari dirawat inap, hari Minggu 5 Mei 2013, Nabil dan ibunya diperbolehkan dokter pulang ke rumah. Ini sesuai dengan harapan istri yang ingin keluar dari rumah sakit, sebelum Aysha mengikuti UN tanggal 6 Mei 2013. “Kasihan Aysha, kalau dia sampai harus belajar di rumah sakit waktu UN”, kata istri.

Cuti Mendadak (1)

Tak terasa, sudah 9 hari saya menjalani cuti. Cuti yang terjadi tanpa rencana, tanpa persiapan sama sekali. Semuanya terjadi secara spontan.

Yang namanya cuti biasanya diisi dengan berlibur ke tempat wisata atau obyek-obyek menarik lainnya. Nggak demikian dengan yang saya alami. Cuti kali ini justru harus dijalani bolak balik dari rumah ke rumah sakit di Pontianak.

Kenapa bisa begitu? Cerita panjang kawan. Mungkin tak cukup kalau hanya satu postingan. Berawal dari telepon istri tanggal 29 April lalu yang mengabarkan kalau si bungsu Nabil terkena demam selama dua hari dan dokter spesialis anak merekomendasikan agar cek darah.

Demikian juga ketika istri bilang dia lagi demam dan sakit kepala, dan nggak sembuh-sembuh setelah minum obat warung. Akhirnya, tanggal 30 April pagi, istri periksa ke dokter umum dekat rumah, setelah mengantarkan Aysha dan Andra ke sekolah.

Walau badan demam dan sakit kepala, dia nekat mengantar anak kami pakai sepeda motor. Memang begitu ya naluri seorang ibu, meski dirinya sedang sakit, tetap berusaha sekuat tenaga menjalankan tugasnya.

Setelah periksa  dokter merekomendasikan agar cek darah untuk memastikan jenis penyakitnya. Dokter menduga istri terserang typhoid atau demam berdarah. Pulang dari rumah dokter, sebelum sampai di rumah, kebetulan ada tetangga sebelah rumah yang menanyakan ke istri,

“Darimana mbak?”

“Habis dari dokter”, kata istri

“Sakit kah?”

“Iya, nanti siang disuruh cek darah”

“Panas sekali badannya, mbak”, kata tetangga sambil memegang tangan istri saya.

“Udah, nanti siang, habis cek darah saya antar ke rumah sakit”, sambung tetangga lagi.

Di saat kejadian itu, posisi saya masih di tempat kerja, sekitar 12 jam dari Pontianak. Mendengar berita tersebut, pagi hari langsung saya menghadap pimpinan untuk minta ijin karena istri dan anak sakit. Keduanya kemungkinan terkena Demam Berdarah Dengue (DBD).

Ya, Allah, belum sebulan Aysha, anak kedua kami terserang DBD, sekarang gantian ibu dan adiknya yang kemungkinan juga kena.

Sungguh perjalanan yang terasa lama dan penuh perjuangan. Gimana nggak?. Berangkat dari camp jam 9 pagi, baru tiba di Pontianak jam 12 malam.  Harusnya jam 8 malam sudah tiba di Pontianak. Ini sampai molor 4 jam.

Begini ceritanya. Waktu di camp, sudah pesan travel ke teman di Nanga Pinoh. Tiba sekitar jam 11 di Pinoh. Karena ingin segera tiba di Pontianak, rencana berubah. Coba cari tiket pesawat dari Sintang – Pontianak.

Dengan bantuan teman yang sama, dia coba hubungi temannya untuk konfirmasi apakah sore tanggal 30 April ada pesawat yang terbang ke Pontianak.

Rupanya, nggak ada pesawat yang terbang ke Pontianak sore itu. Mau nggak mau harus pakai travel, karena kalau naik bis malam, paling cepat jam 18.30 baru berangkat.

Travel reguler pun dihubungi kembali dan positip antara jam 2-3 sore berangkat. Berarti saya harus menunggu paling cepat 3 jam di Nanga Pinoh.

Karena urusan berpacu dengan waktu, saya tanya ke teman, kalau carter travel dan berangkat sekarang juga, bisa nggak. Langsung dia hubungi temannya dan menyanggupi untuk mengantar ke Pontianak dengan tarip yang sudah disepakati.

Nggak sampai 15 menit kendaraan travel muncul dan uang pun saya serahkan ke juragannya. Berdua dengan supir, sekitar jam 11.30 kami  meluncur ke Pontianak.

Harapan saya bisa menikmati perjalanan dengan lancar ke Pontianak, nggak kesampaian. Masalah ternyata belum selesai. Tak berarti kalau sudah carter, terus bisa santai dan tidur di mobil dengan nyaman dan tiba di Pontianak on time.

Apa yang  terjadi selanjutnya? Sabar ya, ceritanya masih panjang. Tunggu di postingan berikutnya (bersambung)

Aysha Terserang Demam Berdarah

IMG00942-20130411-0805

Hari Sabtu ini (12/4) hari keempat Aysha, anak kedua kami, dirawat inap di rumah sakit. Berawal dari demam yang diderita pada hari Minggu, kemudian istri mencari obat penurun panas.

Ternyata panasnya tidak juga turun. Senin pagi Aysha dibawa ke dokter umum di dekat rumah. Diagnosanya terkena radang tenggorokan. Setelah minum obat sesuai resep dokter, panas badannya nggak turun.

Sewaktu mengikuti rapat pada hari Selasa (9/4), siang hari istri SMS minta pendapat gimana kalau Aysha dibawa ke dokter spesialis anak. Saya jawab ok nanti malam kita bawa berobat lagi ke spesialis. Istri  kirim sms lagi bilang kalau mau daftar dulu siang ini.

Malamnya, kami bertiga ke tempat praktek dokter spesialis anak. Tak lama menunggu,  setelah tiba dan lapor ke petugas jaga, kami dipersilahkan masuk.

Dokter merekomendasikan supaya malam itu juga cek darah di laboratorium. Nanti hasilnya diserahkan lagi ke dia.

Bergegas kami menuju laboratorium, lokasinya di jalan yang sama dengan tempat praktek dokter. Setelah membayar biaya cek darah 40 ribu, kami kembali lagi menemui dokter menyerahkan hasilnya.

Ternyata trombositnya sudah turun menjadi 76, standar rujukannya 125 – 150. Dokter menuliskan resep dan pesan supaya besok pagi cek darah lagi.

Malamnya tanpa diduga ada telepon bos ketika dalam perjalanan pulang. Karena lagi menyetir, hp saya serahkan ke istri.

Sampai di rumah, saya telpon balik bos. Minta maaf kalau tadi masih di jalan, baru saja antar anak ke dokter. Rupanya bos menelpon ingin tahu tanggapan saya waktu rapat tadi siang.

Kemudian dia tanya apakah anak saya sakit. Terus saya jelaskan panjang lebar kondisi anak saya mulai dari suhu badannya yg panas, sampai diminta dokter untuk cek darah karena kemungkinan besar terserang DBD.

“Wah, kalau udah seperti itu, jangan main-maindeh. Kalau bisa malam ini langsung bawa ke rumah sakit. Tapi keputusannya saya serahkan ke pak Yudhi, ya”katanya.

Waktu itu saya dan istri masih berharap, obat dari dokter spesialis yang diminum Aysha bisa menurunkan panas badannya

Paginya sekitar jam 8, Aysha kembali diambil darahnya untuk di cek. Panas badannya sudah mulai turun. Cuma yang mengherankan, kok dia masih kelihatan lemas dan bahkan muntah waktu di laboratorium?

Sebelum pertanyaan itu terjawab, petugas lab memangil nama Aysha dan menyerahkan hasil tes darah. Dan setelah saya lihat, ternyata trombositnya menurun drastis, tinggal 49.

“Sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit, Pak”ungkapnya kepada saya dan istri. Aysha masih terlihat lemas dan duduk merunduk di bangku.

Mendengar penjelasan itu, saya langsung putuskan membawa Aysha ke rumah sakit. Sementara istri menelpon dokter dan menyampakan perkembangannya. Dia juga bilang setelah tes darah, langsung ke rumah sakit dan nggak ke tempat praktek dokter lagi.

Memasuki rumah sakit, kendaraan saya arahkan ke halaman IGD. Setelah lapor ke bagian administrasi dan mengisi formulir, Aysha dibawa ke ruang IGD.

Setelah berbaring dan diperiksa dokter, jarum infus disuntikkan ke lengan sebelah kiri. Dokter sempat kesulitan mencari pembuluh nadinya, karena tekanan darahnya menurun drastis.

Sekitar 1/2 jam di ruang IGD, perawat membawa Aysha ke kamar pasien kelas II nomor 114.  Ada dua pasien  yang berada di ruang tersebut. Pasien di nomor tempat tidur 1, anak balita yang juga terserang demam berdarah.

Satu lagi, pasien di nomor tempat tidur  3, anak kelas 1 SMP yang mengalami kecelakaan. Ketika sedang berjalan kaki berangkat ke sekolah, ditabrak pengendara motor.

Dua malam saya menginap di rumah sakit menemani Aysha. Pagi hingga sore giliran istri yang menggantikan.

IMG00940-20130411-0803

Pagi ini ketika sama-sama istri menanyakan trombositnya ke ruang kerja suster, hasilnya sudah ada kemajuan. Hasil tes darah menunjukkan trombositnya meningkat menjadi 80, Alhamdulillah.

Memang masih perlu makan yang banyak dan minum minuman yang manis-manis, agar trombositnya mencapai di atas 100. Segala macam minuman manis mulai jus jambu, minuman kotak sari buah jambu,  sari kurma, sampai pocari dibeli untuk menaikkan trombositnya.

Yang melegakan, ketika suster mengatakan masa kritisnya yang terjadi antara hari ketiga sampai kelima telah lewat. “Sekarang masuk tahap pemulihan”katanya.

Tadi sekitar jam 9.30, dokter juga pesan ke dua perawat di sampingnya, kalau infusnya habis, diganti dengan obat kapsul atau tablet. “Sudah ada kemajuan. Anaknya bisa minum obat kapsul atau tablet?”kata dokter.  “Bisa, Dok”jawab saya.

Waktu menulis postingan ini, Aysha terlihat sedang tertidur pulas. Sambil menunggu di rumah sakit, memanfaatkan waktu hingga tiba jam makan siang.

Ini benar-benar sebuah pengalaman yang sangat berharga. Bahwa ketika keluarga kita menderita demam dan setelah dua hari panasnya nggak turun meski telah minum obat, ada baiknya langsung cek darah. Karena ada kemungkinan terserang demam berdarah dan penyakit tersebut tidak hanya menyerang anak-anak, tapi juga orangtua.

Semoga kondisi Aysha semakin membaik dan bisa segera pulang ke rumah.