Lebaran, Tiket Bis Damri Pinoh-Pontianak Nggak Naik

IMG01911-20140725-1226

Di saat harga-harga barang dan jasa merambat naik menjelang lebaran, ternyata masih ada tiket transportasi yang nggak naik. Ini yang saya alami ketika membeli tiket bis Damri Pinoh-Pontianak untuk keberangkatan tanggal 26 Juli 2014. Tarifnya masih sama seperti hari-hari biasa. 145 ribu rupiah per penumpang untuk bis yang warna putih. Tarif ini sama dengan tiket yang saya beli tanggal 8 Juli lalu dengan rute dan bis yang sama.

IMG01913-20140725-1227

Kalau ada bis yang warna putih, apa ada bis yang warna lain ? Ya, ada dua bis yang dimiliki Damri untuk rute tersebut. Penumpang biasa menyebut bis eksekutif dengan bis putih dan bis super eksekutif dengan bis merah atau royal. Royal ini mungkin semacam tipe atau serinya. Kalau yang jurusan Pontianak – Kuching Malaysia sebutannya lain lagi, yaitu Legacy.

Bedanya adalah bis putih tempat duduknya 2-2, sehari dua kali trip, berangkat pagi jam 9 dan malam jam 7. Bis merah kursinya 1-2, tarifnya 175 ribu rupiah dan hanya berangkat malam hari jam 7. Nah, rencana pulangnya nanti naik yang bis merah ini. Moga-moga tarifnya juga nggak naik. ūüôā

Tarif yang nggak naik itu tidak hanya terjadi tahun ini, namun juga tahun-tahun sebelumnya. Harga tiket untuk hari-hari menjelang lebaran tidak ada kenaikan atau kena tambahan tuslah sekitar 25 % dibandingkan hari-hari biasa. Hal ini yang agak berbeda dengan transportasi bis antar kota di Jawa. Saya pernah baca postingan di blognya mas Ochim tentang tarif lebaran bis antar kota di Jawa yang mengalami kenaikan dibandingkan hari-hari biasa.

Kebijakan tarif ini bisa jadi bervariasi antar perusahaan otobis dan daerah operasinya. Bagi penumpang, tarif lebaran yang tetap ini dapat menghemat keuangan karena pos terbesar biaya mudik lebaran adalah untuk transportasi.

Iklan

Naik Royal Bus DAMRI

IMG01741-20131217-0713

Untuk perjalanan pergi pulang dari Pontianak – Pinoh, sekarang sudah ada bis yang lebih nyaman. ROYAL BUS DAMRI yang tergolong bis super eksekutif. Kalau di Jawa, kita hanya bisa lihat bis-bis DAMRI yang bagus-bagus kebanyakan di bandara. Untuk melayani penumpang dari bandara ke kota. Jarang sekali armada ini melayani rute antar kota dalam propinsi maupun antar propinsi. Mungkin kalah bersaing dengan armada milik swasta.

Bis DAMRI di Kalimantan khususnya Kalbar memang berbeda dengan di Jawa. Di Kalbar, DAMRI bisa dikatakan berjaya. Punya armada dan layanan yang nggak kalah dengan bis-bis swasta. Semua rute antar kota dalam propinsi, bahkan antar negara dilayani oleh armada milik BUMN ini. Mereka punya pelanggan setia yang nggak mudah untuk beralih ke bis lainnya. Termasuk saya.

Kenapa saya memilih bis ini untuk transport Pontianak – Nanga Pinoh yang waktu tempuhnya sekitar 10 jam? Cara pengemudinya membawa mobil yang membuat saya terasa nyaman dan bisa tidur selama di perjalanan.

IMG01799-20140213-2338

Pernah juga saya beralih ke bis lainnya milik swasta, tapi kurang cocok dengan cara sopirnya mengemudikan kendaraan. Terlalu laju. Karena di dalam bis adalah kesempatan saya untuk tidur sepuas-puasnya. Apalagi kalau perjalanan malam hari.

Setiap perjalanan ada dua sopir yang menjalankan bis secara bergantian. Dari Pontianak bis menuju Sosok dan berhenti untuk istirahat dan makan malam. Ketika melanjutkan perjalanan dari Sosok ke Nanga Pinoh, sopirnya gantian.

Apalagi sekarang dengan diluncurkannya ROYAL BUS yang kapasitas tempat duduknya lebih sedikit dibandingkan yang berjenis eksekutif. Dengan formasi 1-2, satu baris terdiri dari satu tempat duduk tunggal dan 2 tempat duduk double. Kapasitasnya 29 penumpang.

Kursinya lebih lebar dan nyaman untuk tidur karena di bagian atasnya ada semacam pembatas untuk kepala. Meski jalan antara Tayan – Sosok – Sanggau banyak yang rusak dan berlubang, goncangannya nggak terasa kuat.

Harga tiketnya juga nggak jauh beda dengan yang eksekutif. Hanya selisih Rp 30.000. Kalau yang jenis eksekutif Rp 145.000, sementara yang super eksekutif atau ROYAL BUS Rp 175.000.

Selain tempat duduknya, yang membedakan tarifnya dengan bis yang eksekutif adalah di ROYAL BUS tersedia Wifi dan selimut.Untuk saya yang nggak tahan udara dingin, selimut ini sangat berguna. Karena meski sudah pakai jaket tapi masih terasa dingin kalau nggak pakai selimut.

Jadi kalau ada kesempatan jalan-jalan ke Kalbar, untuk transportasi antar kota dari Pontianak ke Sintang atau Nanga Pinoh, nggak ada salahnya mencoba bis ini.

Tiket Mudik dan Arus Balik tak Selalu Naik

Bagi para sobat yang sering pulang ke kampung halaman waktu lebaran, tentu harus menyiapkan dana lebih dari biasanya untuk membeli tiket mudik. Harga tiket bis, travel, kereta api maupun pesawat  seminggu sebelum dan setelah lebaran biasanya melambung tinggi dibanding hari-hari biasa.

Musim Рmusim puncak (peak season) seperti lebaran, natal, imlek dan libur tahun ajaran baru memang  saat yang tepat untuk berkumpul sekaligus berlibur bersama keluarga. Namun demikian, tak jarang para pemudik harus menyiapkan  dana lebih dan merogoh kocek lebih dalam untuk membeli tiket transportasi.

Tak hanya untuk tiket berangkat, tiket pulang atau biasa dikenal dengan arus balik setelah lebaran juga harus dipesan para mudikers dan arus balikers jauh-jauh hari sebelumnya.  Pada H-7 dan H+7,  biasanya kenaikan harga tiket masih cukup tinggi. Minimal 25 % dari harga tiket  normal. Istilahnya, kena tuslah  atau tambahan harga. Bahkan ada yang naiknya hingga 100 %.

Kata teman saya yang biasa menangani pemesanan tiket, saya terlambat untuk beli tiket lebaran. Lebaran kurang dari 2 minggu,  tiket baru dipesan tanggal 7 Agustus untuk keberangkatan tanggal 16 Agustus. Tiket pun baru saya ambil tanggal 11 Agustus.

Walaupun terlambat pesan dan beli tiket, ada satu hal yang bikin saya senang. Ternyata harganya tidak naik. Wah, berarti  sama saja harga tiket mudik dengan hari-hari biasa. Saya coba bandingkan dengan harga tiket waktu bulan Juni 2012 yang masih saya simpan, seperti gambar  di bawah ini  :

Belum ada kenaikan, tidak ada tuslah, masih 120 ribu rupiah. Ditambah lagi dapat bonus deretan kursi paling depan. Nomor 1 A. Damri memang memberikan nomor kursi 1 baris dari 1A Р1D. Ada 9 baris  kursi  dan  baris paling belakang di samping toilet.

Terus terang aja, kalau boleh memilih, saya lebih suka duduk di kursi baris tengah.  Jarang sekali duduk di baris paling depan. Susah tidur karena kena sorot lampu kendaraan dari arah depan.  Tapi karena orang lain cari tiket saja susah, masa tiket yang sudah ada di tangan harus ditukar? Setelah saya rasakan, enak juga duduk di kursi depan, untuk kaki berselonjor lebih nyaman.

Tidak hanya tiket mudik,  waktu saya ambil tiket arus balik ke Nanga Pinoh tanggal 22 Agustus , harganya juga tetap. Padahal masih dalam periode H+3 setelah lebaran.

Untuk tiket balik  ini saya memang sudah pesan tiga minggu sebelumnya. Kemarin (21/8), saya ke kantor Damri untuk ambil tiket, dan ternyata  harganya  masih 120 ribu.

Secara umum, sulit terbantahkan bila ada orang yang berpendapat bahwa tiket transportasi lebaran plus arus mudik pasti naik.

Namun pengalaman saya naik Damri membuktikan,   ternyata  harga tiket mudik lebaran dan arus balik tidak selalu naik.

Pelajaran Dari Seorang Tukang Ojek

Di tengah persaingan mendapatkan penumpang, tukang ojek punya strategi khusus untuk menarik penumpang. Hal tersebut saya alami ketika tiba di kantor bis DAMRI selasa malam (7/8) sekitar jam 18.15. Begitu penumpang satu per satu turun, para penjual jasa transportasi tersebut langsung berkerumun menyambut di pintu depan bis.

Tanpa henti, mereka saling bersahutan menawarkan jasa ojek kepada para penumpang. ‚ÄúTaksi Pak. Mau ke mana Pak, Bandara?”, tanya mereka pada para penumpang, tak terkecuali saya. ‚ÄĚSaya dijemput keluarga‚ÄĚ, jawab saya sambil mengambil tas di bagasi.

Sambil menenteng travelling bag, saya langsung ke kantor Damri ambil tiket ke Nanga Pinoh yang sudah dipesan beberapa hari sebelumnya. Tiket untuk tanggal 10 Agustus malam, harganya 120 ribu rupiah. Sambil menunggu jemputan, saya sempatkan ke surau di belakang kantor Damri. Sholat maghrib dulu, karena istri mengabarkan akan jemput Aysha dulu di tempat les, setelah itu baru ke Damri.

Selesai sholat, saya kembali ke depan kantor Damri. Di tempat tunggu itu suasananya ramai sekali. Ada dua bis yang parkir dan banyak penumpang tujuan Sintang dan Nanga Pinoh. Ditambah lagi para pengantar dan kendaraannya.  Saya cari tempat lainnya yang agak kosong. Akhirnya ada juga, berjarak dua bangunan dari kantor Damri, di depan toko kue yang spesialis menjual  lapis legit.

Sekitar 5 menit menunggu keluarga, tiba – tiba ada ada satu tukang ojek yang mendekati saya dan menawarkan lagi mengantar saya ke rumah. Rupanya tukang ojek tadi yang belum dapat penumpang. Kalaupun dia menawarkan lagi, saya tetap menolak dan menjelaskan kalau sedang menunggu jemputan.

Dugaan saya nggak meleset. Kesekian kalinya dia menawarkan untuk mengantar ke rumah. Mendapatkan penolakan yang sama, dia tidak kehabisan akal. Dia ajak ngobrol saya. Dia tanya saya tinggal dimana, sambil menasehati supaya hati – hati kalau turun dari bis, karena banyak jambret. Apalagi sekarang ini dekat-dekat lebaran dan banyak pengangguran. Terus dia sebut nama satu tempat dan menceritakan anaknya yang pernah kehilangan anting-anting gara-gara kena jambret.

Tidak hanya itu, untuk mengakrabkan suasana dia juga coba-coba nebak tempat asal saya. ‚ÄúBapak dari Jawa ya?‚ÄĚ Dari wajah kelihatan kalau bapak orang Jawa. ‚ÄĚDari Semarang‚ÄĚ, jawab saya singkat. Dia tanya lagi,‚ÄĚ Jawa mana itu pak?‚ÄĚ, sambungnya. ‚ÄúJawa Tengah‚ÄĚ, kata saya agak cuek.

Setelah puas bertanya, akhirnya dia pesan, ‚ÄĚKalau bapak perlu ojek, bisa hubungi saya. Ini saya kasih nomor HP saya‚ÄĚ, sambung si tukang ojek yang ternyata bernama Soni. Saya masukkan nomor HP-nya dan saya tanyakan siapa namanya. Saya coba misscalled nomor dia dan HP-nya berdering, tanda ada panggilan masuk.

Benar-benar gigih tukang ojek tersebut. Nggak pakai gengsi dan kelihatan pede sekali. Dia tetap ulet dan tahan banting menarik simpati calon penumpang, walaupun berkali-kali saya tolak. Segala jurus untuk menjaring pelanggan dia keluarkan. Nggak kalah dengan para sales atau agen asuransi yang gencar merayu konsumen untuk membeli produknya. Walaupun akhirnya konsumen tidak membeli jasanya, dia tetap berusaha dan tidak patah semangat.

Padahal Soni, si tukang ojek itu belum tentu pernah ikut kursus ilmu pemasaran yang efektif, belajar bagaimana agar konsumen tetap loyal, atau tips memenangkan persaingan agar dapat merebut pelanggan.

Ada dua pelajaran yang saya petik dari kejadian itu.

1. Ikhlas.
Saya tersadar, walaupun si Soni telah berkali-kali menawarkan jasa ojeknya dan saya tolak, dia tidak terlihat kecewa, sedih atau marah. Makin saya tolak, justru dia makin berusaha untuk mendekati saya. Dari sinilah saya memperoleh pelajaran tentang apa itu ikhlas.

Tidak peduli dengan penolakan saya, dia tetap berusaha menawarkan jasanya dengan berbagai cara. Ini menjadi pelajaran, sekaligus motivasi dan pencerahan bagi diri saya. Di bulan Ramadhan ini, Allah mengirimkan seorang tukang ojek untuk memberi pelajaran pada saya, tentang apa itu sebenarnya keikhlasan.

Kalau dikaitkan dengan kejadian yang pernah saya alami sebelumnya, memang ada benarnya pelajaran tentang keihklasan itu. Terkadang, saya merasa kecewa, ketika apa yang saya kerjakan tidak dihargai oleh orang lain. Atau saya merasa kehilangan semangat, ketika apa yang saya lakukan tidak dianggap berarti oleh pihak lain.

2. Perhatian
Dengan menawarkan jasanya, mengajak ngobrol calon penumpangnya dan memberikan nomor HP dan namanya, adalah satu bentuk perhatian. Ya, perhatian. Sebuah kata yang nampaknya sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Dalam bisnis pelayanan atau jasa, perhatian memegang peran penting untuk merebut konsumen atau pelanggan.

Benar-benar pelajaran yang saya peroleh dari kehidupan nyata. Walaupun berkali-kali penawarannya saya tolak, melihat kegigihannya berikhtiar, dalam hati saya berkata, ‚ÄúSuatu saat, kalau saya ke Pontianak lagi, saya akan naik ojekmu untuk mengantar ke rumah‚ÄĚ.

Sumber gambar :

  • indonesiamatters.com

Pelanggan Setia

Kenapa sih tetap naik Damri? Padahal ‚Äėkan sering mogok. Demikian pertanyaan dan alasan yang sering dilontarkan teman-teman saya di kantor.

Damri, nama perusahaan bus milik pemerintah (BUMN) yang salah satu rutenya adalah Pontianak РNanga Pinoh  PP.

Setiap bulan, saya dan tiga orang teman ditugaskan mengikuti rapat di Pontianak. Dari empat orang itu, dua orang sering menumpang Damri. Dua orang lagi biasanya naik bis yang dikelola swasta.

Saya termasuk pelanggan Damri juga, tapi tidak sefanatik teman saya. Teman saya yang suka naik Damri bisa saya golongkan pelanggan setia. Susah mengajak dia untuk naik selain Damri. Kalau dalam sepakbola, seperti fans berat suatu kesebelasan. Kalau penggemar AC Milan disebut milanisti, fansnya Inter Milan namanya internisti, Aremania untuk pendukung Arema Indonesia,  dia termasuk Damri mania begitulah.

Apa bedanya pelanggan biasa dengan pelanggan setia ? Kalau pelanggan biasa seperti saya, masih ada kemungkinan memilih bis lainnya. Tapi kalau pelanggan setia, ibaratnya dia punya prinsip, berat sekali untuk pindah ke selain Damri. Bahkan, cenderung tak bisa ke lain Damri.

Sebenarnya, ada beberapa pilihan untuk menempuh perjalanan dari Pinoh – Pontianak sejauh sekitar 500 km. Jika naik bis, ada enam perusahaan yang melayani trayek tersebut PP.

Cuma satu yang punya pemerintah (BUMN) : Damri. Lima lainnya swasta  :  Tanjung Niaga, Adau Transport Service (ATS), Maju Terus (Marus), ABM dan yang baru Tri Star Melawi (TSM).  Waktu tempuhnya sekitar 10 jam dan berangkat setiap hari.  Dan harga tiketnya sekitar 120 ribu rupiah per orang.

Khusus untuk Damri, sehari ada dua trip. Pagi berangkat jam 9.00 dan malam jam 19.00. Lainnya berangkat sore dan malam hari. Keberangkatan bis pun ada urutannya, lho.

Pertama ABM berangkat jam 18.00, ATS jam 18.20, Tanjung Niaga jam 18.30, Marus, Damri, dan terakhir TSM jam 19.00. Selain bis umum, ada juga kendaraan kijang travel.

Kalau mau lebih cepat, bisa naik pesawat terbang, tapi ke Sintang dulu sekitar 1,5 jam dari Nanga Pinoh. Setelah itu terbang dengan Kalstar atau Indonesia Air Transport.

Waktu tempuhnya singkat, cuma 35 menit dengan harga tiket sekitar 600 ribu rupiah. Sebenarnya dari Nanga Pinoh ada juga pesawat ke Pontianak, tapi rutenya Nanga Pinoh –¬† Ketapang – Pontianak PP. Itupun seminggu cuma dua kali.

Menurut Pontianak Post (14/7),  sekarang ini pemerintah sedang menjajagi rute penerbangan langsung Nanga Pinoh РPontianak PP. Bandara yang ada akan direnovasi. Landasan pacunya diperpanjang 300 meter menjadi 1.300 meter. Lebarnya ditambah 7 meter menjadi 30 meter.

Terus, apa yang bikin saya dan teman tadi susah pindah ke lain Damri ? Untuk saya alasannya simpel : bisa tidur selama di perjalanan. Memang benar, kalau bis Damri bagi sebagian orang sering dibilang mogok. Bagi saya nggak terlalu berpengaruh. Bahkan terkadang saya nggak tahu kalau bisnya lagi mogok, lha saya lagi tidur.

Tapi kalau bicara rasio sesuai pengalaman, perbandingannya 10 : 1. Hitungannya dalam 10 kali perjalanan naik Damri, kejadian mogok paling banter 1 kali karena rusak mesin, pecah ban atau masuk angin. Itu masih wajar.

Memangnya yang naik kendaraan lainnya dijamin nggak bakal mogok. Apa penumpang yang pernah naik pesawat terbang juga berangkatnya selalu on time, nggak pernah delay akibat kerusakan teknis pesawat ?

Kalau dibilang sering mogok, kenapa banyak orang masih pilih naik Damri?  Sebulan yang lalu, ada dua bis yang berangkat dari Nanga Pinoh. Satu bis malah penumpangnya 90 % anak-anak SMU yang mau ikut tes SNMPTN di Pontianak.

Terakhir, waktu saya berangkat dari Nanga Pinoh sekitar seminggu yang lalu (10/7) juga sama, Damri sampai mengerahkan 2 bis untuk mengangkut penumpang.

Bahkan menurut mekanik Mercedes Benz,  jumlah bis Damri Stasiun Pontianak termasuk ketiga terbesar di Indonesia, setelah Damri Bandara Soekarno-Hatta dan Damri Lampung.

Nah, kalau saya cerita pengalaman di atas, bukan berarti saya habis dikasih hadiah atau tiket gratis oleh Damri. Atau saya minta orang lain naik Damri, lho. Apalagi dianggap promosi.

Adalah hak setiap orang untuk memilih naik kendaraan apa. Tidak ada unsur paksaan dalam memilih angkutan di perjalanan. Banyak pilihan, kok.

Sumber foto :

http://www.bismania.com

Bis yang Melewati Tiga Negara

Rute bis biasanya melewati beberapa kota dalam satu pulau atau beberapa kota antara dua pulau yang masih berada  dalam satu negara.

Tidak demikian halnya dengan rute bis di Kalimantan Barat (Kalbar). Selain melayani rute antar kota dalam propinsi, seperti Pontianak – Sintang PP, Pontianak – Nanga Pinoh PP, Singkawang ‚Äď Sintang PP, rute bis tersebut juga melayani antar kota lintas negara.

Oleh karena transportasi jalan dari Kalbar telah terhubung ke negara bagian Sarawak Malaysia melalui perbatasan Entikong,  beberapa perusahaan milik swasta ataupun milik negara (BUMN) juga mengoperasikan bis antar negara rute Pontianak РKuching dengan tarif  Rp 160.000 per orang sekali jalan.

Tidak hanya itu, perusahaan milik negara, DAMRI, juga telah mengoperasikan bis dengan rute yang berbeda yang melintasi tiga kota dalam tiga negara, yaitu  Pontianak  (Indonesia) РSerian (Malaysia) РBandar Seri Begawan (Brunei Darussalam).

Bis yang melintasi tiga negara tersebut berangkat dari Pontianak pukul 07.30 setiap hari menuju Bandar Seri Begawan dengan waktu tempuh 23  Р27  jam. Harga tiketnya  Rp 550.000 per orang  sekali jalan dengan kapasitas tempat duduk 28 Р36 orang.

Memang ironis, transportasi darat antar negara dari Kalbar telah terhubung dengan lancar hingga negara tetangga, yaitu Malaysia dan Brunei. Namun, dengan propinsi tetangga seperti Kalteng, Kalsel dan Kaltim, justru belum ada akses jalan yang memadai yang memungkinkan transportasi umum dari Kalbar menjangkau kota-kota di ketiga propinsi tersebut.

Hal tersebut ditambah lagi tidak adanya sarana transportasi udara yang langsung menghubungkan antar ibukota propinsi di pulau Kalimantan, baik dari Pontianak – Samarinda, Pontianak – Palangkaraya ataupun Pontianak –¬† Banjarmasin. Untuk melakukan perjalanan menuju kota – kota tersebut via udara, harus memutar dan transit di Jakarta terlebih dahulu.

Tak heran, kalau saat ini tetangga saya yang tinggal di Pontianak bila ingin kembali ke tempat kerjanya di Banjarmasin menggunakan pesawat, harus singgahdan jalan-jalan di Bandara Soekarno Hatta terlebih dahulu, karena pesawat yang ada rutenya  dari Pontianak РJakarta dan  dilanjutkan dari Jakarta РBanjarmasin.

Itulah faktanya, meski dalam satu pulau, transportasi darat ke negara tetangga sangat lancar, tetapi ke propinsi tetangga malah harus memutar .

Sumber foto : regional.kompasiana.com