Suasana KEAKRABAN Saat Menengok Teman

Jpeg

“Mobilnya yang mau antar ke logpond sudah siap, pak?kata staf bagian HRD kemarin sore.

“Ya, nanti berangkatnya habis jam empat”jawab saya. Selesai jam kerja, kami bertujuh bergegas pulang ke mess. Mandi dan ganti baju, terus siap-siap ke kampung Nuak. Menengok teman yang sakit. Dua mobil mengantar sampai logpond, setelah itu naik dua speed boat sekitar 15 menit.

Sekitar jam 17.30, pas terdengar azan maghrib kami sampai di tepi kampung. Sebelum ke rumahnya, kami sempatkan dulu sholat magharib berjamaah di masjid yang letaknya di depan rumah teman tersebut

Bukan pertama kali kami datang ke kampung tersebut. Saya pernah sholat Jumat di masjid itu sekitar tahun 2000-an. Beberapa teman juga beberapa kali datang saat liburan atau ada undangan. Jadi nggak heran ketika beberapa jamaah masjid ada yang kenal dan gak kaget melihat kami datang malam-malam.

Jpeg

Sesampainya di rumah, kami melihat teman yang sakit tersebut duduk di atas kasur yang diletakkan di ruang keluarga. Nampaknya dia dan anggota keluarganya sudah menyiapkan saat kami berkunjung. Sebelumnya salah satu teman memang memberitahukan mau datang, supaya nanti saat datang bisa ketemu. Kalau tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan, khawatirnya tuan rumah tidak ada di tempat karena sedang berobat.

Ternyata saat kami berkunjung, tidak hanya makanan kecil yang disiapkan. Hidangan makan malam disajikan pihak keluarga. Nasi hangat, sayur ikan patin asam pedas, rendang dan kerupuk kami nikmati. Suasana kekeluargaan yang khas di kampung begitu terasa.

Menurut informasi dari keluarganya, setelah dirawat di rumah sakit di Pontianak sekitar dua bulan, teman tersebut akhirnya memutuskan kembali ke rumah. Menurut dokter, hasil cek laboratorium, belum diketahui apa penyakitnya. Yang kami lihat lengan kanannya digips dan diperban. Saat kami datang, dia membuka balutan perbannya dan telapak tangannya nampak dipasang pen. Bagian jempol kakinya juga terlihat bengkak.

Teman yang sakit tersebut bekerja di bengkel Trailler Truck dan dia bilang mungkin dia nggak bisa lagi kerja seperti dulu. Salah seorang teman yang duduk mengingatkan agar nggak usah mikir pekerjaan. Yang penting berobat sampai sembuh dulu. Ada teman kerja yang lainnya yang bisa mengerjakan tugasnya. Kami mengiyakan dan memberi semangat supaya dia sembuh dari sakitnya. “Nggak ada penyakit yang nggak ada obatnya. Berdoa dan minta sama Allah agar disembuhkan”kata teman lainnya.

Saat kami asyik ngobrol, azan Isya terdengar. Satu persatu bersiap menuju tempat wudhu untuk sholat Isya berjamaah. Selesai sholat, kami pun berpamitan. Doa sebelum pulang untuk kesembuhan dan perlindungan dilantunkan salah seorang teman yang menjadi ketua pengurus masjid di camp.

Semoga Allah SWT memberikan kesembuhan dan mengangkat penyakit pak Mahyudin. Aamiin yaa Robbal Aalamiin

Doa untuk Nadia yang akan ikuti UAS

Tadi malam istri saya kirim pesan lewat Black Berry Messenger (BBM). Minta saya mendoakan Nadia yang hari ini akan ikut Ujian Akhir Sekolah (UAS).

Saya tahu betul betapa Nadia telah berusaha dengan keras mempersiapkan UAS. Hampir tiap hari saya lihat dia belajar sampai larut malam. Jam 12 malam baru tidur. Padahal besoknya jam 6.30 harus sudah berangkat ke sekolah lagi. Hampir tiap hari seperti itu. Terkadang belajarnya di kamar, saya pernah lihat juga di ruang keluarga. Try out yang diadakan lembaga bimbingan belajar juga sering diikuti.

Ikhtiar dengan belajar tiap hari, ikut bimbingan belajar dan try out sudah dilakukan. Dan selanjutnya yang nggak kalah penting adalah berdoa. Minta kepada Allah diberikan hasil yang terbaik.

Tak hanya doa Nadia. Doa dari orangtua juga tak kalah penting. Dan disinilah tugas saya dan istri. Mendoakan agar Nadia diberikan hasil yang terbaik dan kemudahan saat mengerjakan soal-soal ujian. Selesai sholat tahajud, saya mohon kepada Allah agar Nadia diberikan kelancaran saat menghadapi UAS.

Karena saya percaya, doa adalah senjata andalan selain kerja keras. Keberhasilan seseorang dalam studi, pekerjaan dan keluarga tak hanya ditentukan oleh kerja kerasnya saja, tapi juga karena doa dari orang lain. Termasuk doa kedua orangtuanya.

Jadi Pembaca Doa Selesai Tarawih dan Witir

“Ada seorang jamaah yang usul, pak. Kalau yang baca doa habis tarawih tahun ini sekalian ustadznya, gimana menurut bapak?”tanya teman kerja yang juga jadi ketua pengurus masjid.

“Sebaiknya pak Ustadz jadi imam sholat dan kasih kultum saja. Terus yang baca doa habis tarawih dan witir jamaah. Biar mereka dapat tugas dan nggak semuanya diserahkan ke pak Ustadz”jawab saya.

Saat bulan Ramadhan, pengurus masjid biasanya mendatangkan ustadz untuk mengisi kegiatan selama sebulan. Termasuk menjadi imam sholat Isya, kultum, sholat Tarawih dan Witir. Subuhnya juga sama. Pak Ustadz tugas jadi imam sholat shubuh, menyampaikan kultum dan acara tanya jawab. Berbeda dengan hari-hari selain bulan Ramadhan. Yang jadi imam sholat Maghrib, Isya dan Subuh biasanya dari karyawan.

Akhirnya ketua masjid pun setuju. Dia lalu menyusun jadwal petugas bilal dan pembaca doa. Setelah selesai, selembar kertas diserahkan kepada saya. Karyawan dapat giliran dua hari bertutur-turut baca doa. Selang dua minggu kemudian tugas dia lagi. Saya dijadwalkan  tanggal 1 dan 2 Juli. Ketuanya yang bikin jadwal juga kebagian tugas.

Ini adalah pengalaman kedua buat saya. Tahun lalu juga dapat tugas baca doa. Cuma waktu itu karena pertama kali dan rasanya kurang persiapan, jadi baca doanya tersendat-sendat meski sambil membaca.

Tahun ini karena sudah ditugaskan ya harus lebih baik lagi. Jangan sampai mengecewakan yang memberi tugas. Caranya? Perlu latihan dulu. Karena waktunya sudah mepet, hari ini jadwal diterima besok sudah harus dilakukan, akhirnya bacaan doa itu saya bawa ke kantor. Tujuannya supaya bacaannya lancar dan syukur-syukur bisa hapal. Di waktu nggak banyak kerjaan, saya baca berulang-ulang. Kalau ada kerjaan mendadak, berhenti dulu bacanya.

Alhamdulillah, tadi malam tugas itu sudah ditunaikan. Awalnya sebelum baca doa memang terasa berat, tapi setelah menjalaninya langsung lega. Plong rasanya. Semoga nanti malam dan jadwal selanjutnya juga makin lancar baca doanya. Aamiin

Jangan Mudah Menyerah

“Alhamdulillah, sudah dapat tempat untuk jual tasku”kata istri via SMS beberapa hari lalu. Setelah beberapa cara ditempuh istri dan berujung pada kegagalan, akhirnya dapat tempat untuk menitipkan barang dagangannya. Produk berupa tas yang bisa dipakai untuk belanja, kondangan atau berwisata.

Langkah pertamanya menjual lewat arisan ibu-ibu yang diadakan di rumah, gagal total. Setelah ditawarkan, tak ada satu pun peserta arisan yang membeli produknya. Alasannya, mereka sudah punya tas dan saat ini belum perlu.

Lima belas tas yang dikirim dari Semarang dan Cirebon itu pun masih utuh di rumah. Lima tas kiriman dari ibu mertuanya dan sepuluh tas beli secara online.

Pada hari selanjutnya, upaya lainnya ditempuh istri. Mendatangi temannya yang punya toko kecil di lokasi yang baru berkembang. Setali tiga uang, temannya menolak dengan halus untuk dititipi dagangan.

“Sudah datang jauh-jauh, ternyata dia nggak mau terima”katanya. Menyerahkah dia? Enggak juga. Langkah berikutnya menawarkan ke tetangga sebelah rumah. Kebetulan dia memang punya usaha rias pengantin dan keluarga besarnya sering kumpul-kumpul untuk arisan.

Lima contoh tas pun diserahkan untuk ditawarkan ke saudara-saudaranya waktu arisan keluarga pada hari Minggu. Arisan kali ini giliran diadakan di rumah orangtuanya. Nggak jauh sih, cuma lima menit jalan kaki dari rumah kami.

Titik terang mulai tampak. Di luar dugaan, saat arisan di hari minggu itu, salah seorang anak tetangga tersebut siangnya datang ke rumah. Dia disuruh ibunya menanyakan masih ada nggak model tas yang seperti contoh yang dibawa. Sebuah tas dengan tiga warna.

Bergegas istri mengambil stok yang berada disamping lemari pakaian anak-anak. Diserahkannya satu buah tas sesuai yang diminta dan anak itu pun kembali ke rumah kakeknya.

Lumayan, ada dua orang yang tertarik untuk membelinya. Satu orang bayar kontan, satu lagi bayar dua kali.

Berarti masih ada tiga belas tas lagi yang belum terjual. Harus cari jalan agar barang-barang itu bisa terjual semua. Usaha dan ikhtiar sudah dilakukan istri. Doa-doa lewat sholat dhuha pun nggak lupa dipanjatkan.

Min haitsu la yahtasib. Jalan keluar yang nggak disangka-sangka itu akhirnya muncul. Berawal dari ketemu tetangga juga waktu istri belanja di warung, setelah mengantar anak-anak sekolah. Obrolan yang mulanya sekedar cerita tentang anak sekolah, keluarga, lama-lama akhirnya menjurus ke urusan dagang.

Dengan antusias, tetangga yang anaknya satu sekolah dengan anak kami itu malah meminta supaya stok barang yang ada di rumah dibawa ke tokonya.

Setelah pertemuan itu, istri pun menyerahkan contoh barang ke rumahnya. Dan di luar dugaan, dia juga meminta istri supaya nggak cuma barang itu saja yang dititipkan. “Semuanya bawa saja ke sini, Bu. Kalau ada barang lainnya seperti suvenir, saya juga terima”pintanya.

Nggak hanya itu tawaran yang dia berikan. Dia juga banyak berbagi ilmu tentang gimana membuat produk untuk dijual. Semuanya diberikan gratis untuk istri. “Kalau mau bikin suvenir, ibu bisa saja beli bahannya di Jawa, kemudian dibuat di sini. Banyak yang cari suvenir untuk pernikahan”katanya.

“Jarang lho Mas, ada orang seperti itu. Dia nggak pelit dengan ilmu yang dimiliki. Dia nggak merasa tersaingi kalau ada orang lain mau nitip barang ke tokonya. Malah saya diajari gimana buat produk yang khas yang biasa dicari orang” kata istri lewat telpon ketika kami punya waktu luang untuk mengobrol.

“Terus pembagian untungnya gimana?” tanya saya.

“Nah itu dia, waktu ditanya nanti gimana pembagian keuntungannya, dia bilang semua hasilnya akan disetor ke saya. Terserah saya katanya. Cuma saya tetap akan kasih dia persentase dari barang yang terjual” kata istri.

Memang nggak mudah menemukan orang seperti itu. Sudah mau membantu menyediakan tempat untuk jualan, mengajari supaya membuat variasi produk, ditambah lagi nggak mau menentukan persentase keuntungan.

Benar-benar salut dan angkat jempol mendengar ceritanya.

Pandangan Pertama : Pertama Ikut Kontes Ngeblog

Saya percaya dengan dengan kekuatan doa dan inilah buktinya. Sebuah doa sederhana dari seorang blogger pemula yang saya panjatkan di akhir tahun 2012, “Ya Allah mudah-mudahan tahun depan saya bisa ikut lomba ngeblog”.

Benar-benar nggak menyangka, nggak sampai seminggu doa itu terkabul. Bisa jadi ini salah satu cara Allah Yang Maka Kuasa menjawab sepenggal doa yang saya panjatkan di akhir ibadah kepada-Nya.

Di akhir tahun, memang saya punya impian untuk bisa mengikuti lomba menulis blog. Setelah sembilan bulan ngeblog, berbagi cerita dan pengalaman pribadi, ingin juga rasanya mencoba menulis untuk orang lain. Lho memangnya selama ini menulis dan ngeblog bukan untuk orang lain?

Maksudnya begini, selama ini menulis dasarnya karena sesuai keinginan diri sendiri. Begitu ada ide melintas, langsung tulis judulnya di atas kertas. Ada unek-unek dalam hati, langsung ketik di komputer. Idenya apa saja, temanya nggak ditentukan, nggak ada batas waktunya kapan harus diposting atau tetap cuma jadi draft postingan. Semuanya berjalan spontan dan mengalir begitu saja.

Setelah melewati tahap seperti itu, muncul keinginan selanjutnya. Apa itu? hasrat untuk menulis sesuai keinginan orang lain. Caranya gimana? Ya, salah satunya ikut lomba ngeblog.

Yang namanya ikut kontes atau lomba ngeblog pasti ada persyaratannya, ada aturannya. Panitia sudah menentukan seperti apa tema tulisannya, gaya bahasanya. Satu lagi persyaratan yang nggak pernah terlewatkan : tulisan belum pernah dimuat di media lain. Ini artinya tulisan harus orisinil, bukan jiplakan atau copy paste karya orang lain.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Impian itu akhirnya menjadi nyata, setelah hari ini blogwalking dan mampir di blognya mbak Idah Ceris. Wah, rupanya si empunya blog sedang berbagi kebahagiaan.

Pertama, berbahagia karena sudah menamatkan sekolahnya setelah empat tahun menuntut ilmu. Selamat atas kelulusannya. Kedua, syukuran sekalian merayakan ultahnya si Biru, salah satu blog yang dikelola mbak Idah Ceris.

Berbagi kebahagiaan dan rasa syukur, yang diwujudkan dengan memberikan kesempatan para blogger untuk menggoreskan tulisannya. Ayo siapa lagi mau ikut dalam acara syukuran ini?

Bagi saya, inilah kesempatan untuk meneruskan langkah atas doa yang sudah dikabulkan Allah SWT. Inilah jalan yang telah ditunjukkan oleh-Nya untuk mewujudkan sebuah impian.

Menulis dan ikut serta di “Give Away Langkah Catatanku”, adalah sebuah langkah awal untuk meraih impian-impian selanjutnya yang lebih besar.

Alhamdulillah, Ya Allah atas segala nikmat yang telah Kau berikan.

Pandangan Pertama Spesial Untuk Langkah Catatanku

give-away-langkah-catatanku