Di sini panggil PAK, di sana langsung panggil NAMA

Kalau di sekolah atau kuliah biasanya kita memanggil nama guru atau dosen yang lebih tua dengan sebutan Pak atau Bu. Dalam bekerja, kadang-kadang karena jabatan yang lebih tinggi, orang yang lebih muda pun bisa juga kita panggil Pak atau Bu. Sebutan itu secara formal sebagai bentuk rasa hormat kita kepada mereka.

Lain negara lain budaya. Lain negara lain pula cara mahasiswa memanggil dosennya. Waktu kunjungan peneliti dari Jepang dan Amerika ke camp, saya lihat ada perbedaan dengan kebiasaan orang Indonesia.

Kalau mahasiswa dari Jepang biasanya memanggil dosennya termasuk yang sudah bergelar profesor dengan sebutan Sensei. Sikap mahasiswa dengan dosennya juga hormat banget.

Beda lagi dengan profesor dari Florida AS yang memberi materi workshop metode riset. Mahasiswa S3-nya yang ikut sebagai pembicara biasa saja memanggil namanya langsung. Nggak perlu pakai Prof, Mister atau Sir. Padahal si mahasiswa yang dari Indonesia ini lebih muda lho. Tapi bagi keduanya sih nggak masalah. Profesor yang dipanggil namanya langsung juga nggak merasa nggak dihormati.

Cuma saya sendiri saja yang agak rikuh waktu memanggil sang profesor ini. Mau langsung panggil namanya juga, kalau orang Jawa bilang itu njangkar 🙂 . Mungkin kalau hal itu terjadi di Amerika sana, kayaknya sih no problem. Terus mau panggil Prof kayaknya kok formal banget. Akhirnya ambil jalan tengah, saya panggil Pak saja.

Anak Dusun Keliling Dunia

IMG01782-20140106-2104

“Saya melihat dan mengetahui ada sangat banyak orang pintar dan hebat, namun tidak semua dari mereka diberi kemewahan untuk bisa menuliskan kepintaran dan kehebatannya. Setiap orang bisa membuat sejarah, namun tidak semua bisa menuliskannya”
I Made Andi Arsana

Tak pernah saya duga, buku Anak Dusun Keliling Dunia yang saya beli Nopember lalu di Gramedia, sebulan kemudian sudah menjadi best seller. Dari letak buku yang berada di rak bagian tengah, berpindah dan naik kelas dipajang di etalase bagian depan. Apa yang saya alami ini sepertinya di luar kebiasaan. Kebanyakan dari kita biasanya cenderung mencari buku yang masuk best seller dulu, setelah baca di media baru dibeli.

Buku yang berisi kumpulan catatan tulisan di blog milik I Made Andi Arsana ini memang menarik. Tak banyak dosen yang rajin ngeblog, mencatat kejadian yang dialami dan menuangkannya di blog pribadi. Andi Arsana adalah salah satunya yang sejak 2005 sering menulis catatan di blog www.madeandi.com. Sebagian besar pengalamannya sebagai dosen Teknik Geodesi UGM dituliskan rinci di blognya. Termasuk ketika berburu beasiswa S2 dan diterima di salah satu perguruan tinggi di Wollongong Australia.

Nggak hanya itu yang bisa kita baca di buku ini. Andi juga nggak pelit berbagi ilmu. Keahliannya di bidang batas maritim (maritime boundaries) yang termasuk langka di negeri ini, dia sebarluaskan ke publik ketika diundang menghadiri berbagai seminar, simposium atau workshop di dalam maupun luar negeri. Kemampuannya menyajikan materi presentasi yang menarik dengan beberapa animasi, menjadi senjata andalannya untuk menjelaskan ilmu teknis agar mudah dipahami audiens.

Selain berprofesi sebagai dosen yang telah memublikasikan 200 karya dalam bentuk buku jurnal, makalah konperensi, kuliah umum, Andi juga seorang kolumnis media cetak. Tulisannya tersebar di Kompas, Jakarta Post, Bali Post, Suara Pembaruan, Suara Merdeka dan lain-lainnya

Hampir semua pengetahuan dan ilmu yang dimiliki Andi termasuk tips-tips diceritakan dengan rinci di buku ini. Meski berlatar belakang sarjana teknik yang sering berpikir serius, sense of humor Andi cukup tajam. Simak ketika di forum internasional, pembawa acara memperkenalkan dirinya dan menyebut nama I Made dengan lafal bahasa Inggris,”Ai meid Andi Arsana”. Saat giliran bicara, Andi menjelaskan sambil tersenyum ke pembawa acara,”It was not you who made me”. Dan meledaklah tawa seluruh peserta. 🙂 🙂

Lima benua dan 28 negara telah dia jelajahi. Sesuai bidang dia yang bergelut dengan urusan pemetaan digital dan geospasial, semua tempat-tempat yang dia pernah kunjungi dia tandai di peta. Dan lagi-lagi, peta itu terlihat menarik saat presentasi karena dilengkapi dengan animasi.

Bagi mahasiswa-mahasiswi atau dosen yang punya keinginan untuk meneruskan studi di luar negeri, buku ini perlu dibaca karena sangat bermanfaat. Buku ini tak sekedar berisi tips-tips yang teoritis, tapi catatan empiris yang pernah dialami penulis. Kepada para anak didiknya di Teknik Geodesi UGM, Andi sering berpesan agar menyiapkan kemampuan bahasa Inggris sejak semester pertama kalau ingin kuliah ke luar negeri. Bukan setelah lulus S1 baru sibuk belajar atau ambil kursus singkat bahasa Inggris.

Cerita yang detil tentang kisah hidup Andi Arsana di buku ini bisa menjadi cermin bagi kita semua. Bahwa seorang anak dusun yang lahir di Tegaljadi, sebuah dusun kecil di pedalaman Tabanan Bali, dari ayah yang hanya lulus SD dan berprofesi penambang batu padas serta beribu yang tak menamatkan SD, ternyata mampu mengatasi keterbatasan yang ada dan meraih impian yang tak pernah pudar. Berkeliling dunia ke kota-kota dan berbagai negara seperti yang pernah dilihatnya di peta dunia.

Balasan Sebuah Kebaikan

Kebaikan sekecil apa pun, bisa membawa berkah di kemudian hari. Ini yang pernah dialami teman kerja ketika mengantar tamu beberapa tahun lalu. Ketika itu, ada dua orang tamu yang mendapat tugas ke lapangan. Teman tadi yang menyetir kendaraan menemani mereka dari Pontianak ke camp PP.

Di dalam kendaraan, selain dia sebagai sopir, ada dua orang bapak dari instansi teknis dan satu lagi dosen sebuah perguruan tinggi dari kota hujan. Nah, sang dosen ini rupanya juga mengajak istrinya.

Keesokan harinya saat masuk hutan, kaki istri dosen tersebut terpeleset dan terkilir. Dalam perjalanan pulang ke Pontianak, sang suami minta tolong teman tadi untuk mencarikan orang yang bisa mengobati kaki istrinya. Tiba di Pontianak, dia segera mencari tukang pijat. Setelah kaki istri dosen tersebut dipijat,  kondisinya berangsur-angsur membaik dan mereka kembali ke Bogor.

Beberapa hari lalu teman tadi ke camp lagi mengantar unit kendaraan baru. Dia bercerita, dua tahun lalu anaknya diterima di perguruan tinggi negeri, di tempat bapak dosen tadi mengajar.

Karena nilainya selama lima semester di SMU cukup bagus, dia diterima tanpa tes. Kalau istilah sekarang, diterima di PTN lewat jalur SNMPTN. Dia diterima di salah satu fakultas yang tergolong favorit, berbeda fakultas dengan bapak dosen tersebut mengejar.

Meski pada saat itu sudah diterima di perguruan tinggi yang diinginkan, bukan berarti masalahnya selesai. Gimana dengan biaya kuliah, dan tempat tinggal selama belajar di perantauan?

Akhirnya teman tadi teringat dengan bapak yang pernah diantarnya dalam perjalanan. Dia menelepon bapak dosen tersebut. Terus, dia cerita kalau anaknya diterima kuliah dan sedang mencari tempat untuk kos. Pucuk dicita ulam pun tiba.

Tanpa diduga, bapak dosen tadi menawarkan supaya anak tersebut tinggal di rumahnya sementara waktu. Apalagi di rumah tersebut hanya dia dan istrinya yang tinggal. Siapa yang menyangka, si anak teman tadi diterima di PTN dimana sang dosen tadi mengajar?

Nggak hanya itu saja, waktu anak tersebut sakit dan harus dirawat inap semalam di RS, sang bapak dosen juga yang mencarikan RS dan sekaligus membantu biaya perawatannya.

“Padahal, waktu itu, saya hanya mencarikan tukang pijat lho, Mas. Tapi, beliau sampai sekarang masih ingat dengan saya” ungkapnya dengan nada hampir nggak percaya.

Sebuah kebaikan kecil yang dia lakukan, ternyata begitu besar balasan yang diterima. Dengan membantu mencarikan tukang pijat untuk istrinya, perhatian dan kebaikannya beberapa tahun kemudian dibalas bapak dosen tadi melalui anaknya.

Mendengar cerita itu, saya nggak banyak berkomentar. Terhanyut dengan rasa bahagia sang teman yang anaknya diterima di PTN favorit dan bantuan yang diberikan oleh tamu yang pernah diantarnya.

Sebuah pelajaran saya petik dari cerita teman tadi. Jangan ragu berbuat kebaikan, meskipun kelihatannya sepele. Karena jika kita melakukan kebaikan, maka balasannya juga kebaikan.

Mungkin, bukan diri kita yang langsung menerima balasan kebaikan itu dan tidak saat itu langsung dibalas. Tapi, balasannya bisa jadi setelah beberapa waktu kemudian, lewat kemudahan-kemudahan yang dialami oleh keluarga kita.

Selesai Kuliah, Terus Kerja atau Kuliah Lagi?

Begitu pertanyaan yang terkadang muncul pada saat masih mahasiswa. Untuk menentukan pilihan, selesai kuliah lebih baik bekerja atau kuliah lagi bukanlah perkara gampang.

Ada beberapa pertimbangan yang layak dicermati sebelum memilih salah satunya. Di antaranya adalah :

1. Kondisi Ekonomi Keluarga
Bagi yang berasal dari keluarga yang mampu secara ekonomi, biaya kuliah untuk meneruskan ke jenjang Strata 2 (S2) tampaknya bukan masalah utama. Beberapa orangtua menghendaki anaknya bisa langsung ambil S2 apalagi jika umurnya masih muda dan berprestasi. Kesempatan untuk memilih kuliah lagi, apalagi ke luar negeri terbuka lebar.

Pendapat orangtua bisa saja akan berbeda dengan sang anak. Bisa jadi dia lebih memilih untuk bekerja daripada kuliah lagi, karena ingin mendapatkan pengalaman kerja.

Setelah mendapatkan pekerjaan, dia bisa kuliah sambil kerja. Jika ini yang dipilih, maka perlu kompromi lebih lanjut mengenai biaya kuliahnya di S2, apakah masih ditanggung sepenuhnya oleh orangtuanya, tanggungan dia atau fifty-fifty.

Lain cerita dengan lulusan yang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tanggung jawab orangtua untuk menyekolahkan hingga jenjang S1 tampaknya berakhir hingga di sini, apalagi jika adik-adiknya masih membutuhkan biaya pendidikan yang tidak sedikit.

Pilihan untuk bekerja setelah lulus kuliah adalah pilihan yang rasional. Selain mengurangi beban orangtua karena dapat membantu keluarga termasuk adik-adiknya, memasuki dunia kerja juga sebagai kesempatan untuk menabung jika ada keinginan untuk melanjutkan ke jenjang S2.

2. Tawaran beasiswa
Tak semua lulusan perguruan tinggi mendapat tawaran beasiswa melanjutkan ke jenjang S2. Lulusan yang memiliki prestasi akademik tinggi yang berpeluang besar untuk meraih kesempatan ini.

Biasanya beberapa perguruan tinggi menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi di luar negeri dan memberikan beasiswa bagi staf pengajarnya yang ingin melanjutkan studi. Syaratnya, lulusan tersebut harus menjadi staf pengajar terlebih dahulu. Mekanisme pertukaran mahasiswa S2 juga merupakan kesempatan untuk meraih beasiswa.

Seandainya tanpa menjadi staf pengajar di suatu perguruan tinggi, apakah bisa mendapatkan beasiswa tersebut? Bisa saja, sepanjang persyaratan yang diminta dapat dipenuhi dan lolos tes yang diadakan oleh lembaga pemberi beasiswa.

3. Persyaratan Kerja
Di lingkungan perguruan tinggi, staf atau tenaga pengajar yang dibutuhkan biasanya diutamakan yang berkualifikasi S2. Jika seorang fresh graduate ingin melamar posisi tersebut, pilihan untuk kuliah lagi setelah lulus adalah suatu keharusan.

Saat ini, hampir dikatakan sedikit sekali perguruan tinggi yang menerima lulusan S1 untuk langsung mengisi posisi sebagai dosen. Argumennya, masa lulusan S1 mengajar S1. Setelah diterima, biasanya tugas sebagai asisten dosen yang pertama kali diterima.

Menyiapkan praktikum, menggantikan dosen saat berhalangan mengajar, membantu mengorganisir acara seminar atau simposium, membantu riset sang dosen adalah beberapa tugas yang dikejakan sang asisten.

Alternatif lainnya, di beberapa perguruan tinggi, staf pengajar juga dapat direkrut dari lulusan yang sebelumnya pernah bekerja. Bisa jadi karena kondisi tempat kerja sedang gonjang-ganjing dan karyawannya melihat kalau prospeknya madesu alias masa depannya suram, sehingga dia harus hijrah. Selanjutnya, dia mencari informasi lowongan kerja dan melamar menjadi staf pengajar di kampus.

Bisa juga dosen senior di almamaternya memang tertarik dengan kemampuannya, namun formasi untuk staf pengajar saat itu belum tersedia. Hingga saat yang tepat, akhirnya si dosen senior menghubunginya untuk bergabung di almamaternya. Staf pengajar yang seperti ini biasanya kenyang dengan pengalaman lapangan dan tidak hanya pandai berteori. Ini salah satu kelebihan yang dimiliki dibandingkan rekannya yang belum pernah mencicipi dunia kerja.

Dia juga lebih lihai dan luwes dalam menjalin relasi dengan pihak instansi lain untuk menjajagi kerjasama bagi kepentingan almamaternya, seperti menjadi lokasi penelitian atau tempat praktek kerja bagi mahasiswa.

Perkembangan dan permasalahan di lapangan serta dunia kerja juga menjadi materi perkuliahan yang lebih menarik bagi mahasiswa dibandingkan dosen yang hanya mengandalkan diktat kuliah yang setiap tahun nggak pernah berubah.

Jadi, setelah lulus nanti mau terus kerja atau kuliah lagi?

Sang Pengajar dari Dunia Maya

Selama ini kita punya anggapan, namanya belajar itu murid, guru dan bahan pelajaran berkumpul di satu tempat. Belajar di sekolah, di tempat kursus atau di lokasi pelatihan. Sepertinya kalau salah satu syarat tadi tidak dipenuhi, belajar dianggap tidak sah dan tidak diakui. Akibatnya, bila salah satu komponen tadi tidak hadir, proses belajar pun terhambat.

Mungkin sobat pernah mengalaminya, ketika guru yang seharusnya mengajar tiba-tiba tidak masuk karena keluarganya sakit. Bagi yang sedang kuliah, pernah merasakan ditinggal dosennya penelitian, sehingga ruang kuliah kosong. Masih mendingan kalau jadwal belajar atau kuliah itu diganti dengan hari lain. Atau selama guru dan dosen itu absen, ada guru lainnya atau asisten dosen yang mengisi jadwal kuliahnya.

Proses belajar sepert itu memang sangat tergantung pada kehadiran salah satu komponennya. Murid tergantung kehadiran dosen dan pelajarannya. Guru atau dosen mengharapkan siswa dan mahasiswanya bisa mengikuti pelajaran tanpa absen karena sakit, ijin atau keperluan lainnya.

Tak jarang, ada juga pengajar yang mempersyaratkan daftar hadir minimal untuk bisa mengikuti ujian akhir. Jangan harap mahasiswa ikut ujian, bila daftar hadir kuliahnya diwabah 75 % selama satu semester. Kalau dosennya sendiri jadwal mengajarnya kurang dari 75 %, gimana loh?

Ada juga dosen yang punya aturan, mahasiswa terlambat 15 menit lebih baik tidak ikut kuliah. Sebaliknya, kalau sang dosen dalam waktu 15 menit tidak datang, kuliah dibatalkan. Nah, kalau yang kedua ini, justru mahasiswa sendiri yang dirugikan. Dia sudah bayar mahal, masa jadual kuliahnya sering kosong.

Sebenarnya, dengan kemajuan teknologi informasi, kendala pertemuan dosen dan mahasiswa maupun guru dan murid dapat dijembatani dengan media internet. Apalagi sekarang ini, yang namanya mahasiswa dan anak-anak sudah akrab sekali dengan yang namanya gadget canggih yang bisa mengakses internet. Jadi, dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi, proses belajar benar-benar berada di ujung jari.

Pikiran saya langsung menerawang jauh. Jika saya menjadi dosen, saya akan buat blog untuk mahasiswa saya, supaya bisa mengakses informasi yang diperlukan. Mulai jadwal kuliah, referensi yang harus disiapkan, ringkasan materi kuliah, jadwal ujian, informasi pengumuman nilai ujian,  sampai tugas-tugas kuliah dan praktikum.

Meskipun saya  sedang mengikuti seminar di Jepang, saya masih bisa memeriksa konsep laporan mahasiswa yang sedang praktek di tengah hutan Kalimantan. Di lain waktu, saat mengikuti simposium di Jakarta, saya tetap bisa memberikan bimbingan skripsi mahasiswa yang  penelitian di Sumatera.

Ketika giliran jadi dosen terbang dan mengajar di Surabaya, saya masih sempat memberi saran mahasiswa di Jogja mengisi Kartu Rencana Studinya .

Tidak hanya itu, mahasiswa yang sedang menyusun skripsi juga bisa berkomunikasi melalui e-mail atau bahkan skype di sela-sela kesibukan saya.

Saya bisa juga menyampaikan perkembangan ilmu pengetahuan selama mengikuti seminar atau simposium dan mengunggahnya di blog. Jadi mahasiswa juga tahu kegiatan saya selama di luar kampus. Mahasiswa juga tahu, kalau bahan kuliah tidak hanya buku teks jaman dulu yang sudah ketinggalan jaman. Tapi juga dari perkembangan yang terjadi di lapangan.

Ada keterkaitan antara mata kuliah yang saya ajarkan dengan perkembangan dalam kehidupan nyata.

Saya teringat waktu jaman kuliah dulu, selesai ujian akhir, biasanya mahasiwa menjalani libur semester dan banyak yang pulang kampung. Jika libur semesternya pas tahun ajaran baru, masa liburnya pasti lebih lama, bisa sebulan. Terkadang, mahasiswa harus titip temannya di kota untuk mengetahui berapa nilai ujiannya.

Tidak cuma itu, saya juga teringat pengalaman seorang teman yang kesulitan menemui sang dosen pembimbing skripsi, karena seringnya menjalani tugas di luar kampus. Padahal dosen pembimbing skripsinya tidah hanya satu. Setelah berkonsultasi, draf skripsi tidak langsung jadi.

Maksudnya, tetap ada koreksi sang dosen dan mahasiswa pun harus memperbaiki lagi. Mengetik ulang, mencetak dan menyerahkan lagi ke sang dosen untuk diperiksa ulang. Semua perlu tenaga, biaya dan tentu saja waktu untuk mengerjakannya. Tenaga untuk menemui dosennya, biaya membeli kertas dan mencetak ulang draf skripsinya.

Dengan bantuan internet, semua proses itu bisa diringkas. Mahasiswa bisa mengirim draf skripsi via e-mail, dosen memberi catatan di berkas tersebut dan mengirim kembali. Setelah konsultasi dinilai cukup dan skripsi telah siap, baru dicetak dan dilanjutkan dengan penyusunan skedul ujian skripsi. Jadi tidak memboroskan banyak kertas dan tinta printer.

Tiba-tiba, aiphone di meja ruang kerja berbunyi. Bagian personalia memberitahu kalau ada dua calon karyawan yang ingin bertemu. Seketika itu juga, saya tersadar dari lamunan. Cerita seandainya jadi dosen pun berakhir.

Saya tersadar, rupanya saya masih tetap sebagai karyawan yang sehari-hari bekerja di tengah hutan. Dan bukan sang dosen seperti yang tadi diceritakan.

Sumber  Foto :

antarafoto.com

Agar Lawan Bicara Lebih Banyak Bercerita

Kalau direnungkan sejenak, ternyata waktu saya sehari-hari justru sering terpakai untuk mendengarkan cerita dari lawan bicara. Ya, lawan bicara tersebut maksudnya bisa teman kerja,  tamu-tamu yang datang silih berganti, warga masyarakat dan juga yang pasti dengan istri.  Caranya pun bermacam-macam, ada yang tatap muka, lewat telepon atau bahkan melalui internet.

Dan yang namanya mendengarkan cerita, waktunya bisa setiap saat dan spontan. Tempatnya pun bisa di kantor, ruangan makan, di gazebo, tempat olahraga, tempat ibadah ataupun di dalam kendaraan (kalau di tempat yang satu ini, saya malah lebih susah mendengarkan cerita karena sering tertidur). Yang namanya bicara atau ngobrol, kalau ketemu bahan omongan yang cocok dan banyak kesamaannya, pasti waktu sejam dua jam terasa sebentar.

Lalu pertanyaannya, apakah kalau seseorang itu sering ngobrol atau mendengarkan orang lain bicara lalu identik dengan buang-buang waktu. Kalau ada orang yang sering mendengarkan orang lain bercerita, terus dicap nggak produktif. Apakah istilah No Action Talk Only (NATO) itu selalu dipersepsikan jelek ? Apakah  Omdo alias omong doang itu selalu berkonotasi negatif ?

Lalu, bagaimana dengan seorang dosen dari Jogja yang selama 2,5 jam menceritakan pengalamannya tinggal selama empat bulan di salah satu desa di Kalbar untuk meneliti keberhasilan petani sawit yang membawa pengaruh bagi perkembangan dan kemajuan wilayahnya?.  Apakah itu bukan suatu informasi yang menarik ?

Bagaimana dengan seorang auditor yang selama 1,5 jam di dalam kendaraan berkisah, bahwa yang namanya sertifikasi ekolabel  itu sangat diperlukan untuk membenahi sebuah sistem kerja di perusahaan. Apakah itu bukan suatu hal yang harus didengarkan dan ditindaklanjuti ?

Bagaimana pula dengan seorang teman dari NTB yang sudah lama tidak bertemu dan di tengah dinginnya udara malam, bercerita tentang kampung halamannya yang dilanda kerusuhan, akibat kurangnya sosialiasi pada saat sebuah perusahaan tambang beroperasi. Apakah itu bukan sebuah pelajaran berharga yang harus disimak, agar tidak terjadi hal serupa di tempat lain?

Bisa jadi, selama ini kita cenderung lebih banyak berbicara daripada mendengarkan lawan bicara kita. Sebagai orang tua, lebih banyak berbicara daripada mendengarkan keluhan anaknya. Sebagai suami, jarang memberikan sang istri kesempatan untuk berdiskusi. Sebagai guru, lebih banyak berkomunikasi satu arah di depan kelas dan kurang meluangkan waktu bagi anak didiknya untuk menyampaikan pendapat yang berbeda.

Padahal, jika kita ingin mendapatkan sebuah informasi atau perkembangan tentang sesuatu hal, justru kita harus memberikan kesempatan lawan bicara untuk lebih banyak bercerita. Memang hal ini tidak mudah, karena perlu kesabaran dan kebesaran jiwa untuk mengendalikan rasa ego kita.

Terus, apa kuncinya supaya lawan bicara banyak bercerita? Nggak susah kok, berikan pertanyaan padanya. Cara tersebut sering saya praktekkan, dan hasilnya memang oke. Dengan hanya melontarkan satu pertanyaan singkat, lawan bicara pun sering merespon dengan cerita yang lengkap. Ibaratnya tanya satu kalimat, jawabannya satu paragrap. Sebuah jawaban atau cerita yang isinya lebih dari yang saya tanyakan, dan bahkan bisa dijadikan sebuah tulisan.

Akan lebih baik lagi kalau pertanyaannya terkait dengan minat, kesukaan dan latar belakang lawan bicara kita. Kalau lawan bicara nggak hobi nonton bola, ya jangan ditanya gimana kok Bayern Muenchen bisa kalah dari Chelsea di final Piala Champions,  padahal bermain di kandang sendiri. Kalau dia nggak tahu Lady Gaga, ya jangan ditanya konsernya di Jakarta kok gagal. Sekali pertanyaan nggak nyambung dan susah dijawab, suasana pembicaraan pun jadi tidak hangat.

Jadi kesimpulannya, salah satu cara untuk menggali informasi adalah dengan bertanya dan mendengarkan. Ada satu pesan teman saya yang perlu disimak bahwa, tidak semua galau itu identik dengan kondisi bingung atau resah, karena ada galau yang artinya God Always Listening And Understanding. Tuhan selalu mendengarkan dan memahami…….

Referensi gambar :

http://i.istockimg.com/file_thumbview_approve/10567140/2/stock-photo-10567140-primary-school-asking-teacher.jpg