EF #19 My Handwritten Letters

Amplop_ Surat-20120619-2242

I never imagined this moment to send a letter so easy and fast. This morning, I just sent an email to a friend who was in Bogor. In a matter of seconds and a click, an email I sent from the middle of the forest has been up in the city of Bogor.

Twenty years ago, I still remembered when I sent letters and waited for the answer took about two weeks. At that time I was already working and had a serious relationship with someone who is now become my wife.

To send the news, I wrote it in the pages of letter paper. Inserted in an envelope, wrote the address on the front of the goal, sticking stamps and sent it through the post office last.

At that time, the houses in the town usually had a mailbox. The postman didn’t need to go to the home to give the letter. Simply, putting a letter in a box that is already available. Usually the mailbox will be filled by the greeting card during the holiday of Eid, Christmas or New Year. Mailbox not only contained letters, but also brochures, leaflets and even newspapers. Now, I rarely see mailbox like it because it has been replaced by email.

However, there is one thing that till now I miss from a letter written by hand and not replaceable by email. What is it? When receiving a letter from my loved one, somehow suddenly felt heart palpitations. Not enough to read it only once. I still keep some letters handwritten by my wife until now. Some my handwritten letters also kept by my wife.  Those handwritten letters are part of the memories of the past

Have you ever experienced a period like that ?

Iklan

Melayani Pembaca Blog

“Kalau sewa Royal, apa bisa, Pak?”

Demikian pertanyaan salah seorang pembaca blog dua hari lalu via email. Menerima pertanyaan seperti itu saya pun langsung menjawab,”Mengenai sewa bis Royal, sebaiknya langsung ditanyakan ke Damri, Mbak”. Saya sebutkan juga nomor telepon kantor bis tersebut. Saya sarankan seperti itu karena saya sendiri belum punya informasi yang lengkap bagaimana menyewa bis tersebut. Selain itu, agar dia juga bisa mendapat informasi dan berkomunikasi langsung dengan agen bisnya.

Melayani pembaca blog ternyata tidak hanya menjawab komentar blogger lain di postingan. Bagi saya, setiap pertanyaan yang masuk via email meski bukan dari blogger juga selayaknya ditanggapi. Bagaimana pun juga, dia sudah meluangkan waktu untuk membaca postingan dan menjelajah isi blog kita.

Jika dia selanjutnya tertarik karena ada informasi yang cocok dengan yang dicari, berarti postingan kita minimal telah memberikan jalan untuk memperoleh jawaban. Bukankah tulisan dalam blog adalah satu referensi yang sering digunakan oleh pembaca untuk mendapatkan informasi?

Tak hanya sekali saya menerima pertanyaan seperti itu. Sebelumnya ada juga seseorang yang tinggal di Jakarta dan akan bepergian ke Kuching, Malaysia dan bertanya via email. Bisa jadi setelah membaca blog saya yang membahas bis yang rutenya dari Pontianak ke Kuching, dia tertarik dan ingin tahu lebih banyak. Akhirnya komunikasi aktif pun terjalin via email.

Yang lebih seru adalah yang pernah saya ceritakan tentang seorang guru dari Jawa yang akan ditempatkan di salah satu kecamatan yang termasuk paling hulu di kabupaten Katingan. Dia banyak mendapat informasi tentang kondisi kecamatan tersebut, kehidupan masyarakatnya dan bagaimana menuju ke ibukota kecamatan, setelah membaca blog dan berkomunikasi intensif via email. Ibukota kecamatan di mana dia akan mengajar itu memang pernah saya posting di blog.

Melayani pembaca blog adalah salah satu kebahagiaan yang saya rasakan sebagai blogger.

Email dari Seorang Guru

Salah satu kebahagiaan seorang blogger adalah ketika tulisannya memberikan manfaat bagi orang lain. Dua hari yang lalu, seberkas kebahagiaan itu terasa dalam hati, ketika membaca email dari seorang guru Kimia SMA. Mas Puji Siswanto, lulusan UNY tahun 2004 yang berasal dari Cilacap.

Setelah berjuang mengikuti tes CPNS beberapa kali, akhirnya dia diterima dan ditempatkan di Kecamatan Bukit Raya, Kabupaten Katingan, Kalteng. Sebuah lokasi kerja baru yang mengharuskan dia meninggalkan tanah kelahiran, keluarga dan teman-temannya demi pekerjaan dan anak-anak didiknya di bumi Kalimantan.

Dari sini lah perkenalan dengan mas Puji ini bermula. Saya juga tidak menyangka, tulisan ringan yang saya anggap biasa-biasa saja di blog ini, ternyata menjadi penting di hadapan Mas Puji. Hal ini semakin menyadarkan diri saya bahwa sekecil apapun hasil karya kita, akan tetap ada yang merasakan manfaatnya. Sesederhana apapun tulisan kita, suatu saat akan bernilai bagi pembacanya.

Ingin tahu lebih lengkap emailnya? Silakan dibaca di bawah ini:

Salam kenal Pak Yudhi, saya Puji Suswanto, guru SMA yang baru saja diterima cpns tahun 2013, dan kemungkinan akan ditempatkan di Kec. Bukit Raya Kab. Katingan. 
Dari hasil browsing, sya menemukan blog Bpk ini :). Sangat menarik, banyak pengalaman luar biasa yg Bpk alami, dan dengan membacanya referensi sya tentang daerah kalimntan jadi bertambah. Ini penting bagi saya, karena kebetulan saya dari Jawa Pak, Cilacap tepatnya, yg jujur saja baru sekali ini me-rantau keluar jawa, sehingga masih minim sekali wawasannya, dan tentu saja blog ini bagi saya sgt membantu :).
Oh iya Pak, membaca artikel tentang dilema perbatasan, sya jadi ingin tahu, apakah interaksi penduduk perbatasan antara kalbar-kalteng yg Bpk ceritakan itu terjadi di kec. Bukit Raya ( Tumbg Kajamei) kah? Mohon gambarannya. 
Sementara itu dulu Pak perkenalannya, saya jg berharap suatu saat bisa bertemu langsung, kopdar skligus menjalin prsaudaraan lebih erat, semoga berkenan. 🙂
Terima kasih. Salam.

Membaca email mas Puji, mengingatkan diri saya ketika pertama merantau ke Kalimantan. Sembilan belas tahun lalu. Lulus sekolah di Jogja, lamaran saya ajukan ke beberapa perusahaan. Setelah menjalani psikotes dan wawancara, seminggu kemudian ada pemberitahuan. Saya diterima dan ditempatkan di Kalimantan Tengah. Satu setengah jam dari Tumbang Kajamei, lokasi rencana mas Puji mengajar.

Di awal tahun 1995, saya belum menggunakan mesin pencari untuk mendapatkan informasi suatu tempat lewat internet. Tapi dengan sering bertanya ke orang-orang yang saya temui di perjalanan.

Waktu itu Tumbang Kakamei masih berupa desa, kini sudah berkembang menjadi ibukota Kecamatan Bukit Raya. Bahkan saya baca dari harian Kompas 10 Maret 2014, tempat tersebut menjadi salah satu lokasi yang akan dilewati rencana jalan Trans Kalimantan jalur tengah. Menghubungkan Palangkaraya-Kasongan-Tumbang Samba-Tumbang Senamang-Tumbang Kajamei-Tumbang Kaburai-Nanga Pinoh (di Kalbar).

Begitu waktu cepat berlalu dan tak terasa, saat ini sudah hampir dua puluh tahun merantau.

Selamat telah diterima sebagai CPNS, mas Puji. Selamat datang di tanah perantauan dan ikut turun tangan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dapat Apa Setelah Belajar Internet ?

Pasti banyak yang didapat setelah kita belajar internet. Teknologi yang satu ini memang benar-benar mengubah dunia. Mengubah pola kita berkomunikasi. Mengubah cara kita mendapat informasi. Mengubah cara kita mengirim data. Mengubah perilaku kita mempelajari sesuatu. Segala informasi menjadi lebih cepat didapat hanya dalam hitungan detik.

Bagi saya, awalnya beranggapan belajar internet itu sulit. Apalagi yang namanya kirim dan balas email. Gimana caranya juga nggak tahu. Tuntutan dalam pekerjaan yang memaksa saya untuk belajar. Kadang-kadang untuk berubah memang harus dipaksa.

Jadi kalau ada yang bilang berubah itu harus muncul dari kesadaran seseorang, nampaknya sulit. Perlu ada faktor pemaksa yang membuat seseorang harus berubah. Nggak usah jauh-jauh.  Lha, contohnya saya sendiri.

Saya berpikir, kalau ada tamu yang tanya dan minta alamat email, terus saya nggak punya alamatnya, gimana mau jawab?. Orang sekarang, kalau ketemu teman atau relasi baru, biasanya ada dua hal yang ditanya dan diminta : berapa nomor hp-nya dan alamat emailnya.

Sejak saat itu, mulailah belajar bikin akun email, buat surat, balas surat sampai gimana caranya melampirkan data. Jadi internet nggak cuma dipakai untuk FB-an, browsing cari berita atau chatting.

Bayangan awal sulitnya belajar buat email, pelan – pelan hilang setelah mencoba. Nah, ini pelajaran baru lagi. Sesuatu yang baru akan terbayang sulit ketika hanya dipikirkan. Tapi setelah dicoba dan dilakukan, ternyata nggak susah kok.

Kalau gagal, coba lagi. Gagal, ulangi lagi. Gagal, jangan segan tanya sama yang sudah bisa, walaupun umurnya lebih muda dari saya. Akhirnya bisa juga. Kuncinya cuma perlu kemauan dan buang jauh-jauh yang namanya gengsi.

Setelah merasakan nikmatnya bisa mempelajari buat email, saya belajar yang lain lagi dari internet. Apa itu?. Gimana membuat presentasi yang lebih baik dari sisi disain dan isi materi. Ini juga perlu saya pelajari, karena ada hubungan dengan pekerjaan saya. Tiap bulan saya harus presentasi secara rutin. Belum lagi ditambah presentasi yang sifatnya dadakan. Ya, presentasi yang tiba-tiba diminta ketika tamu datang.

Mau nggak mau, saya harus belajar lagi gimana memperbaiki materi slide presentasi. Untuk urusan yang satu ini, saya sangat berterima pada Mas Muhammad Nur, guru virtual saya dalam mengajari bagaimana membuat presentasi yang baik dan menarik.

Satu slide berisi satu ide, hindari gunakan model bullet, gunakan warna kontras yang berbeda dengan latar belakang, gunakan gambar untuk menjelaskan ide, hindari kalimat yang panjang, adalah  pesan yang disampaikan Mas Nur agar tampilan presentasi kita terlihat menarik.

Masih banyak lagi manfaat yang bisa kita dapatkan dari internet.Tidak hanya dua hal seperti yang saya ceritakan di atas. Masing-masing orang tentu berbeda dalam memanfaatkan teknologi internet, disesuaikan dengan keperluannya.

Yang jelas, ini yang saya alami dan rasakan. Semakin sering saya belajar dari internet, keinginan untuk mempelajari hal-hal baru lainnya semain besar. Apakah ini yang dinamakan ketagihan atau kecanduan berinternet ?

Sumber gambar :

–  onbile.com