Bersekolah di Dua SD, Satu SMP dan Dua SMA

Selama bersekolah dari SD sampai SMA, saya pernah mengalaminya di lima sekolah yang berbeda.

Waktu SD, kelas 1 – 3 di SD Citarum Semarang. Naik kelas 4 pindah ke Tulungagung mengikuti tugas orangtua. Pindah sekolah ke SD Kampung Dalem 3 sampai kelas 6.

Waktu kenaikan kelas 6 ada berita  bapak dipindahtugaskan ke  Cirebon. Sebenarnya waktu itu sudah mendaftar ke SMP 1 Tulungagung, tapi karena bertepatan dengan kepindahan ke Cirebon, proses pendaftaran di SMP 1 Tulungagung tidak saya teruskan.

Di Cirebon, karena rumah dinasnya masih ditempati, kami sekeluarga sempat menginap di hotel Cordova selama dua minggu. Awal-awal bersekolah di SMPN 5 Cirebon, saya dan adik-adik masih pergi pulang dari hotel ke sekolah. Memasuki awal minggu ketiga akhirnya kami bisa pindah ke rumah dinas.

Di Cirebon sampai kelas 2 di SMA 1. Waktu naik kelas 3 semester 1 bapak dipindatugaskan lagi ke Jogja. Waktu itu saya bimbang apakah ikut ke Jogja atau tetap meneruskan sekolah di Cirebon sampai kelas 3. Karena ingin lolos PMDK dimana nilai raport semester 1 sampai 5 sangat dipertimbangkan, akhirnya saya putuskan tetap tinggal dan sekolah di Cirebon. Itulah awal saya berpisah dengan orangtua. Saya tinggal di rumah teman bapak di jalan Pilang. Hampir setiap pagi berangkat dan pulang sekolah naik elf.

Mungkin karena kecapaian, setelah 3 bulan di kelas 3 saya sakit dan harus opname di klinik. Terkena typus. Bapak dan Ibu sampai datang ke Cirebon untuk menjenguk. Untuk perawatan lebih lanjut, diputuskan saya pindah sekolah ke Jogja.

Di Jogja, saya diterima di SMA 2 Babarsari. Nilai-nilai saya di semester 5 jatuh. Biasanya di SMA 1 Cirebon saya masuk 5 besar, di SMA 2 Jogja peringkat saya jatuh di luar 20 besar. Cita-cita lolos PMDK dengan pilihan ke IPB pun kandas.

Untuk lolos PTN, satu-satunya jalan waktu itu adalah lewat jalur SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dengan mengikuti tes tertulis.

Saya sadar bahwa pelajaran saya tertinggal,  mau nggak mau saya harus ikut les atau bimbingan belajar. Mendekati SIPENMARU, di sekolah juga diberikan pelajaran tambahan. Saya ikuti juga, cuma kalau jadwalnya bentrok dengan jadwal bimbingan belajar, saya nggak ikut yang di sekolah. Saat ada try out pun saya ikuti.

Waktu pendaftaran SIPENMARU, karena waktu SMA berasal dari jurusan A2 saya pilih Fakultas Kehutanan UGM sebagai pilihan pertama dan pilihan keduanya di Fakultas Perikanan Undip. Alhamdulillah, Allah SWT mengijabah doa dan ikhtiar saya.  Saya diterima di pilihan pertama.

Ada hikmah yang saya petik dari sakit typus waktu awal kelas 3 itu. Rencana saya kuliah di Bogor sudah saya niatkan sejak kelas 1 SMA. Saya pun belajar keras dan meraih peringkat 5 besar di semestar 1 sampai 4 dengan nilai yang stabil. Hanya perlu 1 semester lagi untuk memenuhi persayaratan PMDK.

Namun rencana saya tidak seperti yang diharapkan ketika kelas 3. Sakit typus, opname dan setelah sembuh pindah ke Jogja. Ternyata kejadian sakit itu menjadi jalan bagi saya untuk bisa diterima kuliah di Universitas Gadjah Mada.

Keajaiban dari Ilahi itu Terbukti

“Saya mau ambil lagi DP umroh yang sudah saya bayarkan, Bu!” pinta bu Lia dengan nada cemas.

“Uangnya kan sudah ditransfer ke kantor pusat travel umrohnya, Bu. Jadi nggak bisa kalau diambil lagi”jawab bu Ita kaget.

“Tapi saya lagi banyak keperluan, Bu. Uang muka umroh itu saya ambil dari tabungan saya. Sekarang uang tabungannya nggak cukup buat bayar asuransi sama biaya sekolah Rini”, desak Bu Lia yang diantar anak perempuannya malam-malam datang ke rumah Bu Ita. Rumah yang sekaligus juga digunakan sebagai kantor agen perwakilan umroh.

“Begini saja, Bu. Besok saya ke ATM terus mampir ke rumah ibu. Saya akan pinjami ibu untuk bayar asuransi sama biaya sekolah Rini. Nggak ada batas waktu kapan ibu harus kembalikan dan tanpa bunga”,ungkap bu Ita yang anak sulungnya satu sekolah dengan Rini. Tawaran pinjaman yang didasari tanggung jawab seorang agen terhadap calon jamaah yang sudah mendaftar umroh dan membayar uang mukanya.

“Terima kasih, Bu”, kata bu Lia pendek sambil pamitan.

Esok paginya, setelah mengambil uang dari ATM bank Syariah, bu Ita mendatangi rumah bu Lia.  Wanita single parent yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit itu menyambut dengan senyum ramah. Berbeda sekali dengan raut wajahnya saat bertemu tadi malam. Gelisah dan bingung.

“Saya barusan nerima order, Bu. Ada ibu dosen yang minta supaya dibuatkan pakaian seragam kantor buat dia dan teman-temannya. Yang saya kaget, ongkosnya semua dibayar dimuka”, ungkap Bu Lia dengan wajah berseri-seri.

“Alhamdulillah, benar-benar di luar dugaan. Padahal sudah saya siapkan uang pinjamannya”, jawab bu Ita nggak kalah bahagianya.

“Terima kasih ya Allah, telah Engkau kabulkan doaku saat bersujud kepadaMu di sepertiga malam”, ucap bu Ita dalam hati. Sebuah doa dan kepasrahan kepada yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Rejeki. Meminta jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi.

Selamat Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharam 1437 H.

Kenapa Harus Mengeluh ?

Penumpang turun dulu ya

Tidak mudah memang untuk tidak mengeluh atas apa yang terjadi pada diri kita. Jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan dan mempersulit langkah kita, spontan justru keluhan dan omelan yang terucap dari mulut. Padahal kondisi yang tidak mengenakkan itu belum tentu tidak baik untuk diri kita.

Perlu kedalaman berpikir untuk memaknai apa yang sebenarnya terjadi. Perlu kerendahan hati untuk bisa memahami, bahwa apa yang sebenarnya kita keluhkan itu justru mengandung hikmah kehidupan.

Seperti yang saya alami dalam perjalanan dari Nanga Pinoh ke Logpond Popai beberapa minggu yang lalu. Dengan menumpang kendaraan umum, perjalanan kami terhambat jalan yang rusak. Kendaraan terjebak jalan berlumpur dan tidak bisa digerakkan. Penumpang pun terpaksa turun dan jalan kaki untuk menunggu kendaraan ditarik kendaraan lain.

Tak terkecuali bagi para pemudik yang ingin pulang kampung bertemu dengan keluarga, sanak saudara dan tetangga. Terutama yang menggunakan moda transportasi darat. Kondisi sebagian jalan yang rusak dan dalam proses perbaikan, benar-benar menjadi hambatan utama di perjalanan.

Penumpang yang nggak sabar pasti ngomel-ngomel karena lambat sampai di tujuan. Ditambah lagi rasa lapar dan dahaga yang menyergap, karena nggak mengira kalau kendaraan akan mengalami nasib seperti itu.

Rencana yang sudah tersusun rapi, terkadang harus berubah saat dieksekusi. Persiapan yang sudah matang, adakalanya harus disesuaikan lagi dengan kondisi terbaru saat dijalani.

Di sinilah kesabaran penumpang benar-benar diuji. Kreatifitas kita sebagai penumpang kendaraan umum sedang diasah. Pada kondisi seperti itu, pilihan apakah yang bisa kita ambil? Tindakan apakah yang akan kita lakukan?

Apakah ngomel menyesali situasi yang terjadi, bengong dan tak berbuat apa-apa, marah-marah menyalahkan pihak lain atau berinisiatif memanfaatkan kondisi yang terjadi dengan hal-hal yang bermanfaat.

Sebagai salah seorang penumpang yang menyukai fotografi, kondisi seperti ini bagi saya laksana mendapat hikmah atau manfaat dibalik musibahi. Blessing in disguise. Kenapa begitu?

Minibus juga terjebak

1. Mendapat obyek foto gratis.

Dalam dunia fotografi, tidak mudah berburu obyek yang menarik dan alami. Untuk mendapatkan peritiwa atau gambar yang menarik, seorang fotografer harus menunggu momen yang tepat untuk mendapatkan obyek yang diinginkan. Bahkan, terkadang untuk mendapatkan peristiwa apa adanya dan alami, situasi pemotretan harus disetting untuk mendapatkan obyek yang diinginkan.

Peristiwa minibus yang terperosok adalah hal yang terjadi spontan, tanpa rekayasa atau direncanakan apalagi disetting. Ini bagaikan mendapat durian runtuh bagi penikmat fotografi. Sebuah momen yang pantas disyukuri oleh fotografer, pucuk dicita ulam pun tiba. Bila menghadapi situasi seperti itu, yang dibutuhkan adalah kepekaan untuk melihat bahwa hal tersebut adalah obyek fotografi yang layak diabadikan, bahkan memiliki nilai berita yang tinggi.

2. Merasa Bersyukur

Peristiwa minibus yang terjebak jalan rusak itu dan melihat para penumpang turun berjalan kaki, menyadarkan saya bahwa hambatan yang terjadi tak perlu membuat kita berhenti melangkah. Teruslah bergerak, move on meski rintangan berada di depan mata.

Tak hanya itu, supir minibus yang berusaha mengakali agar kendaraanya lolos dari jalan rusak juga menjadi kredit poin tersendiri. Dia tak hanya diam berpangku tangan, namun tetap aktif berusaha dengan berbagai cara. Dia tak hanya duduk-duduk menunggu datangnya bantuan tanpa berbuat apapun.

Sebuah pelajaran kehidupan telah saya peroleh dari jalanan. Pelajaran tentang pentingnya sikap untuk tidak mudah menyerah dengan situasi yang terjadi. Pelajaran tentang perlunya kegigihan dan sikap tak mudah menyerah meski hambatan dan rintangan menghadang. Pelajaran yang harus saya syukuri, karena semuanya terjadi di depan mata saya, alami dan nyata.

Terjebak jalan berlumpur

3. Perlunya Menjalani Proses

Menumpang kendaraan umum, merasakan kerusakan jalan hingga berupaya meloloskan minibus yang terjebak adalah rangkaian proses yang akan mendewasakan diri kita. Di sini diri saya tersadar bahwa ternyata perjalanan untuk mencapai satu tujuan tidaklah mudah. Ada tahapan-tahapan yang harus diikuti.

Ada proses yang harus dijalani, suka maupun duka, susah maupun senang. Tak mungkin kita mencapai satu tujuan tanpa melewati proses itu. Tak mungkin saya tiba di logpond tanpa memulai dengan menumpang kendaraan terlebih dahulu. Untuk mencapai tujuan ada kaidah-kaidah umum yang harus dijalani. Semuanya perlu proses dan nggak bisa instan.

bantuan akhirnya datang

4. Rencana tak Selamanya Berjalan Mulus

Sebagian orang berpendapat, bahwa kalau kita gagal merencanakan maka sama saja dengan merencanakan untuk gagal. Saya termasuk yang kurang setuju dengan pendapat tersebut. Karena sepertinya kalau rencana kita sudah matang, maka dijamin pelaksanaannya bakal mulus 100 %. Realisasinya nggak bakal meleset dari target.

Sebaik-baiknya rencana, tetap senantiasa menyediakan ruang untuk kemungkinan berubah pada saat dieksekusi di lapangan. Sematang-matangnya kita buat rencana mudik, mulai dari anggaran, transportasinya, akomodasinya, masih ada peluang untuk terjadi hal-hal di luar yang kita rencanakan.

Karena itu selain menyiapkan diri dengan rencana yang tersusun rapi, siapkan juga langkah-langkah penyesuaian diri jika terjadi hal-hal yang di luar kendali diri kita. Agar kita tak hanya sebatas lihai dalam menyusun rencana, namun juga bersiap-siap menerima kondisi terburuk yang bakal terjadi.

“Tulisan ini disertakan dalam TGFTD – Ryan GiveAway”

TGFTD - Ryan's GiveAway

Seorang Pemuda di Gerbong Kereta

Kereta api

Cerita ini saya dapatkan dari pesan Black Berry seorang teman lama. Teman cewek semasa SMP yang sekarang tinggal di Jakarta dan rajin kirim cerita, tawaran kerja atau promosi baju dan makanan via BB. Walaupun sudah kepala empat dan cukup lama berpisah, tapi kami masih BBM-an dan punya grup lho. Anggotanya  sekitar 10 orang.

Nama grupnya BATLAS, bukan Batman. Singkatan dari Batur Lawas alias manteman lama. Kalau cerita BATLAS, jadi ingat jaman SMP dulu waktu masih pakai seragam putih biru. Hampir sama dengan seragam anak SMP sekarang. Untuk cowok pakai baju putih dan celana pendek warna biru. Jadi masih kelihatan dengkulnya.

Isi BBM itu sebuah kisah yang cukup menginspirasi.  Pesannya adalah agar kita nggak terlalu cepat memvonis seseorang hanya berdasar apa yang terlihat. Pengin baca ceritanya?

Di sebuah gerbong kereta api yang penuh dengan penumpang, seorang pemuda berusia sekitar 24 tahun melepaskan pandangannya melalui jendela. Ia begitu takjub melihat pemandangan sekitarnya.

Dengan girang, ia berteriak dan berkata kepada ayahnya,“Ayah coba lihat pohon-pohon itu, mereka berjalan menyusul kita”. Sang ayah hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan wajah yang tak kurang cerianya. Ia begitu bahagia mendengar celoteh putranya.

Di samping  pemuda itu, ada sepasang suami istri yang mengamati tingkah pemuda yang menurut mereka kekanak-kanakan. Mereka berdua merasa risih. Kereta terus berlalu.

Tak lama pemuda itu kembali berteriak,”Ayah, lihat itu, itu awan kan? Lihat, mereka juga ikut berjalan bersama kita juga”. Ayahnya tersenyum lagi menunjukkan kebahagiaan.

Dua orang suami-istri di samping pemuda itu tak mampu lagi menahan diri. Akhirnya mereka berkata kepada ayah pemuda itu,”Kenapa anda tak membawa anak anda ini ke dokter jiwa?”

Sejenak, ayah pemuda itu terdiam. Lalu ia menjawab,”Kami baru saja kembali dari rumah sakit, anakku ini menderita kebutaan semenjak lahir, ia baru dioperasi dan hari ini adalah hari pertama dia bisa melihat dunia dengan mata kepalanya”.

Pasangan suami-istri itu pun terdiam seribu bahasa.

Apakah saat membaca kisah ini, kita juga berpikiran seperti suami istri itu? Kalau kita jadi penumpang dalam gerbong itu, mungkin kita juga punya pemikiran yang sama dengan sepasang suami istri itu. Menganggap pemuda itu gila atau kurang waras. Atau kalau nggak, mungkin kita menganggap dia kampungan atau katrok istilah Tukul, karena baru pertama kali naik kereta.

Boleh-boleh saja kita punya pemikiran seperti itu. Namun, setiap orang mempunyai cerita hidup masing-masing. Oleh karena itu, jangan memvonis seseorang hanya dengan apa yang kita lihat. Bisa jadi, bila kita mengetahui kondisi yang sebenarnya, malah kita yang akan tercengang.

Semoga cerita di atas dapat kita petik hikmahnya.

Sumber foto :

chris railway