Kulihat PELANGI Indah Sekali

 

Jpeg

Benar yang dikatakan Koes Plus dalam lagunya bahwa pelangi itu indah sekali. Saya menyaksikan sendiri di sore hari sewaktu pulang jam kerja. Setelah beres-beres dokumen dan laptop di meja kerja, saya spontan melihat pemandangan yang lain dari biasanya lewat jendela di ruang kerja…

Wow…. ada pemandangan yang indah nun jauh di sana. Saat itu setelah turun hujan, cuaca tiba-tiba berubah cerah. Sinar matahari perlahan-lahan bersinar lagi. Saat itulah terbentuk pelangi di atas hijaunya pepohonan. Ruang kerja saya di lantai dua memungkinkan saya bisa mengambil gambar tanpa terhalang bangunan lain atau pepohonan. Tanpa pikir panjang, saya ambil handphone dan memotret dari dalam ruangan.

Rupanya hasilnya kurang memuaskan. Saya keluarkan handphone dari ruang kerja dan saya potret lagi beberapa kali. Saya perhatikan perlahan wujud pelangi itu mulai menghilang. Prosesnya nggak lama, sekitar sepuluh menit. Setelah itu hilang dan yang ada hanya pemandangan awan dan hutan.

Puas rasanya bisa melihat fenomena alam seperti itu, apalagi bisa memotretnya. Kapan lagi ya bisa melihat pelangi?

Iklan

Harus Tebang Pilih agar Tetap Hijau dan Lestari

IMG_1145

Istilah tebang pilih nggak selamanya berkonotasi negatip, lho. Dalam terminologi hukum, istilah tebang pilih sering diartikan pilih-pilih dalam memberikan sanksi atau hukuman bagi pelanggar hukum.

Namun dalam bidang kehutanan istilah tebang pilih justru berkonotasi positip. Kalau hutan ditebang dengan cara dipilih-pilih, justru akan memberikan kesempatan bibit-bibit pohon untuk tumbuh menggantikan pohon-pohon besar. Kalau ditebang habis, yang terjadi adalah resiko terjadinya banjir dan longsor lebih tinggi. Satwa akan kehilangan habitatnya. Dan iklim akan berubah.

Seperti gambar di atas. Hutannya pernah ditebang dua kali, tapi pohon-pohonnya tetap menghijau. Kok bisa, ya? Padahal  sebagian orang beranggapan kalau hutan ditebang pasti gundul. Nggak ada lagi pohon yang tersisa.

Kalau menebangnya sistem tebang habis, ya betul. Semua jenis pohon mulai yang besar sampai kecil ditebang. Tanpa ada satupun yang disisakan untuk regenerasi.

Tapi kalau menebangnya pakai sistem tebang pilih dan ditanami, pasti hutan akan tetap lestari. Dipilih jenisnya. Jenis pohon yang dilindungi seperti manggris, jelutung, tengkawang tetap dibiarkan tumbuh. Ukuran diameternya juga dipilih. Hanya menebang pohon yang besarnya lebih dari 40 cm. Kecuali pohon-pohon yang berada di rintisan yang akan dibuat jalan angkutan.

Nah, pohon-pohon yang nggak ditebang tadi yang diameternya kurang dari 40 cm, setelah 20-25 tahun akan menjadi 50-60 cm. Dan bisa dipanen lagi. Ditambah lagi bibit yang ditanam yang pertumbuhannya cenderung lebih cepat daripada pohon besar tadi. Sepanjang tempat tumbuhnya cocok. Menerima sinar matahari yang cukup dan bibitnya berkualitas baik. Seperti halnya bayi dan anak-anak yang lebih cepat tumbuh dibandingkan orang dewasa.

Jadi, nggak selamanya pilih-pilih itu berarti negatif. 🙂

 

 

Belajar Sabar dari Juru Kamera

Pemandangan hutan yang hijau dan lintasan kabut seputih kapas di pagi hari adalah hal biasa bagi saya. Tiap ada hujan saat dini hari, paginya akan muncul kabut yang bergerak pelan dari bawah pepohonan..

Tapi bagi profesi juru kamera, momen seperti itu adalah pemandangan yang luar biasa. Sampai-sampai mereka harus meluangkan waktu. Bangun pagi dan menunggu di tempat yang tepat. Pasang kamera dengan tripod dan lensa tele di di gazebo.

Satu setengah jam menunggu, akhirnya momen itu tiba. Kabut tipis menyerupai kapas mulai muncul dari sela-sela pepohonan. Bergerak ke atas dan setelah berada di udara berubah arah. Berpindah gerak menyamping mengikuti arah angin.

Selesai ambil gambar, pindah lagi di samping dapur untuk mendapatkan sudut pengambilan gambar yang lebih bagus. Semuanya berlangsung alami. Nggak direkayasa agar sesuai skenario. Justru kita yang perlu menyesuaikan diri dengan skenario alam ciptaan Tuhan yang menakjubkan. Saat itulah saya yang ikut mengamati ikut terpesona dan lupa waktu. Hingga sang juru kamera mengingatkan.

“Mas kalau mau sarapan dulu silakan. Saya masih menunggu sampai selesai”kata juru kamera.

Melakukan yang kita sukai memang sering membuat lupa waktu. Mengamati yang kita senangi juga membuat kita nggak ingat kegiatan lain. Dan hasil gambar yang didapatkan sangatlah memuaskan. Selain ilmu fotografi, modal yang diperlukan adalah sikap sabar. Kesabaran untuk mendapatkan momen yang indah dan alami. Karena setelah itu, kabut putih tipis itu segera menghilang, seiring sinar matahari yang semakin terang.

Tas Buat Kerja, Lokal Buatannya

Jpeg

Kalau teman blogger berangkat kerja atau sekolah, tas apa yang sering dibawa? Pastinya sering bawa tas tangan atau ransel. Buat yang kerja di kantoran atau di dalam ruangan memang tas seperti itu yang cocok. Isinya pun nggak jauh-jauh dari laptop, ipad, atau gadget lain dan berkas dokumen. Pokoknya tas dan isinya keren-keren deh.

Beda dengan yang kerja di tengah hutan. Kalau karyawan yang masih di kantoran sih kurang lebih yang dibawa seperti karyawan yang kerja di kota. Tas laptop. Tapi buat teman-teman yang di lapangan, pergi pagi pulang sore tas yang dibawa lain lagi. Seperti yang terlihat di foto di atas. Itu fotonya saya ambil waktu ada tugas dua hari ke lapangan. Jalan-jalan ke hutan, lihat orang kerja sambil nggak lupa motret obyek-obyek yang menarik dan unik.

Salah satunya tas kerja atau orang di lapangan biasa menyebutnya lajung. Kalau yang berukuran besar disebut tengkalang. Kenapa tas tadi saya bilang unik? Karena terbuat dari rotan, artinya bahan bakunya memang dari hutan. 100% asli bahan lokal, bukan impor. Yang kedua, tas itu bukan buatan industri atau pabrik tapi hand made. Tidak semua orang bisa membuat tas seperti itu. Hanya masyarakat atau karyawan yang punya keahlian yang bisa mengerjakannya.

Keahlian itu mulai dari memilih tanaman rotannya, meruncing (meraut rotan sehingga batangnya halus) memakai kaleng yang tutupnya dilubangi sampai menganyam. Biasanya perlu waktu 1-2 minggu untuk membuat sebuah tas seperti itu. Tas rotan itu juga termasuk awet, bisa tahan sampai 3 tahunan. Yang biasanya rusak duluan itu tali pengikatnya. Harganya juga nggak mahal, 60 – 70 ribu rupiah sebiji.

Tas itu juga unik karena biasa dipakai membawa rantang plastik tiga susun, minuman dan buku. Biasanya rantangnya berisi nasi, sayur-mayur dan lauk. Untuk minumannya juga cukup sederhana. Pakai botol plastik yang diisi air putih. Dan satu lagi, tas itu juga berisi buku ekspedisi. Buku yang dipakai mencatat hasil kerja.

IMG_4955

Kalau tas ukuran lebih besar yang biasa disebut tengkalang, biasa dipakai ibu-ibu dari desa waktu jualan sayuran dan hasil kebun lainnya. Mereka naik kendaraan perusahaan dari desa ke camp – camp. Setelah sampai di camp mereka menawarkan dagangannya ke karyawan, keluarga karyawan atau mbak-mbak yang tugas di dapur. Jadi beda dengan di kota. Bukan pembeli yang mendatangi penjual, tapi penjual yang menemui pembelinya.

Tas ukuran besar juga dipakai karyawan di bagian persemaian, penanaman dan pemeliharaan tanaman. Fungsinya berubah sesuai ukuran. Sering dipakai untuk membawa bibit tanaman atau tanah topsoil. Bisa dibayangkan gimana kerja mereka. Berat dan banyak gerak. Harus jalan kaki naik turun bukit dan memikul tengkalang berisi 10-20 bibit tanaman. Terus mengecer bibit satu per satu untuk ditanam. Namun kerja berat mereka tujuannya mulia. Setelah tanaman tumbuh, tidak hanya bermanfaat bagi perusahaan, namun juga kehidupan. Menghasilkan udara segar, menyimpan air dan megalirkannya ke sungai-sungai dan membuat pemandangan menjadi indah.

Begitulah kalau bekerja dan tinggal di tengah hutan. Tas kerjanya memang sederhana dan lokal buatannya. Namun, sangat bermanfaat dan ramah lingkungan.

Binatang atau Biji Tumbuhan?

IMG01867-20140529-0544

Hayo tebak, gambar apa yang ada dalam foto di atas? Bentuknya bulat seperti kelereng. Warnanya loreng. Sepintas gambar tersebut seperti biji tumbuhan atau buah yang jatuh dari pohon.

Tapi perhatikan gambar berikutnya di bawah ini.

IMG01862-20140529-0542

IMG01861-20140529-0541

IMG01857-20140529-0540

Ternyata “biji” atau “buah” itu secara perlahan membuka dirinya dan wow, berubah bentuk menjadi binatang. Saya belum tahu apa nama jenis binatang yang pandai berkamuflase itu. Mungkin teman blogger ada yang tahu?

Saya dapatkan binatang itu ketika lari pagi di lapangan badminton depan kamar. Sebelumnya saya juga pernah melihat binatang itu ketika jalan-jalan ke hutan. Tapi waktu itu nggak empat memotret. Pagi ini, nggak tahu kok tiba-tiba binatang ini ikut jalan-jalan di lapangan badminton.

Melihat binatang itu berjalan, saya berhenti berlari dan buru-buru ambil BB di kamar. Terus saya jepret dan sentuh punggungnya. Spontan binatang itu langsung menggulung badannya seperti bola. Dengan sabar, saya tunggu beberapa menit sampai dia pelan-pelan membuka lagi badannya.

Pernah ada kejadian lucu ketika mendampingi tamu pria jalan-jalan di hutan. Saat itu dia menemukan sebuah benda di lantai hutan lalu dimasukkan ke saku bajunya. Benda itu dikira biji yang jatuh dari pohon dan dibawa untuk koleksi.

Sambil berjalan, nggak lama kemudian dia merasa ada benda yang bergerak-gerak di dadanya. Alangkah kaget ketika dia melihat sakunya. Ternyata “biji” yang tadi dipungut itu sudah berubah menjadi hewan. Spontan dengan mimik muka agak takut dan geli, “biji” itu diambil dan dibuang jauh-jauh. 🙂 🙂

Mungkin kalau ketemu produser film Transformer, “biji” itu bisa dijadikan salah satu ide untuk membuat jenis robot yang baru.

Beda Tempat, Beda Cara Belanjanya

IMG01789-20140128-1708

Di kota-kota besar, kalau belanja sayuran, buah-buahan dan kebutuhan dapur lainnya biasanya kita akan ke pasar modern, pasar tradisional, mall atau supermarket. Segala macam keperluan sehari-hari termasuk untuk memasak bisa kita dapatkan di situ. Yang diperlukan adalah kemauan kita untuk mendatangi tempat-tempat tersebut.

Di daerah yang agak pinggiran kota, ada juga yang biasa berbelanja di warung yang berada di sekitar rumah. Tipe warung seperti ini biasanya si pedagang akan kulakan dulu ke pasar induk atau pasar besar. Mereka berangkat pagi-pagi untuk belanja sayuran, buah-buahan, ikan segar, juga jajanan pasar. Tiba di warung, belanjaan berupa ikan, tahu, tempe dan sayur-sayuran biasanya ditempatkan di bagian depan di dekat jalan. Di ruangan dalam biasanya dijajakan berbagai macam makanan ringan, minuman, sabun, minyak goreng dan barang-barang keperluan rumah tangga sehari-hari.

Warung seperti ini yang biasanya tempat istri berbelanja. Setelah mengantar anak-anak ke sekolah, pulangnya mampir dulu ke warung. Belanja bahan makanan keperluan makan siang dan makan malam. Kenapa nggak ke pasar induk? Jaraknya lebih jauh dan harus memutar. Sementara kalau ke supermarket atau mall, baru buka jam 9 atau 10.

Itu tadi cara berbelanja di kota. Lain lagi cara di camp. Ada tiga cara yang biasanya karyawan atau mbak-mbak di dapur  lakukan untuk mendapatkan bahan makanan.

Pertama, belanja lewat Koperasi Karyawan (Kopkar). Setiap lima hari sekali 4 karyawan Kopkar akan pergi ke Nanga Pinoh untuk belanja. Waktu belanjanya dua hari. Biasanya mereka pergi setelah subuh, sekitar jam 5. Setelah sampai di Nanga Pinoh kurang lebih jam 8 mereka akan kulakan barang-barang, belanja titipan karyawan dan kirim uang titipan karyawan juga. Setelah sehari mutar-mutar kota, menginap semalam, besok siangnya mereka akan kembali ke camp.

IMG01787-20140128-1707

Dari Nanga Pinoh mereka menyewa satu truk untuk mengangkut barang-barang belanjaan ke Logpond. Setelah itu barang dilangsir ke truk perusahaan dan diangkut ke Kopkar. Nah, disinilah biasanya keluarga karyawan sudah menunggu untuk berbelanja. Untuk masing-masing dapur camp, biasanya sayur-mayur dan barang lainnya sudah dibagi-bagi. Selesai dikemas, sore atau malam itu juga barang-barang  diantarkan ke masing-masing camp. Untuk camp yang berada di jalan yang arahnya berbeda akan diantarkan esok harinya.

Cara kedua, orang-orang di camp biasanya belanja dari penjual yang datang naik sepeda motor dari Nanga Pinoh. Sekali seminggu penjual ini datang membawa dagangan bermacam sayuran, buah-buahan dan ikan. Salut juga dengan pedagang ini karena harus menempuh perjalanan 2,5 jam naik motor untuk mencari nafkah sampai ke tengah hutan.

Terakhir, adalah membeli dari penduduk desa yang menjajakan hasil kebun dan ladang ke camp-camp. Biasanya seminggu sekali truk perusahaan akan melayani ibu-ibu, remaja dan anak-anak berjualan. Mereka dijemput di desa dan diantar ke camp-camp untuk berjualan. Setelah selesai, biasanya mereka berbelanja sembako dan diantar lagi pulang ke desa. Semua bantuan transportasi dari perusahaan tanpa dipungut biaya alias gratis.

Di luar jadwal seminggu sekali itu, mereka juga terkadang menumpang kendaraan lainnya untuk berjualan. Setelah tiba di camp, biasanya ibu-ibu ini akan menawarkan ke keluarga karyawan dan juru masak dapur. Terkadang saat mereka berjalan lewat di depan kantor, karyawan yang punya kegemaran memasak juga ikut berbelanja.

IMG_4953_A

Mereka meletakkan dagangannya dalam keranjang yang biasa disebut tengkalang. Sambil berjalan mereka akan menggendong tengkalang dan menawarkan dagangannya. Sebagian besar yang dijual adalah sayur dan buah lokal yang mungkin agak susah ditemui di pasar modern. Sayur pakis, jantung pisang, daun ubi (bentuknya runcing), umbut rotan muda, rebung sampai sawi hutan yang rasanya pahit sekali. Pernah karena nggak tahu dan nggak nanya, saya langsung ambil sayur ini agak banyak karena bentuknya mirip sawi. Rasanya setelah dimakan… waduh lebih pahit daripada daun papaya 😦

Sayur-mayur itu sebagian besar cocok untuk dibuat lalapan. Dengan tambahan sambal terasi, ikan sungai dan nasi hangat, menunya nggak hanya sedap namun juga sehat. Rasanya jadi lapar deh :-). Selain sayur, penduduk juga menjual buah-buahan, seperti kemantang (mangga pakel/kuweni), durian, lengkeng, sembulan (seperti duku tapi masam). Kalau sedang berada di Pontianak, terkadang saya merindukan makanan seperti itu.

Dimana teman-teman kalau belanja keperluan dapur? Ke mall, pasar atau warung?

Tawaran Pindah Kerja

Tanpa terasa, sembilan belas tahun sudah saya bekerja di tempat sekarang. Selama itu, belum pernah sekalipun saya pindah kerja ke tempat lain. Kalau diibaratkan dalam sepakbola mungkin seperti Steven Gerrard, pemain tengah Liverpool yang betah di Anfield dan nggak pindah ke klub lainnya.

Sudah dua kali saya ditawari pindah kerja oleh dua teman seangkatan waktu kuliah. Teman pertama waktu itu datang untuk studi banding di tempat kerja bersama tiga orang lainnya. Dia sudah bekerja di grup perusahaan penghasil bubur kertas di Sumatera. Posisinya sudah lumayan, termasuk jajaran top manajemen.

Dalam perjalanan ke lapangan, dia cerita perusahaannya sedang mengembangkan usaha menanam jenis meranti. Selama ini grup perusahaannya menanam jenis-jenis akasia yang termasuk cepat tumbuh. Jenis pohon itu untuk bahan baku bubur kertas (pulp) dan dalam waktu 10 – 15 tahun sudah bisa dipanen.

Beda dengan jenis pohon meranti yang perlu waktu 20 tahun untuk dipanen. Kalau akasia untuk bahan baku pulp, meranti yang ditebang sebagian besar untuk bahan baku kayu lapis. Nah, kalau rumah teman-teman blogger dinding atau plafonnya dari triplek berarti itu dari sebagian besar terbuat dari kayu meranti.

Sewaktu dalam perjalanan pulang ke base camp, pembicaraan mulai mengarah ke hal lain. Berapa gaji saya perbulan? Fasilitas apa saja yang diterima untuk posisi setingkat saya? Di dalam kendaraan itu saya jawab semua pertanyaannya. Usahanya untuk menawari saya nggak berhenti sampai di situ.

Selesai makan malam dia datang ke kamar membawa sekeping VCD tentang profil perusahaannya. Wah, serius juga nih proses pendekatannya. Sambil ngobrol kami berdua melihat profil perusahaannya yang ditayangkan dalam bahasa Inggris. Sebuah perusahaan multinasional yang berorientasi ekspor dan termasuk salah satu dari tiga besar perusahaan penghasil bubur kertas di Indonesia.

Selesai melihat tayangan itu, dia bilang kalau tertarik supaya kirim surat lamaran. Nanti dia akan bantu untuk sampaikan ke pimpinannya di sana. Waktu itu saya masih belum memberikan jawaban atau keputusan. Saya bilang terima kasih sudah menawari dan saya pikir-pikir dulu.

Beberapa minggu saya belum memberikan jawaban. Pada saat mengikuti acara seminar di kampus UGM, teman saya yang kerja di Sumatera tadi menelepon teman seangkatan yang menjadi dosen di kampus.

Kebetulan waktu itu saya sedang ngobrol dan duduk di depan dosen yang menjadi ketua panitia seminar tersebut. Setelah diberitahu kalau saya ada di situ juga, teman yang menawarkan pekerjaan tadi menanyakan lagi ke saya. Saya bilang terima kasih atas tawarannya dan setelah dipertimbangkan untuk saat ini saya masih belum ada rencana untuk pindah kerja.

Terus dia tanya, “Kenapa? Apa tawaran gaji dan fasilitas masih kurang?. “Bukan itu pertimbangannya. Saya sudah bicara dengan istri dan keluargalah yang menjadi pertimbangan utama”jawab saya.

Dia masih mencoba membujuk lagi dengan pertanyaan,”Benar nih, nggak menyesal dengan tawaran yang diberikan? Kalau masalah keluarga nanti bisa dibicarakan, apakah keluarga mau menyusul pindah ke Sumatera atau kamu yang pulang sebulan atau dua bulan sekali”.

Sebuah tawaran yang menggiurkan. Gaji lebih tinggi, fasilitas lebih menarik dan ada bantuan kemudahan untuk bertemu keluarga. Namun saya tetap dengan keputusan semula. Menolak secara halus dengan mengatakan saya masih betah di tempat kerja yang sekarang.

“Ok, kalau memang seperti itu keputusannya”katanya. Saya pun sekali lagi mengucapkan terima kasih atas tawarannya.

Tawaran kedua juga datang dari teman seangkatan yang sekarang menjadi salah satu auditor independen. Ketika mengaudit salah satu perusahaan di Kalteng, dia menelepon ke handphone saya sore hari sepulang kerja.

Saya kaget karena ada telepon masuk dari nomor tak dikenal. Setelah saya jawab, terdengar suara dari seberang yang memperkenalkan dirinya. Rupanya teman ini diminta mencari kandidat yang akan ditempatkan di Papua sebagai camp manager. Sebuah jabatan yang berada di atas posisi saya saat ini. Mungkin bagi sebagian orang ditawari jabatan atau posisi yang lebih tinggi akan tertarik dan nggak banyak pertimbangan untuk menerimanya.

Namun bagi saya, sekali lagi pertimbangan keluarga menjadi yang utama. Sambil gurau saya bilang kalau masih bujangan, tawaran itu tanpa pikir panjang akan saya ambil. Namun karena sudah punya keluarga, sebaiknya ditawarkan ke kandidat lain.

Dua tawaran pindah kerja yang saya tolak dengan halus karena pertimbangan keluarga. Saya cuma berpikir sederhana, menghargai keluarga terutama istri. Ceritanya, sebelum menikah dengan saya dia pernah bekerja di Jakarta. Setelah menikah, dia memutuskan berhenti bekerja dan mengikuti saya pindah ke Pontianak. Pertimbangannya, kalau dia tetap bekerja di Jakarta dan posisi saya di Kalimantan, frekuensi bertemu akan lebih jarang daripada kalau dia menetap di Pontianak.

Dia sudah mengalah untuk mengikuti suami. Dan itu bukanlah keputusan yang mudah. Karena sebagai anak sulung, tentu orangtuanya mengharapkan anaknya bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.

Tawaran kerja dengan iming-iming gaji yang lebih besar, fasilitas yang lebih lengkap memang menarik. Namun bagi saya, pertimbangan keluarga tetaplah yang utama.