Dua Puluh Enam Channel, Kapan Nontonnya?

Baru saja ngobrol sama teman kerja waktu saya fotocopy surat  yang sudah diparaf pimpinan.

“Di kamar, tivinya berapa channel, Pak?”

“Empat belas saluran”jawab saya

“Wah, masih perlu disetting lagi, pak, bisa sampai dua puluh enam channel”

“Dua puluh enam channel?”

Saya memang termasuk yang nggak  sering nonton tivi. Nggak betah lama-lama nonton. Jadi nggak sempat lagi setting supaya dapat puluhan channel.  Di rumah maupun di camp, jarang sekali saya nonton tivi. Kebanyakan malah cari informasi di internet. Bukan dari tivi. Kalau ada info baru olahraga saya cari di detik.com atau lihat videonya di youtube.

Terus waktu lainnya digunakan untuk apa saja? Cari ilmu di internet. Misalnya gimana membuat disain presentasi yang menarik. Nah, kalau hal seperti ini saya betah belajar sampai coba praktekan. Pokoknya hal-hal yang ada kaitannya dengan pekerjaan.

Kadang-kadang juga buka media sosial. Facebook buat tahu perkembangan terbaru teman-teman. Twitter juga hampir tiap hari saya buka, buat menyerap ilmu dari para motivator atau ustadz yang saya perlukan.

Makin banyak channel tivi memang makin banyak pilihan. Kita bisa tonton acara yang kita perlukan.  Bagi orang lain banyak channel adalah kesempatan buat nonton tivi dan dapat hiburan sepuas-puasnya.

Tapi buat saya, meski nanti disetting sampai dua puluh enam channel, hanya 3-4 tontonan saja yang saya ikuti. Kick Andi dan I’m Possible di MetroTV, Suluk Semalam di Aswaja TV dan National Geographic. Lainnya? Nggak tertarik.

 

Beralih dari Media Cetak ke Media Digital

Setelah sinyal internet bisa diakses di camp, satu persatu teman kerja mulai berhenti langganan media cetak. Yang biasanya langganan tabloid olahraga, sudah stop dan beli tablet untuk baca informasi digital. Yang rajin langganan majalah berita mingguan juga migrasi. Sekarang lebih rajin baca berita di handphone, laptop atau desktop. Perlahan tapi pasti, teman-teman kerja yang sebelumnya pelanggan setia media cetak mulai berkurang.

Saya termasuk yang agak belakangan bermigrasi. Baru kemarin memutuskan stop langganan koran cetak nasional yang ongkos perbulannya sekitar 120 ribu. Biasanya saya terima koran cetak itu di camp dua hari setelah tanggal terbitnya. Memang nggak bisa dapat informasi terbaru, tapi ada beberapa artikel favorit yang terbit di hari Sabtu dan Minggu.

Saking favoritnya, artikel tiap Sabtu itu selalu saya gunting dan saya simpan. Sekali-sekali saya baca ulang artikelnya. Beberapa waktu kemudian saya baru tahu kalau tulisan dari salah seorang pekerja kreatif itu dijadikan buku dan dijual di toko buku dan dijual online.

Koran-koran yang sudah saya baca, biasanya saya kasihkan ke teman-teman. Ada yang dibaca di kantor. Ada juga yang dibawa masuk ke hutan. Koran yang edisi hari Minggu saya bawa ke Pontianak, karena sesekali pernah diminta Nadia untuk bahan tugas sekolah.

Kemarin agak berat memutuskan stop langganan, karena sudah sepuluh tahun lebih saya langganan koran itu. Dulu, waktu masih SMP juga sudah baca koran itu. Setiap loper koran datang dan menyisipkan di bawah pintu ruang tamu, saya nggak sabaran mengambil.

Dengan kemajuan teknologi dan adanya internet, setelah saya timbang-timbang saya memang harus memilih salah satu. Meninggalkan koran cetak dan beralih ke koran digital. Tapi untuk buku-buku, masih belum bisa pindah ke lain format. Belum migrasi dari buku cetak yang tebal ke e-book.

Bersyukur juga saya mengalami masa peralihan teknologi. Dari masa ketika pengiriman surat berperangko beralih ke email. Dari telepon rumah dan telepon umum berganti ke telepon seluler. Dari koran dan majalah cetak beralih ke bentuk digital.

Perubahan teknologi apa lagi ya yang akan terjadi di masa depan?

Peraturan Baru, Siap-siap Adaptasi Lagi

Beruntunglah teman-teman yang sudah akrab dengan internet dan dunia online. Apalagi yang sudah berumur kepala empat atau lebih dan masih kerja. Di era serba digital ini, nggak cuma urusan belanja barang dan beli tiket saja yang online. Dalam urusan pekerjaan, satu demi satu juga sudah menerapkan secara online, termasuk pelaporan secara digital ke kementerian.

Beragam komentar dari teman-teman kerja menanggapi akan diberlakukannya peraturan baru self assessment yang mengarah ke digitalisasi data. Ada yang menyoroti jaringan internet yang lelet, kurangnya sosialiasi, sampai kesiapan SDMnya.

Ada juga yang memandang bahwa self assessment adalah upaya efisiensi memangkas biaya operasional perusahaan, tapi juga sekaligus membuka peluang kesalahan dan sanksi jika penerapannya tidak berhati-hati. Bisa seperti itu karena mulai perencanaan, pelaksanaan dan monitoring dilaksanakan semuanya oleh perusahaan. Peran aparat pemerintah sebagai pengawas sudah semakin berkurang. Meringkas rantai birokrasi dan pemeriksaan menggunakan bantuan teknologi (satelit, drone, internet).

Contoh mudahnya kalau kita ingin melihat titik api (hot spot) di suatu tempat, cukup meluncur ke portal Sipongi. Satelit akan menginformasikan lokasi titik api secara rinci, mulai koordinatnya, desa dan kecamatan.

Siap nggak siap, mau nggak mau, era digitalisasi data akan merambah ke semua bidang pekerjaan. Asyiknya bagi yang pekerjaannya nggak jauh-jauh dari pelaporan digital dengan internet. Setelah urusan input data beres, laporan selesai terverifikasi oleh instansi teknis, ada kesempatan dan waktu luang buat berselancar di dunia maya. Bisa cek dan balas email, menyimak berita terbaru, belanja online atau ngeblog 🙂

Televisi Rusak, Tenang-Tenang saja

Biasanya kalau ada barang elektronik rusak, cepat-cepat saya bawa ke ahlinya. Handphone ada masalah, tanya ke teman. Kalau nggak bisa ngatasi bawa ke servis center. Laptop atau PC ngadat bawa ke toko komputer.

Tapi waktu televisi di rumah rusak hampir tiga minggu, saya nggak terlalu risau. Televisi layar cembung 21 inch yang nggak mau menyala waktu saya tekan tombol on off-nya. Biasanya kalau tombol sudah ditekan, warna merah akan berubah warna hijau. Setelah itu muncul gambar. Sudah berkali-kali saya tekan, warna merah muncul tapi setelah itu padam. Gambarnya nggak ada yang muncul sama sekali.

Bagi saya saat ini nonton tv bukan lagi kebutuhan primer. Artinya nggak harus tiap hari nyetel tv terus berjam-jam ngabisin waktu nonton berita, film atau talkshow. Rasanya kok biasa-biasa saja. Nggak ada rasa sesuatu yang hilang. Tiga minggu nggak lihat tayangan tv, tenang-tenang saja.

Apa mungkin karena saat ini sudah ada internet ya? Dengan smartphone atau laptop, segala informasi bisa didapat. Waktu yang biasanya saya pakai untuk nonton tv malah banyak dipakai untuk browsing, chatting dan ngeblog.

Sehari saja nggak buka internet rasanya ada yang kurang. Sehari saja nggak chatting dengan keluarga, terasa ketinggalan info-info hangat dari istri dan anak. Sehari saja nggak buka email dan membalas email yang masuk, kok ada perasaan bersalah.

Tapi akhirnya, dua hari lalu saya berubah pikiran. Cepat atau lambat tv itu akan diperbaiki. Saya masukkan televisi itu ke kardusnya. Saya titipkan ke teman petugas koperasi karyawan untuk diperbaiki di Pinoh. Belum tahu apa kerusakannya. Moga-moga saja biaya ganti komponen dan servisnya nggak mahal.

Ketika Jaringan Internet Lelet

Bagi sebagian besar dari kita, internet saat ini sudah menjadi kebutuhan. Kalau sebelumnya kita mengenal ada tiga kebutuhan pokok: pakaian, pangan dan perumahan, saat ini daftar itu perlu ditambah satu lagi, telekomunikasi terutama koneksi internet. Apalagi bagi generasi muda dan para ABG yang hidupnya nggak bisa lepas dari gadget.

Betapa galaunya seseorang yang sudah sehari-hari terkoneksi dengan internet, tiba-tiba satu hari jaringannya  lelet. Jangankan satu hari, satu atau dua jam sinyal ponsel hilang saja rasanya sudah seperti cowok yang patah hati. Resah dan gelisah.

Kalau nggak percaya, lihat para penumpang pesawat yang baru saja mendarat. Apa yang pertama kali mereka lakukan ketika roda pesawat menyentuh landasan pacu dan pesawat berhenti. Masing-masing sibuk mengeluarkan ponselnya. Mereka seperti tidak sabar untuk menelepon, membalas sms, mengakses berita atau update status di media sosial.

Rasanya sudah tidak sabar lagi menyalakan ponsel meski hanya 1-2 jam terputus dari koneksi  karena berada dalam penerbangan. Apalagi penerbangan melintasi antar benua yang memakan waktu belasan jam. Mungkin ke depannya akan ada teknologi wifi di dalam pesawat, sehingga para pecandu internet tetap dapat terkoneksi di dunia maya.

Fenomena itu tak hanya di bandara. Di jalan raya juga sama saja. Karena begitu inginnya menelepon, membalas sms atau memberikan komentar di media sosial, terkadang mereka melakukannya sambil naik motor.

Yang naik mobil juga perilakunya hampir sama. Sambil nyetir mobil, ponselnya ditempelkan di telinga kiri. Jalannya pelan sekali. Bukan karena mereka belajar setir mobil, tapi nyetir sambil menelepon. Ini yang terkadang bikin gemas pengendara mobil di belakangnya. Dan mereka melakukannya tanpa berpikir bahwa hal itu membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.

Sebuah peristiwa yang unik. Kecepatan mereka dalam membeli ponsel canggih atau smartphone dan menggunakannya untuk menelepon, kirim sms atau update status ternyata belum diimbangi dengan pemahaman aturan dan etika penggunaan ponsel di tempat umum. Begitu pentingnya jaringan telekomunikasi dan kehadiran internet ini, sehingga ketika gangguan dan koneksinya melambat, omelan pun bermunculan.

Rasa kekesalan tak hanya dilontarkan di dunia nyata, namun juga terupdate di dunia maya. Yang sudah terbiasa mengunduh materi harus juga mempersiapkan diri lebih sabar. Berjam-jam harus dihabiskan untuk mendapatkan unduhan 100%. Yang parah kalau baru dapat 50%, tiba-tiba jaringan terputus dan harus mulai mengunduh dari awal lagi. Otomatis kuota pun hilang percuma.

Ungkapan kekesalan dan omelan itu membuktikan bahwa internet sudah benar-benar merasuk dalam kehidupan seseorang. Sudah mendarah daging dalam gerak hidup sehari-hari bagi sebagian orang. Ketergantungan terhadap teknologi komunikasi dan internet sudah sedemikian tinggi.

Jadi jangan heran kalau seseorang tiba-tiba menjadi uring-uringan dan emosional. Itu bukan karena dia nggak punya sandang, pangan atau rumah. Namun bisa jadi gara-gara masalah koneksi internet yang lelet. Karena jaringan sinyal telekomunikasi sedang ada gangguan dan belum pasti hingga kapan akan normal kembali.

E-voting bagi Pemilih Mobile

Orde Reformasi telah menciptakan sistem pemilihan kepala daerah dan anggota legislatif yang berbeda dengan masa Orde Baru. Saat ini, setiap anggota masyarakat yang telah memenuhi persyaratan dan terdaftar sebagai pemilih, berhak untuk menggunakan hak suaranya. Mencoblos langsung gambar calon anggota legislatif, kepala daerah bahkan kepala negara pilihannya.

Suatu hal yang tidak terjadi ketika masa Orde Baru, dimana pada waktu itu kepala daerah dan kepala pemerintahan tidak dipilih langsung oleh masyarakat. Namun dengan sistem keterwakilan melalui wakil-wakil rakyat atau lembaga legislatif. Hak kita pada saat itu sebatas mencoblos salah satu tanda gambar dari tiga kontestan peserta pemilu.

Ada dua agenda besar yang akan dihadapi oleh pemerintah pada tahun 2014. Pemilihan anggota legislatif pada tanggal 9 April 2014, dan pemilihan presiden (pilpres) tanggal 9 Juni 2014. Di tengah karut marut jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk kedua pesta demokrasi tersebut, pilihan untuk melaksanakan pemungutan suara sesuai jadwal tetap harus dipertahankan. Karena menunda pelaksanaan hanya akan menambah permasalahan baru.

Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh warga masyarakat ketika pemilihan legislatif atau pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) adalah ketika hari pencoblosan, mereka tak berada di tempat di mana mereka terdaftar.

Seperti halnya saat ini. Tidak semua pembaca berada di rumah masing-masing ketika mengakses informasi. Ketika anda membaca blog ini dan berita-berita dari portal lainnya, bisa jadi anda sedang dalam perjalanan. Berada di ruang tunggu bandara menunggu keberangkatan pesawat sambil mengikuti informasi terbaru hari ini dengan smartphone di dalam genggaman. Meski berada dalam perjalanan, kita tetap dapat mengikuti perkembangan berita.

Tuntutan pekerjaan pada saat ini menyebabkan banyak warga masyarakat yang mencari nafkah di tempat lain di luar kota tempat tinggalnya. Demikian juga dengan para mahasiswa yang melanjutkan studi ke daerah lain atau wirausahawan yang tempat usahanya berlokasi jauh dari domisilinya.

Menyiapkan pemungutan suara secara digital (e-voting) perlu digagas sejak sekarang. Sistem digital saat ini sudah digunakan dalam berbagai bidang dan terbukti memudahkan aktiavitas masyarakat. Seperti dalam dunia perbankan (e-banking), pendidikan (e-learning), dan pemerintahan (e-KTP). Sudah saatnya pemanfaatan teknologi digital tersebut juga dimanfaatkan dalam pemilihan kepala daerah maupun anggota legislatif.

Pencoblosan secara digital (e-voting) menjadi salah satu solusi bagi para pemilih yang sering berpergian dan tidak dapat pulang ke tempat di mana mereka terdaftar sebagai pemilih. Para pakar IT dapat diminta oleh pemerintah untuk merancang aplikasi e-voting di smartphone. Dengan demikian pencoblosan dapat dilakukan tanpa harus datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Caranya bagaimana? Memanfaatkan data Nomor Induk Kependudukan (NIK). Dalam sistem pencoblosan digital, fungsi NIK sangat penting. Sistem ini dapat menggunakan NIK yang dimiliki oleh setiap penduduk sebagai bukti identitas tunggal sebagai pemilih. Karena setiap penduduk hanya memiliki satu NIK dan berfungsi nasional. Tidak akan ada warga yang memiliki NIK ganda, karena akan terdeteksi oleh sistem di komputer.

Dengan NIK ini, penduduk hanya memiliki satu pilihan. Mencoblos atau tidak. Kesempatan untuk mencoblos hanya satu kali. Selesai memilih, NIK-nya di program komputer langsung ditandai. Dengan demikian akan diketahui NIK yang sudah digunakan dan belum digunakan. Pada akhir pencoblosan, secara total akan diketahui berapa sisa NIK yang tidak digunakan.

Meski berada di tempat yang bukan domisilinya, dengan NIK ini para pemilih bisa mencoblos di tempat di mana mereka pada saat itu berada. Bagi penduduk yang tinggal di pulau Jawa dan merantau ke Sumatera atau Kalimantan, mereka tak harus pulang kampung untuk bisa mencoblos.

Demikian juga para mahasiswa dari Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Papua yang sedang mengikuti studi di pulau Jawa. Mereka tidak harus pulang ke tempat asal hanya untuk memberikan suaranya.

Bisa dibayangkan kalau dalam tahun 2014 nanti ada dua kali pemilihan untuk menentukan anggota legislatif dan presiden. Sangat tidak efisien kalau para pemilih harus bolak-balik pulang untuk sebuah acara yang hanya memakan waktu dua hari. Tidak sebanding dengan biaya dan waktu yang dikeluarkan.

Jika e-voting dapat diterapkan akan lebih efisien dan menghemat biaya. Tak hanya bagi para pemilih, namun juga bagi pemerintah. Karena e-voting akan mengurangi biaya yang mencapai bisa mencapai nilai trilyunan yang selama ini harus dikeluarkan pemerintah untuk mencetak kartu suara, membuat kotak suara serta distribusinya ke daerah-daerah.

Dapat Apa Setelah Belajar Internet ?

Pasti banyak yang didapat setelah kita belajar internet. Teknologi yang satu ini memang benar-benar mengubah dunia. Mengubah pola kita berkomunikasi. Mengubah cara kita mendapat informasi. Mengubah cara kita mengirim data. Mengubah perilaku kita mempelajari sesuatu. Segala informasi menjadi lebih cepat didapat hanya dalam hitungan detik.

Bagi saya, awalnya beranggapan belajar internet itu sulit. Apalagi yang namanya kirim dan balas email. Gimana caranya juga nggak tahu. Tuntutan dalam pekerjaan yang memaksa saya untuk belajar. Kadang-kadang untuk berubah memang harus dipaksa.

Jadi kalau ada yang bilang berubah itu harus muncul dari kesadaran seseorang, nampaknya sulit. Perlu ada faktor pemaksa yang membuat seseorang harus berubah. Nggak usah jauh-jauh.  Lha, contohnya saya sendiri.

Saya berpikir, kalau ada tamu yang tanya dan minta alamat email, terus saya nggak punya alamatnya, gimana mau jawab?. Orang sekarang, kalau ketemu teman atau relasi baru, biasanya ada dua hal yang ditanya dan diminta : berapa nomor hp-nya dan alamat emailnya.

Sejak saat itu, mulailah belajar bikin akun email, buat surat, balas surat sampai gimana caranya melampirkan data. Jadi internet nggak cuma dipakai untuk FB-an, browsing cari berita atau chatting.

Bayangan awal sulitnya belajar buat email, pelan – pelan hilang setelah mencoba. Nah, ini pelajaran baru lagi. Sesuatu yang baru akan terbayang sulit ketika hanya dipikirkan. Tapi setelah dicoba dan dilakukan, ternyata nggak susah kok.

Kalau gagal, coba lagi. Gagal, ulangi lagi. Gagal, jangan segan tanya sama yang sudah bisa, walaupun umurnya lebih muda dari saya. Akhirnya bisa juga. Kuncinya cuma perlu kemauan dan buang jauh-jauh yang namanya gengsi.

Setelah merasakan nikmatnya bisa mempelajari buat email, saya belajar yang lain lagi dari internet. Apa itu?. Gimana membuat presentasi yang lebih baik dari sisi disain dan isi materi. Ini juga perlu saya pelajari, karena ada hubungan dengan pekerjaan saya. Tiap bulan saya harus presentasi secara rutin. Belum lagi ditambah presentasi yang sifatnya dadakan. Ya, presentasi yang tiba-tiba diminta ketika tamu datang.

Mau nggak mau, saya harus belajar lagi gimana memperbaiki materi slide presentasi. Untuk urusan yang satu ini, saya sangat berterima pada Mas Muhammad Nur, guru virtual saya dalam mengajari bagaimana membuat presentasi yang baik dan menarik.

Satu slide berisi satu ide, hindari gunakan model bullet, gunakan warna kontras yang berbeda dengan latar belakang, gunakan gambar untuk menjelaskan ide, hindari kalimat yang panjang, adalah  pesan yang disampaikan Mas Nur agar tampilan presentasi kita terlihat menarik.

Masih banyak lagi manfaat yang bisa kita dapatkan dari internet.Tidak hanya dua hal seperti yang saya ceritakan di atas. Masing-masing orang tentu berbeda dalam memanfaatkan teknologi internet, disesuaikan dengan keperluannya.

Yang jelas, ini yang saya alami dan rasakan. Semakin sering saya belajar dari internet, keinginan untuk mempelajari hal-hal baru lainnya semain besar. Apakah ini yang dinamakan ketagihan atau kecanduan berinternet ?

Sumber gambar :

–  onbile.com

Sang Pengajar dari Dunia Maya

Selama ini kita punya anggapan, namanya belajar itu murid, guru dan bahan pelajaran berkumpul di satu tempat. Belajar di sekolah, di tempat kursus atau di lokasi pelatihan. Sepertinya kalau salah satu syarat tadi tidak dipenuhi, belajar dianggap tidak sah dan tidak diakui. Akibatnya, bila salah satu komponen tadi tidak hadir, proses belajar pun terhambat.

Mungkin sobat pernah mengalaminya, ketika guru yang seharusnya mengajar tiba-tiba tidak masuk karena keluarganya sakit. Bagi yang sedang kuliah, pernah merasakan ditinggal dosennya penelitian, sehingga ruang kuliah kosong. Masih mendingan kalau jadwal belajar atau kuliah itu diganti dengan hari lain. Atau selama guru dan dosen itu absen, ada guru lainnya atau asisten dosen yang mengisi jadwal kuliahnya.

Proses belajar sepert itu memang sangat tergantung pada kehadiran salah satu komponennya. Murid tergantung kehadiran dosen dan pelajarannya. Guru atau dosen mengharapkan siswa dan mahasiswanya bisa mengikuti pelajaran tanpa absen karena sakit, ijin atau keperluan lainnya.

Tak jarang, ada juga pengajar yang mempersyaratkan daftar hadir minimal untuk bisa mengikuti ujian akhir. Jangan harap mahasiswa ikut ujian, bila daftar hadir kuliahnya diwabah 75 % selama satu semester. Kalau dosennya sendiri jadwal mengajarnya kurang dari 75 %, gimana loh?

Ada juga dosen yang punya aturan, mahasiswa terlambat 15 menit lebih baik tidak ikut kuliah. Sebaliknya, kalau sang dosen dalam waktu 15 menit tidak datang, kuliah dibatalkan. Nah, kalau yang kedua ini, justru mahasiswa sendiri yang dirugikan. Dia sudah bayar mahal, masa jadual kuliahnya sering kosong.

Sebenarnya, dengan kemajuan teknologi informasi, kendala pertemuan dosen dan mahasiswa maupun guru dan murid dapat dijembatani dengan media internet. Apalagi sekarang ini, yang namanya mahasiswa dan anak-anak sudah akrab sekali dengan yang namanya gadget canggih yang bisa mengakses internet. Jadi, dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi, proses belajar benar-benar berada di ujung jari.

Pikiran saya langsung menerawang jauh. Jika saya menjadi dosen, saya akan buat blog untuk mahasiswa saya, supaya bisa mengakses informasi yang diperlukan. Mulai jadwal kuliah, referensi yang harus disiapkan, ringkasan materi kuliah, jadwal ujian, informasi pengumuman nilai ujian,  sampai tugas-tugas kuliah dan praktikum.

Meskipun saya  sedang mengikuti seminar di Jepang, saya masih bisa memeriksa konsep laporan mahasiswa yang sedang praktek di tengah hutan Kalimantan. Di lain waktu, saat mengikuti simposium di Jakarta, saya tetap bisa memberikan bimbingan skripsi mahasiswa yang  penelitian di Sumatera.

Ketika giliran jadi dosen terbang dan mengajar di Surabaya, saya masih sempat memberi saran mahasiswa di Jogja mengisi Kartu Rencana Studinya .

Tidak hanya itu, mahasiswa yang sedang menyusun skripsi juga bisa berkomunikasi melalui e-mail atau bahkan skype di sela-sela kesibukan saya.

Saya bisa juga menyampaikan perkembangan ilmu pengetahuan selama mengikuti seminar atau simposium dan mengunggahnya di blog. Jadi mahasiswa juga tahu kegiatan saya selama di luar kampus. Mahasiswa juga tahu, kalau bahan kuliah tidak hanya buku teks jaman dulu yang sudah ketinggalan jaman. Tapi juga dari perkembangan yang terjadi di lapangan.

Ada keterkaitan antara mata kuliah yang saya ajarkan dengan perkembangan dalam kehidupan nyata.

Saya teringat waktu jaman kuliah dulu, selesai ujian akhir, biasanya mahasiwa menjalani libur semester dan banyak yang pulang kampung. Jika libur semesternya pas tahun ajaran baru, masa liburnya pasti lebih lama, bisa sebulan. Terkadang, mahasiswa harus titip temannya di kota untuk mengetahui berapa nilai ujiannya.

Tidak cuma itu, saya juga teringat pengalaman seorang teman yang kesulitan menemui sang dosen pembimbing skripsi, karena seringnya menjalani tugas di luar kampus. Padahal dosen pembimbing skripsinya tidah hanya satu. Setelah berkonsultasi, draf skripsi tidak langsung jadi.

Maksudnya, tetap ada koreksi sang dosen dan mahasiswa pun harus memperbaiki lagi. Mengetik ulang, mencetak dan menyerahkan lagi ke sang dosen untuk diperiksa ulang. Semua perlu tenaga, biaya dan tentu saja waktu untuk mengerjakannya. Tenaga untuk menemui dosennya, biaya membeli kertas dan mencetak ulang draf skripsinya.

Dengan bantuan internet, semua proses itu bisa diringkas. Mahasiswa bisa mengirim draf skripsi via e-mail, dosen memberi catatan di berkas tersebut dan mengirim kembali. Setelah konsultasi dinilai cukup dan skripsi telah siap, baru dicetak dan dilanjutkan dengan penyusunan skedul ujian skripsi. Jadi tidak memboroskan banyak kertas dan tinta printer.

Tiba-tiba, aiphone di meja ruang kerja berbunyi. Bagian personalia memberitahu kalau ada dua calon karyawan yang ingin bertemu. Seketika itu juga, saya tersadar dari lamunan. Cerita seandainya jadi dosen pun berakhir.

Saya tersadar, rupanya saya masih tetap sebagai karyawan yang sehari-hari bekerja di tengah hutan. Dan bukan sang dosen seperti yang tadi diceritakan.

Sumber  Foto :

antarafoto.com

Ketika Waktu itu Belum Ada E-mail

Bagi pembaca atau generasi yang saat ini telah berusia di atas 40 tahun, barangkali tidak pernah membayangkan, jika pada suatu saat, untuk berkirim surat dinas maupun surat pribadi untuk keluarga, teman atau bahkan kekasih hanya memerlukan hitungan detik untuk sampai ke tempat tujuan. Bahkan, walaupun si penerima surat tersebut dipisahkan oleh samudera dan berada di manca negara.

Demikian juga sebaliknya, bagi generasi yang saat ini berumur belasan tahun, bisa jadi sulit untuk percaya bahwa sekitar 15 tahun yang lalu, ada suatu masa ketika untuk berkirim surat memerlukan waktu berhari-hari untuk sampai ke alamat tujuan. Belum lagi jika si pembuat dan pengirim surat menunggu balasannya dari si penerima, hitungan waktu menunggu bahkan bisa sampai berminggu-minggu.

Saat ini jaman telah berganti, kemajuan teknologi internet yang memungkinkan pengiriman surat secara elektronik atau electronic mail (e-mail) telah mengubah dan mempersingkat proses surat-menyurat, mulai dari pembuatan surat, editing hingga ke proses pengirimannya.

Dengan menggunakan bantuan komputer dan fasilitas internet, selanjutnya mengetikkan alamat e-mail yang hendak dituju, alamat pengirim, membuat isi surat dan diakhiri klik tombol kirim, pada saat itu juga si penerima langsung menerima surat tersebut.

Beda sekali dengan kondisi yang pernah saya dan juga beberapa pembaca alami, ketika masa itu belum ada internet dan e-mail. Seperti pengalaman saya sekitar tahun 1997, ketika menulis surat di tempat kerja untuk istri tercinta di Yogyakarta, seperti yang bisa dilihat di foto di atas.

Proses surat menyurat dimulai dengan menulis surat menggunakan pulpen atau bolpoint di atas selembar kertas surat. Tulisan tangan dalam kertas tersebut sebisa mungkin jangan sampai banyak salah tulis, karena kalau salah pasti dicoret atau dihapus pakai tipp-ex. Kalau tidak ingin banyak coretan atau bekas tipp-ex, agar suratnya kelihatan rapi dan bersih, konsekuensinya adalah surat yang salah tersebut langsung dirobek dan tulis surat baru. Terbayangkan, betapa tidak mudahnya menuangkan ide dalam bentuk tulisan sekali jadi.

Namun bagi yang sudah terbiasa berkorespondensi atau punya hobi surat menyurat dengan sahabat pena, hal itu bukanlah sesuatu yang sulit. Istilah sahabat pena itu kalau sekarang mungkin seperti teman chatting dalam Facebook, Yahoo Messenger, Blackberry Messenger, Googlle Talk.

Itu baru proses pembuatannya, bagaimana pengirimannya? Selesai surat dibuat, selanjutnya dimasukkan ke dalam amplop dan di bagian depannya, biasanya di sebelah kanan atas ditempeli dengan perangko sebagai pengganti ongkos kirim. Waktu itu harga sebuah perangko kilat 750 rupiah, sedangkan perangko biasa 350 rupiah.

Perangko kilat itu maksudnya proses pengirimannya lebih cepat dibandingkan perangko biasa. Oleh karena saya bertugas di pedalaman Kalimantan dan pengiriman surat ditujukan ke istri di Yogya, proses pengiriman memerlukan waktu sekitar seminggu, demikian juga sebaliknya. Jadi untuk menunggu surat balasan dari keluarga, harus bersabar menunggu waktu sekitar dua minggu.

Memang, saat ini dengan bantuan internet dan e-mail, proses surat-menyurat jauh lebih ringkas dan hanya memerlukan waktu dalam hitungan menit bahkan detik, sejak pembuatan surat, pengiriman hingga menerima balasannya.

Namun, ada satu momen yang tidak akan terlupakan pada masa itu, yaitu suatu saat ketika ada teman yang membawa setumpuk surat dan bilang ada kiriman surat dari Yogya. Mendengar berita seperti itu, rasanya hati ini benar-benar bahagia dan berbunga-bunga, padahal belum tahu siapa pengirimnya dan apa isi suratnya. Apalagi kalau surat itu berasal dari kiriman istri yang benar-benar saya tunggu.

Perasaan dan sensasi seperti itu yang tidak pernah lagi saya alami, semenjak proses surat-menyurat berlangsung lebih canggih  dengan bantuan internet dan fasilitas e-mail.