Pertemuan yang Sangat Berkesan dengan Pimpinan UNY

Jpeg

Begitu profesional penyambutan jajaran pimpinan UNY saat pertemuan dengan orangtua/wali mahasiswa baru tanggal 21 Agustus yang lalu. Saya tidak menyangka bahwa acara pertemuan tersebut dikemas sangat bagus, resmi dan penuh suasana keakraban.

Tidak hanya jajaran pimpinan kampus mulai rektor, wakil rektor, dekan, wakil dekan sampai ketua jurusan yang menyambut para orangtua dengan antusias. Bahkan para sekuriti dan mahasiswa yang ditugaskan mengarahkan tamu pun terlihat begitu ramah dan sangat membantu.

Termasuk ketika saya yang pertama kali masuk ke kampus UNY dan mencari lokasi Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Sekuriti yang saya tanya menjelaskan dengan sopan dan informatif. Juga adik-adik mahasiswa yang ditugaskan di pintu masuk fakultas, di dalam fakultas, di GOR, semuanya cukup sigap membantu orangtua murid.

Saat pertemuan di GOR, ada beberapa kata sambutan Rektor, bapak Prof. Dr. Rochmat Wahab yang sangat berkesan bagi saya. Beliau mengatakan bahwa keberhasilan putra-putri bapak ibu diterima di UNY tidak hanya karena faktor kepintaran atau kecerdasan. Keberhasilan tersebut juga karena doa-doa yang bapak ibu panjatkan saat sholat tahajud yang dikabulkan oleh Allah SWT.

Beliau cukup bijak dan mengingatkan yang hadir bahwa dalam mencapai keberhasilan, jangan melupakan peran orangtua dan kehendak Allah SWT. Di saat yang lain, beliau juga bercanda dan mengatakan bahwa mungkin bapak dan ibu diundang dan berkumpul di sini ada yang beranggapan akan disodori isian untuk mengisi sumbangan, termasuk juga nanti saat di fakultas. Geerrr, hadirin tertawa mendengar gurauan beliau

Jpeg

Pertemuan yang penuh keakraban tersebut tidak hanya di GOR, tapi pihak fakultas juga menerima kedatangan para orangtua/wali mahasiswa baru. Makan siang disiapkan di tempat ini, juga panggung dan tenda termasuk daftar hadir orangtua. Dengan demikian diketahui orangtua/wali mahasiswa baru yang hadir dan tidak hadir.

Sebelum sambutan dari dekan FIP, acara dimulai dengan nyanyian mahasiswi yang berpenampilan busana kebaya dan mahasiswa yang berpakaian lengan panjang. Beberapa lagu dinyanyikan bergantian. Ketika mereka berduet dan menyanyikan lagu “Yogyakarta”, spontan saya juga ikut bernyanyi.

Sampai-sampai beberapa dosen yang duduk di depan saya sempat menengok mendengar ada orangtua mahasiswa baru yang ikut bernyanyi. Nggak hanya itu, saya lihat penyanyi prianya juga menatap saya yang mungkin heran kok ada yang bisa mengikuti lagu itu. Lucunya, dia malah yang kadang-kadang lupa dengan syair lagunya terutama di bagian-bagian akhir. Itulah lagu kenangan yang masih saya ingat, karena saat lagu itu populer saya baru kuliah di Jogja.

Jpeg

Selesai penerimaan orangtua di tingkat fakultas, acara berlanjut lagi di tingkat program studi. Saya lihat dari dosen yang hadir semuanya wanita. Saya pilih duduk di barisan depan paling kanan supaya bisa mendengarkan penjelasan dengan jelas.

Di tingkat program studi ini, selain penjelasan dari ketua program studi psikologi juga diberikan kesempatan bertanya bagi orangtua murid. Pada saat ini saya menanyakan lebih lanjut mengenai pendidikan yang harus ditempuh untuk menjadi psikolog.

Dari sini saya baru mengetahui bahwa, lulusan program studi psikologi UNY bergelar S.Psi dan bukan S.Pd. Namun profesinya belum bisa disebut psikolog tetapi sebagai asisten psikolog. Untuk mendapatkan keahlian atau profesi psikolog harus menempuh studi lagi.

Pada kesempatan ini juga ibu ketua jurusan meminta agar para orangtua/wali ikut mendukung agar putra putrinya tidak hanya berprestasi akademik, namun juga dari sisi akademik. Ruang konsultasi antara orangtua dengan dosen pembimbing akademik juga dimungkinkan ketika dijelaskan bahwa orangtua bisa menghubungi lewat telepon atau email ketika ada permasalahan dengan putra-putrinya.

Sebuah pertemuan yang sangat mengesankan bagi saya. Meski orangtua mahasiswa baru disambut dengan formal, namun tidak mengurangi suasana keakraban yang muncul antara pimpinan UNY dan para orangtua.

Sempatkan Mampir di Kedai Digital Jogja

P_20160327_111831A

Ke Jogja rasanya nggak afdol kalau nggak mampir ke gerai Kedai Digital. Itu lho, salah satu bidang usahanya Mas Saptuari Sugiarto. Hari Minggu (27/3) pagi saya sempatkan datangi tempatnya. Motor pinjaman adik ipar saya arahkan ke jalan Gambir Deresan. ternyata sudah pindah tempatnya saudara-saudara. Beginilah kalau nggak update.  Di depan toko yang lagi direnovasi itu saya lihat spanduk yang tulisannya kedai digital pindah ke jalan Anggajaya I, 100 meter sebelah timur terminal Condong Catur.

Motor langsung saya gas lurus sampai di perempatan jalan Kaliurang. Rupanya saya salah jalan. Harusnya belok kanan kalau mau ke Condong Catur. Saya lihat plang jalan di toko-toko, terpampang jalan Kaliurang km 5,7; km 6,2 terus km 7,5. Lha, berarti saya menuju ke tempat wisata Kaliurang, bukannya ke arah terminal Condong Catur.

Putar setir motor, balik kanan kembali ke perempatan jalan kaliurang dan belok kiri menyusuri Ring Road. Setelah sampai di perempatan Condong Catur belok kiri lagi. Ada persimpangan dan tercantum plang jalan Anggajaya saya belok kiri lagi. Tengak kiri kanan cari plang Kedai Digital, kok nggak ada. Jangan-jangan nyasar lagi nih.

Saya buka google maps di handphone, ternyata betul saya kesasar. Yang saya lewati ini jalan Anggajaya III, padahal harusnya Anggajaya I. Putar lagi motor ke arah simpang tiga setelah itu belok kiri.

Dengan kecepatan sedang saya jalankan motor sambil kepala tengok kiri kanan lihat tulisan Kedai Digital. Akhirnya dapat juga gerainya. Di sebelah kiri jalan Anggajaya I.

Sewaktu masuk disambut mbaknya yang lagi sendirian.

P_20160327_111418A

“Wah, saya ini dari Pontianak mbak. Karena lagi di Jogja sekalian mau beli buku Kembali ke Titik Nol, mbak. “.

Nggak cuma bukunya saja, kaos-kaos dengan tulisan yang bikin senyum juga saya beli.

“Kalo saya ambil foto-foto di sini boleh, mbak”

“Boleh, pak, silakan”

“Tolong potret saya juga ya mbak, sambil pegang buku sama kaosnya”kata saya

Puassss rasanya mampir ke Kedai Digitalnya Mas Saptuari, meski carinya sampai tersesat ke sana ke sini.

 

 

Nanti Sekolah di Jogja saja, ya

“Nanti kalau udah lulus, sekolah di Jogja saja, ya”kata eyang putri saat ngobrol-ngobrol dengan istri dan anak-anak di rumahnya.

“Dea sih maunya bisa kuliah di Bandung  lewat jalur undangan ”jawab istri saya.

“Kalau sekolah di Jogja, nanti tinggal di rumah ini. Nggak usah kos lagi”lanjut eyang putri.

Memang masih satu tahun lagi Dea lulus SMA. Belum tau juga apakah akan diterima lewat jalur SNMPTN atau SBMPTN. Semuanya baru rencana.

Namun satu hal yang bisa saya petik dari obrolan di atas. Keinginan eyangnya agar bisa dekat dengan cucunya. Memang selama ini tempat tinggal kami terpisah. Eyang putri dan eyang kakungnya di Jogja. Sementara saya dan keluarga di Pontianak.

Nggak setiap tahun bisa pulang ke Jogja. Terakhir pulang dua tahun lalu. Itu pun hanya seminggu di Jogja. Malah istri dan Andra hanya sehari semalam di Jogja. Syukur alhamdulillah tahun ini bisa pulang dan lebih lama tinggal di rumah eyangnya. Manfatkan liburan sekolah sekalian puasa Ramadhan dan Idul Fitri di Jogja.

Saya yakin setiap orangtua punya keinginan agar ada salah satu anaknya atau cucunya yang bisa tinggal dekat dengannya. Nggak mesti harus tinggal serumah. Bisa saja sekota tapi beda rumah.

Memang dilematis. Kadang-kadang karena pekerjaan, anak-anak harus tinggal terpisah dari kedua orangtuanya. Tinggal di tempat lainnya yang beda kota, beda pulau bahkan beda negara. Dengan sendirinya frekuensi ketemu pun jarang-jarang. Komunikasi dilakukan sebatas saling telepon atau chatting di handphone. Dengan sendirinya, cucunya juga jarang ketemu dengan kakek nenek dan sanak saudara lainnya.

Momen liburan sekolah atau lebaran adalah saat yang tepat untuk menengok orangtua. Juga mengenalkan anak-anak dengan kerabat lainnya: paman, bibi, dan saudara sepupunya. Mumpung bisa berkumpul minimal setahun sekali.

Meski tiket lebaran lebih mahal daripada hari biasa, hitungan itu belum seberapa dibandingkan rasa bahagia yang hadir di hati orangtua. Meski persiapan pulang begitu menyita waktu, semua itu belum ada apa-apanya dibandingkan doa yang dipanjatkan orangtua bagi kebaikan anak-anaknya. Meski perjalanan jauh harus ditempuh, semua itu belum berarti dibandingkan perjalanan kedua orangtua mendidik kita.

Semoga kita dimudahkan Allah untuk lebih sering bertemu dengan kedua orangtua.

Iuran Bulanan Keluarga buat Persiapan Lebaran

Di keluarga istri, ada persiapan lebaran yang tergolong unik. Apa itu? Tiap anak dan keluarganya setiap bulan membayar iuran untuk kegiatan selama lebaran. Ada lima saudara termasuk istri yang tiap bulan membayar 100 ribu rupiah. Ditambah dengan iuran dari eyang, jadi total sebulan terkumpul 600 ribu rupiah. Setahun punya dana lebaran 7,2 juta rupiah. Misalkan yang dipakai untuk lebaran 4 juta, jadi sisanya bisa diinvestasikan.

Uangnya biasanya ditransfer ke rekening adik istri yang bungsu yang tinggal di Kroya. Dia pegawai bank pemerintah. Tiap bulan istrinya yang pernah kerja di bank swasta yang membuat laporan keuangannya dan melaporkan via BBM Grup. Berapa saldo awal, tambahan iuran, hasil dari pengembangan dan saldo akhirnya.

Maksud hasil pengembangan iuran itu sebagian dana yang diinvestasikan. Iuran lebaran ini sangat bermanfaat ketika kami mudik ke Jogja dan kumpul di rumah eyang. Biasanya hari pertama lebaran kami kumpul dan makan bersama di rumah setelah sholat Idul Fitri. Biaya untuk makan-makan di rumah bisa diambilkan dari dana iuran lebaran.

Nggak hanya itu, biasanya juga ada acara jalan-jalan alias melancong ke tempat wisata. Nah, biayanya mulai dari sewa kendaraan, tiket masuk ke lokasi wisata sampai makan-makannya ya diambil dari dana iuran lebaran tadi. Malah atas saran eyang, sebagian dari dana itu juga bisa kita pakai untuk sedekah.

Jadi masing-masing anggota keluarga nggak perlu lagi keluar duit. Mereka cukup menanggung biaya transportasi dari tempat asal ke Jogja pp. Nggak memberatkan kan? Kadang-kadang kalau kita pergi bareng keluarga besar, suka jadi pertanyaan nanti siapa yang bayar, siapa yang nraktir makanannya, siapa yang bayar tiket masuk ke obyek wisata?

Dengan cara iuran bulanan, pertanyaan-pertanyaan itu langsung terjawab. Dananya ya diambil dari iuran keluarga. Terus, gimana kalau ada anggota keluarga yang nggak bisa pulang waktu lebaran? Sesuai kesepakatan, diberikan pengembalian iuran. Seperti ketika keluarga adik istri yang tinggal di Bali yang tahun ini nggak bisa pulang lebaran, karena awal Juni lalu sudah ke Jogja.

Nah, setelah lebaran, kita mulai iuran lagi. Besarnya iuran juga disepakati, apakah ada kenaikan atau sama dengan tahun sebelumnya. Semuanya kita diskusikan via grup di BBM. Kadang – kadang, kalau ada salah satu anggota keluarga yang sakit atau terkena musibah, bantuan juga diberikan dan uangnya diambil dari dana iuran keluarga.

Lebaran memang momen membahagiakan, karena kita bisa berkumpul dengan keluarga besar. Namun terkait urusan uang untuk makan-makan dan jalan-jalan, jangan sampai nggak ada persiapan.

Rp 500 yang Amat Berarti

Bagai sebagian dari kita, uang 500 rupiah saat ini mungkin nggak ada artinya. Untuk ongkos parkir atau buang air kecil di toilet umum saja nggak cukup.

Namun tidak demikian hanya bagi seorang ibu penjaja koran di traffic light di daerah Kleringan Jogja. Sampai saat ini, meskipun sudah seminggu lewat, kejadian itu masih sering saya ingat.

Ceritanya, ketika saya mengajak anak-anak ke Malioboro dan melihat Museum Benteng Vredeburg. Dari kampus UGM, kami berempat naik bus Kopata jalur 4. Setelah melewati jalan Pangeran Mangkubumi, bus belok kiri dan berhenti ketika lampu lalu lintas menyala merah.

Pada saat itulah seorang ibu penjaja koran menawarkan dagangannya dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Tak terkecuali kepada penumpang bus. Karena ingin tahu berita terbaru Jogja, saya langsung membeli koran Kedaulatan Rakyat (KR) edisi 28 Agustus 2013.

Sang ibu penjaja koran itu pun menyodorkan selembar KR lewat jendela sebelah kanan bis. Karena lampu lalu lintas nggak lama lagi menyala hijau, saya terburu-buru mengambil uang dari kocek dan menyerahkan uang melebihi harga koran. Kelebihannya Rp 500.

Dan pada saat itu, saya di dalam bis terbengong-bengong dengan apa yang dilakukan sang ibu penjaja koran itu.

Masih di samping bis, ibu itu dengan mata berkaca-kaca begitu mensyukuri pemberian uang Rp 500, “Matur Sembah Nuwun”. Masih dalam bahasa jawa halus, ibu itu juga mendoakan semoga kami diberikan kemurahan rezeki.

Sulit dipercaya. Telinga saya seperti dijewer. Wajah saya seperti ditonjok oleh kejadian itu. Betapa tidak, ibu itu bisa bersyukur kepada Tuhan karena uang Rp 500. Juga mendoakan bagi kebaikan dan keselamatan orang lain.

Sementara itu, saya yang diberikan kemurahan rezeki dari Tuhan, yang nilainya beberapa kali lipat dari uang Rp 500, terkadang masih ngomel. Masih mengeluh, nggak merasa cukup dengan uang yang dimiliki. Juga dengan nikmat-nikmat lainnya yang selama ini diberikan Tuhan. Astaghfirullah al ‘azhiim.

Vredeburg, Benteng Perdamaian di Jogjakarta

IMG01470-20130828-1057

Waktu sekolah di Jogja tahun 1989 sampai 1994, nggak pernah terpikir untuk melihat-lihat museum benteng Vredeburg. Paling hanya lewat di depannya saat melintas di jalan Malioboro. Namun saat jalan-jalan membawa anak-anak, lokasi ini termasuk salah satu yang nggak terlewatkan untuk dikunjungi.

Vredeburg adalah salah satu bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik di kota pelajar.

Menurut Wikipedia, benteng ini dibangun dalam waktu yang cukup lama, yaitu 27 tahun (1760-1787). Pada awalnya benteng ini bernama Rustenburg atau tempat peristirahatan. Dinamakan seperti itu karena pada masa kolonial Belanda, tempat ini sering digunakan sebagai peristirahatan tentara-tentara Belanda yang bertugas di Jogja. Selain itu, tempat ini juga digunakan sebagai pusat pemerintahan dan pertahanan residen Belanda.

IMG01472-20130828-1100

Pada saat terjadi gempa bumi besar di Jogja pada tahun 1867 dan setelah dilakukan perbaikan, namanya diubah menjadi Vredeburg atau benteng perdamaian.

Karena memiliki nilai sejarah yang tinggi,  oleh pemerintah RI benteng ini selanjutnya dilakukan renovasi dan ditetapkan sebagai museum cagar budaya.

Lokasi museum benteng Vredeburg mudah dijangkau karena berada di pusat kota. Berada di titik nol kota Jogja. Di sekitar Vredeburg juga terdapat beberapa obyek wisata terkenal lainnya, seperti Jalan Malioboro, Pasar Beringharjo, Taman Pintar dan Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat.

Tiket masuk ke lokasi museum benteng Vredeburg cukup murah. Hanya 2 ribu rupiah per orang. Bagi yang membawa kendaraan roda empat, juga tersedia halaman parkir yang memadai.

Terkadang para wisatawan atau pengunjung memarkir mobilnya di tempat ini dan tidak masuk benteng. Tapi selanjutnya berjalan kaki menyusuri pasar Beringharjo dan jalan Malioboro untuk berbelanja.

Setelah memasuki bagian dalam benteng, terlihat lingkungan yang bersih dan tertata rapi. Tampak bahwa obyek wisata sejarah ini benar-benar dikelola dengan baik. Di depan ruang diorama 1 dan 2 disediakan bangku bagi pengunjung yang ingin beristirahat.

IMG01483-20130828-1141

Ada rombongan mahasiswa yang duduk lesehan di halaman sambil berdiskusi. Beberapa wisatawan manca negara juga terlihat memasuki lokasi ini sambil menenteng kamera.

Bagi pengunjung yang memiliki hobi fotografi, jangan lupa untuk membawa kamera. Karena banyak point of interest yang begitu sayang untuk dilewatkan.

Ada dua ruangan utama yang berada di sebelah kiri dan kanan pintu masuk. Ruangan diorama 1 dan diorama 2. Di kedua diorama itu, suasananya cukup sejuk, karena dilengkapi pendingin udara.

Setiap peristiwa yang bernilai sejarah dibuatkan diorama yang cukup informatif. Juga ada penjelasan di bagian depannya yang disampaikan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

IMG01480-20130828-1135

Seperti peristiwa kedatangan Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta di stasiun Tugu, pada saat pusat pemerintahan untuk sementara pindah ke Jogja.

IMG01473-20130828-1110

IMG01476-20130828-1113

Koleksi seragam wanita anggota palang merah pada masa-masa perjuangan merebut kemerdekaan, juga bisa dilihat di diorama ini. Semuanya ditampilkan lengkap, mulai rok, tas, penutup kepala hingga kotak obat-obatannya.

Ada juga peristiwa lain yang membuat saya tertegun cukup lama. Melihat diorama yang menggambarkan puing-puing pesawat Dakota VT-CLA yang ditembak jatuh pesawat Belanda P-40 Kitty Hawk, saat hendak mendarat di pangkalan udara Maguwo. Pesawat milik warga India itu terbang dari Singapura dan membawa bantuan obat-obatan dari palang merah Malaya. Dalam peristiwa itu, Komodor Agustinus Adisucipto dan Komodor Abdul Rahman Saleh gugur.

Berada di lokasi Vredeburg jauh dari kesan membosankan. Selain mempelajari peristiwa sejarah, mengamati arsitektur bangunan jaman dulu juga sangat mengasyikkan. Ciri khasnya seperti jendela dan pintu yang besar.

IMG01479-20130828-1131

Arsitek Belanda sudah memperhitungkan, bahwa membuat bangunan di daerah tropis seperti di Indonesia, harus memiliki pintu dan jendela serta ventilasi yang besar. Agar sirkulasi udara lancar dan tidak terasa panas serta pengap. Dan juga tidak perlu lagi pendingin udara.

Di bagian belakang benteng, di atas pintu keluar terdapat jalan yang bisa kita lewati. Jalan ini sepertinya digunakan untuk pertahanan pada saat benteng diserang.

IMG01485-20130828-1143

Baru saya ketahui, pintu keluar dari benteng rupanya tersambung ke lokasi taman Pintar. Saat hendak keluar dari benteng, seorang petugas satpam mengingatkan kami, apakah sudah melihat-lihat diorama 1,2 dan ruang informasi.

Sebuah kepedulian dan perhatian yang tidak kami duga sebelumnya. Ternyata petugas pengamanan pun tidak ingin ada lokasi yang terlewati oleh pengunjung yang sudah membayar tiket masuk.

Akhirnya, Jadi juga ke Jogja (2)

IMG01374-20130827-0951

Hari kedua di Jogja, 27 Agustus 2013, dua obyek wisata jadi sasaran kunjungan. Bonbin Gembira Loka dan Taman Pintar.

Tiba di Gembira Loka sekitar jam setengah sepuluh siang. Suasana di bonbin masih sepi pengunjung. Harga tiket masuknya 15 ribu per orang. Setelah membayar 60 ribu untuk 4 orang, kami mendapat tiket plus sebuah peta. Cukup informatif petanya. Bisa menjadi panduan rute kunjungan dan juga setiap obyek yang dilihat.

Pengelolaan Bonbin Gembira Loka saat ini terlihat lebih profesional. Ada obyek-obyek kunjungan baru, seperti Diorama flora dan fauna serta taman burung. Nah, di dua obyek ini, anak-anak terlihat senang sekali.

IMG01363-20130827-0942

IMG01370-20130827-0948

Di Diorama fauna, kita bisa melihat koleksi hewan-hewan laut dan serangga yang sudah diawetkan di dalam botol atau kotak kaca. Juga ada diorama mengapa kecoa bisa betah hidup di kamar mandi. Rupanya kondisi kamar mandi yang jorok yang mengundang kecoa berkembang biak dan berada di situ .

Di taman burung, obyeknya juga bagus sekali. Kami berempat masuk ke sebuah bangunan tertutup yang terbuat dari besi dan berfungsi sebagai sangkar raksasa. Di dalamnya ada pepohonan dan tumbuh-tumbuhan alami. Di sangkar raksasa itulah burung jalak, rangkong bebas beterbangan dan hinggap di pohon.

IMG01385-20130827-1027

IMG01387-20130827-1033

Di batang pohon dan dinding bangunan juga dibuat semacam tempat bertelur. Terbuat dari bambu yang dilubangi di tengahnya. Beberapa burung terlihat sedang makan pisang yang ditempatkan di atas batang tanaman yang mengering.

Dari beberapa obyek di Gembira Loka, lokasi sarang burung raksasa ini menurut saya yang terbaik. Namun, kalau sedang melihat burung-burung di lokasi ini, jangan kaget kalau tiba-tiba… plok, ada kotorannya yang jatuh dan kena badan atau kepala kita.

Puas menikmati obyek ini, kami meneruskan ke lokasi pertunjukkan satwa. Di arena ini, setiap jam sebelas siang selama setengah jam, beberapa satwa unjuk kebolehan. Berang-berang yang mengerek spanduk Gembira Loka, berjoget dan mendorong gerobak hingga jatuh ke sungai. Juga beruang madu yang berjalan di atas drum yang berputar. Kesempatan yang paling berkesan di arena pertunjukkan satwa ini, adalah saat berfoto bersama orangutan di akhir acara.

IMG01391-20130827-1131

Selesai dari Gembira Loka, tujuan selanjutnya Taman Pintar. Kami menumpang Trans Jogja 1B dari shelter Gembira Loka ke shelter Senopati 1.

Ongkosnya 3 ribu per orang. Bayarnya di shelter. Setelah membayar, petugas shelter akan memasukkan kartu dan kita baru boleh masuk ke ruang tunggu. Sayang ruang tunggunya sempit. Bangkunya nggak cukup untuk penumpang yang sedang menunggu di shelter.

Bisnya ber-AC dan di dalamnya dilengkapi peta rute Trans Jogja plus lokasi shelter di setiap jalan yang dilewati. Bis ini hanya berhenti di shelter yang sudah ditentukan. Setiap menjelang berhenti di shelter, kondektur yang kebetulan perempuan selalu memberitahu penumpang. Ongkosnya memang murah. Dengan 3 ribu, bisa keliling Jogja sepuasnya.

Bagi pengunjung, khususnya anak-anak dan pelajar, Taman Pintar adalah obyek wisata yang menarik. Selain berlibur, anak-anak juga seperti belajar di laboratorium. Banyak alat peraga yang berada di tempat ini. Semuanya berkaitan dengan pelajaran di sekolah. Setiap kali ke Jogja bersama anak-anak, lokasi ini selalu jadi tempat favorit untuk dikunjungi.

IMG01401-20130827-1337

Anak-anak bisa belajar sejarah, matematika, fisika, kimia, dan biologi di tempat ini. Ada satu hal yang baru di tempat ini, gedung Memorabilia. Tiket masuk ke gedung Memorabilia dan gedung Oval 15 ribu untuk orang dewasa dan 8 ribu unntuk pelajar. Waktu terakhir datang tahun 2010, saya dan keluarga belum pernah melihat tempat ini

Di gedung Memorabilia, koleksinya lebih menampilan sejarah nasional. Mulai Sejarah Keraton Jogja, nama kecil Sultan HB I hingga HB X, hingga periode mulai bertahta.

Di tempat ini ditampilkan pula foto-foto masa awal kemerdekaan bangsa Indonesia. Foto presiden RI yang pertama hingga saat ini juga terpasang dengan urut dan rapi. Yang menarik adalah satu kotak kaca yang berada di dekat pintu keluar. Kotak tersebut berisi koleksi pakaian seragam pramuka presiden SBY, disertasi S3, dan buku-buku karangan SBY.

IMG01419-20130827-1358

IMG01410-20130827-1352

Lokasi berikutnya adalah gedung Oval. Alat-alat peraga, foto dan simulasi yang berkaitan dengan pelajaran sains banyak ditampilkan disini. Mulai dari prinsip cara terbang helikopter, sistem tata surya, proses pembuatan susu bubuk, prinsip kerja kendaraan roda dua dan roda empat hingga proses pemanfaatan energi.

IMG01442-20130827-1445

Alat-alat peraga itu memudahkan anak-anak untuk memahami pelajaran yang diterima di sekolah. Orangtua juga bisa belajar di tempat ini. Berwisata sambil belajar seperti ini rasanya nggak membosankan.

Waktu pun terasa cepat berlalu. Nggak terasa sampai di tempat peraga olahraga, waktu sudah jam setengah empat. Saya dan anak-anak pun buru-buru keluar, karena lokasi Taman Pintar ini tutup jam 4 sore.

So, kalau sobat blogger ke Jogja bersama anak-anak, jangan lupa berkunjung di Gembira Loka dan Taman Pintar.