Nostalgia di Warung Makan SGPC Bu Wiryo

Jpeg

“Siang ini kita makan dimana?”tanya Budiadi, teman kuliah yang sekarang jadi dosen di fahutan UGM.

“SGPC, ya”kata teman saya lainnya, Gunawan, yang juga berprofesi sebagai dosen di kampus yang sama.

Saat ke Jogja, saya memang sempatkan untuk dolan ke kampus. Janjian ketemu dengan teman-teman kuliah dulu. Dua orang teman yang jadi dosen itu memang teman akrab saya. Dulu waktu kuliah satu angkatan, satu jurusan bahkan satu geng. Ada satu lagi sebenarnya yang masuk geng kami. Namanya Agung, sekarang dia kerja di perusahaan perkayuan di Riau. Punya istri yang juga seangkatan, juga sejurusan.

Jpeg

Setelah ngobrol di ruang kerja, kami bertiga makan siang di salah satu warung makan legendaris, warung makan SGPC bu Wiryo. Di sebelah utara kampus Fakultas Peternakan. Dulu waktu kami kuliah, warung makannya masih di dekat Fakultas Teknologi Pertanian.

Menu andalannya sego pecel alias nasi pecel dan sayur sop. Saya pesan nasi pecel, menu kesukaan  yang sudah lama nggak saya rasakan.

Selesai makan siang, kami kembali ke kampus. Sempat ditawari ke ruang rapat jurusan pas waktu coffee break. Lha, ketemu lagi dengan dosen-dosen senior. Setelah bersalaman, saya ikut gabung dan ngobrol dengan dosen yang dulu pernah mengajar kami bertiga, juga mendampingi waktu praktikum.

Selesai temu kangen dengan beberapa dosen, saya pamit. Sempat diminta juga untuk bawa pulang cemilan yang ada di ruang rapat. Karena saya agak sungkan, Gunawan sampai mengambilkan beberapa kue dan kantong plastik. Wah, kalau sudah begini susah nolaknya. Untuk menghargai mereka, saya bawa pulang cemilannya.

Jpeg

Yang saya surprise itu ketika saya pamit ke Budiadi dan Gunawan. Biasanya kita melepas kepergian tamu di depan kantor atau halaman. Tapi Gunawan mengantar saya sampai ke tempat parkir. Walah… nampaknya dia masih ingin ngobrol lama dengan saya. Cuma karena saya dititipi anak sulung, Nadia, untuk servis laptop, saya nggak bisa berlama-lama. Sekitar jam 2 siang, saya tinggalkan kampus yang penuh kenangan dan sambutan hangat teman-teman. Sampai ketemu lagi yaaaa.

Iklan

Sebuah Dilema dalam Keluarga

Wah, udah lama juga ya nggak posting. Kalau dihitung-hitung udah tiga minggu nggak nulis di blog. Maaf teman, akhir bulan Maret sampai awal April ini memang banyak kegiatan. Ya nerima tamu di tempat kerja, juga bagi waktu buat keluarga. Dan kebanyakan foto-fotonya saya upload di grup Whatsapp dan facebook. Jadinya malah nggak sempat deh posting di blog.

Diawali tanggal 24 Maret lalu saya terbang ke Semarang naik Kalstar. Hampir dua jam di udara karena pakai pesawat baling-baling. Tujuan sih nengok ibu mertua di Jogja yang lututnya mau dioperasi di RS Panti Rapih. Sebelum berangkat sempat nelpon ibu di Semarang dan bilang sebelum ke Jogja mau sehari dulu di Semarang. Ketemu sama bapak ibu, adik dan keponakan. Kaget juga saya, lha beliau malah mau ikut ke Jogja nengok besannya.

Besok paginya jam 05.30  saya dan ibu berangkat dari Semarang naik bis Joglosemar. Bagus juga bisnya. Tarifnya 80 ribu per orang. Biasanya kalau ke Jogja naik bis Nusantara atau travel. Tapi sekarang naik joglosemar karena pool bisnya dekat rumah.

Tiga jam perjalanan bersama ibu nggak terasa lama karena ngobrol terus di bis. Turun di pool joglosemar di jalan Magelang, istirahat sejenak. Sarapan soto ayam di warung di samping halaman parkir kantor joglosemar. Setelah itu baru ke rumah sakit naik taksi.

Sampai rumah sakit harus nunggu dulu, karena nggak punya kartu pengunjung. Jadi ya harus tunggu sampai jam bezoek dibuka. Untungnya, bapak mertua sama keponakan mendatangi kami setelah ibu telepon besannya dan bilang kami sudah sampai di rumah sakit tapi belum bisa masuk hehehe…. Setelah kami, adik ipar dan istrinya juga datang dari Jakarta. Sore harinya sekitar jam 4, adik ipar dan istrinya yang dari Kroya juga datang.

Sedih juga melihat ibu mertua terbaring dan nggak bisa ditengok istri saya yang putri sulungnya. Memang dilematis, karena anak-anak sedang ulangan. Kalau istri yang pulang ke Jogja, anak-anak yang keberatan karena nggak ada yang nemenin belajar. Dan menjelaskan kalau ada pelajaran atau soal-soal yang nggak dimengerti.

Akhirnya, setelah kompromi dengan istri, diputuskan saya yang pulang ke Jogja. Selain pertimbangan anak-anak yang sedang ulangan, juga jangan sampai nggak ada sama sekali anak atau menantu dariPontianak yang nggak datang menengok.

Adakah pertimbangan lainnya kenapa harus pulang ke Jogja? Tunggu ya di postingan berikutnya.

 

Liburan Nadia ke Jogjakarta dan Malang

Nyekar ke makam BK

“Saya cuma antar Nadia ke bandara, Mas. Setelah dia masuk ruang check in, saya pulang. Nanti di Jogja eyang kakung yang jemput di bandara”kata istri ketika sudah sampai di rumah.

Tiket Pontianak – Jogja pergi pulang sudah saya belikan untuk liburan Nadia. Inilah pengalaman pertama dia bepergian naik pesawat sendirian. Saya dan mamanya percaya, dia sudah bisa liburan ke Jogja tanpa harus diantar. Sudah kelas XII.

Sebelumnya dia selalu bersama keluarga kalau pulang ke Jogja. Tapi inilah saatnya dia harus mandiri. Antri check in, masuk ruang boarding, tunggu panggilan naik pesawat, mendarat di Jogja dan antri ambil bagasi semuanya harus dia lakukan sendiri. Nggak harus didampingi orangtuanya lagi.

Adik eyang putrinya yang tinggal di Jogja saja sampai kaget,”Berani ya dia pergi sendirian”. Saya masih ingat ketika pertama kali pergi sendirian antar kota ya  kelas 3 SMA. Tapi jaraknya nggak jauh, cuma dari Jogja ke Semarang naik travel.

Sebenarnya tujuan Nadia ke Jogja nggak cuma untuk liburan, tapi juga mewakili pertemuan keluarga besar dari pihak istri di Malang tanggal 26-27 Desember. Nadia mewakili keluarga dari Pontianak. Dari Jogja yang berangkat eyang putri, eyang kakung, oom, tante yang tinggal di Jogja juga ponakan-ponakan. Kakaknya eyang putri yang tinggal di Bandung juga ikut berangkat sama-sama dan singgah di Jogja dulu.

Ke Malang nggak cuma untuk hadir di acara pertemuan keluarga besar, dia juga ingin lihat kampus Universitas Brawijaya (UB). Ceritanyanya sih waktu SNMPTN nanti dia mau milih UB. Ambil jurusan Akuntansi dan Sastra Cina. Lihat kampusnya dulu untuk meyakinkan hati dan pilihan.

“Kok milih UB? Peluang diterimanya lewat SNMPTN lebih besar”kata Nadia. Tahun lalu ada tiga kakak kelasnya yang diterima lewat jalur undangan di UB. Kampus akan melihat track record SMA dan peserta SNMPTN yang diterima dan daftar ulang pada tahun-tahun sebelumnya.

Lihat foto-fotonya waktu diunggah oom dan tantenya di WA, bikin saya ingin ke Malang. Singgah di makam bung Karno di Blitar, ketemu dengan keluarga-keluarga lain, foto bareng. Apalagi waktu makan di bakso President Malang, walah antriannya sampai panjaaang.

Tiga hari lalu, ketika sore saya telepon dia, rombongan keluarga sedang dalam perjalanan pulang ke Jogja. Waktu itu baru sampai Blitar. Rupanya keluarga besar pulang lewat jalur selatan. Malang – Blitar – Trenggalek – Ponorogo – Gunungkidul – Jogja. Berbeda dengan rute perginya yang lewat Solo – Madiun – Kediri – Malang.

Wah, benar-benar liburan seru dan lengkap. Menikmati wisata sejarah, wisata kuliner, ketemu keluarga besar sambil lihat-lihat kampus yang diidam-idamkan.

EF # 23 : Convenient and Safe Homecoming

“I had booked return tickets for Dea and Caca to Pontianak. They go home first because they will go to the school ”said my wife. This morning before I went to the office, we continued talking about our homecoming (mudik) plan to Jogjakarta.

I have booked one way tickets from Pontianak to Jogja for homecoming and my wife told me that she has booked return tickets, too. She was right. We better buy return tickets as early as possible, because the price usually more expensive if we buy suddenly.

Tickets is one important thing that we have to prepare when we plan to homecoming. Especially when we use public transportation like plane, train, ship or bus. We have to allocate special budget, because 50-60% homecoming cost used for transportation, both public or private transportation.

What else we have to prepare for homecoming? Make a list and schedule some interesting place to visit. I said to my wife to make a daily schedule. So, we can manage our time when we are in Jogja and Semarang.

For example, on the first day, we plan to go Taman Pintar, Malioboro, Benteng Vredeburg, Kraton and Pasar Beringharjo. Interesting places which we can see some historical objects and education tourism. Next, on the second day, we can schedule to see Gembira Loka Zoo and Dirgantara Museum.

We can also schedule some days to enjoy some culiner tour, especially local foods like Gudeg Bu Ahmad, SGPC Bu Wiryo, Soto Kadipiro and Angkringan Sego Kucing Lek Man. I’m sure, for some people who had lived and studied in Jogja know that places.

If we plan to homecoming, don’t forget to bring some souvenirs. My daughters often buy bracelets, necklaces and key chains in Malioboro for her friends.

Last, we also need to notify to the head of household and explain how long we will homecoming and who will stay at home.

So, prepare it and have a nice homecoming trip.