Bekerja sebagai KARYAWAN, Berpikir dan Bertindak seperti ENTREPRENEUR

Meski sebagian dari kita bekerja sebagai karyawan, bukan berarti pola pikir, sikap serta tindakan kita tidak bisa mengadopsi sikap dan perilaku entrepreneur. Jangan diartikan entrepreneur itu cuma terkait dengan urusan dagang, lho, alias wiraswasta atau pebisnis.

Ini pelajaran yang saya dapatkan ketika mengikuti penyegaran karyawan teknis yang disampaikan oleh instruktur dari salah satu lembaga pemerintah. Apa ciri-ciri seseorang yang berpola pikir dan bersikap entrepreneur?

1. Bekerja tidak dibatasi Jam dan Hari Kerja
Yang namanya pegawai, kerjanya memang dibatasi jam dan juga hari kerja. Masuk kerja jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore. Tiap hari dari Senin sampai Jumat seperti itu. Bagi karyawan pelaju atau yang bekerja di luar kota, biasanya mereka juga karyawan PJKA alias Pulang Jumat Kembali Ahad. Pesan tiket kendaraan umum untuk pulang ke rumah pada Jumat sore dan balik ke tempat kerja pada hari Minggu.

Aturan standarnya memang seperti itu, tapi terkadang ada juga urusan yang mengharuskan karyawan bekerja sebelum jam 8 pagi atau pulang setelah jam 4 sore. Kok bisa seperti itu? Bisa saja, contohnya teman saya yang harus bersiap-siap menemui kepala dinas sebuah instansi pada jam 6 pagi di kantornya untuk minta tanda tangan SK. Harus pagi-pagi ke kantornya karena setelah itu sang pimpinan harus ke bandara untuk terbang ke Jakarta.

Yang pulang setelah jam 4 sore bukan berarti bisa bersantai-santai dengan keluarga di rumah. Kalau pas ada tamu yang datang, malamnya dia harus jemput tamu di hotel, menemani makan malam dan jalan-jalan. Karyawan yang berpola pikir dan bersikap seperti entrepreneur nggak akan sering mengeluh kalau dapat tugas seperti itu.

2. Tidak Terlena Berada di Zona Nyaman
Zona nyaman itu maksudnya mudah merasa puas pada satu kondisi pekerjaan. Tidak ingin mengubah dirinya agar bekerja lebih produktif, lebih efisien atau bagaimana agar kinerja di tempat kerjanya meningkat. Karyawan yang terlena berada di zona nyaman cenderung agak sensitif dengan perubahan yang mengarah pada perbaikan kinerja. Dia bisa saja berprinsip dari dulu sudah jalan seperti ini, kenapa harus diubah lagi?

3. Selalu Berkeinginan untuk Belajar
Belajarlah sejak dari buaian hingga ke liang lahat. Sebuah perumpamaan yang sangat bagus, termasuk bagi seorang karyawan. Belajar bukan lagi sebuah kewajban apalagi keterpaksaan bagi karyawan yang bermental entrepreneur. Tanpa diminta atau disuruh oleh pihak lain, dia memotivasi dirinya agar senantiasa mengikuti perkembangan dan belajar ha-hal baru. Tidak hanya belajar bidang yang terkait dengan pekerjaannya, namun juga keterampilan lain yang dapat mengembangkan potensi dirinya.

Belajar tak hanya dapat dilakukan dengan mengikuti diklat, workshop, seminar atau training. Dengan bantuan internet, karyawan bisa saja belajar kapan pun waktunya secara otodidak. Belajar seperti ini yang tidak akan cepat hilang atau lupa, karena dasarnya adalah kecintaan terhadap apa yang dipelajari.

4. Berorientasi pada Pelayanan terhadap Orang Lain.
Salah satu pola pikir dan sikap seorang entrepreneur adalah berusaha melayani orang lain dengan sebaik-baiknya. Orang lain itu bisa pelanggan, klien, pembeli, konsumen atau masyarakat. Tidak hanya bekerja untuk mengejar jabatan, kedudukan dan kekayaan, seorang yang bermental entrepreneur akan mengutamakan kepuasan orang lain sebagai kriteria keberhasilannya.

Jiwa melayani orang lain dengan sepenuh hati dan bukan melayani sepenuh gaji akan menjadikan karyawan sebagai sosok yang selalu dinantikan kehadirannya.

Pelatihan yang tak Meletihkan

pelatihan GIS

“Bingung belajar GIS, Pak. Menunya banyak sekali”.Tersenyum geli saya memandang ekspresi wajahnya.

Itulah komentar salah satu peserta inhouse training Geographic Information System (GIS) ketika saya tanya tanggapannya di hari pertama. Inhouse training di ruang rapat kantor yang diberikan karyawan pemetaan untuk karyawan bagian penatausahaan hasil hutan.

Jumlah pesertanya nggak terlalu banyak, 13 orang. Pengajarnya empat orang. Dilaksanakan malam hari jam 19.00-21.30 selama empat hari. Mulai tanggal 10-13 Juni yang lalu. Pagi hingga sore mereka bekerja sesuai bagiannya, malamnya dilanjutkan mengikuti pelatihan.

Bentuk pelatihannya memang tidak terlalu formal seperti pelatihan atau training pada umumnya. Seperti mengirim karyawan untuk belajar di tempat diklat atau mendatangkan instruktur. Terus para peserta duduk manis mendengarkan para pengajar bergantian menerangkan materi. Kalau model yang seperti ini apalagi sampai berhari-hari memang bikin peserta jenuh. Dan waktu terasa lama berlalu.

Dalam inhouse training GIS itu, metode yang digunakan adalah memberdayakan karyawan untuk berbagi ilmu. Karyawan yang sudah pernah mendapatkan pelatihan dan sehari-hari bekerja di bagian GIS, malamnya menjadi tutor bagi karyawan bagian lain. Biaya training gratis. “Sudah dapat ilmu gratis, selama pelatihan dikasih snack lagi”kata peserta lainnya.

Dan satu hal lagi yang bermanfaat bagi karyawan lainnya. Snack untuk peserta seperti risoles, kue lapis, lemper bukan dibeli dari toko atau warung, tapi dibuat oleh istri karyawan. Benar-benar acara yang diadakan dari karyawan, oleh karyawan, dan untuk karyawan.

Suasana inhouse training pun dibuat informal, nggak perlu harus pakai baju lengan panjang, dasi dan bersepatu. Pakai kaos berlogo klub sepakbola favoritnya juga boleh. Metodenya pun lebih banyak praktek. Satu topik misalkan tentang digitasi diajarkan langkah-langkahnya. Setelah itu peserta praktek menggunakan laptop. Karena nggak semua punya laptop, terkadang satu laptop dipakai 2-3 orang bergantian. Jadi dibuat lima kelompok untuk prakteknya. Satu kelompok tadi didampingi oleh satu tutor.

Belajar GIS yang awalnya terasa sulit, karena menggunakan metode langsung praktek, akhirnya malah mengasyikkan dan bikin ketagihan. Ada yang minta supaya waktunya ditambah. “Kalau cuma empat hari sih, nggak cukup”kata salah satu peserta. Saya bilang, “Untuk kali ini inhouse training dasar-dasar GIS sudah cukup. Silakan diteruskan prakteknya secara mandiri. Kalau ada waktu senggang, dicoba lagi. Setelah mentok dan ada masalah baru tanya”.

Kalau bentuk pelatihannya seperti ini memang tidak terasa meletihkan, namun justru menyenangkan dan bikin ketagihan. Saya baru memahami. Ternyata proses berbagi ilmu dan transfer pengetahuan terkadang lebih efektif bila dikemas dalam bentuk pelatihan atau inhouse training yang lebih bersuasana informal. Rileks, kadang diselingi bercanda, langsung praktek dan berkesan bagi peserta maupun pengajar.

Dari Karyawan jadi Wirausahawan

Setiap kejadian yang kita alami pasti ada maksud dibaliknya. Termasuk yang saya alami tadi pagi.

Ban mobil yang bocor mempertemukan saya dengan teman kerja yang sudah mengundurkan diri. Saat perjalanan dari camp ke Sintang, ban belakang kanan kendaraan kempes.

Untungnya bawa ban serep. Setelah ganti ban, pikiran selanjutnya adalah dimana mencari tambal ban. Sangat riskan kalau bepergian nggak bawa ban serep.

Setelah tanya dengan kawan yang di Pinoh, diberitahu kalau ada tambal ban di depan kompi. Di situ ada juga warung es jus.

Rupanya warung es jus dan tambal ban itu punya teman yang dulu pernah jadi karyawan. Namanya Supri. Sekarang sudah berhenti dari pekerjaannya sebagai sopir truck dan membuka usaha.

Dia punya punya usaha tambal ban, warung es jus, juga menawarkan sewa mobil kijang Pinoh-Pontianak. Dia juga menawarkan kalau ada tamu yang mau pakai mobil ke Pontianak. Ongkosnya 2,5 juta. Di belakang usahanya juga dia tanam sayur-sayuran.

Usaha tambal bannya dia langsung tangani, sementara warung es jusnya diserahkan ke istrinya. Lokasi usahanya cukup strategis karena di tepi jalan besar.

Dari warung es jus, saya lihat dia mengerjakan sendiri pekerjaannya. Mulai membuka velg, mengecek ban dalam, menambal sampai memasang lagi velgnya. Sementara istrinya membuat jus apel pesanan saya.

Nggak sampai satu jam, pekerjaan menambal ban selesai. Cepat juga ya. Saya tanya, “Berapa ongkos semuanya, termasuk dua gelas es jus”. Setelah berpikir sejenak, dia bilang, “Empat puluh ribu, pak. Ongkos tambal dua puluh ribu dan dua gelas jus dua puluh ribu”.

Sebuah pelajaran berharga saya petik hari ini. Bahwa setiap kejadian yang saya alami, yang awalnya terasa nggak nyaman sebenarnya menjadi jalan pembuka untuk mempertemukan dengan seseorang. Karena kalau ban kendaraan nggak bocor, mungkin saya nggak akan bertemu Supri.

Fakta Menarik di Kalender 2014

“Wah, bulan Mei tahun depan banyak liburnya, Pak. Sampai empat hari libur” kata teman kerja ketika membuka kalender meja tahun 2014. Obrolan tentang hari libur tahun depan itu mengusik rasa ingin tahu saya.

Setelah bolak-balik melihat kalender meja tahun 2014 di ruangan kerja saya, ternyata ada beberapa fakta menarik yang bisa kita lihat. Termasuk jatuhnya hari libur nasional. Tentu saja penetapan hari libur nasional termasuk hari besar keagaaman itu hasil ketetapan pemerintah dan masing-masing organisasi keagaamaan.

Penetapan hari libur nasional ini tentu ada dasarnya, yaitu sesuai Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri Nomor 5 tahun 2013, Nomor 335 tahun 2013, Nomor 05/SKB/MENPAN-RB/08/2013 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama tahun 2014. Lihat di sini

Apa saja itu fakta menarik itu?

1. Minggu Keempat Juli, Semua Hari adalah Hari Libur
Kalau kita lihat kalender 2014, ternyata hari libur paling banyak bukan bulan Mei. Tapi bulan Juli. Lihat saja pada minggu keempat. Setelah hari Minggu, semua hari mulai Senin hingga Kamis termasuk hari libur. Dua hari raya Idul Fitri, yaitu Senin dan Selasa tanggal 28-29. Ditambah dua hari cuti bersama pada Rabu dan Kamis tanggal 30-31.

Artinya, dalam seminggu itu semua hari adalah hari libur. Ini yang belum pernah ada sebelumnya. Pada tahun 2013, meski pada minggu kedua Agustus ada enam hari libur, ada satu hari kerja yaitu hari Sabtu. Hari libur itu adalah dua hari raya Idul Fitri tanggal 8 dan 9, serta tiga hari cuti bersama mulai tanggal 5, 6 dan 7. Meski hari Sabtu bukan hari libur dan termasuk harpitnas, faktanya terkadang sebagian orang ikut meliburkan diri.

2. Total Hari Libur dan Cuti Bersama Tahun 2014 adalah 19 Hari
Dibandingkan tahun 2013, tahun 2014 memiliki jumlah hari libur yang sama, yaitu 19 hari. Bedanya adalah pada tahun 2013, dari 19 hari libur nasional (5 diantaranya termasuk cuti bersama). Sementara tahun 2014, dengan jumlah hari libur nasional juga 19 hari, yang tergolong cuti bersama 4 hari.

3. Hari Buruh menjadi Hari Libur Nasional
Pada bulan Mei, hari Buruh yang pada tahun sebelumnya termasuk hari kerja, tahun 2014 ditetapkan pemerintah sebagai hari libur. Hal yang menarik adalah pada bulan Mei tahun depan, tiga hari libur bertepatan pada hari Kamis. Tanggal 1, 15 dan 29 untuk memperingati hari Buruh, hari raya Waisak dan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Nggak hanya itu fakta yang menarik pada hari libur bulan Mei. Kalau kita cermati, pada minggu keempat, hari libur nasional berselang-seling sehari dengan hari kerja. Jadi untuk siswa-siswa yang bersekolah dan para pekerja, setelah libur hari Minggu, hari Senin masuk. Kemudian hari Selasa nggak masuk, Rabu masuk, Kamis libur lagi, Jumat masuk lagi.

Bagaimana dengan hari Sabtu yang tanggalnya berwarna hitam? Ya, tentu libur lagi buat karyawan yang tempat kerjanya menggunakan lima hari kerja. Nah, kalau seperti itu, ada manfaatnya. Berarti dalam satu minggu full hari libur.

Lumayan, kan. Jadi nggak perlu menunggu liburan tahun ajaran baru, libur lebaran atau libur akhir tahun untuk bisa  berwisata dengan keluarga.

Penasaran? Silakan lihat kalender 2014.

Jadi Karyawan itu Seharusnya…

1. Datang tepat waktu
Yang namanya karyawan itu kan seseorang yang bekerja pada pihak lain. Jadi, konsekuensinya harus nurut sama aturan yang dibuat. Termasuk di dalamnya aturan dasar, seperti jam masuk kerja.

Kalau jam masuk kantor sudah ditentukan jam 8 pagi, ya diusahakan pas jam 8 sudah siap di tempat kerja. Lebih baik lagi kalau sebelum jam itu, misalkan 10-15 menit sebelumnya sudah tiba di tempat.

Apalagi buat karyawan yang tugasnya melayani publik. Jangan sampai pelanggan, nasabah atau klien justru yang datang duluan dan harus menunggu. Sementara, karyawan yang tugasnya melayani malah belum nongol.

Ini pernah saya alami waktu mau cetak buku tabungan di salah satu bank. Jam 8 pagi saya sudah tiba, tapi karyawannya malah baru sampai di kantor jam 8.15. Ini yang jadi karyawan sebenarnya siapa sih ? 🙂

2. Tahu apa yang harus dikerjakan
Nah, untuk tahu tugas apa yang harus dikerjakan, ada baiknya buat catatan atau daftar apa saja pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini. Lebih baik lagi kalau catatan itu sudah dibikin kemarin. Misalnya pada hari Senin ini sebelum pulang kerja, bikin poin-poin yang harus dikerjakan untuk Selasa besok.

Tuliskan saja apa yang mau dikerjakan. Misalnya buat laporan bulanan daftar hadir staf, menghadap bos, melayani tamu, cek dan membalas email, menghubungi pelanggan untuk menawarkan produk baru.

Dengan membuat catatan sepeti itu, kita akan tahu apa yang harus dikerjakan hari ini. Ini belum termasuk pekerjaan-pekerjaan mendadak yang terkadang menyita waktu, seperti menerima panggilan telepon, menerima laporan anak buah atau kendaraan terjebak macet.

3. Membuat skala prioritas pekerjaan
Dari catatan yang sudah dibuat pada poin 2, cobalah bikin skala prioritas. Ini penting, karena nggak semua yang sudah dicatat itu kita yang harus mengerjakan. Perlu dipilih dan dipilah, mana yang harus ditangani sendiri dan pekerjaan apa yang harus didelegasikan.

Supaya kita nggak dicap golongan karyawan one man show, semua pekerjaan diborong dan dikerjakan sendiri. Padahal punya anak buah. Kalau hal itu sering dilakukan, selain menyita waktu, juga pertanda kalau kita kurang percaya dengan  anak buah.

4. Memahami karakter bosnya
Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, beda bos beda juga karakter dan sifat-sifatnya. Yang saya maksud ini karakter dan sifat-sifat seorang bos dalam bekerja, lho ya. Ada bos yang menyediakan waktu 24 jam untuk menerima informasi dari anak buahnya.

Tipe bos seperti ini biasanya haus akan informasi. Jadi dia nggak membatasi waktu untuk menerima informasi anak buahnya. Kapan saja dan dimana saja bos berada, dia tetap bisa dihubungi. Bisa lewat telepon, sms atau email. Mungkin ini termasuk bos yang gila kerja kali.

Justru kalau anak buahnya nggak kasih laporan atau informasi terbaru, dia bukannya senang, justru gelisah. Apalagi kalau ada masalah tapi nggak disampaikan, bisa-bisa kena semprot itu anak buah. Kalau menghadapi bos bertipe seperti ini, usahakan aktif berkomunikasi. Rajin menginformasikan perkembangan terbaru, dan sampaikan terus terang jika ada masalah, walaupun tampaknya sepele.

Ada juga tipe bos yang punya prinsip, urusan kerja dibicarakan pada waktu jam dan hari kerja. Bicara urusan kerja, mulai jam 8 pagi sampai jam 4 sore., hari Senin hingga Sabtu. Hari Minggu dan hari libur nasional… ya untuk libur, bukan bicara urusan kerja.

Dia membatasi waktunya dalam menerima informasi dan laporan anak buahnya. Maksudnya, tidak setiap waktu dia bisa dihubungi. Wah, kalau ada masalah, terus perlu keputusan yang cepat, gimana ya? Apa nggak bingung tuh anak buahnya? Apalagi kalau nggak ada pendelegasian kepada wakilnya.

5. Mendorong anak buahnya agar maju dan berkembang
Nggak cuma paham dengan karakter dan sifat pimpinannya, seorang karyawan juga harus jeli dengan potensi dan kemampuan anak buahnya. Di sini diperlukan filosofi seorang guru. Senang kalau muridnya lebih pintar dari gurunya. Bangga kalau muridnya lebih berprestasi dari gurunya. Nggak ada kan seorang guru yang nggak suka kalau muridnya berhasil dalam studinya.

Dibutuhkan kebesaran jiwa untuk mengakui bahwa sebenarnya ada staf yang lebih terampil daripada dirinya. Staf yang ahli memanfaatkan teknologi informasi, anak buah yang terampil berbahasa asing atau bawahan yang cerdas dalam menguasai kondisi lapangan.

Kalau ada seorang pimpinan yang anak buahnya ahli, terampil dan cerdas, seharusnya dia bersyukur. Karena membantu meringankan beban pekerjaannya. Salah satu tugas seorang pimpinan adalah mengenali potensi dan kemampuan bawahannya, kemudian memberikannya kesempatan untuk berkembang.

6. Tidak Gaptek
Berbahagialah karyawan yang lahir pada jaman digital seperti saat ini. Sejak kecil sudah terbiasa dengan yang namanya kecanggihan teknologi informasi. Mulai mengoperasikan komputer sampai smartphone. Kalau ada karyawan lama atau senior yang nggak mau belajar, rugi sendiri deh.

Memang dengan bantuan perangkat tersebut, pekerjaan tidak hanya bisa dikerjakan di kantor. Sambil menunggu pesawat yang delay di bandara, terjebak kemacetan di jalan atau menunggu klien yang datang, waktu bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

Sambil menunggu, bisa dimanfaatkan untuk cek dan balas email, menyiapkan presentasi, atau membuat ringkasan laporan. Waktu dan tempat kerja karyawan pun lebih fleksibel.

Masih ada yang lain sih sebenarnya, gimana seharusnya jadi seorang karyawan yang baik dan bisa diandalkan. Tapi, baru segini saja sudah panjang postingannya. Khawatir malah bosan deh bacanya.

Anak bangsawan pergi ke hutan

Membawa pulang seikat rotan

Andaikan teman ingin menambahkan

Janganlah segan untuk menuliskan

 

Manfaat Ngeblog

Apa sih manfaatnya ngeblog? So pasti sobat blogger punya alasan masing-masing. Manfaatnya macam-macam sih, bisa tergantung profesinya juga.

Kalau untuk ibu rumah tangga, ngeblog bisa jadi media untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan tentang cara mendidik anak misalnya, atau bagaimana menambah income bagi keluarga.

Bagi anak sekolah dan mahasiswa, ngeblog jadi tempat curhat yang setia setiap saat, karena bisa gantiin diari. Golongan wirausahawan bisa berbagi tips dan trik dalam berbisnis. Mulai dari gimana merintis bisnis dari awal sampai punya pengawal, from zero to hero.

Ngeblog minimal bisa jadi ajang untuk bercerita dan mengungkapkan uneg-uneg dalam hati, gagasan dan pemikiran. Hebatnya, semua profesi tadi bisa dipertemukan dalam satu wadah.

Ada orang yang tipenya suka bicara, tapi nggak biasa menulis. Semua isi hatinya diungkapin lewat omongan. Ada juga yang punya tipe pendiam. Masalah dan uneg-unek cuma dipendam dalam hati. Ini termasuk penganut aliran kebatinan. Jadi kalau punya masalah lebih sering dibatin. Nah, lewat blog, biasanya tipe pendiam ini benar-benar menemukan media yang pas. Seperti ikan menemukan air.

Kalau untuk karyawan sepertiku, manfaat ngeblog yang jelas seperti ini :

1. Lancar Membuat Surat.

Sebagai karyawan, bila diminta bos membuat konsep surat, baik surat dinas, surat edaran, nggak terlalu kesulitan memahami poin2 penting isi surat dan membuat redaksi.

Setelah konsep surat jadi, diserahkan, dibaca, biasanya bos langsung tanda tangan. Pernah dikoreksi? Jelas pernah, tapi jarang. Ibaratnya kalau membuat 5 surat, 1 yg dikoreksi dan harus diperbaiki.

2. Nggak susah membuat laporan.

Yang namanya karyawan, pernah dong ditugaskan mengikuti diklat, pelatihan, kursus, seminar, simposium, workshop. Biasanya selesai tugas, laporan harus dibuat. Dengan rajin menulis, membuat laporan serasa bikin postingan. Karena isi laporan biasanya menceritakan kembali kegiatan yang pernah diikuti. Sama seperti nulis di blog, kan?

3. Tumbuh keinginan menulis dan menulis lagi.

Ternyata nggak cuma nikotin saja yg bisa bikin kecanduan. Menulis juga bisa jadi candu. Sama juga dengan orang yang rajin olahraga. Selesai berolahraga, efeknya adalah perasaan nikmat dan bahagia. Ini yang saya rasakan.

Selesai menuntaskan sebuah tulisan, ada rasa kepuasan dalam hati. Rasanya plong. Dan ini yang bikin ketagihan untuk menulis dan menulis lagi. Jadi menulis bukan lagi tergantung pada mood atau suasana hati. Susah atau senang, dalam suasana apa pun tetap bisa menulis.

Bagi sobat blogger, apa sih tujuannya  ngeblog? Dapat manfaat apa dari ngeblog?