Orang Kurus pun Bisa Punya Kolesterol Tinggi

Selama ini sebagian orang beranggapan kalau kolesterolnya tinggi itu biasanya dialami orang gemuk. Ternyata faktanya nggak seperti itu. Orang kurus seperti saya pun bisa juga lho kena kolesterolnya tinggi.

Awalnya sih beberapa hari ini kepala rasanya kok berat dan agak pusing. Kalau pagi sekitar jam 9 atau 10 juga sering mengantuk. Pasti ada yang nggak beres dengan badan ini. Harus cek darah untuk tahu penyebabnya. Umur kepala empat seperti saya memang perlu segera cek kesehatan kalau ada tanda-tanda seperti itu. Idealnya sih kontrol kesehatan dilakukan rutin beberapa bulan sekali.

Setelah makan malam, saya nggak makan lagi sampai pagi. Cuma minum air putih. Besoknya, sebelum sarapan, berdua dengan teman kantor kami pun menuju klinik perusahaan.

Giliran pertama saya. Tekanan darah diukur dan kata petugas medis normal, 120/75. Terus diambil sampel darahnya. Asam urat normal, angkanya 5,3. Diusahakan angkanya jangan sampai lebih dari 7 ya. Setelah itu cek gula darah, juga masih relatif normal, angkanya 104, standarnya diusahakan dibawah 100. Rasanya sudah senang deh semuanya masih standar.

Nah, giliran diambil darah lagi untuk periksa kolesterol, perasaan hati berubah setelah petugas media bilang,”Kolesterolnya tinggi, Pak, 244”. Wah, ini rekor kolesterol tertinggi, karena sebelumnya saya pernah kena  sampai 242.

“Saya nggak kasih bapak obat, bapak atur pola makan saja. Kurangi yang digoreng. Juga olahraga teratur”saran petugas medis.

Sejak itu, makanan yang digoreng saya kurangi. Kalau makan telur, direbus dulu, putih telurnya saja yang saya makan. Kuning telurnya disedekahkan ke teman. 🙂

Nah, bagi yang punya badan kurus atau langsing, jangan senang dulu ya atau merasa nggak mungkin kena kolesterol tinggi. Juga yang masih muda-muda, jangan lupa juga cek kesehatan. Semakin awal kita tahu penyebab gejalanya, semakin dini juga kita tahu gimana mengatasinya.

Iklan

Kena Kolesterol Tinggi (2)

Gejala pusing dan kepala terasa berat gara-gara kolesterol tinggi adalah alarm. Tubuh mengingatkan saya supaya peduli dengan alarm itu. Ibarat kita di jalan raya dan naik kendaraan, terus lampu lalu lintas menyala kuning. Pertanda kalau kita harus mengurangi kecepatan dan siap-siap berhenti.

Namun terkadang, lampu kuning malah jadi sinyal bagi sebagian pengemudi untuk siap-siap tancap gas. Ngebut dan berusaha lolos sebelum lampu berubah menjadi merah. Tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Apa mereka nggak terpikir dengan keselamatan dirinya ya?

Alarm dalam di tubuh kita nggak beda jauh dengan lampu lalu lintas. Tugasnya mengingatkan si empunya badan. Setelah tahu kadar kolesterol cukup tinggi, saya mulai mengurangi jenis dan jumlah makanan. Nggak mau ambil resiko dengan pola makan seperti yang sekarang. Apalagi umur sudah lebih 40 tahun. Sudah saatnya menjaga pola makan biar tetap sehat dan panjang umur.

Perubahan memang harus dilakukan agar kadar kolesterol turun. Kalau dulu tiap hari makan telur yang diceplok atau didadar, sekarang dikurangi cukup dua kali seminggu. Gantinya lebih memilih tahu atau tempe. Daging-daging ayam potong dan daging merah juga dibatasi. Kalau bentuknya potongan daging ayam goreng atau ayam berkuah santan, cukup saya pandangi saja makanannya  😦

Tapi kalau ayam yang disuwir-suwir dibikin soto tetap saya makan. Porsi sayur dan buah hampir tiap hari saya konsumsi. Kalau nggak dimasak jadi sayur ya.. dibikin jus. Beli tomat dan wortel, setelah itu minta tolong ibu juru masak kantor untuk bikin jus.

Kalau lagi makan di kantor, menjaga disiplin untuk tidak makan berlebihan yang agak susah. Tiga kali sehari bertemu teman di ruang makan. Karena makannya ramai-ramai, sekitar 6-8 orang jadi harus bisa menahan godaan. Lihat teman makan telur dadar dengan nikmat…ya berusaha jangan sampai tergiur. Kalau pun kepingin ambil sedikit saja, untuk icip-icip. Tinggal pilih, mau makan yang enak-enak atau ingin kolesterol nggak melonjak

Semua kejadian tetap ada hikmahnya. Gara-gara kolesterol tinggi itulah, saya kini sering mencari artikel kesehatan. Cari informasi makanan apa saja yang masih boleh dikonsumsi dan harus dihindari. Dari hasi googling saya pun tahu, jenis-jenis makanan apa saja yang kadar kolesterolnya tinggi. Ini tabelnya.

Sekarang ini, dua minggu setelah menjalani perubahan pola makan, pengaruhnya sudah mulai kelihatan. Kepala nggak lagi terasa berat dan pusing. Pilih-pilih makanan dan makan dengan jumlah yang tidak berlebihan memang terbukti menyehatkan.

Kena Kolesterol Tinggi

Meski saya punya badan kurus, tinggal di tengah hutan dan sering olahraga, nggak jaminan nggak kena kolestrol tinggi.

Saya pikir orang yang punya kolesterol tinggi hanyalah orang yang gemuk. Ternyata tidak seperti itu. Gemuk atau kurus, tetap punya kemungkinan koleterolnya tinggi

Niat periksa darah berawal dari pusing dan kepala yang terasa berat. Sebelumnya jarang saya kena sakit kepala. Biasanya hanya masuk angin atau flu.

Karena sakit kepala ini agak aneh besoknya langsung periksa darah ke lab. Dan bukan beli obat penghilang rasa sakit.

Rencananya setelah antar anak ke sekolah, jam 7 langsung periksake lab. Rupanya tempat itu jam 6 pagi sudah buka. Saya bilang ke petugasnya kalau mau cek gula darah, kolesterol totalk, LDL, HDL, trigliserida dan asam urat.

Setelah membayar kemudian disuruh tuggu panggilan. Nggak lama proses oengambilan darah pun dimulai. Petugas menyuntikkan jarum di lengan kiri dan ditaruh dalam tabung. Terus dia bilang kalau hasilnya jam 1 sudah bias diambil.

Waktu enam jam menunggu hasil periksa darah terasa lama. Penasaran sekali kalau-kalau rasa pusing itu gara-gara kolestrolnya tinggi. Ini seperti yang dialami istri.

Dua tahun lalu dia juga mengalami gejala yang sama. Kepala pusing dan terasa berat. Setelah cek darah ternyata kadar kolesterol totalnya 244. Ini termasuk tinggi, karena nilai rujukannya adalah jika dibawah 200.

Terus gimana dengan hasil periksa darah saya? Buru-buru pengin lihat hasilnya, amplop warna putih dan kuning yang saya terima dari petugas lab langsung saya buka.

Ternyata benar. Kolesterol total saya juga tinggi, 241. LDLnya atau istilah umumnya lemak jahat juga diatas standar. Sementara kadar gula darah,HDL, trigliserida dan asam urat masih normal.

Setelah tahu kalau kadar kolesterol tinggi, ada rasa khawatir kena stroke atau serangan jantung. Saat itu yang terlintas dalam pikiran adalah gimana caranya angka kolesterol nggak makin bertambah. Harus bisa turun dan nggak bikin sakit kepala lagi.

Caranya? Silakan disimak di postingan berikutnya.

Ingin Sehat

Sudah tiga hari ini, terutama sore hari selepas jam kerja, saya sering makan Quaker Oatmeal untuk mengganjal perut yang terasa lapar. Cara buatnya mudah. Empat sendok quaker dibubuhi air panas dari dispenser, terus diaduk-aduk sampai berbentuk seperti bubur.

Setelah dicicipi, benar-benar tawar rasanya. Lebih tawar daripada makan bubur. Saking tawarnya, hampir makanan itu nggak saya habiskan. Tapi, saya pikir-pikir, sudah saya beli jauh-jauh dari Pontianak, sayang kalau nggak dihabiskan. Apalagi di lemari masih tersimpan 1 bungkus lagi.

Kenapa makan Quaker oatmeal, bukan mie instant? Bukan mau promosi, tapi ini bagian dari program untuk menjaga kesehatan, khususnya mengurangi kolesterol. Saya memang belum pernah cek darah lagi untuk mengetahui berapa angka kolesterol, asam urat dan gula darah dalam tubuh. Terakhir, lima tahun yang lalu sewaktu kena typhoid.

Tapi, saya pikir nggak perlu nunggu cek darah dulu deh. Setelah ketahuan hasilnya, baru sibuk bergaya hidup sehat : mengurangi makanan yang enak-enak, harus olahraga teratur dan tidak lupa minum obat. Saya cuma belajar dari cerita orang lain yang pernah mengalami gangguan kesehatan, akibat pola makan yang tidak tepat. Apalagi umur sudah kepala empat.

Ceritanya bermacam-macam. Ada yang kakinya bengkak dan sakit waktu dipakai berjalan. Ada juga yang bagian sendi kaki dan tangannya terasa nyeri seperti ditusuk duri. Teman lainnya bilang, bagian belakang kepalanya mulai terasa cenut-cenut dan pusing setelah mengkonsumsi daging.

Semua itu adalah contoh konkret yang menjadi peringatan bagi saya untuk lebih memahami, bahwa ternyata “mencegah itu lebih baik daripada mengobati”. Mencegah itu caranya lebih mudah daripada mengobati. Dan yang pasti, mencegah sakit itu biayanya lebih murah daripada berobat.

Memang, kalau sudah di meja makan dan terhidang berbagai makanan, bicara kesehatan seolah terlupakan. Cerita kolesterol seakan menguap begitu saja. Makanan yang kolesterolnya tinggi seperti udang goreng, telur mata sapi, tumis cumi-cumi seperti bukan sesuatu yang perlu diwaspadai, tapi justru harus dinikmati.  Seperti kata teman saya, “Di sini nggak ada kolesterol. Kolesterol itu adanya di lab”.

Karena ingin sehat, saya nggak cuma membatasi makanan yang tinggi kolesterol, untuk menghindari diabetes atau kencing manis, konsumsi  minuman yang manis-manis  pun dikurangi.  Setiap hari selepas bangun pagi, minum segelas air putih. Di kantor, pagi minum teh hangat dan siang hari ganti minum air putih lagi.

Semua itu saya lakukan supaya badan tetap fit dan sehat. Nggak lupa juga berdoa kepada Yang Maha Kuasa, pemilik segalanya, agar diberi kesehatan. Terus manfaatnya apa, kalau itu semua sudah dilakukan? Nggak muluk-muluk sih. Minimal kalau badan sehat, saya masih bisa ngeblog : bikin tulisan untuk pembaca, kasih komentar atau just blogwalking. 🙂