Ketika Nadia harus Tes SBMPTN di Jogja

Selama anak saya yag pertama, Nadia, berada di Pontianak, jarang sekali saya komunikasi dengannya via whatsapp. Sesekali hanya telpon atau SMS. Menanyakan kabarnya atau kegiatannya di sekolah. Namun semuanya itu berubah ketika Dea, nama panggilannya, memutuskan untuk ikut tes SBMPTN di Jogja.

Setelah tidak diterima di PTN melalui jalur SNMPTN, dia mencoba lagi menggunakan jalur SBMPTN. Karena pilihan fakultasnya semua berada di wilayah II, dia harus mengikuti tes di salah satu kota yang PTN-nya termasuk wilayah II.

Bisa saja dia tetap tes di Pontianak, asalkan salah satu pilihan fakultasnya berada di PTN yang termasuk dalam wilayah I, baik di Sumatera, Banten, DKI Jaya , Jawa Barat maupun Kalbar.

Seminggu sebelum berangkat ke Jogja, saya sering ingatkan dia supaya jaga kondisi kesehatan. Usahanya untuk diterima di PTN begitu besar. Setelah UN, hampir setiap hari dia mengikuti les di lembaga bimbingan belajar di Pontianak.  Ikut try out, belajar lagi di rumah. Bahkan saya pernah melihat dia belajar hingga larut malam.

Ketika perjalanan dari Pontianak ke Jogja, saya tidak bisa mengantar. Demikian juga ibunya yang tidak bisa ke Jogja karena mendampingi anak bungsu, Nabil, yang menghadapi ulangan. Meski nggak bisa mengantar, komunikasi saya dengannya tetap lancar. Setelah saya kirim pesan lewat whatsapp menanyakan apakah sudah sampai di Jogja, rasanya nggak sabar menunggu balasannya.

Demikian juga ketika menanyakan apakah dia sudah melihat lokasi tesnya, mengingatkan perlengkapan yang harus dibawa saat tes seperti pensil, pulpen, penghapus dan kartu peserta tes. Hal-hal kecil yang jarang saya perhatikan ketika dia berada di Pontianak.

Dan hari ini, setelah mengukti tes SBMPTN, dia mencoba lagi kemampuannya di jalur Ujian Tulis (UTUL) yang dilaksanakan secara mandiri oleh UGM. Saya hargai usahanya, upaya belajar keras yang telah dilakukannya. Ibunya juga tak lupa minta supaya dia berdoa selain belajar. Semoga engkau diterima di fakultas dan PTN yang engkau idam-idamkan, Nak.

Lain Orang Lain Cara Memperlakukannya

Kalau ada peribahasa yang mengatakan lain lubuk lain ikannya, maka buat teman yang tugasnya sebagai pendamping tamu peribahasa itu berubah jadi lain orang lain cara memperlakukannya.

Ide postingan ini muncul waktu sarapan dengan teman-teman di ruang makan kantor. Ada satu teman yang ditugaskan oleh pimpinan untuk mendampingi tim tamu yang. Bisanya dalam satu tim ada 3-4 orang yang masing-masing punya karakter berlainan.

Ada satu orang yang sifatnya pendiam, tapi langsung muncul semangat bicaranya kalau diajak ngobrol soal bola. Maksudnya dia akan antusias banget kalau lawan bicaranya mengajak ngobrol soal sepakbola, mulai dari Liga Inggris, Liga Spanyol, Liga Champions, Piala Eropa sampai Piala Dunia. Obrolan pun akan nikmat kalau yang diajak ngobrol juga tahu siapa pemain top yang ada di Chelsea, berapa skor City lawan Barcelona, siapa pimpinan klasemen Liga Spanyol.

Ada juga tamu yang lainnya yang punya sifat suka cerita, apa saja diomongin. Mulai dari urusan pekerjaan, panasnya perdebatan antara Ahok dan DPRD DKI Jakarta sampai fenomena batu akik yang lagi mewabah. Kalau ketemu orang yang seperti itu, cukup pasang kuping dan duduk manis. Jadi Yang mendampingi lebih banyak jadi pendengar. Sesekali berkomentar boleh-boleh saja. Kalau komentarnya bernada nggak setuju harus disampaikan dengan kalimat dan nada yang tepat. Sekali kita berkomentar pakai argumen, dia bukannya bisa menerima, tapi justru makin ngotot dengan pendapatnya.

Saya nggak tahu apa tips-tips seperti itu juga diajarkan di sekolah-sekolah. Tapi yang jelas, sekali kita salah memperlakukan orang karena ketidaktahuan kita tentang sifat dan hobinya, komunikasi selanjutnya bakal macet. Cerita akan berbeda kalau kita sudah tahu duluan bagaimana sifat orang yang diajak bicara, apa saja hobinya, bagaimana keluarganya. Lalu kita memulai obrolan dengan informasi itu dan coba perhatikan apa yang terjadi. 🙂

Oleh karena itu nggak salah kalau ada yang bilang, dalam berkomunikasi upayakan ambil hatinya dulu sebelum berusaha mempengaruhi jalan pikirannya. Karena siapa pun orangnya, bila hatinya sudah tersentuh, yang tadinya ngotot lama-kelamaan akan luluh.

Mendengarkan Apa yang tidak Diucapkan

In Communication

Agak bingung saya memahami kalimat di atas. Perlu agak lama berpikir untuk mengerti apa maksudnya.

Gambar di atas hasil jepretan saya waktu nunggu ambil obat di rumah sakit. Ada dua orang yang juga sedang antri di depan apotek untuk ambil obat. Seorang pria dan wanita yang mengenakan pakaian seragam yang sama. Dan juga dengan tulisan seperti di atas.

Ternyata, dalam komunikasi itu hal terpenting yang perlu kita dengarkan justru yang tidak sedang diucapkan. Itu menurut Peter F. Drucker yang saya baca dari kalimat di atas.

Kok bisa gitu, ya. Selama ini, bukankah dalam berkomunikasi dengan orang lain itu, kita harus mendengarkan apa yang sedang dikatakan? Kalau ada yang curhat, dengarkan baik-baik. Kalau ada orang yang cerita, simak dengan penuh perhatian.

Ini malah kita diminta memperhatikan dan memdengarkan apa-apa yang tidak diucapkan. Berarti ada kemungkinan apa yang sedang dikatakan itu tidak murni atau tulus berasal dari dalam hati lawan bicara kita ya. Ada agenda atau maksud lain yang tersembunyi.

Atau bisa juga diartikan, kita jangan terkecoh dan hanya mengangguk-angguk serta menelan mentah-mentah omongan seseorang.

Maaf kalau pengetahuan saya terbatas dalam memahami kalimat di atas.

Mungkin ada sobat blogger yang paham dan bisa menjelaskan arti kalimat itu.

Apapun Masalahnya, Coba Atasi dengan Komunikasi

“ Mas keluar dari grup keluarga ya”, demikian pesan Black Berry Messsenger (BBM) tadi malam (25/4) dari adik ipar yang tinggal di seberang pulau. Berita tersebut cukup mengejutkan dan membuat saya penasaran.

Siapa pun anggota grup yang membaca berita tersebut, akan memiliki persepsi kalau saya tidak mau gabung lagi dengan grup keluarga. Setelah saya cek, ternyata informasi tersebut tidak benar karena saya tidak pernah gabung di grup keluarga. Saya balas pesan tersebut  kalau selama ini saya tidak pernah masuk grup keluarga. Barulah, dia menjelaskan ada dua grup keluarga dalam BBM tersebut,  A dan  B, dan nama saya tidak ada di dua grup itu. Saya baru tahu, rupanya di pihak keluarga besar  ada dua grup untuk berkomunikasi dengan anggotanya. Saya pun baru sadar dan menyadari kekeliruan, rupanya selama ini saya jarang berkomunikasi sehingga tidak tahu informasi dan perkembangan keluarga besar.

Berkaca dari pengalaman di atas, kalau kita perhatikan, sebagian besar permasalahan yang terjadi di dalam rumah tangga maupun tempat kerja berawal dari kurangnya komunikasi. Salah paham, salah persepsi, salah informasi sebenarnya dapat dikurangi bila dua pihak bersedia meluangkan waktu untuk berkomunikasi secara rutin.

Seseorang yang taat berkomunikasi dengan sang penciptaNya akan diberikan kemudahan dan jalan keluar dari permasalahannya. Suami istri yang sering berkomunikasi, akan tahu perkembangan yang terjadi di dalam rumah tangganya walaupun tinggal berjauhan. Orang tua yang rajin berkomunikasi dengan anaknya, akan memahami masalah yang dihadapi anak-anaknya baik di rumah maupun di sekolah. Atasan yang tidak alergi berkomunikasi dapat mengurangi kesalahan persepsi dan pemahaman dari bawahannya. Nggak heran, kalau pada saat ini di beberapa perusahaan, media sosial (facebook, twitter, blog, SMS) sering dijadikan sarana untuk menjalin komunikasi antar karyawan dan menyampaikan informasi terbaru. Karena selain keakuratan, kecepatan penyampaian informasi juga sangat penting dalam pengambilan keputusan.

Memang tidak mudah berkomunikasi secara intensif.  Kemauan mendengarkan adalah modal penting agar komunikasi berjalan lancar. Tidak hanya mendengar (to hear), tetapi mendengarkan (to listen). Sekilas nampak sama antara pengertian mendengar dan mendengarkan, padahal substansinya berbeda.

Mendengar dapat dilakukan sambil mengerjakan kegiatan lain seperti baca koran, mendengar musik, melihat televisi, menatap layar komputer atau mengetik pesan SMS/BBM. Lain halnya dengan mendengarkan, dimana lawan bicara anda akan menghentikan sejenak aktivitasnya dan dengan seksama menyimak isi pembicaraan anda, menanggapi dan bahkan memberi alternatif solusi. Jelas berbeda, bukan.

Kemampuan berkomunikasi sangat penting bagi kita, terutama dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Apapun masalah yang terjadi, akan dapat diatasi bila kita rajin berkomunikasi. Dan komunikasi akan berjalan dengan baik,  bila kita tidak hanya mau didengarkan, tapi juga mau mendengarkan.

Sumber foto : lintas zona baca.blogspot.com