Kopdar Setelah Kenalan di Blog

Berawal dari seringnya saya membaca postingan di blog https://madeandi.com/.  Postingan dosen Fakultas Teknik Geodesi yang juga Kepala Kantor Urusan Internasional UGM.  I Made Andi Arsana, Ph.D.

Pernah juga saya komen di salah satu postingannya. Kemudian kenalan dan berharap satu saat bisa kopdar di Jogja. Ternyata, dibalas dengan antusias.

“Nanti kalau mau ke Jogja, kabari via email ya”katanya.

Bulan Desember tahun 2018 lalu alhamdulillah, saya ada kesempatan ke Jogja. Nengok anak sulung yang kuliah di sana. Sekalian silaturahmi ke bapak dan ibu mertua. Sebelum ke Jogja, saya ke Semarang dulu menemui orangtua.

Saya pun kirim email ke mas Andi. Memberitahukan mau ke Jogja dan bertanya kapan bisa menemuinya. Tanggalnya pun ditentukan.  28 Desember. Setelah  sampai Jogja, kami pun intensif berkomunikasi via whatsapp.

Rencana mau kopdar jam 9 pagi. Ternyata waktu itu mas Andi sedang rapat di Gedung Pusat. Kondisi saya pun nggak fit. Sampai mas Andi bilang, “Nggak usah dipaksakan Pak kalau sedang sakit”.

Tapi karena sudah janji, saya berusaha tetap datang dan menemui mas Andi setelah jam 10 siang.

Akhirnya kopdar pun terlaksana. Setelah ngobrol di Gedung Pusat, saya diajak ke kantornya di dekat masjid Kampus. Ditraktir makan siang juga. Gudeg Jogja. Enak sekali rasanya. Dalam perjalanan dari Gedung Pusat ke kantornya, dia pun tanya apa yang bikin saya tertarik kopdar.

Terus saya jelaskan awalnya saya nggak sengaja menemukan blog itu. Setelah saya baca kok tulisannya menarik. Mudah dipahami orang awam meskipun yang menulis seorang dosen. Bergelar Ph.D. Lulusan S2 dan S3 dari Australia. Nggak banyak dosen yang ngeblog. Apalagi dosen yang punya keahlian dalam ilmu batas maritim rajin menulis di blog dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Akhirnya, mas Andi pun buka rahasia. Sebenarnya saya bisa seperti itu karena sejak lama saya punya kebiasaan bercerita kepada kedua orangtua, terutama ibu. Saya harus bisa bercerita tentang istilah istilah teknis dengan bahasa yang mudah dipahami. Dan kebiasaan itu akhirnya terbawa ketika menulis.

Obrolan pun berakhir ketika terdengar suara adzan sholat Jumat. Saya pun pamit dan minta ijin foto di kantornya. Dan di luar dugaan, dia sendiri yang mengantar saya dengan mobilnya sampai masjid Kampus UGM.

Terima kasih mas Andi atas waktunya juga obrolannya yang berbobot dan mencerahkan saya.

 

Menempuh Jarak 57 km untuk Bisa Akses Internet dan Kopdar

Seorang pria menyapa saat saya melewati gazebo di samping kantor. “Pak Hendro, ya”. Dengan agak ragu saya menjawab ya sambil berusaha mengingat-ingat siapa gerangan orang ini.

Sebelum saya bertanya lebih jauh, dia bercerita kalau dia guru yang bertugas di SMA negeri di salah satu kecamatan di sekitar perusahaan.

“Saya yang pernah kirim email setelah membaca blog bapak. Karena tulisan bapak itulah saya tahu kondisi di kecamatan tempat saya kerja dan gimana cara menuju lokasi itu”ungkapnya

Saya baru ingat, rupanya dia guru yang berasal dari Jawa Tengah yang baru pertama kali merantau ke luar Jawa. Setelah diterima sebagai PNS, dia ditempatkan di kecamatan Bukit Raya kabupaten Katingan. Lokasi yang dekat dengan tempat kerja saya.

Terus dia cerita lagi, setelah browsing di internet, informasi yang detil tentang lokasi kerja dia dapatkan dari tulisan saya di blog.

Setelah itu, dia intensif bertanya via email. Mulai dari kondisi kecamatan, kehidupan masyarakatnya, transportasi menuju kecamatan dari ibukota propinsi sampai minta saran gimana supaya bisa beradaptasi dengan warga di lokasi tersebut.

Nampaknya dia benar-benar ingin tahu situasi tempat dia akan tinggal dan bekerja. Saya pun berusaha menjawab semua pertanyaannya.

Termasuk salah satu yang dia tanyakan apakah ada pantangan saat bergaul dengan masyarakat. Saya bilang kalau bergaul dengan masyarakat jangan menjanjikan sesuatu. Kalau memang nggak bisa terus terang saja bilang nggak bisa.

Setelah puas mendapat jawaban, dia berharap suatu saat bisa bertemu dengan saya.

Dan haraoan itu terpenuhi hari ini. Bersama seorang temannya yang juga guru dan dua siswanya, dia datang ke main camp km 35. Dengan naik sepeda motor, mereka menempuh jarak 57 km untuk mendapatkan akses internet sekalian ingin kopdar dengan saya. Jarak sejauh itu kurang lebih sama dengan Jakarta – Bogor.

“Di kecamatan belum ada sinyal telepon dan internet, Pak. Di camp terdekat di km 83 juga sinyalnya baru 2G. Lambat buat internetan”katanya waktu ngobrol di Gazebo. Saya lihat dua muridnya lagi asyik buka internet di laptop.

Karena saya siang itu ada rencana ke Pontianak, obrolan pun nggak berlangsung lama. Setelah kurang lebih setenagh jam, saya pamit karena kendaraan sudah menunggu.

Sebuah pertemuan yang terjadi di luar rencana. Tak pernah sekali pun janjian sebelumnya. Sebuah pertemuan yang terjadi atas ijin Tuhan. Bukan cuma harapan dia yang terpenuhi, mimpi yang saya posting di English Friday edisi 9 juga menjadi kenyataan. Dan hanya dalam tempo sehari semalam.

Saat menulis postingan ini di bis malam dalam perjalanan ke Pontianak, saya masih belum percaya bahwa mimpi itu terjadi. Ya, mimpi itu ternyata benar-benar terjadi.

Kopdar Ternyata nggak Mudah

Sebelumnya, saya membayangkan kalau kopdar sesama blogger di dunia nyata itu mudah. Apalagi setelah membaca postingan dari teman-teman tentang serunya kopdar. Ditambah lagi foto-fotonya yang menggambarkan kalau kopdar adalah kegiatan yang sangat berkesan dan meninggalkan sejuta cerita.

Janjian ketemu di suatu tempat, tentukan tanggalnya dan sesuai kesepakatan langsung meluncur ke lokasi. Jadilah kopdar. Yang biasa berakrab ria di dunia maya, akhirnya kesampaian bertemu di dunia nyata

Namun dibalik keberhasilan kopdar tersebut, mungkin tidak banyak yang bercerita bagaimana lika-liku dan proses yang dijalani sehingga pertemuan tersebut bisa terjadi. Saya baru mengalami, ternyata untuk kopdar memang nggak mudah.

Mungkin si A bisa datang pada tanggal dan tempat yang ditentukan, tapi bagi si B nggak bisa karena kesibukan pekerjaan. Atau bagi si B pada saat ini ada di rumah dan tidak bepergian, namun si A tidak dapat datang ke kota tersebut karena tidak diijinkan pimpinannya. Cara mensiasatinya, akhirnya dengan menjadikan kopi darat bukan sebagai satu-satunya tujuan pada saat kita bepergian di suatu tempat. Itu pun belum menjamin kopdar bisa terlaksana. Seperti yang saya alami beberapa hari lalu.

Setiap blogger termasuk saya dalam hati kecil pasti ingin ketemu dengan teman-teman blogger secara langsung. Dengan mas Zainal, proses penjajagan untuk kopi darat sudah dilakukan. Mulai dari saling tukar nomor HP, SMS-an, juga bicara lewat telepon.
Dalam komentar postingan, dia pun pernah menanyakan kapan ada waktu ke Sintang. Nah, kesempatan itu datang juga. Akhir Pebruari lalu, dalam waktu seminggu saya tiga hari bolak-balik camp-Sintang.

Pertama, tanggal 24 Pebruari untuk jemput dua orang tamu di bandara. Kedua tanggal 27 Pebruari untuk antar kembali ke bandara 1 orang tamu dari Jerman yang pulang duluan. Ketiga, tanggal 1 Maret kemarin untuk antar satu tamu lagi yang pulang. Waktu antar tamu yang pulang tanggal 27 Pebruari, sempat terlintas dalam pikiran untuk merancang kopi darat dengan Mas Zainal yang domisilinya di Pandan, Kecamatan Sungai Tebelian. Daerah ini selalu dilalui kendaraan yang melintas dari Nanga Pinoh ke Sintang PP. Waktu tempuh kedua tempat itu sekitar 1,5 jam.

Setelah tiba di camp, sore hari saya SMS mas Zainal. Isinya tawaran kopi darat di warung Bakso mas Bejo di pertigaan jalan Pinoh-Sintang tanggal 1 Maret. Rencananya setelah mengantar tamu, pulangnya bisa makan bakso sekalian kopdar dengan Mas Zainal.

SMS terkirim dan saya menunggu balasannya dengan harap-harap cemas, semoga rencana kopi darat dapat dilaksanakan. Balasan SMS saya terima malam hari ketika menemani tamu makan malam. Namun Allah SWT menentukan lain. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Mas Zainal ternyata belum bisa memenuhi permintaan untuk kopi darat tanggal 1 Maret, karena kesibukan pekerjaan. Semoga lain waktu bisa ketemu ya, Mas. Juga dengan teman blogger-blogger lainnya.

1/2 Kopdar

1/2 kopdar? Istilah apa lagi ini? Saya belum temukan istilah yang tepat untuk dua orang blogger yang sudah saling kenal dan kontak tapi belum pernah ketemu langsung. Hubungan keduanya sudah terjalin lewat telpon-telponan tapi belum sampai kopi darat alias ketemu langsung.

1/2 kopdar ini tingkatannya mungkin sudah lebih tinggi ketimbang saling membaca dan komen di postingan. Karena sudah melibatkan komunikasi langsung. Sudah saling tukar nomor hp segala untuk ngobrol. Sudah saling mendengar suaranya, gaya bicaranya atau mungkin sekilas bisa menebak sifat orangnya. Pendiam, ramah, ceplas-ceplos atau malu-malu.

Cerita 1/2 kopdar ini yang saya alami waktu ngobrol sama Mas Zainal, blogger pemilik akun kandangbubrah.wordpress.com yg domisilinya di daerah Sintang dan sekarang lagi mencari sesuap nasi di Tayan, Sanggau. Berawal dari saling komen di postingan, akhirnya dia minta nomor hp saya. Saya kirim via email. Ngobrol lewat telepon pun terjadilah. Cerita keluarga, kerjaan sampai gimana supaya dapat ide untuk ngeblog.

Pertama 1/2 kopdar sama mas Zainal, ada yg bikin saya nggak enak hati. Sering dia ngomong pakai boso jowo kromo madyo, bahasa jawa halus tingkat menengah. Padahal saya sudah bela-belain pakai bahasa Indonesia. Supaya pembicaraannya setara dan nggak perlu ada tingkatan seperti dalam bahasa Jawa.

Apa karena saya yang lebih tua? Padahal di rumahnya, Mas Zainal ini membiasakan bicara dengan istri dan anak-anaknya pakai bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Karena istrinya orang Sunda, sementara anak-anaknya lahir dan besar di Kalimantan.

Obrolan kedua waktu saya di Pontianak. Lama juga waktu itu ngobrolnya, hampir satu jam. Mulai jam 5 sore sampai menjelang maghrib. Rupanya, Mas Zainal ini untuk bisa nelpon harus berjuang. Maksudnya berjuang mendapatkan tempat yang bisa menerima sinyal ponsel.

Biasanya dia manfaatkan waktu pas turun gunung, main atau jalan-jalan ke kota terdekat. Pantas, kalau saya hubungi agak susah, rupanya dia kerja dan tinggal di tempat yang susah untuk terima sinyal. Kadang-kadang obrolan terhenti karena sinyal putus atau gangguan.

Yang saya salut dengan mas Zainal ini semangat belajarnya untuk ngeblog. Setiap turun ke kota, selain telepon dia juga menyempatkan untuk buka internet. Waktu dia tanya gimana supaya dapat ide untuk postingan, saya bilang wah pengalaman dan cerita waktu susahnya mencari sinyal, perjalanan ke tempat kerja atau pisah dengan keluarga bisa jadi bahan postingan yang menarik itu.

Sayang, karena sudah masuk waktu maghrib, obrolan pun berakhir. Terima kasih banyak lho Mas Zainal sudah mau telepon dan ngobrol ngalor ngidul. Meski  kita belum pernah ketemu langsung, tapi sekali ngobrol langsung bisa menyambung dan seolah-olah sudah kenal lama. Padahal kita belum pernah bertemu muka.  Semoga suatu saat bisa full kopdar ya..