Vas Bunga dari Koran Bekas

image

Koran bekas ternyata bisa dibuat
vas bunga. Seperti yang terlihat pada gambar di atas, vas bunga dari kertas koran yang dibuat temannya Nadia di sekolah.

Tugas anak-anak sekolah sekarang ini memang cukup banyak. Mulai PR mata pelajaran sampai membuat prakarya.
Kadang-kadang mengerjakannya berkelompok. Tempatnya juga bergantian. Untuk tugas membuat naskah drama mereka mengerjakan di rumah A. Untuk tugas membuat prakarya, gantian si B yang rumahnya didatangi. Belum lagi kalau ada yang ikut ekstra kurikuler misalkan paskib yang diikuti Nadia. Rumah bisa ramai sama teman-temannya yang datang.

Anak-anak sekolah memang perlu  kegiatan yang positip. Supaya kelebihan energi mereka dapat disalurkan untuk hal-hal yang bermanfaat.

Iklan

Rp 500 yang Amat Berarti

Bagai sebagian dari kita, uang 500 rupiah saat ini mungkin nggak ada artinya. Untuk ongkos parkir atau buang air kecil di toilet umum saja nggak cukup.

Namun tidak demikian hanya bagi seorang ibu penjaja koran di traffic light di daerah Kleringan Jogja. Sampai saat ini, meskipun sudah seminggu lewat, kejadian itu masih sering saya ingat.

Ceritanya, ketika saya mengajak anak-anak ke Malioboro dan melihat Museum Benteng Vredeburg. Dari kampus UGM, kami berempat naik bus Kopata jalur 4. Setelah melewati jalan Pangeran Mangkubumi, bus belok kiri dan berhenti ketika lampu lalu lintas menyala merah.

Pada saat itulah seorang ibu penjaja koran menawarkan dagangannya dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Tak terkecuali kepada penumpang bus. Karena ingin tahu berita terbaru Jogja, saya langsung membeli koran Kedaulatan Rakyat (KR) edisi 28 Agustus 2013.

Sang ibu penjaja koran itu pun menyodorkan selembar KR lewat jendela sebelah kanan bis. Karena lampu lalu lintas nggak lama lagi menyala hijau, saya terburu-buru mengambil uang dari kocek dan menyerahkan uang melebihi harga koran. Kelebihannya Rp 500.

Dan pada saat itu, saya di dalam bis terbengong-bengong dengan apa yang dilakukan sang ibu penjaja koran itu.

Masih di samping bis, ibu itu dengan mata berkaca-kaca begitu mensyukuri pemberian uang Rp 500, “Matur Sembah Nuwun”. Masih dalam bahasa jawa halus, ibu itu juga mendoakan semoga kami diberikan kemurahan rezeki.

Sulit dipercaya. Telinga saya seperti dijewer. Wajah saya seperti ditonjok oleh kejadian itu. Betapa tidak, ibu itu bisa bersyukur kepada Tuhan karena uang Rp 500. Juga mendoakan bagi kebaikan dan keselamatan orang lain.

Sementara itu, saya yang diberikan kemurahan rezeki dari Tuhan, yang nilainya beberapa kali lipat dari uang Rp 500, terkadang masih ngomel. Masih mengeluh, nggak merasa cukup dengan uang yang dimiliki. Juga dengan nikmat-nikmat lainnya yang selama ini diberikan Tuhan. Astaghfirullah al ‘azhiim.

Kipas Koran

Koran jadi Kipas

Ada satu kebiasaan yang sering saya lakukan saat bepergian. Bawa koran cetak. Karena hobi baca, koran-koran yang nggak sempat terbaca waktu di camp, 2-3 eksemplar saya bawa di kendaraan.

Seperti waktu di bis dalan perjalanan Pinoh – Ponti tiga hari lalu (4/3). Jadi sambil nunggu bis milik pemerintah itu berangkat, baca koran dulu. Termasuk jaga-jaga kalau bisnya mogok. Lumayan untuk mengisi waktu.

Berangkat dari Pinoh memang tepat waktu jam 9 pagi. Sekitar 3 jam perjalanan, bis mulai tersendat-sendat. Sempat 4-5 kali mati mesin. Diperbaiki dan mesin menyala, jalan sekitar 100 meter terus mogok lagi. Dua supir pun sibuk bolak balik dari belakang setir ke bagian mesin di belakang.

13 penumpang di dalam mulai kepanasan, karena AC juga padam. Ada keluarga dengan dua anak cowok dan pengasuhnya yang mulai gerah. Anak keduanya masih bayi . Karena mesin belum menyala juga, pengasuhnya sibuk cari-cari kertas untuk kipas. Melihat di dashboard bis ada selembar kertas, dia langsung mencomot.

Seorang bapak yang duduk di kursi paling depan mengingatkan,” Itu yang diambil laporan daftar penumpang”. Sambil senyum-senyum si pengasuh bilang,” Udaranya panas, Pak. AC-nya mati. Cari kertas untuk kipas-kipas”.

Walah, kalau cuma mau kertas kipas, kenapa harus ambil daftar manifest penumpang? Belum tau dia kalau selembar kertas itu penting untuk laporan administrasi supir ke bosnya.

Coba saya tawarkan ke si pengasuh koran-koran yang habis dibaca, “ Ini ada banyak koran, kalau mau bawa aja semuanya”. Dia ambil satu eksemplar terus dia bagi lagi ke si bapak dan ibu yang punya dua anak tadi, selebihnya dikembalikan lagi. Laporan daftar penumpang yang sempat dicomot dikembalikan lagi ke dashboard.

Kaget saya kok cuma diambil tiga lembar “Ambil saja semuanya, nggak apa-apa, kok”saya jelaskan. “Udah cukup kok, pak”. Dia pun nggak mau aji mumpung, dikasih satu eksemplar 48 halaman terus diambil semuanya.

Akhirnya koran itu berubah fungsi, menjadi kipas. Lumayan untuk mengurangi rasa gerah di bis. Senyum-seyum saya melihat koran itu berguna tak hanya untuk dibaca.

Bahagia juga rasanya bisa bantu orang lain, meski hanya dengan memberikan koran. Senang juga rasanya apa yang saya bawa, nggak diduga bisa bermanfaat buat orang lain.

Langsung saya merenung. Ternyata bantuan yang diberikan pada saat yang sangat diperlukan, terasa bermakna meski bentuknya sederhana.

Paperless

IMG00860-20130129-1357

Era tablet telah tiba. Setelah ada sinyal triji, gadget jenis baru itu telah merambah ke pedalaman. Termasuk ke tempat kerja. Beberapa teman mulai tertarik memiliki. Alasannya, untuk baca berita lebih nyaman daripada dari ponsel atau Blackberry.

Dengan 1-1,5 juta rupiah sudah bisa dapat tablet. Macam-macam berita bisa didapat, cepat lagi. Uang langganan koran setahun nilainya bisa dapat sebiji tablet.

Kalau langganan koran atau majalah cetak, beritanya terbatas. Juga nggak bisa cepat dapat informasi. Hari ini ada banjir di Jakarta, baca beritanya baru 2 hari kemudian. Kalau pakai tablet, bisa tahu dan baca hari itu juga.

Tak bisa dihindari, pembaca setia koran cetak dan majalah di kantor pun menurun drastis. Kalau dihitung, yang masih berlangganan nggak sampai belasan orang. Koran dan majalah digital telah menjadi mainan baru. Untuk baca berita, cukup geser kiri-kanan atau atas-bawah layarnya.

Godaan untuk punya tablet belum mampu meruntuhkan minat saya pada koran cetak. Meski saat ini sudah masuk era paperless, langganan koran cetak masih jalan terus. Nggak tahu sampai kapan, kesetiaan pada koran cetak ini bisa bertahan.

Membaca koran cetak sudah mendarah daging sejak SMP hingga kini. Agak berat rasanya berpindah ke koran digital. Koran cetak beritanya terbatas itu betul, informasi lebih lambat diterima juga nggak salah.

Bukan informasi yg beraneka ragam atau kecepatan berita, tapi kedalaman informasi dan berita yang saya cari. Poin ini yang masih belum bisa tergantikan oleh koran atau majalah digital.

Cuma itu alasannya? Nggak juga sih. Langganan koran cetak juga bermanfaat buat orang lain.  Lho, kok bisa?

Kalau ada tamu-tamu yang cari kertas koran untuk bikin herbarium, mereka diarahkan supaya cari saya. Ada juga teman yang mengecat ulang kamarnya, terus cari saya. Bukan disuruh bantu mengecat, tapi minta koran bekas supaya lantai nggak kotor kena cat.