Ikut Mudik Setelah Teman Kerja Banyak yang Mudik

Ini cerita teman yang baru saja memutuskan mudik, setelah melihat teman-teman kerja lainnya banyak yang pulang kampung. Awalnya teman tersebut sudah berniat untuk lebaran di camp. Bersama-sama keluarga yang naik ke camp saat liburan. Namun tadi pagi, waktu ketemu di bagian HRD, dia memberitahukan akan ijin. Mungkin karena keluarganya yang dari Pontianak tidak bisa datang.

Memang rasanya seperti ada yang hilang kalau berlebaran tanpa keluarga. Saya pernah mengalaminya. Lebaran sendiri di camp dan keluarga di Pontianak. Rasa sedih bertambah ketika saya tahu anak saya yang kedua, Aysha, sakit di hari-hari lebaran. Betapa repotnya istri saya ketika itu membawa Aysha berobat, karena banyak dokter yang sudah tutup praktek. Akhirnya, Aysha dibawa ke rumah sakit yang ada dokter jaga  24 jam.

Rasa sedih itu makin kuat saat melantunkan takbir. Air mata jatuh tak terbendung ketika shalat. Waktu itu ada perasaan bersalah dan menyesal terhadap keluarga.  Kenapa tidak ijin 2-3 hari saja merayakan lebaran di Pontianak. Padahal perjalanan hanya 12 jam saja. Atau ajak keluarga ke camp untuk berlebaran bersama.

Dari pengalaman itu, saya merasa salut dan angkat jempol bagi siapa saja yang berlebaran tanpa bisa berkumpul bersama keluarga. Saya bisa memahami perasaan mereka yang tetap menjalankan tugas di tengah kerinduan bertemu istri dan anak-anaknya.

Seperti para prajurit yang bertugas di perbatasan, para TKI yang berada di negeri orang atau petugas keamanan yang mengatur lalu lintas agar perjalanan para pemudik lancar dan nyaman. Kepada mereka saya berdoa semoga Tuhan memberikan keselamatan dan bisa berkumpul lagi bersama keluarga.

 

Lebaran Tahun ini Nggak Mudik

Nggak terasa sudah memasuki pertengahan bulan Ramadhan. Berarti sekitar dua minggu lagi lebaran Idul Fitri tiba. Bagi teman-teman yang mau mudik ke kampung halaman, yang pasti sudah siap-siap nih. Siap kendaraannya, tiket perjalanannya, oleh-oleh plus nanti akan nyekar atau berwisata ke mana setelah bertemu orangtua dan sanak saudara. Baru membayangkan saja sudah bahagia rasanya. 🙂

Namun untuk saya dan keluarga, lebaran tahun ini nggak pulang ke Jogja dan Semarang. Karena tahun kemarin sudah mudik ke Jawa meski momennya nggak pas lebaran. Rencananya sih tahun ini mau merayakan lebaran di Pontianak. Setelah sholat Ied, makan-makan di rumah, terus jalan-jalan ke tempat wisata yg belum pernah dikunjungi.

Itu rencana awal yang sudah dibicarakan dengan anak-anak dan ibunya. Kenapa kok acaranya jalan-jalan ? Karena memang di Pontianak ini nggak ada keluarga atau sanak saudara. Yang ada tetangga dan teman-teman kerja. Kedua, selama ini kalau saya ada tugas di Pontianak, jarang mengajak keluarga refreshing ke tempat-tempat terbuka. Biasanya cuma pergi ke mall untuk belanja.

Nah, libur lebaran ini ingin saya gunakan untuk jalan-jalan bersama keluarga ke dua tempat: Taman Fantasia Kalbar dengan Wisata Kebun Rindang Alam. Lokasinya masih di dalam dan sekitar kota Pontianak. Moga-moga bisa terlaksana.

 

 

 

Lebaran dan Liburan di Hutan

IMG01216-20130809-1018

Meski terlambat, nggak ada salahnya saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1434 H buat teman-teman blogger semua. Kalau ada kesalahan dan kekhilafan, mohon dimaafkan ya.

Nggak terasa sudah sepuluh hari nggak berbagi cerita buat teman-teman. Urusan pekerjaan offline memang benar-benar menyita waktu, sehingga baru sekarang bisa menulis lagi. Apalagi ada acara mendadak, keluarga ingin berlebaran dan liburan di tempat kerja. Wow….

Tahun ini sebenarnya nggak ada rencana keluarga berlebaran di tempat kerja, di hutan yang jauh dari keramaian. Tapi karena ada masalah dengan maskapai penerbangan yang pernah saya ceritakan di postingan ini, akhirnya rencana berubah 180 derajat.

Ini salah satu contoh lagi bicara tentang rencana. Meski jauh hari saya bikin rencana mudik lebaran ke Jawa, ternyata bisa meleset dan nggak seperti yang diharapkan.

Meski gagal berlebaran di Jawa, ternyata keluarga punya rencana lain, lebaran di camp. Di musim libur sekolah dan lebaran ini, istri dan anak-anak yang masih SD dan SMP ingin berlebaran di hutan. Mendengar keputusan seperti itu, saya pun langsung bergerak cepat.

Menyiapkan bahan makanan dan perlengkapan yang diperlukan. Beli beras, minyak goreng, gula, mie instan, telur ayam, ikan dan bahan makan lainnya. Mencuci perlengkapan masak yang berdebu, bersih-bersih kamar dan nggak lupa juga minta jatah BBM untuk keluarga yang diberikan oleh perusahaan.

Nggak hanya itu, saya perlu turun ke Pinoh tanggal 4 Agustus yang lalu untuk jemput keluarga yang rencananya tiba di Pinoh keesokan harinya. Semua anggota keluarga ikut ke camp. Istri dan keempat anak untungnya dapat tiket bis Pontianak-Pinoh meski pesan tiketnya juga mendadak.

Meski tinggal di tengah di hutan hanya seminggu, karena anak-anak yang SMP dan SMA masuk tanggal 14 Agustus, banyak cerita seru dan berkesan bagi anak-anak.

Keluarga tiba di Pinoh tanggal 5 Agustus pagi sekitar pk 04.15. Setelah istirahat dan mandi di losmen, saya dan istri belanja keperluan lebaran di pasar. Beli ayam potong, daging sapi yang harganya benar-benar melambung hingga 120.000 rupiah per kg dan akhirnya setelah kami berdiskusi, cukup beli ½ kg saja. Kemudian beli tahu, tempe dan sayuran untuk persiapan lebaran di camp.

Meski semua bahan makanan sudah lengkap, ada satu yang masih kurang, ketupat. Kalau lebaran tanpa ada ketupat kayaknya bukan serasa lebaran. Setelah cari ketupat di pasar nggak ketemu, akhirnya kami berenam berangkat ke camp. Perlu waktu 2 jam untuk sampai ke mess.

“Kalau nggak ada ketupat, kita bikin lontong saja, Mas”kata istri waktu di camp. Karena kebetulan di belakang mess ada pohon pisang dan daunnya bisa dipakai untuk bikin lontong. Rencana bikin ketupat sudah mulai dilupakan dan berganti dengan bikin lontong.

Hingga satu hari menjelang lebaran, ada salah seorang office boy yang menyeret daun kelapa dan diletakkan di depan kamar. Rupanya dia disuruh salah seorang teman yang tinggal bersebelahan yang juga ingin bikin ketupat.

Kami pun ditawari untuk mengambil beberapa helai daunnya. Benar-benar pucuk dicita ulam pun tiba. Keinginan menghidangkan ketupat pun terpenuhi. Ternyata ada hikmahnya juga waktu di pasar nggak dapat ketupat yang sudah jadi. Lho kok bisa begitu?

Ya, karena masih berbentuk daun kelapa, dengan sendirinya bahan-bahan itu harus dianyam menjadi ketupat. Istri yang pernah diajari ibunya bikin ketupat, mulai mencoba lagi menganyam ketupat satu per satu. Nggak mudah memang, setengah hari kerja baru dapat 8 buah. Padahal targetnya 25 buah yang perlu disediakan untuk lebaran.

IMG01204-20130807-0928

Hanya tinggal sehari menjelang lebaran. Syukurlah, anak kedua, Aysha yang baru masuk SMP, rupanya tertarik bikin ketupat. Dia pun minta diajari, mulai cara menganyam sampai mengisinya dengan beras.

Coba kalau beli ketupat yang sudah jadi, mungkin Aysha nggak akan tahu cara bikinnya. Sempat terpikir, kenapa ya di sekolah waktu ada pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan, murid-murid nggak diajari bikin ketupat. Padahal itu kan bagian dari budaya dan tradisi bangsa kita?

Hari pertama lebaran diisi dengan acara bersilaturahmi ke rumah karyawan yang ada keluarganya. Selanjutnya, di hari kedua lebaran, anak-anak yang cowok mengajak main di taman sekolah dan mandi di sungai. Rupanya mereka masih ingat pengalaman dua tahun lalu ketika juga lebaran di camp, mereka senang sekali main-main di sungai

IMG01222-20130809-1022

Andra dan Nabil yang masih SD, begitu melihat sungai yang jernih, langsung menceburkan diri dan mandi. Nggak ada rasa takut sama sekali, padahal sungainya berbatu. Rasanya senang sekali mereka bisa mandi dan main air di sungai. Sebuah pengalaman masa kanak-kanak yang nggak mudah terlupakan.

IMG01252-20130809-1101

Ternyata berlebaran di hutan, memberikan kesan mendalam buat anak-anak. Mereka nggak hanya kenal permainan di dalam ruangan seperti main game di komputer atau playstation. Permainan yang kurang merangsang aktivitas fisik anak-anak.

Dengan berlebaran sekaligus berlibur di tengah hutan, gerak fisik mereka tersalurkan. Mereka juga belajar dari alam dan memanfaatkan benda-benda yang ada untuk dijadikan sebuah hasil karya.

Bikin ketupat, bikin lontong, keliling bersilaturahmi ke tetangga-tetangga, hingga mandi dan main air di sungai. Semua itu adalah pengalaman yang bisa jadi akan terbawa hingga mereka dewasa.

Tradisi Mudik

Tanpa terasa, kita sudah berada di pertengahan bulan Ramadhan. Artinya, dua minggu lagi lebaran akan tiba. Bagi yang ingin mudik, segala persiapan pasti sudah dilakukan. Untuk transportasi, pesan tiket bis, kereta atau pesawat paling tidak sudah dilakukan 1-2 bulan sebelumnya.

Tempat tinggal waktu berada di kampung halaman  sudah disiapkan, apa mau nginap di rumah orangtua, saudara atau di hotel. Demikian juga oleh-oleh untuk sanak saudara dan kerabat tak lupa disediakan.

Mudik atau pulang kampung memang fenomena tahunan yang memerlukan persiapan ekstra. Harapannya supaya selama perjalanan dan di kampung halaman semuanya bisa lancar.

Demi bertemu dengan orangtua dan kerabat, terkadang kita memaksakan diri supaya bisa pulang. Logika sering terkalahkan oleh keinginan yang kuat untuk pulang.

Meski harga tiket melambung tinggi tetap dibeli. Walau biaya mudik menguras tabungan, jadwal mudik tetap dilanjutkan. Bahkan kalau perlu cari utangan. Meski mengalami kemacetan berjam-jam di jalan, semangat untuk bertemu handai tolan tetap tak terkalahkan.

Di beberapa negara lain yang penduduknya mayoritas muslim, seperti Arab Saudi, Iran atau negeri tetangga seperti Malaysia dan Brunei, fenomena mudik lebaran tampaknya tak seheboh seperti di Indonesia.

Inilah budaya atau tradisi yang tampaknya hanya ada di Indonesia. Tradisi tahunan yang mampu menggerakkan jutaan orang untuk pulang ke kampung halaman pada waktu yang bersamaan. Tanpa komando dan tanpa perintah, para pemudik berbondong-bondong meninggalkan kota tempatnya mencari nafkah.

Sebenarnya, apa sih yang menyebabkan para pemudik rela dan berjuang habis-habisan untuk bisa pulang? Dorongan apa yang mampu mengalahkan logika para pemudik bahwa sebenarnya pulang kampung atau mudik tak hanya waktu lebaran?

Tak mudah memang menjawabnya. Namun bagi para pemudik yang biasanya juga seorang perantau, ada semacam rasa kebahagiaan dalam hati saat bisa pulang ke kampung halaman.  Rasa kebahagiaan bisa bertemu dengan orangtua dan sanak saudara. Dan waktu yang tepat adalah saat lebaran.

Kerinduan untuk sungkem dengan kedua orangtua atau berziarah ke makam orangtua yang telah meninggal. Bermaaf-maafan dengan sanak saudara. Juga bertemu dengan ponakan-ponakan yang lucu-lucu.

Juga kerinduan dengan tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan. Kerinduan berkumpul lagi dengan teman bermain semasa kanak-kanak. Kerinduan akan semua pengalaman dan kisah masa kecil di kampung halaman yang nggak mudah untuk dilupakan.

Mudik adalah cara untuk mengobati rasa kerinduan dalam hati akan kampung halaman, dan untuk sejenak melupakan rutininas pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran. Rutinitas yang terkadang melupakan jati diri kita dan hubungan dengan orangtua serta sanak saudara.

Tak hanya itu, mudik juga mengingatkan siapa diri kita, asal usul kita dan darimana kita berasal. Untuk menyadarkan kita bahwa sejauh-jauhnya kita bepergian, suatu saat akan pulang.

Kalau sudah seperti itu, mudik rasanya tak hanya perjalanan yang bersifat fisik, namun juga psikis, bahkan spiritual.

Tahun ini Nggak Mudik

Tahun ini, saya dan keluarga tidak mudik ke tempat orangtua di Jogja dan Semarang. Sesuai hasil kesepakatan dengan istri dan anak-anak, rencana merayakan lebaran diputuskan di Pontianak. Sudah cukup lama tidak bersilaturahmi dengan tetangga dan teman-teman kerja. Dingat-ingat, sudah cukup lama juga tidak berlebaran di Pontianak. Terakhir 5 tahun yang lalu.

Tahun lalu? Sama saja. Saya malah lebaran di camp. Kalau yang bekerja di kota, biasanya sang ayah atau suami yang pulang ke rumah dan sudah ditunggu anak-anak dan istri tercinta.

Karena saya kerja di hutan dan tinggal di camp, malah sebaliknya. Keluarga yang datang ke tempat kerja. Istri dan empat orang anak berangkat dari Pontianak menumpang bis malam sekitar 10 jam. Saya yang datang menjemput mereka di Nanga Pinoh.

Tiba di Nanga Pinoh dilanjutkan menggunakan kendaraan kijang carteran ke logpond, tempat pengumpulan kayu bulat yang berada di tepi sungai Melawi. Waktu tempuhnya sekitar 1 jam 15 menit. Dari sini dilanjutkan lagi menggunakan kendaraan perusahaan ke lokasi base camp sekitar 45 menit. Jadi total perjalanan Pontianak – Nanga Pinoh – Base Camp sekitar 12 jam.

Ada yang disenangi anak-anak saya kalau berlebaran di camp. Apa itu? Berlebaran sambil berwisata. Untuk yang nomor tiga dan empat, Nabil dan Andra, cowok-cowok yang umurnya 5 dan 6 tahun, lebaran di camp berarti bermain sepuasnya. Memberi makan ikan di kolam depan kantor dan bermain di sungai Ella Hulu yang airnya jernih. Segala macam permainan di taman sekolah juga dicoba.  Jungkat-jungkit, papan luncuran, ayunan hingga memanjat dinding dari tali.

Bagi dua orang kakaknya yang cewek, liburan di camp berarti bisa menyalurkan hobi. Nadia, sulung yang punya kegemaran memotret senang bisa mendapatkan obyek-obyek baru yang tidak ada di kota. Lingkungan base camp yang berbukit-bukit, taman di sekitar kantor, mess karyawan yang rapi sampai kondisi hutan yang masih asri. Hasil jepretannya lumayan juga. Bagi siapa saja yang punya hobi fotografi, pasti senang melihat begitu banyak obyek bagus yang bisa diabadikan di camp.

Untuk anak kedua, Aysha, liburan di camp berarti bisa bermain-main dengan teman-teman sebaya yang cuma setahun sekali bertemu. Kapan? Kalau tidak waktu libur tahun ajaran baru ya pas lebaran.

Tidak hanya itu, ada satu momen khas yang sering diingat anak-anak waktu lebaran di camp. Apa itu? Berbalas kunjungan. Selesai sholat ied, bisanya ada kunjungan teman-teman kerja ke rumah. Sebagai tuan rumah, menghidangkan berbagai jenis kue dan minuman sudah merupakan tradisi yang tidak pernah ketinggalan.

Setelah bersalaman dan ngobrol-ngobrol sebentar, mereka akan pamit dan berkunjung ke rumah keluarga lainnya. Setelah tamu pulang semua, Giliran saya dan keluarga yang berkunjung ke teman-teman kerja yang lainnya, terutama yang sudah bekeluarga. Waktunya bisa siang atau sore harinya. Dan kunjungan balasan ini afdolnya bisa dilakukan bersama-sama dengan keluarga lainnya yang sudah dikunjungi.

Anak-anak, terutama yang kecil-kecil senang kalau ikut kunjungan balasan. Saya juga heran. Biasanya kalau di Pontianak diajak ke tetangga atau teman istri saya, mereka jarang ada yang mau. Tetapi waktu di camp, diajak berkeliling ke rumah-rumah, mereka justru bersemangat. Setelah diselidiki, ternyata waktu berkunjung keliling ke rumah-rumah, mereka senang melihat dan mencoba berbagai kue yang dihidangkan tuan rumah. Bermacam-macam kue basah, kue kering, manisan, permen baik buatan toko atau buatan sendiri, secara khusus disajikan di atas meja plus minumannya. Minumannya pun beraneka ragam : aqua, minuman kaleng, sirup.

Pengalaman seperti itu yang tidak mereka jumpai ketika berlebaran di tempat kakek neneknya. Peristiwa silaturahmi bergantian atau saling berbalas kunjungan yang tidak dialami ketika anak-anak mudik. Beda tempat memang beda budaya.

Di Jogja atau Semarang, kalau kita ketemu teman dan keluarganya dilapangan selesai sholat Ied, kemudian bersalaman sudah diartikan bersilaturahmi. Bertemu dengan tetangga di depan pagar rumah dan bersalaman sudah dianggap bersilaturahmi.

Namun di Pontianak atau di base camp lain lagi. Namanya bersilaturahmi yang mesti berkunjung ke rumah dan mencicipi hidangan yang disajikan. Tidak hanya itu, ada kunjungan balasan bagi tuan rumah ke tempat tinggal tamunya. Terutma bagi mereka yang sudah bekeluarga. Mirip dengan blogwalking kalau di dunia blogging. Datang dan meninggalkan jejak dengan berkomentar.