Mengecat Ulang Rumah Tanpa Bantuan Tukang

Untuk mengecat ulang dinding rumah menjelang lebaran, biasanya kami memanggil tukang langganan. Pak Sukran namanya. Dibantu anak atau keponakannya, mereka mengerjakan pengecatan dinding depan rumah dan sekaligus tiang-tiang pagar. Jika ada uang lebih, kami minta juga mengecat ulang dinding dalam rumah. Mulai ruang tamu, ruang keluarga juga kamar tidur.

Tapi tahun ini istri saya punya ide lain. Ingin mengecat ulang dinding dalam rumah bersama anak-anak yang saat ini lagi liburan. Wah, saya nggak mengira dia nggak mau pakai tukang. Alasannya supaya anak-anak ada kerjaan dan hemat uang.

Istri melibatkan anak-anak mulai dari memilih warna cat, membeli di toko sampai mengecat. Anak-anak saat ini memang sedang libur panjang. Setelah Aysha dan Andra ikut tes Ujian Nasional (UN), mereka banyak waktu luang menunggu pengumuman. Apalagi bertepatan bulan puasa. Jadi lebih banyak di rumah. Si bungsu, Nabil, juga ikut membantu.

Sebelum dicat ulang, warna dinding rumah kami cuma satu. Krem. Mulai dinding teras, ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur sampai dapur. Setelah dicat ulang warnanya berubah. Nggak hanya satu warna, tapi berwarna-warni. Ruang tamu dicat warna abu-abu, ruang keluarga warna biru muda, kamar tidur anak diganti warna hijau muda. Benar-benar  pangling waktu saya lihat fotonya di WA.

Saya nggak tahu mereka dapat ide dari mana. Yang jelas, ruangan di dalam rumah terasa lebih segar dan ceria. Warna dinding yang baru dicat ulang itu serasa memancarkan energi dan semangat baru bagi saya dan keluarga.

Memang sesekali membuat suasana berbeda itu perlu. Supaya nggak monoton. Meski hanya mengganti warna dinding rumah kita.

Liburan Nadia ke Jogjakarta dan Malang

Nyekar ke makam BK

“Saya cuma antar Nadia ke bandara, Mas. Setelah dia masuk ruang check in, saya pulang. Nanti di Jogja eyang kakung yang jemput di bandara”kata istri ketika sudah sampai di rumah.

Tiket Pontianak – Jogja pergi pulang sudah saya belikan untuk liburan Nadia. Inilah pengalaman pertama dia bepergian naik pesawat sendirian. Saya dan mamanya percaya, dia sudah bisa liburan ke Jogja tanpa harus diantar. Sudah kelas XII.

Sebelumnya dia selalu bersama keluarga kalau pulang ke Jogja. Tapi inilah saatnya dia harus mandiri. Antri check in, masuk ruang boarding, tunggu panggilan naik pesawat, mendarat di Jogja dan antri ambil bagasi semuanya harus dia lakukan sendiri. Nggak harus didampingi orangtuanya lagi.

Adik eyang putrinya yang tinggal di Jogja saja sampai kaget,”Berani ya dia pergi sendirian”. Saya masih ingat ketika pertama kali pergi sendirian antar kota ya  kelas 3 SMA. Tapi jaraknya nggak jauh, cuma dari Jogja ke Semarang naik travel.

Sebenarnya tujuan Nadia ke Jogja nggak cuma untuk liburan, tapi juga mewakili pertemuan keluarga besar dari pihak istri di Malang tanggal 26-27 Desember. Nadia mewakili keluarga dari Pontianak. Dari Jogja yang berangkat eyang putri, eyang kakung, oom, tante yang tinggal di Jogja juga ponakan-ponakan. Kakaknya eyang putri yang tinggal di Bandung juga ikut berangkat sama-sama dan singgah di Jogja dulu.

Ke Malang nggak cuma untuk hadir di acara pertemuan keluarga besar, dia juga ingin lihat kampus Universitas Brawijaya (UB). Ceritanyanya sih waktu SNMPTN nanti dia mau milih UB. Ambil jurusan Akuntansi dan Sastra Cina. Lihat kampusnya dulu untuk meyakinkan hati dan pilihan.

“Kok milih UB? Peluang diterimanya lewat SNMPTN lebih besar”kata Nadia. Tahun lalu ada tiga kakak kelasnya yang diterima lewat jalur undangan di UB. Kampus akan melihat track record SMA dan peserta SNMPTN yang diterima dan daftar ulang pada tahun-tahun sebelumnya.

Lihat foto-fotonya waktu diunggah oom dan tantenya di WA, bikin saya ingin ke Malang. Singgah di makam bung Karno di Blitar, ketemu dengan keluarga-keluarga lain, foto bareng. Apalagi waktu makan di bakso President Malang, walah antriannya sampai panjaaang.

Tiga hari lalu, ketika sore saya telepon dia, rombongan keluarga sedang dalam perjalanan pulang ke Jogja. Waktu itu baru sampai Blitar. Rupanya keluarga besar pulang lewat jalur selatan. Malang – Blitar – Trenggalek – Ponorogo – Gunungkidul – Jogja. Berbeda dengan rute perginya yang lewat Solo – Madiun – Kediri – Malang.

Wah, benar-benar liburan seru dan lengkap. Menikmati wisata sejarah, wisata kuliner, ketemu keluarga besar sambil lihat-lihat kampus yang diidam-idamkan.

Janji yang Harus Ditepati

Jpeg

Yang namanya janji itu sekuat tenaga kudu ditepati. Termasuk juga janji sama anak-anak. Waktu keluarga liburan di camp, si bungsu Nabil, pengin banget main ke sungai. Karena baru datang di camp tanggal 24 Desember siang hari dan sibuk bongkar barang-barang bawaan,  rencana main ke sungai masih belum bisa dipenuhi.

Besoknya hari libur 25 Desember, setelah sarapan anak-anak saya ajak jalan-jalan dulu ke sekitar kantor. Lihat taman, ngasih makan ikan di kolam, terus mampir ke contoh rumah adat. Lokasinya memang nggak jauh dari mess karyawan, cukup jalan kaki 3-5 menit sudah sampai. Yang paling senang  waktu lihat anak-anak ngasih makan ikan di kolam depan kantor. Asyik banget mereka, sampai lupa waktu kalau nggak diingatkan. Sebelum ngasih makan ikan, mereka sudah bawa umpan ikan dari rumah. Kadang-kadang mereka juga cari serangga yang sembunyi di rumput, bunga-bunga sampai pohon, terus diambil dan dicemplungkan ke kolam.

Jpeg

Ikan-ikan itu tahu kalau ada orang yang mendekat mau kasih makan. Waktu saya ambil fotonya dari tempat yang agak tinggi, kelihatan mereka serius banget ngasih makan ikan. Habis dari kolam terus jalan ke atas, lihat contoh rumah adat dayak. Rumah adat ini dindingnya dari kulit kayu, bukan dari papan apalagi batu bata. Kemudian atapnya dari sirap pohon ulin. Posisinya ada di atas kolam ikan. Bentuknya rumah panggung. Jadi kalau mau naik  harus meniti anak tangga yang dibuat dari batang pohon ulin, terus untuk pijakannya dibikin cekungan-cekungan di batangnya. Bentuk tangga ini sekilas mirip badan manusia, di ujungnya dipahat berbentuk kepala manusia.

Sebenarnya rumah adat ini dibuat perusahaan sebagai contoh kalau ada tamu- tamu yang ingin lihat seperti apa sih rumah adat orang dayak itu. Karena di desa-desa, saat ini rumah seperti itu sudah jarang dibangun warga. Mereka  memilih membuat rumah berdinding semen dan beratap seng.

Nggak terasa hari sudah siang, saatnya untuk makan dan istirahat. Waktu itu saya janji sama anak-anak main ke sungainya sore hari saja. Namun apa hendak dikata, sekitar jam 3 sore tiba-tiba cuaca berubah. Yang awalnya pagi sampai siang cerah terus mendung dan hujan. Akhirnya acara main di sungai sore itu batal. Saya bilang ke Nabil, diganti hari lain saja ya Nak, karena biasanya kalau habis hujan arus sungainya deras.

Tanggal 26-31 Desember saya masih kerja seperti hari-hari biasa, kemungkinan ngajak main ke sungai bisanya setelah jam 4 sore. Selain waktunya pendek, itupun masih tergantung kondisi cuaca juga. Akhirnya janji main di sungai bisa dipenuhi waktu libur  1 Januari 2015. Dua hari sebelum mereka pulang ke Pontianak. Alhamdulillah, pagi itu cuaca cerah, sinar matahari terasa begitu hangat. Saya, istri dan anak-anak semuanya sudah bersiap-siap jalan kaki ke sungai. Jaraknya sih nggak jauh, sekitar 300 meter dari kamar dengan menyusuri jalanan yang menurun dan melewati beberapa anak tangga.

Baru saja keluar dari kamar sekitar jam 9, sudah ada anak tetangga yang mau ikut juga mandi di sungai.

Saya bilang,”Sudah minta ijin sama ayah belum?”.

“Sudah”, kata Farhat, teman main Nabil dan Andra selama di camp.

Rupanya bukan cuma dia saja yang ikut, Sulthon, kakaknya yang kelas 3 SD seperti Nabil juga ikut. Jadilah kami berdelapan pagi itu menuju sungai. Bekal makanan ringan dan minuman nggak lupa dibawa. Kalau urusan perbekalan ini tugasnya Aysha. Dia bawa ransel yang isinya kue-kue kering, aqua dan juga baju ganti untuk Nabil dan Andra. Nadia yang kebagian tugas jadi juru potret. Sebelum mandi di sungai, singgah  di gazebo, tarik napas dulu setelah letih jalan kaki. Makan kue dan minum sambil lihat anak-anak main di taman sekolah.

Jpeg

Puas main di taman, Nabil dan teman-temannya sudah nggak sabaran ingin ke sungai. Rupanya di sungai sudah ada karyawan lain dan keluarganya yang duluan mandi. Ada juga yang duduk-duduk di tepi sungai menyiapkan bekal makanan. Kalau main ke sungai memang sebaiknya bawa bekal makanan, karena habis mandi terasa dingin terus lapar. Jadi harus istirahat sebentar sambil ngemil. Coba saja lihat di foto, kelihatan kalau kalau Farhat yang habis mandi di sungai terus kedinginan dan menggigil hahaha… untung waktu itu bawa makanan.

Jpeg

Kadang-kadang teman-teman karyawan nggak cuma bawa bekal kue, mereka malah bawa ikan atau ayam yang sudah dibumbui dan dibakar di tepi sungai. Jadi setelah mandi atau berenang, perut terasa lapar langsung menyantap ikan atau ayam bakar….. sedap benar rasanya. Sensasinya itu, lho. Makan ikan bakar buatan sendiri di sungai sama keluarga. Sebuah momen yang jarang didapatkan kalau kita di tinggal kota.

Inilah acara liburan yang disenangi anak-anak. Pergi ke camp dan mandi di sungai. Rasanya memang lain dibandingkan kalau mandi dan berenang di kolam renang. Meski ada juga yang bilang, kok liburan bukan ke tempat keramaian, tapi menyepi ke hutan. Kepuasan batin juga kebahagiaan merasakan air sungai yang jernih dan segar, bermain di taman yang luas, menikmati pemandangan alam yang asri itulah yang menjadi kenangan manis bagi anak-anak dan istri.

Berlibur dan Berwisata di Tempat Kerja, Kenapa Tidak?

P1010124a

Berbahagialah para orangtua yang di akhir tahun ini dapat berlibur dan berwisata dengan keluarga dan buah hati tercinta. Akhir tahun biasanya memang bertepatan dengan liburan anak sekolah. Bagi orang tua yang bekerja, akhir tahun juga merupakan saat yang tepat untuk mengambil cuti atau ijin untuk sejenak keluar dari rutinitas pekerjaan. Refreshing, menikmati suasana baru bersama keluarga adalah momen berharga dan penting sebelum kembali bekerja.

Namun bagaimana dengan orangtua yang tidak bisa cuti atau ijin, sementara anak-anak menginginkan bisa berwisata selama liburan? Haruskah keinginan anak-anak untuk berlibur dan menyegarkan pikiran setelah disibukan dengan belajar, les dan ekstrakurikuler batal gara-gara orangtua tidak bisa ikut? Adakah cara lain agar anak-anak tetap dapat berwisata sementara orangtuanya tidak meninggalkan tempat tugas?

Sebenarnya dua kepentingan antara orangtua yang bekerja dan keinginan anak-anak berwisata selama musim liburan bisa saja berjalan bersama. Kita lihat tak sedikit orangtua yang bekerja di beberapa obyek wisata atau tempat yang memiliki potensi wisata. Kenapa tidak memanfaatkan tempat kerja orangtua tersebut untuk kegiatan anak-anak selama liburan?

Berlibur dan Berwisata  di Tempat Kerja Orangtua

Saat ini telah berkembang bermacam jenis wisata di tanah air mulai dari wisata alam, wisata kuliner, wisata sejarah, wisata budaya, wisata belanja sampai wisata religi.

Bagi yang orangtuanya bekerja di tempat-tempat wisata bernuansa alam seperti taman margasatwa, kebun binatang, taman nasional, atau taman hutan raya, tak ada salahnya anak-anak memanfaatkan waktu liburan untuk berkunjung ke lokasi tersebut. Anak-anak dapat menikmati suasana alam pegunungan, hutan, flora-fauna dan pemandangan yang selama ini mungkin hanya didapat dari buku bacaan atau internet. Anak-anak yang aktif di organisasi pecinta alam dan punya hobi berpetualang tentu akan senang berwisata di tempat-tempat seperti ini.

Tak hanya itu, orangtua yang bekerja di situs-situs budaya seperti seperti museum dan bangunan peninggalan sejarah, liburan sekolah adalah saat yang tepat untuk memperkenalkan anak-anak akan riwayat sebuah situs budaya. Tak hanya itu, anak-anak yang orangtuanya berkarier sebagai dosen atau akademisi, bisa saja mengenalkan kampus sebagai tempat wisata pendidikan bagi anak-anaknya. Berjalan-jalan ke fakultas tempatnya mengajar, melihat ruang perpustakaan, mengamati berbagai percobaan atau riset di laboratorium adalah pengalaman berharga untuk mengenalkan dunia pendidikan tinggi kepada anak-anak.

Berwisata kuliner di dengan belajar membuat masakan khas juga bisa dilakukan anak-anak saat mengisi liburan sekolah. Orangtua yang bekerja di perusahaan katering, rumah makan, restoran bisa saja mengajak buah hatinya untuk mempelajari seluk beluk bagaimana suatu masakan di buat. Mulai dari pemilihan bahan, proses memasak hingga menghidangkan. Dengan demikian tak hanya para mahasiswa saja yang diberikan kesempatan oleh perusahaan untuk praktek atau magang. Karyawan yang telah bekerja belasan hingga puluhan tahun sudah selayaknya anak-anaknya juga diberikan kesempatan.

Penghargaan bagi Karyawan

Kesempatan liburan bagi anak-anak di tempat kerja orangtuanya tersebut bisa dijadikan sebagai salah satu bentuk penghargaan kepada karyawan. Bila selama ini perusahaan memberikan reward bagi karyawan berprestasi dalam bentuk uang, voucher belanja atau tiket pesawat, tak ada salahnya pada kesempatan berikutnya mengundang anak-anak untuk menikmati berlibur di tempat sang ayah bekerja. Penghargaan semacam ini tentu akan bermanfaat bagi perusahaan, karyawan dan keluarganya.

Bagi karyawan, penghargaan perusahaan dengan memberikan fasilitas agar anak-anaknya dapat bertemu dengannya adalah sebuah kebahagiaan yang tiada terkira. Pernah kan lihat iklan teh celup di televisi yang menceritakan seorang ibu yang bekerja di sebuah restoran di negeri jiran? Setelah bekerja dia teringat dengan anak-anaknya di rumah saat menonton televisi. Rasa rindu dengan anak-anaknya membuatnya merenung di tempat kerja. Hingga akhirnya tanpa diduga dari balik pintu munculah anaknya didampingi kakek neneknya. Rasa haru pun dirasakan oleh sang ibu. Sambil meneteskan air matanya, ibu itu memeluk anaknya erat-erat. Bila melihat iklan itu, saya terkadang ikut juga terharu.

Bagi perusahaan yang bergerak di dunia pariwisata, kepuasan wisatawan adalah nomor satu. Biasanya para wisatawan ini akan berjunjung ke suatu tempat setelah dia mencari informasi dan membaca testimoni wisatawan lain yang pernah berkunjung ke tempat tersebut.

Pengalaman dan kesan orang lain tersebut menjadi referensi utama wisatawan sebelum berkunjung ke sebuah obyek wisata. Mungkin ini juga yang kita lakukan sebelum kita bepergian ke suatu tempat. Mencari informasi di internet tentang situs wisata yang akan kita kunjungi. Juga membaca testimoni atau review suatu tempat wisata oleh wisatawan lain yang ditulis dalam blog.

Faktanya, testimoni atau review pengunjung lainnya tersebut yang justru lebih kita jadikan referensi dalam mengambil keputusan. Bukankan ini sebuah promosi yang ampuh bagi perusahaan pengelola obyek wisata? Tanpa diminta oleh pihak pengelola wisata, pengunjung akan menuliskan kesan-kesannya di blog dan dibaca oleh para follower atau yang telah subscribe di blog tersebut. Belum lagi pengunjung lainnya yang mendapatkan informasi dari mesin pencari. Ini akan memberikan keuntungan bagi pengelola wisata, karena promosi melalui internet akan lebih efektif dan memangkas biaya pemasaran bila dibandingkan dengan promosi secara offline.

Manfaat bagi Anak

Bagi anak-anak, berlibur di tempat kerja orangtua juga akan mendekatkan hubungan batin dan psikologis dengan ayah atau ibunya. Apalagi bila sang ayah atau ibu tak setiap hari dapat bertemu dengan buah hatinya. Terkadang hanya bisa seminggu atau sebulan sekali bertemu. Berlibur di tempat orangtua bekerja juga secara tidak langsung akan mengenalkan budaya bekerja kepada anak.

Tak hanya itu, manfaat lainnya bagi anak adalah bertambahnya wawasan dan pengetahuan anak. Untuk hal ini pernah anak saya yang masih SD diminta oleh gurunya bercerita selama liburan. Karena dia pernah berlibur di tempat kerja saya di tengah hutan, apa yang dia alami selama di camp itulah yang dia ungkapkan. Mulai bermain di sungai, menangkap ikan-ikan kecil dan dipelihara di toples, hingga memberi makan ikan di kolam semuanya dia tuliskan. Membaca tulisan anak saya yang menarik, gurunya memberikan apresiasi dengan memasang tulisannya di dinding kelasnya.

Saat ini kegiatan berwisata dan berlibur sudah menjadi kebutuhan bagi keluarga. Namun bila orangtua tak dapat menemani anak-anaknya mengisi waktu liburan, tak ada salahnya juga memberikan kesempatan anak-anak berlibur di tempat kerja orangtuanya.

Beda Usia, Beda Pula Kegiatannya

Agak susah juga mengatur waktu liburan buat keluarga yang punya anak SD, SMP dan SMA. Contohnya ya seperti saya ini. Anak-anak cowok yang masih SD, Andra dan Nabil maunya liburan akhir tahun ini bisa main ke camp. Bagi mereka ke camp itu menyenangkan karena bisa main sepuas hati. Ngasih makan ikan, mencari ikan atau kepiting di parit, berennang di sungai, meluncur di taman pakai triplek sampai berlari-lari mengusir ayam yang ada di halaman.

Tapi bagi kakaknya yang sulung, Nadia, liburan ini dia dan teman-temannya yang anggota Paskib punya agenda sendiri. Mengikuti Kemah Wisata. Kalau kakaknya yang kedua Aysha yang saya dengar dari ibunya sih belum ada rencana. Mungkin akan ikut juga liburan di camp.

Dulu waktu masih anak-anak, Nadia memang sering juga ke camp waktu liburan. Untuk liburan akhir Desember ini, saya bilang nanti ke campnya menyusul saja setelah acara Kemah Wisata selesai. Cuma saya belum tahu gimana tanggapannya. Apakah ikut juga ke camp atau nggak. Saya nggak bisa lagi memaksakan kehendak dan bilang, “Kamu harus ikut ke camp”.

Memasuki masa remaja seperti Nadia, kegiatan bersama teman-teman Paskibnya kayaknya lebih diprioritaskan daripada berlibur bersama keluarga. Kalau adik-adiknya sih senang diajak jalan-jalan.

Nggak hanya itu, di Pontianak saja kalau saya ajak ke mall atau toko buku, dia lebih sering memilih tinggal di rumah. Mengerjakan tugas sekolah. Kadang-kadang saya merasa kasihan juga melihat kegiatannya. Nggak kalah dengan orang kerja. Pagi jam setengah tujuh sudah berangkat. Siang setelah pulang sekolah masih latihan Paskib. Malamnya masih mengerjakan tugas sampai jam 11 malam.

Mungkin dia sudah merasa letih waktu pulang ke rumah, jadi nggak mau lagi diajak keluar rumah. Sebagai orangtua, saya dan istri lah yang harus bisa tahu kondisinya. Memahami dirinya yang sudah remaja, dunianya, kesibukan dan seabrek kegiatannya. Bukannya dia yang malah diminta untuk menuruti semua keinginan orangtua.

Lebaran dan Liburan di Hutan

IMG01216-20130809-1018

Meski terlambat, nggak ada salahnya saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1434 H buat teman-teman blogger semua. Kalau ada kesalahan dan kekhilafan, mohon dimaafkan ya.

Nggak terasa sudah sepuluh hari nggak berbagi cerita buat teman-teman. Urusan pekerjaan offline memang benar-benar menyita waktu, sehingga baru sekarang bisa menulis lagi. Apalagi ada acara mendadak, keluarga ingin berlebaran dan liburan di tempat kerja. Wow….

Tahun ini sebenarnya nggak ada rencana keluarga berlebaran di tempat kerja, di hutan yang jauh dari keramaian. Tapi karena ada masalah dengan maskapai penerbangan yang pernah saya ceritakan di postingan ini, akhirnya rencana berubah 180 derajat.

Ini salah satu contoh lagi bicara tentang rencana. Meski jauh hari saya bikin rencana mudik lebaran ke Jawa, ternyata bisa meleset dan nggak seperti yang diharapkan.

Meski gagal berlebaran di Jawa, ternyata keluarga punya rencana lain, lebaran di camp. Di musim libur sekolah dan lebaran ini, istri dan anak-anak yang masih SD dan SMP ingin berlebaran di hutan. Mendengar keputusan seperti itu, saya pun langsung bergerak cepat.

Menyiapkan bahan makanan dan perlengkapan yang diperlukan. Beli beras, minyak goreng, gula, mie instan, telur ayam, ikan dan bahan makan lainnya. Mencuci perlengkapan masak yang berdebu, bersih-bersih kamar dan nggak lupa juga minta jatah BBM untuk keluarga yang diberikan oleh perusahaan.

Nggak hanya itu, saya perlu turun ke Pinoh tanggal 4 Agustus yang lalu untuk jemput keluarga yang rencananya tiba di Pinoh keesokan harinya. Semua anggota keluarga ikut ke camp. Istri dan keempat anak untungnya dapat tiket bis Pontianak-Pinoh meski pesan tiketnya juga mendadak.

Meski tinggal di tengah di hutan hanya seminggu, karena anak-anak yang SMP dan SMA masuk tanggal 14 Agustus, banyak cerita seru dan berkesan bagi anak-anak.

Keluarga tiba di Pinoh tanggal 5 Agustus pagi sekitar pk 04.15. Setelah istirahat dan mandi di losmen, saya dan istri belanja keperluan lebaran di pasar. Beli ayam potong, daging sapi yang harganya benar-benar melambung hingga 120.000 rupiah per kg dan akhirnya setelah kami berdiskusi, cukup beli ½ kg saja. Kemudian beli tahu, tempe dan sayuran untuk persiapan lebaran di camp.

Meski semua bahan makanan sudah lengkap, ada satu yang masih kurang, ketupat. Kalau lebaran tanpa ada ketupat kayaknya bukan serasa lebaran. Setelah cari ketupat di pasar nggak ketemu, akhirnya kami berenam berangkat ke camp. Perlu waktu 2 jam untuk sampai ke mess.

“Kalau nggak ada ketupat, kita bikin lontong saja, Mas”kata istri waktu di camp. Karena kebetulan di belakang mess ada pohon pisang dan daunnya bisa dipakai untuk bikin lontong. Rencana bikin ketupat sudah mulai dilupakan dan berganti dengan bikin lontong.

Hingga satu hari menjelang lebaran, ada salah seorang office boy yang menyeret daun kelapa dan diletakkan di depan kamar. Rupanya dia disuruh salah seorang teman yang tinggal bersebelahan yang juga ingin bikin ketupat.

Kami pun ditawari untuk mengambil beberapa helai daunnya. Benar-benar pucuk dicita ulam pun tiba. Keinginan menghidangkan ketupat pun terpenuhi. Ternyata ada hikmahnya juga waktu di pasar nggak dapat ketupat yang sudah jadi. Lho kok bisa begitu?

Ya, karena masih berbentuk daun kelapa, dengan sendirinya bahan-bahan itu harus dianyam menjadi ketupat. Istri yang pernah diajari ibunya bikin ketupat, mulai mencoba lagi menganyam ketupat satu per satu. Nggak mudah memang, setengah hari kerja baru dapat 8 buah. Padahal targetnya 25 buah yang perlu disediakan untuk lebaran.

IMG01204-20130807-0928

Hanya tinggal sehari menjelang lebaran. Syukurlah, anak kedua, Aysha yang baru masuk SMP, rupanya tertarik bikin ketupat. Dia pun minta diajari, mulai cara menganyam sampai mengisinya dengan beras.

Coba kalau beli ketupat yang sudah jadi, mungkin Aysha nggak akan tahu cara bikinnya. Sempat terpikir, kenapa ya di sekolah waktu ada pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan, murid-murid nggak diajari bikin ketupat. Padahal itu kan bagian dari budaya dan tradisi bangsa kita?

Hari pertama lebaran diisi dengan acara bersilaturahmi ke rumah karyawan yang ada keluarganya. Selanjutnya, di hari kedua lebaran, anak-anak yang cowok mengajak main di taman sekolah dan mandi di sungai. Rupanya mereka masih ingat pengalaman dua tahun lalu ketika juga lebaran di camp, mereka senang sekali main-main di sungai

IMG01222-20130809-1022

Andra dan Nabil yang masih SD, begitu melihat sungai yang jernih, langsung menceburkan diri dan mandi. Nggak ada rasa takut sama sekali, padahal sungainya berbatu. Rasanya senang sekali mereka bisa mandi dan main air di sungai. Sebuah pengalaman masa kanak-kanak yang nggak mudah terlupakan.

IMG01252-20130809-1101

Ternyata berlebaran di hutan, memberikan kesan mendalam buat anak-anak. Mereka nggak hanya kenal permainan di dalam ruangan seperti main game di komputer atau playstation. Permainan yang kurang merangsang aktivitas fisik anak-anak.

Dengan berlebaran sekaligus berlibur di tengah hutan, gerak fisik mereka tersalurkan. Mereka juga belajar dari alam dan memanfaatkan benda-benda yang ada untuk dijadikan sebuah hasil karya.

Bikin ketupat, bikin lontong, keliling bersilaturahmi ke tetangga-tetangga, hingga mandi dan main air di sungai. Semua itu adalah pengalaman yang bisa jadi akan terbawa hingga mereka dewasa.

Keluargaku, Permata Hatiku

Biasanya, bila  liburan tiba, keluarga akan diajak sang ayah mengunjungi lokasi wisata di kota.

Namun, ini lain dari biasanya,

justru keluarga mengunjungi tempat ayahnya bekerja

di tengah rimba raya

Untuk berlibur dan berkumpul bersama, walau tak lama.

Begitu  indahnya …

rasa kebersamaan dengan keluarga.

Liburan Lebaran 2009

Asyiknya  Bermain di Taman

Keluarga Tercinta

Dari kiri – kanan : Aysha, Nadia, Nabil, Dienna, Andra