Lanjutkan Cita-citamu untuk Sekolah lagi, Kawan

Tidak banyak karyawan yang setelah bekerja ingin melanjutkan sekolah lagi ke jenjang yang lebih tinggi. Apalagi sampai ke luar negeri. Bagi yang berprofesi sebagai dosen, meneruskan pendidikan ke jenjang S2 dan S3 adalah sebuah kebutuhan. Tidak cukup hanya lulus S1 setelah itu mengajar mahasiswa S1.

Namun, bagi yang bekerja di perusahaan swasta, tak mudah untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Apalagi bekerjanya di tengah hutan. Tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Kenapa tidak mudah bekerja sambil kuliah? Karena belum tentu perusahaan mau memberi ijin karyawannya untuk full study seperti mahasiswa lainnya. Mengijinkan karyawannya setiap hari datang ke kampus untuk kuliah hingga lulus.

Terus bagaimana jalan keluarnya? Karyawan diberikan ijin dua bulan sekali untuk mengikuti kuliah. Selama seminggu dia ke kampus. Ikut kuliah dan mengerjakan tugas-tugas. Jam kuliahnya bisa dari pagi sampai sore. Jadwalnya dipadatkan

Itu yang dijalani oleh teman kerja yang lulusan sekolah vokasi. Dulu namanya pendidikan diploma. Setelah lulus D3 dari Jogja, dia kerja di perusahaan. Di tengah hutan. Setelah empat tahun kerja, dia meneruskan kuliah S1 di Sintang. Perlu 4 jam perjalanan dari tempatnya bekerja ke kampus.

Tekadnya untuk sekolah tak pernah padam. Selesai jenjang S1 dia ingin meneruskan lagi ke S2 di Jogja. Karena jarak yang cukup jauh, akhirnya dia memutuskan resign. Berhenti  bekerja  dan memulai langkah baru. Kuliah. Mungkin nggak sambil kerja lagi.

Dia memang masih muda. Umurnya 27 tahun dan belum menikah. Namun pola pikir dan wawasannya melebihi usianya.

Saya kenal dia karena sering ketemu saat mendampingi tamu. Selain terkenal sebagai pekerja keras, dia juga terampil presentasi.

Bekal pengalaman lapangan selama hampir lima tahun, terampil presentasi dan terbiasa membuat laporan kegiatan adalah modal berharga baginya.

Selamat jalan, kawan. Lanjutkan langkahmu dalam mengejar cita-citamu. Ilmu memang harus dicari dan bukan ditunggu. Karena ilmu adalah cahaya yang menerangi hidup kita.

Adik Angkatan 22 Tahun

“Adik-adik angkatan berapa?”tanya saya ke tiga mahasiswa praktek kerja.

“2011, Pak”, jawab salah satu mahasiswi

“Kalau bapak angkatan berapa?”dia balik tanya

“Saya masuk tahun 89”, jawab saya pendek

“Wah, saya belum lahir, Pak”komentarnya lagi

“Belum lahir? Berarti adik-adik ini kelahiran tahun 90-an ke atas. Nggak terasa, bedanya sudah 22 angkatan,”ungkap saya sambil menghitung-hitung tahun.

Waktu terasa berjalan begitu cepat. Namun kerja di hutan, perubahan yang cepat itu nggak terasa. Tau-tau udah 20 tahun kerja. Baru sadar udah punya adik angkatan yang selisihnya 22 tahun. Rasanya seperti baru setahun dua tahun kuliah, lulus terus kerja.

Kedatangan mereka seperti menyadarkan saya.

Dua cewek dan satu cowok yang memilih praktek kerja dan riset di luar Jawa, meski program itu sifatnya pilihan dan bukan wajib.

Saya salut sama mereka. Meski tidak diharuskan praktek kerja dari fakultas, tapi mereka mau meninggalkan zona nyaman: ingin cepat-cepat lulus. Memilih dua bulan praktek kerja di perusahaan sekaligus penelitian. Yang namanya pilihan, pasti kebanyakan mahasiswa memilih nggak perlu praktek kerja.

Kenapa? Karena untuk praktek mereka harus bersusah-susah dulu. Cari informasi perusahaan yang bisa nerima mereka untuk praktek. Ada perusahaan yang mau nerima, ada juga yang nolak. Harus keluar biaya dan menyediakan waktu. Masalah biaya memang menjadi kebijakan masing-masing perusahaan. Ada yang menanggung biaya transportasi dari tempat asal sampai lokasi praktek kerja plus makan dan akomodasinya. Ada juga yang hanya menanggung akomodasi dan makan, biaya transportasi ditanggung oleh mahasiswa.

Nah, kalau sampai mereka mau praktek kerja, itu berarti daya juang mereka mencari ilmu di luar kampus memang cukup bagus. Saya semangati mereka, meski adik-adik keluar biaya transportasi pp, tapi adik-adik akan dapat gantinya. Dapat banyak ilmu yang nggak ada di kampus. Juga dapat banyak kawan dan juga siapa tahu ketemu jodohnya di hutan. 🙂

Ilmu itu memang harus dicari, bukan ditunggu seperti kita duduk di kelas nunggu dosen datang. Juga nggak seperti orang yang mau memancing, tapi cuma duduk di tepi danau dan berharap ikan-ikan itu datang menghampiri. Kayak lagunya Koes Plus aja 🙂

Kalau ilmu itu ada di lapangan atau di hutan, carilah dan datangilah. Seraplah pengalaman bagaimana orang-orang bekerja di hutan. Bagaimana mereka mencari jalan keluar atas permasalahan. Bagaimana pohon-pohon itu tumbuh dan menghasilkan anakan. Semua akan adik-adik lihat sendiri, rasakan sendiri suasananya di dalam hutan. Bukan hanya mendapat ilmu dari buku, diktat atau gambar di internet.

Kelak semua pengalaman di lapangan itu akan menjadi bekal berharga adik-adik waktu terjun ke dunia kerja. Nggak terasa juga saya ngomong panjang lebar sama mereka. Sampai-sampai waktu sarapan hampir habis. Ngobrol sama yang muda-muda memang mengasyikkan.

Mahasiswa yang Ringan Tangan

Tiga mahasiswa Praktek Kerja Lapang dari Bogor itu tanpa diminta langsung maju ke depan ruang pertemuan. Melihat saya sibuk menyalakan proyektor dan menyambungkan kabelnya ke laptop, mereka mendekat dan langsung turun tangan. Menyalakan pengeras suara yang akan saya gunakan untuk presentasi. Mencari stop kontak, mencoba suara sampai mengatur volumenya. “Sudah siap, pak, pengeras suaranya”ungkapnya.

Apa yang mereka lakukan mungkin bagi sebagian orang nampaknya sederhana. Belum selesai saya menampilkan bahan presentasi di layar lebar, mereka telah membereskan urusan sound system. Satu kebaikan telah mereka perbuat di siang hari itu

Melihat sikap mereka, saya yakin apa yang mereka lakukan adalah hasil sebuah kebiasaan. Salut. Dan kebiasaan itu nggak akan mungkin muncul secara tiba-tiba. Kebiasaan yang terbentuk karena pembiasaan atau dibiasakan oleh lingkungan sebelumnya. Kebiasaan yang tidak bisa membiarkan orang lain dalam kesulitan. Kebiasaan mau menolong meski tanpa diminta. Dari kejadian  itu, saya menyimpulkan mereka orang yang ringan tangan dan punya inisiatif yang tinggi.

Mahasiswa-mahasiswa seperti itu yang saya yakin akan sukses dalam studi, pekerjaan dan hidupnya. Karena mereka tidak hanya menunggu untuk bertindak, menunggu instruksi untuk beraksi. Namun sebaliknya, memiliki kemauan dan mengambil insiatif untuk melakukan apa yang harus mereka lakukan.

Perlunya Praktek Kerja

Kemarin pagi (28/10) saya mengikuti presentasi hasil penelitian mahasiswa S2. Penelitian tentang pemodelan pemanenan tanaman meranti di hutan tropis. Selain sebagai mahasiswa S2, dia juga asisten dosen di salah satu kampus di kota gudeg. Sudah menjadi kewajiban setiap tamu yang melakukan penelitian, sebelum dan selesai kegiatan harus mempresentasikan kegiatannya.

Tak hanya penelitian dosen, setiap mahasiswa yang mengikuti magang atau praktek kerja juga diwajibkan memberikan presentasi. Bulan ini saja ada dua perguruan tinggi yang mengajukan ke perusahaan untuk memohon ijin agar para mahasiswanya bisa mengikuti praktek kerja.

Sebenarnya, ada banyak manfaat yang diperoleh mahasiswa yang melakukan praktek kerja atau magang. Ini yang tampaknya jarang dipahami oleh sebagian mahasiswa di kampus. Mereka kebanyakan berpikir buru-buru ingin cepat lulus dan dapat IPK yang tinggi. Syukur-syukur lulus dengan predikat cumlaude. Proses praktek kerja dianggap hanya memboroskan waktu karena menunda kelulusan.

Namun dari beberapa mahasiswa-mahasiswi yang praktek, ternyata ada juga yang  lulus dengan predikat cumlaude. Bahkan tergolong lulusan terbaik di fakultasnya. Padahal mahasiswi ini tak hanya kuliah. Tapi juga praktek kerja di perusahaan dan sekaligus penelitian untuk skripsinya.

Ada juga mahasiswa lain yang selain mengikuti praktek kerja dia juga membantu penelitian dosennya di lapangan. Nah, dari penelitian dosen hasil kerjasama dengan pihak pemerintah atau lembaga lain, mahasiswa juga bisa mendapatkan topik untuk skripsinya.

Satu langkah telah dilewati. Kalau teman-temannya nggak mudah mencari judul skripsi, mahasiswa yang mau praktek kerja dan membantu penelitian dosennya malah dapat banyak manfaat. Praktek kerja diikuti, mendapat judul penelitian dan tambahan uang saku.

Cuma masalahnya apakah banyak mahasiswa yang berpikir seperti itu? Mau berlelah-lelah praktek di tempat yang jauh dari keramaian? Nggak ada mall, sinyal HP apalagi kalau menginap di hutan harus mandi di sungai. Bagi kampus yang mengharuskan mahasiswa-mahasiswinya mengikuti praktek kerja, karena sebagai salah satu syarat kelulusan, memang tak ada pilihan untuk mereka.

Suka nggak suka, mau nggak mau, rela nggak rela harus diikuti. Namun bagi perguruan tinggi yang menjadikan praktek kerja sebagai sebuah pilihan, ini adalah celah bagi para mahasiswa untuk menghindari praktek kerja.

Sebenarnya saya lebih sependapat dengan kebijakan kampus yang mengharuskan para mahasiswanya mengikuti praktek kerja. Mewajibkan peserta didiknya, kalau perlu dosen muda atau asisten dosen  terjun ke lapangan dan mengetahui kondisi sebenarnya di tempat kerja.

Ini berdasarkan pengalaman saya setelah lulus dan terjun ke dunia kerja. Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh para mahasiswa selama mengikuti proses praktek kerja atau magang.

1. Pengenalan Dunia Kerja
Ketika kuliah, saya dan teman-teman diharuskan mengikuti praktek umum di dua tempat, luar Jawa dan di Jawa. Praktek luar Jawa selama dua bulan dilaksanakan di Jambi. Beberapa mahasiswa dibagi menjadi kelompok. Satu kelompok terdiri dari 6-8 orang. Tinggal di kampus lapangan yang berdekatan dengan lokasi perusahaan. Tujuannya untuk mempelajari pengelolaan hutan alam hujan tropis.

Sementara itu selama praktek di Jawa, mahasiswa juga diwajibkan tinggal di kampus lapangan di Ngawi sebulan untuk belajar bagaimana mengelola hutan jati. Nggak hanya itu, praktek masih ditambah lagi dengan mengunjungi Wanagama untuk melihat upaya menanam kembali lahan-lahan kritis di daerah Gunung Kidul. Terakhir, melihat industri pengolahan kayu di Probolinggo selama tiga hari.

Bisa dibayangkan, selama tiga bulan lebih ditempa untuk menjelajah beberapa tempat praktek dan melihat langsung bagaimana kondisi di lapangan.

Di sinilah mahasiswa tak hanya diwajibkan belajar teknis kehutanan. Belajar langsung bagaimana menanam agar persen hidupnya tinggi, cara menebang pohon yang benar untuk mengurangi kerusakan dan teknik mengolah kayu bulat semaksimal mungkin. Selama praktek, mahasiswa juga dapat belajar meningkatkan softskil . Seperti  menjaga kekompakan tim, mengambil keputusan, menyelesaikan tugas dan juga permasalahan. Secara tidak langsung keterampilan tersebut ditanamkan ke masing-masing anggota. Kalau saat ini mungkin di dunia kerja istilahnya outbound.

Jadwalnya padat. Pagi, siang dan sore ke lapangan. Malamnya membuat laporan kegiatan. Tapi ada juga rasa senangnya. Kapan? kalau hari libur atau hari minggu. Sesekali jalan-jalan ke kota terdekat untuk berbelanja atau mengambil kiriman paket plus surat. Karena waktu itu belum ada sinyal handphone, jadi satu-satunya untuk mengobati kerinduan hanya lewat surat atau telepon ke wartel.

Hal inilah yang saya rasakan sangat bermanfaat ketika bekerja. Keterampilan menyusun proposal kegiatan, membuat surat, menjalin komunikasi, mengungkapkan gagasan, meredakan perselisihan dan juga bekerja di bawah tekanan tenggat waktu. Semua itu bukan lagi hal yang asing karena pernah dialami waktu mengikuti praktek kerja.

2. Mendapatkan gagasan untuk bahan penelitian
Sebagian mahasiswa yang saya tanya, menginginkan praktek sekaligus penelitian di tempat kerja. Ada dua kondisi yang terjadi. Pertama mahasiswa waktu di kampus belum memiiki gambaran sama sekali tentang judul atau tema penelitian yang dilakukan.

Nah, waktu mengikuti praktek selama dua bulan di lapangan, sering ide atau gagasan itu baru ditemukan. Biasanya pada saat presentasi mahasiswa tersebut menanyakan apakah bisa kalau sekalian melakukan penelitian. Kalau yang seperti ini disarankan agar sepengetahuan dan seijin pihak kampus.

Yang kedua, sejak awal mahasiawa sudah merencanakan untuk mengikuti praktek dan setelah itu melakukan penelitian. Mahasiswa model seperti ini biasanya termasuk cukup rajin mencari informasi. Dia bisa bertanya kepada kakak angkatannyan atau dosen yang pernah praktek dan penelitian di perusahaan. Bisa juga dia mencari referensi dengan browsing di portal perusahaan untuk mengetahui gambaran umum kondisi perusahaan.

3. Bertemu Jodohnya
Asam di gunung garam di laut, bertemu di dalam satu belanga. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Mungkin itu peribahasa yang cocok. Selain praktek dan melakukan penelitian, ada juga yang bertemu jodohnya di lapangan. Selama saya bekerja, sudah ada tiga mahasiswi akhirnya bertemu jodohnya di hutan.

Awalnya memang belum pernah kenal. Setelah di lapangan, berawal dari proses pendampingan akhirnya berlanjut hingga ke pelaminan. Karena setiap tamu termasuk mahasiswi yang datang harus didampingi karyawan selama berada di lapangan. Termasuk saat pembuatan laporan dan persiapan untuk presentasi. Rupanya dalam proses pendampingan itu, siapa menduga  tumbuh bibit-bibit rasa cinta di hati keduanya. Kalau orang jawa bilang, mungkin itu yang dinamakan witing tresno jalaran soko kulino.

Balasan Sebuah Kebaikan

Kebaikan sekecil apa pun, bisa membawa berkah di kemudian hari. Ini yang pernah dialami teman kerja ketika mengantar tamu beberapa tahun lalu. Ketika itu, ada dua orang tamu yang mendapat tugas ke lapangan. Teman tadi yang menyetir kendaraan menemani mereka dari Pontianak ke camp PP.

Di dalam kendaraan, selain dia sebagai sopir, ada dua orang bapak dari instansi teknis dan satu lagi dosen sebuah perguruan tinggi dari kota hujan. Nah, sang dosen ini rupanya juga mengajak istrinya.

Keesokan harinya saat masuk hutan, kaki istri dosen tersebut terpeleset dan terkilir. Dalam perjalanan pulang ke Pontianak, sang suami minta tolong teman tadi untuk mencarikan orang yang bisa mengobati kaki istrinya. Tiba di Pontianak, dia segera mencari tukang pijat. Setelah kaki istri dosen tersebut dipijat,  kondisinya berangsur-angsur membaik dan mereka kembali ke Bogor.

Beberapa hari lalu teman tadi ke camp lagi mengantar unit kendaraan baru. Dia bercerita, dua tahun lalu anaknya diterima di perguruan tinggi negeri, di tempat bapak dosen tadi mengajar.

Karena nilainya selama lima semester di SMU cukup bagus, dia diterima tanpa tes. Kalau istilah sekarang, diterima di PTN lewat jalur SNMPTN. Dia diterima di salah satu fakultas yang tergolong favorit, berbeda fakultas dengan bapak dosen tersebut mengejar.

Meski pada saat itu sudah diterima di perguruan tinggi yang diinginkan, bukan berarti masalahnya selesai. Gimana dengan biaya kuliah, dan tempat tinggal selama belajar di perantauan?

Akhirnya teman tadi teringat dengan bapak yang pernah diantarnya dalam perjalanan. Dia menelepon bapak dosen tersebut. Terus, dia cerita kalau anaknya diterima kuliah dan sedang mencari tempat untuk kos. Pucuk dicita ulam pun tiba.

Tanpa diduga, bapak dosen tadi menawarkan supaya anak tersebut tinggal di rumahnya sementara waktu. Apalagi di rumah tersebut hanya dia dan istrinya yang tinggal. Siapa yang menyangka, si anak teman tadi diterima di PTN dimana sang dosen tadi mengajar?

Nggak hanya itu saja, waktu anak tersebut sakit dan harus dirawat inap semalam di RS, sang bapak dosen juga yang mencarikan RS dan sekaligus membantu biaya perawatannya.

“Padahal, waktu itu, saya hanya mencarikan tukang pijat lho, Mas. Tapi, beliau sampai sekarang masih ingat dengan saya” ungkapnya dengan nada hampir nggak percaya.

Sebuah kebaikan kecil yang dia lakukan, ternyata begitu besar balasan yang diterima. Dengan membantu mencarikan tukang pijat untuk istrinya, perhatian dan kebaikannya beberapa tahun kemudian dibalas bapak dosen tadi melalui anaknya.

Mendengar cerita itu, saya nggak banyak berkomentar. Terhanyut dengan rasa bahagia sang teman yang anaknya diterima di PTN favorit dan bantuan yang diberikan oleh tamu yang pernah diantarnya.

Sebuah pelajaran saya petik dari cerita teman tadi. Jangan ragu berbuat kebaikan, meskipun kelihatannya sepele. Karena jika kita melakukan kebaikan, maka balasannya juga kebaikan.

Mungkin, bukan diri kita yang langsung menerima balasan kebaikan itu dan tidak saat itu langsung dibalas. Tapi, balasannya bisa jadi setelah beberapa waktu kemudian, lewat kemudahan-kemudahan yang dialami oleh keluarga kita.

Sang Pengajar dari Dunia Maya

Selama ini kita punya anggapan, namanya belajar itu murid, guru dan bahan pelajaran berkumpul di satu tempat. Belajar di sekolah, di tempat kursus atau di lokasi pelatihan. Sepertinya kalau salah satu syarat tadi tidak dipenuhi, belajar dianggap tidak sah dan tidak diakui. Akibatnya, bila salah satu komponen tadi tidak hadir, proses belajar pun terhambat.

Mungkin sobat pernah mengalaminya, ketika guru yang seharusnya mengajar tiba-tiba tidak masuk karena keluarganya sakit. Bagi yang sedang kuliah, pernah merasakan ditinggal dosennya penelitian, sehingga ruang kuliah kosong. Masih mendingan kalau jadwal belajar atau kuliah itu diganti dengan hari lain. Atau selama guru dan dosen itu absen, ada guru lainnya atau asisten dosen yang mengisi jadwal kuliahnya.

Proses belajar sepert itu memang sangat tergantung pada kehadiran salah satu komponennya. Murid tergantung kehadiran dosen dan pelajarannya. Guru atau dosen mengharapkan siswa dan mahasiswanya bisa mengikuti pelajaran tanpa absen karena sakit, ijin atau keperluan lainnya.

Tak jarang, ada juga pengajar yang mempersyaratkan daftar hadir minimal untuk bisa mengikuti ujian akhir. Jangan harap mahasiswa ikut ujian, bila daftar hadir kuliahnya diwabah 75 % selama satu semester. Kalau dosennya sendiri jadwal mengajarnya kurang dari 75 %, gimana loh?

Ada juga dosen yang punya aturan, mahasiswa terlambat 15 menit lebih baik tidak ikut kuliah. Sebaliknya, kalau sang dosen dalam waktu 15 menit tidak datang, kuliah dibatalkan. Nah, kalau yang kedua ini, justru mahasiswa sendiri yang dirugikan. Dia sudah bayar mahal, masa jadual kuliahnya sering kosong.

Sebenarnya, dengan kemajuan teknologi informasi, kendala pertemuan dosen dan mahasiswa maupun guru dan murid dapat dijembatani dengan media internet. Apalagi sekarang ini, yang namanya mahasiswa dan anak-anak sudah akrab sekali dengan yang namanya gadget canggih yang bisa mengakses internet. Jadi, dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi, proses belajar benar-benar berada di ujung jari.

Pikiran saya langsung menerawang jauh. Jika saya menjadi dosen, saya akan buat blog untuk mahasiswa saya, supaya bisa mengakses informasi yang diperlukan. Mulai jadwal kuliah, referensi yang harus disiapkan, ringkasan materi kuliah, jadwal ujian, informasi pengumuman nilai ujian,  sampai tugas-tugas kuliah dan praktikum.

Meskipun saya  sedang mengikuti seminar di Jepang, saya masih bisa memeriksa konsep laporan mahasiswa yang sedang praktek di tengah hutan Kalimantan. Di lain waktu, saat mengikuti simposium di Jakarta, saya tetap bisa memberikan bimbingan skripsi mahasiswa yang  penelitian di Sumatera.

Ketika giliran jadi dosen terbang dan mengajar di Surabaya, saya masih sempat memberi saran mahasiswa di Jogja mengisi Kartu Rencana Studinya .

Tidak hanya itu, mahasiswa yang sedang menyusun skripsi juga bisa berkomunikasi melalui e-mail atau bahkan skype di sela-sela kesibukan saya.

Saya bisa juga menyampaikan perkembangan ilmu pengetahuan selama mengikuti seminar atau simposium dan mengunggahnya di blog. Jadi mahasiswa juga tahu kegiatan saya selama di luar kampus. Mahasiswa juga tahu, kalau bahan kuliah tidak hanya buku teks jaman dulu yang sudah ketinggalan jaman. Tapi juga dari perkembangan yang terjadi di lapangan.

Ada keterkaitan antara mata kuliah yang saya ajarkan dengan perkembangan dalam kehidupan nyata.

Saya teringat waktu jaman kuliah dulu, selesai ujian akhir, biasanya mahasiwa menjalani libur semester dan banyak yang pulang kampung. Jika libur semesternya pas tahun ajaran baru, masa liburnya pasti lebih lama, bisa sebulan. Terkadang, mahasiswa harus titip temannya di kota untuk mengetahui berapa nilai ujiannya.

Tidak cuma itu, saya juga teringat pengalaman seorang teman yang kesulitan menemui sang dosen pembimbing skripsi, karena seringnya menjalani tugas di luar kampus. Padahal dosen pembimbing skripsinya tidah hanya satu. Setelah berkonsultasi, draf skripsi tidak langsung jadi.

Maksudnya, tetap ada koreksi sang dosen dan mahasiswa pun harus memperbaiki lagi. Mengetik ulang, mencetak dan menyerahkan lagi ke sang dosen untuk diperiksa ulang. Semua perlu tenaga, biaya dan tentu saja waktu untuk mengerjakannya. Tenaga untuk menemui dosennya, biaya membeli kertas dan mencetak ulang draf skripsinya.

Dengan bantuan internet, semua proses itu bisa diringkas. Mahasiswa bisa mengirim draf skripsi via e-mail, dosen memberi catatan di berkas tersebut dan mengirim kembali. Setelah konsultasi dinilai cukup dan skripsi telah siap, baru dicetak dan dilanjutkan dengan penyusunan skedul ujian skripsi. Jadi tidak memboroskan banyak kertas dan tinta printer.

Tiba-tiba, aiphone di meja ruang kerja berbunyi. Bagian personalia memberitahu kalau ada dua calon karyawan yang ingin bertemu. Seketika itu juga, saya tersadar dari lamunan. Cerita seandainya jadi dosen pun berakhir.

Saya tersadar, rupanya saya masih tetap sebagai karyawan yang sehari-hari bekerja di tengah hutan. Dan bukan sang dosen seperti yang tadi diceritakan.

Sumber  Foto :

antarafoto.com