Selamat Atas Postingan ke-500

Congratulations on writing 500 posts on Yudhi Hendro Berbagi Cerita!

Seperti itu ucapan selamat dari wordpress buat saya. Suprise, karena selama hampir 5 tahun ngeblog, sudah 500 postingan yang saya buat. Sejak ngeblog tahun 2012 sampai sekarang, alhamdulillah masih konsisten buat nulis… Memang yang namanya istiqomah itu berat, kalau ringan namanya istirahat 🙂

Minggu awal Januari tahun 2017 ini saja sempat nggak sempat buat postingan. Pekerjaan offline yang sering menyita waktu. Waktu lihat statistik per bulan di wordpress, baru tahu kalau sampai minggu kedua Januari belum ada tulisan.

Ada perasaan bersalah kalau sampai satu bulan nggak menulis. Rasanya gimana gitu kalau ide-ide yang ada di kepala nggak tersalurkan dalam postingan. Ada yang kurang dan bikin hati belum plong kalau satu hari mau menulis, tapi nggak jadi. Akhirnya jadi hutang yang harus dikerjakan besoknya.

Makasih ya buat adminnya wordpress yang sudah kasih ucapan. Minimal sudah menyemangati saya buat menulis lagi dan lagi. Juga buat teman-teman blogger yang sudah berkunjung ke blog ini, kasih komentar dan juga like. Syukur-syukur setelah baca tulisannya, dapat tambahan informasi dan pengetahuan.

Menulislah, maka Hati Terasa Lega

Sebenarnya apa sih tujuan menulis bagi si penulis? Beraneka ragam. Ada yang menulis agar gagasannya dan kemampuannya diketahui orang lain, menulis untuk memenangkan sebuah lomba, menulis karena dipesan pihak lain, menulis untuk mengisi waktu luang dan menulis untuk berbagi pengalaman dan cerita.

Tidak ada yang salah dengan semua tujuan itu. Perbedaan tujuan menulis sah-sah saja. Hampir semua tujuan menulis di atas didorong oleh faktor-faktor dari laur diri penulis. Adakah manfaat langsung menulis bagi diri si penulis?

Tentu ada. Menulis bagi orang yang terbiasa menulis ibarat membuang file-file sampah yang menumpuk di memori RAM dan hardisk komputer. Jika file-file itu nggak secara rutin dibuang, lama-lama akan mengurangi ruangan yang digunakan untuk menyimpan data dan menjalankan sistem operasi.

Menulis bagi penulis bisa juga menjadi sarana detoksifikasi bagi keluarnya racun dan sampah agar pikiran kembali jernih dan hati terasa lega. Sekali tulisan diterbitkan, apa perasaan yang muncul? Plong, lega seperti baru saja membuang kotoran yang melekat di dalam hati dan pikiran.

Oleh karena itu, nggak heran, kalau seseorang yang terbiasa menulis, maka akan tercetus dalam pikirannya untuk menulis dan menulis lagi. Satu tulisan akan merangsang otak dan hati untuk menemukan gagasan lain untuk ditulis lagi.

Kalau sudah mencapai tahap seperti itu, maka tujuan menulis bukan lagi untuk mendapat apresiasi, mengejar hits, atau memenangkan lomba. Ada atau tidak ada apresiasi tetap menulis, hits sedikit masih istiqomah menulis, nggak pernah menang lomba terus rajin menulis. Karena menulis memang menjernihkan pikiran dan melegakan perasaaan. Pernah mengalami seperti itu?

200 followers, Makasih buat Teman Blogger

followed-blog-200-1x

Kaget juga waktu lihat notifikasi. Diam-diam, WP rupanya mencatat sudah ada 200 teman blogger yang follow blog ini. Blog yang isinya berbagi cerita-cerita ringan yang sehari-hari saya alami, lihat dan rasakan. Selama 2,5 tahun ngeblog dan diikuti oleh 200 followers adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya.

Nggak ada kata selain ucapan makasih banyak ya buat semuanya. Buat yang sudah follow, baca postingan, kasih komen dan juga klik like.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”,Minke – Rumah Kaca, 352”

Pramoedya Ananta Toer

 

 

 

 

 

Menulis Adalah Membuang Kotoran dalam Hati

Terkadang kita suka menilai negatip seseorang yang suka curhat dengan mengungkapkan kegalauannya di media sosial. Melampiaskan kejengkelannya di Facebook. Menumpahkan kekesalannya di Twitter. Atau mengekspresikan kekecewaannya di blog pribadi.

Media sosial sepertinya menjadi wadah yang tepat untuk menampung semua uneg-uneg dalam hati tersebut. Bisa jadi seseorang yang menuliskan perasaan hatinya di media sosial tersebut tidak berharap dikomentari oleh orang lain. Dia hanya mengeluarkan kotoran-kotoran yang ada dalam hatinya. Membuang sampah-sampah yang kian hari kian menumpuk di dalam jiwa. Rasa kesal, marah, jengkel, kecewa adalah kotoran dan sampah dalam jiwa yang perlu dikeluarkan.

Seperti halnya kolesterol atau asam urat yang berada dalam tubuh kita. Bila jumlahnya berlebihan tentu akan mempengaruhi kesehatan fisik kita. Serangan penyakit jantung, stroke akan menimpa seseorang bila tidak dapat mengendalikan kadar kolesterol dalam tubuhnya.

Berbagai cara pun dilakukan agar kadar kolesterol jahat (LDL) menurun dan sebaliknya kadar kolesterol baik (HDL) meningkat. Olahraga, mengurangi asupan makanan tinggi kolesterol hingga mengonsumsi obat-obatan ditempuh agar kadar kolesterol berada dalam angka yang ideal yaitu dibawah 200.

Demikian juga dengan kesehatan jiwa kita. Kadar rasa marah, jengkel, kecewa, frustasi perlu kita kendalikan agar semakin hari tidak semakin bertambah. Kondisi psikis atau kejiwaan seseorang yang saban hari didera hal-hal negatip tak hanya menimbulkan stress. Namun juga akan berpengaruh terhadap kesehatan fisiknya.

Tak heran kalau seseorang yang sedang mengalami stres berkepanjangan, penyakit fisik seperti migrain, flu, sakit perut akan mudah datang. Ada korelasi antara peningkatan stres dengan penurunan fungsi kekebalan tubuh kita.

Menulis dapat menjadi salah satu terapi untuk mengatasi berbagai perasaan negatip dalam jiwa kita. Tulislah apa yang anda rasakan dan alami saat ini. Keluarkan perasaan negatip yang selama ini membebani hati anda. Buanglah rasa kesal, kecewa, marah dalam hati anda dengan menuliskannya. Isilah ruang dalam hati anda dengan perasaan positip seperti bersyukur, sabar, tidak mudah menyerah, tetap bersemangat dan selalu berpengharapan baik.

Tak perlu memendam perasaan negatip dalam diri. Bila anda punya teman akrab, ceritakan uneg-uneg yang anda alami. Bila anda punya buku diary, tulislah segala kekesalan, kemarahan dan kekecewaan yang anda rasakan. Dan saat ini, berbagai media sosial siap menjadi buku diary yang akan menampung ungkapan perasaan diri anda. Menulislah. Karena menulis akan membuat jiwa anda terasa lebih damai. Dan hati anda akan lebih banyak terisi oleh perasaan positip.

Terima Kasih WordPress

Happy Anniversary!

Baru buka notifikasi langsung dapat ucapan selamat. Ya, ucapan selamat sudah ngeblog di WP.

Seharusnya saya yang bilang terima kasih. Karena sudah memberikan wadah untuk menampung segala gagasan, curhat dan cerita. Hingga tanpa terasa, selama dua tahun sudah 239 postingan tercatat.

Terima kasih juga, karena dari wadah ini saya bertemu teman-teman yang beraneka ragam. Teman-teman yang follow tulisan saya, yang lebih suka menjadi silent reader, juga nggak lupa buat yang sering membaca dan berkomentar. Meski belum pernah bertemu langsung, namun jalinan pertemanan itu terasa dekat dan akrab. Dan rasa keakraban itu seperti melebihi hubungan kerabat.

Terima kasih sekali lagi sudah menyemangati diri ini agar terus ngeblog. Tanpa itu pun saya akan tetap ngeblog dan menulis. Karena itu adalah salah satu cara untuk berbagi dan bermanfaat bagi sesama. Dan terasa ada kebahagiaan ketika bisa melakukannya.

Tetap Menulis meski nggak Fit

Apa kabar sobat? Semoga baik dan sehat di hari ini. Mungkin sobat blogger nggak menyangka kalau postingan sebelumnya saya buat ketika kondisi badan lagi nggak fit. Sejak hari Rabu lalu saya terkena demam. Badan terasa dingin. Di malam hari hawa dingin itu terasa menusuk hingga tulang meski saya sudah memakai jaket dan berselimut cover bed ketika tidur.

Berbeda dengan kondisi cuaca di pulau Jawa yang sering hujan deras dan berakibat bajir. Cuaca di tempat kerja ini berubah-ubah, jarang hujan tapi suhunya sejuk dan anginnya cukup kencang. Pernah saya tanya teman kerja yang punya termometer.

Setelah makan malam, saya tanya, “Berapa suhu udaranya, pak?” Beranjak dari tempat tidur dia mengambil termometer di dinding dan mengamati posisi air raksa merah di dalam tabung, “21,5 derajad, padahal biasanya 27 derajad”. Nggak bisa dibayangkan gimana kalau suhunya sampai di bawah nol  seperti yang terjadi di beberapa tempat di Amerika dan Eropa.

“Pantas hawanya sejuk”jawab saya sambil pamit pulang. Untuk mengusir hawa sejuk itu, dua hari berturut-turut saya minta tolong mbak-mbak yang masak di dapur kantor untuk membuatkan jahe hangat dicampur sedikit gula jawa. Setelah menyeruput beberapa kali, cukup menghangatkan badan di malam hari. Dugaan saya kalau sudah minum jahe hangat rasa dingin di badan mulai berkurang.

Ternyata dugaan saya keliru, keesokan harinya badan masih terasa dingin. Padahal paginya sempat masak air hangat untuk mandi. Selama ini sebelum pergi ke kantor, saya biasa mandi jam 5.30 dan jarang pakai air hangat. Sampai siang belum juga ada perubahan. Akhirnya setelah jam istirahat dan masuk kantor saya minta surat pengantar untuk berobat.

Menunggu sebentar karena ada seorang pasien ibu dan anak, saya duduk di sebelah ruang praktek. Setelah diperiksa, petugas medis mengatakan ada radang di bagian tenggorokan dan itu yang menyebabkan demam. Saya juga minta diperiksa tekanan darah, asam urat dan gula darah.

Hasilnya untuk tekanan darah 110/80, asam urat 2,9 dan gula darah 143. Tekanan darah saya memang jarang di atas 120/80 karena termasuk orang yang punya tekanan darah rendah. Mungkin ini ada faktor turunan juga dari orangtua terutama bapak.

Yang bikin saya terkejut adalah hasil tes asam urat. Ternyata nilanya di bawah standar. Ketika saya tanya berapa standarnya, petugas medis bilang antara 3,7-7. Sedangkan gula darah tergolong normal karena antara  100-170. Sempat diolok-olok teman, kalau orang yang kena tekanan darah rendah itu harus sering makan hati 🙂

Setelah minum obat dan vitamin, kondisi badan alhamdulillah membaik. Sejak kemarin demam di badan sudah mulai berkurang, namun flu dan pilek masih belum hilang. Dan hari ini kondisi badan sudah mulai segar kembali. Menulis pun rasanya lebih nikmat karena nggak terganggu pilek.

Pengalaman ketika sakit demam itu mengajarkan kepada saya, bahwa kita tidak tahu persis apa yang sebenarnya sedang terjadi ketika seseorang sedang menulis. Kita tak mengetahui kondisi penulis saat itu apakah dia sehat wal afiat, sedang sakit, sedih, bahagia, putus asa atau kecewa. Kita tak sepenuhnya paham suasana hati ketika jari-jemari penulis mengetikkan kata demi kata.

Dan saya tersadar bahwa di balik sebuah tulisan yang dibuat, ternyata ada berbagai macam kondisi fisik dan psikis yang sedang dialami sang penulis. Jika badan fit dan suasana hati sedang damai, tentu proses menulis nggak akan terganggu. Berbeda halnya ketika badan nggak fit dan lagi nggak mood. Akhirnya, kemauan yang kuat dan keinginan untuk berbagilah yang menyebabkan seseorang tetap berusaha konsisten untuk menulis.

Belajar dari Sang Profesor

Belajar dari pengalaman orang lain adalah guru yang terbaik. Juga prosesnya tidak memakan waktu lama. Berbeda kalau diri kita sendiri yang harus mengalami. Beberapa hari lalu, saya banyak belajar dari tamu yang berkunjung ke lapangan.

Bukan sembarang tamu, beliau adalah guru besar emeritus yang saat ini sudah berumur 79 tahun. Putra-putrinya enam dan cucunya sudah 16 orang. Cucunya yang paling besar berumur 22 tahun dan kuliah di Amerika.

Bisa dibayangkan, dengan usia seperti itu beliau masih mau ke lapangan alias pergi ke hutan. Ambil data terbaru, lihat tanaman, sampai mengetik laporan untuk bahan presentasi. Kalau beliau lelah mengetik, pendampingnya yang diminta untuk meneruskan. Sementara beliau yang mendiktekan. Dan pada saat beliau mengetik, yang saya kagum adalah kemampuan beliau untuk membaca di layar laptop ukuran 10 inci tanpa kacamata. Luar biasa.

Daya ingatnya juga masih tajam. Waktu saya menjemput di bandara dan menunggu di ruang kedatangan, beliau masih mengenali dan justru yang menyapa saya duluan.

Tidak hanya itu, pada saat santap malam beliau juga tidak terlihat pantang dengan makanan. Apa yang disajikan di meja makan: sayur, ikan, bakso plus nasi, semuanya dinikmati. Yang membedakan dengan kami yang lebih muda, cuma kecepatannya dalam menghabiskan makanan. Sering kami yang menemani sudah selesai duluan.

Apa ya rahasia beliau sampai berumur hampir delapan windu tapi masih terlihat fit? Waktu saya tanyakan hal itu di meja makan, beliau cuma senyum-senyum saja. Pendampingnya bilang, tiap orang beda caranya untuk mendapatkan umur panjang dan memiliki kondisi badan yang sehat. Satu cara yang dilakukan seseorang belum tentu cocok dilakukan orang lain.

Cuma dalam hal umur panjang sang profesor itu, bos saya pernah bilang itu sangat dipengaruhi oleh aktivitas otak. Seberapa sering otak kita digunakan secara aktif. Kalau kita sering menggunakan otak untuk mempelajari hal baru, kemampuannya akan berkembang. Daya ingat dan daya pikir tidak akan merosot.

Mungkin benar juga, karena setelah pensiun, beliau memang tak ada hentinya beraktivitas. Meski tak lagi mengajar, namun masih sering diminta untuk menjadi pembicara seminar, aktif di forum diskusi dengan para pakar lainnya, diundang melihat pertumbuhan tanaman di negara lain, merancang riset di lapangan, dan sesekali menengok hasil risetnya di hutan.

Sebuah pengalaman berharga yang saya dapatkan. Artinya kalau ingin seperti dia di usia hampir 80 tahun, berarti saya harus rajin-rajin olah pikir dan jangan sampai otak dibiarkan menganggur.

Nah, salah satu bentuk kerja otak ini ya dengan sering-sering menulis. Tentunya menulis yang bukan sekadar copas, lho. Mengerjakan proses menulis yang sebenarnya. Mulai dari mencari ide, menuangkannnya dalam tulisan, mengedit hingga memposting. Karena kegiatan menulis itu menuntut otak kita untuk berpikir dan aktif bekerja.