Mengejar pak Jamil Azzaini dan Ilmunya


Di susunan acara Milad ke-27 travel umroh, PT Arminareka Perdana, 16 Juli 2017 di Plenary Hall Balai Sidang Senayan Jakarta, tidak tercantum nama Jamil Azzaini, motivator, yang saya kagumi.

Namun, saya kaget ketika mendapat informasi lisan bahwa Jamil Azzaini akan tampil berbagi ilmu dan pengalaman di hadapan 4.000-an undangan, mulai jajaran direksi hingga leader-leader yang datang dari berbagai daerah.

Ini adalah kesempatan emas untuk bisa bertemu dengannya.

Dan benar, selama dua jam mulai pukul 13.30 WIB saya bisa melihat langsung, menyerap ilmu dan energinya bahkan foto bersama motivator yang tulisan-tulisannya sering saya baca di blog http://www.jamilazzaini.com/

Sebelumnya, pernah juga saya lihat penampilannya di acara I’m Possible Metro TV bersama Merry Riana.

Satu hal yang saya kagumi dari sosok motivator itu adalah ekspresinya dalam presentasi. Begitu menjiwai seperti seorang aktor.

Dia bisa bersedih hingga meneteskan air mata dan berhenti sejenak menghapus air matanya dengan sapu tangan ketika bercerita kesalahannya pada sang ayah.

Di saat lain, dia begitu bersemangat mengajak hadirin menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Senyum dan tawa hadirin juga muncul ketika dia menceritakan kisah-kisah yang lucu yang dialaminya bersama anak-anaknya.

Ketika pak Jamil turun dari panggung, saya sudah berniat untuk mencegat dan minta foto bersama. Saya dan istri yang duduk di tribun di sebelah kiri panggung, harus bersiap-siap keluar ruangan. Saya bilang sama istri mau foto bareng pak Jamil. Istri mengiyakan dan menunggu saya di tribun.

Turun dari kursi, saya bergerak ke pintu keluar berlomba dengan pak Jamil yang mulai melangkah meninggalkan ruang VIP. Dalam hati saya berdoa,”Bantu aku, ya Allah bisa bertemu pak Jamil Azzaini. Ini momen yang langka”.

Alhamdulillah, ketika keluar dari ruangan, saya lihat ada beberapa orang yang mendekati pak Jamil. Otomatis langkah pak Jamil berhenti sejenak, melayani para penggemarnya yang minta foto bersama.

Setelah selesai, gantian saya yang menyapa,”Perkenalkan saya Yudhi dari Pontianak, pak, saya sering baca tulisan bapak di blog. Boleh saya foto bareng bapak?”

‘Boleh, kita foto selfi ya”jawab pak Jamil dengan senyum ramah.

Dan jadilah foto berdua dengan pak Jamil Azzaini seperti yang terlihat di atas.

 

 

Iklan

Merry Riana, Motivator yang Rendah Hati

Tadi malam jam 20.30, saya nonton tayangan perdana Merry Riana, I’m Possible, di Metro TV. Sebuah tayangan berisi motivasi  yang menggantikan  Mario Teguh Golden Ways. Saya baru tahu tayangan ini justru dari twitter. .

Sebagai follower akun @Merryriana, saya sering baca tweet-tweet Merry Riana yang sangat memotivasi diri. Sebelum follow akunnya, saya sudah baca kisah hidupnya di buku Mimpi Sejuta Dolar.

Yang benar-benar bikin saya salut setelah baca buku itu adalah ketika harus berhemat di Singapura agar dapat tetap kuliah. Hanya dengan uang 10 dolar Singapura dan tinggal di kota dengan biaya hidup yang tinggi, dia membuktikan bisa bertahan hidup selama seminggu.

Caranya? Untuk minum, dia nggak mesti beli di kantin kampusnya. Kadang-kadang saat situasi sepi, dia terpaksa minum dari air kran di tempatnya kuliahnya. Demi menghemat uang sewaktu makan, dia memilih menu termurah dan minta supaya kuahnya diperbanyak. Bila sudah terpaksa sekali, mie instan adalah satu-satunya pilihan untuk mengganjal rasa lapar. Semuanya dilakukan agar uang sebesar itu cukup untuk biaya hidup seminggu.

Ketika menjadi followernya, hal lain yang bikin saya respek sama Merry Riana adalah dia selalu berusaha retweet para followernya. Termasuk saya yang pernah dua kali tweet dan mention ke @Merryriana. Dua kali pula dia selalu retweet. Artinya, perhatian Merry Riana pada para followernya begitu tinggi.

Saya bisa bayangkan kalau dengan followernya saja yang nggak ada transaksi bisnis perhatiannya begitu bagus, apalagi dengan klien-kliennya ketika dia bekerja sebagai saleswoman. Pasti para kliennya begitu tersanjung dan beruntung mendapat agen sales seperti Merry Riana. Pantas kalau dia mendapatkan penghasilan sejuta dolar Singapura ketika baru berumur 26 tahun.

Memang saya belum pernah bertemu langsung dengan Merry Riana, namun dari membaca buku biografinya, menjadi followernya di tweeter dan melihat penampilannya tadi malam di acara I’m Possible, saya percaya bahwa dia adalah motivator milyarder yang tak hanya menginspirasi namun juga rendah hati.

Keluargaku Motivatorku

Pernah mengalami kejenuhan, ogah-ogahan atau nggak semangat dalam bekerja?

Seorang mitra kerja pernah bilang, bila menghadapi kondisi seperti itu, dia akan mengambil foto keluarga dan menatapnya satu demi satu dengan seksama.

Foto yang disimpan dalam dompet itu menjadi semacam penyemangat di saat motivasinya dalam bekerja menurun.

Melihat satu per satu anggota keluarga, mulai dari istri dan anak-anaknya membuat semangat kerja dalam dirinya menyala kembali.

Di sisi saya baru paham, mengapa ada sebagian orang yang menyimpan foto keluarganya di dompet, meletakkan di meja kerja atau menampilkannya sebagai wall paper di laptop atau HP.

Awalnya saya berpikir kalau memajang foto keluarga itu karena ada keinginan untuk pamer. Makanya saya jarang menampilkan foto keluarga di meja kerja atau laptop. Kalau di gadget sih memang ada.

Namun ternyata pemahaman saya itu nggak sepenuhnya benar. Setelah mendapat penjelasan mitra kerja tadi, pemikiran saya berubah.

Foto keluarga itu bagaikan energi yang menyemangati. Ada kekuatan yang muncul di dalam diri ketika kita memandang orang-orang tercinta dalam foto itu. Ada keinginan untuk bekerja serius dan memberikan yang terbaik bagi mereka.

Melihat satu persatu wajah anggota keluarga seperti memancarkan harapan mereka yang besar pada diri kita.

Ternyata keluarga merupakan sumber motivasi yang penting dalam bekerja.

Indra Sjafri, Pelatih Sekaligus Motivator Ulung

Masih melanjutkan postingan sebelumnya tentang pelatih Timnas U-19 yang cetar membahana, Indra Sjafri. Sosok dari Minangkabau yang saat ini namanya moncer dan membangkitkan optimisme di tengah berbagai berita bernada pesimisme yang melanda negeri ini. Figur yang juga mampu membangkitkan rasa nasionalisme rakyat Indonesia.

Sepakbola memang universal. Meski berbeda suku, agama, ras dan antar golongan, hampir semua orang membicarakan Timnas U-19. Mulai dari rakyat hingga pejabat. Dari warung kaki lima hingga hotel bintang lima. Timnas U-19 juara piala AFF dan lolos ke putaran piala Asia 2014 sudah bikin senang hati kita. Apalagi kalau mampu menembus empat besar dan meraih tiket piala Dunia 2015.

Selain jeli memilih pemain dan ahli meracik strategi permainan, Indra Sjafri ternyata juga seorang motivator ulung. Simak saja pernyataannya ketika Timnas U-19 akan bertanding melawan Korsel.

Bila sebagian besar pengamat bola maupun mantan pemain lebih mengunggulkan skuad negeri ginseng untuk memenangkan partai Indonesia-Korsel, Indra Sjafri justru sebaliknya.

Dia tanamkan keyakinan pada para pemainnya bahwa Korea bisa dikalahkan. “Kita nggak berada di bawah Korea. Justru Korea yang posisinya berada di bawah kita”ungkapnya. Sepekan sebelum bertanding dia janjikan kemenangan atas juara bertahan Piala Asia U-19 tahun 2012 itu. Ucapan yang dianggap sebagai mimpi di siang bolong oleh pelatih lainnya.

Bagi banyak orang, ucapan-ucapan Indra Sjafri tersebut sulit untuk dipercaya dan seakan-akan hanya membual bisa mengalahkan Korea. Dari hitungan prestasi, postur tubuh dan skill, di atas kertas pasukan Laskar Taeguk tersebut diprediksi banyak pengamat lebih unggul dibandingkan tim Merah Putih.

Namun ketika peluit kick off dibunyikan di Gelora Bung Karno, yang terlihat justru sebaliknya. Pemain-pemain Korea seperti kehabisan akal untuk meladeni TimnasU-19. Pelatih Korea yang pada menit-menit awal terlihat duduk santai mulai terlihat tegang dan berdiri di pinggir lapangan ketika timnya kebobolan terlebih dahulu oleh gol Evan Dimas.

Saat itu, kita melihat bagaimana para pemain tak hanya mampu mengungguli Korea namun yang menonjol adalah semangat bermain yang tidak mau kalah dari lawannya yang ditunjukkan Evan Dimas cs.

Juga rasa percaya diri yang tinggi dari timnas U-19 menghadapi juara Piala Asia 12 kali. Tidak terlihat keraguan sedikitpun dan rasa gentar dengan nama besar Korsel. Yang muncul justru permainan yang bertenaga, para pemain yang tak kenal lelah menjelajah setiap area dan berusaha keras merebut bola dari pemain lawan.

Motivasi yang disuntikkan Indra Sjafri telah membangkitkan kepercayaan diri Timnas U-19. Evan Dimas cs  tidak mau negaranya diinjak-injak dan dipermalukan di kandang sendiri oleh tim lawan. Sikap pantang menyerah dan militansi serta rasa nasionalisme tinggi terbawa dalam permainan. Semangat bermain yang pernah juga ditunjukkan Timnas Senior ketika bertanding di Piala Asia 2007 di SUGBK.

Meski saat ini Timnas U-19 diberikan kesempatan untuk berlibur seminggu dan menikmati prestasi lolos ke putaran final Piala Asia tahun 2014, bukan berarti kata-kata motivasi Indra Sajfri juga terhenti.
Dengan fasilitas media social, sang pelatih tetap rajin berkicau menyemangati pemain asuhannya yang tersebar di seluruh pelosok tanah air untuk terus mengejar mimpi.

“Tidak ada kata tidak mungkin. Semua bisa terjadi jika kamu yakin.”

Tak hanya itu, Indra Sjafri juga mengingatkan agar Evan Dimas cs tak sombong dengan keberhasilannya mengalahkan Korea dan menjadi juara grup G tanpa pernah terkalahkan.

Sikap dan tindakan tersebut benar-benar menunjukkan kepada kita, bagaimana totalitas dan passion Indra Sjafri terhadap profesinya tak perlu diragukan lagi. Kata-kata motivasi tak hanya disampaikan ketika pemain berkumpul dan akan bertanding. Namun juga ketika pemain kembali ke kampung halamannya untuk beristirahat. Hal tersebut sekaligus juga menandakan bagaimana kedekatan seorang pelatih dengan pemain asuhannya.

Tak heran, ketika bertanding di lapangan para pemain memperlihatkan rasa hormat dan bermain sepenuh hati. Begitu hormatnya kepada sang pelatih, sampai ketika Muchlis Hadi Ning dan Yabes Roni ketika melakukan kesalahan karena memiliki peluang emas dan gagal mencetak gol, keduanya meminta maaf dengan menangkupkan kedua tangannya di dada sambil melihat ke tepi lapangan. Joss tenan…

Rasa hormat yang juga ditunjukkan ketika pemain diganti dan keluar lapangan. Jika di tim sepakbola lainnya pemain lain hanya bersalaman dengan sang pelatih pada saat keluar lapangan, pemain Timnas U-19 bahkan sampai mencium tangan Indra Sjafri.