Pengalaman Pertama Naik Bis DAMRI Limusin Pontianak – Nanga Pinoh

Tertarik naik bis ini ketika lihat banner yang ada di Kantor DAMRI Pontianak di jalan Pahlawan. Cuma waktu itu, rute yang dilayani baru Pontianak – Sintang PP. Rute Pontianak – Nanga Pinoh PP belum ada.

Keinginan itu akhirnya terpenuhi juga. Tanggal 13 Juli 2019 saya naik bis ini dari Pontianak ke Nanga Pinoh. Berangkatnya dari Terminal Antar Negara Ambawang jam 19.30. Kalau bis DAMRI lainnya yang tipe Royal dan Legacy berangkat duluan. Jam 19.00.

Pesan tiketnya bisa lewat Whatsapp (WA). Setelah dapat nomor kursi, saya ambil print out tiketnya di kantor DAMRI. Rute Pontianak – Nanga Pinoh tarifnya 210 ribu per orang.

Fasilitasnya itu lho yang bikin saya penasaran. Ada WiFi, LCD Monitor di tiap kursi. Bisa buat dengerin musik atau nonton fim. Tapi harus pakai headset. Toilet.  Tempat pengisian batere HP.

Dikasih juga bantal leher dan selimut. Snack dan air mineral dalam kotak. Tambahan lain penumpang ditawari minum teh atau kopi hangat. Yang diambilkan pramugaranya. Saya pilih teh hangat saja. Isinya setengah cup. Kalau penuh khawatir tumpah kali ya kena bis yang bergoyang 🙂

Sebelum berangkat, driver yang berbaju putih lengan pendek pakai dasi menjelaskan fasilitas di bis. Juga waktu tempuh perjalanan, berapa jarak tempuh dan perkiraan jam berapa sampai di Nanga Pinoh. Termasuk singgah dan istirahat di rumah makan di Sosok. Waktunya 30 menit. Kalau penumpang minta tambahan waktu bisa menghubungi kru.

Waktu saya naik bis itu, dari kapasitas 21 kursi yang terisi 14 kursi. Saya pilih kursi tunggal. Nomor 7.

Waktu akan sampai di Nanga Pinoh, penumpang juga ditawari handuk dingin untuk membersihkan wajah. Ada yang ambil handuk itu ada juga yang tidak. Saya ambil handuk yang ditawarkan pramugara. Setelah selesai dipakai, pramugara mengambil lagi handuk-handuknya. Bis tiba di  Nanga Pinoh sekitar jam 4 pagi. Dan tak lama kemudian terdengar adzan subuh dari mushola di terminal.

Oya, AC di bis ini cukup dingin. Jadi yang mau naik siap-siap pakai sweater atau jaket yaa 🙂

Nikmatnya Kopi Tarik di Nanga Pinoh

Kalau bukan karena ajakan teman kerja, mungkin saya nggak singgah ke tempat ini. Warung kopi Tarik Jaya. Sore hari setelah perjalanan dari camp, kami berempat ngopi dulu. Sebelum tiga orang lanjutkan perjalanan ke Pontianak.

Biasanya kalau di warung kopi, saya pesan kopi susu. Di warung kopi tarik ini saya pesan kopi manis. Bikin kopinya memang beda dengan yang dibikin di warung kopi langganan saya. Lebih lama karena harus bolak balik dituang di dua teko. Setelah itu baru dituang di gelas kecil.

Rasanya memang beda sekali dibanding kopi biasa. Kopi tarik rasa dan aroma kopinya benar-benar mantap. Malah ada dua biji kopi yang ditaruh di gelas. Jadi benar-benar rasa kopi. Harganya pun lebih murah. Hanya 5 ribu per gelas. Di tempat lain yang bukan kopi tarik malah 6 ribu.

Itulah sebabnya waktu pulang dari Pontianak dan sampai di Nanga Pinoh, saya sempatkan singgah dan ngopi lagi di tempat ini. Masih kepengen ngerasain kopinya yang khas.

Nampaknya kalau ke Nanga Pinoh, saya akan lebih sering singgah di tempat ini buat ngopi-ngopi lagi.

Pucuk Dicinta Ulam pun Tiba

Jpeg

Saat ini sedang musim liburan akhir tahun. Sebagian teman-teman kerja ijin atau menjalani cuti untuk bisa berkumpul dan berlibur bersama keluarga. Sebaliknya, ada juga keluarga teman-teman yang naik ke camp.

Berlibur di tengah hutan di tempat kerja ayahnya. Anak-anak terlihat sedang bertemu dengan kawan barunya. Baru pertama ketemu, kenalan dan terus langsung bermain sama-sama. Naik sepeda di lapangan badminton, masak-masakan, juga mandi di sungai sama orang tuanya.

Beberapa teman lain termasuk saya keluarganya nggak berlibur di camp. Istri saya sama anak-anak bilang punya rencana bersih-bersih rumah dan halaman sekitarnya. Memangkas tanaman, memotong rumput dan membersihkan sampah-sampahnya.

Karena keluarga nggak naik dan liburan ke camp, pernah satu ketika saya terpikir untuk sehari ijin dan liburan ke Pinoh. Menikmati wisata kuliner. Syukur-syukur ada teman yang mau diajak. Ingin silaturahmi ke teman-teman yang tinggal di Pinoh sekalian belanja buat keperluan di camp.

Nggak sampai seminggu punya keinginan seperti itu, tiba-tiba saya dapat undangan pernikahan. Seperti peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba. Ada teman kerja yang tinggal di Pinoh adik iparnya menikah. Resepsinya hari ini tanggal 28 Desember 2017 jam 16.00 sampai jam 20.00. Setelah ngobrol dengan teman-teman kerja, rencananya kami delapan orang yang mewakili beberapa bagian hadir di acara tersebut.

Setelah terima undangan itu saya merenung, belum lama punya niat mau pergi ingin ketemu teman dan sahabat, ternyata Allah sudah menunjukkan jalannya supaya saya bisa ke sana.

Bis yang Melewati Tiga Negara

Rute bis biasanya melewati beberapa kota dalam satu pulau atau beberapa kota antara dua pulau yang masih berada  dalam satu negara.

Tidak demikian halnya dengan rute bis di Kalimantan Barat (Kalbar). Selain melayani rute antar kota dalam propinsi, seperti Pontianak – Sintang PP, Pontianak – Nanga Pinoh PP, Singkawang – Sintang PP, rute bis tersebut juga melayani antar kota lintas negara.

Oleh karena transportasi jalan dari Kalbar telah terhubung ke negara bagian Sarawak Malaysia melalui perbatasan Entikong,  beberapa perusahaan milik swasta ataupun milik negara (BUMN) juga mengoperasikan bis antar negara rute Pontianak – Kuching dengan tarif  Rp 160.000 per orang sekali jalan.

Tidak hanya itu, perusahaan milik negara, DAMRI, juga telah mengoperasikan bis dengan rute yang berbeda yang melintasi tiga kota dalam tiga negara, yaitu  Pontianak  (Indonesia) – Serian (Malaysia) – Bandar Seri Begawan (Brunei Darussalam).

Bis yang melintasi tiga negara tersebut berangkat dari Pontianak pukul 07.30 setiap hari menuju Bandar Seri Begawan dengan waktu tempuh 23  – 27  jam. Harga tiketnya  Rp 550.000 per orang  sekali jalan dengan kapasitas tempat duduk 28 – 36 orang.

Memang ironis, transportasi darat antar negara dari Kalbar telah terhubung dengan lancar hingga negara tetangga, yaitu Malaysia dan Brunei. Namun, dengan propinsi tetangga seperti Kalteng, Kalsel dan Kaltim, justru belum ada akses jalan yang memadai yang memungkinkan transportasi umum dari Kalbar menjangkau kota-kota di ketiga propinsi tersebut.

Hal tersebut ditambah lagi tidak adanya sarana transportasi udara yang langsung menghubungkan antar ibukota propinsi di pulau Kalimantan, baik dari Pontianak – Samarinda, Pontianak – Palangkaraya ataupun Pontianak –  Banjarmasin. Untuk melakukan perjalanan menuju kota – kota tersebut via udara, harus memutar dan transit di Jakarta terlebih dahulu.

Tak heran, kalau saat ini tetangga saya yang tinggal di Pontianak bila ingin kembali ke tempat kerjanya di Banjarmasin menggunakan pesawat, harus singgahdan jalan-jalan di Bandara Soekarno Hatta terlebih dahulu, karena pesawat yang ada rutenya  dari Pontianak – Jakarta dan  dilanjutkan dari Jakarta – Banjarmasin.

Itulah faktanya, meski dalam satu pulau, transportasi darat ke negara tetangga sangat lancar, tetapi ke propinsi tetangga malah harus memutar .

Sumber foto : regional.kompasiana.com