Mudahnya Membuat PASPOR Secara ONLINE

Awalnya saya punya gambaran membuat paspor itu rumit karena banyak prosedurnya. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Ini yang saya alami sendiri bulan Oktober lalu ketika mengurus pembuatan paspor secara online.

Saya tertarik membuat paspor online setelah baca blognya mas Ryan. Bikin paspor secara online itu maksudnya kita mendaftar lewat websitenya Ditjen Imigrasi. Caranya seperti ini:

Pertama, buka dulu websitenya. Setelah itu kita pilih menu layanan publik, pilih layanan paspor online dan klik pra permohonan personal. Semua data mulai nama, alamat, tempat tanggal lahir, pekerjaan, jenis paspor yang dibuat, paspor berapa halaman semua diisi dengan teliti. Waktu mengisi data secara online ini saya lakukan di camp, karena jaringan internet di lokasi kerja sudah 3G jadi prosesnya lancar.

Setelah data diisi, via email kita akan mendapatkan bukti pengantar ke bank untuk melakukan pembayaran. Total biayanya Rp355.000.

Kedua, setelah transfer dana, dari pihak BNI akan memberikan slip bukti pembayaran. Di dalam slip itu ada kode jurnal bank yang harus kita isikan di aplikasi onlinenya. Untuk urusan transfer ini saya minta tolong istri di Pontianak untuk transfer ke BNI.

Sebenarnya bisa saja transfer pakai SMS atau mobile banking lari lokasi kerja di camp. Tapi slip bukti pembayarannya gimana? Setelah itu istri SMSkan kode jurnal bank yang ada di slip pembayaran tadi. Kode jurnal ini penting karena akan digunakan untuk proses selanjutnya secara online.

Ketiga, setelah konfirmasi pembayaran secara online, kita menentukan tanggal berapa akan mendatangi Kantor Imigrasi (KANIM). Kita juga diminta memilih lokasi KANIMnya. Karena domisili saya di Pontianak, saya pilih KANIM Pontianak. Via email kita akan menerima tanda terima permohonan yang akan digunakan saat verifikasi data di KANIM.

Keempat, datang ke KANIM sesuai tanggal yang tercantum dalam tanda terima permohonan. Pada waktu datang ke KANIM jangan lupa bawa semua dokumen asli dan foto copy KTP, KK, Akte Kelahiran atau Surat Nikah.

Kelima, di KANIM silakan minta formulir dan map ke loket. Setelah itu antri untuk pemeriksaan dokumen sekaligus mendapatkan nomor untuk masuk ke ruangan verifikasi. Di antrian ini rupanya dibedakan antara pemohon yang mendaftar paspor online dengan pemohon paspor langsung/offline.

Keenam, setelah mendapatkan nomor antrian verifikasi, selanjutnya kita menunggu lagi untuk dipanggil. Pada saat masuk ke ruangan verifikasi, ada dua orang petugas yang memeriksa. Petugas pertama memeriksa kecocokan nama dan data lain di KTP, KK dan akte kelahiran/surat nikah. Saya lihat nama dan tempat tanggal lahir di fotocopy KK distabilo. Dia juga menanyakan apakah sebelumnya sudah pernah buat paspor.

Ketujuh, selesai verifikasi data tahap selanjutnya adalah wawancara, pengambilan sidik jari dan foto yang dilakukan oleh petugas yang berbeda. Untuk pengambilan sidik jari dan foto harus beberapa kali diulang. Karena waktu ditampilkan di layar monitor, gambar sidik jarinya nggak muncul. Di tahap ini saya juga ditanya petugasnya untuk apa membuat paspor. Selesai di tahap ini, petugas akan memberikan surat pengantar untuk pengambilan paspor tiga hari beriutnya.

Kedelapan, sesuai dengan yang tertera di surat pengantar, tanggal 24 Oktober saya ke KANIM lagi. Setelah menyerahkan surat ke loket pengambilan paspor, sekitar 15 menit kemudian saya dipanggil dan diminta tanda tangan di kotak bagian dalam paspor dan juga di buku tanda terima pengambilan paspor.

Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga punya paspor. Senangnya tuh bukan hanya karena sudah punya paspor, tapi juga bisa mengurus sendiri mulai proses online sampai saat menerima paspor dari petugas KANIM. Kalau mengurus sendiri seperti ini ‘kan bisa tahu jalan ceritanya, beda kalau minta tolong orang lain atau lewat biro jasa.

Semoga setelah ini, buku paspornya sudah ada isinya, juga ada capnya :-). Maksudnya kalau ada yang mengajak untuk melancong ke luar negeri atau keperluan lainnya, dokumennya sudah disiapkan dulu.

Iklan

Mudahnya Memantau Seleksi Siswa Baru SMP dan SMA

Bulan Juli ini tak hanya indentik dengan bulan berlibur, tapi juga bulan pendaftaran anak sekolah. Bulan di mana anak-anak harus daftar ulang untuk yang naik kelas, juga daftar dan cari sekolah baru untuk yang sudah lulus.

Kalau sudah urusan daftar sekolah baru, nggak cuma anak-anak yang sibuk. Orangtuanya pun ikut repot. Mulai mengambil berkas pendaftaran di sekolah asal, menemani anak-anak mendaftar di sekolah baru, termasuk menanti dengan harap-harap cemas hasil seleksi dan penerimaan murid baru.

Seperti yang dialami oleh ibunya Nadia dan Aysha awal bulan Juli ini. Karena ada dua anak yang lulus sekolah dan melanjutkan ke SMP dan SMA. Kesibukan pun dimulai tanggal 1 Juli yang lalu. Setelah menyiapkan berkas milik Nadia dan menyerahkan ke panitia di SMA 1, besoknya dilanjutkan lagi menyerahkan berkas ke SMP 3 untuk mendaftarkan Aysha.

Itu belum termasuk daftar ulang dua anak cowok, Andra dan Nabil yang naik kelas tiga dan kelas dua. Saya memang harus banyak-banyak berterima kasih sama istri. Dari tempat kerja, saya cuma bisa diskusi via telepon dengannya dan memantau hasil seleksi penerimaan siswa baru via internet.

Meski jauh di mata, tiap hari perkembangan hasil seleksi siswa baru tetap bisa saya monitor lewat komputer. Kok bisa? Inilah manfaat teknologi informasi. Dengan fasilitas internet, Dinas Pendidikan Kota Pontianak selama tiga tahun ajaran ini telah menerapkan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) secara online, klik di sini.

Sistem online ini membantu siswa dalam proses pendaftaran dan pemantauan hasil seleksi. Karena lokasinya jauh dari rumah, siswa tak harus datang dan mendaftar di sekolah yang menjadi pilihan pertama. Dia bisa mendaftar di sekolah terdekat, meskipun sekolah tersebut dicantumkan sebagai pilihan kedua atau ketiga. Setiap siswa diberikan kesempatan mengisi nama SMP atau SMA yang diinginkan, mulai pilihan pertama sampai pilihan kelima.

Waktu itu, dengan NEM 33,2, Nadia coba-coba untuk memilih SMA 1 sebagai pilihan pertama. Pilihan keduanya SMA 3, dilanjutkan dengan SMA 7 sebagai pilihan ketiga, pilihan keempat SMA 2 dan terakhir SMA 8.

Pertimbangannya, lokasi SMA 1 ini tetanggaan dengan SMP 3, sekolah tempat Aysha mendaftar. Jadi harapannya, kalau Nadia diterima di SMA 1 dan Aysha masuk SMP 3, waktu antar jemput nggak perlu mutar-mutar.

Hari pertama sampai keempat, posisi Nadia masih bertahan di daftar siswa yang diterima di SMA 1. Namun pada hari kelima, namanya terlempar ke pilihan kedua di SMA 3, karena NEM terendah yang diterima di SMA 1 adalah 33,3. Bedanya tipis banget dengan NEM Nadia, cuma 0,1. Itu pun di SMA 3 posisinya sudah berada di urutan 157 dari 213 siswa yang diterima.

Selidik punya selidik, rupanya beberapa siswa yang NEMnya di atas Nadia baru mendaftar dan memilih SMA 1 sebagai pilihan pertama pada hari-hari terakhir.

Beda dengan adiknya, Aysha. Karena NEMnya termasuk lumayan, 28,2, peluang diterima di sekolah pilihan pertama besar. Terbukti, meski baru mendaftar pada hari kedua, sampai hari ini jam 09:37:48 namanya sementara masih tercantum di urutan 31 dari 252 siswa yang diterima SMP 3. Kemungkinan untuk terlempar ke sekolah yang menjadi pilihan kedua kecil, karena hari ini adalah hari terakhir seleksi penerimaan murid baru.

Dari internet, saya juga tahu kalau pengumuman resmi penerimaan siswa baru akan diumumkan pada hari Senin (8/7) jam 10.00, di sekolah di mana siswa tersebut diterima. Pengumuman tersebut ditandatangani Kepala Sekolah dan ditandai dengan cap basah sekolah.

Penerimaan siswa secara online ini sangat membantu orangtua. Saya dan istri nggak perlu datang ke sekolah untuk tahu posisi terakhir Nadia dan Aysha. Cukup buka komputer dan internet di kantor atau di rumah.

Meski saya nggak ikut menemani waktu pendaftaran, tapi setiap hari pergerakan nomor urut anak-anak saya amati, khususnya Nadia. Apakah hari ini posisinya masih di SMA pilihan pertama ataukah sudah melorot ke pilihan kedua? begitu seterusnya sampai hari terakhir.

Ternyata, nggak cuma anak-anak yang penasaran, apakah dia diterima di sekolah yang diinginkan. Orangtua pun ikut berharap-harap cemas menunggu hasil seleksi tersebut.

Energi Positip dari Dunia Maya

Kalau kita mau merenung sejenak, sebenarnya saat ini kita sedang hjdup di dua dunia : dunia nyata dan dunia maya. Ada juga yang bilang dunia offline dan dunia online.

Dunia nyata adalah kenyataan sehari-hari yang kita alami, yang mau tidak mau, suka tidak suka harus kita hadapi serta jalani. Dunia yang berisi berbagai peristiwa lengkap dengan permasalahannya yang sering menguras energi dan pikiran kita.

Dunia yang penuh dengan tekanan hidup yang menyebabkan orang-orang yang menghadapinya tidak hanya merasakan keletihan fisik, namun juga keletihan mental spiritual.

Bahkan dunia yang secara psikis dapat membawa orang-orang tanpa pikir panjang melampiaskannya dengan mengkonsumsi obat-obat terlarang atau melakukan tindak kekerasan.

Semua itu terjadi karena mereka tidak mendapatkan support, perhatian dan kepedulian yang cukup untuk mencegah dari perbuatan negatip.

Ironis memang, di dunia nyata dimana orang-orang sering bertemu secara fisik, bertatap muka secara langsung dan berbicara, namun sulit sekali seseorang menemukan orang yang bisa dipercaya untuk mendengarkan secara tulus uneg-uneg, keluhan dan curahan hatinya.

Akhirnya, kehadiran dunia maya dengan segala fasilitasnya berupa jejaring dan media sosial menjadi “sahabat baik” yang siap untuk menerima segala keluhan dan curahan hati para penggunanya.

Coba anda simak, apa saja yang diungkapkan seseorang pada saat update status di facebook atau twitter. Sebagian besar berisi ungkapan curahan hati seseorang : senang, kesal, sedih, marah, kecewa,  semuanya ada.

Tidak hanya itu, selain menjadi tempat menumpahkan segala keluh kesah dan curahan hati, jejaring dan media sosial juga telah menyiapkan diri sebagai “sahabat” yang siap untuk memberi energi positip berupa support, perhatian dan nasehat.

Berbagai support dan perhatian yang berkelimpahan serta menguatkan hati anda akan anda terima tanpa dibatasi waktu.  Beragam kalimat yang berisi motivasi dapat baca dan praktekkan sesuai keperluan, tinggal dipilih.

Kalau di dunia nyata, bisa jadi anda susah mencari teman yang bisa mendengar, memahami dan sekaligus memotivasi, sebaliknya di dunia maya, anda akan susah untuk memilih sekian banyak teman yang siap setiap saat untuk memberi motivasi.

Sumber gambar : www. gurubisnisonline.com