Bertemu Teman-Teman Lama di Palangkaraya

Jika berada di satu kota, saya berusaha bertemu dengan teman-teman yang tinggal atau bekerja di kota itu. Tak terkecuali ketika saya berada di Palangkaraya dalam rangka tugas. Mengikuti pembinaan tenaga teknis yang diadakan Balai Pengelolaan Hutan Produksi wilayah X Palangkaraya.

Saat berada di bandara tanggal 22 Mei menunggu terbang ke Palangkaraya, saya berusaha hubungi Nandang, teman kuliah, yang bekerja di BKSDA. Saya ngobrol via WA dan mengajak bertemu. Rupanya dia sudah pindah ke Jakarta sejak Pebruari lalu.

Saya coba hubungi teman lainnya yang bekerja di Dinas Kehutanan Propinsi. Namanya Rujito. Juga teman satu angkatan waktu kuliah di Jogja. Waktu itu belum ada jawaban. Alhamdulillah, sampai di Palangkaraya ada tanggapan dan dia menanyakan posisi saya. Setelah saya jelaskan saya sudah sampai di Palangkaraya, kami pun janjian bertemu tanggal 23 Mei malam. Dia juga berusaha hubungi Gunawan teman sekantornya. Selesai acara  di hotel Aquarius sekitar jam 2 siang, saya dihubungi lagi oleh Rujito. Malah dia bilang hotelnya itu dekat dengan tempat kerjanya. Hanya saja karena selesai acara diajak teman-teman dari perusahaan lain ngebakso di warung Arema, saya nggak sempat datang ke kantornya.

Sore hari menjelang maghrib Rujito telepon. Tapi karena handphone saya low batt, belum sempat saya jawab, sambungan telepon terputus. Saya harus isi dulu baterenya beberapa menit. Saya coba hubungi balik Rujito dengan handphone yang satunya. Disepakati, dia akan jemput saya di hotel dan setelah itu ke rumah Gunawan, baru ke kedai kopi.

Sekitar jam 19.30, Rujito menjemput saya di hotel dan kami berdua meluncur ke rumah Gunawan. Saat kami datang ke rumahnya, kondisi Gunawan sedang kurang fit karena batuk dan pilek. Setelah ngobrol di rumahnya, sekitar jam 21.00 kami pun pergi mencari kedai kopi.

Sampai di tempat, kami pesan kopi gayo dan robusta dengan cemilan roti bakar. Nikmatnya ngopi dan ngemil sambil bernostalgia dengan teman lama. Nggak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 22.20. Sudah lewat dari jadwal kedai kopi yang tutupnya pukul 22.00. Meski pintu sliding door kedai sudah tutup, namun saya lihat masih ada beberapa pengunjung yang berada di kedai itu.

“Besok siapa yang antar ke bandara?Kalau belum ada, nanti saya antar”tanya Rujito di dalam mobil sewaktu mengantar saya kembali ke hotel.

“Saya sudah pesan kawan, supaya jemput jam 5 pagi antar ke bandara”jawab saya.

“Kamu ke Palangka cuma sebentar, kalau agak lama, kita jalan-jalan lagi”kata Rujito.

“Makasih, Insyaa Allah kalau ke Palangka lagi saya hubungi. Saya ingin juga lihat tempat rehabilitasi orang utan”komentar saya

“Oo.. rehabilitasi orang utan nyaru menteng ya”kata Gunawan

Obrolan kami pun berakhir ketika mobil sampai di hotel. Setelah turun dari mobil, saya berkali-kali bilang terima kasih ke Rujito dan Gunawan. Semoga kita bisa bertemu lagi ya teman. Bersilaturahmi, bernostalgia dan menikmati sedapnya segelas kopi robusta dan lezatnya roti bakar di Palangkaraya.

 

 

 

Iklan

Demi Seporsi Ketupat Kandangan

IMG01965-20140912-0711

“Akhirnya kesampaian juga pak Yudhi makan ketupat kandangan”komentar seorang teman.

Seporsi makanan khas Banjar yang kami nikmati di warung H. Idah ketika hari kedua di Palangkaraya. Makanannya sih sederhana. Potongan ketupat ukuran besar dari beras tanpa campuran ketan. Ditambah kuah santan, lauk ikan haruan yg diasap dan ditaburi bawang goreng. Lauknya inilah yang membedakan dengan ketupat yang biasa disantap ketika lebaran Idul Fitri.

Demi seporsi ketupat kandangan ini, saya dan dua orang teman akhirnya nggak merasakan menu sarapan di Swiss Bell Hotel International Danum. Kalau dipikir-pikir, memang lebih enak sarapan di hotel. Menunya macam-macam dan bisa memilih sesuka hati. Restorannya juga nyaman. Berada di tepi taman dan kolam renang. Makanya, dua orang teman memilih sarapan di hotel daripada ikut menikmati ketupat kandangan. “Banyak santannya”katanya. Mungkin takut kolesterolnya naik kali ya.

Namun karena terlanjur janji dengan teman yang tinggal di Palangkaraya, rencana sarapan di hotel lima bintang itu nggak jadi . Apalagi teman itu membawa sendiri mobilnya dan menjemput kami di hotel. Rasanya nggak enak hati kalau dia sudah datang ke hotel, tiba-tiba agenda makan ketupat kandangan dibatalkan.

Berangkat dari hotel jam 06.45 WIB, kami berempat langsung meluncur ke kota menuju warung ketupat kandangan. Lumayan, masih ada waktu satu jam lima belas menit sebelum acara dimulai. Rupanya letak warung makan itu nggak jauh dari rumah makan spesialis ikan bakar Al Mu’minun yang sehari sebelumnya kami makan siang di situ.

Tiga orang selesai makan duluan. Selesai menikmati seporsi ketupat kandangan dan segelas teh manis hangat, saya bergegas ke depan. Saya terkejut ketika tanya ke ibu yang meracik ketupat kandangan,”Berapa semuanya?”.  Dengan logat Banjarnya ibu itu menjawab,” Sudah dibayar sama bapak itu”.

Alamak, baik benar kawan satu ini. Sudah menjemput di hotel, menyetir sendiri mobilnya dan membawa kami makan ketupat kandangan, masih pula dia yang membayari kami bertiga.

Terbang ke Palangkaraya

Setelah satu tahun, akhirnya dapat kesempatan lagi ke bandara. Nggak cuma lihat-lihat, tapi sekalian terbang dari Pontianak ke Palangkaraya via Jakarta. Ada tugas dari kantor untuk mengikuti sosialisasi peraturan terbaru dari Kemenhut. Juga kendala dan permasalahan jika aturan baru itu dilaksanakan di lapangan.

Terakhir kali terbang akhir Agustus tahun lalu waktu pulang ke Jogja. Itu pun setelah ada kepastian pengalihan tiket dari Batavia ke Express Air.

Kali ini merasakan pengalaman lain naik Lion Air. Bagi yang hobi ngemil dan nggak tahan lapar, kalau mau naik Lion Air baiknya bawa cemilan. Karena di pesawat ini nggak nyediain snack dan minuman secara gratis. Tapi kalau mau beli di dalam pesawat ya silakan.

Untungnya sebelum ke bandara, jam 5.15 sudah sarapan nasi goreng di rumah buatan istri. Selesai sarapan jam 5.30 terus meluncur ke bandara. Taksi avanza yang dipesan rupanya sudah stand by di depan rumah. Berangkat pagi-pagi karena pesawat take off 07.10.

Tiba di bandara rupanya dua teman dari camp sudah datang duluan. Janjian ketemuan sih jam 6. Pagi. Rupanya setengah jam sebelumnya mereka sudah di berdiri di depan ruang keberangkatan. Syukurlah bukan saya yang menunggu mereka hehehe. Kami bertiga langsung masuk ke ruang check in dan ternyata konter Lion Air masih sepi. Dapat antrian nomor tiga.

Waktu orang kedua check in inilah ada kejadian lucu. Seorang bapak di depan saya kelihatan bingung dan bertanya,”Lihat kardus punya saya nggak?” Saya balik tanya,”Lho, tadi diletakkan di mana, pak?” Sambil check in, dia mencari-cari kardusnya di sekeliling tempatnya berdiri. Nggak ketemu juga.

Petugas chek in pun sempat bilang,”Apa terbawa masuk ke bagasi?” Akhirnya bapak itu pun masuk ke tempat timbangan bagasi barang dan mencari-cari kardusnya. Giliran saya yang check in dan saya serahkan tiket plus KTP.

Seumur-umur, baru kali ini saya lihat ada penumpang kehilangan barang bawaan di ruang chek in. Dan mencarinya sampai ke tempat kerja petugas check in. Rupanya nggak ketemu juga.

Saya pun setelah dapat boarding pass terus mengajak teman-teman antri bayar pajak PSC dan masuk ruang boarding. Moga-moga ketemu deh, pak, barang bawaannya.

Perahu Klotok, Transportasi Utama di Pedalaman Kalteng

Tidak seperti di Pulau Jawa ataupun Sumatera, dimana untuk menjangkau satu wilayah dengan wilayah lainnya telah terhubung dengan transportasi darat, di daerah pedalaman Kalimantan termasuk wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng),  transportasi sungai merupakan urat nadi bagi mobilitas warga masyarakat.

Di tengah keterbatasan infrastruktur jalan darat yang belum memungkinkan  menghubungkan satu wilayah kecamatan dengan kecamatan lainnya ataupun beberapa desa dalam satu kecamatan, warga masyarakat sering menggunakan perahu klotok untuk berbagai keperluan, mulai berbelanja kebutuhan pokok, mengunjungi sanak saudara ataupun menjual hasil usaha.

Perahu klotok, alat transportasi sungai yang biasa digunakan masyarakat terbuat dari bahan kayu keras seperti ulin (Eusideroxylon swageri) dan digerakkan menggunakan mesin kendaraan roda empat berbahan bakar solar. Alat transportasi berupa perahu klotok tersebut memiliki kapasitas penumpang bervariasi, mulai klotok berukuran kecil yang berisi 5 penumpang (biasanya untuk transportasi dalam satu desa dan tidak memiliki atap), dan klotok berukuran besar berkapasitas 15 – 30 orang  untuk melayani rute yang menghubungkan antar kecamatan.

Perahu klotok besar dilengkapi dengan stir seperti kendaraan roda empat dan dikemudikan oleh seorang motoris, sementara satu orang di belakang bertugas mengarahkan baling-baling dan membuang air sungai yang masuk ke dalam perahu. Para penumpang biasanya duduk di deretan depan dan tengah perahu, sementara itu barang-barang bawaan atau belanjaan diletakkan di bagian belakang.

Karena menempuh perjalanan jauh dan untuk mengurangi sengatan matahari, perahu klotok berukuran besar ini memiliki atap yang terbuat dari terpal plastik yang diikatkan pada kerangka besi yang dibuat melengkung dan melintang dari sisi kiri – kanan perahu. Dan untuk para penumpang, jangan lupa membawa bekal minuman dan makanan ringan secukupnya, karena hempasan angin dan deru suara mesin perahu di sepanjang perjalanan  membuat perut cepat lapar.

Perahu klotok berukuran besar sering digunakan masyarakat termasuk karyawan perusahaan yang bepergian menyusuri sungai dari daerah hulu ke hilir dan sebaliknya yang rutenya belum tersedia transportasi darat.

Salah seorang rekan kerja, Mas Aldy  yang pernah bepergian ke Palangkaraya melalui transportasi sungai menceritakan, dia harus berangkat dari base camp jam 4 pagi untuk mendapatkan perahu klotok reguler dari Tumbang Kejamei (Ibukota Kecamatan Bukit Raya) menuju Tumbang Senamang (Ibukota kecamatan Katingan Hulu) dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Kalau terlambat, resiko carter dengan biaya lebih mahal pun siap menanti dibandingkan dengan tarif reguler sebesar Rp 100.000 per orang.

Tiba di Tumbang Senamang, ada dua pilihan rute yang tersedia. Pilihan pertama, perjalanan dilanjutkan ke Tumbang Hiran (Ibukota kecamatan Marikit) selama sekitar 3 jam menggunakan perahu klotok yang berbeda. Pilihan kedua dari Tumbang Senamang langsung ke Tumbang Samba (Ibukota Kecamatan Katingan Tengah).

Rute Tumbang Senamang – Tumbang Hiran sering menjadi pilihan, karena tersedia jalan tanah melewati perusahaan HPH dari Tumbang Hiran menuju Tumbang Samba. Selain itu, jika memilih langsung ke Tumbang Samba berarti siap-siap menguji nyali karena harus melewati Riam Mengkikit, riam yang sangat terkenal di jalur sungai Katingan.

Jika tetap harus melewati riam ini, bagi penumpang yang tidak mau bertaruh nyawa disarankan turun dari perahu klotok dan berjalan kaki sekitar 600 meter, sambil sesekali melihat perjuangan motoris mengemudikan perahu klotok berusaha lolos dari pusaran arus air yang deras. Tapi bagi yang punya hobi arung jeram, tantangan Riam Mengkikit tampaknya boleh dicoba.

Tiba di Tumbang Samba, tersedia banyak pilihan kendaraan roda empat menuju Kasongan (ibukota Kabupaten Katingan) dengan waktu tempuh 1,5 jam.

Dari Kasongan, perjalanan melewati jalan aspal mulus dan relatif lurus menuju Palangkaraya selama 1,5 jam, seperti mengobati rasa lelah perjalanan menyusuri sungai, hingga akhirnya tiba di Palangkaraya sekitar jam 7 malam.

Luar biasa sobat, betapa tidak, untuk menempuh perjalanan dari ibu kota kecamatan hingga tiba di ibukota propinsi, sang teman dan para penumpang lainnya harus memerlukan waktu tempuh lebih dari 12 jam. Kalau di pulau Jawa, waktu tempuh itu setara dengan perjalanan dari Jakarta ke Jogjakarta menggunakan kendaraan roda empat dan melewati empat propinsi.