Bekal Makan Ketika di Perjalanan

Mungkin nggak banyak orang yang bawa bekal makanan saat dalam perjalanan. Apalagi bawa bekal nasi dan lauk untuk sarapan, makan siang atau makan malam di kendaraan umum.

Biasanya sebelum naik kendaraan, orang-orang yang bepergian akan makan dulu di rumah, di terminal, di stasiun atau di bandara. Kalau nggak, ya makannya waktu kendaraannya berhenti di rumah makan. Sekalian istirahat dan sholat.

Saya juga biasa makan dulu sebelum naik kendaraan umum dari Pinoh atau Pontianak. Perut diisi dulu sebelum naik bis malam atau bis pagi. Kalau nggak makan, kena AC yang dingin di bis bisa masuk angin.

Tapi hari Rabu lalu (12/1), karena waktu yang mepet, akhirnya saya minta tolong Aysha buat nyiapin bekal untuk makan malam di bis. Waktunya nggak cukup lagi buat makan malam di rumah.

Bisnya berangkat jam 19.00. Jam 18.00 adzan maghrib, sholat maghrib dan isya dijama’ perlu waktu sekitar 20 menit. Terus siap-siap berangkat ke agen bis. Normalnya perlu waktu 20 menit dari rumah kalau nggak macet. Jam 18.30 berangkat diantar istri dan anak-anak.

Sampai di agen bis, setelah letakkan barang-barang ke bagasi, saya cari tempat duduk sesuai tiket. Nomor 3 A. Kursi tunggal, formasi 1-2 bukan 2-2. Mumpung bisnya belum berangkat, saya buka bekal di dalam kotak plastik yang disiapkan Aysha. Ada nasi, sayur tumis sawi dan dua ekor ikan lele goreng. Langsung saya santap bekalnya.

Belum selesai makan, jam 19.00 bisa mulai perlahan bergerak. Saya teruskan makan sambil sekali-kali lihat pemandangan di luar. Sayang kalau bekal yang sudah disiapkan nggak dihabiskan. Nikmat sekali rasanya makan malam waktu perut lapar. Bis pun menambah kecepatan setelah meninggalkan kota Pontianak. Sampai di rumah makan tempat perhentian bis sekitar jam 22.30. Kalau penumpang lain banyak yang turun dan antri mengambil makanan, saya juga ikut turun tapi nggak ambil makanan karena masih kenyang. Turun buat isi ulang batere handphone.

Cuma saya belum tahu, kalau kita naik pesawat terbang boleh nggak ya bawa bekal makan dari rumah? 🙂 Karena nggak semua maskapai sediakan makan di dalam pesawat. Hanya berikan kotak snack berisi kue dan agua gelas.

Keikhlasan Pengemudi Bis

“Bawa HP nggak, Pak? Saya mau pinjam untuk nelpon ke rumah makan tadi. HP saya ketinggalan”tanya seorang penumpang kepada supir bis. Dia baru teringat HP-nya tertinggal di rumah makan saat bis telah berangkat dan melanjutkan perjalanan menuju Nanga Pinoh.

“Biar saya yang telpon kawan saya di sana, Pak”jawab supir itu menenangkan sang penumpang. Kemudian supir itu pun menghubungi kawannya, supir bis super eksekutif, yang masih singgah di rumah makan bersama para penumpang lainnya.

“HP-nya ditaruh dimana?”tanya kawannya setelah ditelpon.

“Di dekat kasir, posisinya masih dicharge”jawab sang supir bis eksekutif mengulang perkataan bapak pemilik HP tersebut.

“Sudah saya temukan HP-nya”ungkap sang supir bis super eksekutif kepada kawannya.

Setelah bis tiba di terminal Nanga Pinoh, saat penumpang lain mulai pulang ke rumah, sang Bapak masih menunggu sekitar satu jam kedatangan bis super eksekutif. Akhirnya, bis yang ditunggu-tunggu pun tiba dan dia bergegas menghampiri supir bis tersebut. Dia bersyukur karena HP-nya diterima dalam kondisi baik. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih kepada sang sopir

“Ini ada sedikit tips untuk ngopi, Mas”kata sang bapak sambil mengeluarkan selembar lima puluh ribuan, dua lembar sepuluh ribuan dan selembar lima ribuan dari dompetnya.

“Nggak usah, Pak”jawab sang supir bis.

“Ambil saja, Mas”desak sang bapak sambil menyerahkan uang itu ke tangan sang sopir.

“Nggak, Pak. Makasih banyak. Saya nggak bisa terima uang itu”sang sopir masih berusaha menolak.

Menerima respon seperti itu, bapak itu pun tak ingin mendesak lagi ke supir untuk menerima uang tanda ucapan terima kasihnya.

“Ternyata di jaman ini masih ada ya orang baik seperti dia. Mau menolong orang lain tanpa pamrih”cerita sang bapak saat makan siang tadi di kantor.

Lebaran, Tiket Bis Damri Pinoh-Pontianak Nggak Naik

IMG01911-20140725-1226

Di saat harga-harga barang dan jasa merambat naik menjelang lebaran, ternyata masih ada tiket transportasi yang nggak naik. Ini yang saya alami ketika membeli tiket bis Damri Pinoh-Pontianak untuk keberangkatan tanggal 26 Juli 2014. Tarifnya masih sama seperti hari-hari biasa. 145 ribu rupiah per penumpang untuk bis yang warna putih. Tarif ini sama dengan tiket yang saya beli tanggal 8 Juli lalu dengan rute dan bis yang sama.

IMG01913-20140725-1227

Kalau ada bis yang warna putih, apa ada bis yang warna lain ? Ya, ada dua bis yang dimiliki Damri untuk rute tersebut. Penumpang biasa menyebut bis eksekutif dengan bis putih dan bis super eksekutif dengan bis merah atau royal. Royal ini mungkin semacam tipe atau serinya. Kalau yang jurusan Pontianak – Kuching Malaysia sebutannya lain lagi, yaitu Legacy.

Bedanya adalah bis putih tempat duduknya 2-2, sehari dua kali trip, berangkat pagi jam 9 dan malam jam 7. Bis merah kursinya 1-2, tarifnya 175 ribu rupiah dan hanya berangkat malam hari jam 7. Nah, rencana pulangnya nanti naik yang bis merah ini. Moga-moga tarifnya juga nggak naik. 🙂

Tarif yang nggak naik itu tidak hanya terjadi tahun ini, namun juga tahun-tahun sebelumnya. Harga tiket untuk hari-hari menjelang lebaran tidak ada kenaikan atau kena tambahan tuslah sekitar 25 % dibandingkan hari-hari biasa. Hal ini yang agak berbeda dengan transportasi bis antar kota di Jawa. Saya pernah baca postingan di blognya mas Ochim tentang tarif lebaran bis antar kota di Jawa yang mengalami kenaikan dibandingkan hari-hari biasa.

Kebijakan tarif ini bisa jadi bervariasi antar perusahaan otobis dan daerah operasinya. Bagi penumpang, tarif lebaran yang tetap ini dapat menghemat keuangan karena pos terbesar biaya mudik lebaran adalah untuk transportasi.

Akhirnya Naik Speedboat Lagi

IMG01713-20131212-1002

Kondisi jalan Nanga Pinoh – Logpond Popai yang rusak parah membuat transportasi via sungai menjadi satu-satunya pilihan.  Tidak ada jalan lain. Speedboat yang sebelumnya sepi penumpang karena jarang digunakan, sekarang justru yang paling dicari.

Hukum ekonomi pun berlaku di sini. Karena permintaan melebihi penawaran, harga akan meningkat. Karena banyak karyawan dan masyarakat yang menggunakan speedboat, tarif Pinoh – Logpond pun naik. Biasanya 60 ribu rupiah per orang menjadi 100 ribu. Penumpang pun mengomel dan protes. Naiknya 50 % lebih.

Namun apa boleh buat. Nggak ada pilihan lain. Jika memaksakan naik mobil dengan kondisi jalan rusak parah, resiko di depan mata siap menanti. Mobil amblas di lubang-lubang yang dalam.

Meski bisa lolos, tapi  harus antri menunggu mobil lainnya yang terjebak lumpur ditarik alat berat atau truck. Yang lebih parah jika berangkatnya siang dan terjebak kendaraan yang amblas. Bisa tidur dan menginap di mobil, seperti yang dialami dua orang rekan kerja.

IMG01721-20131212-1019

Pada kondisi seperti itu, Naik speedboat memang waktu tempuhnya lebih cepat. Sekitar satu setengah jam. Namun ada juga yang merepotkan,  waktu menuju dermaga speedboat. Harus naik dan turun tangga. Apalagi kalau banyak bawa barang.

Kalau yang nggak biasa, nafas bisa ngos-ngosan. Seperti ketika saya bertemu lima orang tamu dari Pontianak waktu tiba di logpond Popai.

“Istirahat dulu, pak. Habis napas saya waktu naik tangga tadi”kata salah seorang tamu sembari duduk di samping saya. Bawa badannya sendiri saja sudah berat apalagi kalau menenteng tas atau koper.

“Ha..ha..ha”. Nggak apa-apa, Pak. Hitung-hitung olahraga”jawab saya.

Kenapa Harus Mengeluh ?

Penumpang turun dulu ya

Tidak mudah memang untuk tidak mengeluh atas apa yang terjadi pada diri kita. Jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan dan mempersulit langkah kita, spontan justru keluhan dan omelan yang terucap dari mulut. Padahal kondisi yang tidak mengenakkan itu belum tentu tidak baik untuk diri kita.

Perlu kedalaman berpikir untuk memaknai apa yang sebenarnya terjadi. Perlu kerendahan hati untuk bisa memahami, bahwa apa yang sebenarnya kita keluhkan itu justru mengandung hikmah kehidupan.

Seperti yang saya alami dalam perjalanan dari Nanga Pinoh ke Logpond Popai beberapa minggu yang lalu. Dengan menumpang kendaraan umum, perjalanan kami terhambat jalan yang rusak. Kendaraan terjebak jalan berlumpur dan tidak bisa digerakkan. Penumpang pun terpaksa turun dan jalan kaki untuk menunggu kendaraan ditarik kendaraan lain.

Tak terkecuali bagi para pemudik yang ingin pulang kampung bertemu dengan keluarga, sanak saudara dan tetangga. Terutama yang menggunakan moda transportasi darat. Kondisi sebagian jalan yang rusak dan dalam proses perbaikan, benar-benar menjadi hambatan utama di perjalanan.

Penumpang yang nggak sabar pasti ngomel-ngomel karena lambat sampai di tujuan. Ditambah lagi rasa lapar dan dahaga yang menyergap, karena nggak mengira kalau kendaraan akan mengalami nasib seperti itu.

Rencana yang sudah tersusun rapi, terkadang harus berubah saat dieksekusi. Persiapan yang sudah matang, adakalanya harus disesuaikan lagi dengan kondisi terbaru saat dijalani.

Di sinilah kesabaran penumpang benar-benar diuji. Kreatifitas kita sebagai penumpang kendaraan umum sedang diasah. Pada kondisi seperti itu, pilihan apakah yang bisa kita ambil? Tindakan apakah yang akan kita lakukan?

Apakah ngomel menyesali situasi yang terjadi, bengong dan tak berbuat apa-apa, marah-marah menyalahkan pihak lain atau berinisiatif memanfaatkan kondisi yang terjadi dengan hal-hal yang bermanfaat.

Sebagai salah seorang penumpang yang menyukai fotografi, kondisi seperti ini bagi saya laksana mendapat hikmah atau manfaat dibalik musibahi. Blessing in disguise. Kenapa begitu?

Minibus juga terjebak

1. Mendapat obyek foto gratis.

Dalam dunia fotografi, tidak mudah berburu obyek yang menarik dan alami. Untuk mendapatkan peritiwa atau gambar yang menarik, seorang fotografer harus menunggu momen yang tepat untuk mendapatkan obyek yang diinginkan. Bahkan, terkadang untuk mendapatkan peristiwa apa adanya dan alami, situasi pemotretan harus disetting untuk mendapatkan obyek yang diinginkan.

Peristiwa minibus yang terperosok adalah hal yang terjadi spontan, tanpa rekayasa atau direncanakan apalagi disetting. Ini bagaikan mendapat durian runtuh bagi penikmat fotografi. Sebuah momen yang pantas disyukuri oleh fotografer, pucuk dicita ulam pun tiba. Bila menghadapi situasi seperti itu, yang dibutuhkan adalah kepekaan untuk melihat bahwa hal tersebut adalah obyek fotografi yang layak diabadikan, bahkan memiliki nilai berita yang tinggi.

2. Merasa Bersyukur

Peristiwa minibus yang terjebak jalan rusak itu dan melihat para penumpang turun berjalan kaki, menyadarkan saya bahwa hambatan yang terjadi tak perlu membuat kita berhenti melangkah. Teruslah bergerak, move on meski rintangan berada di depan mata.

Tak hanya itu, supir minibus yang berusaha mengakali agar kendaraanya lolos dari jalan rusak juga menjadi kredit poin tersendiri. Dia tak hanya diam berpangku tangan, namun tetap aktif berusaha dengan berbagai cara. Dia tak hanya duduk-duduk menunggu datangnya bantuan tanpa berbuat apapun.

Sebuah pelajaran kehidupan telah saya peroleh dari jalanan. Pelajaran tentang pentingnya sikap untuk tidak mudah menyerah dengan situasi yang terjadi. Pelajaran tentang perlunya kegigihan dan sikap tak mudah menyerah meski hambatan dan rintangan menghadang. Pelajaran yang harus saya syukuri, karena semuanya terjadi di depan mata saya, alami dan nyata.

Terjebak jalan berlumpur

3. Perlunya Menjalani Proses

Menumpang kendaraan umum, merasakan kerusakan jalan hingga berupaya meloloskan minibus yang terjebak adalah rangkaian proses yang akan mendewasakan diri kita. Di sini diri saya tersadar bahwa ternyata perjalanan untuk mencapai satu tujuan tidaklah mudah. Ada tahapan-tahapan yang harus diikuti.

Ada proses yang harus dijalani, suka maupun duka, susah maupun senang. Tak mungkin kita mencapai satu tujuan tanpa melewati proses itu. Tak mungkin saya tiba di logpond tanpa memulai dengan menumpang kendaraan terlebih dahulu. Untuk mencapai tujuan ada kaidah-kaidah umum yang harus dijalani. Semuanya perlu proses dan nggak bisa instan.

bantuan akhirnya datang

4. Rencana tak Selamanya Berjalan Mulus

Sebagian orang berpendapat, bahwa kalau kita gagal merencanakan maka sama saja dengan merencanakan untuk gagal. Saya termasuk yang kurang setuju dengan pendapat tersebut. Karena sepertinya kalau rencana kita sudah matang, maka dijamin pelaksanaannya bakal mulus 100 %. Realisasinya nggak bakal meleset dari target.

Sebaik-baiknya rencana, tetap senantiasa menyediakan ruang untuk kemungkinan berubah pada saat dieksekusi di lapangan. Sematang-matangnya kita buat rencana mudik, mulai dari anggaran, transportasinya, akomodasinya, masih ada peluang untuk terjadi hal-hal di luar yang kita rencanakan.

Karena itu selain menyiapkan diri dengan rencana yang tersusun rapi, siapkan juga langkah-langkah penyesuaian diri jika terjadi hal-hal yang di luar kendali diri kita. Agar kita tak hanya sebatas lihai dalam menyusun rencana, namun juga bersiap-siap menerima kondisi terburuk yang bakal terjadi.

“Tulisan ini disertakan dalam TGFTD – Ryan GiveAway”

TGFTD - Ryan's GiveAway

He’s The Boss

IMG01020-20130608-1622

Mantap, salut dan hebat.
Itulah tiga kata yang pantas saya ucapkan untuk pak Abbay, supir sekaligus pemilik kendaraan umum yang tiap bulan mengantar kami dari Logpond ke Nanga Pinoh.

Minggu lalu, saya cukup kaget ketika kendaraan sewaan yang biasa dibawanya dari Logpond ke Nanga Pinoh beralih rupa. Tampak kinclong, plat sementara warna putih dan speedometernya baru 7.000 km.

Bulan sebelumnya dia masih bawa Strada warna merah untuk mengantar penumpang, tapi bulan ini sudah ganti kendaraan, hilux double cabin plus double gardan. Dia jual mobilnya yang lama kemudian beli hilux yang masih kinyis-kinyis.

Benar-benar nyaman naik mobil baru itu di kondisi jalan bergelombang dan berlumpur. Suspensinya lembut, lebih stabil dan goncangannya halus. Nggak seperti mobil yang dia bawa sebelumnya. Kena jalan berlubang, goncangannya terasa sampai ke tulang.

Waktu saya browsing untuk cari tahu harga mobil barunya …wow bukan main, sekitar 300 juta lebih. Sebanding dengan kenyamanan dan ketangguhannya menghadapi kondisi jalan berlubang.

Pak Abbay ini termasuk warga masyarakat yang tinggal di sekitar perusahaan dan jeli melihat peluang bisnis. Dia beli mobil pick up double gardan dan digunakan melayani penumpang, termasuk karyawan dari Logpond-Nanga Pinoh PP. Dia juga terima tawaran kalau ada yang carter dan minta diantar ke Sintang atau Pontianak.

Dia juga cerdas, memilih membeli kendaraan pick up dan bukan minibus atau van yang bisa memuat penumpang lebih banyak. Kebanyakan warga lainnya yang punya usaha transportasi, membeli kendaraan jenis ini.

Dia sudah melihat ada pasar, yaitu penumpang dan barang. Penumpangnya karyawan, tamu-tamu perusahaan, keluarga karyawan dan warga masyarakat yang memerlukan transportasi yang nyaman. Pasar yang lain pemilik toko yang makin menjamur dan memerlukan angkutan barang. Pasarnya ada,  penumpang dan barang, jalannya juga sudah tersedia, tinggal menyediakan kendaraaannya.

Meski orangnya pendiam, dia termasuk rajin membantu tetangganya yang nitip beli barang atau BBM ke Nanga Pinoh. Tetangganya yang punya toko adalah peluang menambah pendapatan, karena sering minta tolong beli BBM atau barang-barang lainnya.

IMG01022-20130608-1623

Dia dititipi beli minyak di Nanga Pinoh. Sekali angkut bisa 2 drum, isinya sekitar 200 liter per drum. Sekali mendayung dua tiga pula terlampaui. Sekali bawa mobil, selain dapat penumpang juga orderan barang. Dia juga pulang tidak dengan mobil kosong alias nggak ada penumpangnya.

Terbukti ketika sampai di Pinoh, dia baru saja terima telepon dan bilang ada empat penumpang yang mau ikut ke Logpond. Bukan dia yang cari penumpang, tapi penumpang yang telepon dia dan minta supaya bisa ikut. Apalagi kalau yang namanya habis gajian, menjelang lebaran atau natal. Pasti banyak karyawan yang cari dia.

Nah, sekarang  iseng-iseng coba kita hitung pendapatannya.

Kalau sekali jalan dari Logpond ke Pinoh, dia bisa dapat 300-350 ribu. Waktu tempuhnya 1 jam 15 menit. Bisa dibandingkan dengan waktu saya carter taksi dari Jogja ke Semarang dengan waktu tempuh normal 3 jam, ongkosnya 350 ribu.

Pergi pulang bisa dapat 600-700 ribu. Sebulan dia kerja, hitung saja 25 hari, seminggu sekali libur. Paling minim pendapatannya sudah 15 juta rupiah. Itu belum termasuk upah atau komisi karena membelikan dan mengangkut BBM dan barang-barang lainnya untuk tetangganya yang punya toko.

So, kalau dihitung-hitung, total pendapatannya bisa mencapai 20 jutaan per bulan. Katakanlah untuk membayar cicilan kendaraan 5-6 juta per bulan dan biaya operasional (BBM, Pelumas, Ban, Spare Part) sekitar 3-4 juta per bulan. Jadi, perbulan pendapatan bersihnya sekitar 10-12 juta. Nggak kalah dengan gaji  karyawan yang memiliki jabatan sebagai manager, supervisor atau kepala bagian.

So, he’s not only the driver, but also the boss…

Kipas Koran

Koran jadi Kipas

Ada satu kebiasaan yang sering saya lakukan saat bepergian. Bawa koran cetak. Karena hobi baca, koran-koran yang nggak sempat terbaca waktu di camp, 2-3 eksemplar saya bawa di kendaraan.

Seperti waktu di bis dalan perjalanan Pinoh – Ponti tiga hari lalu (4/3). Jadi sambil nunggu bis milik pemerintah itu berangkat, baca koran dulu. Termasuk jaga-jaga kalau bisnya mogok. Lumayan untuk mengisi waktu.

Berangkat dari Pinoh memang tepat waktu jam 9 pagi. Sekitar 3 jam perjalanan, bis mulai tersendat-sendat. Sempat 4-5 kali mati mesin. Diperbaiki dan mesin menyala, jalan sekitar 100 meter terus mogok lagi. Dua supir pun sibuk bolak balik dari belakang setir ke bagian mesin di belakang.

13 penumpang di dalam mulai kepanasan, karena AC juga padam. Ada keluarga dengan dua anak cowok dan pengasuhnya yang mulai gerah. Anak keduanya masih bayi . Karena mesin belum menyala juga, pengasuhnya sibuk cari-cari kertas untuk kipas. Melihat di dashboard bis ada selembar kertas, dia langsung mencomot.

Seorang bapak yang duduk di kursi paling depan mengingatkan,” Itu yang diambil laporan daftar penumpang”. Sambil senyum-senyum si pengasuh bilang,” Udaranya panas, Pak. AC-nya mati. Cari kertas untuk kipas-kipas”.

Walah, kalau cuma mau kertas kipas, kenapa harus ambil daftar manifest penumpang? Belum tau dia kalau selembar kertas itu penting untuk laporan administrasi supir ke bosnya.

Coba saya tawarkan ke si pengasuh koran-koran yang habis dibaca, “ Ini ada banyak koran, kalau mau bawa aja semuanya”. Dia ambil satu eksemplar terus dia bagi lagi ke si bapak dan ibu yang punya dua anak tadi, selebihnya dikembalikan lagi. Laporan daftar penumpang yang sempat dicomot dikembalikan lagi ke dashboard.

Kaget saya kok cuma diambil tiga lembar “Ambil saja semuanya, nggak apa-apa, kok”saya jelaskan. “Udah cukup kok, pak”. Dia pun nggak mau aji mumpung, dikasih satu eksemplar 48 halaman terus diambil semuanya.

Akhirnya koran itu berubah fungsi, menjadi kipas. Lumayan untuk mengurangi rasa gerah di bis. Senyum-seyum saya melihat koran itu berguna tak hanya untuk dibaca.

Bahagia juga rasanya bisa bantu orang lain, meski hanya dengan memberikan koran. Senang juga rasanya apa yang saya bawa, nggak diduga bisa bermanfaat buat orang lain.

Langsung saya merenung. Ternyata bantuan yang diberikan pada saat yang sangat diperlukan, terasa bermakna meski bentuknya sederhana.