Kebahagiaan Orangtua Ketika Mengantar Anaknya ke Sekolah

“Datang kapan, Pak?”tanya seorang teman kerja dari camp yang berbeda

“Hari Senin 27 Juli kemarin”jawab saya

“Wah, nggak bisa ngantar anaknya hari pertama sekolah ya, Pak”ungkapnya

‘Ya, saya sudah berangkat 26 malam karena waktu ijin sudah habis. Tanggal 27 harus sudah berada di tempat tugas lagi”tambah saya dengan nada sedikit pelan.

Ada perasaan sedih saat itu ketika di hari pertama sekolah, saya nggak bisa mengantar anak-anak ke sekolah. Padahal selisihnya cuma satu hari dari jadwal saya berangkat ke camp.

Berbahagialah orangtua di hari Senin pagi itu yang dapat mengantar anaknya pada hari pertama sekolah. Satu jam setelah saya sampai di Pinoh, saya baca di internet kalau Menteri Pendidkan Nasional, Anis Baswedan, mengeluarkan surat edaran. Isinya menghimbau para orangtua meluangkan waktu pada hari pertama masuk sekolah agar mendampingi anak-anaknya ke sekolah. Mungkin itu salah satu cara agar hubungan orangtua dan anak semakin erat. Orangtua tahu bagaimana sekolah anaknya. Anak juga merasa ada perhatian dan peduli dari orangtuanya.

Kalau saya ada di Pontianak, pagi hari saya luangkan waktu untuk bisa mengantar anak-anak ke sekolah. Selesai sarapan, terus berangkat dari rumah jam 06.15. Bersama sama Andra, Nabil, Aysha dan ibunya naik kendaraan roda empat. Tujuan pertama ke sekolahnya Andra dan Nabil karena jam masuk sekolahnya jam 06.30. setelah itu ke sekolahnya Aysha yang masuknya jam 07.00. Selesai mengantar anak-anak sekolah, biasanya mampir dulu di warung belanja langganan. Setelah itu baru pulang ke rumah.

Ada keasyikan tersendiri yang saya rasakan saat mengantar anak-anak ke sekolah. Berbagai pemandangan saya lihat di jalan. Ada anak-anak yang jalan kaki ke sekolahnya, ada juga yang naik sepeda. Juga melihat orangtua di jalan yang memboncengkan anaknya. Pernah saya lihat malah ada tiga anak yang diantar sekolah pakai motor. Dua orang duduk dibelakang bapaknya, satu anak yang lebih kecil duduk di depan. Apa nggak overload tuh motornya.

Sampai di sekolah, pemandangannya tambah bermacam-macam lagi. Setelah mobil saya parkir, biasanya saya atau istri ikut mengantar ke halaman sekolah. Terkadang juga istri yang mengantar dan saya tunggu di mobil.

Senyum-senyum saya waktu lihat penampilan orangtua saat di halaman sekolah. Meski anaknya diantar pakai mobil mengilap, tapi yang bawa mobil malah kelihatan belum mandi. Mungkin buru-buru berangkat ke sekolah supaya nggak terlambat, jadi nggak sempat mandi. Ada juga orangtua yang sudah berpakaian rapi, pakai seragam kantor atau pakaian dinas menggandeng anaknya memasuki halaman sekolah. Melihat orangtua yang sudah necis seperti itu, bisa jadi setelah mengantar anaknya ke sekolah mereka nggak akan pulang ke rumah tapi langsung ke tempat kerja.

Ada juga beberapa murid yang naik bis sekolah. Beruntunglah anak-anak yang sekolahnya punya bis, jadi mereka nggak harus minta orangtuanya untuk mengantar. Ada juga sih yang sudah SMA bawa motor sendiri ke sekolah. Kok tahu sudah SMA? Ya, dari seragamnya yang dipakai, abu-abu. Kalau pakai pakaian biasa susah juga menebak apakah dia masih SMA apa sudah kuliah karena anak-anak sekarang kan umumnya pertumbuhan badannya cepat.

Berbagai macam pemandangan menarik dari rumah ke sekolah yang selama sebulan hilang karena libur panjang. Namun mulai hari Senin itu, berbagai kesibukan yang mewarnai jalan raya itu kembali hadir. Bergegas ke sekolah dengan berbagai cara. Baik berangkat maupun diantar orangtuanya.

Iklan

Pelajaran Dari Seorang Tukang Ojek

Di tengah persaingan mendapatkan penumpang, tukang ojek punya strategi khusus untuk menarik penumpang. Hal tersebut saya alami ketika tiba di kantor bis DAMRI selasa malam (7/8) sekitar jam 18.15. Begitu penumpang satu per satu turun, para penjual jasa transportasi tersebut langsung berkerumun menyambut di pintu depan bis.

Tanpa henti, mereka saling bersahutan menawarkan jasa ojek kepada para penumpang. “Taksi Pak. Mau ke mana Pak, Bandara?”, tanya mereka pada para penumpang, tak terkecuali saya. ”Saya dijemput keluarga”, jawab saya sambil mengambil tas di bagasi.

Sambil menenteng travelling bag, saya langsung ke kantor Damri ambil tiket ke Nanga Pinoh yang sudah dipesan beberapa hari sebelumnya. Tiket untuk tanggal 10 Agustus malam, harganya 120 ribu rupiah. Sambil menunggu jemputan, saya sempatkan ke surau di belakang kantor Damri. Sholat maghrib dulu, karena istri mengabarkan akan jemput Aysha dulu di tempat les, setelah itu baru ke Damri.

Selesai sholat, saya kembali ke depan kantor Damri. Di tempat tunggu itu suasananya ramai sekali. Ada dua bis yang parkir dan banyak penumpang tujuan Sintang dan Nanga Pinoh. Ditambah lagi para pengantar dan kendaraannya.  Saya cari tempat lainnya yang agak kosong. Akhirnya ada juga, berjarak dua bangunan dari kantor Damri, di depan toko kue yang spesialis menjual  lapis legit.

Sekitar 5 menit menunggu keluarga, tiba – tiba ada ada satu tukang ojek yang mendekati saya dan menawarkan lagi mengantar saya ke rumah. Rupanya tukang ojek tadi yang belum dapat penumpang. Kalaupun dia menawarkan lagi, saya tetap menolak dan menjelaskan kalau sedang menunggu jemputan.

Dugaan saya nggak meleset. Kesekian kalinya dia menawarkan untuk mengantar ke rumah. Mendapatkan penolakan yang sama, dia tidak kehabisan akal. Dia ajak ngobrol saya. Dia tanya saya tinggal dimana, sambil menasehati supaya hati – hati kalau turun dari bis, karena banyak jambret. Apalagi sekarang ini dekat-dekat lebaran dan banyak pengangguran. Terus dia sebut nama satu tempat dan menceritakan anaknya yang pernah kehilangan anting-anting gara-gara kena jambret.

Tidak hanya itu, untuk mengakrabkan suasana dia juga coba-coba nebak tempat asal saya. “Bapak dari Jawa ya?” Dari wajah kelihatan kalau bapak orang Jawa. ”Dari Semarang”, jawab saya singkat. Dia tanya lagi,” Jawa mana itu pak?”, sambungnya. “Jawa Tengah”, kata saya agak cuek.

Setelah puas bertanya, akhirnya dia pesan, ”Kalau bapak perlu ojek, bisa hubungi saya. Ini saya kasih nomor HP saya”, sambung si tukang ojek yang ternyata bernama Soni. Saya masukkan nomor HP-nya dan saya tanyakan siapa namanya. Saya coba misscalled nomor dia dan HP-nya berdering, tanda ada panggilan masuk.

Benar-benar gigih tukang ojek tersebut. Nggak pakai gengsi dan kelihatan pede sekali. Dia tetap ulet dan tahan banting menarik simpati calon penumpang, walaupun berkali-kali saya tolak. Segala jurus untuk menjaring pelanggan dia keluarkan. Nggak kalah dengan para sales atau agen asuransi yang gencar merayu konsumen untuk membeli produknya. Walaupun akhirnya konsumen tidak membeli jasanya, dia tetap berusaha dan tidak patah semangat.

Padahal Soni, si tukang ojek itu belum tentu pernah ikut kursus ilmu pemasaran yang efektif, belajar bagaimana agar konsumen tetap loyal, atau tips memenangkan persaingan agar dapat merebut pelanggan.

Ada dua pelajaran yang saya petik dari kejadian itu.

1. Ikhlas.
Saya tersadar, walaupun si Soni telah berkali-kali menawarkan jasa ojeknya dan saya tolak, dia tidak terlihat kecewa, sedih atau marah. Makin saya tolak, justru dia makin berusaha untuk mendekati saya. Dari sinilah saya memperoleh pelajaran tentang apa itu ikhlas.

Tidak peduli dengan penolakan saya, dia tetap berusaha menawarkan jasanya dengan berbagai cara. Ini menjadi pelajaran, sekaligus motivasi dan pencerahan bagi diri saya. Di bulan Ramadhan ini, Allah mengirimkan seorang tukang ojek untuk memberi pelajaran pada saya, tentang apa itu sebenarnya keikhlasan.

Kalau dikaitkan dengan kejadian yang pernah saya alami sebelumnya, memang ada benarnya pelajaran tentang keihklasan itu. Terkadang, saya merasa kecewa, ketika apa yang saya kerjakan tidak dihargai oleh orang lain. Atau saya merasa kehilangan semangat, ketika apa yang saya lakukan tidak dianggap berarti oleh pihak lain.

2. Perhatian
Dengan menawarkan jasanya, mengajak ngobrol calon penumpangnya dan memberikan nomor HP dan namanya, adalah satu bentuk perhatian. Ya, perhatian. Sebuah kata yang nampaknya sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Dalam bisnis pelayanan atau jasa, perhatian memegang peran penting untuk merebut konsumen atau pelanggan.

Benar-benar pelajaran yang saya peroleh dari kehidupan nyata. Walaupun berkali-kali penawarannya saya tolak, melihat kegigihannya berikhtiar, dalam hati saya berkata, “Suatu saat, kalau saya ke Pontianak lagi, saya akan naik ojekmu untuk mengantar ke rumah”.

Sumber gambar :

  • indonesiamatters.com

Apa Kabar, Ibunda ?

“ Ini di mana, di camp apa di Ponti ? ”, tanya ibunda setiap kali saya menelepon beliau. Itulah pertanyaan pertama yang pasti saya terima sebelum saya menanyakan kabar beliau.

Seperti halnya tadi pagi, setelah saya jawab kalau sekarang saya berada di camp dan belum sempat menanyakan kabarnya, beliau langsung bercerita sedang dalam perjalanan untuk menghadiri acara pernikahan. Dan ibunda pun bilang nggak bisa ngobrol berlama-lama karena ada beberapa temannya yang ikut dalam perjalanan itu.

Meskipun hari ini hari libur, bukan berarti nggak ada kegiatan sama sekali atau bersantai ria. Selesai bangun pagi dan sholat subuh, saya sudah buat catatan ada delapan hal yang harus saya kerjakan pada hari ini. Dan menelepon ibunda adalah agenda yang harus saya sempatkan di antara tujuh kegiatan lainnya di hari libur ini.

Ya, terasa ada kerinduan untuk menelepon orang tua khususnya ibunda tercinta.

Ibunda yang selalu mendoakan anak-anaknya,

Ibunda yang sering mengingatkan saya apakah sudah melakukan sholat tahajud, sholat dhuha dan bersedekah,

Ibunda yang tidak lupa mengirim hadiah kepada cucu-cucunya yang berulang tahun,

Ibunda yang membagikan kembali uang kiriman bulanan dari anak-anaknya untuk saudara-saudaranya yang lebih memerlukan,

Ibunda yang jarang menolak jika diajak bepergian mengunjungi saudara lainnya yang sedang sakit, menengok keluarga yang anaknya baru melahirkan atau melayat sanak saudara yang meninggal,

Begitu banyak perhatian dan kasih sayang yang telah ibunda berikan, namun begitu sedikit waktu yang saya sempatkan untuk berbicara dengan beliau…meski lewat telepon.

Saya teringat seseorang yang pernah menasehati, “Bahagiakanlah dan muliakanlah kedua orang tua terutama ibu ketika beliau masih hidup, sebelum rasa penyesalan itu muncul ketika beliau telah dipanggil untuk menghadap Yang Maha Kuasa dan kita belum berbakti kepadanya”.

Seuntai doa dan harapan,  senantiasa ananda panjatkan ke hadirat Allah SWT :

Ya, Allah, ampunilah dosa dan kesalahan orangtua kami. Sayangilah beliau sebagaimana beliau menyayangi kami sewaktu kecil.  Amin Ya Robbal ‘Alamin