Bekal Makan Ketika di Perjalanan

Mungkin nggak banyak orang yang bawa bekal makanan saat dalam perjalanan. Apalagi bawa bekal nasi dan lauk untuk sarapan, makan siang atau makan malam di kendaraan umum.

Biasanya sebelum naik kendaraan, orang-orang yang bepergian akan makan dulu di rumah, di terminal, di stasiun atau di bandara. Kalau nggak, ya makannya waktu kendaraannya berhenti di rumah makan. Sekalian istirahat dan sholat.

Saya juga biasa makan dulu sebelum naik kendaraan umum dari Pinoh atau Pontianak. Perut diisi dulu sebelum naik bis malam atau bis pagi. Kalau nggak makan, kena AC yang dingin di bis bisa masuk angin.

Tapi hari Rabu lalu (12/1), karena waktu yang mepet, akhirnya saya minta tolong Aysha buat nyiapin bekal untuk makan malam di bis. Waktunya nggak cukup lagi buat makan malam di rumah.

Bisnya berangkat jam 19.00. Jam 18.00 adzan maghrib, sholat maghrib dan isya dijama’ perlu waktu sekitar 20 menit. Terus siap-siap berangkat ke agen bis. Normalnya perlu waktu 20 menit dari rumah kalau nggak macet. Jam 18.30 berangkat diantar istri dan anak-anak.

Sampai di agen bis, setelah letakkan barang-barang ke bagasi, saya cari tempat duduk sesuai tiket. Nomor 3 A. Kursi tunggal, formasi 1-2 bukan 2-2. Mumpung bisnya belum berangkat, saya buka bekal di dalam kotak plastik yang disiapkan Aysha. Ada nasi, sayur tumis sawi dan dua ekor ikan lele goreng. Langsung saya santap bekalnya.

Belum selesai makan, jam 19.00 bisa mulai perlahan bergerak. Saya teruskan makan sambil sekali-kali lihat pemandangan di luar. Sayang kalau bekal yang sudah disiapkan nggak dihabiskan. Nikmat sekali rasanya makan malam waktu perut lapar. Bis pun menambah kecepatan setelah meninggalkan kota Pontianak. Sampai di rumah makan tempat perhentian bis sekitar jam 22.30. Kalau penumpang lain banyak yang turun dan antri mengambil makanan, saya juga ikut turun tapi nggak ambil makanan karena masih kenyang. Turun buat isi ulang batere handphone.

Cuma saya belum tahu, kalau kita naik pesawat terbang boleh nggak ya bawa bekal makan dari rumah? 🙂 Karena nggak semua maskapai sediakan makan di dalam pesawat. Hanya berikan kotak snack berisi kue dan agua gelas.

Hikmah Lebaran

image

Tiada perjalanan yang kita lalui tanpa disertai goncangan.
Tiada kehidupan yang kita jalani tanpa disertai ujian

Hanya kepada Allah SWT kita meminta pertolongan dan perlindungan.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1436 H.
Mohon maaf atas kesalahan dan kekhilafan.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita. Aamiin.

Jogjakarta, 3 Syawal 1436 H

Buka Puasa di Bis dan Sahur Jam 23.15

Berpuasa saat dalam perjalanan memang menyisakan beberapa kenangan. Mulai bekal makan malam yang perlu dibawa sebab bis berangkat jam 19.00 sampai sahur yang terlalu awal karena bis hanya sekali singgah di rumah makan.

Sebenarnya kalau kita dalam perjalanan yang jaraknya lebih dari 80 km, diberikan keringanan (rukhsoh) untuk tidak berpuasa. Tapi kalau dipikir-pikir rasanya sayang juga satu hari puasanya bolong gara-gara bepergian. Apalagi saat ini sarana transportasi begitu mudah dan nyaman. Jadi nggak salah juga kalau ada orang yang berpuasa meskipun statusnya dalam perjalanan. Semuanya dikembalikan ke niat masing-masing orang.

Ini yang saya alami beberapa hari lalu ketika ada tugas ke Pontianak. Berangkat dari camp jam 5 pagi ke Nanga Pinoh dengan tiga teman kerja. Sampai Pinoh terus naik bis antar kota yang berangkatnya jam 9 pagi. Sebelum ke terminal saya sempatkan belanja snack dan minuman karena diperkirakan buka puasanya di dalam bis.

Dugaan saya benar, satu jam sebelum tiba di Pontianak ketika bis memasuki daerah Ambawang adzan Maghrib berkumandang. Bis melaju pelan dan kami pun berbuka puasa. Beberapa teguk air minuman dan kurma saya nikmati untuk berbuka puasa. Perjalanan sekitar 10 jam itu rasanya tidak terlalu berat meskipun kami dan penumpang lainnya berpuasa.

Pengalaman yang nggak terlupakan ketika pulang kembali ke Nanga Pinoh. Beda dengan waktu berangkat yang naik bis pagi, pulangnya ke Pinoh naik bis malam. Sempat berbuka puasa dan sholat maghrib serta sekalian dijamak dengan Isya di rumah terus berangkat ke agen bis. Cuaca saat itu baru saja hujan lebat sehingga beberapa ruas jalan tergenang.

Sampai di agen, ternyata bis belum datang. Bis baru berangkat jam 19.15 dan berhenti di rumah makan di Sosok jam 23.15 WIB. Meski belum waktunya sahur, tapi waktu itu saya ikut turun dari bis untuk makan. Makan sahur yang terlalu awal. Padahal waktu bis berangkat saya baru saja menyantap bekal yang disiapkan istri.

Kalau waktu itu ketiduran dalam bis mungkin saya nggak sahur, karena bis langsung meluncur ke Pinoh tanpa singgah-singgah lagi. Di perjalanan, sebelum Imsak saya sempatkan makan buah jeruk, roti dan minum secukupnya. Sampai di terminal bis Pinoh, saat itu waktu subuh telah datang. Menjalani puasa dalam perjalanan memang perlu persiapan dan penuh kenangan.

Teko yang Airnya tak Diminum

IMG01884-20140617-1837

“Teko itu dipakai untuk cuci tangan, bukan untuk minum?” kata seorang tamu kepada kawannya melihat air di teko itu akan dituangkan ke dalam gelas untuk diminum. Teman-temannya yang lain dan saya yang sedang menikmati makan malam di ruang makan base camp saat itu hanya tersenyum-senyum.

Kalau melihat teko pencuci tangan seperti gambar di atas, jadi teringat waktu pertama kali ke Kalimantan Barat. Lima belas tahun yang lalu saya melihat benda itu di rumah makan di terminal Ngabang. Ketika itu bis malam rute Pontianak – Nanga Pinoh yang saya tumpangi singgah di rumah makan Padang setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam.

Para penumpang dan sopir bis berukuran tiga perempat-seperti metro mini di Jakarta-biasanya memanfaatkan waktu singgah untuk makan malam atau sekedar minum kopi atau teh.

IMG01883-20140617-1837Waktu di rumah makan itu, saya heran melihat teko yang di bawahnya ada wadah berbentuk lingkaran dan bagian atasnya berlubang. Pikiran saya waktu itu sama dengan tamu, pasti air putih di dalam teko itu untuk diminum. Terus wadah lingkaran itu untuk apa?

Di tengah kebingungan gimana menggunakannnya, saya putuskan untuk makan dulu. Ketika sedang menikmati hidangan itulah, saya melihat salah seorang penumpang yang mengangkat teko itu dengan tangan kiri dan mengucurkannya ke tangan kanan di atas wadah berlubang tadi secara perlahan.

Oo… rupanya teko itu airnya digunakan untuk cuci tangan dan bukan untuk diminum. Pantas kok dia menuangkan air di teko dengan tangan kiri dan bukan tangan kanan. Karena kalau kita menuangkan air untuk minum air putih, teh atau kopi biasanya menggunakan tangan kanan. Kecuali kalau seseorang itu kidal atau dia makan nggak pakai sendok.

Biasanya kalau kita makan nggak pakai sendok di restoran, warung kaki lima atau di rumah akan tersedia mangkok kecil berisi air dan sedikit jeruk nipis untuk cuci tangan. Gunanya untuk menghilangkan bau makanan. Di Jawa, mangkok itu biasa disebut wiji’an atau kobo’an. Sekali dipakai untuk cuci tangan, airnya langsung diganti.

Namun di Kalimantan Barat, di beberapa tempat pengganti wiji’an atau kobo’an untuk cuci tangan ya teko dan wadah yang berlubang tadi. Inilah satu bukti lagi keragaman budaya di negeri ini. Beda tempat beda pula kebiasaannya.

Tangkaplah Ide itu dan Simpanlah

Menyimpan ide? Kelihatannya memang tidak ada hubungan dengan ngeblog. Tapi justru inilah jurus yang saya lakukan untuk bisa tetap ngeblog. Jurus untuk menyiasati waktu-waktu sibuk, agar sewaktu di depan laptop sudah memiliki ide dan dituangkan dalam bentuk tulisan.

Dimana saya menyimpan ide? Di smartphone. Di blackberry yang sering saya bawa waktu bepergian. Tuntutan tugas yang mengharuskan saya sering bepergian bukanlah halangan untuk tetap bisa ngeblog. Justru banyak ide dan tulisan saya yang lahir ketika menikmati perjalanan. Ide yang tiba-tiba muncul ketika melihat minibus yang saya tumpangi terperosok jalan tanah yang rusak, berada di dalam pesawat yang tidak ada nomor kursinya adalah beberapa postingan yang terlahir ketika dalam perjalanan.

Selain mendapatkan ide menulis, dalam perjalanan saya juga sering memotret peristiwa atau obyek untuk menguatkan jalan cerita postingan. Dan untuk mendapatkan jepretan ini memang nggak mudah, terkadang harus sembunyi-sembunyi. Ini yang saya lalukan waktu mengambil gambar kabin pesawat garuda waktu di bandara Soekarno-Hatta.

Pengambilan gambar di kabin ini memang perlu kiat khusus. Jangan sampai ditegur atau ketahuan oleh pramugari atau awak kabin. Malunya itu loh kalau sampai ditegur dan dilihat penumpang lain. Padahal, kalau minta ijin mungkin diperbolehkan ya sama pramugari garuda yang anggun? Apalagi postingan itu kan menceritakan kebanggaan saya terhadap maskapai nasional itu.

Akhirnya, jurus sembunyi-sembunyi saya lakukan. Di saat awak kabin sibuk membantu penumpang lainnya menyusun barang-barang di dalam kabin dan membantu penumpang mencari nomor kursi, saya keluarkan blackberry. Setelah tengok kiri kanan, belakang dan situasinya tepat, saya langsung jepret suasana kabin. Dan akhirnya dapatlah gambar yang saya inginkan. Silakan dibaca di postingan ini.

Saat-saat menunggu boarding di bandara juga waktu yang nyaman untuk membuat catatan di smartphone. Kalau penumpang lainnya ngomel-ngomel jika pesawat delay 2-3 jam. Saya justru berharap makin lama delaynya makin baik. Kok berharap gitu sih? Ya, karena inilah waktu yang tepat untuk meneruskan catatan untuk postingan.

Tak hanya itu, ini juga kesempatan untuk mengeksplorasi suasana bandara untuk judul postingan lainnya. Karena pesawat delay ini saya pernah dapat berita menarik. Di sini saya bisa mengamati para penjual yang penampilannya rapi seperti penumpang. Ceritanya begini. Menunggu pesawat lepas landas, saya dan teman menuju salah satu restoran di bandara. Sudah ada beberapa orang yang juga makan dan minum ditempat itu.

Nggak lama kemudian, ada satu orang yang berpenampilan rapi membawa tas. Saya pikir dia penumpang. Woow, ternyata bukan. Dia mendekati meja kami dan setelah menyapa dengan sopan, dia mengeluarkan dari dalam tasnya berbagai macam parfum. Ternyata saya salah menduga. Dikiranya sama-sama penumpang, ternyata penjual yang berpenampilan rapi seperti penumpang. Penyamaran yang sukses. Bahkan waktu saya posting di blog Kompasiana, tulisan ini diberikan predikat Headline oleh adminnya.

Postingan lain yang idenya saya dapatkan ketika di kendaraan, adalah ketika naik bis yang tiba-tiba mesinnya mogok dan penumpang di dalamnya kepanasan. Karena AC-nya padam, sebagian penumpang turun dan sebagain lainnya masih duduk dalam bis. Di saat penumpang lain di dalam bis sibuk cari bahan untuk kipas, saya sodorkan koran cetak yang saya bawa. Nah waktu mereka kipas-kipas pakai koran cetak itu, terus saya jepret pakai smartphone. Jadilah ide sebuah tulisan lagi plus fotonya. Ini hasilnya. Lho, memangnya saya juga nggak kepanasan di dalam bis? Iya juga sih, tapi demi sebuah ide postingan dan gambar yang menarik, rasa panas itu ditahan-tahan dulu meski badan bermandi keringat. Gemrobyos bahasa jawanya.

Ada juga kisah menarik lainnya waktu di perjalanan. Waktu sampai di Pontianak pagi hari setelah perjalanan dari Nanga Pinoh, saya dijemput keluarga di agen bis. Ketika melewati bangunan rumah adat dayak, tiba-tiba tercetus ide. Wah, bisa jadi bahan postingan nih.
Kendaraan saya tepikan dan istri di samping saya kaget.”Lho, kok berhenti, ada apa, Mas?” Anak-anak yang duduk di belakang juga heran. “Nggak ada apa-apa, cuma mau ambil foto bangunan di seberang jalan itu?”jawab saya. Setelah lalu lintas sepi, saya pun setengah berlari menuju rumah adat dayak di seberang jalan. Setelah masuk ke halaman, saya potret dari berbagai sisi. Bangunannya secara utuh, tangganya juga saya potret close up.

“Memang sudah kayak wartawan saja, papa kalian ini?”, komentar istri ketika saya kembali ke kendaraan. Kenapa sih harus saat itu juga diambil fotonya? Kenapa tidak lain waktu atau besok, toh bangunannya tidak akan pindah tempat? Benar juga sih kalau ada yang berpikir seperti itu. Namun saya punya pendapat lain. Ide atau gagasan yang tiba-tiba muncul harus saat itu juga dieksekusi. Perlu saat itu juga dicatat dan disimpan dalam memori kita. Jangan ditunda-tunda mengambilnya.

Nah, memori itu jaman sekarang sudah macam-macam jenisnya. Ada smartphone, laptop dan yang terbaru tablet. Dengan alasan kepraktisan, saya lebih sering membawa blackberry untuk menangkap dan menyimpan ide postingan itu ke dalam memori. Coretan-coretan kertas juga bisa digunakan kalau tiba-tiba ide muncul dan blackberry tidak dalam genggaman saya.

Setelah sampai di rumah atau kantor, jika ada waktu luang alias pekerjaan penting sudah beres, saya kembangkan lagi ide postingan itu. Bukan berarti nggak ada gangguan selama menulis postingan di laptop. Gangguan datang ketika aiphone berbunyi. Terkadang ada telepon yang masuk ke call center dan ada yang ingin bicara dengan saya.

Otomatis konsentrasi menulis pun terpecah. Bisa juga ada tamu yang ingin bertemu, atau ada panggilan dari bos dan diminta menghadap saat itu juga di ruang kerjanya. Namun, setelah urusan-urusan mendadak itu beres, jalan cerita bahan postingan sering terlupa. Akhirnya saya baca ulang lagi dari paragraf awal hingga kalimat terakhir yang terhenti tadi. Supaya waktu menulis kelanjutannya masih menyambung dan nggak ada cerita yang terputus.

Memang kalau dipikir dan ditimbang dari sisi materi. Kok mau-maunya sih melakukan seperti itu, padahal kan nggak dibayar, nggak ada yang memberikan imbalan. Meminjam istilah istri saya, serius benar cari ide tulisan sampai kayak wartawan.

Benar juga sih kalau pertimbangannya dari sisi itu. Hanya saja, bagi saya bisa mendapatkan ide postingan, menuliskannya dan bermanfaaat bagi pembaca adalah sebuah kepuasan. Plong rasanya bisa menyajikan postingan dari hasil jerih payah dan keringat sendiri. Dan mungkin itulah sebentuk kebahagiaan yang saya rasakan dalam hati.

“Cerita ini diikutsertakan dalam 2nd Give Away Ikakoentjoro’s Blog”

Tradisi Mudik

Tanpa terasa, kita sudah berada di pertengahan bulan Ramadhan. Artinya, dua minggu lagi lebaran akan tiba. Bagi yang ingin mudik, segala persiapan pasti sudah dilakukan. Untuk transportasi, pesan tiket bis, kereta atau pesawat paling tidak sudah dilakukan 1-2 bulan sebelumnya.

Tempat tinggal waktu berada di kampung halaman  sudah disiapkan, apa mau nginap di rumah orangtua, saudara atau di hotel. Demikian juga oleh-oleh untuk sanak saudara dan kerabat tak lupa disediakan.

Mudik atau pulang kampung memang fenomena tahunan yang memerlukan persiapan ekstra. Harapannya supaya selama perjalanan dan di kampung halaman semuanya bisa lancar.

Demi bertemu dengan orangtua dan kerabat, terkadang kita memaksakan diri supaya bisa pulang. Logika sering terkalahkan oleh keinginan yang kuat untuk pulang.

Meski harga tiket melambung tinggi tetap dibeli. Walau biaya mudik menguras tabungan, jadwal mudik tetap dilanjutkan. Bahkan kalau perlu cari utangan. Meski mengalami kemacetan berjam-jam di jalan, semangat untuk bertemu handai tolan tetap tak terkalahkan.

Di beberapa negara lain yang penduduknya mayoritas muslim, seperti Arab Saudi, Iran atau negeri tetangga seperti Malaysia dan Brunei, fenomena mudik lebaran tampaknya tak seheboh seperti di Indonesia.

Inilah budaya atau tradisi yang tampaknya hanya ada di Indonesia. Tradisi tahunan yang mampu menggerakkan jutaan orang untuk pulang ke kampung halaman pada waktu yang bersamaan. Tanpa komando dan tanpa perintah, para pemudik berbondong-bondong meninggalkan kota tempatnya mencari nafkah.

Sebenarnya, apa sih yang menyebabkan para pemudik rela dan berjuang habis-habisan untuk bisa pulang? Dorongan apa yang mampu mengalahkan logika para pemudik bahwa sebenarnya pulang kampung atau mudik tak hanya waktu lebaran?

Tak mudah memang menjawabnya. Namun bagi para pemudik yang biasanya juga seorang perantau, ada semacam rasa kebahagiaan dalam hati saat bisa pulang ke kampung halaman.  Rasa kebahagiaan bisa bertemu dengan orangtua dan sanak saudara. Dan waktu yang tepat adalah saat lebaran.

Kerinduan untuk sungkem dengan kedua orangtua atau berziarah ke makam orangtua yang telah meninggal. Bermaaf-maafan dengan sanak saudara. Juga bertemu dengan ponakan-ponakan yang lucu-lucu.

Juga kerinduan dengan tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan. Kerinduan berkumpul lagi dengan teman bermain semasa kanak-kanak. Kerinduan akan semua pengalaman dan kisah masa kecil di kampung halaman yang nggak mudah untuk dilupakan.

Mudik adalah cara untuk mengobati rasa kerinduan dalam hati akan kampung halaman, dan untuk sejenak melupakan rutininas pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran. Rutinitas yang terkadang melupakan jati diri kita dan hubungan dengan orangtua serta sanak saudara.

Tak hanya itu, mudik juga mengingatkan siapa diri kita, asal usul kita dan darimana kita berasal. Untuk menyadarkan kita bahwa sejauh-jauhnya kita bepergian, suatu saat akan pulang.

Kalau sudah seperti itu, mudik rasanya tak hanya perjalanan yang bersifat fisik, namun juga psikis, bahkan spiritual.

Karena Sukses adalah Sebuah Perjalanan…

Sukses dapat diartikan sebagai keberhasilan seseorang dalam meraih sesuatu. Ada tiga poin penting yang berperan dan perlu kita cermati disini, yaitu seseorang, proses dan sesuatu yang ingin diraih.

Seseorang sebagai subyek, proses adalah tahap-tahap yang harus dijalani atau dilalui dan sesuatu dapat berupa materi misalkan uang, kendaraan, rumah, nilai ujian, jumlah tulisan. Bisa juga berupa nirmateri seperti kepuasan batin, kebahagiaan dan kenikmatan hidup.

Tak bisa dipungkiri, selama ini kita mengukur kesuksesan dengan cara membandingkan apa yang telah kita raih dengan apa yang telah diraih orang lain. Jadi ukurannya adalah perbandingan antara diri kita dengan orang lain.

Seorang bapak yang telah bekerja sebagai karyawan selama 20 tahun dan belum memiliki kendaraan roda empat dianggap tidak sukses, ketika dibandingkan dengan karyawan lainnya yang masa kerjanya baru 10 tahun, namun sudah memiliki mobil.

Seorang anak yang mendapat nilai 6 untuk matematika dianggap tidak sukses karena ada anak lain yang mendapat nilai 9. Contoh lain, seorang blogger yang beberapa kali mengikuti kontes ngeblog dan belum pernah sekalipun memenangkan lomba dianggap tidak sukses dibandingkan blogger lainnya yang ikut serta dan sering jadi juara.

Perbandingan – perbandingan kesuksesan tersebut menurut saya kurang tepat. Karena aturan sukses berbeda pada setiap orang.  Bisa jadi, sang bapak yang telah bekerja 20 tahun tersebut belum punya mobil, karena sebagian gajinya ditabung atau diinvestasikan untuk biaya pendidikan anak-anaknya yang semakin tahun semakin tinggi. Jadi, dia berkorban untuk masa depan anaknya dan  memilih untuk mengendarai sepeda motor untuk bepergian.

Di sisi lain, karyawan yang telah memiliki mobil meskipun baru 10 tahun bekerja, bisa saja dia punya usaha atau pekerjaan lain yang menjadi tambahan pendapatan bagi dirinya. Jadi, kita perlu  lebih cermat dan berpikir rasional dalam mengukur kesuksesan seseorang, karena latar belakang keduanya berbeda.

Demikian juga dengan seorang anak yang mendapat nilai 6 untuk pelajaran matematika. Bisa jadi, di mata pelajaran lainnya seperti IPS dia mendapat nilai 9. Sementara temannya yang mendapat nilai 9 untuk pelajran matematika, justru hanya mendapatkan pelajaran 6 untuk bahasa Indoensia.

Seorang blogger yang belum memenangkan lomba tidak dapat dikatakan tidak sukses bila dibandingkan dengan blogger lain yang menang lomba dan mendapat hadiah. Oleh karena selama ini blogger tersebut memang lebih berorientasi untuk berbagi atau sharing pengalaman dan pemikiran tanpa ada kenginan kuat untuk memenangkan lomba. Hadiah lomba baginya ibarat bonus yang diterima dan bukan menjadi tujuan utama dia membuat postingan dan mengikuti lomba.

Terus bagaimana menentukan ukuran sukses seseorang? Saya jadi teringat sabda Nabi Muhammad SAW :

Barangsiapa yang hari ini lebih baik daripada kemarin dan esok hari lebih baik dari hari ini, maka dia termasuk orang yang beruntung.

Tak ada salahnya menggunakan ukuran kesuksesan sesuai dengan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, yaitu progres atau kemajuan diri seseorang dalam satu rentang waktu. Karena ukuran tersebut kebih obyektif dan fair. Yang dibandingkan adalah proses perkembangan diri dan kemajuan seseorang pada hari ini dan kemarin, serta hari esok dengan hari ini. Jadi bukan membandingkan diri kita dengan orang lain.

Ukuran kesuksesan berdasarkan standar tersebut adalah progres diri kita dalam berbuat sesuatu. Sebagai contoh, seorang blogger yang saat ini telah membuat postingan 2 kali seminggu secara rutin, padahal sebelumnya hanya sekali seminggu. Ini berarti ada progres yang bernilai 100 % dibandingkan sebelumnya. Sebuah kesuksesan karena dia berhasil meningkatkan produktivitasnya dalam menulis menjadi dua kali lipat.

Kesuksesan tersebut tidak stagnan atau sudah mentok, namun masih bisa berkembang dan ditingkatkan. Dia bisa meningkatkan lagi kemampuannya membuat tulisan menjadi tiga kali seminggu. Dengan demikian, kurang tepat kalau ukuran kesuksesan tersebut dinilai dengan membandingkannya dengan jumlah tulisan blogger lainnya.

Di sinilah diartikan bahwa sukses adalah sebuah perjalanan, karena setelah berhenti sejenak untuk membuat satu tulisan dalam seminggu, selanjutnya dia akan bergerak dan berusaha lagi untuk membuat dua tulisan dalam seminggu.

Tak hanya itu, peningkatan produktivitasnya selain ditandai dari jumlah tulisan yang meningkat, juga dapat berupa topik atau tema penulisan yang lebih bervariasi. Bila sebelumnya dia hanya menulis tentang otomotif, pada tahap selanjutnya dia mulai belajar untuk menulis tentang gaya hidup.

Demikian juga dengan seorang anak yang mendapat nilai 6 untuk matematika. Akan lebih obyektif bila dia ditelusuri, sebelumnya dia memperoleh nilai berapa untuk pelajaran itu. Bila nilai sebelumnya adalah 5, maka dia dapat dikatakan sukses ketika saat ini mendapat nilai 6, karena perolehan nilainya meningkat. Bila dia lebih sungguh-sungguh belajar, mendapat nilai 7 atau 8 bukanlah hal yang susah diraih.

Jadi pembanding ukuran kesuksesannya adalah dengan nilai matematika sebelumnya, bukan  dengan nilai matematika temannya.

Memang tidak mudah untuk mengubah pola pikir bahwa ukuran kesuksesan ditandai dengan perubahan diri ke arah yang lebih baik. Dan bukan membandingkan diri kita dengan apa yang telah diraih orang lain. Semua memerlukan proses dan waktu, karena sukses adalah sebuah perjalanan.

BANNER EVIINDRAWANTO1 First Give Away Jurnal Evi Indrawanto

First Give Away : Jurnal Evi Indrawanto